Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Seirushiel's #Augustrope2026
Collections:
Augustrope 2026
Stats:
Published:
2026-08-02
Words:
1,971
Chapters:
1/1
Comments:
1
Hits:
5

Rumor

Summary:

Owen heran mengapa dia menjadi pusat perhatian. Itu bahkan bukan tatapan memuja atau damba, melainkan sesuatu yang lain. Ditambah lagi, intensitas tatapan itu berubah-ubah tergantung dia sedang berjalan dengan Chiron atau Alithia, dua sahabatnya.

Kira-kira kenapa, ya?

#Augustrope2026 Day 2: They were Roommate

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Beberapa hari belakangan akademi ribut oleh bisik-bisik dan lirikan setiap kali Owen lewat di depan rombongan murid lain. Mulanya dia merasa itu hanya khayalannya saja namun semakin sering dia jalan dengan Allithia dan Chiron, para penggosip itu semakin terbuka melakukan aksinya. Itu sangat tidak masuk akal. Padahal selama ini dia lebih sering dibicarakan di belakang kalau jalan sama Deborah.

Hari ini Deborah tidak masuk sekolah jadi Owen segera pergi menemui Alithia di kantin. Murid-murid berkeliaran seperti domba lepas di padang rumput. Sebagian berkelompok melintasi aula bersama, separuh lainnya sudah menempati meja kantin. Beberapa yang lain, bahkan terang-terangan mengobrol dengan suara kecil sambil curi-curi pandang ketika Owen melangkah santai menuju antrian.

Menemukan Alithia sangat mudah. Rambut pirangnya mirip semburat mentari, tubuhnya tinggi langsing serta keunikan rambut ikat duanya selalu menjadi bahan kagum orang-orang. Selain itu, dia selalu didampingi Chiron. Perawakan kekasihnya itu juga termasuk membuat orang-orang segan awalnya. Mata Chiron merah seperti batu garnet, dan rambut putih susunya sangat mencolok bila disandingkan bahu lebarnya. Ia juga tinggi dan kuat. Dia sering membantu Owen mengangkat barang saat mereka melakukan perjalanan wisata dulu.

Keduanya sudah mengantri lebih dulu, sehingga Owen hanya bisa menyapa mereka sekilas lalu mengambil nampan. Setelah memilih beberapa makanan, Owen mendatangi meja di dekat jendela. Alithia dan Chiron mengangkat kepala mereka bersamaan.

"Rasanya aneh melihatmu sendiri," kata Alithia.

"Debby sakit. Mau bagaimana lagi," Owen menggidikkan bahu, meraup gigitan burger pertamanya.

Alithia menghela napas. "Andai saja kita bisa menjenguknya. Aku tidak mengerti kenapa kita tidak boleh berkunjung."

"Mungkin takut kita tertular," sahut Chiron.

Owen tahu alasannya tapi memilih berkata, "Debby bilang bakal masuk besok. Sepertinya sakitnya tidak terlalu parah."

"Sungguh? Syukurlah. Dia memang kelihatan lesu dari kemarin tapi kukira itu cuma kurang tidur. Seingatku dia sering bantu-bantu mamanya. Sedihnya... Kelasku jadi makin sepi."

"Thia, kau merasa ada yang aneh, tidak?" celetuk Owen, langsung mengubah topik. Meski mulutnya sibuk mengunyah, iris hitamnya bergulir memantau kantin.

Dia mendapati orang-orang yang melewati meja mereka memberikan tatapan selidik atau bertanya-tanya. Di meja lain, segerombolan siswi terang-terangan tertawa kecil sembari memperlihatkan sorot penuh minat. Dan harus Owen akui, rasa minatnya berbeda dari yang biasa dia dapatkan. Bukan puja, bukan kagum, bukan hasrat ingin memiliki sebagai pacar. Sesuatu yang berbeda dan Owen tidak bisa meraba kata yang tepat.

Alithia menarik kursinya mendekat, lalu memelankan suara hingga hanya kedua orang itu yang bisa mendengar. "Kau juga sadar jadi pusat perhatian?" Ia melirik Chiron, cemas. "Kau sendiri, bagaimana?"

"Kalau sedang bersamamu, mereka tidak terlalu kentara," ungkap Chiron, memainkan garpunya di atas daging. Ia berpura-pura tak acuh. "Kalau sedang sendiri, mereka lebih agresif."

"Mereka merendahkanmu?" Nada tajam terselip di lidah Alithia.

"Tidak, hanya saja.... Pemilihan kata mereka aneh. Mereka seperti sengaja biar aku mendengarnya."

"Kata apa?" Owen bertanya.

"'Yang pucat itu kelihatannya lemah sama si gagak' atau 'mereka ngapain hari ini sampai si gagak senyum begitu?'. Pernah sekali kudengar mereka bicara 'kenapa si gagak mau sama si pucat? Padahal dia itu paling menarik di Akademi.' dan yang lainnya membalas, 'bukannya mereka sama-sama punya pacar? Bukannya dipisahin malah lengket'."

Mendengar Chiron meniru ucapan mereka dengan muka datar dan suara bercampur heran, Alithia tak bisa menahan kerutan dahinya. "Kalian habis berbuat apa di belakangku?"

"Kenapa konotasinya negatif begitu? Kami tidak bikin rencana apa-apa," tukas Owen.

Chiron mengangguk. "Hanya hal-hal biasa."

"Aneh," gumam Alithia. "Kita coba cari tahu sepulang sekolah nanti. Ada yang suka kumpul-kumpul di belakang gedung. Biasanya yang begitu paling tahu sama isu panas."

"Lucu, ya. Normalnya kita berdua termasuk jajaran orang yang tidak ketinggalan berita." Owen mencomot kentang goreng Alithia.

Gadis itu mengangkat bahu sekilas. "Susah memang kalau kita yang jadi korban gosipnya."

*******

Akademi sudah bubar sejak 10 menit yang lalu. Owen berjalan mengekori Alithia dan Chiron, menolak ambil pusing menjadikan diri sebagai orang ketiga di antara pasangan itu. Toh rasanya lebih baik sendirian dalam situasi ini. Entah mengapa dia tak mau Deborah tahu rumor aneh apapun yang mengikutinya.

Taman di belakang gedung lumayan ramai siang ini. Awan berarak di angkasa, menghalangi terik matahari seperti tudung pengantin pada hari sakralnya. Owen bisa merasakan beberapa pasang mata beralih padanya lalu dipaksa disamarkan oleh ekspresi tak acuh. Ia pun berusaha untuk mengabaikannya dan menghampiri Alithia.

"Jadi siapa yang harus kita datangi?" bisik Owen.

"Mereka." Alithia melayangkan tatapan ke meja bundar di bawah pohon. Di sana ada tiga pasang laki-laki dan perempuan. Meski tampaknya bersiap-siap belajar kelompok, mereka asik berbincang dan bersenda gurau.

Suasananya bagus untuk bergabung. Tanpa menunggu persetujuan Owen atau Chiron, gadis berambut pirang emas itu segera melangkah menuju lingkaran perkumpulan tersebut.

Alithia sangat percaya diri. Dagunya tetap terangkat lurus dan senyumnya melengkung ramah ketika mengajak mereka mengobrol. Suaranya tidak terlalu jelas, tapi sesudah Chiron dan Owen berhasil menyusul, salah satu siswi itu berkata,

"Owen dan Chiron itu pasangan gay, ya?"

"Hah???" Owen menjawab dengan nada heran setengah mati. Bulu kuduknya berdiri membayangkan Chiron dan dirinya bertukar ciuman. "Tentu saja tidak. Kami cuma teman dekat. Siapa yang memulai omong kosong ini?"

Ketiga pasang murid itu bertukar pandang resah. Alithia hampir mendesak lagi ketika anak paling pendek menyahut, "dari yang kutahu, murid kelas satu bilang dia melihat Owen mengembalikan pakaian dalam Chiron. Mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi jadinya mencurigakan."

"Beberapa anak basket juga cerita Chiron membelikan handuk baru untuk Owen dan bilang 'mau kubelikan sabunnya juga? Aku tidak sengaja menghabiskannya waktu itu' lalu Chiron merangkul Owen sambil tertawa gugup," timpal siswa yang lain.

"Tim basket sampai bersumpah melihat muka Owen memerah pas bisik-bisik ke Chiron. Katanya kalian sempat gantian kasih sandaran mesra pas lagi main ponsel. Lalu beberapa kali kepergok bertukar pandang penuh makna dan pulang bersama setelahnya."

"Ada juga yang pernah lihat kalian beli kondom di supermarket yang letaknya jauh dari sini."

Mendengar pengakuan itu, Owen membekap mulut tak percaya. Ia sampai tidak tahu harus berkata apa. Semua itu memang benar pernah terjadi. Tapi kenapa kesimpulannya bisa sampai ke gagasan mereka itu pasangan gay?

"Memangnya kalian tidak punya teman?" Akhirnya Owen bersuara, menjaga intonasinya tetap terkendali; tidak tajam, hanya heran setengah mati. "Lagipula sampai beli pengaman pun ada yang lihat? Bohong kalau disebut kebetulan lihat. Pasti kami dibuntuti."

Di sisi lain, Alithia tertawa terbahak-bahak, berusaha meredam tawanya dengan tangan. "Astaga, tidak kusangka bakal sekacau ini!"

"Tapi," seorang lelaki berjaket hijau menyela, eskpresinya seperti ingin kabur dari tempat itu namun juga sedang bertaruh akan apa yang hendak diucapkannya, "semua orang tahu Alithia pacaran dengan Chiron jadi...."

"Jadi apa?" Pertama kalinya Chiron bersuara sejak menyimak omong kosong ini.

"Banyak cerita mesum beredar di grup-grup personal murid. Salah satunya bilang kalian main bertiga."

Owen mengeryit jijik. Dalam fantasi terliarnya sekalipun, ia tak sudi membayangkan Alithia telanjang apalagi berbuat cabul bertiga dengan Chiron. Sahabat perempuannya juga bereaksi sama, bahkan terang-terangan mengatakan apa mereka tidak punya akal sehat.

Sementara Chiron—dia maju selangkah, menatap tajam ke arah rombongan itu tanpa menundukkan kepala.  Mata merahnya menyala-nyala seperti bilah pedang yang terbakar.

"Ada batasnya untuk bicara tidak pakai otak," suaranya tenang tapi jelas Chiron sama sekali tak berniat bercanda. "Apalagi yang kau dengar?"

Perempuan berambut cokelat terang bersuara gugup, "ada yang menimpali kalau Deborah juga ikutan, tapi sebagai kameramen atau semacamnya."

Owen mendengar dirinya mendengkus menahan tawa. Sudah benar firasatnya kalau Deborah tidak seharusnya mendengar ucapan sampah ini. Tatapan gelapnya menyapu kelompok itu satu-persatu. "Siapa yang menyebarkan gosip tolol ini?"

Mereka terdiam, saling melirik gelisah layaknya kriminal menunggu jatuhnya vonis hukuman. Orang-orang yang lewat maupun yang sedang berkumpul tidak jauh dari sana mulai memperlihatkan ketertarikan.

Apakah ada pertengkaran? Perebutan kekuasaan kelompok? Bukannya itu pasangan gay yang lagi naik daun? Tenggorokan Owen kian gatal membayangkan kegilaan apa lagi yang terjadi jika pikiran-pikiran konyol mereka tidak segera diluruskan sekarang juga.

"Sudahlah," Alithia menengahi, menepuk lengan Chiron dan Owen bersamaan. Tatapannya terpaku pada para narasumber yang berharga. Bibirnya tersenyum, namun iris biru langitnya tidak. "Sebaiknya kita pergi saja. Kita tidak sepenggangguran itu untuk meladeni rumor sinting mereka."

Jadi kau mau diam saja membiarkan pacar dan sahabatmu kena fitnah? Owen buru-buru mengunyah amarah itu setelah meninjau ulang situasi sekali lagi. Mereka bertiga tidak diuntungkan disini. Mereka belajar kebenaran akan selalu kalah oleh cerita-cerita yang mencoreng reputasi.

Tapi Owen juga tidak berminat menimpanya dengan rumor baru, apalagi terkait isu sensitif soal orientasi seksual. Salah-salah, caranya berekspresi bisa dianggap phobia. Kepusingan ini lama-lama terasa lucu sampai tanpa sadar Owen tertawa.

"Kau benar, memang tidak sepadan mencari siapa pelakunya," kata Owen pada akhirnya, mengibaskan sebelah tangan tak peduli. "Biarkan saja mereka. Toh itu membuat kita semakin terkenal."

"Meski karena tuduhan jelek?" ucap gadis berambut ikal di kelompok belajar.

"Promosi yang jelek tetaplah promosi gratis. Lagipula aku yakin tidak semuanya percaya sama gosip murahan. Mereka cuma ikut-ikutan biar ada bahan obrolan saja," balas Owen santai.

Benar. Balas dendam paling manjur adalah menganggapnya tidak ada atau menunjukkan bahwa dia tidak terpengaruh sama sekali. Semakin kasih makan ego lawan, semakin banyak pula tudingan kacau mengikuti. Tinggal buat saja pelakunya lelah sendiri.

"Entah dendam apa yang diarahkan pada kami, tapi aku bisa menjelaskan beberapa hal," Owen duduk di salah satu kursi kosong, tak peduli lelaki di sampingnya tersentak kaget. "Sabun mandi yang dipakai Alithia hanya dijual di supermarket yang jauh itu."

"Hei! Kenapa kau mengatakannya?" tegur Alithia. "Nanti stoknya jadi lebih cepat habis."

"Soal alat pengaman itu, kami mengembalikannya lagi ke raknya gara-gara anak di bawah umur menjatuhkannya saat melihat kami lewat sana." Owen melanjutkan.

"Soal bisik-bisik gugup soal beli, itu tawaranku yang tak sengaja menghabiskan sabun Owen. Ternyata itu punya Thia karena mereka sempat menginap sewaktu orang tua mereka liburan bersama dan Owen meminjamnya," Chiron menambahkan.

"Yup. Wangi sabunnya enak jadi kupinjam. Tapi perlu digarisbawahi, aku tidak satu kamar dengan Thia saat itu. Dan perkara sandar-sandaran, harusnya itu tak jadi masalah besar. Kami berteman. Sentuhan fisik seperti itu bukan hal yang aneh, kecuali pikiran kalian mengarah kemana-mana. Dan terakhir soal pakaian dalam," Owen menghela napas. "Aku dan Chiron ikut tur keluar negeri saat musim panas kemarin. Sebagai teman satu kamar, tanpa sengaja barang kami saling terbawa satu sama lain. Dia membawa handukku, dan aku membawa pakaian dalamnya. Sudah jelas?"

Kelompok itu, bahkan orang-orang yang menguping dari kejauhan, menunjukkan berbagai reaksi canggung dan tercengang, seakan-akan malu telah berprasangka buruk. Pada akhirnya, setelah berbicara singkat sebagai penyelesaian, ketiga sekawan itu pergi meninggalkan taman.

"Padahal tidak perlu diberitahu," gumam Alithia, melenggang menuju parkiran.

"Aku juga tidak mau sebenarnya, tapi mulutku tidak bisa berhenti," Owen mendesis tidak nyaman. "Biarlah. Debby jadi tak perlu mendengar omong kosong ini besok."

"Kira-kira siapa yang memulai apinya?" celetuk Chiron.

"Pastinya orang kurang kerjaan, dendam pada kalian berdua atau ingin menghancurkan reputasi Owen—karena Chiron dari awal sudah disegani jadi aku tidak yakin ada untungnya menjelekkanmu," Alithia mengusap lengan sang kekasih penuh simpati, merasa harus memperhalus kenyataan bahwa Chiron dikucilkan karena perawakannya yang berbeda.

Chiron balas tersenyum tipis, sedikit menambah ilusi silau kulit pucatnya.

Owen melipat lengan ke dada, mengetukkan jari di atas sana. Benaknya sejak tadi kerja rodi memfilter calon tersangka masalah ini dan motif apa yang mendorongnya melakukan itu. Seseorang yang tidak tanggung-tanggung menyimpan kebencian padanya, yang akan diuntungkan jika dia ikut dikucilkan dan tidak masalah kalau orientasi seksual dipakai sebagai topik utama.

Satu nama muncul.

"Yah, sepertinya aku tahu," bahu tegang Owen mengendur. Mobil hitamnya sudah di depan mata, berbunyi ketika Owen menekan kuncinya yang tersembunyi dalam saku. "Mudah ditebak sebenarnya kalau ditelaah secara cermat."

Alis Alithia bertaut. "Siapa?"

"Teman satu kamar Owen dulu," cetus Chiron. "Raymond."

Owen dan Alithia menatap Chiron dengan mata terbelalak.

"Sudah lama aku tidak mendengar nama itu," ucap Alithia. "Terlebih lagi, dia teman sekolah menengah pertama Owen. Kita tidak satu sekolah saat itu, kan?"

"Aku terkejut kau mengingat nama itu. Aku cuma pernah menceritakannya sekali dan kau sudah bisa ambil kesimpulan," timpal Owen masih takjub.

Chiron hanya mengangkat bahu ringan, seolah itu bukan masalah besar. "Kupikir bisa saja orang paling dekat yang menyakiti."

Owen mendesah. Fakta yang tak bisa dibantahkan jika itu benar. Padahal dia pikir mereka sudah bubar dengan hati lapang. Ia berbalik dan membuka pintu mobil.

"Hari ini Chiron libur kerja, kan? Aku mau mengajak kalian ke suatu tempat."

Notes:

Hanya sepenggal cerita random yang aku pikirkan ketika ingin memperdalam relasi antar OC-ku. Semoga kalian menyukainya~

Series this work belongs to: