Work Text:
“Mas Juna….”
Dia yang sedang menyesap kopinya langsung memutar tubuhnya ke belakang. Dilihat kekasihnya itu yang baru bangun tidur datang menghampirinya di dapur. Matanya masih tampak setengah mengantuk. Kaos oversized warna biru gelap miliknya yang dikenakan oleh pemuda itu tampak menggantung di sisi kiri bahunya. Memperlihatkan kulit putih bersih miliknya secara cuma-cuma. Arjuna menaruh cangkir kopinya di atas pantry dan memutar tubuh sepenuhnya menghadap kekasihnya itu.
“Udah bangun, sayang?” tangannya terbuka lebar menyambutnya. Yudistira mengucek matanya sesaat dan bergerak mendekat. Kedua lengannya terangkat dan merangkul pria yang lebih tua dua tahun darinya itu. Arjuna merengkuh pemuda itu dalam dekapannya dan mengecup pelipisnya dengan sayang. Sebelah tangannya dibawa mengusap-usap punggung kecilnya. “Gimana tidurnya semalam? Nyenyak?” suara berat dan dalam dari pria itu sukses membangunkan jiwanya yang masih tersangkut di alam mimpi.
Sambil mendengkur pelan, mata beratnya perlahan terbuka. Manik hijaunya tampak tak fokus. Setengah mengerjap-ngerjap, dia hanya mendengkur pelan sebagai jawaban. Matanya kembali terpejam dan dengkuran halus terdengar darinya. Arjuna tersenyum sambil kembali mengusap-ngusap punggungnya. Tangan mungil pemuda itu perlahan terangkat dan bertengger di lehernya. Dia menelusupkan wajahnya di ceruk leher lelakinya itu. Mencari tempat yang hangat dan nyaman, aman dalam dekapannya.
“Streamnya semalam rame, ya?” ujarnya sambil mengangkat pinggang pemuda itu dan membawanya duduk di atas pantry. Yudistira hanya berdeham pelan. Saat Arjuna melepas pelukannya, pemuda itu membuka matanya dan melirik ke arahnya. “Semalam rame,” jawabnya pelan kemudian menguap lebar.
“Masih ngantuk ya? Mau dibikinin teh?” Arjuna bergerak menyiapkan secangkir teh hangat untuknya. Pemuda itu hanya mengangguk pelan. Dalam diam memperhatikan pria itu bergerak menyiapkan secangkir teh hangat untuknya. “Udah kangen berat ya? Mereka?”
Yudistira hanya terkekeh pelan. Bahunya sedikit berguncang. Tawa ringannya terdengar bergema di dapur apartemen mereka. Mengisi kekosongan pagi hari itu dengan hangat suaranya. Tak lama kemudian wangi melati yang harum dan segar segera menguar di udara.
“Gula atau madu?” tanya Arjuna.
“Hmm… madu deh,” jawabnya.
Yudistira menerima secangkir teh yang terulur kepadanya. Ujung jemarinya yang dingin karena suhu dari pendingin ruangan seketika terbalut hangat dari cangkir tersebut. Dihirupnya perlahan aroma dari teh tersebut kemudian bibirnya menyesap pelan pada cairan coklat kemerahan itu. Hangat dengan manis yang pas. Melatinya menjalar dari ujung lidah hingga ke tenggorokannya.
“Kamu kapan nongol lagi?” ucapnya pelan. “Semalam cuma muncul bentar doang buat repost tweet aku.” Arjuna menaruh kembali cangkir kopi yang baru saja dia minum. Sambil tersenyum, dia berkata “Nanti deh.” banget happynya.” Arjuna mengapit pemuda itu di antara kedua tangannya. Manik abu gelapnya beranjak naik mencari manik yang sudah sejak dulu dia cintai itu. Tersenyum, tangannya terangkat untuk menyampirkan poni pemuda itu ke belakang telinga.
“Iya lah. Kan udah 10 hari ga ketemu.”
Pemuda berparas ayu itu balas menatap ke arahnya. Cangkir tehnya sudah di taruh ke samping. Kedua tangannya terangkat untuk merangkul bahu bidang pria itu. Keduanya saling bertatapan lama, mencari-cari, menanda-nandai, titik-titik yang telah hafal diluar kepala. Senyum lebar perlahan terukir di wajahnya yang ayu. Senyuman yang menulari pria di hadapannya hingga keduanya saling tertawa, larut dalam rasa kecintaan masing-masing yang menguar di udara.
“Minggu ini masih jadwal suka-suka.” jemarinya mengelus pipi bulat pemuda itu.
“Minggu depan udah balik kayak biasa lagi jadwalnya.” kemudian mencubit pipi tembamnya dengan gemas. Yudistira hanya terkekeh pelan.
“Ya gapapa toh. Kan kita berdua masih disini.” ucapnya. Arjuna menatapnya dengan sayang. “Bener juga ya.” balasnya.
Dia membawa wajahnya mendekat dan melayangkan kecupan di keningnya. Yudistira membawa matanya terpejam. Menikmati momen sekian detik saat pria itu menunjukkan kasih sayangnya kepadanya. Kemudian dia membalasnya dengan mengecup pipinya.
“Makasih ya, udah disini. Dan masih disini,” bisik Arjuna. “Aku sayang kamu.”
Yudistira membawa pria itu dalam dekapannya. Tangannya menyelip di antara sela-sela rambutnya, mengusap-usap kepalanya dengan sayang. Arjuna membalas dengan merangkulkan kedua lengannya di pinggang, memeluknya dengan hangat.
“Aku juga sayang Juna.” lirihnya. Rangkulan mereka semakin dekat dan dalam. Tak mau dipisah. Tak bisa dipisah. 10 tahun bersama dan masih banyak tahun-tahun kedepan yang akan mereka lewati bersama. Dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit. Bersama berdua.
Yudistira menghela napas dengan tenang. Rasanya sangat nyaman berada dalam dekapan hangat seorang Arjuna. Tersenyum, dia pun membawa wajahnya kembali ke tempat yang seharusnya. Dalam ceruk leher lelakinya yang beraroma lembut matahari pagi itu. Sunyi senyap yang mengisi diantara hembusan napas keduanya, membuat matanya kembali terasa berat. Mungkin tidak ada salahnya jika dia kembali memejamkan mata sejenak dan terbuai kembali ke alam mimpi. Selagi masih pria itu yang menemani di sisinya.
☀️🎵
