Chapter Text
Hari-hari selalu dijalani dengan senyuman merekah bak bunga mawar merah cabai di depan rumah. Runtutan hatinya sedang gembira karena hari pertama ia dijemput oleh kekasih yang kemarin malam mengajaknya memulai hubungan komitmen dipukul 7 lewat sepuluh.
Wamika pulang dengan keadaan hatinya yang teramat gembira, bagaimana tidak? Laki-laki yang ia damba kurang lebih setengah tahun kemarin ternyata memendam rasa yang sepadan. Apalagi, kemarin malam laki-laki itu—Oditi namanya, menyatakan perasaan seperti difilm-film remaja yang biasa Wamika saksikan hingga perut dan dadanya panas saking salting kepayang.
Kejadian itu berlangsung di ancol—tempat kesekian kalinya mereka datangi bersama. Di depan komedi putar yang meriah keduanya menatap sekeliling dengan senyuman manis. Seakan-akan semesta mendukung untuk Odit melancarkan aksinya pada hari itu, entah mengapa kawasan Ancol sedang ramai, seluruh insan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Keduanya juga sama sibuknya dengan yang lain, bedanya Oditi nan Wamika sibuk dengan pikiran masing-masing, terlena dengan semua kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Hingga tiba-tiba seorang wanita manis datang menghampiri dan bersuara dari arah belakang, "Ka, permisi. Lagi sibuk enggak ya?"
Wamika nan Odit menoleh bersama, membalasnya dengan senyumanan kompak. "Enggak kak, kenapa?" jawab Wamika ramah."Mau minta tolong untuk fotoin aku sama temen-temen boleh enggak ya?" tanya wanita itu pelan.
"Ohh, boleh Kak. Dimana?" kemudian wanita itu tersenyum lega mendengar jawaban Wamika barusan. Dengan senang hati Wamika mengikuti langkah perempuan itu yang mengarahkan ke tempat teman-temannya berada. Odit juga datang membuntuti laki-laki itu dari belakang.
"1, 2, 3."
Cekrek
Beberapa kali bibir cantik milik Wamika mengabsen angka 1 sampai 3, memberi ruang pada kerumunan itu untuk bersiap diambil gambar. Disaat itu, Odit tersadar, ia harus melancarkan aksinya dengan segera sebelum momentumnya hilang. Beberapa langkah ke belakang ia ambil untuk memberi jarak—sekitar 30 senti. Ia mengeluarkan sebuah kotak yang sudah ia simpan disaku dari pagi hari tadi. Perasaan gemuruh mulai datang berganti dari dada ke perut nan kepala. Seketika bibirnya kaku bak orang paling bisu didunia—namun, ia lupakan semua itu demi satu tujuan.
"Makasih ya Ka!" ucap wanita yang semula meminta tolong untuk diambil gambarnya.
Dengan senang hati Wamika mengangguk tak lupa dengan senyuman manis andalan. "Mari Ka," pamitnya.
Namun, ketika Wamika menoleh mencari sosok yang membawanya kemari, ia malah terpaku beberapa saat. Hampir seluruh manusia yang berjalan dilatar memberikan atensinya sesaat ke laki-laki yang semula ia cari. Kedua mata cantik Wamika menatap Oditi yang sedang berselutut dengan satu kaki di bawah. Mata cantik dengan bulu mata lentik milik Oditi seakan memberikan kesan estetika tersendiri dibenak yang lebih muda.
"Harusnya kamu sadar ya Mika, Kakak enggak pernah nganggep kamu sebagai adik atau lainnya. Kakak selalu nganggep kamu lebih dari itu, Kakak mau jadi orang yang ngelindungin kamu, yang ngedengerin kamu, yang ngayomin kamu. Kakak harap kamu mau jadi orang itu untuk Kakak ya Mika. Do you want to be the person I always prioritize in the future?"
Wamika terdiam seribu bahasa. Ia diam bukan karena tak suka atau apa, ia diam karena tak pernah terlintas di benaknya laki-laki yang sedang berselutut di bawah benar-benar menganggap ia orang yang istimewa dihatinya, selama ini ia pikir hanya angan akan mempunyai kedekatan yang spesial dengan seorang Oditi Natha.
Seluruh mata tertuju pada Wamika sekarang, seribu kesaksian itu menanti jawabaan yang terbaik dari mulut ia. Beberapa kali ada sorakan meriah dari belakang, berteriak untuk Wamika segera menerima cinta milik Oditi malam ini.
Ia menarik napasnya perlahan, dengan mata yang ia tutup sejenak—Wamika butuh menetralisir rasa senang berlebihannya dihati. Beberapa detik kemudian ia membuka matanya nan tersenyum tipis. Menatap kedua mata puan di bawahnya kemudian mengangguk semangat sebagai jawaban.
Melihat itu Oditi tersenyum lega, ia bangun dari selututnya, membuka kotak kecil yang ia bawa digenggaman sedari tadi.
"Kakak harap kalung ini bisa jadi tanda untuk permulaan ini semua ya?" Kalung dengan liontin kupu-kupu berwarna perak Oditi pamerkan di depan mata sang empu yang kini sudah berganti status menjadi kekasih.
Wamika menatap dengan lekat, napasnya tercekat, ia menahan butiran halus itu keluar dari kedua bola mata sipitnya.
Oditi paham dan peka dengan semua itu. Kedua bilah tangan lentiknya ia bawa untuk mengusap pucuk yang lebih muda beberapa waktu.
"Makasih udah nerima Kakak ya?" Kedua bola mata manusia itu bertemu.
Memencarkan tatapan kagum satu dengan yang lainnya. Detik itu juga nanar panas dikelopak mata Wamika tak mampu ia bendung, dengan lancar beseluncur dipipi.
Oditi tersenyum, dua ibu jari kokohnya ia bawa untuk menghapus jejak turunnya butiran kesenangan itu.
Kejadian itu berakhir dengan pelukkan yang Wamika rebut dengan tiba-tiba. Seluruh atensi yang semula hening melihat kejadian sebelumnya menjadi ramai sebab pelukkan erat milik Wamika dengan senyuman manis yang ia bawa. Kedua tangan Oditi pun membalas erat pelukkan itu sebagai permulaan dari hubungannya yang sudah berganti status.
Pagi ini juga, Oditi datang lagi ke rumah untuk menjemput Wamika pertama kali dengan julukan sebagai kekasih. Tak hanya Wamika yang merasa senang bukan kepayang, Oditi pun sama. Sesampainya di depan rumah kekasih, Oditi tak henti-hentinya menanamkan senyum dibibir cantik kepunyaannya.
Hari-hari kemudian mereka jalani dengan 1000 kali lebih semangat dari sebelumnya. Wamika jadi lebih suka berceloteh tentang banyak hal ke Oditi, dari hal yang penting hingga sama sekali tak perlu. Lain halnya dengan Oditi yang selalu menyediakan layanan pendengaran untuk sang kekasih tak kenal waktu. Semuanya mereka jalani dengan tanpa masalah, bahkan bisa dibilang mereka pasangan yang selalu tenteram, tak pernah merasakan yang namanya bertengkar, walaupun hanya lewat telepon genggam.
Kedua insan itu tak merasa ada yang salah dengan itu semua. Cinta Wamika pun masih sama seperti sebelumnya, tak pernah sedikitpun berubah—terhitung sudah 1 tahun lamanya mereka berhubungan. Apalagi cintanya Oditi. Dimata Wamika, laki-laki yang sangat patut ia sembah kehadirannya ialah Oditi. Laki-laki baik, pengertian dan caranya memperlakukan Wamika adalah yang terbaik. Namun, itu semua sirna pada suatu ketika di taman sekitar sekolah pukul 5 petang.
"Mika, Kakak mau ngobrol serius boleh?" tanya Oditi pelan.
Wamika spontan menoleh, ia mengangguk pelan. Segera menaruh telepon genggamnya dikursi, kemudian sedikit menyerongkan tubuhnya, menghadap kekasih.
Bilah lembut milik orang yang ada di depan dengan lancar menyentuh seluruh struktur wajah cantik milik Wamika. Mulai dari mata, pipi dan yang terakhir hidung mungil kekasih.
Wamika terkekeh geli sebelum bertanya, "Kenapa Ka?" tanyanya pelan.
Oditi tersenyum mendapat respon. Bukannya melepas tautan tangannya dipipi sang empu, dengan sengaja dua tangannya hinggap dipipi yang lebih muda. Sebelum menjawab pertanyaan barusan, Oditi sempat menarik napasnya dalam-dalam.
"Kakak sayang sama kamu, Kakak beneran sayang banget Mika. Cuma, Kakak rasa, sayang ini belum pantes buat hubungan yang indah ini. Kakak rasa 1 tahun ini hubungan kita juga baik dan sangat baik, enggak ada masalah apapun dan Kakak seneng sama hal itu. Cuma, Kakak mau minta maaf buat ngomongin hal ini tiba-tiba ke kamu. Let's focus on ourselves again, okay? I think this relationship needs to end— setelah semua sifat buruk Kakak yang kamu enggak tau, Kakak bener-bener minta maaf... Kakak beneran sayang sama kamu Mik, tapi Kakak rasa lebih baik kita ud—"
"M-maksudnya Ka?" kalimat itu dengan cepat Mik potong. Dadanya memburuh saking kagetnya mendengar kalimat menusuk keluar dari bibir cantik sang kekasih.
Oditi tersenyum getir, ibu jarinya perlahan mengusap pipi tembam Mika. "Kakak minta maaf. Tapi Kakak mohon kamu setuju sama keputusan Kakak ya? Kakak enggak mau terus-terusan nyakitin kamu walaupun kamu enggak tau dalam bentuk apa..."
Terdengar tak masuk akal, Mika melepas kedua tangan Oditi dari pipinya. Ia taruh tangan sang kekasih dengan lembut, keduanya kembali bertatapan.
"Jelasin Ka, maksudnya apa? Ya kalau kamu sayang sama aku, enggak mungkin kamu mau putusin aku tiba-tiba no reason gini. Tolong jelasin boleh? Hal jahat apa yang kamu sebut-sebut itu? A-aku mohon Kak..." seakan terhantam, atmosfer berubah menjadi tegang. Wamika terus menatap bola mata indah milik kekasihnya, mencari letak kesalahan yang Oditi sebutkan barusan disana.
Mendengar itu, Oditi menarik napasnya perlahan sambil menutup mata. "Kakak gak bisa jelasin ke kamu, Kakak minta maaf."
Mika tertegun, benar-benar tak habis pikir. Wamika benar-benar tak habis pikir dengan kalimat yang ia dapat barusan. Ia memalingkan wajahnya, berusaha mendinginkan kepala yang sudah mendidih. Matanya memerah dengan denyut jantung tak stabil.
Wamika memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya. Ia menoleh dan tersenyum getir, "Ka, aku enggak tau apa yang kamu maksud barusan, apa yang menimpa kamu diwaktu-waktu sebelumnya. Tapi, asal kamu tau, kamu jahat Kak. Kamu manusia paling jahat yang aku kenal. Mungkin sebelumnya kamu emang manusia terbaik yang aku kenal, tempat teraman yang aku tahu. Tapi malam ini, setelah semua kalimat-kalimat enggak jelas, nyeleh dan ambigu yang kamu keluarin barusan aku beneran dibuat berubah pikiran 360 derajat. Bahkan dari pertanyaan aku barusan kamu masih kekeh buat enggak ngasih tau aku. Egois kamu Ka, egois banget. Aku enggak habis pikir. Setelah semua yang kita jalanin, kamu beneran nyimpen ini semua sendirian, ngambil keputusan sendirian dan bertekad enggak ngasih tau aku alasannya sepicik pun. Kamu pikir yang punya perasaan cuma kamu aja? Kamu enggak mikirkah aku bakal kaya orang gila mati penasaran sama semua itu? Sekarang terserah kamu, aku harap kamu beneran bahagia sama keputusan kamu itu, aku pamit."
Selesai, semuanya selesai. Wamika bergegas pergi dari Taman dilangit senja yang mulai terkikis langit malam. Wamika pergi dengan perasaan campur aduk. Bingung, sedih, marah dan lain sebagainya. Semakin marah setelah sadar, selama semua yang ia jabarkan barusan sang mantan kekasih hanya menunduk tanpa bergeming apapun. Bahkan, saat ini ia berlari dari kawasan taman, Oditi masih nyaman duduk dengan kepala yang ia tundukkan ke tanah, tanpa ada keinginan untuk mengejar dirinya.
Seakan tersayat, hatinya benar-benar terluka bukan main dengan semua yang terlalu tiba-tiba ini. Pagi tadi keduanya masih berangkat bersama. Ia duduk di belakang dengan tangan yang nyaman memeluk perut Oditi. Siang tadi keduanya juga masih makan bersama di kantin. Semuanya terlalu normal untuk keputusan yang tiba-tiba beberapa waktu lalu.
Wamika pusing, kepalanya sangat berat mengingat semua itu. Sedikit demi sedikit pertahanannya mulai runtuh. Butiran air jernih itu turun melewati pipi dan leher jenjangnya.
Kepalanya ia usak beberapa kali ke kanan kiri, merasa tak nyaman dari baringan bantal yang empuk. Wamika merasakan guncangan yang lumayan keras dari tubuhnya. Ia membuka matanya dengan cepat, bangun dari tidurnya dan segera duduk saking terkejutnya dengan mimpi yang ia alami.
Napasnya tersengal-sengal, matanya beberapa kali mengerjap.
