Work Text:
Martin datang pukul 9:58. Woojin berdiri di balik pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya tidak lepas dari jam dinding. Wajahnya berusaha santai, tapi ujung kakinya terus bergerak kecil, menunggu jarum panjang bergeser dua menit lagi.
Kalau pria tinggi itu telat..Selesai. Woojin benar-benar tidak mau melihatnya lagi.
Bel rumah berbunyi tepat ketika jarum jam menyentuh angka sepuluh. Dan diwaktu yang tepat pula suara Martin terdengar dari luar memanggil namanya. Woojin tidak buru-buru membuka pintu, ia membiarkan bunyi bel itu menggantung beberapa detik sebelum akhirnya memutar kenop.
Martin berdiri di depannya dengan napas masih sedikit terengah. Rambutnya berantakan, kaus hitam yang dikenakannya tampak kusut, sementara di satu tangannya ada paper bag berisi sarapan. Dan setangkai Peony putih..
Martin masuk setelah Woojin bergeser memberi jalan. Pintu ditutup pelan hingga suara klik kunci memenuhi rumah yang kembali sunyi. Paper bag dan setangkai peony putih masih berada di tangannya. Ia sempat melirik ke sekeliling, menyadari rumah itu benar-benar kosong.
"Ibun sama Appa udah pergi?"
Woojin mengangguk, ia berjalan lebih dulu menuju ruang tengah. "Makanya gue nyuruh elu datang jam segini."
Martin hanya diam. Woojin berhenti di tengah ruang tamu, lalu berbalik menghadap Martin. Kedua tangannya kembali terlipat di depan dada.
"Taruh itu."
Martin mengikuti arah pandangan Woojin. Ia meletakkan paper bag dan bunga peony di atas meja dengan hati-hati, seolah takut kelopaknya rusak.
Setelah itu ia kembali berdiri di hadapan Woojin.
"Nit.."
Woojin mengangkat satu tangan, menghentikan kalimatnya. "Don't, say another words..”
"You said you're sorry.."
"You said you'll do anything."
Martin mengangguk tanpa ragu. "I will, Nit.”
Woojin menatapnya lama, seolah ingin memastikan tidak ada sedikit pun keraguan di mata lelaki itu. Lalu bibirnya bergerak pelan.
"Then beg."
Martin tidak berkedip sama sekali mendengar itu, Woojin tetap menatap lurus ke arahnya.
"If you're really sorry.." Ia mengambil satu langkah mendekat.
"...beg me again."
Martin menarik napas panjang. Tidak ada keberatan, tidak ada rasa tersinggung. Ia hanya mengangguk pelan. Nurut dengan apa yang diperintahkan Cantik-nya.
Tanpa melepaskan pandangan dari Woojin, Martin perlahan menurunkan tubuhnya. Satu lutut menyentuh lantai, disusul lutut yang lain. Kini ia benar-benar berlutut di depan Woojin.
Woojin sendiri tidak bergeming.
"Look at me," ucapnya pelan. Sambil tetap berdiri, Woojin perlahan mengangkat satu tangan. Ujung jarinya menyentuh dagu Martin, lalu mengangkatnya sedikit agar lelaki itu kembali menatap lurus ke arahnya.
"Hey, eyes on me." Martin menurut.
Matanya sudah sembab. Garis merah memenuhi bagian putih maniknya, tetapi ia tidak berusaha mengusap air mata yang terus turun. Ia hanya memandang Woojin, seolah takut sekali jika sedetik saja mengalihkan tatapan, pria di depannya akan kembali menjauh.
Woojin membungkuk sedikit. "Beg properly, Ed."
Martin menarik napas yang terasa berat.
"Please..."
Woojin menggeleng pelan. "No..Use my name."
Martin memejamkan mata sesaat, tenggorokannya terasa tercekat.
"Please, Woojin.. Please.. Jangan hukum aku terus begini..”
“Aku tau aku pantas dimarahin, aku bikin kamu kehilangan percaya..” Ia berhenti sejenak, bahunya mulai bergetar menahan tangis.
“Tapi jangan suruh aku hidup seolah kita asing..” Martin melanjutkan dengan napas yang tidak lagi karuan, bulir air mata mulai mengalir. Berjatuhan membasahi pipinya.
Satu-satunya suara yang tersisa di ruang tamu hanyalah napas Martin yang mulai tersendat. Air mata terus jatuh tanpa sempat ia seka. Bahunya masih bergetar, tetapi ia tetap memaksa dirinya menatap Woojin, seolah takut kehilangan kesempatan itu.
Woojin tidak langsung bicara.
Tangannya yang sejak tadi menggantung di sisi tubuh perlahan terangkat. Jemarinya menyentuh pipi Martin dengan hati-hati, begitu pelan hingga Martin sempat mengira dirinya hanya berhalusinasi. Sentuhan itu nyata.
Ibu jari Woojin mengusap garis air mata yang membelah pipi Martin. Sekali, lalu sekali lagi.
“Udah,” suara Woojin nyaris seperti bisikan.
“Jangan nangis.”
Martin menutup matanya sesaat, menggeleng lemah. Bahkan napasnya bergetar ketika telapak tangan itu tetap bertahan di wajahnya.
“Aku gak bisa berhenti.”
Woojin mengembuskan napas pelan. “Berdiri.”
Martin langsung menurut. Ia bangkit perlahan dari lantai, masih dengan kepala sedikit menunduk. Perbedaan tinggi badan mereka kembali terasa begitu jelas. Martin harus menundukkan wajahnya agar tetap bisa melihat Woojin yang berdiri tepat di depannya.
Si Cantik tidak mundur, sebaliknya, ia mengambil satu langkah kecil hingga jarak di antara mereka hampir tidak menyisakan ruang. Tangannya masih menangkup sebelah pipi Martin. Jemarinya mengusap sisa air mata di bawah mata lelaki itu, lalu berhenti di rahangnya.
"Capek?"
Martin mengangguk, "capek..tapi lebih capek kalau harus kehilangan kamu."
Kalimat itu membuat tatapan Woojin melembut untuk pertama kalinya. Ia kembali mengangkat wajah Martin sedikit.
"Lihat aku."
Martin menurut tanpa ragu.
Woojin memperhatikan wajah itu lama. Mata sembab, hidung memerah, napas yang masih belum stabil. Pria yang selalu datang dengan senyum paling lebar kini berdiri di depannya dalam keadaan benar-benar rapuh penuh sesal.
Perlahan, Woojin mendekat. Bibirnya lebih dulu menyentuh sudut mata Martin.
Kemudian ia bergeser, mengecup bekas jalur air mata di pipi Martin dengan lembut. Yang lebih tinggi mematung, mendapati Cantik-nya kembali menghapus satu tetes air mata yang baru jatuh, lalu mengecup tempat yang sama. Sisi wajah yang lain mendapat perlakuan serupa.
Tidak terburu-buru, seolah setiap kecupan itu sedang menghapus sisa kesedihan yang tertinggal.
Martin couldn't even forgot how to breathe.
Woojin was impossibly gentle with him now. It felt as though Martin was being held in the gentlest embrace, as if every broken piece of him had finally found a place to rest—yet one wrong move could still make it all fall apart.
Jemarinya mengepal pelan di sisi tubuh, ia sama sekali tidak berani menyentuh Cantik-nya lebih dulu. Takut semuanya berhenti, takut tiba-tiba Woojin menghentikan semua afeksi ini.
Woojin akhirnya berhenti tepat di depan wajah Martin. Jarak mereka kini hanya dipisahkan embusan napas, tatapannya turun sesaat ke bibir Martin sebelum kembali bertemu dengan kristal manik indah milik lelaki itu.
"But i've already grieved you, Ed.."
Martin kembali menangis, kali ini lebih deras. Bibirnya bergetar, tapi tidak ada satu katapun yang berhasil keluar, bahkan isakannya tertahan. Tenggorokannya seperti terkunci, napasnya mulai berantakan, ia menggeleng asal dengan meraih tangan Woojin untuk ia genggam. Ia belai sendiri telapak tangan itu pada wajahnya.
“I’m here..Nit.. Aku ada disini….”
“Aku di sini,” bisiknya sekali lagi. “Aku gak ke mana-mana..”
Woojin tidak menarik tangannya. Ia membiarkan Martin menggenggam telapak tangannya erat-erat, membiarkan lelaki itu menyandarkan pipinya pada jemarinya seolah itulah satu-satunya tempat yang masih membuatnya bisa bernapas. Woojin memandang wajah Martin lama. Lelaki itu terlihat jauh lebih lelah daripada terakhir kali mereka bertemu. Mata yang biasanya penuh tawa kini dipenuhi penyesalan yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Pelan, ibu jari Woojin bergerak mengusap bawah mata Martin.
“Aku tau, Ed.” Suara Woojin tetap pelan, ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
“Karena kamu masih ada, tapi rasanya… aku kayak kehilangan kamu..”
“Kamu gak tau rasanya.” Ia tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
“Setiap kali aku ngerasa sepi, aku ngeharapin kamu telpon aku.. Chat aku..”
“Tapi aku inget..”
Tatapannya jatuh pada tangan mereka yang masih saling menggenggam.
“…aku sendiri yang nutup semua pintunya.”
Martin menggeleng pelan. Jemarinya masih membungkus tangan Woojin, hangatnya seolah menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri tegak. Dia usap pelan punggung tangan yang masih ia genggam itu.
"Boleh kamu tutup semua pintunya, Nit..aku gak akan pernah berhenti nyari jalan pulangku ke kamu. Aku bakal selalu ketuk semua pintu yang kamu tutup."
Woojin tertawa lirih, ada sisa getir di balik tawa itu.
"Makasih udah datang."
Martin menatapnya lama, memuja wajah yang begitu ia rindukan selama berminggu-minggu. Wajah yang sempat ia kira tidak akan pernah lagi menatapnya selembut ini. Ujung jarinya terangkat pelan, berhenti beberapa senti sebelum menyentuh pipi Woojin.
"Boleh?"
Woojin mengangguk kecil. Barulah Martin berani mengusap pipinya. Sangat pelan, seolah takut sentuhan itu akan membuat semuanya menghilang.
"Kamu kurusan."
Woojin terkekeh lirih.
"Siapa suruh bikin aku kepikiran kamu terus."
Martin menundukkan kepala sambil tersenyum tipis. Tawanya bercampur sesak.
"Maaf."
"Bukan itu yang mau aku denger sekarang."
"Terus?"
Woojin tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Martin beberapa saat, menghafal lagi setiap garis wajah yang selama ini hanya bisa ia lihat lewat foto-foto yang diam-diam dikirim James. Woojin mengembuskan napas pelan. Jemarinya yang sejak tadi masih berada di tangan Martin perlahan terlepas. Ia maju setengah langkah hingga dada mereka hampir bersentuhan.
Perbedaan tinggi badan membuatnya harus sedikit mendongakkan wajah.
Martin refleks ingin membungkuk.
"Jangan." Woojin menahan lengannya.
"Biarin aku.."
Woojin perlahan berjinjit. Satu tangannya naik ke bahu Martin untuk menjaga keseimbangan, sementara tangan satunya lagi menyentuh pelan sisi leher lelaki itu. Martin sendiri tidak bergeming. Tatapannya tidak pernah lepas dari mata Woojin.
Karena tinggi Martin masih terpaut cukup jauh, Woojin sedikit kawalahan dengan kakinya. Salah satu tangannya naik mencengkeram pelan bagian depan kaus Martin agar tubuhnya tetap seimbang.
Martin refleks ingin meraih pinggangnya, tetapi ia menghentikan gerakannya sendiri.
Si Cantik lebih dulu menutup jarak di antara mereka. Bibirnya singgah lembut di bibir Martin. Hanya sebuah kecupan singkat, pelan, penuh keraguan yang perlahan berubah menjadi kepastian ketika Martin membalasnya dengan kelembutan yang sama.
Martin hanya mengangkat satu tangan ke pinggang Woojin untuk menopangnya agar tidak kehilangan keseimbangan saat masih berjinjit. Sentuhannya ringan, memberi ruang kapan pun Woojin ingin menjauh.
Namun Woojin tidak mundur.
Ia justru kembali mengecup Martin sekali lagi, kali ini sedikit lebih lama, seolah sedang memastikan bahwa lelaki di depannya benar-benar telah kembali.
Saat bibir mereka terpisah, Woojin masih berdiri berjinjit. Jarak mereka belum benar-benar menjauh.
Martin tersenyum, "kaki kamu pegel gak?"
"Salah sendiri." Woojin mendengus sebal.
"Salah aku?"
"Iya, siapa suruh ketinggian."
Mendengar jawaban Cantik-nya membuat Martin tertawa.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melingkarkan satu tangan ke pinggang Woojin, mengangkat tubuh lelaki itu beberapa senti agar tumitnya kembali menapak nyaman di atas kaki Martin.
"Kalau gini? Masih pegel?"
Woojin menggeleng sambil tersenyum. "Enggak lagi."
Martin tersenyum kecil melihat senyum itu akhirnya kembali. Senyum yang selama berminggu-minggu hanya bisa ia bayangkan.
"Senyum terus ya, cantik."
Woojin mendecak pelan, lalu memukul ringan dada Martin dengan punggung tangannya.
"Stop ngegombalin aku."
"Aku gak gombal, Nit. Kamu belah dada aku sekarang isinya ada kamu lagi senyum cantik."
Woojin menggeleng, tetapi sudut bibirnya semakin terangkat. Ia mengembuskan napas pelan, lalu tanpa banyak berpikir kembali meraih kerah kaus Martin.
"Sini."
Martin menurut.
Begitu wajah mereka kembali dekat, Woojin yang lebih dulu mengangkat dagunya. Kali ini ia tidak ragu. Bibirnya kembali menemukan bibir Martin,kali ini yang sedikit lebih lama dari sebelumnya.
Martin membalas dengan lembut, seolah masih memastikan bahwa semua ini benar-benar terjadi.
Yang lebih tinggi melepas sesaat tautan mereka, tatapan keduanya tetap bertaut.
"Miss me that much?" bisik Martin.
Woojin tidak menjawab.
Ia hanya mengusap pelan pipi Martin dengan ibu jarinya sebelum kembali mendekat.
Cumbuan berikutnya datang lebih tenang, lebih lama, seakan menggantikan semua kata yang selama ini tertahan. Martin menahan diri untuk tidak terburu-buru. Salah satu tangannya tetap berada di pinggang Woojin, menopangnya dengan hati-hati agar lelaki itu tidak perlu terus berjinjit.
Martin tak mau melepas bibirnya dari Woojin.
Setelah ciuman pertama yang lembut dan penuh arti, sekarang dia menarik lebih dalam, nafas mereka berbaur, lidah Martin dengan hati-hati menyapu bibir Woojin, lalu membuka celah kecil untuk mencari kontak. Ciuman kedua ini bukan lagi pelukan manis.
"Mnnphh.."
Woojin terkejut sebentar—tapi langsung menyerah pada arus perasaan itu. Tangannya merayap naik ke leher Martin, jemarinya menyelip di rambut pendeknya sambil mendorong kepala pasangannya sedikit lebih dekat. Desah-desah kecil keluar dari celah ranum si Cantik, menggeliat manja, menggeliat kewalahn dengan ciuman Ed-nya.
Bahkan kaki mereka bergerak tanpa sadar. Martin melangkah perlahan maju membawa tubuh tingginya mendekat, dan Woojin harus mundur pelan-pelan karena dinding sudah tepat di belakang punggungnya setelah beberapa langkah mundur tambahan dari gerakan balasan ciumannya sendiri.
Punggung Woojin menghantam ringan ke permukaan dingin tembok beton—tapi dia tidak peduli sama sekali. Dia hanya fokus pada ciuman yang Ed-nya beri. Semakin panas namun tetap terkendali.
Martin sangat pandai dalam berciuman. Dan Woojin akui itu.
Dia mengatur ritme ciumannya sendiri. Dalam, pelan, lembut, penuh rasa ingin memastikan Woojin merasa dicintai sepenuhnya. Tangannya yang besar sekarang mengelilingi pinggang Woojin erat, menarik tubuh kecil itu lebih dekat hingga tidak ada celah di antara mereka.
"Nnmghhh..Edmmnh.."
Napas pendeknya keluar dari hidung saat bibir Martin menggigit kuat ujung bibir bawahnya. Matanya tertutup rapat, dia benar-benar lemas dalam peluk dan ciuman ini.
"Mmmhh…" Suara kecil itu muncul tanpa sadar saat lidah Martin menyesap kuat bibirnya. Jemarinya masih bermain-main di rambut Martin, membelai halus seperti takut merusaknya.
Martin akhirnya memutuskan untuk memberi jarak sebentar... hanya beberapa milimeter, cukup agar bisa melihat wajah pasangannya sambil terus bernapas berat-berat karena ciuman tadi terlalu panjang untuk dua orang yang baru pertama kali saling berciuman setelah putus lama.
Dengan hati-hati Martin menggiring Woojin beberapa langkah ke arah sofa ruang tengah. Ia memastikan langkah Woojin tetap pelan, seolah takut lelaki itu tersandung. Begitu sampai, Martin menepuk pelan dudukannya.
"Duduk."
Woojin menurut tanpa banyak protes. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa sambil terus menatap Martin yang masih berdiri di depannya.
"Kamu gak duduk?" Tanya Woojin, Martin hanya menggeleng.
Sebagai jawaban, Martin melangkah mendekat hingga lututnya hampir menyentuh sisi sofa. Tubuhnya membungkuk perlahan, kedua tangannya bertumpu di sandaran, mengurung Woojin tanpa benar-benar membuatnya merasa terdesak.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Martin mengangkat satu tangan, lalu menyelipkan beberapa helai rambut Woojin ke belakang telinga. Gerakannya begitu hati-hati, seolah takut mengacaukan momen yang baru saja mereka bangun. Tatapannya tidak bergeser sedikit pun, seolah setiap detik yang berlalu hanya ia habiskan untuk menghafal lagi wajah yang selama ini begitu ia rindukan.
Senyum kecil terbit di sudut bibirnya.
"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?.." tanya Woojin lirih.
Martin tersenyum tipis. Matanya masih memerah karena tangis yang belum lama reda.
"Cantik."
Satu kecupan ringan mendarat di pipi kanan Woojin.
Martin bergeser ke sisi wajah yang lain, kecupan kedua mendarat dengan kelembutan yang sama.
"Cantik."
Sebelum Woojin sempat membalas, Martin mengangkat dagunya perlahan. Sebuah kecupan hangat singgah di dahinya.
"Cantik."
Woojin menutup mata sesaat. Napasnya terdengar sedikit lebih pelan dibanding sebelumnya. Martin turun lagi, mengecup ujung hidungnya dengan sangat ringan hingga membuat Woojin terkekeh lirih.
"Eedd..Genit banget sih."
Martin tertawa kecil. "Salah?"
Woojin tidak menjawab, tatapannya justru mulai melembut. Martin kembali bergerak, kali ini bibirnya singgah di dagu Cantik-nya beberapa saat.
"Cantik." Ia mundur sedikit hanya untuk memandangi wajah di depannya sekali lagi.
Martin tidak benar-benar menjauh. Jarak yang tercipta hanya cukup untuk membuat mereka kembali saling menatap. Tatapannya hangat, penuh rasa sayang yang selama ini tertahan, seolah masih belum percaya Woojin benar-benar berdiri di depannya dan membiarkannya sedekat ini.
Jemarinya kembali mengusap pelan garis rahang Woojin.
"Blink, Ed.." bisik Woojin pelan karena Martin terus memandanginya tanpa berkedip.
Martin menggeleng sambil tersenyum.
"Gimana bisa aku ngedip kalau di depanku kamu keliatan Cantik banget kayak gini?"
Woojin mengembuskan napas pendek. Sudut bibirnya terangkat tipis, malu-malu.
"Males iihh Ed ngegombaall."
Martin tertawa lirih. Tawanya pelan sekali, namun cukup membuat dada Woojin terasa hangat. Perlahan ia kembali mendekat. Kali ini bukan tergesa, bukan pula karena terbawa emosi. Ia memberi waktu, membiarkan Woojin melihat setiap gerakannya.
"Masih boleh?" Tanya Ed.
Woojin tidak langsung menjawab. Tangannya lebih dulu terangkat, menyentuh pelan dada Martin, merasakan detak jantung yang bahkan dari balik kaus pun terasa begitu cepat.
"Kamu nanya terus.."
"Soalnya aku gak mau kalau kamu gak izinin, Nit."
Tatapan Woojin melembut semakin dalam. Ia tersenyum kecil sebelum akhirnya mengangguk.
Martin menutup sisa jarak itu dengan sebuah kecupan singkat di bibir Woojin. Begitu ringan hingga lebih terasa seperti ucapan terima kasih daripada ciuman. Kecupan singkat itu berubah jadi sesapan panjang, keduanya mana mau kalah saling mencumbui bibir satu sama lain. Ruang tengah penuh dengan suara kecipak basah dari belah ranum mereka.
Ketika hendak mundur, jemari Woojin justru menggenggam kerah kaus Martin.
"Nmmh...Ed?"
"Yes dear?"
"Kok berhenti?"
Pertanyaan itu membuat Martin terkekeh pelan.
"Kukira kamu butuh napas."
Woojin menggeleng pelan. Pipi dan telinganya sudah memerah sejak tadi, tetapi kali ini ia tidak lagi berusaha menyembunyikannya.
"Kesini lagi."
Kalimat itu nyaris terdengar seperti rengekan.
Martin mengangkat sebelah alis, senyum di wajahnya semakin lebar.
"Disuruh nih aku nya ya?"
Woojin menahan malu dengan menyandarkan dahinya sebentar ke tangan Ed yang masih bertempu paad sandaran sofa.
"Jangan bikin aku ngulang."
"Habisnya kamu lucuu."
"Ed."
"Iya, iya."
Martin kembali mendekat. Bibirnya mengecup Woojin sekali lagi, lalu membiarkan kecupan itu bertahan sedikit lebih lama. Satu tangannya tetap mengusap perlahan punggung Woojin, sementara tangan yang lain menggenggam jemari lelaki itu erat-erat.
Woojin memejamkan mata. Entah karena malu atau karena terlalu nyaman, ia sendiri tidak tahu. Yang ia rasakan hanya hangat yang memenuhi dadanya sedikit demi sedikit, mengikis sisa-sisa jarak yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Afeksi yang diberikan Martin selalu seperti itu. Tidak pernah memaksa, tidak juga terburu-buru. Selalu datang dengan kesabaran yang membuat pertahanannya runtuh tanpa disadari.
Ketika kecupan itu berakhir, Woojin tidak segera membuka mata. Ia justru mendekat beberapa senti lagi hingga dahinya bersandar pada Martin.
"Aku kangen dimanja begini."
Martin mematung sesaat. Senyumnya memudar, berganti tatapan yang jauh lebih lembut. Ia mengusap rambut Woojin perlahan, lalu mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih.
"Gak usah ditahan lagi."
Woojin mengangguk pelan sambil memeluk pinggang Martin. Membawa yang lebih tinggi itu duduk di sampingnya. Kali ini ia tidak menyembunyikan dirinya lagi, ia membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya, menikmati rasa aman yang selama berbulan-bulan hanya bisa ia rindukan dari kejauhan.
Woojin menarik napas pelan. Jemarinya masih mencengkeram bagian belakang kaus Martin, seolah takut lelaki itu menghilang begitu saja jika ia melepaskannya. Wajahnya tersembunyi di lekuk leher Martin beberapa saat sebelum akhirnya ia berbisik sangat pelan.
"I wish I could un-need you."
Kalimat itu nyaris tak terdengar, tetapi Martin menangkapnya dengan jelas.
Pelukan di pinggang Woojin mengencang. Ia memejamkan mata, menahan sesuatu yang kembali memenuhi dadanya. Bibirnya singgah di pelipis Woojin, mengecupnya lama tanpa terburu-buru.
"I know.." Suara Martin serak. Woojin perlahan mengangkat wajah. Tatapan mereka kembali bertemu, begitu dekat hingga Martin bisa melihat mata itu kembali berkaca.
"I tried to tell myself i could live without you." Martin tersenyum tipis, senyum yang dipenuhi rasa kalah.
"Turns out... i was lying to myself."
Jari-jarinya menyelip di sela rambut Woojin, mengusap bagian belakang kepalanya pelan.
"I don't want to spend another day pretending you're not the first person i look for."
Woojin tidak menjawab. Ia hanya menatap Martin lama, seolah sedang memastikan setiap kata yang baru didengarnya benar-benar tulus. Dan Martin memahami tatapan itu. Ia mengusap pipi Woojin dengan ibu jarinya. Sebelum menarik tangannya kembali, Martin membiarkan ujung ibu jarinya tetap berada di pipi Woojin. Sentuhannya nyaris tak terasa, tetapi cukup untuk membuat Woojin tanpa sadar memejamkan mata sejenak, menikmati belaian yang pernah begitu ia rindukan.
Martin tersenyum kecil. Bukan senyum lebar yang biasa ia tunjukkan pada semua orang, melainkan senyum yang hanya muncul hanya ketika ia memandangi satu orang di hadapannya. Tatapannya berjalan perlahan, menghafal lagi setiap garis wajah Woojin, seolah takut ada bagian yang terlupakan selama mereka saling menjauh.
"You're still just as beautiful as the day i lost you.."
Kalimat itu membuat Woojin menundukkan kepala sebentar. Bibirnya membentuk senyum tipis yang nyaris tidak terlihat. Jemarinya tanpa sadar meraih pergelangan tangan Martin, membawanya kembali menyentuh pipinya.
"Jangan dipuji terus."
"Kenapa?"
"..Nanti aku mudah percaya lagi..."
Martin menggeleng pelan sambil tersenyum. Ujung jarinya menyisir helaian rambut yang jatuh di pelipis Woojin, merapikannya dengan gerakan yang begitu hati-hati. Lalu telapak tangannya singgah di pipi lelaki itu, membelainya perlahan, menikmati hangat kulit yang sempat ia pikir tidak akan pernah bisa ia sentuh lagi.
"Kalau aku boleh milih," gumamnya lirih.
"Aku bakal jatuh cinta sama kamu berulang kali. Sama wajah ini..sama mata ini...sama semua hal yang bikin kamu jadi Woojin."
Woojin tertawa pelan, kali ini tanpa menyembunyikan rona merah yang mulai memenuhi wajahnya. Ia memejamkan mata sesaat, membiarkan dirinya larut dalam usapan lembut Martin. Sudah terlalu lama ia merindukan sentuhan yang selalu berhasil membuat dadanya tenang.
Martin memandangnya dengan dada yang penuh sesak. Semakin lama menatap Woojin, semakin besar rasa bersalah yang memenuhi dirinya.
Rasanya, Martin sudah seperti hamba yang penuh dosa karena telah menyakiti ciptaan-Nya yang paling indah.
