Work Text:
"Jangan melawan!"
Alithia kecil mengerang kesakitan. Tanpa ampun, tubuhnya dilempar ke dalam bagian belakang mobil. Tangan dan matanya diikat. Ia tak bisa melihat apapun sehingga hanya bisa cepat-cepat beringsut ke pojokan saat merasa bisa bergerak. Denyut ngilu mengetuk tulangnya selagi pintu mobil dibanting keras-keras.
Air mata mengancam keluar dari pelupuk. Alithia berusaha menarik napas dalam-dalam, berulang kali meyakinkan diri bahwa orangtuanya akan segera datang sambil menggigit kain yang menyumpal mulutnya.
Tetapi isak tangisnya mulai bocor. Rasa takutnya tak bisa hilang secepat keinginannya. Saat mencoba meraba sekitar, penculik meninju sesuatu di dekatnya keras-keras. Dia menjerit.
"Diam! Atau kubunuh kau!" Suaranya bagai cambuk. Alithia langsung meringkuk jauh-jauh dari asal pukulan, berharap keluar dari jangkauan si penculik. Dia tak mau dicekik seperti yang terakhir kali.
Samar-samar dia mendengar penculik lain berbisik jengkel, mengatakan sesuatu seperti lelang, kemudian akhirnya kotak besi itu menyala dan melaju dalam kecepatan kencang.
Alithia menelan ludahnya susah payah. Ia membayangkan supirnya kelabakan mencarinya di halaman tempat les, dan pengasuhnya yang tidak henti menangis ketika mendengar beritanya diculik. Ini sudah sering terjadi, tapi hatinya selalu sakit bila dua orang tua renta itu harus panik mencemaskannya.
Butuh waktu beberapa menit hingga Alithia bisa mengendalikan diri. Dia menggeliat di dinding pintu, berusaha duduk tegak. Ia bersyukur tidak dipukuli. Mungkin karena kali ini dia tidak banyak berontak jadi mereka masih berpikir lagi buat memukulnya.
Alithia tidak mengerti kenapa ini harus terjadi padanya. Ia juga tak mau mendengar kata maaf dari orang tuanya setiap diselamatkan dari penculikan. Padahal bukan mereka yang salah, tapi kenapa orangtuanya selalu tersedu-sedu memohon ampun padanya?
Membayangkan betapa keras wajah ayahnya saat menahan air mata dan muka merah ibunya yang tegar membuat dada Alithia sesak. Isak tangisnya lolos tanpa bisa dicegah. Badannya menegang menyadari itu. Buru-buru ditelannya tangis berikut, ngeri dipukul.
Sesuatu menyenggol bahunya.
Kesiap nyaring Alithia teredam kain. Ia hampir tersedak ludahnya sendiri ketika mematung merasakan sesuatu yang lembek sekaligus kuat menekan lengannya. Lambat laun ia merasakan kehangatan khas manusia, lalu deru napas pelan.
Ketika itulah Alithia sadar bahwa dia tidak sendirian. Dari beban sentuhannya, kemungkinan orang itu adalah anak-anak sebayanya. Alithia bergeser lebih dekat, menempelkan kepala mereka.
"Jahat?" Ia berbisik, tapi sulit sekali membuat kata-katanya jelas karena kain yang menahan lidahnya.
Namun anak itu menggeleng. Tak ada rambut yang mengenai bahu Alithia, jadi bocah perempuan itu sontak menarik kesimpulan bahwa teman barunya adalah lelaki.
"Culik?"
Mengangguk.
"Bicara?"
"Susah." Suara lelaki muda. Halus seperti tiupan angin siul.
Alithia mengangguk. "Sudah lama? Culik?"
"KALIAN MAU DIAM ATAU KUHAJAR?!" Bentakan itu membuat Alithia dan bocah lelaki melompat menjauh. Ditambah bunyi pukulan teredam, seluruh saraf Alithia berdering waspada. Lututnya menekuk tinggi di depan badan, dan dia mulai bergeser lagi mencari teman barunya.
Berlindung, respon pertamanya adalah itu. Untungnya sang teman baru memiliki insting yang sama. Mereka berdempetan, kali ini sama-sama terdiam untuk waktu yang lama.
*******
Alithia tidak tahu berapa lama mobil berkelana. Saat kantuk menerjang, deru mesin berhenti dan pintu terbuka. Lengannya dicengkram sampai kepalanya ikut terasa sakit. Dia dipaksa berjalan melewati sebuah lahan rerumputan, cukup lama hingga suara hewan-hewan malam menghilang tergantikan langkah gema sebuah lorong.
Mereka menuruni puluhan tangga. Alithia sempat tersandung beberapa kali tapi pegangan sang penculik di lengannya sangat kuat hingga dia berhasil bertahan hingga lantai terbawah. Ia berjalan sebentar menelusuri lorong kosong, tak bergema dan terasa pengap meski rasanya ia menginjak lapisan karpet lalu pintu berderit terbuka.
Sinar lampu sedikit-banyak menembus kain. Alithia bertanya-tanya apa dia akan dikurung berhari-hari ketika ikatannya dilepas satu persatu secara kasar. Ia mengerjap cepat untuk menghalau silau lalu melihat ke sekeliling ruangan.
Tempat itu norak. Warna merah dindingnya sangat mencolok seperti habis disemprot alih-alih dipoles cat. Tirai-tirai kuningnya tidak memberi kesan mewah, malah mengingatkan Alithia pada truk pengangkut sampah. Kemudian dia melihat para penculiknya dan seseorang yang memakai topeng.
Orang bertopeng itu menyambar rahangnya galak. Sesaat kemudian, senyum merekah di bibir hitamnya. "Tangkapan bagus."
"Masih ada satu lagi, Bos," lapor si penculik berotot. Ia menarik seorang anak kecil dari balik badannya.
Alithia membeku di tempat. Anak laki-laki itu berkulit pucat murni seakan dirinya adalah jelmaan penjaga gerbang dunia lain. Rambutnya tidak berisikan melanin apapun selain putih mutiara dan matanya semerah darah di bawah sorotan cahaya, berkelip lembut bagaikan sumbu api unggun yang lemah.
Rasa kagum membuncah dalam tubuh Alithia. Dia tak pernah melihat wujud seperti itu sebelumnya. Dalam hati dia merasa pantas saja bila bocah lelaki itu diculik. Penampilannya terlalu indah untuk diabaikan.
"Bagaimana Bos? Nilainya tinggi, 'kan?" tanya si penculik berkepala botak, tertawa gugup.
Pria bertopeng itu mengelus dagu si bocah lelaki, meneliti setiap inci tubuhnya. "Lumayan."
"Bayaran kami bagaimana, Bos?" timpal si penculik berotot.
Pria itu mendorong si bocah lelaki dengan jengkel lalu menggesek kedua tangannya seakan membersihkan debu kotoran. "Bawa ke belakang panggung. Sebentar lagi acaranya dimulai lalu ambil uangnya di ruang belakang."
Sambil menjawab patuh, dua preman itu menyeret Alithia dan si bocah laki-laki ke pintu sebelah kiri ruangan. Di sana tirai merah raksasa yang berlipat gelombang menjuntai dari langit-langit ke lantai kayu. Alithia menelan ludah melihat anak-anak lain dari berbagai usia dikurung dalam kandang besi seperti hewan.
Raut mereka sungguh tak berdaya. Ada yang menangis, ada yang meringkuk ketakutan dan ada yang memar-memar sekujur badan, bahkan beberapa dari mereka matanya sudah kosong. Salah satu kaki mereka dirantai ke bola besi dan pakaian mereka menyerupai pasien rumah sakit yang sudah lama ditutup.
Alithia dan bocah itu dipaksa berganti pakaian. Awalnya Alithia menolak. Didikannya sebagai anak konglomerat membuatnya malu melepas pakaian di depan semua orang. Para penculik sempat memakinya dan hendak merobek bajunya secara paksa namun bocah lelaki itu maju menghalangi si penculik, memunggungi Alithia agar bisa mendapat ruang berganti baju.
Para penculik tercenung dan tertawa menghina pada aksi heroik itu, sementara Alithia menahan tangis dan cepat-cepat menukar pakaian mahalnya ke gaun putih lusuh.
Setelah kaki mereka dipasang borgol, mereka dicampakkan ke dalam kandang. Alithia segera merapat ke bocah laki-laki, bersandar ke lengannya seperti saat mereka di mobil. Bau lembab dan bahan kasar pakaian membuatnya gatal namun dia larut pada tujuan untuk mendekat.
"Terima kasih sudah membantuku," bisiknya tipis, berusaha tersenyum.
Lelaki itu hanya meliriknya sebentar, lalu mengangguk. Alithia memperhatikannya lekat-lekat. Mata merahnya terlihat hampir hitam dalam bayang-bayang namun rambutnya masih menyilaukan.
"Apa itu asli? Mata dan rambutmu?"
Lagi, sebuah anggukan yang diberikan. Tapi tanpa tersinggung dijawab oleh gerakan, Alithia justru merasa takjub. "Cantiknya! Orang tuamu pasti sayang padamu!"
Bocah itu terdiam.
Alithia berkedip. Berada di sekeliling orang dewasa selalu membuatnya siaga membaca suasana hati atau perubahan ekspresi seseorang. Laki-laki itu memilih menutup diri, seperti teman sekolahnya saat hendak kabur dari situasi memalukan.
"Mereka bukan tipe yang blak-blakan, ya?" tanya Alithia, memiringkan kepala agar lebih mudah mengamati wajah bocah itu. "Kalau aku lebih suka berterus terang. Aku suka banget sama kau! Rambut dan matamu indah seperti peri! Jangan-jangan kau memang peri?"
Lelaki itu tersentak dan menoleh padanya. Mata merahnya melebar bagai batu garnet cincin ibunya di rumah, tercengang memandanginya.
Alithia tersenyum polos. "Hm? Apa aku menebaknya dengan benar?"
Hening di antara mereka tapi di luar kandang, beberapa anak menatap ingin tahu dan salah satu penculik yang berjaga di sudut ruangan melotot garang, muak menonton drama anak sekolah dasar.
Penculik itu segera mendatangi Alithia dan menendang jeruji. "BERISIK, DASAR ANJING TOLOL!" Lalu meludah ke dalam kandang. "Kalau bukan barang dagangan, sudah kubikin bonyok kau daritadi."
Semua anak menjerit ketakutan, memeluk kepala seolah-olah mereka yang jadi korban sementara itu sang bocah lelaki pasang badan menutupi Alithia yang bersembunyi dalam lipatan lengannya.
Sambil mendengus, pria bermuka sangar itu kembali ke tempatnya dan bersilang lengan. Alisnya menekuk ke bawah menonton anak-anak sesegukan.
Alithia menelan ludah. Air matanya berlinang. Meski sudah sering mengalami penculikan, tetap saja dia masih belum terbiasa sama bentakan orang dewasa. Berapa lama lagi dia harus menunggu diselamatkan? Menurut pengalamannya, berlagak kuat bisa membantu mengurangi ketakutan jadi dia cepat-cepat mengucek mata kemudian menarik dan membuang napasnya pelan-pelan sampai detak jantungnya berkurang.
Dengan santai, dia tersenyum pada bocah lelaki itu. "Kau sudah berapa kali diculik?"
Lelaki itu mengerutkan kening, lalu menggeleng.
"Baru kali ini?"
Anggukan.
"Begitu, ya. Kalau aku sudah sering sampai rasanya bosan."
Bocah itu memandangnya lekat-lekat. "Kau tidak takut?"
Alithia mengerjap. "Ternyata kau bisa bicara, ya?"
Bukannya tersinggung, bocah itu justru mengangguk dan tak bicara apa-apa lagi. Jadi Alithia menambahkan, "aku takut. Tapi aku yakin orang tuaku bisa menyelamatkanku. Mereka berteman dengan polisi!"
Bocah itu hanya merenung sebagai tanggapan.
Alithia diam mengamati bocah itu, penasaran apa yang salah dari perkataannya, lalu bertanya, "Tuan Peri, apa orang tuamu berteman dengan polisi juga?"
Kali ini bahu yang diangkat sekilas menjadi jawaban.
"Tuan Peri tidak suka bicara?"
"Kita disuruh diam," bisik si bocah laki-laki. "Sebaiknya kita menurut saja daripada dipukul."
"Benar juga. Dipukul itu sakit. Dulu aku juga pernah ditampar sama—"
"DIAM!" Belum sempat bereaksi pada hentakan kaki yang mendekat, rambut pirang Alithia dijambak kencang-kencang sampai kepalanya menabrak jeruji. "Kau kira aku bercanda, ya?! Sekali lagi bicara, habis kau!"
Jeritan takut anak-anak menggema. Tangan Alithia mengibas-ibas mencakar tangan si penculik. Ia pun samar-samar merasakan sepasang tangan ikut membantunya melepaskan diri. "Ampun! Sakit! Sakit banget!"
"Makanya diam!" Tanpa kasihan, Alithia dibanting sejauh mungkin. Penculik itu mendesis dengan mata melotot.
"Kuperingatkan untuk yang terakhir kali. Jangan kira aku takut kau kehilangan satu tangan karena hargamu itu tidak seberapa!"
Sekujur badan Alithia bergetar hebat. Ia membekap mulut agar sedu sedannya teredam. Kulit kepalanya meraung ngilu dan kakinya tergores borgol hingga lecet. Ia lunglai ke jeruji besi, berdoa dalam hati agar polisi cepat datang. Dia ingin pulang. Dia takut. Otaknya kacau memikirkan apa arti lelang dan apa hubungannya dengan harga.
Apa dia akan dijual? Siapa yang akan membelinya? Dia mau diapakan sampai tidak masalah kalau satu tangannya dipotong? Penculikan sebelumnya membutuhkan satu minggu sampai dia bisa ditemukan, tapi waktu itu dia hanya dikurung dan dipukuli. Bagaimana kalau kali ini polisi gagal mencarinya?
Sebuah tangan kecil menepuk pundaknya. Alithia mengangkat wajah. Penglihatannya buram oleh air mata, namun rupa ajaib bocah kecil si Tuan Peri dapat menembusnya. Alis putihnya bertaut cemas, dan Alithia baru sadar dia melihat ada memar di tulang selangkanya, bukti bahwa Tuan Peri juga memiliki pertarungannya sendiri.
"Jangan khawatir. Orang tuamu pasti datang," gumam Tuan Peri.
Alithia mengangguk, memasrahkan diri pada tubuh Tuan Peri. Ia tidak berharap dipeluk, atau dihibur, karena begitulah adanya. Tuan Peri tidak menyentuhnya sama sekali, hanya duduk kaku dengan tangan melingkari lutut. Alithia terus bersandar, merasakan waktu mengalir dan rasa sakitnya berkurang hingga sirna, selagi menikmati kehangatan serta deru napas teratur dari sang Tuan Peri.
***********
Mungkin hari sudah berganti karena Alithia sudah tidur lama sebanyak dua kali dan mereka diberi bubur yang hampir basi tanpa penyedap beberapa waktu lalu. Air minum yang diberikan juga tidak lebih dari lima tegak.
Alithia tidak lepas dari sisi Tuan Peri. Mereka juga tidak bertukar lisan lagi sejak itu namun tangan mereka cukup aktif dalam berkomunikasi singkat. Dengan cara tunjuk sana-sini, Alithia bertanya mengenai umurnya, apa makanan kesukaannya, pelajaran kesukaannya atau apakah dia tahu karakter superhero terkenal mau keluar film terbaru.
Hingga mendadak, bau asap tercium di mana-mana dan keributan meledak dari balik tirai maupun ruangan lain. Seseorang membanting pintu.
"Kebakaran! George, cepat bantu padamkan!" seru si penculik botak. "Kalau tidak bisa, Bos suruh kita kabur!"
"Barang dagangannya?" Meski bertanya begitu, si penculik garang sudah meluncur setengah jalan menghampirinya.
"Tinggalkan saja! Memangnya mereka bisa kabur kemana?"
"Kalau mereka terbakar? Bukannya mau dijual?"
"Memangnya bisa dijual kalau tempat ini terbakar? Persetan dengan mereka! Nyawa kita lebih penting, kan? Lagipula sekalian menghilangkan barang bukti! Ayo!" Penculik botak merenggut kerahnya lalu menyeretnya keluar pintu.
Histeria anak-anak yang selama ini tertahan oleh rasa takut akan intimidasi mendadak merobek udara. Mereka berteriak minta tolong secara bersahut-sahutan, dan kepulan asap mulai membuat beberapa anak batuk brutal. Api yang tadinya tidak terlihat perlahan tampak merajalela melahap bagian bawah tirai raksasa, merayap mendekati anak-anak.
Alithia salah satu anak yang menangis. Kali ini tanpa malu, ia memeluk Tuan Peri dari samping. Tangannya mencengkram kaos sang bocah. Wajahnya bersimbah air mata dan merah akibat panas.
"Panas.... Aku takut.... Papa... Mama..." isaknya, berusaha bersembunyi di bahu Tuan Peri. "Kenapa polisi tidak datang juga?"
"Pemadam kebakaran," bisik Tuan Peri pahit. "Sepertinya lebih masuk akal kalau mereka yang datang. Tapi kalau tempat ini di tengah hutan, kita bakal keburu hangus terpanggang."
"Tidak mau! Aku takut!" seru Alithia, bersingsut semakin rapat ke ujung kandang. "Aku tak mau terbakar! Aku mau pulang!"
Tuan Peri menyelipkan lengannya di sekeliling pinggang Alithia dan menepuk pelan kepalanya dengan satu tangan lain. "Papa dan Mama-mu pasti datang. Mereka berteman dengan polisi, kan?"
Alithia mengangguk. Setiap seruan dan jeritan yang terdengar semakin menambah tekanan sesak dan mualnya. "Apa mereka... bisa datang tepat waktu? Aku mau pulang. Aku tidak tahan lagi. Masih lebih baik dipukuli daripada kena api."
"Tak ada yang lebih baik dari keduanya," tukas Tuan Peri. Perlahan dia menatap sekitar lalu melepaskan diri dari Alithia untuk menghampiri pintu kandang.
Alithia membekap mulutnya, terbatuk-batuk oleh asap. Ia menatap penasaran pada Tuan Peri yang tiba-tiba mengangkat bola besinya tinggi-tinggi. Saat tangan bocah putih itu mengayun, bola itu menghantam gembok yang menguncinya. Ia melakukan itu berulang kali sampai gemboknya terlepas dan pintu mengayun terbuka.
"Ayo, keluar dari sini," bocah itu mengulurkan tangan padanya.
Alithia bergegas menyambut uluran tersebut namun ketika hendak berlari, kakinya tersandung rantai dan bola besi. "Tidak bisa," isaknya. "Bolanya berat."
"Sini, biar kuhancurkan," bocah itu menghajar borgol yang mengekang kakinya terlebih dahulu dengan bola besi sampai benda itu patah, kemudian melakukannya untuk Alithia, sehati-hati mungkin agar tidak mengenai kaki mungil sang perempuan.
"Tolong kami!" kata anak-anak di kandang sebelah.
"Pakai bola besinya! Kau bisa merusaknya sendiri! Takkan cukup waktu kalau aku melakukannya satu-satu!" seru Tuan Peri sekuat tenaga sebelum didera batuk beruntun.
"Tuan Peri!" Alithia menahan bahunya yang bergetar. "Kau tidak apa-apa?"
"Borgolnya sudah lepas?" tanya Tuan Peri tanpa mempedulikan kondisinya. Ia kembali memusatkan perhatian ke bawah, mengecek ikatan besi tersebut.
Alithia segera menarik bebas kakinya dan merasa lonjakan bahagia. "Sudah bebas!"
Tuan Peri mengangguk, lalu menangkap pergelangannya sebelum membawanya ke tumpukan baju mereka yang dibuang sembarangan. Untungnya jaket Alithia belum tersentuh api sama sekali. Tuan Peri membungkus kepala Alithia dengan jaket lalu mengikatnya rapat.
"Jangan hirup asapnya. Ikuti aku, mengerti?" pesan Tuan Peri.
Alithia mengangguk, menunggu sebentar sampai bocah lelaki itu selesai membungkus kepalanya juga dengan baju entah punya siapa. Anak-anak satu persatu mulai bebas dari penjara mereka. Tirai-tirai raksasa berjatuhan, memperlihatkan tempat duduk kayu panjang penonton habis dilalap api.
"Kita tak bisa melompat turun panggung," lapor Tuan Peri. Mata merahnya tertuju pada Alithia, lalu beralih pada pintu tempat si penculik mondar-mandir sebelumnya. "Ayo, jangan sampai terpisah dariku."
"Tapi mereka?" Alithia menatap korban lainnya segan. Lalu mengerucutkan tangannya di depan mulut. "Apa kalian sudah bebas semua? Ayo kabur sama-sama!"
Bunyi kayu patah terdengar nyaring di kursi penonton, lantas tak sampai lima detik, langit-langit aula itu roboh sebagian. Alithia bersembunyi di balik badan Tuan Peri. Bunga api meletus ke atas, beterbangan bersama gelombang panasnya. Ketika mendongak tinggi-tinggi, kegelapan pekat mengintip dari lubang yang menganga.
"Dewi Kecil!" tegur Tuan Peri panik, menarik telapaknya. "Kita harus pergi sekarang juga!"
"Semuanya belum bebas—"
"Mereka bisa menyusul," Tuan Peri menghadap gerombolan anak-anak. "Ikuti kami!" jeritnya kuat-kuat.
Namun sekeras apapun suara keduanya mengomando, anak-anak itu sibuk sendiri. Ada yang masih terperangkap, ada yang menangis berpelukan dan beberapa anak sudah bergabung di dekat mereka.
"Dewi Kecil, ayo," Tuan Peri mengambil langkah lebar. "Kalau kau berhasil bertemu orang tuamu dan meminta polisi datang, mereka pasti selamat."
Entah mengapa kalimat itu terasa masuk akal. Bocah berambut pirang emas itu segera balas genggaman Tuan Peri, mencengkramnya kuat-kuat sampai buku jarinya memutih lalu ikut berlari mengekori tuntunannya, meninggalkan ruangan itu dengan hati kalut.
******
Jangan menoleh ke belakang.
Tanpa ada yang mengatakan itu di antara mereka, Alithia terus berlari maju. Meski terkadang berhenti, Alithia menolak melihat ke belakang. Hatinya melarangnya berbuat demikian. Rasanya sama seperti dikejar hantu. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi jika berbalik.
Sementara itu, Tuan Peri terus melindunginya dari plafon yang jatuh atau jalan buntu. Api menyengati kulitnya dari kejauhan, dan bahkan dia merasa menginjak arang api. Ia tidak berani mengadu sebab takut mengacaukan pelarian. Mereka mengambil jalan berputar berkali-kali sampai akhirnya menemukan celah reruntuhan yang langsung mengarah keluar.
"Berhasil!" seru anak-anak lain yang menghambur ke halaman. "Kita bebas!"
Alithia berhenti untuk mengais napas, dan berbalik menyaksikan bangunan itu terbakar. Kelegaan membanjirinya bak ombak pantai. "Tuan Peri!" pekiknya heboh. "Kita bebas—"
"Mereka di sana!" Preman-preman, yang entah muncul dari bayangan mana, berlari menerjang mereka.
"Ke sini!" Tuan Peri tak tanggung-tanggung menyeretnya masuk ke hutan. Anak-anak lain berpencar, membuat para preman itu mengumpat dan ikut berpisah demi mengejar yang paling dekat.
Tangisan Alithia meleleh seiring larinya yang memelan. Ini dimana? Mereka pergi lewat mana? Kegelapan hutan terasa mengerikan. Ranting-ranting mencakar kulitnya dan teriakan-teriakan dari kejauhan kian memompa rasa takutnya sampai ke dada. Belum lagi lapar dan lelah yang bertarung melemahkannya.
Ia kewalahan.
"Tuan Peri..." rengeknya. "Aku tidak sangup lagi."
Bocah itu menurunkan kecepatan. Mata merahnya memantau situasi sebelum akhirnya mereka melipir ke bawah dataran hutan yang mencuat maju. Ada banyak semak-semak di sekitarnya, membentuk goa hitam yang sulit terlihat.
Engahan napas menerpanya saat tangan pucat Tuan Peri menukar jaket kremnya dengan kaos hitam yang dikenakannya sebagai penutup kepala. "Sembunyi di sini. Jangan kemana-mana."
"Tapi—"
"Ingat, kau harus bertemu orang tuamu dan membawa polisi kesini," bisik Tuan Peri. Bahkan dalam kegelapan rambut putihnya seperti helai-helai mimpi.
Alithia memeluknya erat. "Jangan pergi. Aku takut."
"Brengsek! Aku yakin mereka lewat sini!"
Kedua tubuh bocah itu menegang. Suaranya memang jauh, tapi tidak salah lagi penculik itu mengarah ke tempat mereka bersembunyi.
Tuan Peri mendorong dan mencengkram pundak Alithia. Mereka bertatapan cukup lama. Tenggorokan Alithia serak oleh isak. "Tuan Peri..."
"Jangan berisik dan tetaplah di sini. Kau harus tetap hidup."
"Tunggu!"
Namun Tuan Peri sudah melesat melewati semak-semak, sengaja mengalihkan perhatian dengan membuat suara nyaring. Cara itu terbukti sukses. Penjahat itu berseru sambil memaki lalu mengejar arah yang dituju Tuan Peri.
Alithia menangis sesegukan. Ia berusaha meredam suaranya di kain pakaian. Lambat laun, kesenyapan hampa menguasai hutan. Sesekali terdengar gesekan daun atau kilasan binatang lewat, namun itu hanya menambah kegelisahan Alithia.
Ngeri, mual dan kelelahan menyerang setiap sarafnya, mengamuk liar. Alithia terjatuh terduduk, memeluk lutut.
Bagaimana kalau seseorang mendadak lompat di depannya dan menculiknya ke tempat lain? Bagaimana kalau tiba-tiba singa muncul dan memakannya? Bagaimana keadaan Tuan Peri? Apa dia selamat? Apa dia akan kembali ke sini dan menemaninya sampai bala bantuan datang?
Tekanan mental serta kelelahan terus menggerogotinya hingga kesadarannya jatuh dalam tidur tanpa mimpi.
***********
Begitulah peristiwa dibalik hilangnya jaket krem kesukaannya sewaktu kecil. Keesokan paginya, Alithia terbangun oleh sirine mobil polisi di kejauhan dan bertemu orang tuanya di dekat puing-puing rumah lelang.
Dengan koneksi ayahnya, mereka berhasil menguak jaringan perdagangan manusia dan menangkap kroco-kroco yang terlibat. Anak-anak yang selamat dari kebakaran dimasukkan ke yayasan yang dimiliki ibunya, sementara korban lainnya diberikan pemakaman yang layak.
Namun tak ada korban berambut putih dan bermata merah. Jaketnya pun lenyap, seolah-olah jejak keberadaan sang bocah pucat memang tak boleh diketahui dunia nyata dan jaketnya dibawa sebagai kenang-kenangan.
Hingga malam ini terjadi.
Alithia mematung di depan lemari Chiron. Jaket anak kecil berwarna krem usang, dengan sobekan di bawah lengan, dan bulu penghangatnya separuh rontok, tergantung rapi bersama pakaian Chiron yang lain.
Melihat jaket itu, kenangan bangkit secara awur-awuran.
Engahan napas berat terbuang dari mulutnya. Alithia membekap mulut. Air mata membakar pelupuknya. Kepingan teka-teki yang selama ini melubangi benak, kini mewujud menjadi sosok anak kecil pucat, berambut putih dan mata merah.
Mewujud menjadi sosok pemuda bertubuh tinggi dan berotot namun masih pucat, berambut putih salju dan mata semerah garnet. Sosok kekasihnya yang bernama Chiron.
"Thia? Ada apa?" Suara berat menyentakkannya.
Chiron menatapnya cemas, dan berjalan menghampirinya. "Di lemariku ada apa sampai kau ketakutan?"
"Chir," Alithia mendongak tinggi, menelan isaknya. "Ternyata kau masih menyimpan jaketku."
"Jaket?" Chiron berpaling. Sepintas mulutnya menganga seperti hendak memprotes namun beberapa detik kemudian, cahaya pemahaman terpatik di mata merahnya. Ia menarik napas tersendat, membelalak pada Alithia. "Jadi, itu sungguh-sungguh milikmu?"
"Apa maksudmu?"
"Kupikir," Chiron ragu-ragu. "Kupikir kalau bertemu lagi, anak kecil itu harusnya mengenaliku."
"Oh, maafkan aku," kata Alithia, bersuara patah hati sembari meraih kedua tangan Chiron, menyimpannya dalam genggaman. "Selama masa pemulihan, ingatan itu terkikis dari benakku. Aku hanya ingat pernah diculik, seperti yang sudah-sudah. Detailnya sudah bolong-bolong bahkan buram dimakan waktu. Bahkan setelah itu, aku masih diculik lagi sampai akhirnya orang tuaku memanggilkan guru privat alih-alih aku pergi bersekolah—tidak, itu bukan alasan. Seharusnya aku memang mengingat penolongku."
"Jangan menyalahkan diri," Chiron menyeka air mata gadis itu dengan ibu jarinya. Alithia reflek memiringkan kepala, menidurkan kepalanya di telapak tangan lebar milik kekasihnya itu. Rasanya hangat dan menenangkan.
"Apa yang terjadi pada malam itu? Kau tidak ditemukan dimana pun. Aku kira... Aku kira kau...."
"Aku ditangkap salah satu penculik dan langsung dibawa ke kapal untuk dijual. Tapi sepertinya mereka tahu polisi mulai menjaring pelabuhan sewaktu kapal kami sudah berlayar. Aku dan beberapa anak lain disuruh jadi budak kapal untuk penyamaran sampai akhirnya polisi meringkus mereka beberapa hari kemudian. Kami dititipkan di panti asuhan. Setelah itu, kau tahu sudah tahu kisah hidupku."
"Seharusnya aku mencarimu," ucap Alithia penuh sesal.
Chiron tersenyum muram. "Aku mencarimu tapi rambut pirang dan mata biru cukup pasaran. Aku sering keliru mengira orang lain sebagai kau. Pada satu titik aku pikir kau mungkin sudah pindah keluar negeri. Aku menyesal tidak bertanya namamu dulu."
"Seharusnya aku juga langsung mengenalimu. Maksudku, aku bahkan mengucapkan hal yang sama," air mata kembali merembes, membuat iris birunya berkelip seperti langit musim panas. "Aku sangat menyukaimu. Mata dan rambutmu indah seperti Tuan Peri dalam dongeng."
Chiron mengambil napas seperti orang yang baru dibebaskan dari dasar laut. Ia membawa Alithia ke dalam pelukannya, menekan kepala gadis itu hati-hati di dadanya. Alithia tidak punya alasan untuk tidak menyerahkan diri padanya. Dia selalu merasa aman bersama Chiron, merasa bermimpi indah mendengar detak jantungnya, merasa ringan menghirup aroma tubuhnya. Terutama jika Chiron mulai memeluknya sampai setengah membungkuk, membuatnya seperti hal yang paling berharga di dunia ini.
Alithia balas mengencangkan lingkaran lengannya di sekeliling pundak Chiron, menyisir rambut pucatnya. "Kenapa dulu kau memanggilku Dewi Kecil?"
Ada jeda yang cukup lama. Alithia melirik ke samping, meremas sejemput rambut putih Chiron. Dugaannya benar. Daun telinganya semerah tomat baru dipetik.
"Karena," Chiron berbisik, gerak bibirnya samar-samar menyinggung kulit Alithia, menciptakan kepakan kupu-kupu di perutnya. "Waktu itu kau menyilaukan. Setiap kau mengajakku bicara, rasanya seperti ada matahari muncul di belakangmu. Kau bersinar terang seperti Dewi Cahaya dalam legenda."
Alithia melontarkan tawa. "Terima kasih sudah memujiku. Padahal aku yakin tampangku jelek gara-gara habis dijambak, apalagi kita tidak mandi berhari-hari."
"Menurutku, rambutmu yang tergerai malah mirip syal emas."
"Astaga, aku suka sisimu yang seperti ini. Biasanya kau pendiam," ucap Alithia disela gelak ringannya. Ia menyeka sisa air mata lalu melepaskan diri, berpaling ke lemari. Senyum tidak luput mencerahkan perangai gadis itu.
"Kira-kira jaketnya masih bisa dipakai tidak, ya?" kelakar Alithia. "Chiron, ayo gantian ikat di kepala terus foto bareng. Nanti kuunggah pakai tulisan '#throwback'."
"Sekarang?"
"Iya! Ini kan bukti pertemuan pertama kita. Eh, sebentar. Dimana ponselku?"
"Di sofa. Biar kuambilkan," Chiron mengecup keningnya sekilas lalu bergegas keluar.
Sembari menunggu, Alithia meraih gantungan dan melepas jaket kremnya, merasa takjub mencium wangi yang menguar dari pakaian tersebut. Chiron pasti mencucinya sesekali. Ada bekas-bekas jahitan amatir, membuktikan betapa besar perjuangan Chiron untuk menjaganya tetap layak. Ia penasaran apakah Chiron memakai ini sampai tubuhnya tidak muat lagi.
Alithia memeluk jaket itu erat-erat. Dulu ia pikir tak ada jalan lagi untuk bertemu sang Tuan Peri. Ia pikir itu adalah bagian dari fantasinya, bagian ilusi manis yang dibangun dari trauma mentalnya. Tapi ini bukan mimpi.
"Thia," kata Chiron, berjalan masuk sambil mengulurkan ponsel padanya. "Kutemukan di dapur. Sepertinya tertinggal di sana saat kau ambil susu."
"Iya," sejujurnya tak ada satupun kalimat itu yang masuk ke dalam benak Alithia. Karena dia merasa senang sekali. Ia kembali menghambur memeluk Chiron, membiarkan jaket itu terhimpir di antara tubuh mereka.
"Terima kasih."
