Chapter Text
Hinata tidak mempunyai ingatan tentang lelaki yang dicintainya, meski begitu hatinya tetap mencintai
Naruto mencintainya di setiap detak jantung dan hembusan napasnya, tetapi dia tidak bisa bertemu dengan perempuan yang paling dicintainya
.
HYUUGA HINATA
Ada sebuah pavilion di dalam istana ini. Pavilion Teratai berada di barat dari kompleks Istana, dekat dengan 'hutan' istana dan mendekati batas akhir dari istana. Pavilion itu sederhana, tidak seperti pavilion lainnya. Tidak ada ornamen mewah seperti milik keluarga raja, seolah tempat itu di desain sesederhana mungkin, bahkan nyaris seperti rumah biasa dari penduduk kerajaan.
Di pavilion sederhana itu terdapat sebuah kolam dengan pemandangan menuju 'hutan' istana. Di dalam kolam tesebut berdapat berbagai jenis ikan air tawar yang cantik dan beragam warna. Aku tidak begitu paham mengenai jenis-jenis ikan, tetapi aku tahu bahwa itu merupakan ikan hias. Kolam itu tidak sebesar danau, tetapi cukup besar karena untuk menyebrangi kolam terdapat jembatan. Aku terbiasa berdiri di tengah jembatan kolam itu, menikmati sebuah ketenangan yang tidak bisa aku dapatkan di Gedung Utama Istana.
Siang itu matahari bersinar dengan sangat panas dan terik, tetapi awan-awan putih tebal menghalangi sinarnya yang menyengat, sehingga aku tidak butuh payung untuk melindungi diriku. Sebenarnya, aku memang tidak begitu membutuhkan payung, bahkan dalam kondisi yang paling panas sekali pun. Aku suka sinar matahari. Aku sangat suka menghirup aroma matahari dan memperhatikan perlahan-lahan sinarnya jatuh menerangi bumi.
Para wanita di kerajaan ini tidak begitu menyukai matahari. Mereka takut riasan wajahnya akan luntur karena keringat. Biasanya, para gadis dari keluarga bangsawan selalu memakai payung untuk menghalau sinar matahari, tidak peduli apakah sinarnya menyengat atau tidak.
Payung selalu menghalangi mataku untuk memandang langit yang berwarna biru muda. Langit berada sangat tinggi dan sangat jauh di atasku. Setinggi apapun aku berusaha menyentuhnya, aku tidak akan pernah bisa mencapainya. Namun, aku suka melihat langit biru yang jernih.
Sinar matahari dan langit biru merupakan dua hal yang sangat aku sukai di dunia ini.
"Tuan Putri Hinata."
Aku menoleh dan mendapati kakak sepupuku, Hyuuga Neji, sekaligus Panglima Perang Kerajaan kami.
"Selamat siang untukmu juga, Kak Neji," kataku sambil tersenyum. Kak Neji melangkah maju sampai dia berdiri sejajar denganku, di atas jembatan di kolam ikan.
"Saya sudah katakan kepada Anda untuk tidak berjalan-jalan tanpa pengawal," tegurnya. Dia selalu menegurku di setiap kesempatan, dan aku selalu mengabaikan tegurannya setiap saat.
"Aku juga tidak kemana-mana," jawabku. Kak Neji tampak tidak setuju. Dia memberiku tatapan galaknya ketika aku tidak mau mendengar ucapannya.
Kak Neji memakai seragam Jendral dan itu membuatnya tampak sangat gagah. Baju zirah berbahan logam dan celana kain panjang. Pedangnya yang berbahan dasar platinum sepanjang 90 senti disampirkan di pinggang kanannya. Rambut hitam legamnya dikuncir satu.
"Kita tidak pernah tahu siapa yang mengintai Anda," katanya. "Anda tidak boleh meremehkan situasi hanya karena terlihat damai."
"Santai sedikit saja Kak," kataku, "ayo nikmati siang ini bersama denganku."
Kak Neji mungkin tidak pernah mengenal apa itu santai. Seumur hidupnya dipakai untuk mengasah kemampuan berpedangnya, lalu belajar ilmu politik, sampai akhirnya dia belajar kemampuan berperang. Sebagai anak tunggal dari Hyuuga Hizashi, adik kembar dari Ayahku, Hyuuga Hiashi, Raja di Kerajaan ini, Kak Neji sudah ditetapkan sejak orok untuk menjadi Jendral Perang dan melindungiku.
Kehidupanku sendiri tidak berbeda jauh dari Kak Neji. Sebagai putri pertama Hyuuga Hiashi, takdirku juga sudah ditentukan. Aku adalah Pewaris Tahkta Kerajaan, seorang Tuan Putri Kerajaan. Hidupku ini selalu berputar di dalam istana. Aku belajar banyak hal dan bersifat wajib. Semua pelajaran, ilmu politik, ilmu bahasa, ilmu alam, ilmu sejarah, dan silsilah nenek moyang Kerajaan ini juga. Semuanya dijejalkan sejak aku membuka mata di dunia ini.
"Acara besar akan digelar beberapa waktu lagi," kata Kak Neji. Matanya yang tajam fokus melihat pemandangan di depan kolam ikan, yang tak lain dan tak bukan adalah pavilion kosong itu. Tatapannya semakin keras. "Penjagaan akan diperketat. Seharusnya Anda juga tidak boleh berkeliaran seperti ini."
Dia menatapku. Kami berdua, sebagai darah murni dari Keluarga Kerajaan Hyuuga, mempunyai fisik yang mirip-mirip, hampir seperti adik-kakak. Kedua iris milik Kak Neji merupakan pantulan dari iris milikku sendiri. Namun, iris milik Kak Neji jauh lebih tajam dan tegas. Meksi begitu, aku seperti melihat diri sendiri.
"Anda harus paham posisi Anda saat ini," katanya, "dan bahaya yang mengancam Anda bukanlah hanya omong kosong."
Aku paham maksud dari Kak Neji. Sudah tidak terhitung lagi berapa ratus kali nyawaku selalu terancam oleh para pembunuh bayaran. Kadang mereka menyamar menjadi para pelayan perempuan, kadang prajurit, bahkan ada pula yang menyamar sebagai seorang bangsawan kerajaan atau staff kerajaan.
Sudah tidak terhitung lagi berapa kali metode pembunuhan yang mereka coba lakukan kepadaku. Mulai dari berusaha menenggelamkanku ketika sedang berendam, lalu mencoba menikamku ketika sedang tidur, menculikku ketika sedang berada di taman istana, bahkan berusaha membuatku meninggal karena kecelakaan. Kalau soal pelajaran yang paling kuingat, yaitu pelajaran percobaan pembunuhan.
Tidak ada tempat yang aman di istana ini. Aku sudah tahu hal itu dan aku juga tidak naif. Aku belajar lewat semua pengalaman hidup yang hampir mengancam nyawa. Semua orang adalah temanmu dan semua orang adalah musuhmu. Bukan kisah baru lagi bahwa sesama keluarga saling menikam satu sama lain untuk mendapatkan tahkta. Semua dinding bertelinga dan bisa melihat.
Pelayan satu merupakan mata-mata milik bangsawan satu, sementara prajurit adalah mata-mata keluarga yang lain. Semuanya saling mengintai, semuanya saling berusaha menjatuhkan. Semuanya saling menodongkan pisau di leher lawan secara bersamaan. Hal-hal seperti ini adalah hal yang lumrah. Aku pun tidak akan kaget jika suatu saat Kak Neji akan berusaha menikam jantungku agar dia bisa menjadi Raja selanjutnya.
Ironis? Selamat datang di hidupku!
Aku kembali menatap pavilion kosong tersebut. Aku merasa aneh, karena setiap kali aku melihat bangunan sederhana itu, aku malah merasa aman dan nyaman. Aku malah merasa sebuah perasaan menyenangkan dan perasaan yang penuh dengan perlindungan. Rasanya aku ingin bersembunyi selamanya di pavilion itu.
"Ayo kita kembali," kata Kak Neji, "Anda mempunyai janji temu dengan beberapa bangsawan untuk membahas masalah panen tahun ini," lanjutnya.
Aku tidak menolak lagi. Meskipun aku mau, aku masih belum berani untuk mangkir dari tugas-tugas kerajaan yang diserahkan kepadaku. Mengangkat sedikit bagian bawah kimono-ku yang berat, aku berjalan lebih dulu dari Kak Neji. Dia berjalan di belakangku, menjaga punggungku jika ada serangan mendadak. Aku hanya berharap dia tidak mengeluarkan pedangnya dan menusukku dari belakang.
.
Aku tidak begitu suka berunding dalam rapat dengan banyak orang. Para bangsawan itu selalu tampak meremehkanku dan seolah menunjukkan mereka adalah senior dan aku hanya anak ayam yang masih gemetar di dalam cangkang.
"Masalah panen bulan ini kalau membaca laporan sepertinya karena tanah yang terlalu gersang," kataku sambil membaca perkamen yang diberikan oleh seorang staff istana ketika hendak rapat.
"Tidak, tidak," sela seorang bangsawan lelaki. Usianya hampir 50 tahun. Dia duduk santai di atas tatami ruang rapat. Punggungnya tegak lurus, seperti papan. "Tidak ada masalah dengan tanah, Tuan Putri," katanya.
Aku melihat lagi tulisan di perkamen yang kubaca. "Sesuai laporan yang ditulis staff Anda sendiri dijelaskan bahwa masalah panen ini karena tanah yang gersang," kataku lagi.
Dia melambaikan tangannya lagi. "Jangan percaya apapun yang ditulis di perkamen!" katanya. Jadi untuk apa ada laporan di atas perkamen? "Tanah kami tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Semua terkendali."
Aku mengangkat alisku. "Oke, kalau begitu seharusnya juga tidak ada masalah dengan hasil panen bulan ini. 2 ton seperti biasa," kataku sambil menggulung perkamen itu lagi. Aku menatap si bangsawan tua itu.
Dia membersihkan tenggorokannya dengan berdehem. "Tuan Putri, tapi kondisi lahan tidak memungkinkan," katanya, sangat berlawanan dengan pernyataannya tadi, "seperti yang tertulis di perkamen."
Aku menatapnya. "Jangan percaya apapun yang ditulis di perkamen," kataku, mengutip kata-katanya. "Atau aku harus percaya pada perkamen dan menyuruh prajuritku datang langsung dan aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi dengan Anda setelah ketahuan berbohong padaku."
Kadang aku kesal sekali dengan kelakuan para bangsawan ini. Kenapa semuanya selalu meremehkanku? Padahal kedudukanku lebih tinggi dari mereka, tapi mereka tidak melihat hal itu. Memang benar, sepak terjang mereka di dunia ini sudah lebih dulu, tapi bukan berarti aku tidak belajar juga. Aku juga sadar, bahwa tidak segampang itu untuk mengambil kepercayaan dan mendapatkan hormat mereka. Di mata mereka, aku hanya bocah yang baru lahir kemarin. Seorang bocah yang sedang sok-sokan menjadi Raja di Negara Api.
"Aku tidak mau ada alasan apapun," kataku akhirnya. Berdiskusi dengan Para Bangsawan benar-benar membuat kepalaku berdenyut-denyut. Duduk diam selama berjam-jam, mendengar ocehan mereka, itu bukan hobi favoritku. Kalau aku bisa, aku mau sekali digantikan, sementara aku bisa jalan-jalan atau hanya berendam di kolam air panas untuk memanjakan diri. Namun, jelas itu tidak akan pernah kulakukan sampai aku setidaknya mahir dalam hal ini.
Rapat berlangsung sampai perutku kosong dan aku bisa merasakan asam lambungku naik. Punggungku terasa akan patah karena aku harus duduk tegak selama rapat. Aku bisa melihat para bangsawan yang datang tidak mengeluh soal lamanya duduk dalam posisi bersimpuh, padahal kakiku sudah mati rasa. Ocha yang disediakan sudah dingin dan sudah kuminum berkali-kali agar aku tidak tertidur, menyebabkan sekarang aku menahan kencing dan sakit di kakiku.
Sungguh penderitaan paket lengkap.
Akhirnya, kami sampai pada momen dimana menutup perkamen masing-masing. Itu adalah salah satu tanda pasti bahwa rapat sudah akan selesai. Sekarang kami tinggal mengucapkan terima kasih dan aku bisa bangkit dari posisi mematikan ini dan menuntaskan hasrat untuk berkemih.
"Ngomong-ngomong Tuan Putri," panggil seorang bangsawan, "untuk Acara Ulang Tahun Kerajaan beberapa bulan depan, kita butuh berapa banyak persediaan?"
Aku ingin mengutuknya dan mengasingkannya detik itu juga. Kami sudah sampai di penghujung rapat, semua sudah bersiap untuk bangkit dan pulang ke kediaman masing-masing, tapi satu orang bangsawan ini malah melontarkan sebuah pertanyaan yang jawabannya tidak sesingkat 'Iya' dan 'Tidak'. Menjawab pertanyaan sederhana itu bisa memakan dua kali rapat besar lagi, dan jika itu terjadi sekarang, aku yakin kandung kemihku tidak akan sanggup bertahan.
Namun, aku mencoba untuk bersabar barang sedikit. "Tuan Haruno, masalah Acara Ulang Tahun bisa didiskusikan di lain waktu. Di rapat yang berbeda. Rapat ini hanya membahas masalah persediaan makanan. Sekian."
Dan aku langsung mencoba bangkit perlahan-lahan tanpa mematahkan kakiku ataupun merobek kandung kencingku. Aku baru sadar bahwa kakiku sudah sangat baal dan kesemutan. Semua bangsawan bangkit berdiri, sebuah tata krama untuk menghormatiku. Mereka tampak baik-baik saja setelah duduk lama dan tidak tampak sekarat karena menahan kencing. Aku menjaga wajahku agar tetap datar dan berwibawa. Semoga aku bisa menyembunyikan raut wajahku yang sudah kacau.
Dua orang prajurit membuka pintu sebelum aku keluar dan aku langsung melangkah sepanjang koridor untuk menuju pavilion-ku. Kebutuhan miksi harus terpenuhi dan koridor menuju pavilion tampak sangat panjang dan butuh seabad untuk sampai di sana. Aku harus banyak bersabar.
Aku menoleh ke belakang singkat, dan sudah ada dua orang prajurit dan sepuluh pelayan mengikutiku. Aku memberikan kode pada Izumi, Kepala Pelayanku. "Aku tidak makan malam hari ini," kataku padanya. "Jadi, ketika matahari sudah terbenam sempurna, jangan ganggu aku lagi di dalam pavilion."
Izumi mengangguk. "Apakah Tuan Putri ingin mandi terlebih dahulu?"
Aku mengangguk. "Jangan ganggu aku setelah mandi. Dan aku mau aromaterapiku diganti menjadi wangi melati. Aku pusing menghirup vanilli banyak-banyak. Rasanya terlalu manis."
Dia mengangguk lagi. "Baik Tuan Putri."
Kami sampai di depan pavilion. Aku sebenarnya tidak sabar lagi untuk melepaskan kimono ini beserta atributnya, tapi aku harus menanti dengan sabar ketika 4 orang pelayan melepaskan atributku satu per satu. Aku hanya berdiri diam bagaikan patung sementara mereka menanggalkan pakaianku.
Beberapa pelayan lainnya sibuk mengurusi air mandiku. Aku biasanya mandi dengan air yang tidak terlalu panas, tetapi beraroma wangi. Air panas memang bagus untuk merilekskan seluruh tubuhku, tapi aku tidak tahan panas dan gampang berkeringat, jadi aku lebih suka air yang sudah lebih dingin, tetapi tidak terlalu dingin.
"Tuan Putri, air mandi sudah siap," ujar salah satu pelayan. Aku memakai jubah mandi dan menuju ke dalam kamar pemandian. Aroma melati membuatku mendesah senang. Aku membuka jubah mandiku dan mulai berendam di dalam bak mandi yang sebenarnya bisa menampung 20 orang.
Lalu, mereka mulai menggosok pelan seluruh tubuhku. Tidak hanya itu, mereka membalurkan lulur dan memijat tubuhku secara pelan sampai aku memejamkan mata untuk menikmatinya. Aku menghela napas santai sambil menikmati pijatan pelan di seluruh tubuhku. Sejujurnya, terlahir sebagai anggota bangsawan adalah harta yang tidak ternilai dan aku tidak munafik mengenai fakta ini.
Aku cukup menikmati semua hal yang bisa kudapatkan dan banyak orang di luar sana menargetkan bangsawan adalah puncak kebahagiaan. Mungkin itu memang benar, karena hidup tanpa pernah kekurangan bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapatkan. Namun, tanggung jawab yang membayangi semua kemewahan itu juga besar dan berat. Tanggung jawab itu adalah sumpah seumur hidup yang tidak boleh dilanggar. Mengabdikan diri untuk melayani rakyat adalah amanat terberat dan terpanjang.
Setelah aku selesai mandi (dan berkemih), seluruh pelayan meninggalkanku sendirian. Suasana di pavilion menjadi sesunyi kuburan. Aku menuju Ruang Kerja-ku dan mendapati setumpuk perkamen yang harus kuselesaikan. Ada data dari Departemen Keuangan, Departemen Pertahanan hingga Departemen Kemasyarakatan. Aku juga masih harus menulis laporan hasil rapat hari ini serta proposal untuk Acara Ulang Tahun Kerajaan beberapa minggu ke depan.
Sejujurnya, masih banyak yang harus kulakukan. Aku tidak bisa langsung beranjak pergi ke tempat tidurku yang empuk dan terlelap. Aku berjalan menuju meja kerjaku, duduk di kursi kayu yang tidak empuk dan terkadang membuat selutuh punggungku kaku dan mulai mengambil perkamen.
Aku memulai dari perkamen yang paling merepotkan, yaitu Departemen Kemasyarakatan. Mengapa? Karena mengurusi konflik internal itu lebih menyusahkan daripada membunuh para musuh dari luar. Musuh dari luar bisa disingkirkan dengan cepat dan tanpa berpaling, tetapi musuh dari dalam, kita harus berpikir 1000 kali untuk menyelesaikannya. Jangan terlalu kasar, nanti disangka diktator. Jangan terlalu lembek, nanti disangka tidak punya harga diri. Jangan terlalu kaku, nanti disangka penguasa boneka, tapi jangan juga terlalu fleksibel, nanti disangka pemimpin tidak punya pendirian.
Pandangan masyarakat internal jauh lebih mengerikan dibandingkan musuh di luar Kerajaan.
Aku mulai tenggelam dalam laporan-laporan sampai aku tidak sadar bahwa lilin yang kugunakan telah habis 3 batang panjang. Aku pasti telah menghabiskan sepanjang malam hanya untuk menyelesaikan laporan dan yang lebih ironis, pekerjaanku masih jauh dari kata selesai.
Ayahku memang keras. Bukan tanpa alasan, tapi karena aku lahir sebagai seorang wanita. Wanita adalah warga kelas dua di dunia ini dan setinggi apapun jabatanmu, akan kalah dengan seorang laki-laki. Tidak peduli bahkan jika kau anak Raja sekalipun. Wanita tetap makhluk paling lemah, lebih lemah dari bayi laki-laki dan lebih tidak berharga dari ayam peliharaan.
Ada pepatah lucu di Kerajaan kami yang berbunyi, "Wanita mati bisa cari lagi, tapi anak lelaki adalah berkah seumur hidup."
Dengan semboyan negara seperti itu, aku harus bekerja ekstra keras dari siapapun. Dan itu belum termasuk semua usaha pembunuhan dan pengkhianatan yang tidak terhitung jumlahnya.
Ayah juga membebaniku dengan berbagai tanggung jawab. Aku sudah mulai diajak untuk ikut rapat-rapat bangsawan sejak usiaku 16 tahun. Dan saat ini pun, aku ditunjuk sebagai Kepala Penyelenggara Festival Acara Ulang Tahun Kerajaan kami. Mengingat panjangnya posisiku saja aku sudah mual. Arti lainnya adalah, ini bisa dibilang debut politik pertamaku dan aku tidak mau ada kesalahan. Semua mata akan memandang diriku dan mereka pasti akan mencari-cari kesalahanku. Aku sudah tahu itu.
Semuanya harus sempurna. Semuanya harus berjalan lancar tanpa ada kecacatan. Dan semua mata di Kerajaan ini akan menilai Pewaris Tahkta dari Acara tersebut.
Aku melepaskan kuas yang sedari tadi kugunakan untuk menulis. Tangan kananku telah sakit dan kaku karena terlalu lama menggenggam kuas. Namun, aku pernah disuruh menulis kaligrafi seharian penuh tanpa henti, jadi rasa sakit ini tidak terlalu menggangguku.
Setelah mataku berputar-putar dan aku harus membaca satu kalimat sebanyak 4 kali, barulah aku berhenti. Otakku sudah panas dan kurapikan lagi perkamen-perkamen tersebut. Kupisahkan antara perkamen yang sudah selesai dan tinggal diserahkan ke Departemen masing-masing dan perkamen yang belum kusentuh.
Setelah meja kerjaku tidak lagi tampak mengerikan karena tumpukan perkamen, aku membawa lilin tersebut keluar dari Ruang Kerja. Aku menyalakan lilin di kamar tidurku dan aroma melati semerbak di seluruh ruangan. Setidaknya aku bisa bersantai.
Aku mengganti kimono-ku dengan jubah tidur yang tipis dan menyisir rambutku sebelum tidur. Setelah itu, kutiup lilin tersebut sampai mati, hanya menyisakan asap abu-abu. Kamarku kembali gelap gulita, tetapi dari bilik-bilik jendela, sinar rembulan dan bintang membuatnya tidak pegitu mengerikan.
Aku naik ke tempat tidur dan mulai menyelimuti diriku. Besok pagi aku akan dibangunkan sebelum matahari terbit untuk kembali bekerja. Namun, setidaknya aku bisa tidur beberapa jam malam hari ini.
.
Dan aku pun bermimpi, selayaknya manusia normal ketika sedang tidur.
Semua mimpiku berbeda dari mimpi orang pada umumnya. Yang pertama, rasanya aku bermimpi sebuah kisah secara episodik. Bahwa setiap penggalan-penggalan mimpiku itu adalah kisah dari sesuatu. Seperti mimpiku saling berkaitan. Yang lebih aneh, aku tidak pernah satu kalipun melupakan mimpiku ketika aku terjaga.
Mimpi yang terasa lebih nyata dari kesadaranku.
Kali ini pun aku terbangun di dalam pavilion kosong di barat Istana. Dan anehnya, aku sadar bahwa aku sedang bermimpi. Jubah tidurku masih kukenakan, tetapi langit telah berubah menjadi biru. Pavilion itu persis sekali seperti di dunia nyata. Semua letak furniture-nya pun tidak ada yang berubah.
Aku duduk di pinggir tempat tidur.
"Kau tidur dengan nyenyak."
Aku tersentak dan menoleh ke belakang, ke sumber suara.
Di jendela kamar tersebut, ada seseorang yang memunggungiku. Aku tidak bisa melihat jubahnya atau pun bentuknya, karena sinar matahari langsung menusuk mataku. Apakah aku kenal dengan orang tersebut? Aku dilanda kebingungan, tapi aku tidak panik. Kenapa aku harus panik, aku tahu bahwa ini semua hanya mimpi. Siapapun sosok di dalam mimpiku ini, tidak akan bisa menyakitiku.
"Aku jarang bisa tidur dengan nyenyak."
Suaraku keluar tanpa keinginanku. Aku seperti berada di dalam tubuh orang lain, menyaksikan cerita orang lain.
"Tapi setiap kau berkunjung ke sini, kau selalu mendengkur."
Aku bisa merasakan wajahku yang memanas karena malu. Seorang bangsawan tidak mendengkur. Seorang bangsawan tidur bagaikan angsa, diam dan tidak bergerak.
"Kau mengada-ada." Bantah suaraku.
"Aku tidak pernah ragu tentangmu."
Dan dia berbalik badan untuk menghadapku. Aku mungkin bisa melihat sosoknya, tapi ketika dia berbalik, bersamaan itu juga aku terbangun.
Ketika kubuka mataku, sinar matahari telah menyinari kamarku sepenuhnya. Seorang pelayan berdiri di samping tempat tidurku dan tangannya menyentuh lenganku. Untuk sesaat yang panik, aku merasa ketakutan karena kukira dia telah berbuat jahat atau mencoba membunuhku. Namun, debaran itu berhenti dan aku baru menyadari bahwa aku sedang dibangunkan.
"Selamat Pagi Tuan Putri Hinata," sapanya lembut.
Aku bangun pelan-pelan sambil mengumpulkan semua kesadaranku. Pagi ini terasa seperti mimpi, seperti tidak nyata. Namun, aku masih bisa mengingat dengan jelas mimpiku, seolah itu bukan sebuah mimpi, seolah aku memang berinteraksi dengan sosok misterius tersebut.
"Apa air mandiku sudah siap?" tanyaku serak. Aku menydari bahwa aku butuh minum, dan pelayan tersebut peka dengan kondisiku sehingga dia memberiku minum dari cawan. Air tawar membasahi kerongkonganku dan aku bernapas lega.
"Sudah siap Tuan Putri," katanya.
Aku mengangguk. "Bawa sarapanku ke Ruang Kerjaku."
Dan turunlah aku dari tempat tidur. Aku harus kembali bersiap untuk menghadapi hari berat lagi. Hari telah berganti, tetapi tanggung jawabku masih tetap berada di tempat yang sama, di atas pundakku. Dan aku tidak bisa mengabaikannya karena mereka menempel seperti parasit yang menghisap daya hidup inangnya.
Saat aku di dalam bak mandi, aku memejamkan mata untuk mereka ulang mimpi semalam. Aku mengingat setiap detail yang bisa kuingat dari sosok misterius tersebut. Punggung bidangnya, badan tingginya, serta jubahnya yang tampak seperti jubah seorang bangsawan. Apakah dia bangsawan? Apakah aku mengenalnya?
Dan yang lebih mencolok, kedua irisnya berwarna biru muda, sewarna dengan langit di musim panas. Iris yang tidak lazim di miliki oleh orang-orang, tetapi terasa sangat familiar.
.
UZUMAKI NARUTO
Musim panas akan datang ke Negara Angin. Aku suka dengan musim panas, karena itu musim panen sehingga rakyat akan mengadakan Festival Panen Akbar untuk tiap musim panas, sebagai rasa syukur kepada Dewa Matahari yang telah memberkati negeri ini.
Namun, musim panas kali ini berbeda. Tahun ini akan diadakan juga Festival Ulang Tahun Kerajaan. Bukan festival yang biasanya, karena Kepala Penyelenggaranya saat ini adalah Tuan Putri Hinata, calon penerus takhta di Kerajaan ini. Ini akan menjadi acara yang penting baginya, karena semuanya akan menyorot Sang Penerus dan menilai apakah dia pantas memimpin Negeri ini suatu saat nanti.
"Kau mendengarkan?"
Aku kembali memfokuskan diriku pada Panglima Perang di hadapanku, Hyuuga Neji. Dia persis seperti sepupunya, hanya saja dia terlahir sebagai lelaki. Mungkin di sudut hatiku aku berharap bahwa Hyuuga Neji terlahir sebagai Putra Mahkota, sehingga takdir hidupku tidak akan lebih rumit dari ini.
Jika Neji terlahir sebagai Putra Mahkota, aku tidak perlu berada di desa terpencil di ujung Negeri Angin. Aku tidak perlu berpindah-pindah tempat karena kutukan yang ada di dalam diriku. Terlebih lagi, aku tidak perlu berpisah dari wanita yang kucintai. Mungkin saat ini aku bisa melamarnya, menikahinya dan hidup bahagia bersama dengannya.
Sayangnya, seperti inilah takdir hidupku.
"Sulit tidak mendengarkan saat suaramu menggelegar seperti itu," kataku.
Matanya memicing tajam. "Hati-hati Uzumaki."
Aku bersandar pada punggung kursi. "Jadi, apa poin pembicaraanmu? Aku masih punya banyak kerjaan."
"Lupakan pekerjaanmu, kau akan kembali ke Istana."
Aku hampir terjatuh dari kursi yang kududuki. Ke Istana? Kembali ke sumber segala penderitaan dan kutukan ini dimulai? Kalau mengikuti kata hati, aku lebih baik pergi ke luar negeri sekalian daripada kembali ke bangunan terkutuk itu.
Tapi disanalah dia berada, bisik hatiku.
Benar, itu benar.
"Apa kau telah hilang ingatan? Aku berada di sini karena aku tidak bisa berada di Istana," kataku.
"Festival Ulang Tahun Kerajaan sebentar lagi. Kau pasti tahu siapa Ketua Penyelenggaranya. Tuan Putri butuh sokongan. Dan aku tidak percaya siapapun berada di sampingnya kecuali kau."
Aku terdiam. Benar. Festival Akbar itu, debut politik pertama dari Tuan Putri Hyuuga Hinata. Momen yang membuat publik menentukan kelayakan wanita itu sebagai Maharani di Negeri ini. Aku jadi teringat betapa miripnya Neji dengan Sang Putri. Betapa lebat rambutnya, betapa pucat kulitnya, dan betapa mata sekeruh abu itu menyimpan begitu banyak ambisi dan tekad.
Aku suka menatap matanya. Bagiku seperti menyelami sebuah buku tanpa akhir. Selalu ada ambisi, selalu ada tekad baru di sana. Sang Putri telah menjalani berbagai jenis kemalangan yang datang silih berganti, tetapi dia tetap berdiri tegar. Mengingatnya membuat seluruh dadaku sesak, dan aku kembali diingatkan alasanku terasing dari Ibu Kota.
Karena dia penting, kataku dalam hati.
"Apa kabarnya?" Pertanyaan itu keluar lebih lemah dari dugaanku.
"Tuan Putri dalam kondisi baik. Sedikit sibuk, tapi beliau bertahan."
"Apa dia…" Apa dia masih melupakanku? Apa ada harapan bahwa dia akan kembali ingat padaku?
Pertanyaan itu tertahan di tenggorokan. Aku tidak mungkin bertanya hal seperti itu. Kami berdua sudah tahu jawabannya. Tampaknya Neji paham apa yang tidak mampu kuucapkan, tetapi dia tidak membahasnya. Dia tahu itu adalah hal tabu untuk dibahas.
"Kau tetap salah satu Jendral Perang Negeri ini. Kau seharusnya tahu bahwa cepat atau lambat kau akan kembali dipanggil ke Istana," ujarnya.
Aku mendengus. "Bagaimana pula kau bisa menemukanku di sini?" tanyaku tidak habis pikir.
Neji hanya menatapku dengan datar. "Desa ini penghasil sake terbaik di negeri ini. Jadi, tidak mungkin terlewat olehmu."
Aku tertawa mendengarnya. "Sake itu seperti cinta sejati. Harus dipilih dengan baik dan jangan sampai terlewat."
"Kalau begitu, ini saatnya kau menjaganya."
Lalu, kami terdiam. Neji menusuk tepat di lukaku yang tidak pernah sembuh. Hanya kering untuk sementara, tetapi dasarnya telah memborok dan membusuk.
"Aku sedang menjaganya saat ini."
Dengan cara menjauh dari hidupnya. Dengan cara menghilang dari dunianya. Dengan cara seperti itu, aku menjaga Sang Putri tetap hidup sehat dan bahagia. Karena kebahagiaanku adalah kebahagiaannya, maka aku rela membuang semuanya demi melihatnya bahagia.
"Aku tahu. Namun, saat ini keberadaanmu di samping Tuan Putri-lah yang akan melindunginya. Meskipun dia…"
Meskipun dia tidak akan ingat padaku. Meskipun dia akan memandangku dengan tatapan asing yang kosong, karena baginya saat ini aku tidak lebih dari salah satu prajurit Kerajaan.
Itulah kalimat yang tidak terucap tapi mampu kami pahami.
Aku tahu bahwa aku tidak punya pilihan selain kembali ke Ibu Kota. Aku pun tahu bahwa tidak akan selamanya aku berkelana di sepenjuru Negeri Angin. Misiku yang sebenarnya adalah berada di samping Sang Putri, menjadi penyokongnya. Itulah yang sedari dulu aku lakukan. Itulah tujuan hidupku. Jika Sang Putri tidak lagi membutuhkanku, maka aku sudah tidak berguna lagi di dunia. Namun, aku tidak menyangka akan secepat ini dipanggil. Yah, 10 tahun bukan waktu yang singkat untuk terus hidup berpindah-pindah.
"Aku akan kembali bersamamu," kataku akhirnya. Neji masih menampilkan wajah datar. Dia tidak suka mendengar penolakan, maka dia sudah pasti tahu bahwa aku tidak akan menolak perintahnya. Lagipula dia adalah atasanku.
"Akan kubantu Festival Akbar tersebut, akan kusokong Sang Putri dalam debutnya. Lalu, setelah itu aku akan kembali menghilang. Aku akan meneruskan perjalananku. Paham?"
Aku menatapnya lurus-lurus.
Perjanjian itu dengan jelas menyatakan bahwa aku harus pergi jauh, karena itu aku tidak akan bisa berlama-lama di dalam istana. Terlebih, telah 10 tahun berlalu. Apa aku masih sanggup menatap Sang Putri? Sudah seperti apa perubahannya sekarang? Yang membuatku gemetar, bagaimana cara dia menatapku nanti? Apakah dia akan menatapku dengan sangat asing? Seperti aku bukan siapa-siapa di hidupnya, seperti aku tidak pernah singgah di hati dan pikriannya?
Aku tidak sanggup membayangkan itu.
"Kita akan berangkat besok pagi."
Setelah itu, dia pergi dari kedai minum, membiarkanku sendiri dan membayar semuanya. Sial.
.
HYUUGA HINATA
Aku mulai mendapat pendidikan formal dari Istana sejak usiaku 5 tahun. Sejauh ingatanku, pendidikan formal itu mencangkup semua mata pelajaran yang menjadi penyokong seorang Putri Bangsawan; seperti puisi, merajut, menari, memainkan shamisen, dan filsuf. Kala itu, Ibuku sedang mengandung adikku, yang diharapkan lahir sebagai laki-laki sehingga Kerajaan memiliki Pewaris Tahkta sah. Sayangnya, ketika suara tangis adikku pecah di Kamar Bersalin, desahan kecewa dari para bangsawan dan penasihat juga menyertainya. Adikku lahir sebagai seorang perempuan. Untuk kedua kalinya, Kerajaan diliputi suasana kecewa.
Tidak ada pewaris laki-laki. Terkutuklah Kerajaan ini.
Diliputi rasa kecewa, Ayah memalingkan wajahnya dari Ibu yang masih kacau setelah proses persalinan yang panjang. Bayi merah yang masih menangis dan masih lengket dengan air ketuban itu didekap oleh Bidan yang menolong dan aku menyaksikannya dari balik sekat pembatas kamar yang tipis.
"Hanabi, itu namanya," desis Ibu parau. "Setidaknya kau harus menatap wajah darah dagingmu sendiri."
"Aku meminta seorang putra!" balas Ayahku.
Bidan telah keluar dari Kamar Bersalin sambil menggendong adikku. Kurasa Ayah dan Ibu tidak tahu bahwa putri pertama mereka menonton semuanya dari sekat pembatas yang tipis. Kelahiran Hanabi adalah kejadian yang membuka mataku bahwa terlahir sebagai seorang perempuan adalah kesalahan. Kami berdua adalah kesalahan terbesar dalam Kerajaan.
"Ini terakhir kalinya aku akan melahirkan anakmu," kata Ibu dengan nada tajam seperti belati. Suaranya bergetar dan napasnya seperti tusukan jarum. Ibu adalah Putri Bangsawan dengan tatakrama kelas atas yang selalu menjaga nada bicaranya dengan lembut. Aku tidak pernah mendengar nada tajam seperti itu.
Suara jubah Ayah menggesek permukaan lantai Kamar Bersalin. Dia berpaling dari istrinya. "Kau dengar aku? Kau telah menolak darah dagingmu sendiri dan sekarang tidak akan ada lagi wanita yang akan melahirkan anakmu. Anak haram sekalipun."
Lalu, pintu dibanting dan aku tidak lagi melihat Ayah. Kehadirannya telah sirna dari depan Ibu, begitu pula denganku dan Hanabi. Aku masih terpaku di tempatku bersembunyi, berusaha tidak bersuara dan bergerak.
"Kau bisa keluar dari sekat itu, Hinata." Suara Ibu menyentakku. Ibu masih terbaring lemah di tempat tidur, namun sosoknya jauh lebih tegar dan kuat. Aku membenarkan kimono-ku dan berjalan keluar.
Untuk pertama kalinya, aku menatap wajah Ibu. Rautnya keras seperti batu karang di lautan, sisa-sisa keletihan masih menempel seperti noda getah di pakaian. Seprai yang penuh dengan darah dan air ketuban telah dibawa keluar oleh para pelayan untuk dibakar. Aku naik ke tempat tidur Ibu dan duduk di sebelahnya.
"Kau harus membuktikan bahwa mereka salah," katanya. "Jalanmu akan sangat menyakitkan kedepannya. Kau ditakdirkan untuk duduk di kursi tertinggi, tapi kau harus mengusahakannya." Ucapan Ibu tidak lembut seperti biasanya, tidak menenangkan. Ucapannya sekeras dan setajam sorot matanya. "Yang Mulia Raja tidak ditakdirkan mendapatkan anak lelaki, tapi kau ditakdirkan untuk mengubah Kerajaan ini."
"Aku tidak mengerti," kataku waktu itu. Otakku yang masih kecil masih tidak paham kenapa ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Aku yang berusia 5 tahun tidak paham kenapa Ibu dan Ayah bertengkar, tidak paham kenapa Ayah tidak mau melihat adikku.
"Kau akan paham." Ibu mengangkat tangannya untuk menyentuh kepalaku. Singkat, tetapi aku masih bisa merasakannya hingga saat ini. "Karena itu kau harus terus belajar dan mengembangkan diri. Kau tidak boleh memiliki kelemahan."
Aku tidak tahu bahwa itu akan menjadi hari terakhir aku bersama dengan Ibu. Keesokan harinya, Ibu menghilang begitu saja dari Istana. Semua barang-barangnya raib tidak bersisa, seolah keberadaan Ibu tidak pernah ada. Ayah tidak melakukan apapun, tidak mengutus para prajuritnya yang paling tangguh untuk mencari keberadaan Istrinya. Aku hampir tidak percaya sampai aku melihat Hanabi. Satu-satunya bukti bahwa Ibu pernah ada di Istana. Sentuhan Ibu terasa nyata.
Sesuai dengan kata-kata Ibu, Ayah tidak memiliki anak dari perempuan lain. Ayah menikahi beberapa wanita untuk dijadikan selir, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang memberinya anak, laki-laki maupun perempuan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam pernikahan Ayah dan Ibu, aku masih terlalu kecil ketika itu terjadi. Namun, hingga saat ini aku pun tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam pernikahan mereka.
Satu minggu setelah Ibu raib, aku mendapatkan pelajaran formal lainnya yang dibutuhkan untuk seorang Pewaris Tahkta. Matematika, Filsuf, Sejarah, Strategi dan Ilmu Perang, Sosial, dan Ilmu Politik. Semakin banyak pelajaran yang kudapat di setiap tahunnya. Dan, di usia 16 tahun, aku mulai diminta untuk ikut rapat-rapat besar dan diperkenalkan dengan seluruh bangsawan serta penguasa di Kerajaan ini.
Suara ketukan di pintu Ruang Kerja-ku menyentakku dari banyaknya pekerjaanku. Aku menaruh kuas yang kugunakan untuk menulis dan mengangkat kepalaku dari atas perkamen. Kulihat adik perempuanku, Hanabi, sedang berdiri di depan pintu. Dia memakai seragam latihan pedangnya, tunik coklat dan celana hitam panjang. Rambutnya disanggul dan tuniknya lembab.
"Ada apa?" tanyaku.
Dia duduk di depanku. Aku kembali mengambil kuas dan mengerjakan pekerjaanku setelah tahu yang datang adalah Hanabi.
"Kudengar rapat dua minggu lalu tidak begitu baik," katanya.
Aku mengangkat bahu. "Biasalah, para orangtua dan semua harga diri mereka. Hanya membahas masalah panen saja sampai dua jam." Aku menghela napas. "Dan sekarang aku masih harus mengkoordinasi tentang Festival besar itu. Bagaimana dengan kerjaanmu?" tanyaku.
"Maksudmu berapa banyak yang kubunuh atau berapa banyak yang kumasukkan ke penjara?" tanyanya.
"Seharusnya kau lebih cocok menjadi Kepala Pengawas di Istana daripada bekerja di Kepolisian. Dan kau itu polisi, bukan pembunuh."
Hanabi mendengus. "Dan menghabiskan waktuku terkurung di Istana 24 jam sepertimu? Tidak terima kasih. Aku bisa gantung diri."
"Tidak seburuk itu. Aku mendapat waktu jalan-jalan dan perawatan tiap kali aku menginginkannya."
"Dan rapat-rapatnya, dan para penasihat dan para Gubernur dan bangsawan dan juga Yang Mulai Raja," kata Hanabi. Dia mengatakannya dengan nada mengejek dan merendahkan. Hanabi menunjukkan ketidaksukaannya secara terang-terangan. Dia memang lebih mampu mengekspresikan apa yang dirasakan daripada aku. Namun, sedikit banyak karena aku lebih mendapat tekanan emosional karena akulah Sang Pewaris Takhta.
"Mereka menyebalkan tapi mereka juga dibutuhkan."
"Ngomong-ngomong, dimana Kak Neji?" tanya Hanabi. "Aku tidak melihatnya beberapa hari belakangan ini."
"Dia sedang pergi keluar Ibu Kota untuk beberapa urusan."
"Seorang Jenderal Perang ditugaskan keluar Ibu Kota? Tumben sekali."
"Semua tergantung Yang Mulia Raja dan Para Penasihat," ujarku.
Aku memang memegang beberapa pekerjaan di Istana dan Negara, tapi semua misi masih di bawah wewenang Yang Mulia Raja dan aku tidak bisa mengintervensinya.
Kami mengobrolkan hal-hal sederhana selama aku bekerja. Jika Hanabi sedang tidak ada tugas di Kepolisian, dia lebih sering berlatih tanding dengan Kak Neji. Namun, jika Kak Neji tidak ada, maka dia akan memasuki Ruang Kerja-ku. Seorang pelayan wanita masuk ke dalam sambil membawa beberapa piring camilan.
Hanabi memakannya.
"Jangan meninggalkan remah-remah di sini. Susah membersihkannya kalau sudah ada semut," kataku.
"Kau membosankan, persis seperti tulisanmu."
"Kaligrafiku terbaik dan terindah di negara ini. Kau lupa?"
"Ah, hobi yang membosankan." Dia meregangkan tubuhnya. "Hari ini juga membosankan. Kau mau berkuda setelah ini?" tanyanya.
Aku menatap tumpukan berkas dan perkamen yang belum kubaca dan kukerjakan. Betapa menggodanya berkuda seharian dan melupakan tugas. Namun, jika kulakukan maka aku tidak hanya menggali kuburanku sendiri tapi juga membuatku tampak tidak professional. "Aku masih punya banyak pekerjaan. Aku juga masih harus rapat siang ini."
"Rapat saat makan siang seharusnya terlarang untuk dilakukan," komentar Hanabi. "Siapa orang yang mencetuskan hal itu?"
Aku mengangkat bahu. "Kita bisa protes sesuka hati, tapi tetap saja harus dilakukan."
Hanabi bangkit dari kursinya. "Aku akan berkuda sendirian saja. Sekalian mencari prajurit yang bisa kuajak latihan tanding."
Lalu, dia berjalan keluar dari Ruang Kerja-ku, menyisakan dua piring kosong dan remah-remahan yang nantinya akan mengundang semut. Aku menumpuk piring-piring itu dan memanggil seorang pelayan untuk membereskannya. Remah-remahan di lap bersih, piring kotor diambil.
"Aku mau teh hijau," kataku. Pelayan itu mengangguk dan keluar dari Ruang Kerja-ku dengan dua piring kotor. Tidak berselang lama, dia masuk kembali dengan membawa nampan berisi teko dan cawan kecil. Aroma teh hijau bisa kucium di seluruh ruangan.
Aku menuju Ruang Rapat ketika Izumi datang ke Ruang Kerja-ku dan mengatakan para bangsawan telah hadir. Izumi beserta dua dua orang prajurit berjalan di belakangku ketika aku berjalan menuju Ruang Rapat.
Pintu Ruang Rapat dibuka oleh seorang prajurit yang bertugas dan ketika aku melangkah masuk, para peserta rapat berdiri menyambut kedatanganku. Aku mengedarkan pandanganku dan menemukan sosok Kak Neji di ruangan bersama bangsawan lainnya.
"Kapan kau kembali ke Istana?" tanyaku langsung pada Kak Neji.
Kak Neji menunduk sebelum menjawab, "Pagi ini, Tuan Putri."
Aku mengangguk dan duduk di kursi yang paling ujung. Setelah aku duduk, barulah para bangsawan ikut duduk. Pintu terbuka lagi dan menu makan siang dihidangkan. Aroma bumbu masakan mengudara di ruangan yang tertutup. Namun, tidak ada dari kami yang menyentuh makan siang di hadapan kami.
Rapat pun di mulai.
Sebagai Kepala Penyelenggara Festival Ulang Tahun Kerajaan, aku mengepalai seluruh divisi. Divisi Acara, Divisi Keuangan, Divisi Logistik, Divisi Konsumsi, Divisi Keamanan, Divisi Palang Merah, dan Divisi Humas. Masing-masing divisi dipimpin oleh seorang bangsawan Ibu Kota. Tidak hanya itu, Kak Neji berperan sebagai Wakilku dan penasihat. Seorang apparat negara menjadi sekretarisku, bernama Sabaku Temari.
Aku ditunjuk oleh Yang Mulia Raja menjadi Kepala Penyelenggara sejak musim dingin tahun lalu. Persiapan kami sudah hampir rampung karena Festival akan dilaksanakan satu bulan lagi, di puncak musim panas. Aku mendengarkan para Ketua Divisi melaporkan progress masing-masing. Sabaku Temari mencatat semuanya di atas perkamen dengan kecepatan tangan yang lihai.
Sejauh ini, hasil laporan bisa dirangkum sebagai:
Divisi Acara sudah merampungkan jadwal selama Festival berlangsung. Festival akan berlangsung selama 1 minggu, dibuka dengan Upacara Syukur Kepada Dewa Matahari atas rahmat dan rezeki atas panen tahun ini. Lalu, Yang Mulia Raja dan aku sebegai Ketua Penyelenggara akan memberikan kata sambutan dan membakar patung jerami sebagai simbolis. Akan ada beberapa sayembara dan perlombaan selama 7 hari, termasuk berburu, memanah, berkuda, adu pedang, hingga bergulat. Perlombaan dapat diikuti oleh seluruh rakyat Ibu Kota, termasuk rakyat biasa, prajurit, maupun bangsawan.
Divisi Keuangan melaporkan prediksi anggaran dana yang digunakan, serta memberikan bukti-bukti pembayaran untuk Festival. Tidak banyak yang dilaporkannya dan sejauh ini semua uang yang keluar masih di dalam batas anggaran. Aku memang sangat menekankan masalah keuangan karena di debut politik pertamaku ini, aku tidak boleh terlihat sebagai sosok pemimpin yang boros dan terlalu berfoya-foya. Lagipula, tahun ini musim kemarau berlangsung lama, sehingga aku harus berhemat.
Divisi Logistik, Konsumsi, tidak menemukan adanya masalah berarti. Karena Festival Ulang Tahun ini kami juga mengundang delegasi dari Negara-Negara lain, maka setiap pernak-pernik hingga selera makan harus diperhatikan. Apalagi, para delegasi dari negara lain akan melihat kinerjaku untuk pertama kalinya. Mereka akan menilai kesiapanku untuk memimpin Negara Angin.
Dari Divisi Keamanan akan mengerahkan prajurit dan tenaga kepolisian untuk membantu menertibkan warga yang datang. Karena acara ini lebih besar dari sebelumnya, maka mereka akan lebih berhati-hati.
Divisi Humas yang akan menjemput perwakilan delegasi dari berbagai negara. Mereka juga akan menyediakan tempat untuk Para Jenderal Perang dan Para Gubernur dari tiap provinsi. Artinya, kompleks Istana akan semakin penuh dengan berbagai tamu. Artinya, keamanan harus ditingkatkan lebih dari sebelumnya karena percobaan pembunuhan pasti akan sangat banyak. Semua orang penting berada di dalam satu kompleks, itu sama seperti kolam yang penuh dengan ikan-ikan segar.
Rapat berjalan selama 3 jam, diselingi dengan makan siang dan acara minum teh setelah itu. Tidak ada hambatan yang berarti ataupun masalah dalam rapat kali ini.
"Satu bulan lagi," kataku. "Ayo kita berikan yang terbaik untuk Festival ini."
Lalu, aku berdiri. Semua peserta rapat ikut berdiri dan membungkuk padaku. Aku keluar dari Ruang Rapat diikuti oleh Kak Neji. Izumi dan kedua prajurit mengikuti kami sepuluh langkah lebih jauh. Kami berjalan bersama di sepanjang koridor hingga menuju taman.
Udara lembab dan terik musim panas semakin menyengat. Bunga-bunga mulai merekah dengan beraneka warna hingga membuat suasana taman menjadi begitu hidup. bahkan, aku melihat kupu-kupu yang cantik hinggap di kelopak bunga. Bahkan, rumput tun terlihat begitu hijau hingga menyilaukan.
"Misimu telah selesai?" tanyaku.
"Begitulah. Senang rasanya kembali tepat waktu ke Istana."
"Apa aku boleh bertanya misi apa yang membuat seorang Jendral Perang pergi dari Istana?" tanyaku basa-basi. Meskipun aku sebenarnya tahu bahwa Kak Neji tidak mungkin menjawabnya. Dia adalah salah satu dari 12 Jendral Perang di Negara Angin. Tugas mereka tidaklah untuk misi-misi remeh apalagi yang membuat mereka harus meninggalkan daerah kekuasaan. Jadi, apapun misinya pasti rahasia.
"Aku mengunjungi seorang teman," jawabnya. Aku tidak menduga bahwa Kak Neji akan menjawab pertanyaan basa-basiku. Dia tidak pernah bercerita siapa saja temannya, siapa orang yang ditemuinya, ataupun perempuan mana saja yang sudah tidur dengannya. Kehidupan Kak Neji adalah misteri meskipun kami tinggal di dalam kompleks Istana. Namun, kehidupanku juga sama rahasianya, jadi aku bisa memakluminya.
"Rupanya kau punya teman," komentarku sambil tersenyum.
"Memang mengejutkan, bukan?" balasnya.
Kami menikmati sinar mentari yang terik di taman barat Istana. Aku sudah familiar taman itu, karena pavilion tersebut berada di barat Istana. Karena pekerjaanku yang banyak, aku belum ada mengunjungi pavilion itu dalam dua minggu terakhir. Namun, aku selalu memerintahkan para pelayan untuk membersihkannya.
"Hanabi mencarimu," kataku. Kami berjalan menuju tempat favoritku, yaitu kolam ikan yang berisi berbagai jenis ikan hias. "Kurasa dia ingin dikalahkan lagi olehmu."
Kak Neji mengeluarkan tawa ringan. "Tuan Putri Hanabi bertambah kuat setiap harinya."
Aku mendengus. "Dia tidak suka dipanggil Tuan Putri." Aku menatap ke kolam yang berkilauan. Aku bisa menatap pantulanku dan Kak Neji yang sedang berdiri di tengah jembatan. "Aku baru menawarkan posisi Kepala Keamanan di Istana ini padanya."
"Saya bisa menebak bahwa Tuan Putri Hanabi menolak."
Kami tertawa. "Bukan Hanabi jika dia menerimanya begitu saja. Justru mereka akan menarik jika menolak."
"Benar."
Terdengar suara langkah kaki yang mendekati kami dan Kak Neji memasang badan di depanku.
"Sungguh suatu kehormatan bagi saya dikunjungi oleh Yang Mulia Tuan Putri dan Jenderal Perang Hyuuga Neji. Adakah yang bisa saya bantu?"
Suara lelaki asing yang belum pernah kudengar di Istana. Aku hidup di Istana dengan penuh ancaman dan ketakutan, sehingga aku mampu mengenali semua suara penghuni Istana sedari dulu, yang sudah pergi maupun yang masih tinggal. Yang sudah mati maupun yang masih hidup. Namun, suara asing itu begitu bebas dan ringan, meskipun nadanya menunjukkan kesopansantunan. Suara yang merendah, tetapi juga terasa berwibawa.
Kak Neji bergeser dari depanku hingga aku melihat siapa sosok pria tersebut.
Hal pertama yang kulihat adalah kedua iris birunya yang berkilauan, persis seperti warna langit di siang hari ini. Dia tersenyum dengan formal kepada kami berdua. Rambutnya berwarna pirang, tidak seperti rambut penduduk asli negara ini. Penduduk Negara Angin memiliki rambut berwarna gelap. Wajahnya penuh kerutan, tetapi tidak menambah kesan tua. Mungkin dia seusia dengan Kak Neji atau mungkin lebih muda. Sulit memastikan usianya. Badannya tegap dan tinggi, bahunya bidang dan sebuah pedang sepanjang 90 sentimeter menggantung di pinggangnya.
"Tuan Putri, perkenalkan Tuan Uzumaki Naruto, seorang Jenderal Perang dari Provinsi Ame."
Uzumaki Naruto, pria itu, menundukkan kepalanya untuk memberiku salam. "Mohon maaf saya tidak langsung menyapa Anda, Yang Mulia."
"Uzumaki berambut merah," kataku, "kenapa rambutmu berwarna pirang?" tanyaku.
"Ibunda saya seorang Uzumaki, sementara Ayahanda saya seorang bangsawan dari Negara Api."
"Siapa nama Ayahmu?"
"Namikaze Minato, Yang Mulia."
"Kau berdarah campuran," kataku lagi. "Dan kau seorang Jenderal Perang."
Aku melangkah maju dengan pelan. Sesuatu mengenai Uzumaki Naruto menggelitikku. Kak Neji tidak menghalangiku, yang artinya dia tidak menganggap Uzumaki Naruto berbahaya untukku. Tepat di depan Uzumaki, aku mengulurkan tanganku. Dengan pelan dan yakin, Uzumaki menyentuhkan tanganku dengan tangan kanannya. Sentuhan yang ringan dan panas sekaligus membuat sekujur tubuhku terasa dingin. Dia membawa tanganku ke bibirnya dan mengecupnya singkat.
Lalu, aku menarik lagi tanganku. Sensasi itu masih bertahan di punggung tanganku.
"Angkat kepalamu," kataku.
Dia mengangkat kepalanya dan menegakkan punggungnya. Iris birunya begitu berkilauan sampai rasanya aku bisa tenggelam di dalamnya.
"Kau menghuni Pavilion Teratai ini?" tanyaku.
"Benar, Yang Mulia."
"Aku tidak pernah diberitahu bahwa ada Jenderal Perang lain yang tinggal di kompleks Istana."
"Tuan Uzumaki baru menyelesaikan ekspedisinya, Tuan Putri," jawab Kak Neji. Dia berdiri di sampingku. "Tuan Uzumaki datang ke Istana ini sebagai penghormatan untuk Festival Ulang Tahun Kerajaan. Dia akan tinggal di Pavilion Teratai hingga Festival selesai."
Uzumaki tidak mengatakan apapun untuk menyangkal. Aku melirik Kak Neji. "Jadi dia teman yang kau temui itu?" tanyaku.
Kak Neji mengangguk. "Benar."
Matahari semakin terik di atas kepala kami. "Aku sebaiknya tidak mengganggu istirahatmu, Tuan Uzumaki," kataku. "Makan malam nanti, datanglah ke Ruang Makan Pavilion Melati. Aku ingin mendengarkan ceritamu."
Setelah itu, aku berjalan keluar dari kompleks pavilion tersebut. Kak Neji mengikutiku dan ketika kami sudah berjalan di koridor, Izumi dan kedua prajurit sudah menungguku. Mereka berjalan 10 langkah di belakang kami berdua.
"Tidak biasanya Anda mengundang seseorang untuk makan malam bersama," komentar Kak Neji.
Memang tidak. Aku tidak pernah mengundang siapapun untuk makan malam bersamaku, bangsawan, apparat negara, siapapun. Istana ini dihuni begitu banyak sekali orang dan mereka datang silih berganti. Tidak pernah sekalipun aku tertarik pada mereka, bahkan para selir yang dimiliki oleh Yang Mulia Raja.
"Aku mengundang temanmu," kataku. "Aku ingin dengar cerita temanmu. Apa kau tidak penasaran, kenapa seorang darah campuran bisa menjadi seorang Jenderal Perang?"
"Anda penasaran tentang itu?"
Aku mengangkat bahu. "Dia seorang Uzumaki. Aku selalu ingin mendengar cerita dari Uzumaki."
.
UZUMAKI NARUTO
Perjalanan menuju Ibu Kota dengan Hyuuga Neji sangat mengerikan. Di antara 12 Jenderal Perang Negara Angin, Neji adalah orang paling kaku dan paling serius. Kami duduk berhadapan di dalam kereta kuda tanpa ada percakapan. Aku bahkan tidak bisa menghisap rokok karena Neji melarangnya. Akhirnya, sepanjang perjalanan selama 5 hari hanya dipenuhi oleh kuapan membosankan dan lelucon garing yang bahkan terasa dipaksakan untuk tertawa.
Kami sampai di Ibu Kota di pertengahan hari. Kediaman Keluarga Kerajaan terletak di tengah kota, di jantung Negara Angin. Aku meninggalkan Ibu Kota 10 tahun yang lalu, memulai pengembaraan dan ekspedisi sebagai harga yang harus dibayar. Situasi jalanan kota yang kami lewati rupanya tidak berbeda jauh dari 10 tahun yang lalu. Pasar yang ramai, para warga yang berbelanja, suara para pedagang yang menawarkan dagangan mereka, dan anak-anak yang berlarian. Lalu, rumah-rumah penduduk semakin ramai dan tinggi. Kedai-kedai makanan dan minuman, penginapan, hingga lorong-lorong sempit yang tidak tersentuh matahari.
Semakin kereta kuda melaju ke jantung kota, jalanan semakin bersih dan terawat. Rumah-rumah semakin bagus dengan desain yang mewah, tidak ada hiruk-piruk penduduk dan tanah yang becek. Semakin kami mendekati Istana Musim Panas, bangunan yang berdiri adalah bangunan pemerintah, tempat tinggal para apparat negara ataupun kantor polisi. Para bangsawan jarang tinggal di pusat kota, mereka memilih tinggal di dataran tinggi ataupun pinggir kota yang menyediakan suasana tenang dan lahan yang luas. Lagipula, para bangsawan itu sudah menempati rumah keluarga yang telah berdiri selama ratusan tahun.
Di jalanan yang mulus, aku bisa melihat bangunan megah Istana Musim Panas, pusat pemerintahan dari Negara Angin, sekaligus tempat tinggal Keluarga Kerajaan Hyuuga. Tiang-tiang penyangga yang kokoh, dengan genteng yang mewah dan ukiran yang rumit, serta sinar matahari yang turun menerangi seluruh bangunan Istana, membuatnya benar-benar tempat dari Para Dewa. Di sekeliling Istana dipasang tembok yang membatasi jalan masuk dan setiap 5 meter, terdapat prajurit yang berjaga. 10 tahun berlalu, tapi bangunan itu sama sekali tidak berubah.
Dua orang prajurit yang bertugas di depan Gerbang Utama membuka pintu besi ketika melihat kereta kuda kami berjalan mendekat. Mereka tidak mengatakan apapun dan hanya memberi hormat kepada kami. Kereta kuda yang digunakan Neji untuk menjemputku memang khas milik Keluarga Hyuuga, dengan lambangnya terpatri di pintu kereta.
Pintu besi kembali tertutup ketika kami sudah masuk ke dalam kompleks Istana. Kereta kuda berhenti dan kami berdua turun dari dalam kereta kuda. Aku meregangkan tubuhku yang terasa kaku karena sudah duduk tegak sepanjang perjalanan. Beberapa pelayan menghampiri kami.
"Yang Mulia Tuan Putri Hinata telah mengundang Anda untuk ikut rapat," ujar salah seorang pelayan pria kepada Neji.
"Aku akan segera datang. Apakah Tuan Putri sudah hadir di Ruang Rapat?" tanyanya.
Pelayan itu menggeleng. "Belum. Izumi-san akan memanggil beliau setelah semua peserta rapat lengkap."
Aku menatap ke sekelilingku. Kompleks Istana Musim Panas ini terbagi menjadi beberapa bagian. Gedung Utama ini digunakan untuk menyambut para tamu dalam maupun luar negeri. Ada aula yang luar biasa besar, Ruang Singgasana untuk rapat-rapat besar serta Ruang Strategi. Lalu, di dalamnya, terbagi menjadi beberapa bagian, seperti Kompleks Keluarga Kerajaan, Kompleks Para Selir Istana, Kompleks Para Bangsawan, dan Kompleks untuk para pekerja apparat negara yang bekerja di dalam istana.
Dahulu aku sering tersesat ketika berjalan di Istana Musim Panas, karena di semua Istana yang ada di Negara Angin, tempat ini yang paling luas dan paling ramai. Namun, dulu Hinata selalu menggandeng tanganku, menunjukkanku tempat-tempat jalan pintas supaya aku tidak tersesat. Aku merasakan hatiku berdenyut ngilu. Setelah pergi 10 tahun tanpa melihat wajah Hinata, kini memori itu masuk bagaikan mimpi di siang bolong.
Aku memang lemah jika menghadapi Hinata.
Namun, aku juga merasakan debaran di dalam dadaku. Aku bisa bertemu lagi dengan satu-satunya wanita yang selalu kurindukan. Setelah 10 tahun hanya bisa mendatanginya lewat mimpi dan kenangan, kini aku berada di bawah langit dan bumi yang sama dengan Hinata. Aku bisa melihatnya secara langsung, berlama-lama memandangi wajahnya, menghirup aromanya, mendengar suaranya, semuanya. Aku bisa melakukan itu.
Meskipun salah satu konsekuensinya adalah Hinata tidak akan ingat padaku, itu tidak jadi masalah. Kenangan dan cintaku padanya sudah cukup untukku. Asalkan dia bahagia dan hidup, aku bisa menanggung semuanya.
"Apa kau akan langsung ke Pavilion Teratai?" tanya Neji. "Aku harus menghadiri rapat tentang Festival."
Aku mengangguk. "Pergilah. Aku masih ingat jalannya menuju Pavilion Teratai."
Neji pergi lebih dulu. Salah seorang pelayan pria membawa beberapa tasku dan kami berjalan menuju tempat tinggalku, Pavilion Teratai. Aku melangkah dengan pasti, karena ternyata interior dari Istana ini juga sama sekali tidak berubah. Banyak wajah baru yang berjalan hilir mudik, tetapi Istana ini masih sama. Udara lembab dan panas tidak membuat aktivitas menurun, para pelayan masih sibuk berjalan hilir mudik untuk memenuhi kebutuhan para bangsawan, para apparat negara juga sibuk dengan tugas masing-masing, beberapa prajurit berjalan mengawasi kondisi Istana. Aku melewati mereka semua.
Sampailah aku ke Kompleks Barat Istana Musim Panas, tempat tinggal para bangsawan negara. Pavilion-pavilion yang megah berkilauan ditimpa sinar mentari. Namun, pavilion-ku berada di paling ujung, dekat dengan 'hutan' Istana dan batas akhir Istana. Aku sengaja memilih tempat itu sebagai tempat tinggal karena jauh dari hiruk piruk Istana, sehingga aku bisa beristirahat dengan tenang.
Pavilion itu tidak berubah sama sekali. Semua barang masih berada di tempatnya, pintu, jendela, tempat tidur, ruang membaca, buku-bukuku, hingga koleksi guciku. Yang membuatku kaget hanyalah betapa bersih pavilion ini. Tidak ada setitik pun debu. Sirkulasi udaranya lancar dan bagus, seolah jendela-jendela di buka dan ditutup setiap hari. Tempat tidur selalu dijemur hingga tidak berjamur.
"Apa kalian sengaja membersihkannya karena tahu aku akan datang?" tanyaku pada pelayan pria yang membawa tasku.
"Yang Mulia Tuan Putri Hinata yang selalu memerintahkan kami untuk membersihkan pavilion ini setiap hari," ujarnya.
"Setiap hari? Selama ekspedisiku?" tanyaku lagi. Dadaku terasa sesak.
"Benar, Tuan," jawabnya. "Mungkin beliau merasa Anda akan kembali sehingga pavilion ini terus dibersihkan olehnya."
Aku menggeleng secara otomatis. "Tidak, dia tidak tahu itu." Dia tidak ingat apapun. Tentangku, tentang kami.
"Kau boleh pergi. Terima kasih," kataku.
Pelayan itu segera pergi dari pavilion. Aku melangkah masuk untuk mengenang semua ingatan yang pernah ada di sini.
Hinata yang selalu datang berkunjung, kami bermain bersama, kami saling bertukar pendapat, kami berdiskusi tentang simulai perang, dan kami merendam kaki di kolam ikan jika cuaca panas. Lalu, di pavilion ini juga kami mencoba arak untuk pertama kalinya, kami mabuk seperti orang tolol dan muntah, tetapi semua itu terasa asyik dan seru. Hinata yang suka tidur di tempatku karena dia bisa tidur dengan lebih nyenyak dan aman. Tidak ada yang bisa menyentuhnya selama aku ada di sisinya. Malam-malam panas dan bergairah yang kami lalui juga, semuanya membanjiriku. Aku bisa melihat kami berdua di setiap sudut ruangan. Dan rupanya, di dalam ketidaktahuannya, Hinata terus kembali ke pavilion ini. Dia terus membersihkannya, seolah dia yakin bahwa aku akan kembali.
Aku menaruh tas berpergianku sembarangan dan melepas alas kaki. Tanpa membuka seluruh pakaianku, aku menjatuhkan diri di atas kasur dan memejamkan mata.
Kurasa aku sempat tertidur sebentar, karena ketika aku membuka mata, sinar mentari masih masuk dengan ganas lewat jendela yang terbuka lebar. Tidur di kasur sendiri terasa menyenangkan, apalagi selama 5 hari perjalanan bersama Neji aku tidak bisa bersantai. Aku membenarkan jubah yang kukenakan dan membawa pedangku.
Aku berencana untuk berjalan-jalan di sekitar pavilion sambil melihat hal-hal apa saja yang telah berubah. Sinar mentari yang terik langsung menyengat kulitku, tetapi aku tetap keluar dari kamarku. Di pavilion, aku membuat sebuah kolam buatan yang berisi jenis-jenis ikan hias. Kurasa jika 10 tahun telah berlalu, ikan-ikan hiasku seharusnya sudah bertambah besar. Aku ingin melihat perubahan mereka.
Namun, langkahku terhenti ketika ada dua orang yang sedang berdiri di tengah jembatan penghubung kolam. Dari cara berdiri dan pakaian mereka, aku yakin mereka berdua adalah bangsawan. Melihat model rambut hitam legam serta baju zirah yang merepotkan, aku bisa mengenali Neji. Berarti, wanita yang memakai kimono dengan motif buruk merak itu adalah Pewaris Takhta Kerajaan Negara Angin, Tuan Putri Hyuuga Hinata.
Sekali melihatnya, aku tidak bisa memalingkan wajahku. Ketika kami berpisah, usianya 20 tahun. Kini, Hinata sudah berusia 30 tahun. Selera kimono yang dipakainya elegan, tetapi lebih dewasa dengan ukiran motif yang lebih rumit. Tubuhnya tidak terlalu kecil, tidak terlalu tinggi. Rambutnya masih segelap yang kuingat, paduan biru tua dengan badai di Samudra. Dari tempatku berdiri, aku hanya mampu melihat sanggul rambutnya yang rumit, motif kimono-nya, serta postur tubuhnya yang tegap dan anggun.
Hatiku dibanjiri oleh kerinduan. Aku ingin sekali langsung berlari ke arahnya, memeluknya dan berkata bahwa kami bisa bersama. Bahwa harga telah dibayar lunas. Aku ingin sekali menatap ke dalam kedua bola matanya dan melihat kerinduan di dalamnya. Namun, aku tahu apa yang akan menantiku jika aku terus melangkah maju.
Hanya saja, aku tidak bisa menghentikan kakiku. Aku terus melangkah maju menuju kedua saudara Hyuuga itu, mengabaikan hatiku yang menjerit kesakitan dan penuh kerinduan. Ketika aku sudah cukup dekat, mereka berdua tampaknya menyadari keberadaanku. Neji memasang tubuhnya untuk melindungi Sang Tuan Putri.
"Sungguh suatu kehormatan bagi saya dikunjungi oleh Yang Mulia Tuan Putri dan Jenderal Perang Hyuuga Neji. Adakah yang bisa saya bantu?"
.
Undangan Makan Malam di Pavilion Melati, Kediaman Pribadi milik Tuan Putri Hyuuga Hinata. Aku tidak pernah bermimpi akan mendapatkan undangan makan malam bersama. Kupikir, tindakanku sudah lancang dan Hinata akan langsung melupakanku setelah aku menyapa mereka, tetapi dia menaruh perhatian dengan mengundangku makan.
Aku tidak bisa mencegah senyuman yang timbul di wajahku. Meskipun jika aku mengingat kedua iris Hinata yang berkerut dan menatapku asing, aku masih merasa tidak nyaman. Namun, tidak masalah. Aku mengingat semuanya dan selama aku memiliki waktu bersama dengan Hinata, aku akan menerima semua risikonya. Entah kapan bayaran tersebut akan lunas.
Pintu depan diketuk dan aku membukanya. Rupanya, ada beberapa pelayan pria yang datang sambil membawa beberapa barang.
"Kami membawa beberapa hadiah dari Yang Mulia Tuan Putri Hinata untuk Anda, Tuan Uzumaki," kata seorang pelayan yang wajahnya sudah lumayan tua. Aku mengenalnya sedari aku kecil.
"Masuklah," kataku sambil membiarkan mereka masuk.
Rupanya, Hinata memberikanku jubah baru untuk dipakai pada makan malam hari ini, sepatu baru, dan sarung pedang baru. Semuanya tampak berkilauan dan mewah. Kurasa waktu 10 tahun mampu mengubah selera orang. Atau mungkin, Hinata menyesuaikan dirinya dengan lingkungan di Istana. Dia adalah ujung tombak Pewaris Tahkta, tetapi semua ancaman mengarah pada dirinya karena dia seorang perempuan. Hyuuga Hiashi tidak memiliki seorang putra. Istrinya mengutuknya sebelum raib dari Istana.
Mereka menyiapkan air untukku mandi, lalu aku menyuruh mereka semua menunggu di luar. Aku mandi sambil membersihkan seluruh diriku, semua daki dan kotoran, keramas dengan shampoo yang wangi sampai membuat mulut dan gigiku wangi.
Lalu, aku mulai memakai jubah yang diberikan oleh Hinata. Saat aku selesai memakainya, aku merasa seperti seorang bangsawan yang bekerja di Istana. Jubah yang berwarna kuning dengan lambang Keluarga Kerajaan di punggungnya, motif yang rumit dan ukiran dari negara ini, Angin. Aku memakai sepatu yang diberikan oleh Hinata dan menyarungkan pedangku dengan menggunakan sarung pedang baru.
Ketika aku melihat tampilanku di cermin, aku tidak merasa akan makan malam. Aku merasa seperti akan berparade keliling kota sambil melambaikan tangan kepada para warga. Namun, aku sangat memahami hukum yang berlaku, bahwa jangan pernah menolak pemberian dari seseorang yang strata sosialnya lebih tinggi darimu. Meskipun Keluarga Uzumaki adalah Keluarga Gubernur yang menguasai Provinsi Ame selama ratusan tahun dan meskipun aku sendiri adalah seorang Jenderal Perang, Hyuuga Hinata tetap berada di atasku.
Aku keluar dari kamar setelah membawa satu botol arak sebagai tanda terima kasih dan para pelayan menunduk memberikan hormat. Kami mulai berjalan dari pavilion-ku menuju Pavilion Melati. Para pelayan berjalan 5 langkah di belakangku tanpa bicara. Di persimpangan koridor, aku bertemu dengan Neji yang juga memakai jubah yang mewah.
Aku menyapanya. "Sepertinya kita menuju arah yang sama," kataku.
Dia mengangguk. Kami berjalan bersama. "Sepertinya kau mendapat hadiah yang bagus," komentarnya sambil melirik jubah yang kukenakan.
"Mana mungkin aku menolak pemberian Tuan Putri. Ini suatu kehormatan."
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Neji.
Aku mengangkat bahu. "Tidak ada. Aku akan tetap berpegang pada tujuan utamaku di sini." Keselamatannya, janji kami, takdir kami.
Langit sudah mulai gelap dan para serangga sudah mulai bersuara, berlomba-lomba mengisi kekosongan malam hari. Lampu-lampu minyak dinyalakan dan obor-obor berkobar di setiap dinding. Tidak banyak yang beraktivitas di malam hari. Semua orang memilih untuk tinggal di pavilion masing-masing.
Pavilion Melati berada di sisi Utara Istana Musim Panas. Kompleks Istana itu yang paling megah, karena disitulah semua keluarga Hyuuga tinggal. Pavilion Hinata dua kali lebih besar dari milikku. Dua orang prajurit berjaga di depan pintu utama pavilion. Ketika mereka melihatku dan Neji, mereka membuka pintu. Para pelayan kami menunggu di luar. Dari pintu utama, kami dibimbing masuk lebih dalam oleh seorang pelayan wanita menuju Ruang Makan.
"Yang Mulia Tuan Putri, Tuan Hyuuga Neji dan Tuan Uzumaki Naruto telah hadir," ujarnya memberitahu sebelum membuka pintu. Lalu, dia berlutut.
Kami memasuki Ruang Makan.
Di Ruang Makan, Hinata sudah hadir. Dia sedang menatap ke luar jendela yang ada di Ruang Makan sambil mengamati paduan suara dari para jangkrik dan kodok. Malam hari ini dia memakai kimono berwarna merah darah dengan motif naga. Rambutnya disanggul dengan menggunakan tusuk konde keemasan. Wajahnya yang pucat tampak kontras ketika terkena sinar dari lampu minyak. Dia tersenyum tipis ketika melihat kami. Wajahnya luar biasa cantik. 10 tahun lebih tua malah membuat kecantikannya semakin membara bagaikan api. Rautnya lebih dewasa, matanya lebih tajam dan awas, dia mulai terbiasa memainkan perannya di Istana ini.
"Silahkan duduk," kata Hinata.
Kami membungkuk dan duduk di kursi yang disediakan. Hanya ada 3 kursi dan makan malam kali ini jelas hanya untukku dan Neji.
Hinata duduk di kursinya dan kami duduk di kursi masing-masing. Para pelayan mulai menyajikan makanan. Aku mengulurkan botol arak yang kubawa.
"Yang Mulia, mohon terima sedikit persembahan dari saya. Arak dari Provinsi Ame, disuling langsung di pegunungan yang berusia 100 tahun."
Seorang pelayan mengambilnya.
"Terima kasih Tuan Uzumaki," katanya dengan suara lembut dan manis. Hinata menatap seorang pelayan yang berdiri di belakangnya. "Tolong tuangkan arak ini bersama dengan hidangan cuci mulut nanti," perintahnya.
Pelayan di belakangnya mengambil arak pemberianku sambil mengangguk. Lalu, Hinata menatapku lagi. Tatapannya sangat datar namun penuh perhitungan, meskipun bibirnya tersenyum. Dia menilaiku seperti dia menilai para politikus lainnya. Aku mencoba memahami Hinata. Dia bukanlah gadis kecil yang sering menunjukkan jalan-jalan rahasia di Istana, dia juga bukanlah remaja tanggung yang mencoba meminum arak di pavilion-ku. Hinata telah matang sebagai seorang wanita serta seorang pemimpin. Dia telah mengecap asin manis politik yang begitu kejam. Semua yang ada di depannya adalah potensi musuhnya. Hinata tidak punya teman di Istana ini.
Kami mulai memakan hidangan yang ada di depan kami. Dimulai dari hidangan pembuka, lalu menu utama. Barulah kami berbincang-bincang setelah makanan utama kami datang.
"Tuan Uzumaki, ceritakanlah mengenai ekspedisimu," kata Hinata.
Sejujurnya, aku sulit berkonsentrasi. Aku tidak bisa fokus pada makananku maupun pada Hinata. Hinata tampak begitu dekat sekaligus sejauh langit dan bumi. 10 tahun adalah waktu yang lama untuk mengubah seseorang, termasuk Hinata. Aku jadi berpikir, jika seandainya aku tidak pernah pergi dari sisinya, akankah aku terbiasa dengan Hinata yang sekarang? Atau mungkin aku akan bersama-sama berubah disampingnya?
Namun, aku tahu jawabannya: Jika aku tidak membayar harga waktu itu, Hinata sudah pasti tidak akan bisa hidup hingga saat ini. Menatap tubuh kaku Hinata bukanlah sesuatu yang aku dambakan. Jadi, aku mengumpulkan kefokusan dan profesionalitasku. Aku mulai bercerita.
"Saya suka berpetualang, Yang Mulia," ujarku. "Petualang ada di dalam darah Uzumaki, kami adalah suku nomaden sebelum akhirnya kami mengabdi kepada Keluarga Kerajaan."
Hinata menyesap tehnya dengan anggun. "Semua orang tahu cerita itu, Tuan Uzumaki. Aku ingin tahu mengenai petualanganmu selama kau menjabat menjadi Jenderal Perang. Bagaimana seorang Jenderal Perang bisa melakukan ekspedisi, sementara kau sama sekali tidak pernah menjalankan tugasmu."
Nada suara Hinata menusuk dan terdengar asing. Itu hal yang wajar, karena wanita di depanku adalah orang asing. Bagi Hinata, aku hanyalah orang asing dan dia ingin menilai hargaku untuk menentukan apakah aku layak menjadi sekutu atau musuhnya.
"Ekspedisi itu adalah caraku untuk menjalankan tugas, Yang Mulia. Kerajaan memang harus fokus pada daerah-daerah perbatasan serta ancaman dari luar, saya paham hal itu. Meskipun perang telah berakhir 100 tahun yang lalu, negara-negara tetangga tidak segampang itu melepaskan kita, saya yakin Anda paham hal itu. Hanya saja," aku sengaja memberi jeda untuk melihat ekspresi Hinata. Dia bagaikan patung pualam yang tidak menampilkan ekspresi yang berarti. Namun, matanya berkilat seperti burung elang yang mengintai tikus.
"Hanya saja, ancaman tidak datang dari luar perbatasan, tetapi juga dari dalam negeri ini."
Alis Hinata yang digambar melengkung indah saat terangkat. "Maksudmu, ada indikasi pemberontakan?"
Aku menatap Neji yang diam seribu bahasa. Dia menatapku dengan tatapan tajam seolah menyiratkan agar aku tidak bermain api di depan Hinata. Jika aku telah kehilangan gadis yang dulu ada di sampingku, maka aku akan menilai wanita yang ada di depanku. Apakah wanita itu pantas untuk aku lindungi atau tidak.
"Tidak, Yang Mulia. Pemberontakan adalah hal yang serius. Saya tidak berani mengatakannya semudah itu."
Hinata menopang dagunya dengan tangan kanannya, tanda dia semakin tertarik dengan percakapan ini. "Begitu, kau mengamati rakyat. Kau mengamati semua kemungkinan ancaman. Harus aku akui, caramu itu cukup unik, Tuan Uzumaki."
Aku membungkuk hormat, "Terima kasih, Yang Mulia. Sanjungan Anda sangat berarti."
Hinata mendengus. "Tidak perlu berbasa-basi di sini, Tuan Uzumaki. Aku masih belum selesai bicara," katanya. Aku diam menatapnya. "Namun, caramu itu tidak efektif. Menilai dan berbaur dengan rakyat itu memang perlu, tapi garda terdepan dari suatu Kerajaan adalah Para Jenderal Perang. Menurutmu, apa kau masih berpendapat pendekatan itu efektif jika terjadi konflik internal di Istana?"
Hinata memang sudah menjelma menjadi orang lain. Aku tidak pernah menyangka dia bisa segamblang itu bicara mengenai konflik internal di Istana. Para pelayan yang ada di Ruang Makan memang menutup mulut mereka rapat-rapat. Namun, jika mereka keluar dari ruangan ini, sudah pasti ada satu dua informasi yang bocor.
"Karena itulah saat ini saya kembali ke Istana, Yang Mulia. Untuk melindungi Anda."
Kata-kata itu memang terasa manis, bahkan Hinata pun berkedip beberapa kali. Dia menegakkan punggungnya dan tersenyum. "Saya akan tagih janji itu, Tuan Uzumaki."
.
HYUUGA HINATA
Negara Angin memiliki 12 Jenderal Perang dari 12 Provinsi. Salah satunya berasal dari Keluarga Uzumaki. Aku telah belajar mengenai silsilah semua bangsawan di negara ini sejak Ayah tidak lagi mengharapkan kelahiran anak lelaki. Aku telah menghapal semua sejarah dari keluarga para bangsawan, termasuk Uzumaki.
Singkatnya, Keluarga Gubernur yang mengatur masing-masing provinsi juga merupakan Jenderal Perang. Biasanya, Kepala Keluarga menjadi Gubernur dan memerintah provinsi dan anak laki-laki tertua mereka akan dinobatkan menjadi Jenderal Perang. Jika dalam keluarga tidak memiliki anak laki-laki, maka Jenderal Perang diangkat dari garis keturunan terdekat, seperti keponakan Sang Gubernur.
Namun, Keluarga Uzumaki berbeda. Sang Kepala Keluarga adalah seorang wanita, Uzumaki Kushina. Suaminya tidak bisa menjadi Gubernur karena dia bukanlah warga asli dari Negara Angin. Suaminya, Namikaze Minato, adalah bangsawan dari Negara Api. Dari cerita yang beredar, lelaki itu jatuh cinta pada Kushina di sebuah pesta, menikah dan memutuskan untuk tinggal bersama dengan Istrinya di Negara Angin. Dia melepas semua gelar bangsawannya dan mengabdi di keluarga Uzumaki. Lalu, anak lelaki mereka, Uzumaki Naruto, menjadi Jenderal Perang, sesuai tradisi negara ini.
Sejauh itu, hanya informasi itu yang bisa kudapatkan mengenai Uzumaki Naruto. Sejak dia ditetapkan menjadi Jenderal Perang di usia 20 tahun, aku tidak pernah melihatnya satu kali pun. Dia tidak tinggal di Istana, tidak juga tinggal di Provinsi Ame. Dia selalu melakukan eskpedisi, hal yang sebenarnya aneh bagi seorang Jenderal Perang.
"Sepertinya Anda penasaran dengan Tuan Uzumaki," kata Kak Neji.
Dia menemaniku di perpustakaan sambil membaca buku silsilah Keluarga Bangsawan. Buku yang sudah berdebu, sangat tebal, dan tua. Bahkan, beberapa halamannya telah menempel satu sama lain sampai aku tidak berani memisahkannya.
"Kau tidak? Sejak dia menjabat sebagai Jenderal Perang, dia tidak pernah sekalipun menampakkan dirinya. Lalu sekarang, dia datang bertepatan dengan Festival Ulang Tahun Kerajaan? Sungguh suatu kebetulan kau menjemputnya, benar?"
"Saya hanya menjalankan perintah Yang Mulia Raja," jawab Kak Neji. Jawaban teraman yang tidak penting jika dia ingin menyembunyikan sesuatu.
"Benar, kau hanya menjalankan perintah," ujarku. Kututup buku besar itu hingga suaranya menggema. Beberapa butir debu beterbangan di udara. "Kurasa kita akan melihat sehebat apa Uzumaki di saat Festival."
"Tuan Uzumaki ada di sini untuk membantu Anda, Tuan Putri."
"Aku tahu. Namun, aku perlu tahu siapa orang-orang yang berada di dekatku. Cukup dekat untuk menggorok leherku. Itu yang selalu kau ajarkan padaku, benar?"
Kak Neji mengangguk. "Anda belajar dengan cepat."
"Aku punya guru yang hebat."
.
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Persiapan, rapat yang berlarut-larut, simulasi, semua itu akhirnya berakhir. Dua minggu sebelum Festival, Para Bangsawan, Para Gubernur, Para Jenderal Perang, dan Para Delegasi dari negara-negara tetangga mulai berdatangan.
Aku berdiri bersama dengan Kak Neji dan Menteri Perhubungan di halaman depan Istana, menunggu para kereta kuda tamu datang satu per satu. Cahaya matahari sudah nyaris memasuki puncak tertinggi di musim panas. Kimono-ku terasa berat, panas dan lembab, karena aku bisa merasakan keringat yang mengalir dari leher dan menuruni punggungku. Aku ingin sekali mengambil kipas atau setidaknya sapu tangan untuk mengeringkan keringatku, tapi rasanya akan tidak sopan.
Satu per satu kereta kuda para tamu berhenti di halaman depan istana. Seorang prajurit mengumumkan dengan suara keras bahwa para tamu sudah datang. Kusir kereta kuda turun dan membuka pintu kereta kuda. Mereka juga membantu para tamu turun dengan perlahan agar tidak terjatuh dan mempermalukan diri.
Menteri Perhubungan lah yang telah menghapal seluruh nama-nama tamu dan menyambut mereka dengan hormat. Aku mengikuti teladannya menyapa para tamu. Harus kuakui, kemampuan Menteri Perhubungan dalam mengingat wajib dipuji. Dia mampu mengingat seluruh nama-nama bangsawan, mulai dari bangsawan paling kaya, paling berkuasa, paling banyak kekuatan militer, hingga bangsawan kelas tiga yang baru saja diangkat menjadi bangsawan. Begitu pula dengan seluruh delegasi negeri-negeri tetangga, gelar mereka, dia bisa menyebutkannya tanpa ada kesalahan.
Setelah seluruh tamu undangan telah hadir, matahari juga sudah tidak bersinar terik lagi. Aku baru menyadari bahwa waku telah berdiri sepanjang hari di halaman depan Istana. Aku bahkan tidak bisa lagi merasakan kaki dan punggungku.
"Ini yang terakhir?" aku berbisik pada Menteri Perhubungan.
"Benar, Tuan Putri."
Aku mendesah lega. "Aku akan kembali ke ruanganku. Kak Neji, ayo."
"Selamat beristirahat, Tuan Putri Hinata," ujar Menteri Perhubungan sambil membungkukkan badan singkat. Aku mengangguk dan mulai berjalan ke arah Istana, diikuti oleh Kak Neji dan sepeleton prajurit serta pelayan.
Udara di lorong Istana terasa sejuk dan aku baru sadar kalau tenggorokannya terasa begitu kering. Terlalu banyak tersenyum, terlalu banyak menyapa, terlalu banyak berbasa-basi, semua hal itu ternyata lebih berat daripada mengerjakan dokumen-dokumen.
"Air mandiku sudah siap? Langsung saja siapkan makan malamku di Ruang Kerja," kataku pada Izumi.
"Baik Yang Mulia."
Malam hari itu berlangsung cepat sekaligus lambat. Seperti biasa, para pelayan membuka seluruh atribut kimono yang kukenakan, hiasa rambut dan sanggul yang nyaris mematahkan leherku, sampai akhirnya aku bisa menyandarkan diri di dalam bak mandi, sementara mereka menggosok seluruh tubuhku. Kedua kakiku yang terasa sakit dipijat lembut, begitu juga dengan pundakku dan kepalaku. Aku nyaris tertidur jika Izumi tidak memanggil namaku. Setelah itu, aku memakai gaun yang lebih tipis dan makan malamku sudah dihidangkan di kamarku.
Aku mulai memakan makan malamku dan baru menyadari bahwa sedari pagi aku tidak menyantap apapun sarapan yang terlalu awal. Makan malamku habis dengan cepat dan pelayan segera membereskannya.
"Aku akan ke Ruang Kerja, jadi jangan ganggu aku sampai besok pagi."
Setelah itu, aku pergi ke Ruang Kerja dan seperti biasa, pekerjaanku sudah menumpuk di meja kerja, tidak berkurang satu senti pun. Aku merasa bahwa tumpukan dokumen yang harus kukerjakan malah lebih banyak dari tadi pagi ketika kutinggalkan. Aku tidak ingat lagi kapan terakhir kalinya meja tersebut kosong atau hanya berisi tumpukan novel yang belum selesai kubaca. Kini, aku bahkan tidak pernah lagi menyentuh novel atau buku cerita lainnya dan terus-menerus berkutat dengan pekerjaan kenegaraan.
Ketika aku mulai mengerjakan pekerjaanku yang tertunda, tanpa sadar aku mengingat kembali dengan Jenderal Perang Uzumaki Naruto. Sejak aku mengundangnya makan malam bersama, aku tidak berinteraksi lagi dengannya. Ada banyak alasan, tetapi garis besarnya karena aku sibuk sekali mengurus Festival Acara Ulang Tahun Kerajaan yang semakin mendekati hari H. Apalagi dengan rapat yang semakin lama semakin sering, lalu persiapan yang memakan waktu banyak, aku bahkan tidak sempat lagi memikirkannya ataupun berjalan ke Pavilion tersebut.
Aku nyaris tertidur dan menyenggol lilin yang sudah tinggal seperempat ketika jendela Ruang Kerja berderik. Aku tersentak bangun dan menoleh ke arah jendela yang masih tertutup rapat. Ada satu detak jantungku yang terasa lebih keras dari biasanya. Namun, jika semalam ini kemungkinan karena angin. Aku melanjutkan lagi pekerjaanku, sebelum jendela itu berderik lagi.
Ah, bukan berderik. Ada yang mengetuk jendela itu dari luar.
Seluruh tubuhku tidak lagi mengantuk. Kuas yang sedang kugenggam kujatuhkan begitu saja di atas perkamen sampai tintanya memercik ke seluruh kertas. Tiba-tiba, seluruh ruangan menjadi lebih dingin daripada biasanya. Suara-suara mendadak menghilang dan aku hanya sendirian di dunia ini, beserta seseorang yang berada di balik ruangan ini, entah untuk membunuhku atau hanya sekedar lewat.
Namun, aku tidak boleh takut.
Takut adalah kelemahan.
Aku meraih pisau sepanjang 15 senti yang selalu kurekatkan di bawah meja kerjaku. Kugenggan erat-erat pisau tajam itu dan aku berjalan pelan ke arah jendela tersebut sambil merapat ke arah dinding.
Lalu, aku menanti.
Aku menanti serangan apapun yang akan terjadi. Rasanya punggungku sudah menempel dengan dinding dan suara-suara jangkrik di malam hari menjadi sejelas matahari.
"Tuan Putri, ini saya. Uzumaki."
Peganganku pada pisau yang erat menjadi sedikit mengendur.
"Uzumaki? Apa yang kau lakukan malam-malam di depan Ruang Kerjaku? Kemana para penjaga?" tanyaku sambil berusaha tidak terdengar takut.
"Tuan Putri, saya akan membuka jendela ini. Ada baiknya Anda tidak menikam saya dengan pisau yang ada di tangan Anda."
Secara otomatis aku menatap pisau yang sudah siap kutancapkan ke siapapun yang mencoba masuk ke dalam Ruang Kerja. Namun, aku tidak mengatakan apapun dan hanya terus menggenggam pisau itu erat-erat.
Terdengar derit jendela dan perlahan jendela tersebut terbuka ke arah dalam. Lalu, sebuah surai pirang yang begitu khas dan asing muncul di jendela.
"Selamat malam Yang Mulia Tuan Putri Hinata," sapanya.
Pisauku jatuh berkelontangan di lantai.
"Tuan Uzumaki, apa yang kau lakukan malam-malam di sini?" tanyaku setengah penasaran dan setengah kesal, serta setengah ketakutan.
Dia tersenyum. Senyum yang begitu menenangkan dan hangat sehingga hampir saja aku berpikir bahwa matahari mendadak terbit di Ruang Kerja.
"Anda masih bekeja di tengah malam seperti ini. Anda sungguh pekerja keras," katanya.
Aku menghembuskan napas. "Masuklah dulu."
Kuambil pisau yang tadi jatuh di lantai dan kukembalikan ke tempatnya di bawah meja. Aku duduk kembali, sementara Naruto masuk lewat jendela dan berdiri menjulang. Mendadak, ruangan yang biasanya kutempati seorang diri menjadi begitu kecil dan sesak.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Tuan Uzumaki."
Kukembalikan kuas yang sudah tergeletak di atas kertas perkamen yang sudah tidak bisa digunakan lagi ke tempatnya. Kututup wadah tinta supaya tidak mengering, dan lu buang perkamen yang sudah ternoda tinta ke lantai begitu saja. Besok pagi, para pelayan yang akan membereskannya.
"Saya sedang berjalan malam-malam, lalu saja melihat Ruang Kerja Anda masih terang, yang artinya Anda masih bekerja."
"Rajin sekali Anda berjalan malam-malam di kompleks Istana. Para penjaga pastilah begitu mengenal Anda sehingga Anda bisa sampai ke tempat ini," kataku sambil menimbang-nimbang apakah harus mengambil kembali pisau yang baru kukembalikan ke tempatnya.
Naruto memakai jubah sederhana. Dia juga tidak membawa pedangnya ataupun zirah. Namun, melihat besar tubuhnya dan tangan besarnya, dia tidak butuh senjata jika ingin membunuhku. Tangannya bisa digunakan sebagai senjata.
"Tidak ada alasan untuk mencurigai saya," jawabnya.
"Termasuk mengetuk jendelaku di tengah malam dan masuk melalui jendela seperti seorang pencuri?"
Naruto tidak menjawab. Dia hanya tersenyum.
"Apa Anda masih sibuk, Yang Mulia?" tanyanya sambil mengamati seluruh tumpukan perkamen dan dokumen yang hanya berkurang 2 senti sejak aku bekerja tanpa henti.
"Kau akan tahu kalau aku sudah tidak sibuk lagi, Tuan Uzumaki." Aku bangkit dari kursiku dan mengambil jubah yang kugantung di dekat rak buku. "Jadi, kemana kau akan membawaku malam ini?" tanyaku sambil memakai jubah tersebut. Meksipun saat ini suhu udara sudah tidak dingin lagi, tapi aku tidak mau mengambil resiko sakit atau kedinginan karena berjalan-jalan tanpa jubah di tengah malam.
Naruto mengulurkan tangannya. "Kemanapun Anda ingin pergi, Yang Mulia."
.
Tidak ada penjaga yang dibunuh, tidak ada pelayan yang dibunuh juga. Sepertinya Naruto memang tidak berniat membunuhku. Udara malam yang begitu sejuk membuatku mampu bernapas lega. Langit malam begitu cerah, sehingga aku mampu melihat bulan purnama beserta bintang-bintang, seperti topping pada es krim di musim panas.
"Saya belum berterima kasih kepada Anda, Yang Mulia," Naruto memulai obrolan.
"Tentang apa?" tanyaku sambil menatapnya.
"Terima kasih karena Anda selalu membereskan Pavilion saya. Para pelayan mengatakannya kepada saya."
"Ah, itu." Aku mengusap leherku karena mendadak merasa sedikit gugup. "Itu bukan apa-apa. Aku melakukannya karena takut bangunannya rusak saja. Bangunan yang sudah lama tidak ditempati lama-lama akan rusak kalau tidak dirawat kan? Tidak perlu berterima kasih soal itu."
"Tetap saja, saya berterima kasih."
Kami berjalan menyusuri taman yang sepi. Hanya terdengar nyanyian jangkrik sesekali ketika kami berdua melewati semak-semak. Dalam situasi seperti ini, rasanya banyak sekali yang ingin aku tanyakan padanya. Dan aku harus menimbang-nimbang pertanyaan apa yang harus aku ajukan kalau ingin dijawab.
"Tuan Uzumaki, apakah kau keberatan jika aku bertanya satu dua hal kepadamu?" Akhirnya aku memberanikan diri.
"Silahkan tanyakan apapun, Yang Mulia."
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Kami berhenti berjalan. Aku menatap langsung ke dalam matanya yang bersinar sangat biru, bahkan di malam hari sekalipun. Sama seperti di dalam mimpiku, tentang orang asing yang selalu aku mimpikan, tetapi aku tidak tahu kenapa.
"Mengapa Anda berpikir seperti itu, Yang Mulia?"
Aku hanya mengangkat bahu. "Aku hanya menebak. Kau pergi selama 10 tahun dan pavilion-mu ada di Istana ini. Itu artinya, sebelum kau pergi, kau tinggal di istana ini. 10 tahun yang lalu, usiaku baru 20 tahun, tetapi aku tidak mengingat dirimu sama sekali. Bukankah itu hal yang aneh?"
Aku menatapnya lekat-lekat. "Jadi, kau ini siapa? Dan kepulanganmu begitu mencurigakan. Kak Neji hanya berkata kau ditugaskan kembali di Istana untuk Festival Ulang Tahun? Aku sama sekali tidak percaya. Jadi, kau bisa berterus-terang saat ini atau aku bisa mengusirmu dari Istana." Aku mendekat dua langkah tanpa memutus kontak mata dengannya. "Dan percayalah aku bisa melakukannya, tanpa bantuan siapapun."
Naruto hanya diam untuk beberapa waktu, sebelum dia menjawab. "Pertanyaan Anda sangat sulit untuk dijawab, Yang Mulia. Saya ditugaskan ekspedisi oleh Yang Mulia Raja 10 tahun yang lalu, dan hanya itu yang bisa saya jawab. Mengenai apakah kita pernah bertemu atau tidak, saya tidak yakin. Seperti yang Anda ketahui, Jenderal Perang Uzumaki tidak tinggal terus-menerus di dalam Istana. Jadi, mungkin kita berdua tidak pernah bertemu sebelumnya."
Aku tidak percaya pada jawabanya. Meskipun dia mengatakannya dengan sangat logis dan kemungkinan besar itulah yang terjadi, tapi entah kenapa aku tidak percaya. Ada seseuatu yang masih mengganjal dari penjelasannya dan aku tidak tahu apa. Aku masih belum tahu apa yang mengganjal.
Namun, aku tahu bahwa aku tidak bisa mendesaknya lebih jauh dari ini. Apapun yang disembunyikan Naruto, yang disembunyikan Kak Neji dan seluruh orang di Istana ini, aku akan mencari tahunya sendiri, meskipun aku belum tahu bagaimana caranya. Jadi, aku hanya melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan.
Aku tersenyum padanya. "Terima kasih atas penjelasanmu, Tuan Uzumaki. Rupanya memang aku yang salah paham. Dan, aku rasa aku sudah lelah. Bolehkah kita kembali ke pavilion-ku?"
Naruto mengangguk. "Mari saya antar, Yang Mulia."
Uzumaki Naruto, seorang pria yang misterius, yang mendadak datang ke Istana sesaat sebelum Festival Ulang Tahun Kerajaan. Aku hanya percaya satu hal, bahwa ada badai besar yang akan datang nanti.
Pertanyaannya adalah; apakah aku siap menghadapi badai tersebut?
.
BERSAMBUNG
