Actions

Work Header

Terlambat tapi Tetap Hadir

Summary:

Mike Williams. Seorang anggota keluarga atlet yang dikenal untuk prestasinya. Tapi kasiannya, dia disangkah lemah sama keluarganya. Apakah dia bisa membuktikan bahwa mereka salah?

Notes:

So yeah usually I don't post anything in Bahasa Indonesia but cuz this was like an assignment and I didn't bother translating, I'll just make this a Bahaha Indonesia fic.

Jadi ya, biasanya gw gak memposting apa pun dalam Bahasa Indonesia, tapi karena ini tugas dan gw malas translate, gw akan membuat ini jadi fic Bahaha Indonesia aja.

 

Thanks

Terima kasih

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ryan Williams, seorang atlet trek lari yang terkenal karena memenangkan semua lomba beliau mengikuti. Istrinya, Samantha juga adalah seorang atlet yang terkenal untuk prestasinya. Mereka berdua memiliki tiga anak. Dua memiliki prestasi, satu yang “lemah”. Walaupun dia adalah anggota keluarga Williams, dia bukan anak kandung Ryan dan Samantha. Ibu kandung dia adalah bu Anderson. Ayah tidak diketahui. Dia diadopsi oleh Tuan Williams karena ingin bersembunyikan sebuah rahasia, yaitu perselingkuhan dia dan bu Anderson. Anak tersebut adalah aku, Mike Williams. 

 

Sejak dulu, seluruh keluargaku memandang rendah diriku. Karena fisikku emang lemah. Dibandingkan kakak-kakakku, aku seperti seekor tikus sedang berlomba dengan seekor singa. Tapi, waktu aku umur delapan, aku menonton race kuda yang disetel di televisi. Kuda-kuda pacuan yang kelihatan di televisi sangat keren. Beneran sangat keren. Pemenangnya adalah seekor kuda thoroughbred yang bernama "Supreme Brewery", terkenal untuk memenangkan tujuh balapan G1 walaupun ia lahir dengan kaki yang lemah. Oleh karena itu aku jadi terinspirasi untuk membuktikan keluargaku bahwa mereka salah dan aku bisa secepat mereka. 

 

Aku mulai berlatih secara diam-diam sejak aku berusia delapan menuju ke sembilan, dan mulai berlatih dengan pengawasan orang tua sejak kelas dua SMP. Karena status keluargaku, aku diterima dan menjadi murid Steamboat Academy; sekolah yang menerima semua murid dari TK ke SMA. Steamboat Academy terkenal sebagai sekolah internasional terbaik di seluruh provinsi. di hari pertamaku SMA, aku langsung jadi populer karena aku adalah salah satu anggota keluarga Williams. Aku disangka cowok ganteng bad boy sama cewe-cewe padahal gak akurat sama sekali. Jadi, aku coba membuktikan tersebut dengan mendapatkan nilai-nilai bagus dan daftar menjadi anggota OSIS pada aku kelas sebelas. Aku gak menyangka aku diterima dan masuk bidang MPK. Setelah graduasi SMA, aku langsung berfokus berlatih untuk perlombaan lari pertamaku. Lomba ini adalah balapan debutku. 

 

Sebulan setelah aku graduasi, aku tiba di tempat kumpul para-para atlet baru yang juga mau debut. Disitu, kita semua dites fisik, seperti tes Lari Terbang 30m untuk mengukur kecepatan maksimum, tes Daya Ledak Otot Tungkai untuk mengukur kemampuan lompat jauh tanpa awalan, dan analisis struktur tubuh. Walaupun badanku udah dilatih sejak dulu, tetap aja masih lebih lemah dibandingkan atlet lain. Aku malah dapat rank terendah di setiap tes. Tapi sepertinya, karena aku adalah seorang anggota Williams, para pelatih tetap ingin memilihku. Aku mendengarkan semua rencana-rencana yang mereka lihat. Aku bukan seorang ahli atau semacamnya tapi aku bisa lihat semua rencananya tidak cocok. Saat aku lagi mendengarkan para pelatih ahli ngoceh, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku; seorang gadis yang setinggi bahuku.

 

“Permisi, kamu Mike Williams ya?”

“Iya. Ada apa, kak?”

“Saya mau merekrut mu. Saya melihat potensialmu.”

“Maaf tapi, saya lagi mau mencari pelatih yang beneran cocok untukku,” aku menolaknya.

“Eh tapi, meskipun saya pemula, saya bisa melihat sebenarnya kamu badannya emang lemah. Gak expect sih untuk seorang anggota keluarga Williams.”

“Maksudmu?” aku mengatakan, agak tersinggung.

“Maksudku, meskipun badanmu kurang kuat, saya masih bisa lihat potensialnya. Kamu hanya membutuhkan rencana latihan yang beneran cocok.”

 

Dia kemudian menjelaskan kepadaku tentang rencana latihannya. Rencananya bukan seperti rencana pelatih ahli lain. Tidak fokus pada lari paling cepat tapi sengaja paling lambat untuk menghemat energi, terus mempercepat di bagian terakhir. 

 

“Bagus juga ya, kak,” aku memuji dia.

“Ehhh iya, terima kasih. Jadi kamu setuju saya menjadi pelatihmu?”

“Iya, boleh deh. Oiya, namamu?”

“OH IYA. Astaga masa saya lupa…saya Agatha Ross. Saya emang baru aja menjadi pelatih tapi saya janji akan membantumu! Panggil saya Agatha aja. Kita seharusnya sama umur.” 

 

Jadi Agatha, secara resmi menjadi pelatihku. Emang agak aneh karena biasanya seorang atlet memiliki sebuah tim pelatih yang merawat mereka. Aku hanya memiliki satu orang pelatih pemula. Setelah hari itu, aku selalu mendengarkan bisikan dari para pelatih lain.

 

“Agh, pilihan bodoh!”

“Potensialnya terbuang milih pelatih pemula!”

“Sia-sia anggota keluarga Williams juga.”

 

Tapi aku mengabaikan. Aku percaya dengan Agatha. Aku diberikan empat bulan untuk melatih untuk balapan debutku. Untuk bulan-bulan tersebut, aku bekerja keras melatihkan tubuhku agar siap untuk debutku. Bisa terlihat di dalam empat bulan tersebut, ada peningkatan fisik. Otot kaki menjadi lebih besar, daya tahan meningkat, serta menjadi lebih cepat. Tapi menurutku, masih belum cukup.

 

Pada hari perlombaan, semua peserta tiba di stadium tersebut; untuk mempersiapkan tubuh dan mental untuk perlombaan dan daftar ulang. 20 menit sebelum perlombaannya mulai, semua peserta diminta menunggu di dalam ruang karantina. Disitulah, kita semua duduk di kursinya sendiri. Ada yang berdiam di pojok, ada yang mulai mencoba mengintimidasi.

 

“Oi, lu Mike ya?” seorang peserta nanya. “Tunggu aja, gua akan menang. Udah kelamaan keluarga Williams menang-menang mulu.”

 

Aku tetap abaikan. Aku tidak mau ngajak berantem, dan emang gak tahu mau balas apa. 

 

Sebelum perlombaannya mulai, semua peserta diminta menyiapkan balok start. Terus mereka tinggal tunggu.

 

“Bersedia…,” aku meletakan kaki dan lengan di tempat yang tepat.

“Siap…,” aku mengangkat badanku.

 

Sedetik setelah kata itu, langsung terdengar tembakan pistol.

 

“DOR!”

 

Langsung kita semua berlari. Tapi, kakiku tiba-tiba tersandung, hingga aku jadi late start. Aku berada di posisi terakhir di antara delapan orang. Selama sebagian besar jalannya balapan, saya berada di posisi paling buncit. Tapi aku tetap berusaha dengan penuh tenagaku. Tanpa sadar, aku mulai melangkah maju. Lama-lama menjadi lebih cepat dan cepat. Pada 100 meter terakhir, aku udah di posisi kedua.

 

“Hah kok bisa??” orang yang tadi coba mengintimidasi menyahut, melihat ke belakang.

 

Konyol sih. Seharusnya dia fokus lari. Oleh karena itu, aku sempat mengalahkan dia dan menjadi posisi satu. 50 meter…30 meter…10 meter…5…4…3…2..1…

 

“Mike Williams, nomor 325 menang!!!”

 

Aku terengah-engah karena saking capenya. Tapi beneran gak terlalu berharap bisa menang sih. Ternyata, waktu mencapai finish line adalah 45 detik pas. Beneran terkejut.

 

Setelah perlombaan, semua peserta melakukan sesi pendinginan. Setelah itu, aku pulang kembali ke rumah. Setelah aku mandi, aku langsung buka HP untuk beristirahat menonton gadis-gadis kuda. 

 

“Ting!” HPku berbunyi notifikasi.

 

Aku lihat, chat itu dari Agatha.

 

“Mike, tolong dong ke sini. Lagi di Starbucks, ini hal penting.”

 

Lah, baru juga selesai mandi dan santai. Tapi yaudah deh. Jadi aku pergi ke lokasi dia. Aku naik Taxi pergi ke situ. Aku masuk dan mencoba cari si Agatha. Saat aku menemukan dia, dia sedang duduk dengan seorang pria di dalam tuksedo.

 

“Ahah, kamu Mike ya?” dia nanya.

“Iya, saya Mike Williams.”

“Saya Craig Timothy. Saya mau mengajak kamu mengikut lomba internasional di Amerika. Tau kan, lomba ‘Running Cup’?”

 

Waktu dia bilang itu, aku jadi grogi. Aku gak sangka aku beneran diajak ikut lomba seperti itu. Aku malah mau teriak-teriak saking senangnya. Tapi agar aku masih keliatan nonchalant(iya aku udah terima aja disangka cowo ganteng bad boy), aku tetap ngomong seperti aku bodo amat.

 

“Iya. Saya tahu. Eh, tapi kan mahal…Kan ada biaya pesawat, makanan, hotel, dll,” aku berkata, meskipun aku di dalam keluarga atlet kaya.

“Gapapa. Ini semua gratis untuk mu. Saya berharap kamu bisa melakukan terbaikmu,” Craig mengonfirmasi.

“Iya, Mike, ini opportunity yang bagus banget loh,” Agatha berkata.

 

Mereka berdua memberikan aku waktu untuk berpikir. Ini sih opportunity yang emang bagus. Sepertinya jawabanku udah jelas.

 

“Iya, saya menerima ajakanmu. Tetapi dengan satu syarat.”

“Dan itu apa?” Craig nanya.

“Agatha tetap menjadi pelatihku. Kalau nggak, saya gak mau.”

“Hmmmm…yaudah deh. Saranku emang ganti pelatih jadi lebih siap.”

“Gapapa kok.”

 

Sejak hari itu, aku secara resmi menjadi seorang pelari internasional. Belum sih, aku masih berlatih di dalam negara ini untuk babak pertama. Ternyata, Running Cup memiliki empat babak; babak pertama, babak kedua, babak semifinal, dan babak final. 

 

 

Untuk berapa bulan kemudian, aku berlatih untuk mempersiapkan tubuh dan mental untuk babak pertama Running Cup. Tapi jujur aja aku masih kurang percaya diri. Tiga hari sebelum babak pertama, aku dan Agatha pergi ke bandara. Kita tiba di bandara pada jam 1 dan ternyata kita terlalu pagi karena pesawatnya take-off pada jam 6 malam. Jadi untuk delapan jam tersebut, kita mainain aja kayak gak jelas. Ya mau apa lagi? Gabisa lari-lari di bandara kayak bocah SD juga. Tapi yah…kita emang hanya jalan-jalan dan cari tempat makan. Kita makan siang makan mie instan yang dijual di KMart di bandara. 

 

“Kepedasan ini,” aku berkata, sambil minum air putih banyak.

“Salah sendiri eh. Lu belinya Buldak, kocak.”

“Ya kan, aku nanya yang mana lu suka. Soalnya aku gak pernah kesini.”

 

Pada jam 6 kurang berapa menit, kita bersama naik pesawat. Duduk di kursi bisnis. Aku dapat tempat duduk di dekat jendela sementara Agatha duduk di tengah. Kursinya emang enak sih. Bisa lihat di luar jendela, langit yang indah seperti…gak tahu deh. Maaf aku jujur jarang menemukan hal-hal seperti ini indah. Jujur aku mau pake bahasa puitis aja biar keren. Kita makan malam di pesawat. Aku memesan nasi putih dan ayam. Agatha memesan sop brokoli. Satu setengah jam kemudian, pesawatnya tiba di Singapura. Kita tunggu sejam untuk pesawat kedua kita ke San Francisco. Seperti pesawat terkahir, ini kita dapat kursi bisnis lagi. 18 jam kemudian, kita tiba di San Francisco. Langsung setelah turun dari pesawat, kita memesan taxi ke hotel yang dipesan Craig. Kita langsung pergi ke meja resepsionis untuk mendapatkan pintu kamar. Aku kamar 094, dan Agatha kamar 096.

 

Berapa hari kemudian, terjadi babak pertama Running Cup. Perlombaan ini adalah balapan berjarak 1000 meter. Lombanya dilaksanakan di stadion Bay Track Arena yang bisa menduduki 20 ribu orang. Aku bersaing dengan tujuh peserta lain yang juga dari negara-negara beda. Balapan ini terjadi seperti debutku. Hanya menggunakan bahasa inggris.

 

“On your marks…,”

“Set…,”

“DOR!!!” terdengar tembakan pistol.

 

Semua peserta langsung berlari. Tapi seperti debutku, aku tetap berposisi terakhir untuk sebagian besar balapan ini. Pada putaran terakhir, aku mempercepat dan lama-lama naik ke posisi tiga, terus dua, terus satu dan menang juara satu. 

 

“Mike Williams is the winner!! He has won the first round of the Running Cup!!!” 

 

Aku terengah-engah di garis finis. Kepercayaan diriku mulai tumbuh. Aku mulai percaya bahwa aku sama mampunya dengan anggota keluargaku yang lain. Namun, ayahku atau siapa pun belum menghubungiku. Aku melatih lagi untuk berapa bulan sampai babak dua dilaksanakan. Babak kedua juga sama. Strategi sama, jarak sama, dan hasil yang sama.

 

“On your marks…,”

“Set…,”

“DOR!!!”

 

Aku tetap sebagian besar lomba di posisi terakhir. Tapi lama-lama menjadi posisi ketiga, terus posisi kedua, terus posisi pertama dan menang juara satu. Bukan seperti lomba terakhirku, aku malah lebih percaya diri dan kurang lelah. Aku merasa lebih berenergi. Aku berlatih lagi untuk babak ketiga atau babak semifinal. Babak semifinal sedikit berbeda dari babak pertama dan babak kedua. Semifinalnya terjadi di Seattle. Jadi dua hari kemudian setelah babak kedua, aku dan Agatha check out dan pergi ke stasiun kereta. Disitulah kita tunggu 23 jam di dalam kereta. 

 

“Bosen banget…,” Agatha berkata.

“Ya iyalah namanya nunggu.”

“Iyasih…Lah itu kok orangnya rambutnya jingga ya?”

“Ya karena ini negara bule, pintar. Ya pasti ada orang yang rambutnya gak kek hitam kek kita. Bisa juga di cat.”

“Oiya, lupa heheh. Gak terbiasa sih lihat orang rambut berbeda warna.”

 

Setelah 23 jam tersebut selesai, kita berdua pergi ke hotel barunya. Kita dapatkan kunci kamar baru, aku kamar 1167, dan Agatha kamar 1168. Untuk berapa bulan, aku berlatih sampai lomba babak semifinal. Babak semifinal agak berbeda seperti babak yang pertama dan kedua. Tidak seperti babak pertama dan kedua, babak semifinalnya berjarak 1500 meter. Terjadi di stadion Emerald Bay Arena. Pasti akan ada 25 ribu orang lebih menonton. Pada hari pelaksanaan babak semifinal, emang ada berapa hal yang berbeda, tapi hasil tetap sama.

 

“On your marks…,”

“Set…,”

“DOR!!!”

 

Seperti babak-babak terkahir, sebagian besar balapan aku di posisi terakhir. Tapi pada hanya berapa meter lagi, langsung aku mempercepat. Jadi posisi ketiga, terus kedua, terus pertama dan menang juara satu. Aku menjadi sangat percaya diri, jujur kayaknya aku bisa menang Running Cup ini deh.

 

“RAAAAAAGHHHHHHH!!!!” aku teriak kepada para penonton balapan. Mereka teriak kembali dengan penuh antusiasme. “I promise you all, I'm going to win the Running Cup!! Aku akan merdeka!!!”

 

Setelah itu, aku kembali ke hotel dan mandi. Semua peserta yang lulus semifinal diberikan satu bulan penuh untuk mempersiapkan diri. Aku buka HPku untuk melihat banyak sekali notifikasinya. Dari teman SMP, SMA, pokoknya semuanya deh.

 

“Yooo bro keren banget lu!!”

“Mike lu awesome banget bisa menang semifinal!”

“Semoga bisa menang final. Gua doain.”

 

Tapi tetap tidak ada notifikasi satupun dari keluargaku. Mereka tetap berdiam dan hanya berbicara seperti gak ada apa-apa yang terjadi. Tapi aku bodo amat aja sama mereka semua. Aku tetap berfokus dengan diri sendiri. Mereka juga akan kok satu hari memuji aku dan berminta maaf. Jadi untuk sebulan penuh, aku berlatih-berlatih tanpa henti. Banyak orang udah mendukungkan ku.

 

Satu hari, setelah berolahraga berlari 10 kilometer, aku dan Agatha berduduk di dalam sebuah Starbucks. Starbucks yang di Seattle tuh agak beda dari Starbucks yang aku kenal dan ingat. Tempatnya lebih besar dan luas dibandingkan tempat lain. Dan harumnya jujur emang lebih enak. Tapi sebenernya sih, aku lebih suka teh. Agatha aja nih yang bawain aku ke sini.

 

“Kamu mau apa?” Agatha bertanya.

“Air putih biasa aja. I like tea more jujurly.”

“Sok Inggris lu ahaha,” Agatha mengejek. “Lu tau kan, lu boleh cheat day aja satu hari. Gapapa kok.”

“Gak usah, gua lebih mending sehat-sehat aja dulu. Untuk mempersiapkan diri untuk Final…karena kalo aku gak menang percuma aja sih semua ini.”

“Lah kok gitu?”

“Ya kan, eh gak tau deh kalo orang-orang mengetahui hal ini. Tapi yahh pokoknya relasi aku dan keluargaku agak unik deh.”

“Oh? Ya pastilah, anaknya bisa menang empat kemenangan berturut-turut dan mereka kaga. Mereka juga gak ada yang pernah mengikuti Running Cup.”

“Ya kan Running Cup juga baru dibuat resmi sejak berapa tahun lalu sih. Emang reputasinya bagus dan dikenal karena itu lomba internasional. Tapi, dibandingkan prestasi keluargaku, masih berasa kurang.”

“Iya itu karena kan mereka udah karir sejak dulu. Lu juga baru kurang dari setahun penuh. Eh bayangin aja, lu aja udah segini. Mereka seumuranmu belum ada menang-menangnya. Mereka semua jadi atlet legendaris setelah berapa tahun mereka mulai karirnya.”

“Iyasih…”

“Ya. Kamu boleh aja sehari, dua hari beristirahat. Tapi kan yang penting kamu beneran memberikan semua effort mu. Semua orang tahu bahwa lu udah kerja keras. Lebih dari cukup, malah berlebihan."

“Iya…”

“Jangan membandingkan progressmu dengan orang lain. Bisa aja lu agak terlambat, tapi tetap aja lu masih hadir.”

“Iya. Terima kasih, Agatha.”

“Ya gapapa, Mik. Nih, mau cheesecake gak?”

“Boleh, aku nggak pernah coba deh.”

 

Jadi setelah hari itu, aku menjadi lebih lega. Sehingga, aku rasa pelatihan aku menjadi lebih efektif. Setelah satu bulan, aku jadi cukup siap.

 

Pada hari pelaksanaan lomba final, lomba terakhir Running Cup, balapan berjarak 1600 meter, dan yang terjadi di kota Vancouver, stadion Lion’s Gate Grand Track, tinggal hanya delapan peserta lagi yang masuk final. 

 

“Ladies and gentlemen, welcome to the Running Cup Finals. You must be so excited for these eight runners right?!”

 

Kerumunan 25 ribu orang menjawab dengan teriak penuh semangat. 

 

“We have the favorite on lane three, Mike Williams! He’s known for his four consecutive wins. Will this be the fifth?”

 

It better be, gak bisa dan gak mungkin kalah.

 

“On your marks…,”

“Set…,”

“DOR!!!”

 

Kita semua langsung berlari. Seperti biasa, aku terdiam di posisi paling belakang. Aku melihat peserta lainnya, yang sangat berbakat, tapi tetap aku yang paling disuka. Sekarang aku tahu bahwa aku emang pantas bisa mencapai sejauh ini.

 

Tiba-tiba, pijakanku mulai bergetar. Bergetarnya kecil, tapi lama-lama jadi lebih gede. Hingga aku sadar, ada gempa yang terjadi. Gempanya besar juga, beneran gede. 

 

Saking besarnya tembok-tembok stadion ada yang pecah. Treknya juga memecah-mecah dan jatoh. Semuanya panik dan berteriak-teriak. Di depanku, palingan 340 meter dariku ada titik kumpul. Tapi, di ujung mataku, aku melihat seorang peserta lain. Dia terjebak di bawah reruntuhannya. Tanpa ragu-ragu, aku langsung berlari ke dia untuk membantunya. 

 

“Mike…why are—” pesertanya berbisik.

“Just stay calm…I’m trying to help you.”

 

Untungnya, aku sempat bisa menyelamatkan dia. Kita berdua mencoba berlari ke tempat lebih aman. Tapi aku gak beruntung.

 

“Mike! Watch out!”

 

Aku lihat di atas ku, ada sebuah bagian gedung yang jatuh, terus kena aku. Beratnya bagiannya aku sampe gabisa teriak. Setelah itu, semuanya jadi hitam dan aku pingsan.

 

Tiba-tiba, aku bangun di sebuah ruangan rumah sakit. Ruangannya berbau alkohol dan mesinnya bernyanyi bip bip. Aku melihatlah seluruh badanku yang dibungkus dengan perban. Disampingku ada Agatha yang sedang duduk di kursi. Dia juga kelihatan terluka, tapi gak separah aku. 

 

“Mik…sumpah Mik…lu bodoh ato apa?” Agatha berkata, sambil menangis dan menutup muka. “Kenapa lu coba selamatin orang itu??”

“Ya kan, masa aku nggak?”

“Iya…tapi…doktornya bilang ke gua itu lu gabisa lagi berlari. Kakimu udah terlalu terluka untuk dipake lagi.”

“A-apa…?”

“Iya, Mike. Kamu terpaksa untuk pengsiun sebagai atlet trek lari…”

 

Setelah aku mendengarkan kata-kata tersebut, otakku langsung membeku. Gak tau kalau karena panik, sedih, kesal, pokoknya gak tau. Jantungku berasa seperti kayak mau meledak dari dadaku. 

 

“Tok…Tok,” terdengarlah sebuah ketukan dari pintu. “Permisi. Izin masuk ya.”

 

Datanglah seorang pria berpakaian rapi kayak khas orang kaya. Muka seperti orang bule dan kepalanya botak. Jujur aku gak sangka aku akan dengar bahasaku di negara ini.

 

“Halo, Mike. Aku Colt Miller. Aku di sini karena ingin mengucapkan terima kasih kepadamu untuk menyelamatkan ade aku, Brock. Yang tertumpuk bawah reruntuhan tuh. Masih ingat kan?” 

“Iya. Sama-sama. Saya memang hanya mau membantu orang.”

“Iya, aku tahu. Kamu malah menginspirasi banyak orang loh.”

“Oh…”

“Yap! Tapi karena akhirnya babak final ditiadakan, tahun ini tidak ada pemenang.”

“Yah…yaudah sih gapapa,” aku pura-pura bodo amat tapi sebenarnya aku sekarang jadi sedih.

“Untuk memberi kompensasi, aku akan memberi kamu internship untuk menjadi pelatih kuda pacu setelah kamu sudah cukup sembuh dan dibolehkan keluar dari rumah sakit. Saya juga membuatnya kamu dapat melatih kuda pacu yang khusus. Ia diberi nama spesial sebagai penghormatan kepadamu. Namanya ‘Mikan Teahouse’. Suka gak? Aku tahu bahwa kamu suka sekali teh. Yaa…kupikir kamu kan suka kuda, I thought kamu pasti mau…Kalo kaga gak usah terima sih.”

“Weh…beneran???”

“Iya dong! Ini nih kudanya,” dia menjawab pertanyaanku. “Dia baru lahir setahun lalu.”

 

Dia memberikan aku foto Mikan Teahouse. Mikan Teahouse merupakan seekor kuda thoroughbred berwarna coklat gelap dengan tanda putih yang menyerupai huruf 'm'. Kudanya lumayan pendek, bahkan untuk seekor kuda berusia setahun. 

 

“Tuhhh, imut kan?? Oiya, kamu mau lihat gak pedigreenya?” Colt bertanya.

 

Dia memberikan aku lembar kertas yang memiliki tabel. Sirenya si Mikan Teahouse adalah si Teahouse King, seekor thoroughbred dari Amerika yang sukses. Damnya, Micro Era, adalah seekor thoroughbred dari Irlandia yang juga lumayan sukses. Tapi hal yang paling menarik adalah fakta bahwa si Supreme Brewery adalah sirenya si Micro Era, membuat ia damsirenya Mikan Teahouse.”

 

“Jadi, apakah kamu mau menerima kesempatan ini? Dapat uang loh. Interns tuh dibayar.”

“Pastilah. Terima kasih banyak! Saya berjanji untuk bersungguh-sungguh merawat si Teahouse agar bisa sebagus kakeknya.”

“Baguslah. Sekarang kamu beristirahat dulu. Gws ya.”

 

Berapa bulan kemudian, saya diizinkan meninggalkan rumah sakit. Sejak hari itu, aku mulai bekerja sebagai asisten pelatih si Mikan Teahouse. Agatha juga menjadi pelatih lebih terkenal karena dia melatih aku. Karena aku udah pensiun, dia menjadi pelatih atlet baru. 

 

Si Teahouse adalah kuda yang luar biasa. Semoga, ia bisa melanjutkan mimpiku menjadi secepat seekor kuda.

 

Notes:

Thank you for reading! This story was like a tribute in a way to a friend who I dearly appreciate. He impacted my life a lot. I'm glad I met him.

I poured my heart and soul onto this assignment, kinda. But please don't tell me shit like "the pacing is bad" or that I'm probably missing something because I don't want to ever edit this fic and if someone says there's something wrong it'll bother me if I don't fix it.

Anyways, if my friend is seeing this(he probably won't), pls don't kill me I'm so sorry but I needed something to write about for BIndo.

Terima kasih telah membaca! Kisah ini seperti sebuah penghormatan kepada seorang teman yang sangat gw hargai. Dia sangat memengaruhi hidup saya. Saya senang pernah bertemu dengannya.

Gw udah beneran memberikan semua effortku ke tugas ini. Tapi tolong jangan bilang hal-hal seperti "pacing ceritanya buruk" atau mungkin aku melewatkan sesuatu karena gw malas kalo harus mengedit fanfic ini dan entar berasa gak enak kalo enggak.

Kalau temanku melihat ini (dia mungkin nggak akan melihatnya), tolong jangan marah sm gw. Gw minta maaf banget, tapi aku butuh sebuah cerita untuk tugas BIndo ini ya.