Work Text:
[☽]
Kei mengerti Sang Dewi Bulan. Mungkin ialah Sang Pemburu itu sendiri, sebab bila ia harus menembak dada Rion dengan panah, Kei akan menjadikannya satu dengan langit, mengekalkannya dalam konstelasi, sehingga mereka dapat bertemu di setiap rotasi.
Tidak ada anak panah di tangan Kei, hanya mikser adonan. Pun Rion tidak melebur menjadi gugusan bintang, meski wajahnya sama berserinya, bersandar pada meja dapur layaknya rumah ini miliknya. Jika kau tanyakan kepada Kei bagaimana mereka sampai di sini, ia hanya akan termangu, entah, aku juga tidak tahu. Pada satu momen, Kei sedang melahap makan siangnya bersama Gaku di kantin sekolah; momen berikutnya, Rion sudah menerobos memasuki bidang pandangnya, menuntutnya untuk membuat lagi strawberry shortcake yang ia cicipi dari kotak bekal Kei kemarin. Gue mau nontonin lu bikin, katanya. Nanti gue beliin bahannya deh, janjinya, dan kala Kei menatap mata keemasannya, ia tahu pasti bahwa bila ia menolak, perempuan ini akan tetap mendatangkan diri ke rumahnya. Maka, sepulangnya dari sekolah, ia tunggu deru motor familiar itu yang bergemuruh satu jam kemudian. Kei menyibak tirai jendela rumahnya serentak dengan Rion melepaskan helm dari kepalanya, membiarkan rambut biru langitnya berkibar. Ia menoleh, melayangkan tatapannya pada Kei seperti tahu bahwa ia telah dinantikan, dan melambaikan satu tangan seraya mengambil kantong belanja dari motornya dengan tangan yang lain. Tersenyum. Barangkali ia memang tahu.
Dan barangkali Kei sudah kerasukan ketika ia membukakan pintu untuknya. Sejak kapan Rion boleh mendikte segala perbuatan Kei?
Ayah angkatnya, Asaki, tidak akan memperbolehkan teman Kei datang ke rumahnya. Tetapi malam ini ia akan pulang lebih larut dari biasanya. Dan Kei suka membuat kue, meski layaknya kegemarannya yang lain, frekuensinya dibatasi dengan dalih agar Kei bisa lebih fokus belajar. Kemarin sudah, hari ini seharusnya tidak lagi; tetapi Kei ingin melakukannya, karena ia suka, bukan hanya untuk Rion tetapi juga untuk dirinya sendiri. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya, namun kilatan mata Rion yang menunjukkan rasa semangat tinggi berhasil mengalihkan perhatiannya.
Maka di sinilah mereka: Rion yang berceloteh tentang segalanya, sesekali mencomot adonan Kei dengan satu jari dan menjilatnya, sesekali bertanya bahan ini untuk apa, kenapa mengaduk ini harus seperti itu; dan Kei, yang mengalami dilema berat antara memperhatikan adonannya dan memperhatikan Rion. Dalam keadaan lain, ia akan dengan mudah memilih opsi kedua, tetapi kue ini juga untuk Rion. Usahanya keras untuk menenangkan deru jantungnya setiap Rion mendekat, sesekali meletakkan dagunya di pundak Kei, mencermati setiap langkahnya dalam pembuatan kue. Surai birunya menyapu pipi Kei, lembut dan sedikit berbau asap rokok. Kei ingin menghirupnya sampai ia sesak napas.
“Kenapa kamu baru mintanya hari ini?” tanyanya, demi mengusir hasrat aneh itu dari pikirannya.
“Hah?”
“Kenapa kamu baru minta bikinin kuenya hari ini? Padahal kamu udah nyoba dari kemarin.”
“Oh. Em… Nggak tahu. Baru kepikiran aja hari ini.”
Jawaban itu membuat Kei tersenyum kecil. Sudah kuduga.
“Emang kenapa? Lo pengen banget, ya, bikinin kue buat gue?” goda Rion sambil memutar badannya, menghadapkan wajahnya tepat di depan Kei.
Wajah Kei menghangat. Tuhan, tolong. “Rion, ini rambut kamu nanti kena adonannya,” ucapnya sambil mengibas rambut Rion yang hampir menyentuh mangkuk adonan.
Rion hanya tertawa, mengembalikan dirinya ke posisi semula.
Kei melanjutkan mengaduk adonan dengan gerakan terlatih. Ada Rion atau tidak, Kei selalu senang membuat kue. Kegiatan tersebut menenangkan, dan ia menyukai sistematika di balik pembuatannya, fokus yang diperlukan agar segala proses berlangsung dengan tepat. Kelebihan bahan beberapa gram saja bisa mengubah drastis hasil akhir, dan pikirnya seperti itulah kehidupan — hal-hal kecil dapat mengubah jalannya suatu peristiwa dalam skala besar.
Kehadiran Rion membuat aktivitas itu semakin menyenangkan. Layaknya adonan yang berkembang menjadi kue, hubungan mereka terasa berbeda semenjak sore itu, ketika Rion mengecup pipinya dengan lembut dan cepat, meski Kei tidak bisa mengutarakan secara pasti di mana letak perubahannya. Pada malam setelah kejadian itu, Kei tidak bisa tidur — pipinya berdenyut dengan sisa-sisa sentuhan bibir Rion dan otaknya tidak berhenti berdengung, Maksudnya apa? Maksudnya apa? Di satu sisi ia merasa hatinya berbunga-bunga, berayun lembut seperti ombak lautan sewarna rambut Rion; di sisi lain ia merasa bersalah, seperti ia telah korupsi, memanfaatkan Rion, dan mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.
Keesokan harinya, surai biru dan mata keemasan itu tidak sekalipun dijumpai Kei. Rasa bersalahnya semakin membelendung. Hampir seratus persen ia percaya bahwa Rion sudah membencinya dan tidak ingin lagi menjadi temannya. Namun, pada hari setelahnya Rion telah kembali seperti semula, tersenyum riang selagi ia memasuki ruang kelas XII IPS-1, mengajak Kei untuk makan siang bersama. Maka Kei membiarkan dirinya hanyut dibawa arus perempuan itu, bertingkah seperti tidak ada perubahan dalam hubungan mereka, meskipun ia menyadari beberapa hal yang berbeda: tatapan mata Rion lebih lekat, lebih banyak emosi yang Kei tidak terlalu mengerti; sentuhannya sama lekatnya, lebih lama seakan segan untuk berpindah. Ia semakin gemar bermain-main dengan rambut Kei, seperti sengaja ingin membuat jantung Kei meloncat keluar dari dadanya. Kei juga tahu perilakunya sendiri terhadap Rion telah berubah; bicaranya lebih lembut, pandangannya lebih penuh harap. Kei sungguh bingung dengan arti dari perkembangan ini, namun ia sama sekali tidak menolaknya. Hal itu membuatnya merasa egois.
Selagi menunggu kue memanggang di oven, Rion duduk di sofa ruang tamu rumah Kei yang mewah, dengan kursi beludru dan berbagai lukisan di dinding serta ornamen pada furnitur. Kei ikut duduk di sampingnya. Rion mengeluarkan sebuah buku tulis dari tasnya, membukanya dan menyodorkannya kepada Kei.
“Bantuin, dong, PR gue. Bisa gak?”
Kei mengarahkan pandangannya ke buku tersebut dan mengernyit. “Rion, ini kan fisika.”
Tawa Rion terdengar menggelegar. “Ini kimia, anjir! Lo gak bisa bedain?”
“Ya, aku kan anak IPS…”
Rion masih tergelak, kini menepukkan tangannya pada pundak Kei. Sekali lagi, sentuhan itu terasa terlalu berlama-lama, seperti tidak ingin lepas, dan sekali lagi Kei bingung harus bertingkah seperti apa. Namun, ucapan Rion setelahnya berhasil mengalihkan pikirannya. “Gue mau lihat kamar lu, dong.”
“Lah, ini PR-nya?”
“Ntar aja deh. Kan lo nggak bisa bantu juga.”
“Ya, kalau itu kan kamu udah tahu dari awal…”
“Udah, ayo.” Rion menggenggam telapak tangannya, menariknya untuk berdiri dan berjalan menuju kamar tidur Kei.
“Kamu mau lihat apa, sih? Kan udah pernah,” ujar Kei.
“Ya, kan itu ngintip-ngintip doang. Gue kan gak pernah lama-lama kalo kesini, gara-gara bapak lu itu,” balas Rion sambil membuka pintu kamar Kei.
“Gak ada yang menarik…”
Memang tidak ada yang menarik. Kamar itu bersih dan rapi; kasur dengan seprai putih, meja belajar dengan komputer di atasnya, rak dan lemari. Semuanya putih tanpa hiasan. Sumber warna di kamar itu hanyalah buku-buku yang bertumpuk di rak, yang isinya kebanyakan buku pengetahuan dan persiapan ujian, serta beberapa buah novel. Kei memperhatikan Rion yang sedang memperhatikan pemandangan di depannya. Mata emasnya menyapu isi kamar Kei, lalu kembali tertawa.
“Of course isi kamar lu kayak gini.” Ia masuk dan menjelajahi lebih dalam. Kei mengekor.
“Maaf…”
“Lah, kenapa minta maaf, njir?”
”Kalau mengecewakan,” balas Kei pelan.
“Kan tadi gue udah bilang, ini sesuai ekspektasi. Apanya yang mengecewa — ini apa, Kei?” tanya Rion sembari menunjuk ke sebuah laci kecil di bawah mejanya. “Boleh buka, nggak?”
Apa sih yang nggak boleh buat kamu, Rion? “Boleh.”
Rion menunduk dan menarik gagang laci tersebut. Isinya tidak lain adalah novel-novel lagi, beserta beberapa komik.
“Itu… Aku simpan di situ supaya nggak ketahuan Bapak,” Kei mengakui.
“Hmm…” gumam Rion sambil terus mengobrak-abrik isi laci Kei. Selain buku dan komik, ada pula beberapa buku tulis kecil. Kei merasakan panik menyelimuti tubuhnya, dan dengan tangkas ia menahan tangan Rion yang hendak mengambil salah satu buku tulis itu.
“Yang ini jangan dibuka, ya,” ucap Kei pelan, tanpa berani menatap wajah Rion.
“Oh, oke. Sorry, sorry.” Ketika Kei mengangkat pandangannya, ia mendapati Rion sedang tersenyum kecil. “Ini diary lo, ya?”
“Ya… Semacam itu.” Bagaimana mungkin Kei dapat menyatakan yang sebenarnya, bahwa buku-buku tersebut berisi kumpulan puisi karyanya, terutama karena banyak dari tulisan itu diperuntukkan bagi Rion? Mau jadi apa muka Kei kalau Rion tahu?
Rion bergumam lagi, tangannya bergerak merapikan buku-buku yang ia keluarkan ke letak semula. Ia kembali berdiri, matanya terarah ke komputer Kei. “Nonton sesuatu, yuk?”
Kei sudah hafal betul tabiat perempuan ini untuk berganti fokus secepat kilat, maka ajakannya tidak membuatnya kaget. “Boleh. Mau nonton apa?”
“Apa, ya? Yang lo suka aja, Kei. Kartun-kartun lu itu juga boleh.”
Ya, Kei senang menonton kartun, terutama yang simpel dan pendek seperti kisah karakter-karakter Sanrio. Kesederhanaan cerita dan keceriaan para karakter membuatnya merasa tenang, memberikannya rehat sejenak dari karut-marut dunia nyata. Ia menyalakan komputernya dan mulai menayangkan satu episode secara acak. Mengikuti Rion, ia duduk di kasurnya, menghadap ke arah komputer.
Tidak butuh waktu lama bagi Rion untuk beralih perhatian. Kini ia telah bangkit dan mulai melihat-lihat meja rias Kei. Ia mengambil satu buah karet rambut serta beberapa jepitan, lalu kembali duduk di kasur. “Gue kepangin rambut lu, ya.”
“Eh… Oke.” Suara jantung Kei mulai berderu di telinganya, melampaui suara kartun yang berbunyi dari pengeras suara komputer. Lagi? Apakah Rion sedang bermain-main dengan perasaannya dengan sengaja?
Jemari Rion dengan lihai membelah helai-helai rambut panjang Kei menjadi tiga bagian. Gerakannya begitu lembut dan hati-hati, bertolak belakang dengan perilaku Rion pada umumnya. Mereka sama-sama terdiam; Rion fokus menautkan bagian-bagian rambut Kei, Kei dengan isi kepala dan hati yang berantakan. Hembusan napas Rion dirasakannya di belakang lehernya dan wangi parfumnya yang akuatik mengisi hidungnya, membuatnya merasa hangat dan dingin di saat yang bersamaan. Kei ingin jujur, ingin menumpahkan segala yang ia tahan di benaknya pada Rion; rasanya ia ingin muntah.
Yang keluar dari mulutnya adalah: “Nanti… Kapan-kapan aku tunjukin.”
“Hah?”
“Buku-buku tadi, yang kamu nggak boleh buka. Itu isinya tulisan-tulisan aku. Kebanyakan puisi,” jelasnya.
“Oh?” tanya Rion, bersemangat. “Bener?”
“Iya.”
“Yey! Pasti bagus, gue yakin.” Rion melanjutkan menata rambut Kei.
“… Nggak juga.”
Rion menepuk pundaknya pelan. “Ck, lu ah! Kalau dipuji selalu begitu. Sekali-kali bilang iya, gitu. Atau makasih. Jangan rendah diri mulu.”
Kei terdiam. Emosinya campur aduk; rasa bersalah itu mulai muncul lagi, namun seperti tertahan oleh perasaan lain, perasaan yang membuncah dari hatinya ke seluruh badannya, hangat dan nyaman. Hanya Rion yang bisa membuatnya merasa seperti ini.
Belum sempat Kei menjawab, Rion melanjutkan, “Lu inget nggak, pertama kali kita kenalan?”
Tentu saja Kei ingat. Rion sedang duduk di trotoar dekat sekolah, berpeluh dan terengah-engah. Habis berantem, katanya, setelah mereka mulai mengobrol. Kei telah menawarkannya air minum.
“Gue orang random, lu bisa aja langsung jalan ngelewatin gue. Tapi lu malah nyamperin gue, nanyain gue baik-baik aja apa nggak. Nawarin air. Orang lain kayaknya nggak bakal begitu. Lu tuh orang baik, Kei.”
Kei terpaku. Kata-kata Rion memberinya sudut pandang baru mengenai hubungan mereka; selama ini, Kei selalu merasa Rion yang menemukannya, menyelamatkannya dari kegelapan. Memang benar bahwa Rion yang mengajak Kei berkawan, namun kenyataannya Kei-lah yang terlebih dahulu menemukan Rion. Kei tidak pernah menganggap kisah tersebut seperti itu sebelumnya.
Ia terdiam beberapa saat, senyum halus bertengger di bibirnya. Lalu: “Iya, makasih, Rion.”
Rion tergelak. “Nah, gitu dong!”
Mereka kembali tenggelam dalam keheningan, hanya suara komputer yang mengisi ruang. Tidak canggung, tapi nyaman. Mereka sudah terbiasa menghabiskan waktu tanpa banyak bicara — ketika sedang belajar bersama di perpustakaan, atau duduk-duduk di kedai dekat sekolah, Kei membaca buku dan Rion menggambar atau bermain game. Bersama Rion, Kei tidak merasa ia perlu memasang topeng; ia bisa menjadi dirinya sendiri. Baik-buruknya, segala sisi kepribadiannya, sudah ditampilkan di depan Rion — dan Rion masih duduk di kursi penonton, tidak pergi, tidak menganggapnya buruk.
Sudah selesai Rion mengepang rambut Kei. Namun, tangan Rion masih lekat di surainya, mengayun-ayunkan kepangan itu sambil menggumamkan nada suatu lagu. “Coba lihat sini.”
Kei membalikkan tubuhnya agar menghadap Rion. Rion menjulurkan tangannya, mengambil helai-helai tipis yang membingkai wajah Kei dan menjepitnya. “Cantik,” katanya, dengan senyuman miring.
Sekuat tenaga Kei mencoba menahan wajahnya agar tidak memerah; percuma, kulitnya terlalu pucat, terlalu mudah mengekspos emosinya. Rion terkekeh melihatnya.
Tanpa aba-aba Rion membaringkan tubuhnya di kasur, meletakkan kepalanya di paha Kei. “Gue numpang tidur bentar ya, ngantuk.” Tangannya terulur, meraih milik Kei dan mengelusnya lembut dengan gerakan memutar, sebelum akhirnya melamban dan berhenti ketika ia terlelap.
Sepanjang itu dan sampai lama setelahnya, Kei hanya bisa membeku, menatap wajah perempuan berambut biru itu, matanya yang terpejam dan ekspresinya yang sarat dengan kedamaian. Napasnya teratur, lembut. Kei seperti terhipnotis, tidak mampu mengalihkan perhatiannya. Apakah seperti ini perlakuan sesama teman? Kei tidak pernah punya banyak teman, jadi ia tidak tahu. Apakah ini normal? Ataukah melambangkan sesuatu yang lain dari hubungan mereka?
Kata-kata Rion masih terngiang di telinganya. Lu tuh orang baik, begitu dakwanya. Pun kalimat yang diutarakannya pada Asaki dua tahun lalu berkumandang di benaknya: Kei juga manusia. Rion selalu memanusiakannya, membiarkannya — bukan — mendukungnya menjadi diri sendiri, bukan sebuah objek tuntutan atau pion dalam agenda orang lain. Maka, detik ini ia bisa mengakui perasaannya, suatu hal yang begitu manusiawi: cinta. Aku cinta kamu, Rion.
Kei mengusap pipi Rion perlahan. Ingin sekali ia ucapkan kata-kata itu padanya. Sembari mengamati setiap inci wajah Rion, mengelus rambutnya yang berombak, ia membulatkan tekad untuk jujur padanya. Tidak mengapa bila ia belum sempurna, tidak masalah jika Rion tidak merasakan yang sama — Rion sudah melihat sisi terburuk Kei dan tetap berada di sampingnya, ia terlampau baik hati untuk membenci Kei bila ia tahu kebenaran ini. Biarlah Kei menjadi egois untuk sekali ini saja.
Mendadak ia teringat kue yang sudah terlalu lama berada di dalam oven. Perlahan ia angkat kepala Rion, menaruh bantal di bawahnya. Lalu bergegas ia menuju dapur.
Kuenya sudah menjadi terlalu kering. Tidak gosong, karena Kei sudah menyetel pengatur waktu, namun teksturnya sudah tidak bagus lagi karena telah terlalu lama dibiarkan. Kei ingin tertawa. Cuma kamu yang bisa bikin aku lupa segala hal, Rion. Ia simpan kue itu, bisa digunakan untuk membuat yang lain nanti. Kemudian ia mulai menyiapkan adonan yang baru.
Kei sedang menunggu adonan itu memanggang di oven ketika akhirnya terdengar suara dari kamar tidurnya. Pintu terbuka, Rion melangkah ke luar. Rambutnya sedikit berantakan, sebagian wajahnya merah bekas bantal. Lucu.
“Rion, kuenya sebentar, ya. Tadi aku bikin ulang —”
“Kei, gue duluan, ya. Bapak lo belum pulang, kan?” Ia berjalan ke ruang tamu dan memasukkan buku tulis ke tasnya, lalu disampirkan tas itu di pundaknya. Kemudian ia menghampiri Kei yang sedang berdiri di dapur. Kedua tangannya meraih tangan Kei dan menggenggamnya. “Gue pulang dulu, ya.”
“Ini kuenya —”
“Nanti aja, gapapa. Gue belom ngerjain PR. Nanti mau minta tolong Sakamoto, deh.”
Kei memandang ke bawah, di mana kedua tangan mereka bertaut. “Oke,” katanya, sebelum mereka berjalan ke halaman rumah, masih sambil bergandengan. Mereka berdiri di depan motor Rion. Rion mengarahkan matanya ke tangan mereka, lalu ke wajah Kei, lalu pipinya sedikit memerah. Kei ikut merona dibuatnya, dijadikannya bertanya-tanya lagi, Apakah yang kau rasakan sama denganku?
Tangan Rion dilepaskan dari Kei untuk mengambil helm, membuatnya sedikit kecewa. Rion naik ke atas motor dan menyalakan mesin.
“Duluan ya, Kei,” Rion pamit. “Kuenya besok aja di sekolah.”
“Tapi, besok kan hari Sab —”
“Daaah!” Bersama kendaraannya, ia sudah melaju meninggalkan rumah Kei.
Kei masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Bangunan itu terasa hampa tanpa kehadiran Rion, seakan dinding-dinding dan kaca jendela ikut merindukan perempuan itu. Kei kembali ke kuenya yang kini sudah matang; dikeluarkannya dari oven dan dibiarkan mendingin di meja dapur. Selagi menunggu, ia mengambil satu buah novel dari laci kecil di kamarnya, namun, mengingat Asaki yang sebentar lagi akan pulang, Kei berubah pikiran dan meletakkannya kembali. Ia ambil buku pelajaran dan buku tulis serta tempat pensil dari tas sekolahnya, lalu ia kembali ke dapur dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah selagi menunggu kue mendingin.
Tak lama kemudian, suara mobil Asaki terdengar dari luar. Kei tengah melapisi kue dengan buah stroberi dan krim kocok ketika pria itu memasuki rumah, mengenakan setelan jas dan membawa tas kerja.
“Bikin kue lagi? Bukannya kemarin sudah?” tuntutnya.
“Iya... Ini buat teman saya. Tugas sekolah hari ini sudah saya kerja —”
“Teman? Teman yang mana lagi? Yang rambutnya biru itu? Dia pengaruh buruk buat kamu. Saya harap kamu jangan sering-sering menghabiskan waktu bersama dia lagi.”
Kei hanya bisa terdiam. Mudah saja untuk berbohong, berkata “Iya”, namun ia tidak ingin menyepelekan Rion seperti itu. Tidak pantas, Rion berhak lebih dari itu. Tetapi Kei juga tidak bisa bilang tidak.
“Kamu dengar saya, nggak?”
Kei menegakkan badannya. Ia tidak akan membiarkan Rion direndahkan. “Dengar. Tapi Rion bukan pengaruh buruk bagi saya. Justru dia bikin saya lebih percaya diri.”
Asaki mendekat. Wajahnya datar, tenang. Pertanda bahwa ia sedang marah. “Percaya diri… Atau tidak tahu diri?”
Kei balas menatapnya. Sesungguhnya ia merasa takut, jantungnya seperti terlepas dan jatuh dari rongga dadanya. Namun, ia tetap berdiri tegap, mencoba mengatur napasnya.
Akhirnya, Asaki yang memecah keheningan yang menegangkan itu. “Terserah kamu saja,” ujarnya sambil berpaling, berjalan menuju kamar tidurnya. “Asal nilai kamu tetap bagus.”
“Siap,” balas Kei. Ketika Asaki sudah menutup pintu kamarnya, Kei langsung mengembuskan napasnya yang tertahan. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasa takut, namun lebih dari itu, ia merasa lega. Meski jemarinya sedikit bergetar, dadanya terasa lebih ringan, seperti ada beban yang telah menghilang. Ternyata berani tidak seburuk itu. Ternyata jujur bisa memuaskan.
Semakin teguh iktikad Kei untuk mengutarakan perasaannya pada Rion. Diputar ulang interaksi mereka berdua hari ini: senyum Rion yang riang dan menghangatkan kala ia menghampiri Kei di kantin sekolah, kibaran rambutnya ketika ia melepaskan helm dari kepalanya, wangi parfumnya yang segar, sentuhannya yang masih terasa di pundak, rambut, paha, dan tangan Kei. Dengan hati yang penuh, ia lanjutkan membuat lapisan-lapisan kue, lalu memasukannya ke dalam kulkas. Besok akan ia berikan pada Rion di sekolah. Meskipun besok libur, ia tahu Rion ada latihan ekskul futsal. Ia akan datang tidak hanya membawa kue, tapi juga hatinya yang terbuka, berdarah-darah, baik-buruknya, bercahaya bintang dan berwarna biru.
[☆]
Rion pikir, akan jadi suatu kehormatan bila Kei membunuhnya. Layaknya Orion yang setia mendampingi Dewi Artemis, Rion bersedia mengikuti Kei ke ujung dunia. Di fantasinya pada malam hari, Kei kabur dari cengkeraman Asaki, melarikan diri, dan Rion ikut dengannya. Kei menyetir mobil menuju cakrawala, dan Rion bersamanya di kursi penumpang. Tidur di gudang bekas, makan makanan instan dari minimarket seadanya, tak mengapa asal mereka tetap bersama.
Mikir apa sih? Nggak jelas. Entah apa yang membuat Rion tiba-tiba mengangan-angankan Kei di pagi yang terik ini, sembari menenggak air minum pada waktu istirahat latihan futsal. Mungkin karena tubuhnya sedang berpeluh, kepanasan, maka ia merindukan sentuhan kulit Kei yang selalu dingin. Mungkin karena ia seperti sedang melihat sosok berambut putih panjang itu berjalan ke arahnya dari arah parkiran sekolah, membawa kotak makan kecil. Udah gila lu, Rion, pikirnya. Sampe halu. Namun, bayangan itu alih-alih hilang, malah tetap mendekat, sampai akhirnya ia berhenti di depan Rion yang sedang terduduk di tangga depan sekolah.
Rion menengadahkan kepalanya. Sosok itu nyata, bukan hanya ilusi. Rambutnya tergerai panjang, poninya membingkai wajahnya. “Kei?” panggilnya. “Ngapain lu di sini?”
Kei mengulurkan kotak makan itu kepada Rion, yang mengambilnya dengan heran. “Ini, kue yang kamu minta kemarin.”
“Lah? Lu bela-belain ke sini? Bukannya lu ada les ya Sabtu pagi gini?”
“Iya, tapi aku ke sini dulu biar kamu bisa makan kuenya. Habis ini aku balik.”
Rion bingung harus berkata apa. Ia merasakan wajahnya yang menghangat. Lu mau bikin gue meledak, ya, Kei?
Kei masih berdiri di depannya. Rion mendorong lututnya pelan. “Gajelas lu!”
“Hah? Apanya?” balas Kei dengan wajah standar oon-nya itu. Rion ingin tertawa melihatnya. Ia menggeleng.
“Nggak, gapapa. Makasih ya, Kei.” Tangan Rion seperti bergerak sendiri, meraih milik Kei seakan ada magnet di sana. Akhir-akhir ini selalu seperti itu, Rion selalu ingin menggenggam tangan Kei, layaknya ada sesuatu yang terkandung di garis-garis telapak Kei yang bisa menjawab segala pertanyaan Rion. Tanpa diduga, Kei ikut duduk di samping Rion. “Lah, nggak jadi balik?”
“Bentar dulu, Rion. Ada yang mau aku bilang,” jawab Kei, dengan tatapan yang jujur dan terbuka. Rion sedikit terintimidasi melihatnya, namun ia juga terpikat. Detakan jantungnya melaju lebih cepat.
Kei menggenggam balik tangan Rion, meletakkannya di atas pahanya. “Rion, aku —”
“Kei,” terdengar suara berat yang membuat keduanya menoleh. Mereka mendapati Asaki berdiri di depan mereka dengan tatapan tajam.
Kei sontak berdiri. “Pak, saya cuma mengantar kue ini. Setelah ini saya balik —”
“Ini teman yang kamu bilang bukan pengaruh buruk?” ujarnya sambil menunjuk ke arah Rion.
Darah di dalam tubuh Rion terasa panas oleh kemarahan. Ia ikut berdiri. “Kei cuma mau ngasih kue doang, apa salahnya sih? Dia juga nggak akan —”
“Kamu diam! Saya nggak sedang ngomong sama kamu,” timpal Asaki.
“Ta —” Balasan Rion tertahan oleh sentuhan lembut di lengannya. Ia menoleh, Kei sedang menatapnya. Matanya seakan menyiratkan, Sudah, biar aku saja. Rion terdiam.
“Maaf, Pak, setelah ini saya akan pulang. Saya mau bicara dulu dengan Rion, ini penting —”
“Berani ngelawan, kamu? Tutor kamu sudah menunggu di rumah. Pulang sekarang.”
“Tapi…”
Telapak tangan Asaki melayang, dan Rion beraksi sebelum ia bisa berpikir. Dengan tangkas ia meluncur ke depan Kei, dan tamparan itu mendarat padanya. Pipinya terasa panas.
“Rion!” seru Kei.
“Kei cuma mau berbuat baik sama temen. Masa gitu aja nggak boleh?” ucap Rion dengan terengah-engah.
“Bukan itu masalahnya. Dia sudah ada jadwal les pagi ini, harusnya —”
“Pak,” tukas Kei. “Kalau yang itu, saya akui itu salah saya. Tapi Bapak baru saja menyakiti Rion. Bapak tidak ada rasa bersalah?”
Asaki hanya terdiam.
“Oke,” ujar Kei sembari menarik tangan Rion. “Saya obati Rion dulu. Setelah itu saya pulang.”
Kei membawa Rion ke ruang UKS dengan langkah yang cepat dan berat, mengandung banyak emosi. Sepanjang perjalanan ia terus meminta maaf.
“Gapapa, Kei. Bukan salah lu.”
“Terus kamu juga kenapa harus ngelindungin aku gitu? Kan jadinya kamu yang kena.”
“Ya, daripada lu. Mending gue.”
“Kenapa?”
Kenapa tidak? Rion akan dengan sukarela mengambil derita orang-orang yang ia sayangi, bila artinya mereka akan lebih bahagia. Termasuk Kei. Kei, yang telah menjadi objek fiksasinya selama beberapa bulan terakhir. Kei, yang selalu lembut, jujur, dan polos. Kei, yang ia cin—
“Berani juga lu tadi ngelawan bapak lu,” timpal Rion, demi memotong isi pikirannya sendiri.
“Aku jadi lebih berani karena kamu,” balas Kei.
Ironis. Rion bahkan tidak berani menghadapi perasaannya sendiri.
Setibanya di ruang UKS, Kei mendudukkan Rion di salah satu kasur.
“Ini apanya yang perlu diobatin, sih? Cuma ditampar doang.”
“Setidaknya dikasih es,” ucap Kei sambil mengambil es kering dari sebuah kulkas kecil.
Kei kembali ke kasur, menangkupkan kedua tangannya di wajah Rion, mengamatinya dengan lekat. Rion agak kikuk dibuatnya. Ia bingung harus menatap ke arah mana.
“Merah banget ini. Maaf ya, Rion.”
“Udah gue bilang bukan salah lu.”
“Tetep aja.” Perlahan ia menempelkan es itu ke pipi Rion yang terkena tamparan.
Wajah mereka sangat berdekatan. Kurang, pikir Rion. Kurang dekat. Mata Kei begitu biru. Ia dapat melihat rambutnya sendiri yang terpantul pada iris berwarna sama itu, menyatu seperti memang sudah takdirnya. Hembusan napas mereka bersatu, mengenai wajah satu sama lain. Rion menatap bibir Kei yang berwarna merah muda. Di jarak sedekat ini, ia bisa — Apa?
“Oon lu,” kata Rion.
“Lah, kenapa?”
“Ngapain bela-belain dateng ke sini coba? Kan bisa dikirim aja. Lu jadi telat les juga.”
“Aku pengennya aku yang ngasih ini ke kamu. Aku mau lihat kamu makannya,” ujar Kei dengan tatapan yang intens, membuat Rion merasakan geli di perutnya. “Sebenernya aku emang salah. Aku lupa kalau tutor aku hari ini akan datang lebih pagi dari biasanya. Kamu, sih.”
“Gue? Kenapa, jir?”
“Aku jadi lupa segala hal kalau udah mikirin kamu,” tutur Kei lirih.
Jawaban itu membuat napas Rion tertahan, detak jantungnya terdengar menderu di telinganya.
Ia merasakan deja vu, mengingat senja itu, ketika Kei menggenggam kedua tangannya dengan penuh keyakinan dan mengutarakan perasaannya dengan kejujuran, layaknya sedang berdoa. Ia mengingat sentuhan bibirnya di kulit pipi Kei yang lembut seperti awan di rambutnya, mengingat bagaimana ia langsung kabur setelah itu, mengingat bagaimana ia menghindari Kei sepanjang hari esoknya karena takut pada perasaannya sendiri. Mengingat Kei yang memperlakukan Rion seperti biasa kala ia berani menghadapi Kei lagi. Ia memutar ulang kejadian pagi ini, kehadiran Kei yang tidak terduga, datang ke sekolah meski tidak perlu, hanya demi memberikan Rion kue buatannya. Sensasi dingin di pipinya, yang ditempelkan es oleh tangan yang selalu ingin ia pegang.
Deklarasi Kei kali ini menggema di kepalanya seperti sebuah tantangan. Bisakah Rion mengimbanginya?
Ah, sudahlah. Tangan Rion meraih, menangkap wajah Kei dan menariknya, lalu mengecup bibirnya dengan cepat.
Terdengar suara sesuatu yang jatuh ke lantai. Rion menoleh; itu es kering yang tadi dipegang Kei. Rion kembali mengangkat pandangan ke perempuan yang duduk di sampingnya. Matanya lebar, mulutnya terbuka, dan wajahnya — aduh, lucu banget — wajahnya merah sekali.
Rion juga merasa malu, ia bisa merasakan kehangatan yang kembali merambat di pipinya yang telah dingin oleh es, namun melihat wajah Kei, ia ingin tertawa. Ia pikir ia bisa menghabiskan seluruh hidupnya memandangi wajah itu. Ia melambaikan satu tangan di depan Kei, yang masih terbengong. “Halo?”
“Rion… K-kamu…”
Rion menarik napas panjang, menggenggam kedua tangan Kei. “Kei, gue mau ngomong ini sekali aja jadi lu denger baik-baik ya. Gue suka sama lu. Mau pacaran, gak?”
Kei masih termangu. Mulutnya terbuka, seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar. Di setiap detik yang berlalu, wajah Rion terasa semakin panas. “Woi, jawab.”
“Rion, aku — ah,” ujar Kei, menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
Rion terkekeh demi mengusir rasa gugupnya. “Lu kenapa, njir?”
“Tadi… Itu yang mau aku bilang.” Suaranya pelan dan teredam karena tangan yang masih menutupi wajahnya.
“Hah?”
“Di depan sekolah tadi, sebelum bapakku datang. Itu yang aku mau bilang ke kamu.”
Rion merasakan mukanya memanas lagi. Ia harus tahu pasti, harus mendengar langsung apa yang ingin dikatakan Kei. “Bilang… Apa?”
Kei menurunkan kedua tangannya, mempertemukan mata mereka dengan pandangan yang intens. “Aku cinta kamu, Rion.”
“Cin — anjir, pelan-pelan!” Sekarang sepertinya Rion yang lebih merona daripada Kei. Ia mencoba mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan, menyembunyikan wajahnya, tapi matanya tetap tertarik pada netra Kei yang sarat dengan ketulusan.
“Tapi aku beneran,”
“Ck, lu ah!” Rion menepuk halus lengan Kei. “Berarti… Lu mau?”
Kei mengangguk dengan penuh determinasi. “Kalau… Kalau Rion mau.”
“Ya mau, lah! Kan gue yang ngajak! Lu-nya mau apa enggak?”
“Mau… Mau banget.”
Rion kembali menyerang lengan Kei. “Apa, sih.”
“Lah, itu aku udah jawab jujur.”
“Terlalu jujur.”
“Terus harus gimana?”
Rion kembali menyatukan bibir mereka, merasakan lip balm Kei yang wangi stroberi. Kali ini dengan lebih lambat, dan Kei membeku sejenak, namun tak lama ia membalas kecupan itu. “Banyak omong lu,” tukas Rion.
Kei terkekeh pelan. Senyumnya berbeda dengan yang biasa Rion lihat — penuh harap, takzim, seperti melihat seorang dewi. Yang ada lu dewinya, benak Rion berbunyi.
“Udah ah, mana tadi kuenya? Gue mau makan.”
“Ini. Tapi, pipi kamu udah mendingan?”
“Udah, kok. Cuma… Kayaknya masih kurang."
“Kurang apa?”
Rion mengumpulkan keberanian, lalu meminta, “Kiss it better?”
Wajah Kei sontak memerah. Rion terbahak.
Perlahan, Kei meraih sisi wajah Rion yang terkena tamparan, menyelipkan rambutnya di balik telinganya. Lalu ia kecup pipi Rion dengan lembut.
Lagi, pikir Rion. Lagi, seribu kali juga kayaknya masih kurang.
“Lu nggak balik? Udah ditungguin tutor, kan?”
“Kayaknya… Hari ini aku bolos aja. Kamu juga nggak lanjut latihan?”
“Ah, tadi kan yang lain pada liat gue ditampar. Nggak apa-apa kalo gue ga lanjut.”
“Kalau gitu… Mau pergi?”
“Pergi? Ke mana?”
“Nggak tahu. Keliling-keliling aja.”
“Seorang Uzuki Kei, ngajak kabur tanpa tujuan? Gue mimpi ya?”
Kei tertawa. Jarang sekali Rion melihatnya tertawa lepas seperti itu. Ia ingin menjadi satu-satunya orang yang dapat membuatnya begitu.
Rion berdiri, menjulurkan tangannya. “Yuk.”
Dengan senyuman manis, Kei meraih tangan itu. Kulit Kei selalu terasa dingin, namun kali ini, rasanya ia sedang seperti mengirim kehangatan, dari tangan ke jantung dan menyebar ke seluruh tubuh Rion, mengikuti aliran darah. Mereka berjalan berdampingan, dan hati Rion terasa disinari oleh bulan, berwarna putih.
