Actions

Work Header

Meerkat Kecil dan Kakak-Kakak Raksasa

Summary:

Namaku Kyungmin. Kata Mama, umurku baru lima jari. Aku belum boleh sekolah, belum boleh main bola keranjang yang memantul, dan belum boleh punya pacar. Tapi tidak apa-apa, karena tugasku setiap hari adalah menjadi pengamat paling hebat di kompleks rumah ini!

Notes:

Mari selami dunia yang besar dan penuh rasa penasaran melalui mata bulat Kyungmin yang berusia lima tahun. Selamat membaca!

Chapter 1: I. Lima Jari, Susu Pisang, dan Dua Sisi Pagar

Chapter Text

Namaku Kyungmin.

 

Kata Mama, umurku sekarang adalah sejumput penuh. Maksudnya, kalau aku mengangkat tangan kiriku tinggi-tinggi ke udara, semua jariku harus berdiri tegak. Jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking. Semuanya lima. Lima jari!

 

Dunia ini rasanya sangat besar sekali, dan aku sangat, sangat kecil. Di rumah ini, aku adalah anak tunggal. Artinya, aku tidak punya kakak atau adik yang tinggal di kamar sebelah. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terang dan burung-burung masih mengantuk, Papa dan Mama sudah rapi. Mereka memakai baju yang wangi, sepatu yang mengkilap, dan membawa tas kerja mereka.

 

Lalu, di mana aku? Aku duduk di teras depan, ditemani oleh Mbak. Mbak adalah orang dewasa yang baik hati yang selalu memberiku makan siang, menemaniku tidur siang, dan menyeka mulutku kalau aku makan es krim sampai belepotan. Mbak selalu ada karena Mama dan Papa harus pergi ke gedung besar yang namanya kantor. Aku tidak tahu kantor itu apa, tapi sepertinya tempat itu suka mengambil Mama dan Papaku sampai matahari tenggelam.

 

Tapi tidak apa-apa! Karena setiap pagi, sebelum mobil Papa keluar dari garasi, Mama pasti menaruh sebuah kotak kuning kecil di tanganku.

 

Kotak susu pisang!

 

Slurrp.

 

Susunya dingin, manis, dan rasanya membuat perutku berdansa. Sambil menyesap susu pisang dari sedotan kecil bergaris merah, aku berdiri di balik pagar besi rumahku. Papa bilang, kalau aku sedang berdiri di sana sambil menengok ke kanan dan ke kiri, aku mirip sekali dengan meerkat. Meerkat itu hewan kecil berbulu yang suka berdiri tegak untuk melihat-lihat keadaan. Aku suka disebut meerkat, karena aku memang sedang menjalankan misi penting: mengamati tetanggaku.

 

Rumahku ada di tengah-tengah. Kalau aku menengok ke sebelah kanan, aku bisa melihat rumah Kak Junghwan.

 

Kak Junghwan itu raksasa yang sangat lembut. Umurnya sangat banyak! Aku pernah mencoba menghitung umur Kak Junghwan menggunakan jari tanganku, lalu kutambah jari tangan Mbak, tapi tetap saja tidak cukup. Kak Junghwan itu besar dan tinggi, tapi dia tidak pernah bersuara keras. Setiap pagi, dia pasti keluar dari rumahnya dengan tas ransel besar.

 

Anehnya, Kak Junghwan tidak memakai seragam. Kadang dia memakai kemeja kotak-kotak, kadang dia memakai jaket tebal yang terlihat empuk seperti bantal tidurku. Kata Mama, itu namanya kuliah. Kuliah itu sekolah untuk orang yang umurnya sudah tidak bisa dihitung dengan jari. Aku juga mau kuliah seperti Kak Junghwan supaya aku bisa memakai baju warna-warni setiap hari!

 

"Pagi, Kyungmin," sapa Kak Junghwan kalau dia melihatku di balik pagar. Suaranya empuk, selembut awan. Dia selalu tersenyum sampai matanya melengkung seperti bulan sabit.

 

Kadang-kadang, kalau hari sedang libur, Kak Junghwan suka mengeluarkan motor besarnya yang suaranya berbunyi vroom vroom. Lalu, dia akan meminta izin pada Mbak untuk mengajakku pergi ke toko di depan kompleks. Aku akan duduk di depan, dipakaikan helm yang kebesaran sampai merosot ke mataku, lalu Kak Junghwan membelikanku susu pisang yang banyak! Kak Junghwan adalah tetangga sebelah kanan yang paling hebat di seluruh dunia.

 

Tapi, tunggu dulu. Coba tengok ke sebelah kiri.

 

Di sebelah kiri rumahku, ada rumah Kak Dohoon.

 

Kak Dohoon ini sangat berbeda dengan Kak Junghwan. Kalau Kak Junghwan seperti awan yang tenang, Kak Dohoon itu seperti kembang api yang meledak-ledak! Umur Kak Dohoon juga banyak, tapi kata Papa, umur Kak Junghwan masih lebih banyak sedikit. Kak Dohoon berangkat sekolah memakai seragam putih abu-abu yang rapi.

 

Kak Dohoon juga baik, tapi... dia sangat usil!

 

"Cil, ngapain di situ? Kayak cicak nemplok di pagar," goda Kak Dohoon suatu pagi, sambil mencubit pipiku dari sela-sela pagar. Cubitannya pelan, tapi jarinya suka menarik-narik pipiku ke kanan dan ke kiri seperti sedang membuat adonan donat.

 

"Awdaaw! Jangan tarik-tarik!" Aku protes, sedotanku sampai lepas dari mulutku. Tapi Kak Dohoon malah tertawa terbahak-bahak. Kalau dia sudah mulai menggodaku sampai memegang kedua pipiku dan mencium pucuk kepalaku sambil menggeram gemas, biasanya mataku akan terasa panas. Lalu air mata keluar.

 

"Huweeeeee!"

 

Kalau aku sudah menangis, Kak Dohoon akan buru-buru membuka pagar, menggendongku tinggi-tinggi ke udara, dan menerbangkanku seperti pesawat terbang. "Wuuusss! Pesawat Kyungmin terbang! Jangan nangis dong, kapten, nanti pesawatnya jatuh!" serunya. Kalau sudah begitu, aku pasti tertawa lagi. Kak Dohoon wangi matahari dan keringat yang bersih.

 

Sore harinya, aku sangat suka menonton Kak Dohoon dari balik pagar. Dia punya bola keranjang berwarna jingga.

 

Duk, duk, duk! Syuut!

 

Bola itu dilempar dan masuk ke dalam keranjang besi di halaman rumahnya. Aku suka melihatnya. Rasanya keren sekali! Aku pernah bilang pada Papa, "Papa, Kyungmin mau main bola jingga yang memantul seperti Kak Dohoon!"

 

Tapi Papa hanya tertawa dan mengacak-acak rambutku. "Nanti ya, Sayang. Kyungmin masih terlalu kecil. Tangan Kyungmin belum muat memegang bolanya."

 

Uh! Semuanya selalu beralasan aku masih kecil. Padahal aku sudah lima jari!

 

Meski begitu, menjadi kecil tidak terlalu buruk. Soalnya, Mama dan Papa tidak pernah lupa membawakanku susu pisang sepulang mereka bekerja. Selain itu, menjadi kecil membuatku sering diberi hadiah oleh teman-teman kakak tetanggaku.

 

Kadang-kadang, Kak Junghwan pulang kuliah membawa temannya. Namanya Kak Youngjae. Kami pernah berkenalan waktu Kak Youngjae membawakan sekotak donat stroberi ke rumahku. Kak Youngjae itu orangnya sangat halus, lebih halus dari selimut buluku. Kalau dia mendekat, hidungku bisa mencium wangi yang sangat manis. Wanginya persis seperti buah semangka merah yang sangat berair yang biasa dipotong Mama di musim panas. Segar dan manis! Kak Youngjae suka tersenyum dan... tebak apa? Dia juga sering diam-diam memberiku susu pisang tambahan dari kantong plastiknya.

 

Di sisi lain, Kak Dohoon juga kadang membawa temannya ke rumah sebelah kiri. Namanya Kak Hanjin.

 

Waktu pertama kali melihat Kak Hanjin, mataku sampai tidak mau berkedip. Kak Hanjin, dia sangat cantik. Kulitnya seputih susu vanila, matanya besar dan berbinar-binar seperti bintang yang kutempel di langit-langit kamarku. Dia terlihat seperti pangeran atau peri dari buku dongeng bergambar yang sering dibacakan Mama sebelum tidur.

 

"Ini siapa, Kak Dohoon?" tanyaku saat itu, sambil menunjuk Kak Hanjin yang sedang memegang gelas es sirup.

 

Kak Dohoon tersenyum lebar sekali, matanya menatap Kak Hanjin dengan tatapan yang aneh—seperti tatapan saat aku melihat cokelat. "Ini pacarnya Kak Dohoon, Kyungmin," jawabnya.

 

Aku mengerutkan dahi. Pacar?

 

Kata itu terdengar asing di telingaku. Aku memiringkan kepalaku. "Pacar itu apa? Makanan? Atau mainan robot baru?"

 

Kak Dohoon dan Kak Hanjin tertawa bersamaan. Kak Hanjin bahkan menutupi mulutnya dengan tangan, wajahnya menjadi sedikit merah jambu. "Bukan, Kyungmin. Kak Dohoon ini memang suka mengarang," kata Kak Hanjin dengan suara yang merdu.

 

Kak Dohoon tidak mau menjelaskan apa itu pacar. Dia hanya menjulurkan lidah ke arahku dan kembali mengobrol dengan Kak Hanjin. Malamnya, aku bertanya pada Mama saat Mama sedang membantuku memakai piyama tidur bergambar dinosaurus.

 

"Mama, pacar itu apa? Kata Kak Dohoon, Kak Hanjin itu pacarnya."

 

Mama terlihat sedikit kaget, lalu tersenyum menahan tawa. "Pacar itu... sama seperti teman istimewa, Sayang."

 

"Teman? Kyungmin mau punya pacar! Kyungmin mau main bola jingga sama pacar!" seruku semangat. Kalau pacar itu teman, berarti aku bisa mengajaknya main puzzle dan balok susun bersama!

 

Tapi Mama menggeleng pelan dan mengetuk ujung hidungku dengan telunjuknya. Boop. "Kyungmin belum boleh punya pacar. Kyungmin hanya boleh punya teman saja. Umur Kyungmin masih lima jari, masih terlalu kecil."

 

Aku cemberut, menyilangkan kedua tangan di depan dada. Ini sungguh tidak adil! Kenapa pacar dan teman dibedakan kalau kata Mama artinya sama saja? Dan kenapa semuanya dilarang dengan alasan masih terlalu kecil?

 

Dunia orang dewasa, dengan segala kuliah, bola keranjang raksasa, dan teman istimewa bernama pacar ini, sungguh sangat membingungkan untuk anak umur lima jari sepertiku.

 

Tapi tidak apa-apa. Besok pagi, aku akan kembali berdiri di balik pagar dengan susu pisangku. Aku akan menjadi meerkat kecil yang mengawasi rahasia-rahasia Kak Junghwan yang wangi awan, Kak Youngjae yang wangi semangka, Kak Dohoon yang usil, dan Kak Hanjin yang cantik. Suatu hari nanti, aku pasti akan memecahkan misteri besar ini!