Actions

Work Header

Sebuah Kata yang Tak Sempat Terucap

Summary:

Ada banyak hal yang ingin Aya ceritakan, banyak keberhasilan yang ingin ia tunjukkan, dan satu pertanyaan sederhana yang terus ia bawa selama ini: apakah semua itu akhirnya sampai padanya?

atau

Aya selalu memiliki satu pertanyaan yang tak sekalipun pernah terjawab.

Notes:

Aku dan laptopku menyerah.

Listen Nina by .feast for more experience

Work Text:

Langit sore menggantung rendah di atas pemakaman.

Tak ada hujan, tak ada angin yang terlalu kencang. Hanya hamparan langit pucat yang membiarkan cahaya matahari jatuh perlahan diantara bebatuan yang terdiam.

Diantaranya, terukir sebuah nama.

Arjuna Arkana.

Aya datang tanpa membawa bunga. Dirinya tak pernah pandai memilih bunga yang tepat, karena biasanya…'mereka' yang membantunya 'tuk memilih.

Namun kali ini, ia memutuskan pergi seorang diri. Telah lama berdamai dengan semuanya.

Dihadapannya, terbaring makam kakaknya. Seseorang yang telah melindunginya selama ini, seseorang yang bahkan rela tewas untuknya.

Ia memutuskan untuk duduk di sebelah nisan Arjuna.

Memejamkan mata, menikmati semilir angin yang perlahan menyapu wajah. 

"Kak, apa kabar?" Sebuah suara ia paksa tuk keluar.

Pelan, bergetar.

Sejentik air menggantung di ujung bulu mata, meluncur lambat membelah pipi. Mungkin Aya tak sepenuhnya berdamai.

Napas pelan ia tahan - mencoba mengambil kembali ketenangan yang sebelumnya terusik.

Sebagai gantinya, ia bercerita seolah Arjuna masih berada di sampingnya.

Cerita tentang kota-kota yang pernah ia kunjungi. Tentang pekerjaan yang dulu hanya berani ia impikan. Tentang teman-teman yang selama ini tetaap berdiri di sampingnya. Tentang hari-hari buruk yang kini berhasil ia lewati, dan tentang hari-hari baik yang selama ini masih membuatnya merasa bersalah karena hanya dapat menikmatinya seorang diri.

Ia menceritakan semuanya.

Seolah-olah orang yang berbaring di bawah nisan itu bisa mendengarkannya.

Seolah-olah takdir tak pernah benar-benar memisahkan mereka.

"…Aku berhasil, Jun."

Suaranya pelan. Tak cukup keras tuk mengganggu keheningan di sekelilingnya.

"Aku sempat takut gagal."

Aya tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih seperti embusan napas.

"Tapi ternyata aku bisa."

Matahari bergerak rendah, memproyeksikan bayangan nisan yang memanjang diantara rerumputan.

Aya menunduk, memperhatikan nama yang sudah berbulan-bulan terukir di sana.

Nama yang tak pernah berubah.

Nama yang tak 'kan pernah bertambah tua bersamanya.

Sedangkan dirinya terus berjalan.

Terus hidup,

Terus meninggalkan tahun-tahun di belakang.

Ada banyak hal yang ingin ia ceritakan. Ada banyak hal yang sangat ingin ia tunjukkan.

Lalu waktu pergi begitu saja.

Dan tanpa terasa, ia telah sampai di titik yang dulu terasa mustahil 'tuk dicapai.

Hening kembali mengambil tempat di antara mereka.

Untuk waktu yang cukup lama, aya hanya menyandarkan kepala diatas nisan.

Memejamkan mata.

Membiarkan segala kenangan datang kembali seperti ombak yang terlalu sering menghantam pantai yang sama.

Sebuah kenangan yang selama ini ingin ia lupakan.

Dadanya masih terasa sesak saat mengingat kabar kematian kakaknya. Sebuah kabar yang tak pernah ia harapkan di hari kebahagiaannya.

Lagi-lagi air mata jatuh, bersamaan dengan suara yang keluar tanpa sadar.

"Menurutmu…"

Kalimat itu terhenti.

Aya menelan ludah, berusaha sekuat mungkin 'tuk membentuk kesatuan kalimat yang telah lama terjebak dalam dadanya.

"Menurutmu, apa kau melihatnya?"

Angin berhembus pelan, menyapu ujung rambut.

Aya menunduk.

"…Apa aku sudah melangkah cukup jauh 'tuk membuatmu bangga?"

Tak ada jawaban.

Tentu saja tak ada.

Yang berada di sampingnya saat ini hanyalah sebongkah batu.

Batu yang tak dapat berbicara.

Batu sama yang tak bisa tertawa.

Dan batu yang sama yang tak bisa memanggil namanya lagi.

Bibir Aya bergetar pelan sebelum tawa lirih keluar begitu saja .

Bodoh.

Benar-benar bodoh.

Apa yang sebenarnya ia harapkan?

Bahwa Arjuna 'kan tiba-tiba muncul dari balik nisan itu?

Bahwa kematian 'kan berubah pikiran setelah sekian lamanya?

Bahwa dunia 'kan memberinya satu kesempatan lagi?

Aya menggeleng pelan.

Ia berdiri, menepuk perlahan gaun guna menyingkirkan debu dan bersiap 'tuk pergi.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga - 

Angin berhembus.

Pelan. Tak cukup kuat 'tuk menerbangkan rambutnya menjadi berantakan. Tak cukup dingin 'tuk terasa menggigil.

Hangat. Cukup terasa seperti sepasang lengan yang singgah sebentar di pundaknya sebelum kembali menghilang.

Aya membeku. 

Dan di sela desiran dedaunan yang bergesekan pelan, ia mendengarnya.

Tipis.

Begitu tipis hingga mungkin hanya khayalannya sendiri.

"Kau melangkah lebih jauh daripada yang pernah bisa kulakukan."

Napas Aya tercekat.

Tubuhnya berbalik begitu cepat hingga hampir kehilangan keseimbangan.

Matanya menyapu sekeliling.

Mencari.

Berharap 'kan sesuatu.

Namun tak ada sesuatu di sana.

Kosong.

Hanya batu nisan yang sama.

Hanya rerumputan yang bergoyang perlahan.

Hanya matahari sore yang semakin tenggelam.

Dan entah mengapa, itu membuat hatinya terasa penuh.

Lagi-lagi, air mata kembali turun membasahi pipinya dengan alasan yang berbeda.

Bukan karena kesedihan.

Atau mungkin memang sedih.

Tetapi bukan kesedihan yang sama.

Aya menatap nama yang terukir di hadapannya sekali lagi.

Lalu tersenyum.

Kecil.

Tenang.

Seolah potongan yang selama ini hilang kembali berada di tempatnya.

Karena mungkin Arjuna memang tidak ada disana. Mungkin tubuhnya telah lama terkubur dihadapannya. Mungkin reklame radio rusak yang ada dalam kepalanya hanyalah kenangan suaranya semata.

Namun selama ini, setiap langkah yang berhasil ia lalui selalu terasa seperti ada seseorang yang ikut berjalan bersamanya.

Mendorongnya maju.

Menertawakan setiap kegagalannya.

Merayakan setiap keberhasilannya.

Dan hari ini, setelah sekian lama, Aya merasa tak perlu lagi mempertanyakan keseluruhan usahanya.

Karena jika Arjuna bisa melihatnya sekarang, maka jawabannya mungkin sederhana.

Ia 'kan bangga.

Lebih dari apapun yang ada.


Malam sepenuhnya turun ketika Aya meninggalkan pemakaman.

Langkahnya terasa lebih ringan dibanding saat datang.

Tak banyak berubah. Namun cukup 'tuk membuat dadanya tak lagi terasa sesak.

Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah deretan nisan.

Membiarkan suara serangga malam menggantikan keheningan malam yang selama ini menemani.

Tak perlu lagi menoleh ke arah belakang.

Bukan karena ia berusaha melupakan.

Melainkan karena tak perlu lagi memastikan sesuatu yang berada di belakang.

Sebab Arjuna selalu ada.

Dalam setiap keputusan yang ia ambil. Dalam setiap kegagalan yang berhasil ia lewati. Dan dalam setiap keberhasilan yang sempat ia rayakan seorang diri.

Karena pada akhirnya ia mengerti.

Arjuna tak pernah mengharapkan dirinya 'tuk menjadi sosok yang luar biasa. Tak pernah mengharapkannya menjadi yang terbaik, dan tak pernah mengharapkannya menjadi sempurna.

Arjuna hanya ingin aya terus hidup.

Sebagai sosok adik kecilnya.

Dan mungkin karena itulah, kepergiannya meninggalkan lubang besar yang tak pernah benar-benar bisa ditambal. 

Bukan semata karena Arjuna adalah kakaknya. Bukan pula karena mereka tumbuh bersama sejak kecil.

Melainkan karena tanpa pernah disadari, Aya bergantung pada Arjuna lebih dari apapun. Arjuna telah mengambil peran yang bahkan tak mampu diisi oleh orang lain.

Sebagai sosok pengganti dari orang yang selama ini tak benar-benar terasa dekat baginya - Ayahnya.

Sosok yang selama ini mengajarinya mengikat tali sepatu ketika ia masih terlalu kecil 'tuk melakukannya sendiri.

Sosok yang sama menggendongnya pulang ketika lututnya berdarah akibat jatuh dari sepeda.

Arjuna, sesosok kakak yang berdiri paling depan setiap kali dunia terasa terlalu besar 'tuk dihadapi sendiri.

Maka ketika Arjuna pergi bersama dengan selesainya misi terakhirnya, Aya kehilangan segalanya.

Arah.

Patokan.

Rumah.

Dan selama ini, dirinya selalu berjalan dengan pertanyaan yang tak pernah benar-benar dapat terucap.

'Apakah ia sudah menjadi sosok yang layak bersanding bersama kakaknya?'

Hari ini, pertanyaan itu tak lagi terasa penting.

Karena ia telah menemukan jawabannya.

Kau melangkah lebih jauh daripada yang bisa kulakukan.

Aya tersenyum kecil.

Akhirnya ia dapat mengerti.

Bahwa Arjuna hanya ingin ia 'tuk tetap hidup.

Dan Aya telah melakukannya.

Bertahun-tahun lamanya.

Selangkah demi selangkah.

Untuk dirinya sendiri,

Untuk orang-orang yang masih tertinggal,

dan untuk orang-orang yang tak sempat melangkah sejauh itu.