Actions

Work Header

In a Beautiful Way

Summary:

Juhoon yakin semua orang yang mencintainya akan terluka. Tidak terkecuali untuk Keonho, anaknya, hanya saja putranya tetap mencintai Juhoon. Sedangkan Martin, ia tetap di sana, menemani Juhoon dan menjaga mereka berdua.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:


Juhoon masih sibuk dengan komputer yang menyala sebelum suara ketukkan terdengar samar. "Kak Juhoon," Panggilan itu terdengar takut-takut. Martin menampilkan wajahnya di pintu yang terbuka, Juhoon menatap malas suaminya yang menerima pernikahan mereka.

"Apa?" Tanya Juhoon, melirik jam yang sudah menunjukkan tengah malam. "Anak kita mau sama Bundanya." Martin merasakan suaranya yang melemah, ia dapat melihat Juhoon yang menegang dibalik meja tersebut.

Juhoon menggigit bibirnya. "Bukan anak aku." 

Pernikahannya dengan Martin adalah sebuah perjodohan. Perbedaan umur yang tidak begitu jauh menjadikan Juhoon tidak nenyukai Martin, ia tidak mau menikah, tetapi Martin yang bodoh justru nenyetujuinya. Selama tiga tahun, Juhoon berhasil tidak tidur dengan Martin, ia menghindar dan terus menghindar, sampai suatu malam di saat Juhoon makan malam perusahaan, kejadian itu muncul. Kejadian yang menghadirkan sebuah anak tanpa persetujuan mereka.

Juhoon sempat ingin gugurkan, tetapi Martin memohon untuk tidak melakukan. Mengatakan setelah anak itu lahir, dirinya lah yang akan merawat Keonho. 

Suara tangisan bayi yang berusia empat bulan terdengar memekakkan telinga. Keonho menangis di gendongan Martin yang sekarang menimang-nimang. Bahkan anak itu belum bisa mengucapkan kata-kata, lantas bagaimana Martin mengetahui bahwa Keonho membutuhkannya? Bunda? Ia adalah laki-laki.

"Bisa luangkan waktu sebentar? Agar Keonho baik-baik saja. Hanya sampai dia tertidur." Martin masih dalam posisinya, berada di ambang pintu, tidak berani sepenuhnya memasuki ruang pribadi Juhoon. 

Juhoon mencoba mengetik di laptopnya, memastikan laporan untuk dua hari kemudian sudah rapih. Hanya saja, mendengar tangisan Keonho yang tidak kunjung reda membuat hatinya resah. Selama ini, semenjak kelahiran Keonho—Juhoon meminta agar dipisahkan oleh Keonho selesainya operasi—ia tidak pernah menggendong Keonho setiap hari.

Juhoon berdiri, menghampiri Martin dan Keonho yang wajahnya sudah memerah. "Terima kasih," Ujar Martin lembut, memberikan Keonho kepada gendongan Juhoon yang kaku. 

Ajaibnya, perlahan-lahan tangisan itu mereda. Digantikan dengan kepala Keonho yang mencari kenyamanan di dada Juhoon. 

Melihat Keonho dengan napasnya yang sudah terarah, Juhoon merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Keonho begitu kecil dipelukkannya, begitu rapuh. Selama beberapa menit di ruangan yang remang, Juhoon menggendong Keonho dan Martin yang melihat hal tersebut, Juhoon segera tersadar. "Sudah," Suaranya tercekat, tertahan ditenggorakannya yang kering. Martin langsung mengambil alih, Keonho sempat tersentak dan hampir menangis, tetapi segera tenang.

Martin tersenyum hangat kepada Juhoon yang hanya diam. "Maaf sudah mengganggu waktumu, Kak." Martin segera berlalu pergi. Meninggalkan Juhoon dengan kedinginan di ruang kerjanya yang begitu bersih.


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari di saat Juhoon terdiam memandangi kamar Keonho dan Martin yang mungkin sudah tertidur nyenyak. Kemarin, Keonho menangis keras dan Juhoon tidak mengerti apa yang membuat bayi menangis di malam hari, hanya saja itu tidak sampai semenit sampai kamar tersebut senyap kembali.

Egonya memaksa Juhoon untuk melangkah memasuki kamarnya sendiri. Tetapi, kakinya begitu sulit digerakkan, tangannya terangkat, mungkin sisi yang selalu ia sembunyikan selama satu tahun ini tidak bisa menunggu lebih lama lagi—nalurinya sebagai seorang Ibu, sebagai seseorang yang membawa Keonho di dalam perutnya selama sembilan bulan—yang tersembunyi hendak keluar. 

"Menyebalkan, seharusnya aku angkat saja saat mengetahuinya." Suaranya menggema di pikirannya sendiri, ini adalah tentang dirinya yang seorang pria carrier, pria yang dapat mengandung dan membuat pemerintah melegalkan pernikahan sesama jenis. Seharusnya, di saat ia mengetahui hal tersebut, Juhoon langsung mengangkat rahimnya. Tapi, ia tidak tau apa yang ada dipikiran Kim Juhoon saat itu.

Maka, dengan berat hati. Juhoon kembali menang, ia kembali di kamarnya dengan susah payah. 

Di kamarnya, Juhoon segera menghirum udara dengan rakus. Tidak, seharusnya tidak seperti ini, seharusnya ia tetap menjadi Juhoon yang biasa saja. Juhoon yang kalau ada orang di rumah, selalu beranggapan bahwa ia sendirian. 

Lihatkan, Juhoon?! Karena kamu yang tidak mau mengerti, sekarang Ayahmu berada di rumah sakit melawan maut! Suara itu seperti menertawakan Juhoon yang bersandar pada pintu kamarnya. Tangannya sudah menutupi telinga sekuat tenaga, bibirnya bahkan sudah digigit berharap suara tersebut menghilang. Tetapi, itu tidak kunjung pergi sampai akhirnya Juhoon tertidur dalam posisi kaki yang di dekatkan kepada dada dan kepala yang diletakkan di antara kedua kaki tersebut.

Juhoon terbangun karena suara berisik dari luar. Mungkin itu Martin yang mencoba memasak sarapan karena Keonho yang tidak mau ditinggal. 

"Keonho-ya, sebentar, ya? Kita tidak bisa memanggil Bunda. Sama Ayah dulu, ya, sekarang?" Suara Martin yang tenang sedikit lebih keras, Keonho di letakkan di kasur bayi yang terpaksa Martin taruh di dekat meja makan yang dekat dengan kamar Juhoon.

Juhoon berdiri, ia berlari ke kamar mandi untuk membasuh muka. Saat ia bertelanjang dada, luka operasinya mengintip di balik celana. Juhoon melihatnya, itu adalah bukti bahwa memang dirinyalah yang melahirkan Keonho. Kim Juhoon! Semenjak aku dekat denganmu, aku selalu sial, bajingan! Juhoon memiringkan kepalanya kecil, itu adalah suara temannya dulu yang begitu dekat dengan Juhoon. 

Suara-suara yang muncul, yang membatasi dirinya bersama orang-orang yang mungkin—walaupun kecil—memang menyayanginya.


Juhoon keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapih untuk ke kantor. Hari ini ada rapat penting, ia harus buru-buru. Lalu, suara tawa anak kecil menghentikannya tanpa permisi. 

"Keonho ku sudah bisa tertawa, yaa?" Dilanjutkan dengan tawa Martin yang ringan. 

Satu detik, Juhoon ingin itu bertahan lebih lama. Tetapi yang ia dapati justru dirinya yang sekarang duduk di kursi pengemudi dengan posisi tangannya yang sudah berada di stir dan mobil yang sudah menyala. 

Juhoon pulang ke rumah di saat bulan sudah memancarkan sinarnya yang begitu terang, berbanding terbalik dengan rumahnya yang sepi. Sampai akhirnya suara langkah kaki di belakang dirinya berhenti, "Kamu baru pulang?" Itu adalah suara Martin. 

Juhoon langsung menjauh, menggeser dirinya agar tidak menghalangi langkah Martin yang sekarang menggendong Keonho yang sedang meminum susu di botol. Tangan Keonho yang kecil menahan botol tersebut agar tidak terjatuh, matanya terpejam dan sesekali terbuka. Lalu, Keonho melepaskan mulut pada dot tersebut, wajahnya menengok kepada Juhoon dan ia tertawa lebar. Keonho itu kecil, tetapi berat badannya ideal. 

Juhoon langsung membuang muka. "Bisa singkirkan dia? Atau, jauhkan dia dari diriku."

Martin mendekap Keonho dengan keras, "Jangan katakan hal itu di depan anakku. Apa kamu tidak merasakan naluri seorang Ibu? Atau paling tidak, jika kamu tidak punya naluri seorang Ibu, gunakan kedekatan yang kamu rasakan selama sembilan bulan." Martin membalasnya dengan tegas, tidak ingin Keonho mendengar kata-kata yang tidak pantas didengar.

Juhoon mengedipkan matanya tidak percaya. Sejak kapan Martin peduli dengan ucapannya?

"Aku tidak peduli jika kamu mengatakannya saat hanya ada kita berdua! Tapi di sini sudah ada anak yang kamu lahirkan!" 

Juhoon merasakan dagunya yang mengeras. Ia terkekeh meledek. "AKU TIDAK MAU MELAHIRKANNYA! Kamu yang memohon seperti orang gila! Kamu yang menyiksaku dengan kehadirannya!"

"—Keonho, namanya Keonho." Potong Martin cepat. 

"Aku tidak peduli! Aku membenci anak itu." Final Juhoon, ia berlari ke kamarnya. Keonho digendongan Martin menangis kencang, mungkin suara Juhoon yang berteriak begitu mengganggu, atau Keonho mengetahui bahwa Bundanya sedang tidak baik-baik saja. 

Martin yang lelah menimang-nimang Keonho perlahan. "Keonho jangan marah sama Bunda, ya. Mungkin Bunda lagi lelah." Martin mencoba pengertian Keonho.

Di dalam kamar Juhoon yang luas, ia teringat dirinya yang berusaha mendekat. Saat itu, umur Keonho mungkin masih beberapa hari. Juhoon dengan suara langkahnya yang sunyi mengendap-endap memasuki kamar Keonho. Juhoon mendekat, begitu dekat sampai bisa menghirup aroma bayi yang menguar dari tubuh anaknya. Juhoon menangis, ia yakin ia menangis, tapi itu bukanlah kesedihan. Tangan Keonho yang kecil mencoba menggapai jemari Juhoon yang besar dan dingin. 

Saat itu, Juhoon mungkin bisa memulainya. Bisa mendekatkan dirinya kepada Keonho dan Martin. 

Tapi, mimpi indah itu hanya sesaat. Di pagi hari saat Juhoon terbangun, Martin keluar kamar Keonho dengan tergesa-gesa dengan posisi baju yang berisikan muntahan Keonho. 

Kau membuat anakmu sendiri dalam bahaya. Apakah kamu pantas dikatakan sebagai Ibunya? Suara itu kembali muncul, lebih ganas, lebih menyakitkan bagi Juhoon. Beberapa jam setelah ke rumah sakit, Martin menghampiri Juhoon yang menunggu mereka di sofa. "Tidak ingin melihat Keonho?" Tawarnya lembut.

Jika kamu menghampirinya, itu akan jadi malapetaka. Lagi dan lagi, itu muncul. "Tidak. Apa dia hidup?" Juhoon bermaksud bahwa ia ingin memastikan anaknya baik-baik saja tanpa harus mendekat. Tapi, sepertinya yang ditangkap Martin berbeda. 

"Apa kamu menginginkan anak kita tidak selamat?" Pertanyaan itu terdengar menyakitkan untuk mereka berdua. Juhoon hendak menggeleng, bukan itu. Tidak seperti itu.

Martin menunggunya, tapi tidak mendapatkan jawaban. "Aku pikir itu mudah, bahwa aku bisa mengurusnya sendiri. Tapi ternyata seorang anak jauh lebih ajaib karena merasakan kedekatan yang tidak aku mengerti." Martin berbicara lebih jauh. "Jadi, itu tidak seperti yang aku pikirkan, benar?"

Juhoon menyeringai, "Kalau memang seperti yang kamu pikirkan? Bagaimana?" 

"Maka jangan memperlihatkannya kepada Keonho nanti secara langsung." Martin berkata pelan, menunduk sebentar sebelum akhirnya menghilang menghampiri Keonho kembali.


Satu bulan berlalu dengan cepat.

Juhoon seperti biasanya, tidak peduli akan kehadiran Keonho. Jika itu dari sudut pandang Martin. Berbeda dengan Juhoon yang sekarang berada di ruang kerjanya bersamaan dengan tumbukan berkas memuakkan, ia melihat foto-foto Keonho yang diposting oleh Martin. Senyuman tipis terbit, matanya menghangat setiap kali menggeser foto Keonho yang semakin gede. 

Keonho mengangkat tangannya kepada Martin yang mendokumentasikan hal tersebut, mulutnya terbuka lebar. "A! Aeung!" Jemarinya yang kecil mencoba menggapai kamera Martin. Suara Martin yang tertawa untuk menanggapi perlakuan Keonho membuat Juhoon tersentak.

Martin menepati janjinya. Merawat Keonho, menjauhkan Keonho darinya yang berbahaya. Bahkan, tidak menuntut permintaan maaf darinya di saat kehadiran Keonho merupakan kesalahan fatal dari Juhoon yang mabuk. Ia tau, Martin bahkan mencoba untuk mengunci dirinya jika Juhoon tidak menangis dan meraung. 

"Keonho-yaa!" Panggil Martin saat mata Keonho fokus pada hal lain. "Pippi!" Suara kecil itu berceloteh dengan tangan dan tubuh yang dipaksakan bergerang menuju satu arah. 

"Keonho ku mau itu, oke-oke." Video berakhir. Itu video terbaru. Tetapi, mungkin itu kejadian beberapa hari yang lalu karena sekarang mereka sedang di kamar, sedangkan video tersebut di siang hari.

Berbeda dengan kegiatan Martin yang sekarang memegang bingkai foto. Keonho tengkurap dengan kepala yang diangkat melihat foto Juhoon yang tidak tersenyum, sorot matanya tajam. Jari telunjuknya menunjuk foto tersebut, "Pip-pi!" Ujarnya. 

Martin mengajari Keonho bahwa Juhoon tidak suka jika dipanggil Bunda. Maka, Martin mengajukan panggilan lain agar Keonho tetap mengenal Juhoon sebagai orang tuanya. Keonho terdiam, lalu beberapa detik kemudian tertawa khas anak bayi yang melihat hal bahagia. "Pip-pi!"

Martin tersenyum kaku. Merasa bersalah kepada Keonho yang terpaksa dipisahkan dari Juhoon. "Iya. Papi lagi sibuk sekarang, jadi Keonho sama Ayah dulu. Nanti kalau Papi udah ngga sibuk, bisa main sama Papi." Martin merasakan tenggorokannya yang tercekat karena terus-terusan berbohong. "Sekarang waktunya tidur!" Ia mengangkat pelan tubuh Keonho. 

"Udah makin gede, ya." Ia mendengus kecil, merasa senang sekaligus sedih.


Martin melihat Juhoon yang seperti enggan memasuki kamar. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia sering melihat Juhoon di sekitarnya, seperti sekarang, ia dan Keonho berada di halaman belakang, karena tipe rumah mereka satu lantai dan dinding belakang hampir sepenuhnya kaca, dapat memperlihatkan Juhoon yang diam di depan pintu. 

Keonho berada di gendongannya, sedang tertidur dengan botol yang menemani. 

Martin mengeryit, mencoba memposisikan Juhoon sekarang yang sungguh membingungkan. Lalu, kepalanya menatap Keonho yang terlelap. Kemudian, dengan hati-hati Martin berdiri. Tangannya menidurkan Keonho di kursi yang panjang, mencoba tidak membuat pergerakkan yang mampu membangunkan Keonho.

Lima menit, Martin akan membiarkan Keonho tertidur sendirian di luar. Kakinya melangkah keluar rumah tanpa rasa bersalah. Membiarkan kedekatan itu akam tetap bersifat alami. Juhoon melihatnya dari ujung mata. Apakah Martin akan meninggalkan Keonho sendirian yang sedang tertidur lelap?! Bagaimana jika ada bahaya?!

Juhoon menggigit bibirnya gelisah. Benar, ia melakukan ini karena rasa kemanusiaan, tidak ada sangkutpautnya dengan Keonho sebagai anaknya. Jadi, dengan rasa khawatir Juhoon berlari kecil menuju Keonho yang sekarang sudah membuka mata.

Juhoon memberhentikan dirinya lima langkah dari kursi yang ditiduri oleh Keonho. Ia mengamati bagaimana tubuh kecil itu mencoba berbalik. Posisi kursi yang kecil membuat Keonho akan dalam bahaya. Tangannya mencoba menggapai Juhoon yang hanya diam, mulutnya terbuka dengan air liur yang menetes. "Pip-pi," Panggil Keonho berantakkan. 

Juhoon mencoba mencari orang, mungkin Martin sudah kembali. Tapi, itu kosong, hanya ada dirinya dan Keonho. Bayi itu kembali mencoba lebih keras untung tengkurap, bahkan Juhoon sudah maju dua langkah karena khawatir jika Keonho akan terjatuh. Sebenarnya, Keonho berada di tengah, sekali tengkurap tidak masalah, tetapi pada dasarnya Juhoon tidak begitu memperdulikan perkembangan anak. Keonho berjalan menggunakan perutnya kepada Juhoon. 

"—Ppi." Panggil Keonho, sedikit lebih cepat menggunakan perut. 

Kau akan membahayakannya! Cepat pergi dari sini! Pikiran itu muncul, mata Juhoon memanas. Bagaimana bisa ia pergi di saat Keonho dengan badannya mencoba menggapai Juhoon yang seperti orang gila karena hanya diam saja? 

Kepala Keonho sudah tidak ada di garis kursi. Jika dadanya sudah keluar, mungkin anak itu akan benar-benar terjatuh. Juhoon merasakan tubuhnya yang gemetar, matanya memanas, kakinya bahkan sudah mundur dua sentimeter. Di depannya, Keonho masih mencoba dengan mulut yang terbuka dan air liur menetes lebih banyak memanggil Juhoon untuk menggendongnya. 

Tiga langkah di belakang Juhoon, ada Martin yang mengamat pergerakan Keonho. Jika sampai dada Keonho keluar dari garis, maka Martin akan menangkapnya dan segera menjauhkan mereka. Apalagi sewaktu melihat Juhoon yang bergerak mundur. 

Bagi Juhoon, waktu berjalan begitu lambat. Perasaan hancurnya saat menemukan garis dua, perasaan senangnya saat ia melihat foto Keonho sewaktu masih di dalam dirinya, atau rasa gugupnya yang tidak dapat dikatakan dengan apapun saat rasa sakit di perutnya dan ruang operasi yang dingin. Perasaan sakitnya... hanya agar tidak membahayakan Keonho karena Juhoon begitu terkutuk membuatnya sulit bergerak. 

Tetapi sekarang, Keonho mempercayainya. Bagaimana jika... sekarang adalah kesempatan yang selalu ia cari? Apa Juhoon sanggup menerimanya? 

Tepat sebelum Keonho terjatuh, Juhoon terlebih dahulu menangkapnya. Mendekapkan Keonho ke dalam pelukkan yang selalu ia dambakkan. "—Ppi," Panggil Keonho lemah.

Tanpa sadar, Juhoon mengelus dada Keonho, merapikan bajunya yang berantakkan. Lalu, seakan tersadar bahwa dirinya tidak bisa berlama-lama di tempatnya, Juhoon menyamakan diri mereka pada kursi. Saat hendak menjauhkan Keonho dari dirinya, jari-jari kecil itu mencengkram baju Juhoon erat-erat, wajahnya bahkan sudah menunjukkan bahwa ia akan menangis. Apakah Keonho sadar bahwa hal itu bisa membuatnya rumit? 

"Maaf, aku tidak bisa terlalu dekat dengan mu." Juhoon berujar sedih, "Aku tidak ingin membahayakanmu." Katanya pelan yang dapat ditangkap oleh Martin. 

"Kau tidak berbahaya." Sahut Martin cepat. Ia tidak akan mengatakan bahwa Keonho membutuhkan Papinya, mungkin itu akan membebani Juhoon jika ia yang mengatakannya. Juhoon sendiri menegang sempurna, ia tidak sadar bahwa Martin melihatnya. 

"Kamu tidak tau apapun," Balas Juhoon, perkataan Martin memberikannya harapan yang sia-sia.

Martin melihat Keonho yang menatapnya, melihat punggung Juhoon yang lelah. "Karena kamu tidak terbuka, bagaimana aku bisa tau? Kita sudah hampir empat tahun bersama. Jika hanya aku yang berusaha, itu akan sia-sia."

Juhoon pada akhirnya memilih melihat Martin. Selama tiga tahun ini, ia tidak pernah memperhatikan Martin bergitu seksama. Ini adalah pertama kalinya, karena Juhoon akan memilih untuk membuang muka, atau bahkan pergi langsung jika ada Martin. Kepala Keonho di letakkan pada bahu Juhoon, bahkan jari-jari kecilnya sudah hampir memasuki mulut jika Juhoon tidak memegangnya.

"Ini demi kebaikan anak ini." 

Martin terkekeh, "Bahkan kamu ngga pernah deket sama Keonho. Gimana kamu bisa tau kebaikan buat Keonho?" Martin melihat Juhoon dengan tatapannya yang menyakitkan. 

Juhoon sendiri merasa terpojok, benar, ia bahkan tidak dekat dengan Keonho. Lantas bagaimana bisa Juhoon berpikir seperti itu? Tapi... ini semua memang demi kebaikan Keonho, bagaimana jika Keonho terluka atau sakit jika berada di dekat Juhoon? Bagaimana jika... jika itu terjadi lagi? 

"Aku ngga bisa," Walaupun begitu, tangannya yang memegang Keonho memeluk erat. Mungkin Keonho melihat pemandangan belakang rumahnya yang tidak begitu spesial. 

Martin mengamati hal tersebut. "Aku ngga ngerti, kamu ngga mau buat aku ngerti. Selama ini aku diam bukan karena aku selalu nerima perlakuan kamu, aku tau aku salah malam itu karena ngga bisa nahan diri aku. Aku juga udah coba untuk nepatin janji aku untuk pisahin kamu dari Keonho. Tapi, Keonho anak kamu, dia butuh kamu, dan aku minta maaf karena langgar janji aku. Aku cuman mau kamu kasih alasan ke aku, supaya kalau Keonho nanyain Papinya... aku ngga perlu bohong."

Juhoon diam.

Ia lebih memilih diam. Membiarkan Martin dengan spekulasinya sendiri. 

Keonho memutar kepalanya, lalu ketika ia nelihat Martin, Keonho membuka mulut dengan tangan yang mencoba menggapai Martin. Hal itu membuat Juhoon memberikan Keonho, ia melihat Keonho hangat setelah sekian lama. Ah, bagaimanapun kehidupan Keonho dimulai bersama Martin. 

"Kamu bisa bilang ke dia kalau aku orang lain." Juhoon menggigit pipi dalamnya merasa sesak, ia lebih memilih mundur. Mata Martin menatapnya tidak percaya. 

"Kamu tau 'kan yang kamu bilang barusan?" Suaranya tercekat, bagaimana bisa Juhoon mengatakan hal yang begitu menyakitkan?

Juhoon tidak membalas, ia memilih untuk pergi dari mereka berdua. Hatinya terasa sesak dan berat, tetapi untuk menangis saja ia tidak pantas. Ini adalah hidupnya, seperti yang Ibunya katakan bahwa Juhoon tidak boleh dekat dengan siapapun. Perjodohan mereka pun karena nenek Martin yang ditolong oleh Juhoon selama beberapa bulan dekat. Lantas, hal apa yang bisa sebut cinta dari mereka berdua?


"Kak Juhoon," Panggil Martin cepat di saat Juhoon sedang mengambil minum. Juhoon melihatnya, Martin hanya menggunakam celana pendek dengan baju putih polos yang sedikit berantakkan. Apakah perkataannya di siang hari dianggap angin lalu oleh Martin?

Martin memegang gagang pintu yang terbuka sedikit, sesekali wajahnya melihat ke dalam. Mengawasi Keonho yang sedang tertidur di atas kasur dengan posisi telentang. "Tidak ingin... sekali saja tidur bersama Keonho? Aku mau Keonho punya kenangan tentangmu." Martin berkata pelan, mungkin sebentar lagi hubungan mereka akan semakin renggang, dan mungkin, Juhoon pada akhirnya akan memilih untuk bercerai. Toh, nenek Martin sudah tidak ada untuk mengikat janji mereka berdua.

Juhoon menggenggam gelasnya, ia melihat air yang tenang, cahaya lampur berpendar di sana. Kenangan tentangnya... bahkan memori Keonho belum sempurna untuk mengingat hari ini. 

"Martin," Panggil Juhoon, membiarkan panggilan itu sedikit berat.

Martin menunggu.

"Sejak awal ada Keonho, aku sudah memutuskan. Aku tidak bisa, aku takut kalau aku mendekat... anak kita... mungkin dalam bahaya." Juhoon menunduk, ingatan-ingatan itu muncul kembali, suara-suara menyeramkan dari dalam dirinya naik ke permukaan menghantui Juhoon. Keonho yang dilarikan ke rumah sakit usai Juhoon mendekat, dokter yang menggunakan alat pacu jantung ke Ayahnya usai Ayahnya ingin menjemput Juhoon, atau... Ibunya yang membenci Juhoon dan mencoba untuk mencintainya kembali... tergeletak di depannya bersimbah darah usai mereka... habis tertawa bersama.

Juhoon mengambil napas berat, ia tidak bisa menangis. Air matanya mungkin sudah habis setelah malam itu ia menyalahkan diri sendiri. 

"Keonho akan aman jika tidak ada aku." Juhoon meletakkan gelasnya di westafel, ingin menuju kamar, tetapi lengannya digenggam oleh Martin erat. Pintu kamar Keonho dibiarkan terbuka, Juhoon melihat Keonho yang bernapas teratur, anak itu tidut dengan nyaman. 

"Aku tidak tau alasan apa yang sebenarnya terkait kamu menjauhi Keonho akan aman. Tapi, apapun itu... aku mohon untuk membuktikan bahwa hal itu salah. Lalu, jika memang benar, aku terima keputusanmu nanti. Jadi, biarkan malam ini Keonho tidur bersama Papinya." Martin berujar lembut tidak menghakimi Juhoon.

"Tolong... buktikan bahwa pemikiran dan alasanmu salah. Jika bukan untukmu, maka untuk Keonho." Martin tau, bahwa Juhoon berhak untuk menolak ataupun marah, ia akan menerimanya selagi dirinya masih mau mencoba membujuk Juhoon. Karena selama ini, selama tiga tahun Martin mencoba, ia selalu gagal. Semoga saja, walaupun kecil, Juhoon ingin mencobanya karena Keonho.

Juhoon mengintip sekali lagi, kalau semisal setelah ini Keonho akan dalam bahaya. Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri sampai kapanpun. 

"Sekali ini saja... setelah itu, jika pemikiranku benar, aku akan mengirim surat cerai dan hak asuh Keonho kepadamu, Martin. Maafkan aku." Juhoon memasuki kamar tersebut dengan langkah yang ringan, sampai akhirnya di samping kasur, langkah tersebut menjadi berat. Martin sendiri sudah ikut masuk, mungkin mengambil barang.

"Jangan pergi, tetap di sini. Aku tidak mengerti cara mengurus bayi di malam hari." Mendengar permintaan Juhoon yang butuh keberanian itu, Martin menyunggingkan senyum dan mengangguk. Kemudian, ia berdiri di seberang Juhoon, pantatnya sudah menyentuh kasur sepenuhnya, tapi Juhoon masih sibuk dengan pemikiran-pemikiran yang jahat. Seperti tenggelam dalam air yang tak memiliki ujung.

Keonho begitu ringan, dalam artian tidak memiliki beban. Anak sekecil dulu, yang Juhoon intip dibalik matanya dengan tubuh yang kaku akibat bius, sudah sebesar lengan. Ah, ia sadar bahwa lima bulan begitu cepat, hal-hal istimewa yang dilewatinya sedikit membuat Juhoon kecewa dan marah terhadap orang-orang di dalam kepalanya sendiri. 

"Kak?" Panggil Martin, memastikan Juhoon baik-baik saja karena sekarang wajah Juhoon sudah pucat pasi. Seperti orang yang ketakutan oleh sesuatu. Apakah Juhoon begitu karena Keonho? Apakah sekarang... keputusan Martin salah?

Juhoon tersentak. Ia dengan pelan duduk dan menyamankan dirinya, matanya tidak lepas dari Keonho yang begitu kecil. Lalu, tangannya mencoba mengelus hidung Keonho yang begitu mirip dengan Martin. "Keonho-ya..." Sapa Juhoon, membuat Keonho bergerak dalam tidurnya.

Martin terdiam di sisinya. Ia melihat Juhoon yang begitu terlihat sedih. 

"Keonho-ya... tolong maafkan aku nantinya." Juhoon berbisik lirih, mendekatkan bibirnya pada dahi Keonho. Begitu lama sampai akhirnya ia berani mengecup dengan lembut, dirinya begitu takut. Bagaimana kalau nanti malam Keonho sakit? Bagaimana jika Juhoon mendekat mereka membawa Keonho menjauh? 

Martin merasa sesak. Entah apa alasan Juhoon, Juhoon tidak mau terbuka, ia begitu tertutup. Dulu, sehabis pernikahan mereka yang begitu singkat, Juhoon langsung menutup diri, kamar terpisah, setiap pagi rumah begitu dingin dan saat pulang kerja, malam hari terasa lebih menyakitkan. Tidak ada yang berubah, bahkan sebatas gelas yang dipindahkan.

Tetapi sekarang, Keonho hadir di tengah hal-hal yang terasa menyakitkan dan berat. Membawa Juhoon mendekat dengan cara paling ajaib. Kalau ditanya apakah Martin mencintai Juhoon, jawabannya adalah belum. Tidak ada waktu yang bisa mereka habiskan bersama karena terlalu sibuk menghindar dan kabur. Martin hanya ingin, paling tidak Juhoon memiliki waktu bersama Keonho, anaknya, anak mereka. Paling tidak... dikemudian hari, Juhoon tidak menyesal.

"Martin, terima kasih." Juhoon tersenyum, ia menidurkan dirinya di samping Keonho. Posisi tidur mereka; Martin, Keonho, dan Juhoon. Malam itu begitu hangat, setelah sekian lama musim dingin, matahari menyambut kamar mereka. Di tengah malam, Keonho sempat menangis dan membuat semua orang terbangun, Martin langsung menggendongnya. 

"Apa yang terjadi?" Juhoon merasa khawatir, tangannya mulai gemetar. 

Kau membahayakannya.

Sudah dikatakan, jangan mendekat, kau membawa sial.

Pergi, Juhoon. Kau harus segera pergi.

"Aku harus pergi," Juhoon berkata dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir yang digigit keras. Ia bahkan tidak berani menatap Keonho yang menangis—tidak, itu lebih kepada jeritan.

"Tunggu!" Martin menghalangi dengan cepat, Juhoon langsung menunduk dan menjauh beberapa langkah. 

"Jangan mendekat, aku membawa sial." Juhoon menutup telinganya ketika suara itu semakin dekat dan menghakami. "Maaf, aku benar-benar minta maaf. Seharusnya aku tidak mengganggu kalian." Suara rintihan terdengar, Juhoon merasa bahwa dirinya sendiri juga hancur. 

Juhoon sekali lagi kabur, ia menabrak bahu Martin yang sedang menenangkan Keonho. Malam itu, hanya untuk sesaat mereka lengkap.

Selama lima menit, Keonho akhirnya merasa tenang dan kembali tertidur setelah Martin menggantikan popoknya. Anak bayi belum bisa berbicara, orang dewasa harus menebak apa yang mereka butuhkan. Karena Juhoon yang tidak mengerti, itu bukanlah salahnya, tapi... perkataannya tadi, membuat Martin merasa terkejut. Apa yang membuatnya berpikir seperti itu?

Maka, langkahnya membawa Martin tepat di pintu kamar Juhoon yang tertutup. Satu hal yang Martin ketahui adalah Juhoon harus selesai dengan dirinya sendiri. Tangan Martin terangkat, mengetuk pintu kamar Juhoon pelan. Pintu terbuka, menampilkan Juhoon dengan mata yang membengkak. 

"Popok Keonho penuh tadi, hanya itu. Tidak ada masalah besar yang terjadi." Martin melihat mata Juhoon yang memancarkan harapan kecil. "Apapun itu, itu bukanlah salahmu. Hanya Keonho yang mencoba berkomunikasi." Martin pun demikian, ia berharap bahwa Juhoon tidak menyalahkan dirinya. 

"Dia tidak terluka?" Tuturnya pelan.

Martin membalas sama pelannya, "Tidak. Anak kita baik-baik aja." 

Juhoon melangkah kecil, "Sungguh?" Matanya berbinar cerah. 

Martin tersenyum simpul. "Ya. Sungguh. Kamu bisa memastikannya sendiri."


Juhoon melihatnya sekarang, Keonho sudah tidur dengan tentram dan nyaman. Tidak ada pergerakkan yang akan membuatnya terbangun. Martin berdiri tepat di sebelah Juhoon, mungkin bermaksud mengatakan pemberitahuannya adalah kebenaran. Juhoon sendiri sudah mengulum bibirnya tidak percaya. Apa karena baru sehari—

"Hari ini ataupun nanti, kita akan ada di sana menemani Keonho." 

Kata-katanya terpotong oleh Martin yang mungkin mengetahui pemikiran Juhoon. Juhoon dengan pelan melangkah mendekat ke arah Keonho, hatinya semakin menghangat, ah... nalurinya menang, naluri seseorang yang ingin dekat dan melindungi anaknya sendiri. 

Di pagi hari.

Juhoon terbangun oleh pergerakkan di tubuhnya. Saat membuka mata, yang terlihat justru Keonho mencoba menaiki perutnya dengan posisi seperti kura-kura. Tawanya terdengar, "Ppi! Ppi!" Panggilnya dengan wajah memerah karena berusaha menanjak.

"Selamat pagi," Sapa Juhoon. Tangannya meraih tubuh Keonho untuk ditaruh pada dadanya. Hal itu menimbulkan suara senang dan senyuman yang menggelitik relung Juhoon dan Martin yang mengamati mereka.

"Wah," Keonho terdiam sesaat Juhoon tersenyum kecil, ia kemudian dengan cepat menghampiri wajah Juhoon dan tangannya yang kecil hendak meraup wajah Juhoon yang kini tertawa. Tawa itu begitu canggung.

"Aku akan mandi dan membuat sarapan," Martin berpamitan, meninggalkan Juhoon dan Keonho. Juhoon mengangkat Keonho dan duduk bersandar, kemudian ia melihat Keonho dengan seksama. Ia melewati banyak hal, sungguh, tapi... Juhoon tidak menyesal, pemikiran-pemikiran itu masih ada, masih mencoba masuk untuk menakuti Juhoon. 

"Aku pikir itu karena kamu," Kata Juhoon pelan, merasa sedih dengan pertumbuhan Keonho yang begitu cepat. "Semisal pemikiranku salah... aku akan menebusnya." 

"Eung!" Keonho membalas, mencoba memasukkan tangannya ke hidung Juhoon. Bayi itu tidak mengerti apa yang ingin Juhoon sampaikan, tetapi ia mencoba menghibur Juhoon yang sedang sedih.


Sudah satu minggu berlalu, tapi kejadian buruk yang ditunggu oleh Juhoon tidak kunjung datang. Hatinya sedikit merasa lega, tetapi itu tidak membuatnya untuk tidak waspada. Semakin hari, Juhoon semakin takut, ia takut jika hal itu lebih berbahaya daripada yang dirinya pikirkan. 

"Mau ke taman?" Martin mengintropeksi dengan cepat saat melihat Juhoon yang hanya bengong di saat Keonho duduk di pangguannya. 

Juhoon memegang punggung Keonho erat, "Ya?" Tanyanya untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. 

Martin melihat hal tersebut, Juhoon yang mengerjapkan matanya agar fokus. "Ke taman, aku rasa kamu butuh udara segar. Kita bisa gunakan stroller dan jalan singkat, lagipula kamu harus menghabiskan waktu bersama Keonho." 

"Aku dan Keonho? Kamu?" Juhoon merasa takut, jika hanya mereka berdua... apakah kejadian itu akan terulang.

"Aku ikut," Martin tersenyum, melihat bagaimana Juhoon sekarang dan kejadian-kejadian yang selalu Juhoon lakukan, Juhoon tidak ingin pergi berdua. Ia mungkin selalu menyendiri, tetapi sekarang, Martin akan menjaga mereka berdua. 

Udara sore hari sedikit lebih ringan, Martin yang membawa stroller Keonho, sedangkan Keonho berada di gendongan Juhoon. Martin mengikuti langkah Juhoon yang pendek, Juhoon melihat ke arah depan, matanya sesekali melihat ke kanan dan kiri, sebisa mungkin menghindari barang-barang. Kemudian, Martin mendekat, mengikis jarak di antara mereka dan tepat berada di samping Juhoon yang begitu waspada. 

Hal itu membuat pertahanan Juhoon sedikit melonggar. 

Di taman, Keonho di taruh pada stroller. Sedangkan Martin dan Juhoon duduk di kurai yang tersedia. Tapi kemudian, Martin berdiri dan dengan cepat menaruh kain yang entah sejak kapan dibawa olehnya. Ia meletakkannya di atas rumput. "Sejak dulu aku selalu memikirkan ini, piknik bersama kalian. Ayo, sini." Martin menepuk sisinya yang kosong, Juhoon terdiam sejenak sebelum kakinya melangkah menghampiri Martin.

Keonho berada di antara mereka, anak mereka mencoba duduk dengan tangan yang menopang berat tubuhnya sampai sebelum terjatuh Martin sudah menangkap dengan cepat. 

Juhoon melihat itu, pemandangan yang sangat indah. Martin sungguh merawat Keonho dengan baik, mungkin malam itu—malam di mana Martin memintanya untuk menggendong Keonho karena menangis, Martin sudah tidak ada tindakan yang terpikirkan olehnya sampai berani meminta bantuan Juhoon. Tunggu, Keonho menangis, tetapi saat itu... sesaat Keonho berada di gendongannya, Keonho terdiam dan tertidur nyenyak. Tidak seperti yang dipikirkan Juhoon. 

"Martin, sewaktu Keonho ke rumah sakit... dia kenapa?" Tanya Juhoon memberanikan diri.

Martin mengingat itu dengan jelas, "Keonho hanya sakit. Demam, kata dokter sekecil apapun itu jika mereka masih bayi seperti Keonho harus dibawa ke rumah sakit." 

Juhoon menurunkan pandangannya, ia melihat rumput yang bergoyang kecil akibat angin.

"Jadi bukan karena aku?" 

"Tentu saja bukan," Martin merasakan kalimatnya yang sedikit tertahan. Hal itu membuat Juhoon tersenyum hangat. 

"Mereka bilang aku membawa sial, karena setiap hal yang mendekat padaku akan terkena bahaya. Jadi, aku pikir lebih baik aku menjauh. Malam itu... aku mencoba mendekat ke Keonho, tapi besoknya dia langsung dilarikan ke rumah sakit. Aku takut bahwa itu akan terjadi ke anakku sendiri, makanya aku menjauh. Lalu, selama tiga tahun pernikahan kita, aku hanya ingin kamu baik-baik saja." Juhoon pada akhirnya bercerita tentang ketakutan terdalam yang ia alami. Martin mendengarkan tanpa memotongnya, lalu ia membawa tangan Juhoon untuk digenggam.

"Aku tau itu sulit dan dulu aku tidak mengerti. Sekarang, karena kamu sudah berani untuk memberitahukan hal itu padaku, aku akan menjaga kalian. Dan apapun yang terjadi, itu bukanlah salahmu." 

Juhoon sedikit membulatkan matanya, kemudian ia terkekeh kecil. Membiarkan tangannya digenggam oleh Martin. Saat terkekeh, Martin ikut membalas dengan senyuman, berbeda dengan Keonho yang tertawa kencang melihat orang tuanya yang berbaikan. Seakan tau bahwa semua sudah baik-baik saja dan mereka akan tetap bersama.

Notes:

Kencan pertama, ciuman pertama bisa dibayangkan sendiri yaah