Work Text:
Suara gamelan menggema lambat. Ketukan demung dan kenong bertingkah membelah malam yang lembap di pendopo kediaman bangsawan. Aroma melati membakar hidung Max Verstappen, menyatu dengan asap kemenyan tipis dan bau minyak kayu cendana yang mahal. Mengenakan jas formal kolonial yang kaku dengan kancing kuningan murni, Max berdiri mematung di sudut remang halaman luar pendopo. Bahunya yang lebar terasa berat, seolah setiap jahitan bahan wol tebal itu memikul timbunan dosa dan luka yang belum sepenuhnya mengering.
Di samping kirinya, Lando berdiri gelisah, melipat jemarinya di belakang punggung. Di kanan, Charles memegang cangkir kristal berisi minuman hangat tanpa niat sedikit pun untuk menyesapnya. Kedua sahabatnya itu tak membiarkan Max lepas dari jarak pandang walau sejengkal. Mereka tahu betul, di balik ketenangan dingin bernuansa beku yang dipasang Max malam ini, ada runtuhan batin yang sanggup merobohkan seluruh pilar kediaman ini jika dibiarkan meluap.
Mata biru Max yang redup terkunci pada satu titik utama di atas pelaminan kayu jati berukir emas. Di sana, Raden Mas Arya George Russell duduk bersanding dengan putri bangsawan pilihan keluarganya.
Sang pengantin wanita—seorang perempuan berdarah murni pribumi dengan keanggunan yang sukar dicela—tampak bagaikan lukisan klasik yang hidup. Mahkota melatinya menjuntai sempurna, kain jarik batiknya membalut tubuhnya dengan lipatan yang sangat teliti, dan jemarinya yang dihiasi cincin permata bertumpuk lembut di atas pangkuan.
Mereka tampak seperti pasangan paling sempurna yang pernah dipahat oleh takdir Hindia Belanda. Seorang putra bangsawan berparas rupawan, berpendidikan, bernapas dalam martabat leluhur, disandingkan dengan wanita elegan yang memancarkan aura ketenangan tak bertepi. Seluruh tamu undangan—dari para pejabat tinggi kolonial berseragam militer lengkap hingga para demang dan bupati lokal—terpukau. Mereka bertepuk tangan, mengangguk setuju, menyanyikan puji-pujian tentang masa depan garis keturunan yang akan terpelihara suci.
Namun Max tahu. Max tahu pasti apa yang tersembunyi di balik senyum tipis dan formal yang diulas oleh George.
Setiap kali mata George berkedip pelan, Max melihat getaran samar di sudut bibir pemuda itu. Postur tubuh George yang tegak lurus bagai tiang bendera sebenarnya menyimpan kelelahan dahsyat. Di balik kain beludru hitam yang membungkus dada George, Max masih bisa membayangkan jejak lebam dan memar bekas pukulan kayu paman-pamannya dua tahun lalu—luka-luka yang pernah George tanggung demi menyelamatkan nyawa Max dari kemurkaan dua keluarga besar.
Max mengepalkan jemarinya di dalam saku celana. Bekas luka cambukan kuda milik ayahnya, Jenderal Meneer, di punggungnya sendiri mendadak terasa perih dan panas, seolah kembali terbakar oleh ingatan malam berdarah itu.
”Kau tidak harus berdiri di sini sampai selesai, Max" bisik Charles pelan. Suara sepupunya itu bergetar penuh kehati-hatian.
“Kita bisa minta izin pergi sekarang. Gerobak kuda kita sudah siap di gerbang samping"
”Tidak" jawab Max. Suaranya serak, rendah, dan dingin seperti batu kali di dasar sungai Bandoeng. "Aku yang meminta hadir. Aku harus melihatnya dengan mataku sendiri"
"Max, jangan konyol!" sela Lando dengan nada tertahan, matanya melirik cemas ke arah kerumunan pengawal bangsawan yang bersiaga di tiap sudut pendopo.
"Kau sudah melewati neraka dari bapakmu sendiri. Kau hampir mati dihajar orang-orang mereka. Dan sekarang kau menontonnya menikahi wanita lain? Untuk apa?"
"Untuk memastikan—" bisik Max lirih. Nyaris tak terdengar di antara dentang gamelan.
Matanya tak berkedip menatap sosok di atas pelaminan. Untuk memastikan bahwa cah ayu-ku masih sanggup tersenyum. Bahwa seluruh darah yang tertumpah, cambukan di punggungku, dan pukulan kayu yang menghancurkan tubuhnya dua tahun lalu . . . tidak sia-sia. Aku harus memastikan dia aman, walau keamanan itu artinya dia harus bersanding dengan orang lain.
Kerumunan tamu mulai bergerak maju untuk memberikan ucapan selamat. Langkah kaki para pejabat berdentang di atas ubin marmer impor. Saat itulah, dari arah barisan depan tamu kolonial, seorang pria melangkah santai dengan keangkuhan yang sangat dihafal oleh Max.
Carlos Sainz.
Putra pejabat kolonial kaya raya itu tampil sangat rapi malam ini. Rambut mewahnya disisir ke belakang dengan minyak wangi khas Eropa, jas hitamnya terpotong sangat pas di bahu. Semasa sekolah dulu, Carlos adalah sosok yang paling dibenci oleh Max—pria sombong yang selalu mencari gara-gara dengan George, anak yang kerap memprovokasi dan menebar ancaman.
Max mengencangkan rahangnya. Dengki lama merayap naik ke tenggorokannya. Dulu, sebelum Max bersatu dengan George dalam rahasia, Max sering kali terbakar cemburu memikirkan Carlos. Max selalu curiga bahwa Carlos memiliki rasa tersembunyi pada George—rasa cemburu yang terbungkus kejahilan kasar dan provokasi tanpa henti. Dan kini, melihat Carlos berada di pesta pernikahan ini membuat isi perut Max berkecolak pedih.
Carlos melangkah ke pelaminan, memberikan penghormatan singkat pada George dan pengantin wanitanya. Ia mengucapkan beberapa kalimat formal yang ditanggapi George dengan anggukan sopan.
Namun saat Carlos berbalik untuk turun dari panggung pendopo, matanya bergulir menyusuri sudut-sudut ruangan.
Pandangan Carlos berbenturan langsung dengan mata biru Max.
Max menyipitkan mata, bersiap menerima sorot ejekan, seringai kemenangan, atau tatapan cemooh dari Carlos—reaksi yang biasa ia terima semasa di akademi. Namun apa yang terjadi berikutnya justru membuat dada Max berguncang hebat oleh rasa mual.
Carlos tidak tersenyum. Seringai sombongnya menghilang total. Wajah tampan anak pejabat itu tampak kaku, dan di balik matanya yang biasanya penuh kedengki, terpancar sebuah raut yang sangat amat dibenci oleh Max: Simpati.
Carlos menatap Max dengan pandangan kasihan yang sangat dalam. Sorot mata itu seolah berkata: Aku tahu apa yang kau rasakan, Max. Aku tahu betapa hancurnya dirimu melihat dia di sana, dan aku tahu kita berdua hanyalah pecundang yang tidak akan pernah bisa memilikinya.
Darah Max mendidih seketika. Mual dahsyat melanda dadanya hingga ia harus melangkah mundur setengah jalan. Tatapan simpatik dari orang yang paling ia benci itu rasanya lebih menyakitkan daripada pukulan kayu pengawal bangsawan. Max merasa dijepit dalam kehinaan paling dasar. Ia tidak butuh belas kasihan dari Carlos Sainz! Ia tidak butuh simpati dari pria yang dulu berpura-pura menjadi pahlawan di lorong sekolah saat mereka hampir tertangkap guru!
Max mengalihkan pandangannya dengan kasar, menatap lantai marmer di bawah kakinya dengan deru napas yang memburu. Tangannya menekan dada kirinya sendiri, mencoba menahan detak jantungnya yang berantakan.
"Max? Ada apa?" tanya Charles cemas, menyadari perubahan drastis pada sepupunya.
"Aku mau naik ke atas pelaminan" kata Max mendadak. Suaranya tidak lagi bergetar. Mutlak.
"Kau gila?!" Lando memegang lengan Max erat-erat. "Ingat janji kita! Kau bilang hanya mau melihat! Jangan buat keributan di sini, Max, paman-paman George sedang memperhatikan gerak-gerikmu!"
"Aku tidak akan membuat keributan" jawab Max dingin, menghempaskan pegangan tangan Lando dengan sekali sentakan.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat pada cah ayu-ku"
Langkah Max melintasi pendopo terasa seperti puluhan mil. Setiap pasang mata yang dilewatinya seolah menjadi sembilu. Namun Max menatap lurus ke depan, menghiraukan kasak-kusuk para pejabat dan tatapan tajam para pengawal bangsawan yang bersiaga memegang hulu keris mereka.
Ia menaiki tangga kayu jati menuju panggung pelaminan. Langkah kakinya berat, berdentang pasti.
Saat sosok Max menjulang di depan pelaminan, suasana di sekitar George seolah membeku seketika. Pengantin wanita di samping George sempat melirik bingung pada pria Belanda tinggi berwajah lebam tipis yang memancarkan aura duka begitu pekat ini. Sementara itu, George . . . seluruh warna darah di wajah George menguap seketika.
George membisu. Matanya yang indah menatap Max dengan binar ketakutan dan rasa cinta yang dipaksa mati. Jemari George yang memegang keris hiasan di pinggangnya gemetar hebat.
Max tidak mempedulikan tatapan sekeliling. Tanpa membuang waktu, tanpa meminta izin pada protokol adat, Max melangkah maju satu tahap lagi dan mendekap tubuh George ke dalam pelukannya.
Pelukan itu begitu erat, begitu rapat, hingga seluruh dada mereka bersentuhan. George mematung dalam dekapan Max. Kehangatan yang sangat dihafal George—aroma tubuh Max yang selalu menjadi tempat perlindungannya di malam-malam rahasia dulu—kembali menyeruak, merobohkan seluruh dinding pertahanan emosi yang telah George bangun selama dua tahun terakhir.
Max meresapkan kepalanya di samping telinga George. Ia bisa merasakan betapa kaku dan gemetarnya tubuh pria yang dicintainya itu di dalam pelukannya.
Max memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kenangan tentang pertemuan rahasia di kedai teh, hujan di teras sekolah, dan janji-janji di atas bukit berputar liar di benaknya untuk terakhir kali.
Lalu, dengan suara serak yang begitu lembut, penuh afirmasi puitis dan duka mendalam yang tertahan, Max berbisik dalam bahasa ibunya:
"Lach, cah ayu . . . dit is jouw dag" (Senyum, cah ayu . . . ini hari bahagiamu)
Kata-kata itu menghantam George tepat di dadanya. George memejamkan mata rapat-rapat, menahan jeritan tangis yang mengancam keluar dari tenggorokannya.
Cengkeraman jemari George meremas kaku kain jas di punggung Max hingga memutih—mencoba menyalurkan seluruh rindu, rasa sakit, dan doa yang tak sanggup ia ucapkan di depan para tamu. Ia merindukan ucapan cah ayu itu. Ia merindukan pria Belanda ini lebih dari apa pun di dunia ini, namun ia tahu ia harus membiarkan Max pergi demi menyelamatkan nyawa mereka berdua.
Max perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap mata George sekali lagi—menatap pusaran kesedihan mendalam yang tersimpan di balik ketenangan palsu George.
Max memberikan anggukan kecil pada pengantin wanita yang terpana, lalu berbalik dan melangkah turun dari pelaminan tanpa menoleh lagi.
Di bawah panggung, Carlos Sainz berdiri menatapnya. Kali ini, Max melintasi Carlos tanpa rasa takut maupun mual. Bagi Max, dunia sudah berakhir di atas pelaminan itu. Tak ada lagi simpati atau kedengki yang sanggup menyentuhnya.
Seminggu setelah malam pernikahan di Kasunanan, Max Verstappen resmi menandatangani berkas kepindahannya ke Bandoeng. Ia menolak semua fasilitas mewah milik ayahnya dan memilih menyewa sebuah rumah tua berdinding papan kayu tebal di kawasan pegunungan yang terisolasi dari keramaian kota.
Bandoeng adalah kota yang dingin. Kabut putih tebal selalu turun menyelimuti perkebunan teh setiap pukul empat sore, membungkus rumah kecil Max dalam kepungan udara beku. Di sinilah Max mengurung dirinya. Hatinya telah mati rasa, menyisakan kerinduan yang menggerogoti jiwanya saban hari.
Setiap malam, Max duduk sendirian di teras kayu rumahnya, memangku cangkir teh hitam yang uapnya menghilang cepat diterpa angin malam. Ia tidak lagi mengejar karier di pemerintahan kolonial. Ia bekerja seadanya sebagai juru tulis administrasi lokal, hidup bagai bayangan yang tak bernyawa.
Hingga suatu pagi, saat berjalan menyusuri pasar barang antik di Bandoeng untuk mencari sedikit kehangatan di luar rumah, langkah kaki Max terhenti di depan sebuah kios tua yang berdebu.
Matanya tertambat pada sebuah tempat souvenir—sebuah wadah kayu jati kecil berukir rumit tanpa isi. Wadah itu tampak usang dan tak berharga bagi orang lain.
Namun saat jemari Max menyentuh permukaan kayunya yang dingin, sebuah getaran aneh merayap naik ke tangannya.
Ada dorongan batin yang begitu kuat dan mendesak, memaksa Max untuk membawanya pulang.
Di kamar kerjanya yang remang, Max mengamati wadah kosong itu. Dengan naluri yang tajam, jemarinya menemukan sebuah engsel rahasia di bagian bawah wadah. Saat ditekan, kompartemen rahasia itu terbuka.
Di dalamnya, terbaring selembar postcard tua.
Max mengambil postcard tersebut dengan jemari yang bergetar. Gambar di bagian depannya tampak begitu samar dan blur—seperti cetakan dari zaman yang sangat asing, menampilkan potret dua orang pria yang berdiri bersisian di tengah lanskap kota masa depan yang megah, namun wajah keduanya tidak bisa terlihat jelas.
Rasa penasaran menguasai dada Max. Dengan hati-hati, ia membalikkan postcard tua tersebut.
Di bagian belakangnya, terukir jelas tulisan cetak tebal:
George Russell & Max Verstappen
2011 — Karting
European Karting Circuit Podium Finisher
“Maybe we were meant to meet, not meant to stay”
