Actions

Work Header

dan paris memang sepantasnya dijuluki kota cinta.

Summary:

Stanislav setidaknya punya dua krisis besar yang sebenarnya lumayan kontradiktif;
1. Ia akan menyerah dan pensiun kalau gagal (lagi) di EWC 2026, namun;
2. Ia tidak mau berhenti bermain dan satu tim bersama ‘rekan kerja’-nya, Kemiran.

Beruntungnya, si roamer raih gelar juara bersama Team Spirit dan akhirnya dapat berbagi pelukan bahagia dengan si mid laner setelah tujuh tahun lamanya menanti.

Notes:

first time writing in AO3 and first time writing this pairing, hope it's pleasant enough for yall!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Stanislav rasanya deg-degan setengah mati ketika Yangon Galacticos, tim underrated dari Myanmar (yang sama underrated-nya dengan mereka), berhasil samakan kedudukan jadi 3-3. Sebagai veteran, Stanislav tahu bahwa dia harus tenang bahkan menenangkan dua jagoan yang umurnya masih setara biji jagung, Anton dan Zaur, yang nampak benar-benar khawatir (kayaknya, sih, sudah mau nangis juga saking takutnya).

Stanislav tahu betul ini bukan pertama kalinya mereka mencapai panggung internasional. Tapi perkara sampai Grand Final? Jangan bercanda. Stanislav saja masih kira dia bermimpi kalau-kalau kemarin Mathaios tidak memeluknya di panggung sambil loncat-loncat excited sampai-sampai Stanislav tercekik setelah mereka berhasil menumbangkan ONIC, sang pemegang julukan raja langit.

Tapi kemudian, pandangannya ia larikan pada Kemiran, teman seperjuangannya sejak zaman M1, sejak mereka masih kaku akan satu sama lain sampai sudah hapal kebiasaan masing-masing. Seperti saat ini, ketika tengah dilanda rasa cemas, salah satu kebiasaan Kemiran (yang sudah Stanislav identifikasi dari era M2) adalah meremas-remas tangannya sendiri meskipun mimik wajahnya tengah menunjukkan bahwa ia fokus mendengarkan kritikan sang pelatih, Coldstar atau ‘Bang Nikita’ kalau kata anak-anak.

Walau begitu, sang kapten nampaknya peka, baik dengan Stanislav yang menatapnya maupun gejolak kekhawatiran yang menyesakkan dada yang lebih tua hingga terpampang sampai wajah, sehingga Kemiran bergeser sedikit dan memberikan spasi agar Stanislav dapat duduk di sebelahnya. Hanya dua kali tepukan dari Kemiran di bagian kosong tersebut dan Stanislav langsung menempatinya tanpa bicara.

Masih dengan mereka semua yang fokus mendengarkan wejangan dari Nikita, Kemiran menggenggam tangan kanan Stanislav, melingkupinya dengan kedua tangannya. Stanislav biarkan apa adanya, karena itu adalah gestur yang kerap mereka berikan pada satu sama lain ketika menyadari bahwa yang lainnya nampak terlampau khawatir, metode tersirat yang seakan mengatakan, “Kamu ngga sendiri, ada aku di sini.”

Tangan Kemiran mungkin sedingin suhu ruang tunggu mereka. Tapi, bagi Stanislav, rasanya hangat. Genggaman tangan Kemiran tidak pernah terasa tidak hangat untuknya. Stanislav diam-diam lega karena Kemiran nyatanya tak sedang menjauhinya, lantaran belakangan ini mereka memang tidak habiskan cukup waktu untuk mengobrol selama biasanya. Stanislav sudah kehabisan dugaan dan sudah lelah menerka-nerka isi kepala Kemiran, tapi setidaknya untuk saat ini Stanislav tahu mereka baik-baik saja.

Waktu habis, begitu ucap timekeeper EWC yang membuat semuanya menengok ke arah jam analog yang tergantung apik di dinding. Memang sudah waktunya untuk bertarung lagi. Setidaknya, sudah dapat dipastikan bahwa apa yang akan Team Spirit hadapi setelahnnya adalah pertarungan terakhir malam ini. Apapun hasilnya, Stanislav akan serahkan pada takdir.

Dan sebelum benar-benar memulai, mereka membentuk lingkaran untuk melakukan jargon mereka sebagai penyemangat sekaligus pengingat bahwa apapun yang terjadi, Team Spirit sudah melakukan yang terbaik. Stanislav percaya itu, terutama ketika pundaknya dipukul-pukul dengan kepalan tangan dari Zaur (ngomong-ngomong, Stanislav bersyukur dia masih bisa nyambung dengan Zaur meskipun usia mereka terpaut 10 tahun) untuk men-transfer semangat dari darah mudanya.

“Bang, yang semangat, Bang!”

16 menit berlalu di in-game dan semua akumulasi poin kill sampai jumlah gold menunjukkan bahwa Team Spirit was in favor. Bahkan, Stanislav nyaris tak bisa bernapas waktu base dari Yangon Galacticos berhasil dihancurkan, dan rasanya Stanislav benar-benar terjebak di alam mimpinya.

Stanislav, sembari berdiri dan mencopot headset dari telinganya, kemudian mencuri pandang ke arah crowd yang heboh dan pada akhirnya merasakan ledakan atmosfer di venue. Juara baru telah hadir. Tapi kemudian, kala Stanislav sempatkan diri untuk melirik sang mid laner yang duduk tepat di sebelah kanannya, yang juga tengah berdiri sambil regangkan kedua tangannya ke atas dengan dramatis, baru semua terasa nyata.

Berakhir, benar-benar sudah berakhir.

Kalau di hari-hari biasa, Kemiran mungkin akan ia tertawakan. Tapi malam ini, dengan adrenaline rush yang berbeda, serta rasa deg-degan yang tak lantas hilang dari dadanya, Stanislav tawarkan sebuah pelukan yang langsung disambut baik oleh Kemiran.

“Ini asli! Kita menang!”

Dapat Stanislav rasakan excitement dari Kemiran saat sang kapten meloncat-loncat kegirangan dipelukannya. Kemudian, Anton ikut bergabung sebelum akhirnya mereka berpelukan besar; seluruh roster Team Secret, coaching staffs, dan kru lainnya.

Beginikah rasanya jadi juara? Rasanya, seperti memiliki dunia. Bahwasannya Stanislav dapat rasakan kehangatan dan kebahagiaan melingkupinya, naik dari dadanya dan tak lagi dapat terbendung, detak jantungnya berisik sementara venue heboh untuk merayakan kemenangan Team Spirit. Bahwa mereka menerima banyak sekali cinta.

Kalau sudah begini, Stanislav jadi teringat obrolannya dengan Kemiran setelah mereka mendarat di Paris, dan sebelum mereka mendadak berjarak. Di bawah langit malam Paris, mereka bercengkrama sementara yang lain sudah terlelap akibat kelelahan jalan kaki keliling.

“Paris, kan, kota cinta. Nanti kita menang pakai kekuatan cinta!”

“Cintanya siapa yang kamu maksud?”

“Ya, cinta dari coaching staffs kita, dari kru kita, dari fans kita, dari sesama kita juga, aku dan kamu dan yang lain. Semua orang punya cinta. Emangnya kamu ga punya cinta?”

Stanislav ingat bahwa dia sendiri kesulitan untuk menjawab pertanyaan retoris tersebut sembari menatap Kemiran yang tengah memandang jauh dari balkon tempat mereka berpijak, suatu privilege bagi kamar hotelnya yang memang dapat view Menara Eiffel.

“Punya, kok.”

“Dih, ragu-ragu!”

Stanislav cuma balas dengan tawa kecil hari itu, begitu juga dengan sekarang ketika mereka melangkahkan kaki bersama-sama untuk menghancurkan kunci terakhir milik Yangon Galacticos dan menjadi the last men standing. Stanislav sedikit hilang dalam pemikirannya sebelum ia mendengar namanya disebut oleh Kemiran bahwa merekalah yang akan menghancurkan kuncinya.

“Ayo kita ancurin kuncinya, as mukanya Eropa gitu, loh,” Kemiran berujar dengan nada candaan sambil merangkul ramah Stanislav, sementara yang dirangkul berdecak, “Pede banget, ya, Champion,” Lalu, rambut yang lebih muda diusak gemas oleh Stanislav.

Terlepas dari candaan mereka, Stanislav sejujurnya sangat terharu. Bahwa setelah penantian panjangnya—terutama karena itu dengan Kemiran, Stanislav mampu katakan bahwa perjuangannya tidak terasa sia-sia. Dan ketika kunci milik Yangon Galacticos telah hancur, hal itu sekali lagi mengingatkan Stanislav bahwa ia tidak sedang tidur di Gaming House dan bermimpi punya gelar internasional.

Trophy lift menjadi puncak seremonial mereka malam ini. Semua mata tertuju pada Team Spirit, namun mata Stanislav terkunci pada Kemiran yang bahagia. Sejatinya, Stanislav adalah yang paling paham tentang muaknya penantian, dan leganya ketika penantian tersebut berakhir manis.

Tujuh tahun adalah lama yang dibutuhkan Stanislav dan Kemiran untuk mampu rasakan ini. Namun, Stanislav pikir kemenangan bukanlah hal nomor satu yang buatnya bahagia karena demi apapun, Stanislav ingin bisa akui bahwa dia lebih senang melihat Kemiran nyengir besar karena lega mengetahui penantian mereka selama tujuh tahun lamanya tidak sia-sia. Stanislav ingin bisa sampaikan bahwa permainan mereka selama ini selalu terasa ajaib baginya, dan agar Kemiran tahu bahwa ia sangat bahagia menghabiskan tujuh tahun terakhirnya untuk menanti bersama Kemiran. Bahwa asal bersama Kemiran, Stanislav bisa jadi lebih bahagia dari apapun.

Meski begitu, saat mereka akhirnya kembali ke kamar hotel dengan penuh sukacita, kata-kata yang berhasil terlontar dari bibirnya hanyalah;

“Yah, ga jadi pensi, deh,” Stanislav berucap ringan sementara kedua matanya melirik mata si kapten yang masih berbinar-binar.

Kemiran membalas dengan nada pura-pura sedih, “Oh, jadi kamu ada rencana ninggalin aku maksudnya? Aku kira kita rekan kerja sampai umur kamu 40.”

“Apa, sih?” Kali ini Stanislav tersenyum lagi, entah untuk yang keberapa kalinya malam ini, “Emangnya kamu sendiri ngga pernah putus asa sampai kepikiran berhenti?”

Telunjuk Kemiran menekan-nekan sandi kamar mereka sampai terdengar bunyi ‘klik’. Mereka kemudian masuk, kemudian Anton langsung rebahan di kasur sembari tergelak dan memeluk trofi mereka.

“Tadi aja paling mewek dipanggung,” Ledek Mathaios yang kemudian ikut merebahkan dirinya berbarengan dengan Zaur.

Kemiran hanya geleng-geleng sambil mengambil botol air putih dan menenggak isinya, mendinginkan kepala, katanya. Setelah dipenuhi atmosfer venue tadi, sekarang rasa-rasanya memang jadi lebih senyap dan sepertinya memang cocok untuk Kemiran akhirnya terbuka soal ini.

“Emangnya aku ngga pernah kelihatan putus asa, ya?” Tanya Kemiran pada Stanislav, yang kini menatap lurus ke matanya, berusaha mencari petunjuk mengenai tujuan dari pertanyaan Kemiran; sarkasme, atau benar-benar bertanya? Atau bagaimana?

Dengan hati-hati, Stanislav menyahut, “Pernah, tapi belakangan ini kamu keliatan semangat lagi, sih,” Kemudian Stanislav pindahkan fokusnya ke tiga orang lainnya yang sedang ribut pelukan trofi, “Kemaren juga kamu bilang, kita bakal menang pakai kekuatan cinta karena Paris kota cinta.

Kemiran meletakkan botolnya dengan senyuman, “Aku mau pensiun kalau kita gagal dapet trofi.”

Kalau ini adalah salah satu hari-hari suram mereka yang penuh dengan penyesalan, Stanislav mungkin percaya. Tapi, bagaimana caranya Stanislav lakukan itu kalau Kemiran justru terlihat paling semangat di Paris? Kata-kata optimis yang terus dilontarkan dan secara tidak sadar memengaruhi Stanislav untuk punya harapan lagi. Memang, saat mereka sedang tidak banyak mengobrol, Stanislav tidak seharusnya menyimpulkan apapun soal Kemiran.

“Kalau mau menang, sih, aku selalu mau. Kita udah sampai sejauh ini, terlalu sayang kalau aku berhenti tanpa jadi apa-apa. Aku selalu punya harapan untuk bisa menang,” Kemiran menopang dagunya dengan tangannya di meja makan, “Tapi aku capek. Kita qualified dan ngewakilin EECA terus tapi ngga pernah jadi apa-apa. Kadang aku malu, kadang aku merasa bersalah, kadang juga aku mikir kalau aku memang ga akan pernah jadi sehebat itu.”

Kemiran menjeda ucapannya dan Stanislav menatapnya lamat-lamat, menunggu si kapten menuntaskan penjelasannya.

“Tapi kemudian aku lihat sekelilingku. Aku lihat rekan kita yang masih bersemangat apalagi ada Zaur yang baru gabung dan masih menyala-menyalanya. Ada Bang Nikita yang masih passionate buat ngelatih kita, terus semua kru yang dukung kita in our highs and lows,” Kemiran berhenti lagi, “Dan kamu.”

Stanislav menatap Kemiran heran, “Aku?”

Kemiran mengangguk, “Setiap aku liat kamu, aku liat versi kita tujuh tahun lalu yang masih eager to win. Dan setiap aku liat kamu juga, aku refleksiin perjalanan kita dan rasanya selalu sama; aku mau menangin suatu hal sama kamu. Setengahnya karena rasa bersalah, sih, tapi setengahnya lagi karena aku bersyukur dengan adanya kamu. Maaf, ya, kita ga banyak ngobrol gara-gara aku dilema.”

“Ngga papa, kok,” Stanislav membalas pendek dan Kemiran pikir dia tidak ikhlas, tapi ya sudah.

“Sebenernya, bisa aja, sih, ini udah bukan era aku lagi. Mungkin takdir memang ingin aku berhenti. Tapi, kalau ini bener-bener turnamen terakhirku, aku mau ngelakuinnya tanpa beban. Aku ingin apapun yang terjadi, aku bisa ikhlas dengan hasilnya dan pensiun dengan damai,” Kemiran menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi setelah menopang dagu dalam waktu lama, “Aku ga nyangka kita menang, tapi aku bersyukur, kok. Kayaknya emang harus ga ada beban dulu, deh,” Kemiran tertawa kecil dan Stanislav diam-diam setuju.

“Mungkin aku gamau kasih kesan buruk untuk Paris,” Pandangan Kemiran sekali lagi mendarat pada Menara Eiffel yang sebentar lagi akan jadi ribuan mil jauhnya, “dan untuk kamu juga, kalau seandainya ini turnamen terakhir kita. You mean a lot to me.”

Kita, ya? Dibandingkan membalas, Stanislav justru lebih sibuk mencoba menghilangkan gelenyar aneh di dadanya yang mendadak timbul. Perasaan hangat itu lagi, seakan apa yang ia rasakan divalidasi, bahwa ia suka dianggap penting oleh seseorang seperti Kemiran (ditambah lagi, ini jarang-jarang!) Tapi Stanislav tahan dirinya untuk tidak yapping aneh-aneh. Jangan, setidaknya bukan sekarang.

“Jadi, EWC tahun depan?” Pada akhirnya, Stanislav hanya kepikiran untuk mengajak Kemiran lagi, memastikan bahwa si kapten masih akan berada di sisinya dalam waktu dekat.

Kemiran terkekeh, “M8 dulu aja, yuk, biar lengkap trofinya.”

Stanislav mengangguk setuju, “Oke, gas,” itu memang cara Stanislav berterima kasih untuk eksistensi Kemiran di sisinya selama ini. Stanislav bersyukur karena Kemiran masih akan ada disisinya, dan mereka masih akan berjuang bersama setelah melewati kecanggungan singkat selama di Paris.

Dan Paris memang sepantasnya dijuluki Kota Cinta.

“ANTON JANGAN DIJATOHIN PIALANYA,” Teriakan menggelegar Zaur memenuhi kamar mereka, sementara Kemiran tertawa dengan lepas lagi dan yang diteriaki malah memelototi Zaur.

“Nanti kita kabarin si Alexander juga, ya, biar dia iri,” Celetuk Mathaios bercanda, sementara Zaur langsung protes karena jahat (namanya juga solidaritas jungler).

Mungkin, hanya dengan Kemiran disisinya, ataupun ditambah dengan Anton dan Zaur yang hobi cekcok serta Mathaios yang kerap menengahi (kadang Mathaios malah memihak salah satunya juga, sih), Stanislav akan selamanya merasa penuh.

END.

Notes:

meskipun agak telat, congrats for both TS && YG as new promising champions! <333 hope yall enjoy meskipun aku ngetik jam 1 pagi ... (ide mahal nnti lupa malah sayang)