Actions

Work Header

off camera

Summary:

keonho gets insecure about their public dynamic, while seonghyeon proves he loves him plenty

Notes:

terinspirasi dari ankono yang menyetir keonhyeon secara ugal-ugalan. mungkin oyon menyetir di belakang layar #percaya

Work Text:

Pandangannya terpaku pada lelaki di seberang yang tengah duduk sambil melekatkan pandangan pada ponsel di satu tangan. Alisnya sedikit bertaut sembari ibu jarinya menggulirkan layar perlahan. Helaan napas pendek kadang terdengar di selanya. Merasa diperhatikan, Keonho mendongakkan kepala. Tatapan mereka sempat bertemu beberapa detik sebelum Keonho memutus pandangan dan beranjak dari sofa.

Seonghyeon menggaruk kepalanya, merasa bingung dengan sikap kekasih sekaligus teman satu grupnya barusan. Jika tatapan mereka bertemu, biasanya, Keonho akan menyunggingkan senyum manis hingga matanya menyipit lucu lalu melambaikan tangan meminta Seonghyeon untuk duduk di dekatnya. Biasanya seperti itu. Oleh karena itu, perilaku kekasihnya barusan sungguh tidak biasa baginya.

Beberapa saat kemudian, samar-samar terdengar suara tawa merdu familier yang sangat disukainya. Saat ia mencari sumber suara, Keonho terlihat sedang merangkul Juhoon dan Martin sembari mengobrol. Cengiran lebar Keonho membuatnya makin tampan. Topik pembicaraan mereka terlihat begitu menarik hingga Seonghyeon rasanya ingin berjalan mendekati mereka dan ikut serta di dalamnya. Akan tetapi, ia tahu Keonho sepertinya sedang tidak menginginkan kehadirannya.

Guys, ayo foto grup dulu!”

Pekik James memecah obrolan mereka dan memutus lamunan Seonghyeon yang sedang menganalisis perilaku sang kekasih. Mereka serempak berjalan mendekat ke arah James lalu berbaris menyamping menentukan posisi masing-masing. Seonghyeon berjalan menuju sisi kiri James, lalu James menyisakan sebuah ruang kosong tepat di samping kanan Seonghyeon untuk Keonho. Hal itu dilakukan karena Keonho selalu merengek, meminta agar ia dapat bersebelahan dengan Seonghyeon pada tiap foto.

Namun, hal tidak biasa terjadi. Keonho tidak mengisi ruang kosong yang diciptakan James. Ia malah berjalan menuju Martin yang berada di ujung kanan lalu berjinjit dan merangkul bahu Martin seolah hal itu merupakan hal biasa. James menaikkan sebelah alisnya, tetapi tidak mengucap apapun. Ia menoleh ke sosok Seonghyeon di sampingnya. Tatapan Seonghyeon hanya tertuju ke depan, seperti tidak merasa terganggu dengan tingkah Keonho barusan. Akan tetapi, James dapat melihat Seonghyeon yang menggigit bibir bawahnya seperti menahan suatu perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Dengusan kecil keluar dari mulutnya.

“Gamau ikut campur, deh.”

——

Hari ini Seonghyeon berbagi kamar dengan Martin, tetapi Martin dari tadi tidak terlihat batang hidungnya. Kini, Seonghyeon duduk di pinggir tempat tidur sembari jemarinya menggeser beberapa foto selfie yang diambilnya barusan. Ia berniat mengunggahnya ke akun weverse-nya karena sudah lama tidak mengunggah apapun. Beberapa hari ke belakang, ia hanya membalas beberapa komentar yang menarik perhatiannya tiap malam. Berinteraksi kecil dengan beberapa pesan dari fans yang menghiburnya kala ia letih.

Sebelum mengunggahnya, seperti sebuah kebiasaan, ia membuka ruang percakapannya dengan Keonho. Ia sudah berencana mengirimkan beberapa fotonya sebelum ingatannya kembali pada sikap Keonho beberapa waktu lalu. Keonho sedang menghindarinya. Ia menaruh ponsel di atas tempat tidur lalu mengarahkan pandang pada dinding di hadapannya.

Sebelum mengunggah foto dirinya, Seonghyeon selalu mengirimkannya kepada Keonho terlebih dahulu. Tidak harus sebenarnya. Namun, entah sejak kapan, Seonghyeon selalu merasa Keonho harus menjadi orang pertama yang melihat fotonya. Seperti ada yang salah jika Keonho bukan orang pertama yang melihat fotonya. Setelahnya, pasti Keonho akan memberikan pujian yang terlalu dilebih-lebihkan, namun mampu membuat bibir Seonghyeon tak henti melengkungkan senyuman.

Mengingat berbagai respons lucu Keonho yang pernah ia berikan pada fotonya, bahunya yang semula tegap perlahan merosot. Ia menundukkan kepala, menahan rasa sedih yang melanda. Padahal, Keonho baru menghindarinya tadi, tetapi ia tidak menyangka perilaku Keonho ini mampu membuat dirinya seperti hilang arah. Ia baru menyadari betapa besar arti kehadiran Keonho dalam hidupnya.

Kemudian, ia merebahkan tubuhnya menelungkup di atas tempat tidur. Tepat saat ia merentangkan tangannya, jemarinya tak sengaja menyentuh layar ponselnya yang tadi ia taruh sembarangan. Saat ia melirik, beberapa foto yang sebelumnya sudah dipilih tak sengaja terkirim. Jantungnya seperti berhenti berdetak selama beberapa detik. Ia refleks bangun dari tempat tidur lalu berdiri sambil memperhatikan layar ponselnya tak percaya. Sebelum Seonghyeon sempat melakukan apapun, terlihat Keonho mengetik selama beberapa saat. Bahu Seonghyeon kembali jatuh lemas setelah melihat jawaban Keonho yang hanya terdiri dari satu kata.

“Oke.”

——

Keonho memandang ponselnya lekat-lekat sambil bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Ia sibuk menggeser ke kanan dan ke kiri beberapa foto di ponselnya sembari melengkungkan senyum. Jarinya memang barusan hanya mengetik satu kata tidak berarti, tetapi ia tidak bisa berbohong kalau dirinya sungguh mengagumi foto dari sosok sempurna yang selalu mengisi pikirannya.

Jauh di lubuk hatinya, ia sama sekali tidak ingin menghindari Seonghyeon. Layaknya dua kutub magnet yang berlawanan, Keonho selalu merasa tertarik untuk berada di dekat Seonghyeon. Sungguh seperti ada ruang kosong yang muncul di hatinya ketika Keonho secara sadar menghindari Seonghyeon.

Di tengah tatapannya yang masih terpaku pada layar, pintu kamar tiba-tiba dibuka secara kasar. Sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya berdiri di sana dengan bibir mengerucut seperti menahan amarah. Keonho berdeham, berusaha menyembunyikan senyum yang sempat terukir di wajahnya. Ia segera menegakkan tubuh, lalu memaksakan raut wajahnya menjadi dingin.

“Ketuk dulu, sih, kalau perilaku yang sopannya.”

Seolah tidak mendengar sindiran Keonho, Seonghyeon tetap berjalan masuk. Ia kemudian duduk di atas kasur, tepat berhadapan dengan Keonho.

“Aku ada salah? Kamu kenapa? Aku gak bisa, aku gak suka.”

Rentetan kalimat panjang keluar dari mulut Seonghyeon diiringi dengan kerutan di dahi. Matanya berkaca-kaca. Ia seperti berusaha dengan susah payah menahan air mata yang kapan saja siap meluncur. Melihat hal itu, hati Keonho mencelos. Keonho tidak pernah menyangka bahwa sikapnya yang sengaja menghindari Seonghyeon akan membuatnya bereaksi seperti itu.

“Maksudnya?”

Hanya itu yang bisa Keonho ucapkan. Ia sudah berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan, tetapi otaknya seperti tidak mampu. Ia sepenuhnya sadar, alasan sebenarnya dibalik perilakunya sangatlah tidak penting. Lagipula, hal yang sejak tadi mengusik pikirannya sebenarnya tidak pernah benar-benar terjadi. Melihat Seonghyeon di hadapannya yang begitu terganggu dengan perilaku yang Keonho tunjukkan membuat Keonho sadar bahwa kekhawatirannya mungkin memang tidak beralasan.

“Keonho, please.”

Sebelum bibir Seonghyeon tambah melengkung ke bawah, Keonho memajukan tubuhnya. Ia melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Seonghyeon yang sedikit lebih kecil.

“Maaf, aku tadi lagi capek aja.”

Seonghyeon tidak langsung membalas pelukan tiba-tiba itu. Ia hanya menggelengkan kepala pelan di dada Keonho.

“Bohong.”

Suaranya terdengar kecil karena tertutup oleh peluk erat Keonho. Keonho menyunggingkan senyum tipis. Ia mengusap punggung Seonghyeon dengan lembut. Beberapa detik kemudian, Seonghyeon membalas pelukannya. Ia menyandarkan kepalanya ke dada bidang Keonho dengan nyaman. Saat Keonho berusaha melepas pelukan mereka, Seonghyeon menahannya dengan mengeratkan dekapannya. Keonho terkekeh kecil karena gemas dengan kelakuan sosok yang lebih tua di dekapannya. Tanpa pikir panjang, ia mengelus dan mengecup pucuk kepala Seonghyeon. Keonho dapat merasakan detak jantung mereka yang beradu dalam jarak sedekat itu.

“Yaudah aku jujur, tapi aku bilangnya sambil kita kayak gini aja ya.”

Anggukan cepat dari Seonghyeon terasa di dadanya. Keonho menarik napas pelan sebelum akhirnya mengungkapkan alasan yang sejak tadi ia pendam.

“Sebenernya, aku tadi siang liat di sosmed, katanya aku kecintaan sama kamu. Ya itu emang bener, sih.”

Keonho terdiam sejenak, sedikit malu untuk melanjutkan.

“Cuma selain itu banyak banget yang bilang kalau kamu kayak gak minat sama aku. Aku doang yang nyetir…”

Seonghyeon mendadak menjauhkan tubuh dan melepaskan pelukan. Matanya membulat, menatap Keonho tak percaya, sebelum deretan giginya terlihat dalam senyum yang melebar.

“Maksudnya, kamu mau aku make a move duluan di panggung?”

Keonho buru-buru menariknya ke dalam pelukan. Ia berusaha menyembunyikan rasa malunya saat berbicara mengenai alasan tak pentingnya itu.

“Kan aku bilang pelukan aja.”

Suara tawa kecil terdengar dari mulut Seonghyeon.

“Aku jadi mikir, mereka ada benernya juga. Terus aku jadi kesel. Maaf, harusnya aku komunikasi sama kamu, bukan malah ngehindar.”

Rasa sedih yang dari tadi mengisi hatinya mendadak menghilang digantikan dengan degup bahagia yang datang tiba-tiba. Ia kembali menjauhkan tubuhnya, menengadah menghadap wajah Keonho, lalu mencubit kedua pipinya gemas.

“Banget. Aku sayang kamu banget. Maaf kalo di depan kamera aku kayak gapernah interaksi duluan sama kamu.”

Lalu, Keonho menangkup wajah Seonghyeon dengan tatapan penuh cinta.

“Iya, dimaafin. Aku percaya kamu sayang aku soalnya baru juga didiemin tadi, tapi ka—Aduh.”

Seonghyeon menghentikan ucapan Keonho dengan menyentil dahinya pelan. Bibirnya maju karena ia malu untuk mendengar ucapan Keonho yang ia sudah tahu arahnya ke mana.

“Walaupun di depan kamera aku keliatan begitu, tapi kan di luar kamera aku sering cium kamu lebih dulu.”

Seonghyeon melepas tangan Keonho dari wajahnya. Gantian, ia menangkup kedua pipi Keonho dengan telapak tangannya. Jemarinya kemudian membelai anak rambut yang mencuat di dahinya, sebelum turun mengusap kedua pipinya yang mulai dihiasi rona merah samar. Seonghyeon mendekatkan wajahnya beberapa senti, lalu mengecup singkat pucuk hidung Keonho.

“Oh iya, ketinggalan.”

Ia menurunkan wajah Keonho sedikit, lalu mengecup dahi Keonho. Tidak terlalu lama, tetapi cukup untuk menyampaikan rasa rindu yang sejak tadi memenuhi hatinya. Setelahnya, Seonghyeon kembali menjauhkan wajah Keonho. Tatapannya perlahan turun, berakhir pada bibir merah muda di hadapannya. Bibir itu seolah memiliki daya tarik tersendiri yang membuatnya ingin kembali mengecupnya. Seonghyeon mengangkat pandangan, menatap tepat ke netra Keonho.

“Tunggu apa lagi?”

Seonghyeon tersenyum miring. Ia segera mendekatkan wajah, mempertemukan bibir mereka dalam sebuah kecupan singkat. Kecupan itu perlahan berubah menjadi ciuman yang lebih dalam, seolah keduanya enggan saling menjauh. Seperti candu, mereka terus larut dalam ciuman itu, seakan sedang menyampaikan perasaan yang tak terucap dan berlomba menunjukkan siapa yang lebih besar cintanya.

Mereka berdua tidak menyadari bahwa pintu kamar masih terbuka sedikit. Secara kebetulan, James yang sedang melintas melihat keduanya di dalam. Ia berhenti sejenak, menatap keduanya yang sedang larut dalam dunia mereka sendiri.

“Kali ini perlu ikut campur.”

Namun, alih-alih masuk, James justru berjalan mendekat dengan langkah yang sengaja dipelankan. Tangannya meraih gagang pintu, lalu menutupnya perlahan hingga menyisakan mereka berdua di dalam. Ia memilih ikut campur dengan cara yang menurutnya benar.