Work Text:
Bunyi denting lift bergema memasuki indra pendengaran. Seonghyeon masuk dengan langkah tergesa dengan satu plastik berada di tangan. Ia memencet lantai empat belas lalu berdiri di sudut. Napasnya terengah karena berlari kecil dari tempatnya memarkir kendaraan.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, lift akhirnya tiba di lantai tujuannya. Sebelum pintu lift sempat terbuka, ia bahkan sudah berkali-kali memencet tombol “buka”, seolah setiap detik penantian terasa begitu panjang.
Ia kembali berlari kecil hingga ke pintu kamar paling ujung. Ia merogoh saku kanan celananya mencari sebuah kunci. Gerakannya sungguh terburu-buru hingga kunci yang telah diambilnya sempat terjatuh.
“Ah!”
Ia menarik napas dan mengembuskannya pelan untuk menetralisir rasa panik yang melanda. Setelah pintu terbuka, ia masuk dengan tergesa. Gelap menyambut pandangannya sehingga butuh beberapa detik untuk memasukkan kunci ke lubang pintu. Ia biarkan kuncinya tergantung di sana lalu meletakkan plastik yang daritadi dibawanya ke meja.
Ruang apartemen berbentuk studio itu benar-benar gelap dan sunyi. Hanya terdengar dengungan lembut dari pendingin ruangan yang memenuhi kesunyian. Ia berjalan perlahan menuju meja di samping tempat tidur, lalu menekan sakelar lampu tidur. Di tengah kasur, tampak sesosok lelaki terbaring terlentang dengan peluh membasahi dahinya. Mukanya bersemu merah.
Seonghyeon menempelkan punggung tangannya ke dahi Keonho. Hangat. Jemarinya kemudian membelai pipi Keonho dengan lembut sebelum mengecup pelan dahinya. Setelah itu, ia mengguncang pelan bahu Keonho, berusaha membangunkannya tanpa membuatnya terkejut.
“Keonho!”
Erangan pelan terdengar setelahnya. Keonho membuka kedua matanya perlahan, lalu mengerjap beberapa kali. Pandangannya yang semula kabur sedikit demi sedikit mulai kembali jelas, hingga ia dapat mengenali sosok di hadapannya.
“Seonghyeon, pusing. Dedek pusing.”
Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar. Panggilan “dedek” selalu keluar setiap kali tubuhnya sedang tidak dalam kondisi baik. Rasa khawatir dan gemas muncul bersamaan saat mendengarnya. Keonho sedang menunjukkan sisi paling manja yang hanya ia perlihatkan kepadanya. Ia membelai rambut Keonho yang jatuh menutupi dahinya dengan lembut.
“Dedek bisa duduk sebentar? Dedek belum makan, kan? Aku bawain bubur.”
Keonho menggelengkan kepalanya, lalu meraih lengan Seonghyeon yang tadi membelai rambutnya. Ia memeluk lengan itu erat, seolah enggan kehilangan sentuhan hangat darinya.
“Mau peluk aja.”
“Akunya gak mau. Makan dulu, ya?”
Keonho mengerucutkan bibirnya lalu kembali memejamkan mata. Perlahan, ia melepaskan pelukannya dari lengan Seonghyeon dan menggantinya dengan menggenggam jemari lelaki itu.
Seonghyeon menghela napas pelan. Dengan hati-hati, ia melepaskan tautan jemari mereka. Sentuhan yang menghilang itu membuat Keonho refleks membuka matanya, menatap Seonghyeon dengan raut bingung sekaligus kecewa.
“Mau ke mana?”
Tanpa menjawab, Seonghyeon berjalan menuju meja dan mengeluarkan sebuah kotak dari plastik. Ia mengambil sendok, membuka tutup kotaknya, dan kembali berjalan menuju tempat tidur. Ia duduk di tepinya sambil mengusap dahi Keonho.
“Ayo, duduk sebentar, ya. Dedek harus dipaksa makan biar obatnya masuk.”
Ia menaruh kotak buburnya di kasur, agak jauh dari tubuh Keonho yang berbaring, lalu menyelipkan tangan ke punggung Keonho. Ia membantu, lebih tepatnya memaksa, Keonho untuk duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur. Keonho memejamkan mata saat berusaha menegakkan tubuhnya karena rasa nyeri perlahan menjalar di kepalanya.
“Sedikit aja, gamau banyak-banyak.”
Seonghyeon mengambil kotak buburnya lalu memosisikan dirinya duduk bersisian dengan Keonho. Keonho menyandarkan kepalanya di bahu Seonghyeon lalu menenggelamkan kepala di ceruk lehernya. Ia juga mengusak wajah di bahu Seonghyeon pelan sambil menghirup aroma tubuhnya. Bahu Seonghyeon merasakan hangat dari wajah Keonho yang menempel.
“Tuh, panas banget. Makan dulu ya, dedek sayang.”
Keonho bersusah payah mengangkat satu tangannya lalu meraba wajah Seonghyeon. Setelah dirasa menyentuh pipi, ia mencubitnya dengan perlahan.
“Bawel.”
Seonghyeon mendengus pelan sambil tertawa. Ia mengangkat kepala Keonho hati-hati dari bahu, kembali menyandarkan ke sandaran tempat tidur, lalu menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya.
“Hmm, pahit, gaenak.”
Seonghyeon terkekeh pelan mendengar keluhan itu.
“Iya pahit, kan dedek lagi sakit. Dua sendok lagi aja, mau ya?”
Keonho mengerakkan kepalanya pertanda setuju. Dada Seonghyeon terasa lebih ringan karena Keonho masih ingin melanjutkan makannya. Biasanya, Keonho lebih susah untuk dibujuk makan jika sakit sedang melanda.
“Pinter, ya, dedek.”
“Tapi nanti cium, ya.”
Seonghyeon menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
“Dedek kan lagi sakit.”
“Emang kenapa? Dedek kan mau dicium kakak.”
Seonghyeon menggembungkan pipinya menahan rasa gemas. Kakak katanya. Keonho selalu tahu titik lemahnya.
“Iya, nanti kucium lagi dahinya.”
Mendengar jawaban Seonghyeon, Keonho mencebikkan bibir. Ia kembali menaruh kepalanya di bahu Seonghyeon.
“Udahan makannya.”
Setelahnya, kepala Keonho sedikit bergetar karena tawa yang keluar dari mulut Seonghyeon. Seperti tak mendengar, Seonghyeon kembali menyodorkan sesendok bubur ke mulut Keonho. Keonhopun juga seperti tak benar-benar serius dengan ucapannya beberapa detik lalu, mulutnya terbuka dengan otomatis. Seonghyeon menyunggingkan senyum.
Setelah tambahan tiga suap, Seonghyeon kembali menyandarkan tubuh Keonho lalu meninggalkannya untuk mengambil obat dan segelas air. Begitu Keonho selesai meminum obatnya, Seonghyeon membaringkan tubuh Keonho dengan hati-hati. Saat Seonghyeon ingin beranjak dari duduknya, Keonho menggenggam ujung bajunya.
“Tiduran sini, peluk dedek.”
Seonghyeon memejamkan matanya sembari menggigit bawah bibirnya. Gemes banget, batinnya. Ia melepas tangan Keonho lalu berjalan dengan tergesa menaruh gelas dan obat di meja. Kemudian, ia membaringkan tubuhnya menghadap Keonho. Wajah mereka hanya berhadapan beberapa senti. Embusan napas Keonho yang hangat menerpa wajahnya.
Keonho menyampirkan tangannya ke pinggang Seonghyeon. Lalu, Seonghyeon membelai pipi Keonho lembut dengan ibu jarinya. Ia mendekatkan wajahnya lalu mencium dahi Keonho selama beberapa detik.
“Dahi aja?”
Suara Keonho sangat kecil, tetapi Seonghyeon masih dapat mendengarnya dengan jelas. Ia tersenyum menampilkan giginya.
“Dedek, tidur ya, sekarang.”
Masih dengan mata yang terpejam, Keonho mengerutkan alisnya pertanda tak puas dengan jawaban Seonghyeon. Sedetik kemudian, ia membuka matanya lalu tanpa aba-aba memajukan wajahnya. Kedua bibir mereka bertemu hanya dalam hitungan detik karena Seonghyeon langsung memundurkan wajahnya.
“Keonho!”
“Dedek mau cium kakak.”
Ekspresi kecewa Keonho yang ditunjukkan dengan bibir yang cemberut, tatapan mata yang sayu, ditambah pula dengan panggilan lirih “Kakak” perlahan meluruhkan pertahanan Seonghyeon. Ia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya mengikis jarak di antara mereka.
Saat bibir mereka bertemu, Keonho membalas dengan lembut, jauh lebih pelan daripada biasanya. Di sela momen singkat itu, Seonghyeon sempat merasakan sudut bibir Keonho melengkung membentuk senyum tipis. Kehangatan perlahan menjalar di kedua pipinya, entah karena hangat tubuh Keonho atau karena debar yang memenuhi dada.
“Kalau nanti aku ketularan berarti salah dedek, ya.”
