Actions

Work Header

Perkara kancut, jadi ribut

Summary:

Berawal dari tebak-tebakan motif daleman punya Xinyu dijadiin bahan taruhan uang jajan dua ribu, yang ga lewat dari ketertarikan seorang murid pindahan Kaede dan berujung bikin salah paham.

Notes:

bukan Sunda asli yang nulisnya. Dibercandain aja.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Seluruh anak sekolah di muka bumi kalau ditanya mata pelajaran favoritnya apa, pasti jawabannya: jamkos. Ga heran kalau kognisi manusia makin ambles dari zaman ke zaman. Ditanya subjek, dijawab anomali. Kalo kata orang Sunda mah, batur ngaler maneh ngidul.

Meskipun guru lenyap kelas mustahil senyap. Siang itu kelas mereka dikasih lengang karena ada acara rapat jajaran guru. Kata Bu Yooyeon sih, dialihkan ke belajar mandiri dulu, tapi sementang ga ada yang mengawasi pada seenaknya sendiri.

Ga beneran sendiri juga, pojok depan rame banget malah. Menggerombol gadis-gadis di satu bangku tempatnya Xinyu sama Sohyun. Jadi sudut paling berisik saat murid lainnya betah tiduran, gambar-gambar, sekedar gibah, atau yang main game di belakang.

Sedang protagonis kita, Yamada Kaede—di baris meja tengah—sambil nontonin anime duduk bareng Dahyun yang khusyuk nyeruputin mie instan yang bikin bibir dower.

Matanya mungkin melototin layar, terlepas dari kuping kedutan menyimak pembicaraan nyeleneh orang-orang di sebelah.

"Sumpah gue liat. Tadi ... anjir."

Keprok tangan Yubin mencuri perhatian. Tawanya lolos lebih dulu daripada cerita yang menggantung, disela kilas balik menggelitik yang menghibur ingatan. Yang kebelet pengen kebagian ketawa juga lama-lama makin hilang sabar.

"Liat naon? jangan ketawa mulu, atuh!" geram Hyerin. Habis badan Yubin diguncangnya supaya cepat-cepat melanjutkan kata.

"Di toilet tadi, kancutnya Xinyu hello kitty!" Yubin menuding rok abu-abu yang dipake si pemilik nama.

"Lah, kok gue?!" Paras Xinyu langsung asem. Cemberut.

Seorang Sohyun yang biasanya pas hujan, badai, angin ribut menerpa masih bisa khidmat baca buku bahkan ikut cekikikan. Alamat bahunya kena tepak.

"Ketawa kamu," desis Xinyu.

Sohyun menggeleng, tapi jelas cengirannya ga tertahankan.

"Engga! ini loh bukunya yang lucu."

"Kocak! dikiranya aku ga liat kamu lagi baca tenses dari tadi!"

Lengan Xinyu bersedekap. Berpaling muka. Ngambek parah. Dibujuk sama pawangnya lembut-lembut sambil diusapin rambut panjang itu.

Bikin Chaeyeon yang merengut, merhatiin romansa picisan tersebut. Seoyeon bergidik ngeri. Lee Jiwoo istighfar tiga puluh tiga kali.

"Dah! gue bilang apa. Setor lo pada dua rebu!" kata Jiwoo. Tangannya terulur, mengemis hasil menang dari masing-masing yang ikut taruhan.

Pas narik punya Chaeyeon agak susah. Jarinya kuat banget jepitin lembar dua ribu lecek bagai nahan harga diri, tapi sama si jangkung dibetot terus sampai hampir robek.

"Sopan siah pada ngomongin kancut aing, anj—"

Seoyeon menyahut, sambil nunjuk pelaku. "Tuh, Nien ceunah lihat punya maneh cinnamonroll."

"Biadab lo Nien!" Xinyu naik pitam. Mengepalkan tinju.

"Masih mending aing mah cinnamonroll. Si Seoyeon ngotot gambar Toy Story."

Bukannya merinding dipamerin bogem, Nien mati-matian belain kesalahan sendiri. Ujungnya, kerah seragam cewek tersebut kena cengkram Xinyu, dituntut penjelasan komplit sama permintaan maaf karena udah nyebarin fitnah sampai dijadiin ajang taruhan sekelas.

Di lain sisi, Kaede berkerut kening. Sebagai anak mutasi provinsi sebelah yang tinggal di lingkungan baru, bahasa pastinya jadi kendala utama dalam beradaptasi. Makin pening ekstra, kadang kawanannya ini suka ngomong pake bahasa gado-gado.

Kaede senggol pinggangnya Dahyun. "Kancut tuh apa?"

Terbatuk-batuk yang lagi makan. Lagi nyeruputin mie enak-enak, kaget dikit langsung kesedak. Ditepuk-tepukin sendiri dadanya yang eneg itu.

"Hah?" Mukanya cengo. "Ede! denger dari mana?"

Dagu Kaede maju menuju sekumpulan yang masih mempeributkan motif kancutnya Xinyu.

Waduh. Habis nyedot seteguk es teh Dahyun mematut posisi, punggungnya tegap. Kelihatan serius banget seketika, seolah-olah yang mau disampaikannya merupakan rahasia negara.

Dengan rasa canggung, ga enak, ga nyaman, ga sopan, ga tega mencemari otak mungil teman sebangkunya; Dahyun berusaha memperhalus penjelasan.

"Jadi, gini Ede." Gestur tangannya meyakinkan.

"Kancut itu bahasa gaul. Kek slangnya ikan cucut gitu."

Keade ber-Oh ria. Mengangguk. "Terus hubungannya sama hello kitty begitu apa?"

Seterusnya sel-sel dalam otak Dahyun berhenti bekerja. Ide mampet. Isi kepalanya ruwet kaya mie yang masih sisa banyak di cup. Keliatan melongo, tapi perlahan badannya muter supaya ga berhadapan lagi sama tatapan yang menuntut jawab.

...

Sepulang sekolah menjelang makan malam. Sebagai anak yang berbakti, baik hati dan tidak sombong; manut perintah Bunda, Kaede meluncur naik sepeda ke pasar buat beli pesanan asam lemak omega-3 alias ikan lawd.

Ngerem depan stan paling dekat, yang sudah terverifikasi warga setempat akan kualitas dan kesegaran produknya. Punya adek kelas, namanya Jeong Hayeon.

"Eh, teh Ede!" sapa Hayeon. Nurunin box gabus isi barang dagangan, diambil dari belakang. Chaewon yang karib banget ngebuntutin.

"Halo, kak Ede." Si bondol mungil melambai tangan. Dibalasin senyuman tipis nan menawan sama gadis yang ngos-ngosan.

"Hayeon, mau beli ikan," kata pemilik marga Yamada. Matanya jelalatan terhadap deretan ikan yang menurut dia keliatan sama semua.

"Iyalah. Datang sini mah belinya ikan, masa mie ayam," canda Hayeon. Diketawain garing sama calon pembelinya.

"Mau ikan apa emangnya, teh?"

Sialnya, Kaede lupa yang diomongin Bunda saking kebelet nyampe doang. Ponsel ga bawa. Pinjem ke yang lain juga ga bakalan guna, soalnya dia ga pernah inget nomor wassap orang rumah. Balik lagi buat nanyain? Ah, buang-buang tenaga. Random aja yang lewat kepala.

"Kancut aja kayaknya," sebut Kaede. Bikin dua bocah itu melongo.

"Hah? kancut?"

"Iyaaa, kancut, masa gak tau."

Tangan Hayeon melambai, memaklumi cara akrabnya orang pindahan. Disenyum aja dulu, lah.

"Ah, si teteh mah heureuy. Bisa aja bercandanya."

Berdecak lidah. Tangannya menggaris bawahi wajah yang menegas. "Tampangku keliatan kek orang bercanda?"

Para adik kelas bersitatap, saling lempar tanya dalam diam. Bahu Chaewon mengendik dipelototi sorot bingung pandangan sohibnya.

"Kamu jualan ikan, tapi gak tau kancut." Kepalanya menggeleng ironis.

"Iya, kancut mah siapa yang ga tau. Cuman ... ngapain nyari ke sini," kata Hayeon. Ngasih paham.

"Loh, kan itu ikan!"

"Bukan, teteh!"

"Terus apa dong? Bukannya ikan cucut."

"Ikan cucut dari mana?!"

"Bahasa gaulnya ikan cucut di sini kan kancut!"

Satu dunia serasa berhenti begitu aja. Hayeon menganga, andaikata ga langsung mingkem lagi bisa aja dimasukin lalat yang lewat.

Di pojok gerai, Chaewon megangin perut kaya orang mules. Mukanya berkerut gara-gara ketawa senyap. Terbahak-bahak, tapi ga bersuara adalah tanda kalau asbun mereka udah sejatinya menempati definisi puncak komedi.

"Anyink, oon banget," gumam Chaewon.

"KATA SIAPA?!" sergah Hayeon.

"Dahyun!"

"Ih, teteh hoyong wae dikibulin."

Bagai tersambar petir di siang bolong. Sadar akan betapa nyerempet tololnya diri sendiri, giliran Kaede yang menganga. Kehilangan kata-kata sama akal sehatnya.

Dari seberang seorang akang dari toko depan melipir sumber keributan yang paling mencolok di pasar kala itu.

"Neng, kalo mau beli kancut mah di saya aja. Dua puluh rebu dapet tiga."

Notes:

SSS stand for SocialSonyoSundanese