Work Text:
Mentari kan selalu bersinar terang. Meski di tengah kegelapan mencekam gunung utara sekalipun. Puncak tertinggi gunung yang curam terjal menjulang membelah langit menjadi satu-satunya panorama yang dapat dilihat dari berbagai penjuru. Saat bulan bersinar terang, puncak gunung utara akan bercahaya. Saat mentari bersinar di siang hari, puncak gunung utara akan tetap bercahaya.
Cahaya yang bersinar sepanjang waktu tentu saja datangnya dari matahari yang hidup, bernapas, dan berjalan dengan dua kaki. Matahari yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah ☀️. Matahari yang selalu menyinari 🎵dalam hari-harinya.
Tinggal di istana yang menjadi satu-satunya bangunan yang tegak sempurna di atas puncak gunung utara, adalah sang omega hybrid 🎵. Dengan dua pasang sayap bulunya, 🎵 akan menghabiskan sepanjang harinya berkeliling istana dan memandang-mandang pada dataran di bawahnya dari balkon istana. Ketika malam menjelang, 🎵akan duduk manis menunggu pulangnya sang raja pemilik istana yang menawan hatinya di ruang tidur mereka.
Terkadang 🎵 akan menunggu sang mentari di atas singgasananya, terkadang dia juga akan langsung menunggu kepulangan sang mentari tepat di depan gerbang istana. Ketika ☀️ pulang, dengan sayap hitam gelam berselaput miliknya yang luasnya seluas langit malam, 🎵 akan langsung menyambutnya dengan menghamburkan diri kedalam dekap hangatnya.
Ketika sang mentari memilih menghabiskan siang harinya dengan berleha-leha di salah satu ruangannya yang luas, 🎵 akan datang membawakan senampan buah-buahan segar serta satu dekanter besar berisi anggur merah yang dibuat sendiri untuk menemani hari mereka.
Dengan saling menyuapi masing-masing dengan potongan buah dan menyesap anggur mereka, 🎵 akan bercerita dengan riang tentang bagaimana dia melewati hari itu atau tentang bagaimana 🎵 menemukan hal menarik yang bisa dia lakukan selagi menunggu mentarinya pulang. Terkadang ☀️ akan mendengarkan dengan seksama sembari mengusap pipi 🎵 yang kenyal dan lembut. Terkadang ☀️ akan membungkam mulut yang tak pernah berhenti meracau itu dengan bibirnya sendiri dan membuat 🎵 lemas hingga gemetar. Terkadang ☀️ akan membawa 🎵 naik ke pangkuannya dan membelai punggung telanjangnya hingga 🎵 terbang ke langit ketujuh.
Di suatu waktu, jika situasinya dibalik, terkadang ☀️ akan meracau tentang betapa menjengkelkannya manusia, betapa dia muak harus berurusan dengan manusia-manusia tidak tahu diri yang sering kali menambah jumlah pekerjaannya yang selalu menumpuk dan tak pernah tampak usai. Terkadang 🎵 akan mendengarkan dengan seksama sembari menyisir puncak kepala sang raja iblis dengan jemarinya yang lentik, memijat kepalanya dengan lembut.
Terkadang ☀️ akan berseru murka sembari meneguk anggurnya namun sang malaikat akan meraih gelasnya dan mengecup bibirnya dengan lembut untuk menenangkannya. Terkadang 🎵 tidak perlu melakukan apapun, cukup terbaring dan biarkan sang iblis menanda-nandari setiap inci tubuhnya dengan tanda cinta khusus darinya.
Namun kali ini berbeda. Roman-romannya cukup berbeda untuk kali ini.
“ 🎵? Kamu kenapa? Kok gelisah terus aku perhatiin?” ☀️ bertanya pada suatu siang dimana ☀️ menyadari bahwa 🎵 tidak duduk bercengkrama bersama dengannya seperti biasa.
☀️ menemukan kekasihnya itu sedang bergelung dengan tumpukan pakaian dan jubah miliknya di kamar tidur mereka. Tidak biasanya. Namun begitu mencium aroma manis bercampur melati dan sedap malam yang samar-samar menguar di udara, sang raja iblis pun mengerti maksudnya apa.
Minggu-minggu basah sudah lewat beberapa waktu yang lalu. Sang mentari tentu saja tidak melewatkan waktu khusus itu walau sedetikpun. Dia bahkan sengaja meninggalkan pekerjaannya selama beberapa waktu hanya untuk menghabiskan malam-malam spesial bersama malaikat cantiknya itu. Tangannya bergerak menghitung hari, minggu, dan bulan. Hingga akhirnya sampai pada satu kesimpulan.
“Sayang…” ☀️ perlahan mendekat dan mengusap puncak kepala 🎵 yang menyembul dari balik selimut. Sang malaikat membuka matanya dengan perlahan dan ☀️ melihat genangan bening yang mulai berkumpul di pelupuk bawah matanya. Siap turun dan membanjiri pipinya yang gembul.
“ ☀️… ” lirihnya pelan.
“Perutku sakit…” 🎵 memejamkan matanya dan linangan yang hangat itu turun bergulir mengaliri puncak pipinya.
☀️ segera menyingkap semua kain yang ada dan menarik 🎵 dengan lembut kedalam pelukannya. Dia membawa 🎵 dalam dekapnya dan mengecup seluruh sisi wajahnya yang bisa dijangkau oleh bibirnya. Sembari mengusap pipinya yang basah oleh linangan air mata, sebelah tangannya melingkar manis di pinggang sang malaikat dan mengusap-usapnya dengan lembut.
“Sshh.. maaf ya sayang, aku ga peka. Aku pikir kamu lagi ga mood duduk bareng sama aku. Ternyata lagi sakit perut. Maafin aku ya,” ucapnya lembut dan mengecup bibirnya dengan sayang.
🎵 hanya memberengut sebagai jawaban. Dia membawa tubuhnya menempel semakin erat pada sang raja iblis dan membawa kedua lengannya melingkari bahunya yang lebar. Dengan sang kekasih yang menopang perutnya dengan sebelah lengannya, 🎵sedikit merasa lebih baik. Namun tetap saja rasanya masih tidak nyaman.
“ ☀️, masih sakit…” rengeknya. Dia menelusupkan wajahnya pada ceruk leher sang kekasih.
“Iya… maaf ya. Maafin juga dedeknya… ga ada maksud buat bikin kamu kesakitan kok. Maaf ya sayang.” ☀️ mengusap punggung dan pinggangnya secara bersamaan. Samar-samar 🎵 dapat mencium aroma mawar dan bergamot yang segar menguar di udara. Seketika perasaannya menjadi sedikit lebih baik. Meski masih sedikit terasa sakit dan tak nyaman, namun dengan sang alpha yang berada dekat dengannya memberikan perlindungan dan rasa aman yang dia butuhkan, setidaknya membuatnya merasa lebih baik dari yang sebelumnya.
“Abis ini mau makan apa? Nanti aku turun ke bawah dan carikan buat kamu. Hmm? Sayang mau makan apa?”
🎵 membuka kelopak matanya yang terpejam selang beberapa saat yang lalu. Dia membawa manik hijau emeraldnya naik ke atas untuk berjumpa dengan manik ruby pekat milik kekasihnya itu.
“Apa aja. Yang penting manis.” jawabnya pelan.
“Kamu nanti mau sekalian turun ga? Udah lama kan kamu ga liat-liat dunia manusia di bawah,” ucap ☀️ sambil membelai lembut surai dengan semburat kehijauan milik kekasihnya itu.
“Hmm. boleh deh. Tapi jangan jauh-jauh dari aku ya, nanti aku ketempelan lagi…”
“Ngga kok sayang. Kan kamu lagi hamil, ga mungkin aku tinggalin kamu sendirian. Nanti kalau capek, aku bisa gendong kamu kok.”
“Janji ya?”
“Iya sayang. 🎵ku yang kusayangi.” ☀️ mengecup pelipis 🎵 dengan lembut dan membawa tubuhnya semakin erat ke dalam rengkuhannya.
🎵 mengembangkan kedua pasang sayapnya dan membungkus tubuhnya dan ☀️ dalam balutan kehangatan yang semakin menenangkan raganya yang gelisah menahan sakit sedari tadi. Dengan perpaduan kedua feromon yang beradu di udara, sang malaikat perlahan menghembuskan napas lega.
“ ☀️?”
“Hmm?”
“...kamu… pernah kepikiran ga anak kita nanti kayak apa?”
☀️ menatap puncak kepala 🎵 yang tersandar mesra di ceruk lehernya. Mata merah delimanya berdenyar sesaat dan seulas senyum tipis yang samar menggantung di sudut bibirnya.
“Ga usah terlalu diambil pusing sayang. Nanti juga pasti mirip kok sama kamu...”
Sayap hitam legam terkembang luas seluas langit di kegelapan malam. Menutup cahaya yang mencoba menelusup masuk menyinari istana di puncak gunung itu. Sang mentari tersenyum lebar setelah berhasil menangkap dan mengurung bulannya dalam kungkungannya.
Bulan tak perlu tahu bahwa cahaya yang selama ini terlihat bersinar terang hanyalah berasal dari satu titik hitam yang membutakan semua yang pernah melayangkan pandang kepadanya.
