Chapter Text
Kenangan hari itu masih melekat erat di benak aku. Sebelas tahun silam, saat Marc pertama kali mengenalkanku pada pemuda tersebut.
Marc secara harfiah menarik kerah baju aku dan menyodorkanku ke depan pemuda itu. "Ini adik saya, juara masa depan. Sono temenan."
Aku memasukkan tangan ke dalam saku, tangan tremor yang berusaha disembunyikan. Pemuda itu lebih tinggi, manik mata birunya memandang tajam dengan pupil redup tanpa pantulan cahaya.
Mata aku melihat ke tanah kami berpijak atau bergerak ke berbagai arah karena kesulitan melakukan kontak mata.
Debaran jantungku terasa seperti bom waktu yang berdetak semakin cepat. Aku menahan napas, berharap bom itu tidak meledak.
"Aku Luca Marini." Dia mengulurkan tangan, gerakannya tidak terburu-buru. Ketenangan yang terkontrol, kontras dengan gelagat gugupku ini, duh.
Jantung yang hendak melompat dari tempatnya ini segera kupaksa diam lagi. Aku menekuk siku dengan spontan, mengenggam telapak tangannya. Ibu jari berdiri kaku. Dia mengunci ibu jarinya.
Mulutku terbuka. Rahang menggigil, mengigit bibir kencang hingga rasa sakit menyingkirkan kegugupan.
Aku menarik mataku bertemu dengan matanya. Menghela napas pelan yang selama ini ditahan.
"Aku... Aku Alex Márquez. Salam kenal."
KILAS BALIK TAHUN 2014
Lambaian-lambaian bendera disertai teriakan penonton dari tribun turut mengisi kebisingan lintasan yang penuh dengan suara mesin bertenaga tinggi mengaum.
Napas Marc Márquez memburu. Jantungnya berdebar kencang membentur dinding dada. Matanya menatap tajam ke depan, ke aspal yang mulus dan penanda tikungan merah-putih.
Motornya berguncang kecil menari-nari disetiap tarikan gas, setiap tarikan napas terasa menggigil hingga menjalar ke pundak, namun Marc sudah terbiasa dengan sensasi tersebut. Debu-debu lintasan beterbangan oleh kencangnya pusaran angin dari motor mereka.
Marc menjulurkan kaki bagian dalam sebelum masuk ke tikungan; teknik manuver yang dipopulerkan oleh Valentino Rossi sejak Sirkuit Jerez 2005.
Jari-jarinya bergerak menarik tuas rem amat kuat saat mendekati tikungan. Terpampang angka kecepatan motornya yang menurun drastis pada dashboard. Marc mengoperasikan rem belakang menggunakan tuas jempol di setang kiri—pedal kaki sulit dijangkau saat motor miring—guna mencegah stoppie.
Bersamaan dengan menarik rem, Marc menurunkan gigi motor dan menggeser pinggulnya ke belakang untuk menjaga traksi roda.
Pletok-pletok. Knalpot motornya meletup saat ia melakukan downshift. Dia ingat para teknisi menyebutnya misfire.
Dia memiringkan motor dengan sudut kemiringan ekstrem, badannya ikut menggantung, dia mengandalkan pegangannya pada setang dan kakinya yang tertaut pada sisi motor. Lututnya menyeret aspal dengan kecepatan tinggi.
Sudut kemiringannya mencapai lebih dari enam puluh derajat, ia turut menurunkan bahu dan siku hingga bergesekan dengan permukaan aspal. Percikan-percikan bunga api tercipta akibat gesekan sliding pad.
Screeeechhh
Matanya melebar.
Dalam hitungan detik ia kehilangan kendali total. Motornya bergetar hebat diakibatkan oleh ban belakang yang kehilangan cengkeraman dan tergelincir keluar tikungan, melesat tanpa arah ke gravel.
Honda RC213V itu terlontar pada laju tinggi sementara Marc terbanting berguling-guling dengan brutal di atas kerikil-kerikil yang kasar, tubuhnya baru berhenti saat menghantam barrier.
.
.
.
.
.
Ssshhhh...
Televisi tabung di kamarnya mendadak hilang sinyal, layarnya berubah menjadi titik-titik hitam putih kecil yang berkedip-kedip mirip taburan semut mungil. Suasana hati Alex yang tegang lantaran habis menyaksikan tayangan ulang kecelakaan kakaknya pun makin gundah.
Alex bangkit dari duduk silanya, tingginya menjulang di atas TV tabung kayu tersebut yang membuatnya mesti sedikit membungkukan badan untuk mengetuk-ngetuk layar cembungnya, berharap upayanya itu dapat memperbaiki sinyal.
Desisan statis seperti menertawai usahanya.
Helaan napas samar terdengar dari bibirnya. Ksdang-kadang ia menyetel televisi hanya untuk mengisi kamarnya yang senyap tanpa kehadiran canda gurau dan tawa sang kakak. Kadang-kadang ia menyalakannya juga untuk menyaksikan balapan kakaknya dari jauh. Ia mengulurkan tangan menyusuri bagian belakang perangkat tabung tersebut, semua kabel sudah tercolok pada tempatnya.
Ia jadi teringat masa-masa kecilnya. Kala itu ia tengah menonton Dora the Explorer bersama Marc, saat televisi kehilangan sinyal dan Ayah sedang pergi keluar rumah, ia memutuskan untuk membenarkan antenanya sendiri meskipun sudah diperingati Marc. Alhasil ia tanpa sengaja menarik antena yang rapuh hingga patah. Tawa Marc pecah di saat adiknya sedang panik hebat, kegaduhan mereka memancing mama untuk pergi mengecek. Mama amat murka dan berceloteh panjang, sementara Marc hanya menunduk menyembunyikan senyumannya. Semenjak itu, Alex selalu mengandalkan Marc atau Ayah untuk memperbaiki televisi supaya ia tidak perlu jadi korban celotehan mama lagi.
Namun Marc kerap disibukkan dengan dunia balap, atau sekadar menghabiskan waktu bersama idola semasa kecilnya. Ia pikir dengan mengikuti jejak kakak Marc, masuk ke dalam dunia balap yang sama, akan merubah itu semua. Hari-hari mereka berjalan seperti biasa, hanya saja sekarang Alex bisa turut merasakan apa yang dialami Marc semasa balapan. Melihatnya lebih dekat dari Paddock meskipun mereka berada di kelas yang berbeda.
Jam dinding yang berdetak bertepatan setiap detiknya. Benda itu jarang sekali ia perhatikan saat sibuk dengan aktifitas lain. Tapi saat rasa sepi membelenggu, rasanya hanya benda itu yang hidup di antara benda mati lain.
Tick - tock. Tick - tock.
Terbayang olehnya betapa membosankannya menetap di rumah sakit. Mendengarkan detak jarum jam setiap saat karena ruangan terlalu hening. Antara senyap atau mendengarkan suara orang batuk setiap tiga detik ketenangan. Itulah yang pernah diceritakan kakak sewaktu ia harus menjalani perawatan di rumah sakit selepas kecelakaan.
Kakaknya, Marc Márquez, pembalap yang sangat ambisius. Sejak umur empat tahun Marc dihadiahkan sepeda motor mini oleh orang tua mereka yang memicu kecintaannya pada dunia otomotif. Berselang dua tahun, dia mulai mengikuti kompetisi balap lokal, lalu meraih gelar road race pertamanya pada kejuaraan Open Champion Race 50 di umur sepuluh tahun. Saat Marc kecil kalah bermain gim balapan bersama ayah mereka, Marc akan menangis. Namun, itulah yang membentuk mentalitas kakak yang selalu mengejar kemenangan.
Sebagai adik yang juga meniti karier di dunia balap yang sama, Alex tahu betul taruhan dari setiap putaran gas kakaknya adalah nyawa. Ketakutan akan kehilangan sosok saudara satu-satunya kian menumpuk di dadanya setiap kali melihat Marc jatuh berguling-guling di gravel..
Sekali lagi ia menarik napas panjang, lantas mengambil keputusan untuk beranjak dari kamar mengingat ini sudah larut malam. Menuruni anak tangga menuju lantai bawah dengan maksud mencari sang kakak ternyata Marc memang ada di sana, berdiri di pojokan ruang tamu dekat jendela yang ditutup tirai.
Marc sedikit menundukkan kepalanya, ibu jari bergerak lincah di atas layar sentuh. Pandangannya terfokus tajam ke arah layar gawai, raut wajahnya terlihat serius namun Alex menangkap lekukan senyum samar-samar pada bibirnya.
.
.
.
.
VALENTINO ROSSI
Bahunya masih sakit ya? Td saya lihat recap crashnya cukup intens
MARC MARQUEZ
Sudah mendingan, cuma ngilu aja :)
VALENTINO ROSSI
Puter tuas gas pelan2 saja saat keluar dri tikungan
Itu tdi bannya selip karna kmu langsung ngegas agresif
MARC MARQUEZ
Iyaaa makasih ya udah perhatian
VALENTINO ROSSI
Gk usah terimakasih
Itu demi kebaikanmu,, Anda kan talenta muda sayang klo cidera
Hati" klo balapan safety first 👍
MARC MARQUEZ
Okeeyy abang juga balapannya keren
Sayang aku td crash jadi gk bisa podium bareng..
VALENTINO ROSSI
Panggil saja Vale tdk usah pake abang
Urusan podium mah lewat duluu
Lebih baik pelan tp selamat drpd kencang tp patah tulang, bakalan berabeh urusannya
MARC MARQUEZ
Ehehehe sip dehh Vale
Aku lumayan gak enakan sm paduka Lorenzo nih
VALENTINO ROSSI
Lhoooo gk enakan begimana?
MARC MARQUEZ
Kata beliau sih aku itu anak bawang berani beraninya ngasepin yang senior......
VALENTINO ROSSI
Ckckck si hohe lorenzo mmg hobi nyinyir
Anda gk usah dengerin om" itu, fokus saja ke karir depan matamu mereka hanya ingin menjatuhkan
Klo ada apa apa tggl bilang ke saya,, ntar saya pasang badan
MARC MARQUEZ
Gausah valee
Takutnya ntar malah ribut di garasi yamaha
VALENTINO ROSSI
Saya sebagai senior sudah sepatutnya menegakkan keadilan bagi anak2 rookie
Apalagi super rookie jurdun seperti Anda
Mosok anak kesayangan dijulidin saya diem aja
MARC MARQUEZ
Bukan itu vale..
Maksudku aku takut reputasimu kenapa-napa gegara ribut :<
VALENTINO ROSSI
Ooooo itu
Reputasi mah aman
Gk ada yg berani macem2 ama the doctor
Prioritas saya itu keamanan dn keselamatan Anda
MARC MARQUEZ
Janji bakal ngelindungin aku?
VALENTINO ROSSI
Saya pegang kata kata itu
MARC MARQUEZ
Janji gak bakal menyakiti aku?
VALENTINO ROSSI
Apakah mungkin saya menyakiti Anda?
Anda kan kesayangan saya
MARC MARQUEZ
Janji gak bakal ninggalin aku?
VALENTINO ROSSI
Sueerr
MARC MARQUEZ
Makasih ya Valentino
Aku gak nyangka bisa menjalin hubungan dengan idola semasa kecil
Rasanya kayak mimpi
Semoga kita bisa juara dunia bersama-sama
VALENTINO ROSSI
Di dunia ini tidak ada yg namanya mustahil
Anda mending bobo gih sdh malam
Besok2 bisa main ke tavuilla lagi
MARC MARQUEZ
Belum ngantuk sih
Nunggu alex ngajak mabar pees dulu
Kalo dia udah puas baru bisa tidur nyenyak -_-
VALENTINO ROSSI
Eeehh Anda punya ade juga toh?
Kbetulan saya punya ade profesinya balapan
MARC MARQUEZ
Vale baru tau ya ehhehe
Itu si alex marquez yang balapan di moto3
Wahh vale punya adik juga? Namanya siapa tuh
VALENTINO ROSSI
Luca marini
Dia balapan di kejuaraan Spanyol CEV Moto3 Junior
Ooo nama belakangnya marquez juga ya
Ademu kelahiran berapa?
MARC MARQUEZ
Alex kelahiran 1996, 3 tahun lebih muda
Luca kenapa gak pakai nama belakang rossi aja?
VALENTINO ROSSI
Dia ade tiri saya,, beda bapak
Ibu kita stefania palma, bapanya luca itu massimo
Dia mewarisi nama belakang bokapnya massimo marini
MARC MARQUEZ
Oowalahh jadi saudara seibu gitu toh
VALENTINO ROSSI
Betuuull
MARC MARQUEZ
Umur luca berapa tuh?
VALENTINO ROSSI
Luca lehih muda 18 tahun dari sy
Tebak berapa hayooo
MARC MARQUEZ
Luca 17 tahun? Mirip dong sama alex 18 tahun
Eh buset kakak-adek selisih usianya jauh amat O__O
VALENTINO ROSSI
Meneketehe
Bukan saya yg melahirkan
Saya sih juga maunya punya ade seusia
Tp nanti dia ketuaan donk
MARC MARQUEZ
Justru saudara yang usianya berdekatan enaakk, dua duanya bisa sekolah bareng atau ngapain kek barengan
VALENTINO ROSSI
Tdk apa apa
Tak jodohkan dgn ademu alex
Biar bisa maen bareng
MARC MARQUEZ
HAH SERIUSAN??
ALEX MAU DIJODOHKAN SAMA ANAK ROSSI??
VALENTINO ROSSI
Adek rossi bukan anaakk atuhh
Canda doank kalii
Barang kali cucuok ye kan xixixixi
MARC MARQUEZ
Cocok banget valee!!
Luca ama alex kan juga balapan di moto3 bentar lagi mereka naik motogp
Ehh iya maap soalnya selisih usia kalian terlalu jauh, tak kira bapak sama anak ehehehehe
VALENTINO ROSSI
Iyoo tar mrka jadi penerus tahta kakak2nya klau sudah pensiun
Luca anaknya kalem,, cocok ama alex yang high energy
MARC MARQUEZ
Alex rada pemalu
Gak kayak kakaknya :v
Kayaknya bakal gemess sih seandai mereka temenan
VALENTINO ROSSI
Jodohin aja hayuukk
MARC MARQUEZ
Tapi vale yakin mereka mau satu sama lain?
Kan belum tentu adek satu selera dengan kakaknya
VALENTINO ROSSI
Ade ade kt masih single
Luca tinggi trus punya mata biru cakep
MARC MARQUEZ
Diliat-liat sih alex doyannya cewe
Katanya dia punya crush di sekolahnya
VALENTINO ROSSI
Udh punya target sendiri ternyata ckckck
Kita tidak akan pernah tahu jika tidak pernah mencoba
Makanya coba kenalan dulu barang kali naksir
MARC MARQUEZ
Diatur yaa nanti
VALENTINO ROSSI
Iyeee
Saya atur dahh
Ajak ke ranch aja besok
MARC MARQUEZ
Okaaayy
GN8 💤
VALENTINO ROSSI
GNAM
MARC MARQUEZ
GNAM?
VALENTINO ROSSI
Good Night Amore Mio 💤
MARC MARQUEZ
Anjay
.
.
.
.
.
"Kakak habis chat-an sama idola lagi, ya?"
Pertanyaan tiba-tiba tersebut sontak mendapat respons dari Marc yang nyaris menjatuhkan ponselnya. Ia mendongak mendapati sang adik tengah berdiri di sampingnya dengan mata tertumbuk ke gawai yang ia pegang. Rasa keterkejutan kakak sulung segera ditutupi oleh tawa kecil lantaran Alex memasang wajah manyun gemas.
"Ada apa, Alex? Butuh bantuan?"
Alex tidak langsung menjawab pertanyaan itu, melainkan melirik sekilas ke angka yang ditandai jarum jam dinding sebelum akhirnya mempusatkan pandangan ke Marc.
"Aku udah menunggu Kakak sedari jam sembilan sampai setengah sepuluh. Sibuk sekali ya, Kak?"
"Tiga puluh menit doang, Lex." Marc memasukan ponsel ke dalam saku, berjaga-jaga apabila adiknya yang lebih tinggi mendadak jahil dan merebut ponselnya. "Memangnya kamu ada keinginan apa mencari kakak?"
Pandangan Alex meredup. Jauh di lubuk hatinya terdalam, ia ingin sekali menghabiskan lebih banyak waktu dengan saudaranya seperti masa-masa kecil mereka…. Ah, Biarlah masa lalu berlalu. Alex menepis segala pinta. "Tidak ada. Cuma memastikan kakak masih ada di sini." Kalimat terakhir terucap cepat dan lantang. Satu-satunya keinginan jujur yang ia sampaikan.
Tatapan Marc tak kunjung lepas dari mata si bungsu, iris hitam sepekat batu bara tersebut seakan mencari kegundahan yang disembunyikan dibalik raut wajah datar Alex. Merasa diamati, Alex mengerutkan kening, kakinya bergerak sendiri melangkah mundur setapak. "Aku tidak mengapa kok—"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Marc terlebih dulu menimpal cepat. "Kamu lagi demam, ya?" Ia menempelkan punggung tangannya ke kening sang adik. Alex terlihat mengerjapkan mata, tidak menduga kakaknya akan menanyakan perihal kesehatan. Namun dia tidak mengelak juga, membiarkan Marc mengukur panas yang terpancar ke tangannya. Setelah dirasa suhunya normal, Marc memindahkan tangan ke pundak Alex yang sedikit menegang itu. "Kalau ada apa-apa bilang aja, muka kamu kusut begitu jadi gak enak diliat."
Kata-kata itu membuat Alex tersadar akan raut wajah muramnya yang rupanya dibaca kakak. Ia menelan ludah, lantas memajang senyuman tipis di muka.
"Nah, kalau begini kan lebih enak di pandang mata." Senyum Marc turut mengembang, hanya dengan melihat wajah cerah kakak sulungnya segala risau seketika kandas.
"Sudah larut malam, kamu tidur dulu aja," lanjut Marc, ia membentangkan kedua tangan merengkuh adik lelaki-laki ke dalam dekapannya tanpa menunggu jawaban. Pelukan itu merupakan tindakan yang telah dinanti-nantikan Alex, tangannya bertumpu pada punggung Marc menepuk pelan. Pelupuk matanya terasa berat menopang kantuk yang datang tiba-tiba. Tubuh mereka merapat dan ia bisa merasakan detak jantungnya serta detak jantung Marc berselingan.
Marc memejamkan mata, waktu berhenti di antara mereka. Suasananya senyap. Hanya sayup-sayup burung hantu dan suara napas pelan kedua kakak-beradik yang mengisi kekosongan malam itu. Sepintas memori lama mengembala di kepalanya. Ia masih mengingat kala adiknya masih balita, ia kerap menggendongnya lantaran bobotnya masih bisa disebut ringan. Tak disangka waktu telah berlalu panjang dan Alex bertumbuh cukup pesat bertanding di dunia balap yang sama memikul nama belakang keluarga.
"Marc..?"
Empunya nama kembali membuka mata yang tanpa sadar sudah berkaca-kaca. Meskipun adiknya tidak akan melihatnya bergelimang air mata, ia tetap mengerdip menelan buliran airnya kembali. "Ya?" Suara Marc terdengar lebih pelan, lembut, seperti bisikan yang teredam oleh bahu adik laki-lakinya.
"Alex sayang Marc."
Kata-kata itu terucap lirih. Kebiasaan lama adiknya yang suka menyebut diri dengan nama depan kembali terulang. Terdengar olehnya napas sang adik yang tadi pelan kini tersengal-sengal, bahunya gemetar di setiap tarikan napas yang berat. Ia mengambil napas panjang tersendat sebelum berucap lagi.
"Hiks, Alex khawa—hiks—tir setiap kali Marc kecelakaan... Aku ta-takut kehilangan kakak!"
Meski mendengar suara isakan, Marc tetap bergeming. Lantaran pipinya juga basah, tapi bukan karena keringat.
Ia memindahkan tangan kanannya dari punggung ke kepala lelaki-laki itu, mengelus rambut lebatnya pelan dan penuh kelembutan seperti kala ia mengelus kepala bayi adiknya. "Aku berjanji akan selalu tersenyum setiap kali terjatuh supaya kamu tidak khawatir lagi. Tapi kau janji jangan takut lagi, ya? Jadilah pembalap yang kuat. Jadilah seseorang yang tangguh. Oke?”
Alex menyeka air matanya yang berjatuhan di kaus. Ia menganggukan kepalanya sebagai jawaban sebab sulit untuk bicara di tengah sesenggukan.
Perlahan, ia melonggarkan pelukan hangat mereka, memberikan ruang bernapas sembari menangkup kedua pipi di hadapannya. Sepasang netra cokelat bertemu dengan sorot mata miliknya sebelum ia menangkat wajahnya sedikit ke atas. Ia mendaratkan kecupan lembut dan lama di kening, kemudian membisik di telinga, "Que descanses." [Selamat istirahat.]
Keduanya larut dalam suasana malam, hanyut di dalam pelukan satu sama lain hingga tidak menyadari Papa Juliá dan Mama Roser tengah mengamati mereka berdua dari tepi dinding area dapur.
Roser Alenta menepuk-nepuk tisu di ujung mata yang terasa pedih, begitu pula hatinya yang tersentuh oleh tabiat dua buah hatinya. Sang ibu mengukir sebuah senyum haru meskipun tidak ada yang akan melihatnya.
Sementara itu, Ayah diam-diam telah mengambil kamera dari laci untuk mengabadikan momen kedua putranya yang tersedu-sedan itu jarang-jarang terjadi.
