Chapter Text
Nama tokoh dalam cerita sepenuhnya milik M. Kishimoto
Don't repost, translate, or copy my work to any other platform without my explicit permission ☠️
Be wise. Jadikan ini hanya bahan bacaan, tidak untuk diaplikasikan dikehidupan nyata, especially untuk perilaku buruk dan menyimpang.
Beberapa kesamaan dalam cerita, hanya kebetulan semata
Enjoy🎼 🎶
**
Hinata menampar sasuke yang tengah mabuk berat, membuat pria itu limbung kesamping, sebelum akhirnya jatuh dengan suara yang keras diatas lantai.
"Enggghhhrrrghhh" Geramnya tapi tak punya kuasa untuk sekedar bangkit ataupun berbicara.
Hinata mengusap pipinya yang basah oleh air mata, menatap sasuke dengan tatapan terluka-lagi. Hidungnya memerah, dan matanya sedikit bengkak. Tangan yang sama yang dia gunakan untuk menampar sasuke, tampak gemetar parah. Seakan itu cara tubuhnya bercerita kalau dia merasa bersalah menampar suaminya. Namun, lagaknya bukan sisi rapuh yang hinata berikan untuk ditafsirkan kali ini. Melainkan sisi dimana kau melihat gemetarnya hadir, sebab dia sudah tidak tau bagaimana meluapkan keseluruhan emosi yang selama ini dipendamnya.
"Aku menikmati pertunjukannya" Ujarnya kemudian pergi meninggalkan suaminya tergeletak disisi sofa ruang tamu.
---
Sasuke terbangun dengan kepala pening dan dahi terluka. Rupanya dia terantuk ujung sofa selama tidur tak sadarkan diri akibat pengaruh alkohol. Pria itu mengamati sekitar dengan wajah linglung. Berkali-kali mengerjapkan mata, berharap otaknya yang mendadak tumpul, kembali berfungsi.
"Ah ya, aku dirumah" Ujarnya berbicara pada dirinya sendiri, setelah menyadari bahwa dia bisa sampai juga di rumah, karena semalam tidak yakin bisa menyetir dalam keadaan semabuk itu.
Suara dering handphone membuat sasuke menoleh celingukan mencari benda pipih itu. Dia merogoh kantung celananya. Tidak ada. Pria itu kemudian diam, sempat merasa malas untuk mencari lagi, karena jujur, tertidur diatas lantai tanpa alas membuat tubuhnya pegal bukan main. Namun karena dering handphonenya terdengar berbunyi berkali-kali, mau tak mau sasuke harus berdiri untuk mencarinya.
Saat hendak berdiri, pria itu merasa kakinya menendang sebuah benda. Begitu diliat, ah itu dia benda pipih yang di acari. Tapi bukannya mengambil, sasuke memilih beringsut hingga kakinya sejajar dengan handphone, lalu menyepaknya dengan enteng sampai benda itu bisa digapainya dengan tangan.
Tanpa basa-basi, pria itu langsung mengangkat panggilan yang ternyata dari kiba dengan suara khas bangun tidur.
"Ada apa kiba?"
"Kau baru bangun?" Dari nada suaranya sepertinya ini bukan pertanda baik. Sasuke menjauhkan handphonenya dari telinga, menatap layar handphone yang menampilkan waktu jam dua siang.
"Hn" Jawabnya setelah merasa jam bangun tidurnya masih wajar, terutama semalam dia mabuk. Kalau dia tidak salah melihat jam dengan mata buram efek alkohol, semalam dia pulang dari club jam 2 malam.
"Astaga, cepatlah mandi. Dua jam lagi pesawat kita berangkat" Ujar kiba dengan suara panik diseberang sana.
"Ck, sasuke, kita ada pertunjukan di las vegas" jelas kiba saat sasuke hanya diam dan tak merespon ucapannya.
"Ck, sial" Ujarnya setelah sadar kalau dia sedang diburu waktu. Tanpa salam penutup atau kalimat penutup lainnya, sasuke menutup panggilan tersebut, lalu bergegas naik ke kamar untuk mandi.
"Hinata" Panggilnya sambil menapaki dua anak tangga sekaligus dengan kaki panjangnya.
"Hinata" Panggilnya lagi. Dia butuh hinata untuk menyiapkan keperluannya.
Ceklek
Suara pintu sebuah kamar terbuka, menampilkan hinata dengan lingerie tidurnya.
"Ada apa?" Tanya hinata dengan wajah tak bersahabat.
"Sayang, aku minta tolong kau kemasi pakaianku, karena aku harus sudah siap dalam 30 menit kedepan" Ujarnya kemudian masuk kedalam kamar yang pintunya sudah dibuka hinata, membuat wanita itu otomatis membuka pintunya lebih lebar dan menyingkir.
Bukannya menjawab, hinata malah menutup pintu, lalu melengos ke tempat tidur, membuka novelnya yang telungkup di meja nakas, dan kembali merebahkan diri.
Sasuke yang tidak menyadari sikap acuh istrinya, masih membuka seluruh pakaiannya dan membuangnya sembarangan. Begitu hendak menurunkan celana dalam, pria itu tak sengaja melihat istrinya yang malah berada di atas tempat tidur, alih-alih di ruang ganti memilih bajunya.
"Oh ayolah sayang. Aku benar-benar dikejar waktu" Ujarnya dengan nada lelah.
Sayangnya hinata menulikan telinganya. Wanita itu tetap fokus pada novelnya dan sepenuhnya mengabaikan kehadiran suaminya.
"Ck" Decaknya kemudian mengangkat kedua tangan dengan gestur acuh tak acuh "Terserah" lalu membuka celana dalam, dan berjalan kearah kamar mandi dengan bertelanjang.
Suara pintu kamar mandi yang ditutup menjadi tanda dari aksi diam hinata. Wanita itu menghela nafas lelah, menutup novelnya dan melemparkan buku yang menyelamatkannya dari situasi aneh seperti pura-pura tertidur saat berhadapan dengan suaminya kesamping kasur.
Kembali dia ambil novel yang dia lempar tadi, menatap covernya lebih lama untuk kemudian dia sobek bagian tersebut, menyisakan seperempat masih terpasang, dan sisanya dia remat dengan genggaman yang kuat.
Seolah tak merusak novel baru itu, hinata membuka kembali halaman terakhir yang dia baca, lanjut membaca meski sampai berulangkali membaca kalimat yang tertera, fikirannya tak faham. Seolah dia hanya membaca tanpa meresapi makna ditiap kata.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat hinata berhenti mengulang kalimat yang sama dari novel didalam batinnya. Hampir saja kepalanya reflek menoleh kearah sasuke, tapi untungnya dia memiliki kesadaran yang sama cepatnya untuk tidak melakukan hal itu.
Sasuke mandi dengan durasi cepat seperti bebek, tapi dia berhasil menyelesaikan semua ritual mandi dalam waktu secepat itu. Tangan pria itu mengusap rambut basahnya dengan handuk. Usapan yang terlalu keras ala laki-laki pada umumnya. Anehnya rambut mereka masih bagus saja walaupun treatmennya asal-asalan seperti itu. Oh my god. Tuhan menakar kelebihan pada laki-laki terlalu banyak. Sepertinya dan tampak begitu.
Dirasa sudah cukup, sasuke kemudian melempar handuk kecil khusus tersebut ke keranjang cucian kotor seolah handuk tersebut bola basket, menyusul handuk yang melilit dipinggangnya, baru kemudian pergi menuju ruang ganti, tak peduli kalau kedua handuk yang dia lempar tadi tak satupun yang masuk kedalam keranjang.
"Kau kenapa?" Teriak sasuke dari ruang ganti sembari memakai celana dalamnya.
Hinata malah tidak menjawab. Setelah menjadi tuli, istrinya itu kini melakukan aksi bisu. Mungkin nanti tidak bisa berjalan. God!
"Kau kenapa?" tanya sasuke lagi kini keluar dari ruang ganti, dan tampak berjalan kearah hinata dengan mengancingi kemeja dan celana yang disampirkan di bahu.
"Hinata" Tegurnya setelah cukup memberi hinata waktu untuk diam. Dia saja sudah hampir lengkap berpakaian, tinggal meresleting celana, dan hinata masih mau tetap diam?
"Baiklah, kau bisa berbicara kalau kau sudah mau" Ujarnya kemudian menjauhi hinata.
Karena sasuke membiarkan hinata dalam mode mengambek, alhasil dia menyiapkan keperluan perjalanannya sendiri. Menaruh asal pakaiannya, tidak dilipat, hanya ditaruh dan dipaksa muat saja.
"Aku ada konser di las vegas malam ini. Hati-hati dirumah, dan kabari adikku kalau ada apa-apa"
"Lima hari, dua hari perjalanan pulang pergi, dan tiga hari konser" Jelasnya meskipun dia terlihat seseorang yang sedang berbicara sendiri.
Sasuke menaruh parfum diatas tumpukan baju, kemudian menutup koper dan meresleting bagian koper.
"Aku pergi hinata" Ujarnya berjalan kearah pintu sambil menyeret satu koper berukuran besar.
Ceklek
Pintu kamar terbuka dan tertutup dengan pelan. Menyisakan hinata dalam keheningan didalam ruangan, meski suara roda koper sasuke bisa terdengar dari dalam. Detik setelah suara roda koper itu tak terdengar, hinata menurunkan novel yang dia baca, menaruhnya dipangkuan.
Tatapannya merenung dengan hati yang berdenyut sakit. Seperti banyak duri yang sasuke tancapkan, penuh dan rapat, tak menyisakan sedikitpun ruang. Kata-kata pria itu, sikapnya, dan sifatnya. Semua berbentuk rasa sakit, pahit dan perih. Tapi anehnya cintanya masih saja bertahan. Dan itu membuatnya lebih sakit dari apapun yang dia dapati dari sasuke.
Sialan. Bahkan sudah sesakit ini, rasa cintanya masih saja ada. Sebenarnya ini cinta atau kutukan?
Hinata membuka kembali halaman novel yang dia baca. Mengulang halaman sebelumnya hanya untuk membaca sepenggal kalimat yang terasa pas dengan keadaannya kini. Lama dia tatap kata perkata dengan nelangsa kosong, baru kemudian benar-benar beranjak dari kasur, pergi mempersiapkan diri menyusul suaminya ke las vegas.
Satu jam kemudian, wanita itu sudah siap. Setelannya rapi dan clean. Simple tapi membuatnya nampak anggun dan memberi kesan old money. Lain hal dengan sasuke yang membawa koper besar, wanita itu justru hanya membawa koper kecil dan shoulder bag, menuruni anak tangga satu persatu dengan pelan sembari mengangkat koper. Dilihat dari caranya membawa koper, sepertinya isinya tidak banyak.
Sesampainya di anak tangga terakhir, hinata merapikan letak tasnya, menggeret koper menuju pintu keluar, terakhir mengunci pintu depan dan pagar, baru kemudian menunggu tidak lebih dari lima menit sampai akhirnya taksi datang menjemputnya.
Didalam kamar yang dia tinggalkan, novel hinata masih berada diposisi yang sama seperti terakhir kali dia tinggalkan. Tergeletak diatas kasur yang agak sedikit kusut dibagian tempat hinata tidur, dan terbuka dibagian halaman yang bait katanya dia tatap lama. Sebuah kalimat yang membuat wanita itu melakukan perjalanan ke las vegas. Mendatangi tempat dari rasa sakitnya yang lain.
Kalau rasa sakit bisa menghilangkan rasa cinta, aku rela mendatangi rasa sakit itu berkali-kali.
.
.
.
.
.
Attacca
Rasanya menarik mengambil tema ini. Sebuah cinta yang liar dan menggelora bebas, harus terjebak dalam kewajiban bersyarat.
26/7/26
Best regards
Lotushym
