Work Text:
Kuliah semester akhir membuat kebanyakan mahasiswa menjadi sibuk. Entah sibuk mempersiapkan tugas akhir, jurnal publikasi, presentasi, dan banyak lagi. Tak terkecuali Sean, ia sibuk mengerjakan jurnalnya hingga sering kali melupakan jam makan dan jam tidur.
Sean memilih menerbitkan jurnal untuk syarat kelulusan, katanya lebih cepat dibanding skripsi—maka ia lebih memilih jalan itu. Entah apa yang membuatnya ingin cepat-cepat keluar dari perkuliahan yang terkadang membuat rindu. Kebersamaannya, tidak dengan tugasnya.
“Bisa kali, angkat dulu telfonnya.” Suara dari Juan membuyarkan fokus Sean seketika. “Dari tadi nelfon tuh… tega banget lo, Se.” Tambah Juan dengan melirik ponsel di atas meja yang sengaja disilent namun tetap menampilkan nama di seberang yang sedang menelepon.
Ikut melirik ponselnya yang tergeletak, bukannya mengangkat—Sean justru mengaktifkan mode “Jangan Ganggu” pada ponsel pintarnya itu.
“Huh!” Juan menghela napas. Tak habis pikir dengan tingkah temannya itu. “Kata gue ngobrol dah lo berdua. Greget gue lama-lama.”
“Gak ada yang perlu diomongin. Kalo ngobrol yang ada dia makin gak bisa lepas dari gue.” Ucap Sean sendu. “Gue gak mau dia kena pukul papanya.” Tambahnya dengan suara yang lebih pelan.
“Eh lo gak bisa gitu, anjir? Anak orang lo deketin, lo juga yang jauhin.” Juan menarik napasnya. “Lo lupa, setiap momen sama dia lo segirang itu cerita sama gue? Lo lupa, lo yang deketin dia duluan?”
“Deketin as temen, Juan. Gak ada yang expect bakal se-complicated kayak sekarang.”
“Gue tau, Sean. Perasaan kalian itu sama-sama tumbuh. Semuanya gak ada yang disengaja, dan itu bukan kesalahan.”
“Tapi gue gak mau dia dosa karena gue, Ju!” Ucap Sean final dengan menatap mata lawan bicaranya. Jurnal yang ia kerjakan ia lepas begitu saja. “Kata papanya, dosa.”
“Love is not a sin, Se.” Juan memegang bahu Sean. “Apalagi diucapin sama manusia juga. Gak berhak, kita sama-sama punya dosa.”
“Gue cinta banget sama dia, Ju…” Sean menangis, air matanya menetes membasahi pipi.
“Kalo gitu obrolin. Jangan lo tinggalin dia dengan tanda tanya besar di kepalanya.” Juan menguatkan Sean dengan mengeratkan pegangannya pada bahu Sean. “Gue minta lo pikirin bener-bener. Tapi jangan sampe bikin lo stress, ya?”
“Apapun akhirnya nanti, gue harap dia bahagia.”
“With or without me.”
POV Sean
Flashback
Hari itu aku sedang berlibur ke rumah nenek. Untuk menghabiskan waktu liburan semester sebelum menginjakkan kaki ke semester akhir perkuliahan, aku lebih memilih ke rumah nenek daripada berlibur ke luar kota seperti biasanya.
Entahlah, saat itu aku rindu sekali. Rindu nenekku, rindu masakannya, rindu suasana rumahnya, rindu semua tentang nenek.
Selama perjalanan aku tidak banyak bermain ponsel, karena sungguh aku akan rugi jika tidak melihat pemandangan alam yang menyegarkan mata. Ayah dan bundaku hanya mengantar saja, mereka tidak ikut menginap karena ayah yang masih harus bekerja.
Rumahku dan nenek tidak begitu jauh. Masih berada dalam satu provinsi. Hanya memerlukan waktu dua sampai tiga jam saja untuk dapat sampai.
Niat awalku kemari adalah untuk menghabiskan waktu libur dan melepas rindu dengan nenek. Namun niat awal itu sedikit bergeser dan digantikan dengan menghabiskan waktu libur bersama seseorang yang membuatku selalu tersenyum setiap aku memikirkannya, membuatku selalu tidur nyenyak karena bermimpi tentang dia. Membuatku selalu bersemangat menyambut hari karena ada dia yang ingin kutemui.
Dia. Dia. Dia. Selalu dia.
Nenekku tinggal tinggal bersama adik dari ayah—yaitu paman. Sampai saat ini paman belum menikah, padahal beliau itu mapan, usianya pun masih terbilang produktif untuk seseorang yang ingin menikah.
Nenek memiliki kebiasaan yang sedari dulu diterapkannya. Yaitu melakukan misa harian. Setiap hari nenek pergi ke gereja untuk mengikuti misa harian, yaitu di sekitar pukul setengah enam pagi.
Tidak ingin nenek berangkat seorang diri, aku dengan senang hati ikut bersama nenek. Jarak rumah dengan gereja tidak terlalu jauh, hanya perlu berjalan tujuh menit jika melewati jalan pintas, dan sepuluh menit jika melewati jalan utama.
Di usianya yang sudah senior, tapi nenek masih sangat sehat. Nenek bisa beraktivitas dengan baik.
“Setiap hari Uti jalan sendirian, kah?” Tanyaku pada nenek selama perjalanan ke gereja.
“Enggak juga, Om Pandu sering anterin Uti kok. Kadang ya jalan sama Bu Agung.” Jawab nenek dengan membenarkan letak tasnya yang sedikit melorot dari lengan.
“Oooh..” Kataku sambil mengangguk.
Sesampainya di gereja, benar saja sudah banyak jemaat yang hadir. Memang tidak banyak seperti hari Sabtu dan Minggu, namun yang namanya misa harian, pasti selalu saja ada orang yang datang.
Nenek memilih duduk di tengah sedikit lebih depan—biar terlihat jelas katanya.
Aku melihat sekeliling, gereja yang sunyi. Membuat siapapun di sana nyaman karena menenangkan hati. Misa harian lebih banyak diisi oleh jemaat seusia nenek. Walau ada juga anak kecil memakai seragam yang sepertinya sekalian berangkat ke sekolah.
Mataku terhenti ketika melihat ada satu pemuda, terlihat seperti seumuranku. Tinggi, alisnya tebal, hidungnya mancung, garis wajahnya tegas. Yang jika aku melihat sekilas, ia seperti keturunan Arab.
Karena terasa diperhatikan pemuda tersebut balik menatapku. Aku yang masih melihatnya, dengan tergesa memutus kontak mata terlebih dahulu.
Misa pun dimulai, Romo memulai dengan Ritus Pembuka. Semua jemaat hikmat dan fokus beribadah.
Lalu tiba saatnya masuk ke Liturgi Ekaristi, yaitu Konsekrasi di mana Romo menguduskan roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Biasanya saat Liturgi ini ada misdinar yang akan bertugas yang membunyikan gong dan lonceng Konsekrasi. Namun karena ini misa harian, jadi siapapun yang berpengalaman dapat melakukannya.
Terlihat dari tengah agak belakang, pemuda yang tadi sempat kontak mata denganku melangkah maju untuk membantu melayani di bagian pemegang gong dan lonceng. Ia melayani dengan tulus. Aku melihat bagaimana dia berjalan, memberi penghormatan, lalu membunyikan gong dan lonceng. Semuanya terpampang jelas di mataku.
Oh Tuhan maafkan aku…
Selesai misa nenek tidak langsung pulang, seperti saat ini—beliau sedang berbincang dengan salah satu jemaat di sana.
Aku mengedarkan pandangku, dan berhenti tepat pada pemuda yang sejak awal sudah menarik perhatian mataku. Aku melihatnya sedang memberi makan sekaligus mengelus lembut anjing peliharaan gereja.
Dengan langkah mantap aku menghampirinya.
“Namanya siapa?” Tanyaku padanya dengan posisi setengah berdiri, tangan bertumpu pada lutut. Pemuda itu menoleh, sedikit mendongak karena posisinya lebih rendah.
“Ose.” Jawabnya singkat tapi sambil tersenyum.
“Salam kenal, Ose! Gue Sean.” Ucapku menjabatkan tangan. Alih-alih menerima jabatan tanganku, dia malah seakan menahan tawanya. Dia berdiri, membuatku gantian sedikit mendongak karena tingginya melebihiku.
“Sebentar, cuci tangan dulu.” Katanya tenang, dia berjalan menuju keran dekat anjing itu berada. Kulihat dia mencuci tangannya, lalu mengeringkan dengan mengelapkan di celana.
“Namanya Ose.” Kata pemuda itu dengan mengangkat dagu mengarah ke anjing peliharaan gereja.
Seketika aku malu, kupikir Ose adalah namanya. Aku hanya bisa memasang wajah terkejut, tidak enak, dan tentu saja malu, aku mengangguk saja tanda paham.
“M-maaf, gue kira Ose nama lo.” Kataku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
“Gak apa-apa, tadi kamu tanya sambil lihat Ose.” Jawabnya sambil terus menatap mataku, sesekali menoleh ke anjing peliharaan gereja. “Makanya aku kasih tau nama dia.”
“Iya maaf, gak spesifik.” Tanganku memukul udara, mengurangi rasa canggung. “Kalo gitu nama lo siapa?” Tambahku pada akhirnya.
“Panggil aja Kefas.”
Sejak perkenalan hari itu, kami menjadi lebih dekat. Tidak kusangka rumahnya berada tak jauh dari gereja. Kami menghabiskan waktu bersama. Entah di rumahnya atau di rumah nenek, atau di tempat-tempat lain.
Beberapa hari berlalu, kedekatan kami membuat kami saling terbuka. Aku menceritakan kegiatan kuliahku, dan dia menceritakan kegiatan kuliahnya. Kami sama-sama sedang libur semester.
Kalimat demi kalimat, langkah demi langkah, cerita demi cerita telah kami lewati. Ada rasa yang muncul dalam hatiku ketika dia tersenyum ke arahku, ketika dia menyelipkan rambutku ke telinga saat rambutku mengganggu, ketika dia mengajariku bagaimana merawat hidroponik milik mamanya, ketika dia mengajariku menanam jagung di kebun papanya.
Semua yang dia lakukan selalu membuatku terpana. Tuhan, apakah tidak apa-apa?
Aku suka bagaimana dia selalu berhati-hati dengan apapun yang menyangkut tentangku. Apakah hanya aku yang merasakan hal ini?
Aku tidak mengerti. Saat aku di kota aku tertarik dengan perempuan, tidak pernah terbesit pikiran bahwa aku menyukai laki-laki. Namun saat melihatnya, semua pertahanan itu runtuh. Aku menyukai Kefas.
Nama yang tiap malam selalu kuucap dalam doaku.
Kefas. Kefas. Kefas. Sungguh indah ciptaan Tuhan dalam wujudmu.
“Menurut lo, cinta itu apa?” Kami berada di ruang tamu rumahnya. Kami baru saja menyelesaikan satu film yang direkomendasikan olehnya. Kami duduk bersebelahan di lantai dengan bersandar pada sofa, laptop berada di atas meja.
“Cinta itu bukan melulu tentang bahagiaku. Tapi bahagianya orang yang aku suka.” Jawabnya, dengan menatap mataku. Dalam. Tulus. Sendu.
“Aku bakal ngelakuin apapun, demi bahagianya dia. Gak apa-apa, meski pada akhirnya aku yang sakit.” Tambahnya dengan terus menatap mataku.
Aku yang ditatap seperti itu tidak bisa menyembunyikan rasa gugupku, wajahku memerah hingga ke telinga. Aku berusaha melihat ke arah lain kecuali matanya.
“K-kalo cinta sesama jenis?” Tanyaku penasaran.
“Aku bukan ahli soal ginian, An.” Jawabnya dengan mengubah posisi duduk lebih nyaman. Kakinya bersila dengan tangan kanan menyentuh karpet berada di belakang tubuhku.
“Ya udah jawab aja sebisanya…”
“Sean, aku itu orang berdosa. Aku gak berhak melarang bahkan menghakimi. Tuhan itu sayang semua umat-Nya. Tuhan gak pilih-pilih umat kok. Tuhan bahkan malah datang ke orang yang berdosa kan? Bukan orang suci. Tuhan aja begitu, jadi aku gak berhak melabeli cinta sesama jenis itu sebagai “dosa”, ya walau di mata dunia itu tabu. Tapi yang aku tau, cinta itu gak dosa, An. Mencintai seseorang bukan perbuatan dosa.”
Ucapnya sedemikian rupa, tatapannya padaku begitu dalam, hingga tak sadar kami berdua duduk berhadapan dan kedua tangannya kini berada di atas pahaku, menggenggam tanganku.
“Kefas..”
Kulihat dia mendekat ke arahku. Wajahnya mendekat, hingga nafasnya bisa kurasakan. Matanya masih menatapku. Aku memejamkan mataku, bersiap dengan semua hal yang terpikirkan di kepala. Dan benar saja. Kefas menciumku.
Tepat pada bibirku, kurasakan bibirnya. Lembut, tidak menuntut. Kubuka sedikit mulutku. Hanya ciuman ringan, tanpa ada nafsu di dalamnya. Dia kecup bibirku, hidungku, pipiku, kedua mataku, dan terakhir dahiku. “Aku cinta kamu, Sean.” Katanya di akhir kecupan pada dahi.
Sejak ciuman itu, tidak ada yang berubah tentang kami. Kami tidak ingin berpacaran, karena berpacaran bisa saja putus. Biarlah hubungan ini berjalan dan bertumbuh seiring berjalannya waktu.
Meski tidak ada “status” diantara kami berdua, tapi kami paham satu sama lain. Aku paham perasaannya, dan dia paham perasaanku. Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama. Membuat kedua orang tuanya dan nenek serta pamanku menaruh curiga.
“Mama bahas kamu terus. Katanya habis kuliah suruh tinggal di sini aja.”
“Emang iya?” tanyaku penasaran. Dia mengangguk, lalu aku melanjutkan bertanya “Kalo aku di sini kerja apa, Kefas?”
“Bantuin aku aja, ngurus kebunnya papa.”
“Yeee itu mah kamu modus!” Gelak tawa terdengar dari mulutnya, kami berdua tertawa.
“An…”
Panggilnya menggantung, saat ini kami sedang berada di ruang tamu rumah nenek. Nenek sedang tertidur, sedangkan paman bekerja. Dia sedang tertidur dengan pahaku sebagai bantalan. Dengan senang hati aku mengusap lembut rambutnya.
“Apaan?”
“Mama kayaknya gak apa-apa tentang kita. Tapi..”
“Tapi apa?”
“Gak tau kalo papa.”
Seketika senyumku luntur. Entah mengapa hatiku sakit. Hatiku serasa tak terima dia berkata hal itu.
“Aku sempat disinggung buat jaga jarak sama kamu. Katanya gak enak sama tanggapan orang.” Kefas berkata dengan hati-hati, takut jika menyakiti.
“Persetan kata orang. Gak bisa, An. Aku gak bisa jauh dari kamu.” Katanya sambil menghadap ke arahku.
“Iya, gak bakal.”
Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk terus sepaham dengan kita. Hari itu, di mana satu hari sebelum aku kembali ke kota, pada malam hari kami berpamitan. Kefas datang ke rumah nenek bersama mamanya. Kami berpelukan cukup lama, tidak ada tangisan, tidak ada kalimat perpisahan—melainkan sampai bertemu lagi.
Sampai saat di mana kami saling berpamitan, papa Kefas datang dengan amarah yang terlihat di wajahnya. Wajahnya memerah, hingga memperlihatkan urat-urat di kepalanya. Kefas ditarik paksa, dan seketika itu papanya langsung menampar Kefas.
Aku terkejut, bingung, takut. Aku harus apa?
Papanya membawa Kefas pulang, dan yang aku tau pasti, setelah itu Kefas tidak akan segan-segan dipukuli, bahkan dikata-katai hal yang tidak pantas oleh papanya.
Sejak kejadian itu, aku berusaha menghindari Kefas. Aku menjauhinya tanpa alasan yang jelas. Aku yang datang, aku juga yang hilang.
Maafkan aku, Kefas.
Flashback end
POV Sean end
Sean berada dalam kamarnya. Menatap langit-langit dengan pikiran yang berpindah-pindah, dan pasti selalu ada nama Kefas di dalamnya.
Sean sangat mencintai Kefas, hari-harinya selama satu setengah bulan dilewati bersama, membuat perasaan tumbuh diantara mereka.
Sean sangat mencintai Kefas, ia teringat percakapan yang membawanya ke ciuman pertama sekaligus terakhir bersama Kefas di hari itu. Percakapan di mana cinta bukan melulu soal kebahagiaan diri, tetapi kebahagiaan orang yang dicintai.
Sean hanya ingin Kefas bahagia, dikelilingi orang yang sayang padanya. Oh jika saja ia tidak memutuskan untuk berlibur ke rumah nenek, ia pasti tidak akan pernah bertemu dengan Kefas, dan Kefas tidak akan pernah mencintainya, dan tidak akan mendapatkan perlakuan kasar dari papanya.
Semua dipikirkan Sean, ia stress bukan karena tugas akhirnya, tetapi karena semua kemungkinan-kemungkinan di pikirannya. Membawa penyakit hati.
Sean membuka ponsel pintarnya, menuliskan nama yang selama ini masih selalu ia ucapkan dalan doa setiap malam. Ia menelepon kekasih hatinya.
“Setelah wisuda, aku ke rumah Uti.”
Hanya satu kalimat yang Sean katakan. Namun di seberang sana, Kefas menjawab dengan berbagai pertanyaan yang saat liburan dulu sering ditanyakan pada dirinya. “Udah makan? Udah senyum belum hari ini? Udah minum air putih?”
Kebiasaan kecil yang selalu Sean rindukan. Namun tidak bisa ia menahan tangisnya setelah mendengar suara Kefas.
“Udah, Kefas”
“Kamu jangan lupa makan juga, jangan lupa minum air putih, dan tolong terus senyum ya.. nurut sama orang tua kamu.”
Panggilan pun terputus, Sean mematikan satu arah.
Saat Sean wisuda, Kefas sempat datang. Bagaimana Kefas tau, ia dapat kabar dari Juan—teman Sean. Kefas rela membolos demi menghadiri acara special Sean. Sean terkejut, ia hanya bisa menangis dalam diam melihat Kefas hadir dalam hari wisudanya.
“Selamat, sayangku…” Ucap Kefas pelan tepat pada telinga Sean. Sean hanya bisa mengangguk dalam pelukan Kefas. Ia terharu, ia sangat senang—tapi juga bercampur sedih.
Pada hari itu juga Kefas sempat singgah ke rumah Sean, meski hanya sebentar. Kefas membawakan hadiah kalung liontin yang entah ia dapatkan dari menabung berapa lama. Orang tua Sean mengerti soal hubungan mereka, dan orang tua Sean tidak masalah akan hal itu. Karena tau anaknya butuh waktu berdua, orang tuanya memberi waktu kepada mereka berdua.
“An, kamu baik-baik aja kan?”
“Iya, baik. Mama papamu, gimana?”
“Mama baik. Papa…”
“Papa masih suka pukul kamu?”
“Enggak, An. Papa gak pukul aku.”
Sean mengangguk, ia tau Kefas berbohong, Kefas itu bodoh soal berbohong. Matanya tidak bisa menutupinya. “Kalo papamu minta sesuatu yang gak kamu pengin? Kamu bakal ngelakuin?”
“Enggak.”
Sean menghela napas, ia melanjutkan “Kalo aku minta sesuatu yang gak kamu pengin? Kamu bakal ngelakuin gak, Kefas?”
Hening sejenak. Tidak ada jawaban dari Kefas, hanya da suara pendingin ruangan yang terus mengeluarkan udara dinginnya. Semakin dingin ditambah keadaan tegang dalam ruangan itu.
“Iya, Sean. Bakal aku lakuin.” Kata Kefas lirih.
“Semua yang kamu minta bakal aku lakuin, meski pada akhirnya aku yang sakit.” Tambahnya dengan suara gemetar.
Sean langsung berhambur ke dalam pelukan Kefas, ia memeluknya erat. Mencurahkan rasa rindu, sakit, dan sayangnya kepada Kefas.
“Maaf, Kefas…”
“Tolong terus bahagia. Kalo gak bisa bahagia karena dirimu sendiri, tolong bahagia karena aku. Tolong bahagia setidaknya untuk aku.”
Sean menangis, memeluk erat kekasih hatinya, yang sangat dicintainya. Begitupun dengan Kefas. Ia mengeratkan pelukan pada cintanya. Pada separuh jiwanya.
“Aku cinta kamu, Sean. Selalu, dan selamanya.”
Hari di mana Sean kembali ke rumah nenek pun tiba. Terbilang cukup lama dari hari saat ia wisuda, karena sungguh sangat berat bagi Sean untuk menghadapi semua secara berturut-turut. Sean telah mendapatkan pekerjaan, begitu pula dengan Kefas yang juga sudah mendapatkan pekerjaan.
Sean datang berkunjung sendirian, ke rumah Kefas. Ia berangkat sendiri tanpa memberitahu orang tuanya dan nenek serta pamannya.
Ia datang untuk mengakhiri segalanya. Atau justru mengawali? Ia tidak tau.
Hari itu hari Sabtu, kebetulan tempat kerja Kefas dan Sean hanya lima hari kerja, sehingga hari Sabtu ada waktu untuk beristirahat. Mamanya memasak di dapur, papanya bekerja dan belum pulang.
Hidangan lezat dan minuman segar sudah tersuguh di meja. Membuat suasana yang harusnya akrab, tapi tidak bisa menyembunyikan ketegangan yang ada.
Sungguh berat sekali Sean memutuskan hal ini. Ia butuh waktu yang sangat lama untuk yakin. Ia tidak ingin gegabah.
“Kefas...”
“Kamu inget obrolan kita waktu itu? Kamu bakal lakuin apa aja yang aku omongin kan?”
Wajah Kefas tegang, tidak ada senyum di mukanya. Kefas tau arah pembicaraan ini.
Kefas hanya mengangguk pasrah.
“Sulit buat aku memutuskan ini, berat juga rasanya.”
“Tolong inget terus permintaanku buat kamu selalu bahagia, kalo gak bisa untuk kamu, setidaknya bahagia untuk aku.”
“Kefas...”
“Aku tau soal perempuan itu. Aku tau soal Chika yang papamu jodohkan. Aku tau semuanya, Kefas. Papamu cerita. Papamu yang bilang. Papamu yang bicara langsung sama aku.”
“Aku tau kok, Tuhan sayang semua umat-Nya. Aku tau Tuhan itu datang ke orang berdosa—kayak kita, bukan ke orang suci. Tapi aku juga tau, kita belum sepenuhnya diterima di sini.”
“Kefas, aku gak pengin kamu terima caci maki dunia. Biar itu yang jadi bagianku. Biar aku aja yang berdosa, kamu jangan. Tugasmu cuma bahagia, Kefas.”
“Tolong bahagia untuk aku.”
“Aku mohon, kamu terima perjodohan itu. Menikahlah dengan perempuan, Kefas.”
“Tolong cintai dia layaknya kamu mencintai aku, lalu segeralah kamu lupakan tentang aku.”
POV Kefas
Mencintainya adalah kebahagiaanku, mencintainya adalah salah satu anugerah terindah yang pernah aku rasakan. Tujuh tahun berlalu. Aku telah menikah dua tahun setelah cintaku mengatakan hal yang begitu pedih untuk kudengar dan kurasakan.
Cintaku menyuruhku menikahi perempuan, demi tidak membuatku jatuh dalam dosa.
Sungguh lucu memang.
Dengan atau tanpa cintaku, aku sudah berdosa. Mengapa harus menikahi perempuan lain—yang tidak kucintai agar supaya aku tidak berdosa?
Menikahi perempuan tidak membuatku bebas dari dosa, kan?
Aku pernah sekali berkata akan selalu melakukan apa yang dikatakan oleh orang yang kucinta. Dan karena omongan itulah aku berada sampai di titik ini.
Menikah bersama perempuan pilihan ayahku. Aku menikah dengannya, hanya demi menuruti perkataan cintaku. Aku bisa melakukan permintaannya yang ini. Tapi tidak dengan mencintai.
Jika disuruh seribu kali pun, aku tetap tidak bisa mencintai perempuan ini. Cintaku hanya satu, Sean.
Jika disuruh sepuluh ribu kali pun, aku tetap tidak bisa melupakan Sean, dialah cintaku satu-satunya.
Aku sayang perempuan pilihan ayah. Tapi aku tidak mencintainya.
Aku tau aku berdosa, tidak apa-apa. Jika di surga tidak ada cintaku, maka aku pun tidak mau ke sana.
Menikahi perempuan pilihan ayah adalah salah satu dari sekian banyak bentuk cinta yang kuberi untuk Sean. Hanya karena Sean saja aku menikah dengan perempuan.
Aku tidak tau bagaimana kabarnya, bagaimana hidupnya sekarang, apakah dia sudah menikah. Aku tidak mencari tau. Tapi di lubuk hatiku yang terdalam, tak akan bisa aku lupa tentangnya, tidak akan.
Aku harap di mana pun cintaku berada, dia bahagia.
Di sini aku bahagia, cintaku. Aku menuruti apa katamu, karena aku mencintaimu. Aku menikahinya, aku juga bahagia untukmu.
Aku harap Tuhan menyatukan kita di kehidupan selanjutnya, cintaku.
POV Kefas end
Keduanya sakit.
Sean tertekan dengan semua tekanan yang diberikan papa Kefas. Tanpa sepengetahuan Kefas, papanya selalu menghubungi dan mengancam Sean. Bahkan pernah sekali, papa Kefas datang secara langsung kepada Sean untuk memperingatkannya agar tidak berhubungan dengan putranya.
Sean sedih, dia sangat mencintai Kefas, ia sudah berandai-andai untuk dapat hidup berdua bersama, sampai maut memisahkan. Namun tak disangka, penghalang datang dari dalam. Bahkan yang terdekat, membuat Sean harus mengubur rapat-rapat harapan semunya.
Kefas sungguh tersakiti. Pengorbanan yang ia lakukan demi orang yang dicintainya sungguh tidak main-main. Ia juga tidak mengabaikan perempuan yang menjadi pasangan hidupnya sekarang. Tidak mudah bagi Kefas untuk membuka hati dan menyayangi perempuan lain yang tidak ia cintai. Tapi Kefas melakukan itu. Ia melakukannya demi orang yang dicintainya.
Di kehidupan selanjutnya, hiduplah dengan takdir yang lebih bersahabat, Kefas Sean.


