Actions

Work Header

Network Status: Connected

Summary:

Kelanjutan kisah Martin Simanjuntak dan Seonghyeon Pradipta, dua musuh bebuyutan yang akhirnya resmi jadian pas study tour ke Jogja. Eh, kok bisa?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hari Sabtu pukul enam pagi, suasana parkiran SMA Pelita Jaya sudah sibuk bukan main. Deretan bus pariwisata berukuran besar terparkir rapi dengan asap knalpot bercampur aroma minyak kayu putih yang menyengat di udara pagi. Study tour ke Jogja untuk gabungan kelas 1, 2, dan 3 akhirnya resmi dimulai.

Martin berdiri santai di dekat bagasi bus 2. Jaket hitamnya terkalung di leher, sementara tangannya menggenggam botol Mizone dingin. Matanya sibuk menyapu area parkiran sampai akhirnya memergoki Seonghyeon yang berjalan kesusahan menuntun tas travel merahnya, lengkap dengan headset Nokia XpressMusic yang selalu menggantung di telinganya, ditambah kacamata hitam yang bertengger apik di atas kepalanya.

"Berat banget tuh tas keliatannya? Butuh bantuan orang gede gak dek?" ledek Martin saat Seonghyeon lewat di depannya.

Seonghyeon menengok ke arah Martin sekilas sambil membetulkan tali tasnya. "Gaperlu kak, gue sanggup bawa sendiri,"

"Yaelah, masih aja tuh gengsi dipelihara," gumam Martin sambil tanpa permisi menyambar tali tas Seonghyeon dan mengayunkannya santai ke bagasi bus. "Udah, naik sana. Ntar dapet kursi paling belakang deket toilet baru tau rasa lu."

Seonghyeon terpaku sebentar melihat kelakuan sok pahlawan kakak kelasnya itu. Bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum, tapi begitu Martin nengok lagi, dia langsung masang muka datar. "Makasih kak," bisik Seonghyeon pelan.

Martin yang memergoki rona miring di wajah Seonghyeon terkekeh pelan. Dia menyunggingkan senyum jahil dengan sebelah alis terangkat. "Sama-sama, adek cantik. Mana imbalannya? senyum manis gitu kek, jangan jutek mulu mukanya," goda Martin setengah berbisik sambil miringin kepalanya mendekat.

Pipi Seonghyeon memerah karena digodain secara terang-terangan. "Dih! apaan sih Kak Martin!" bentaknya salah tingkah sebelum buru-buru memalingkan muka dan setengah berlari naik ke dalam bus. Martin cuma tertawa puas menyaksikan adek kelasnya yang makin salah tingkah dan kelabakan gara-gara kejahilannya.

Begitu berhasil menginjakkan kaki di dalam bus yang sejuk, Seonghyeon langsung mengedarkan pandangan mencari keberadaan teman-temannya. Matanya memicing, menelusuri setiap deret kursi kelas 2. Apesnya, barisan depan sampai tengah sudah disapu bersih. Keonho alias sobat kentelnya terlihat sudah anteng menguasai satu baris bersama anak kelas 2 lainnya, bahkan tasnya sudah menumpuk di pangkuan seolah tak memberi celah sedikit pun untuk Seonghyeon menyempil.

"Ck dasar Keonho, kagak nyisain kursi buat gue," gerutu Seonghyeon pelan sambil mendengus kesal. Dia mencoba melangkah lebih mundur ke arah belakang, tapi deretan kursi anak kelas 3 sudah dipenuhi deretan senior bertubuh bongsor yang sibuk melempar lelucon.

Saat Seonghyeon lagi kebingungan berdiri di tengah lorong bus, Martin yang berjalan menyusul di belakangnya menyenggol pelan bahu Seonghyeon.

"Oy, ngapain bengong? tempat duduk buat kelas 2 udah penuh ya?" celoteh Martin santai. Sebelum Seonghyeon sempat menjawab, Martin menunjuk kursi barisan tengah sebelah jendela yang di atasnya bertengger tas gitar hitam. "Udah, duduk samping gue aja nih. Dari tadi udah gue tag kursinya pake gitar gue."

Ryul yang duduk persis di depan kursi itu langsung membalikkan badan, memasang muka jahilnya. "Waduh! Dari tadi nge-booking kursi pake gitar ternyata buat adek kelas kesayangan toh? Uhuy, so sweet amat sih pak!" goda Ryul terang-terangan yang langsung disambut sorakan "Ehem ehem! Aduh aduh ada remaja kasmaran nih...." dari temannya lagi yang bernama James, sengaja membesarkan volume suaranya biar kedengaran separuh isi bus.

"Pantesan aja dari tadi bapak ketua disuruh ngumpul di belakang sama anak-anak kagak mau, taunya nungguin adek kelas kesayangannya toh!"

Keonho yang duduk beda empat baris di depan langsung memutar tubuhnya ke belakang dan ikut menimpali, "Biarin aja kak Ryul! Namanya juga orang lagi PDKT, kita sebagai figuran mah nyimak aja."

"Berisik lu semua ah!" sungut Martin sambil meremas selembar kertas bekas sampai membentuk bola lempung, lalu melemparnya tepat mengenai jidat Ryul.

Meski mulutnya ngomel sambil berusaha pasang raut galak, rona merah tipis mendadak merayap naik menembus kulit pipi hingga ke ujung telinganya. Satu tangannya bergerak cepat mengusap tengkuknya yang terasa mendadak hangat, kebiasaan refleksnya tiap kali rasa salah tingkah mulai mengambil alih kontrol dirinya. Tetapi dia sama sekali tidak kelihatan terganggu atau risih dengan ledekan teman-temannya.

Begitupun dengan Seonghyeon, ia langsung buru-buru mengambil posisi di pojokan jendela. Cowok itu memeluk ponsel Nokianya erat-erat bak perisai pelindung, berpura-pura sibuk mengulik tombol keypad demi menutupi salah tingkah. Martin yang baru menyusul duduk di sampingnya hanya terkekeh pelan melirik kepanikan kecil adek kelasnya itu.

"Udah, cuekin aja mereka," bisik Martin pelan, mencondongkan badannya sedikit ke arah Seonghyeon. Tangannya dengan santai mengambil alih kabel headset yang melilit panik di jari-jari Seonghyeon, lalu dengan telaten membantunya mengurai kekusutan itu. "Lagian, mending duduk sini kan daripada di depan dempet-dempetan kayak ikan sarden?"

Seonghyeon cuma mendengus pelan, masih enggan membalas tatapan kakak kelasnya itu walau rona merah di pipinya belum pudar. "Tapi gue kan jadi bahan cengan temen-temen lu, kak," gerutunya pelan, nyaris seperti bisikan. Martin terkekeh rendah yang bikin dada Seonghyeon makin berdesir. Setelah kabelnya rapi, cowok jangkung itu menempelkan sebelah headset ke telinga kiri Seonghyeon, lalu menarik headset sebelahnya lagi dan memasangnya di telinganya sendiri. 

Seonghyeon mendadak tersentak kaget. Sentuhan lembut jemari Martin di daun telinganya saat menempelkan headset bikin tubuhnya otomatis menegang. Dia refleks menoleh dengan mata melotot. "Eh, kak! Main pasang-pasang aja,"

Martin cuma mengulum senyum tanpa rasa salah sedikit pun. Dia makin menyamankan posisi duduknya, menyandarkan kepala ke kursi bus sambil memiringkan wajahnya ke arah Seonghyeon. "Daripada lu merengut mulu gara-gara dicengin. Udah buruan, setel lagu yang bagus."

Seonghyeon mendesis pelan, berpura-pura kesal demi menutupi degupan jantungnya yang makin liar. Namun jarinya di atas tombol navigasi HP Nokia XpressMusic itu menurut juga. Dia membuka folder MP3 dan memutar playlist favoritnya.

Deru mesin bus pariwisata bergetar pelan sebelum akhirnya kendaraan besar itu perlahan bergerak, meninggalkan area parkiran sekolah dan mulai merayap memasuki jalur tol. Dari balik jendela, pemandangan hiruk-pikuk kota perlahan berganti dengan bentangan jalanan panjang. Suasana kabin bus terasa makin hangat dan penuh semangat, diiringi riuh obrolan anak-anak lain yang tak sabar ingin cepat sampai.

Lagu Rahasia Hati dari Element mulai mengalun lembut membelah kebisingan halus mesin bus. Dentingan intro lagunya mengalir jernih lewat kabel headset putih yang menghubungkan telinga mereka berdua.

"Wih, intronya aja udah melankolis gini," celetuk Martin pelan, matanya terpejam menikmati alunan musik. "Gue tebak, abis ini pasti isinya lagu galau ala anak warnet."

"Ini lagu legendaris ya kak! Bukan galau asal-asalan," sungut Seonghyeon tak terima, matanya mendelik sebal. "Lagian kalo emang gak mau denger yaudah, sini balikin headset-nya,"

Seonghyeon langsung mengulurkan tangan, hendak merebut kembali sebelah headset yang melekat di telinga Martin. Namun dengan gerakan lebih cepat, Martin malah menepis halus tangan Seonghyeon lalu makin menyandarkan kepalanya ke kursi, pura-pura makin menikmati lagunya dengan cengiran tipis yang tertahan di bibir.

"Orang gue cuma ngomong doang, lagian udah terlanjur nempel di telinga nih," sahut Martin santai tanpa membuka matanya, malah sengaja makin menarik kabel headset itu agak merapat ke arahnya.

Seonghyeon menarik napas dalam-dalam, menahan dorongan untuk menyikut rusuk Martin yang duduk tepat di sebelahnya. Kabel putih tipis yang terentang pendek di antara mereka bikin Seonghyeon mau tak mau harus ikut memiringkan posisi duduknya, menyisakan jarak yang kelewat tipis hingga bahu mereka bersentuhan tiap kali bus berguncang melewati kelebutan jalan tol.

Begitu lagu berpindah ke Pupus milik Dewa 19, Martin tiba-tiba ikut bersenandung pelan dengan suara bass-nya yang deep. Seonghyeon yang mendengarnya menjadi sedikit salah tingkah. Jarak mereka yang begitu dekat, terikat kabel earphone yang tak terlalu panjang sehingga membuat aroma sampo dan parfum tipis dari jaket yang dikenakan Martin tercium semakin jelas.

"Lu sering dengerin lagu gini kalo lagi sendirian di kamar ya?" tanya Martin pelan di tengah bait lagu, suaranya sedikit tenggelam oleh suara anak-anak di dalam bus.

"Iya... biar tenang aja kalau lagi ngerjain tugas," bisik Seonghyeon pelan, kehilangan niat untuk judes.

"Hhmm," gumam Martin lembut sambil melirik pelan adek kelasnya itu. "Selera musik lu oke juga dek."

Seonghyeon mendengus pelan mendengar pujian itu, walau menyembunyikan senyum kecilnya dengan berpura-pura membetulkan letak kacamata hitam di atas kepalanya. "Yaiyalah, selera gue mah selalu bagus. Kak Martin aja yang biasa dengerin lagu jadul."

"Buset, mulai ngeselin lagi lu ya bocah," kekeh Martin pelan. Tangannya baru saja terangkat hendak mengacak rambut Seonghyeon saat sebuah seruan dari barisan depan mendadak merusak suasana.

"Woi! Udahan dulu itu romantis-romantisannya! Tolong kasihani indra pendengaran dan penglihatan dua jomblo di depan kalian ini!!" Kepala Ryul tiba-tiba nyembul di antara celah jok kursi depan dengan cengiran tanpa dosa. "Mending sini ikutan main Capsa Banting ama kita."

James yang duduk tepat di sebelah Ryul ikut-ikutan menongolkan kepalanya sambil memamerkan satu set kartu remi lecek. "Setuju! Biar adil, kita main Capsa Banting 2 lawan 2! Gue sama Ryul, dan lu berdua jadi satu tim!"

"Nah! Tim Sepasang Kekasih melawan Tim Jomblo!" seru Ryul penuh semangat. "Yang kalah, siap-siap mukanya dicoret pake bedak MBK wkwkwk!"

"S-siapa yang pasangan kekasih, sih?! Ngaco banget Kak Ryul!" semprot Seonghyeon galak dengan wajah merona.

"Alah, dalih lu Seonghyeon! Keliatan daritadi lu berdua nempel mulu kayak perangko," sahut James sambil mengocok kartu dengan gaya sok atraktif ala dealer kasino. "Udah, buruan terima tantangannya!"

Martin menyunggingkan senyum menantang, melirik ke arah adek kelas di sebelahnya yang sudah melepas sebelah earphone. "Gimana? Berani gak? Ntar kalau lu bikin tim kita kalah, siap-siap muka lu yang gue bedakin duluan loh dek."

"Siapa takut, jangan pernah ngeremehin gue ya kak!" tantang Seonghyeon tak mau kalah. Dia menggulung kabel headsetnya asal-asalan, lalu langsung memajukan badannya ke arah kursi depan.

Kocokan kartu remi di atas pangkuan Ryul menjadi pertanda dimulainya battle sengit itu. Martin dan Seonghyeon menyusun strategi lewat kode-kode mata, meski lebih sering berakhir Seonghyeon mendelik salah paham dan Martin yang terkekeh gemas.

Permainan berlangsung seru dan penuh teriakan tegang diiringi guncangan bus pariwisata.

"Woi James! Ngapain kartu 2 main lu lepas aja, bego?!" seru Ryul panik pas lihat James malah kemakan umpan Seonghyeon.

"Tenang elah, Ryul! Percaya aja sama gue," balas James tak mau kalah, walau mukanya mulai tegang.

Memasuki ronde penentu, kartu di tangan Seonghyeon tersisa sedikit, tapi dia terkunci oleh kartu tinggi milik Ryul. James di sampingnya sudah menyeringai merasa menang. "Habis lu Seonghyeon! Pasrah aja udaahh pasraaahhh! WKWKWK."

"Alihin ke gue, Hyeon. Gue bantai si Ryul ama James," bisik Martin pelan tepat di pinggir telinga Seonghyeon, menyalurkan hawa hangat yang bikin tengkuk Seonghyeon meremang.

Tanpa ragu, Seonghyeon membuang kartu kecil yang langsung ditangkap mulus oleh Martin. Dengan gerakan dramatis, Martin membanting kombinasi Four of a Kind dan menghabisi sisa kartu di tangannya.

"BANTING! MENANG KITA, HYEONNN!" jerit Martin puas sambil spontan merangkul bahu Seonghyeon kencang-kencang.

"Waduh! Kalah udah kita James, lu sih segala pake buang kartu 2 duluan!" protes Ryul sambil menepuk dahinya sendiri.

"Lah, jadi salah gue nih?!!" sungut James membela diri.

"YESSS! MENANGG KAK KITAA!!" jerit Seonghyeon heboh membalas tos Martin, menunjuk-nunjuk muka Ryul dan James yang seketika lemas tak berdaya.

"Mana sini mukanya, kak! Jangan ada yang kabur ya!" Sesuai perjanjian, hukuman pun dijatuhkan. Seonghyeon dengan semangat berapi-api menorehkan bedak ketek tersebut di pipi Ryul dan James, sementara Martin menepuk-nepuk pundak kedua temannya sambil tertawa terbahak-bahak sampai matanya menyipit sempurna.

"Kagak bisa! Ini mah lu berdua cuma hoki doang! Kocok ulang, kocok ulang! Lanjut ronde dua pokoknya!" racau Ryul tak terima, sibuk mengusap bedak di pipinya tapi malah bikin mukanya makin cemong belepotan.

James mengocok kartu dengan napas terengah-engah, matanya menyipit penuh dendam. "Tunggu ya lu berdua, kali ini gue sama Ryul kagak bakal ngasih ampun!"

Namun, dewi fortuna tampaknya sedang betah bersemayam di kursi Martin dan Seonghyeon. Di ronde kedua, kombinasi strategi cerdik Martin dan keberuntungan kartu Seonghyeon kembali membantai duo jomblo itu tanpa sisa. Ryul sampai mengacak rambutnya frustrasi saat Martin kembali membanting kartu Joker di detik-detik terakhir.

"Anjinggg! Kagak bisa, ini mah pasti kartu reminya udah lu berdua tandain kan??!" erang James pasrah saat Seonghyeon kembali maju membawa bedak MBK dengan cengiran paling lebar. 

"Sembarangan lu kalo nuduh! Kita mah menang murni pake taktik, ya gak dek?" balasan santai dari Martin langsung memotong tuduhan James, lengkap dengan cengiran tengil tanpa dosa. Seonghyeon langsung mengangguk cepat mengiyakan, wajahnya berbinar-binar mendukung tudingan balik dari sang kakak kelas.

Tanpa ampun, Seonghyeon meratakan bedak itu sampai dahi dan hidung kedua kakak kelasnya memutih bak pemeran pantomim.

Setelah capek tertawa dan heboh main kartu selama dua jam, Ryul dan James akhirnya menyerah lalu tertidur di kursi masing-masing. Suasana bus mulai berangsur tenang.

Dua korban kejahilan Seonghyeon di depan sudah mendengkur halus dengan muka penuh bedak belepotan. Martin menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas lega saat sisa-sisa tawa riuh di dalam bus berganti dengan suara dengungan mesin dan hembusan pendingin udara.

Perjalanan siang yang melintasi jalur pantura mulai membuat penumpang terkabut kantuk parah. Guncangan bus yang teratur bekerja seperti ayunan. Seonghyeon yang tadinya sibuk menatap layar MP3-nya mulai kehilangan kesadaran, kepalanya terkulai perlahan ke kiri dan ke kanan.

 

Kluk.

 

Kepala Seonghyeon jatuh dan mendarat pas di bahu kiri Martin.

Martin kaget, tangannya yang sedang memegang botol minum langsung membeku di udara. Bau shampo mint dari rambut Seonghyeon langsung menusuk indra penciumannya. Martin menengok pelan-pelan, melihat wajah Seonghyeon yang tertidur lelap dengan mulut sedikit terbuka—benar-benar tidak ada sisa muka judes atau nyolot yang biasa dipasang saat awal-awal mereka bertemu.

'Lucu banget kalau lagi tidur gini dah lu Hyeon, jadi mirip kucing,' batin Martin sambil tersenyum tipis.

Takut kepala Seonghyeon terbentur jendela saat bus mengerem mendadak, Martin pelan-pelan membetulkan posisi duduknya. Dia memiringkan kepalanya sendiri hingga bersandar lembut di atas kepala Seonghyeon. Tangannya yang panjang merogoh jaket di pangkuannya, lalu membentangkannya melingkupi tubuh Seonghyeon agar tidak kedinginan dari tiupan AC bus. 

Di barisan depan, Ryul yang terbangun mau ke toilet memicingkan mata ngeliat pemandangan itu. "Buset dah, nempel mulu ni bocah berdua kayak gak pernah berantem aja ampe urat leher keluar semua," bisiknya sambil mengabadikan momen itu lewat kamera HP Esia Hidayah miliknya.

 


 

Candi Prambanan sore hari lagi cantik-cantiknya. Angin sepoi-sepoi menerpa area rerumputan hijau tempat rombongan siswa Pelita Jaya menyebar.

Seonghyeon lagi sibuk membidik Candi Utama menggunakan kamera digital merek Canon milik abangnya. Tiba-tiba di layar bidiknya, muncul siluet cowok tinggi yang lagi berdiri di depan candi sambil pasang pose ala boyband 2000-an dengan tangan masuk saku, kepala dimiringkan 45 derajat.

"Gaya apaan sih kak, norak banget!" teriak Seonghyeon dari jarak lima meter.

"Fotoin gue dong dek, biar ada kenang-kenangan foto yang bagus buat di-upload ke Facebook!" balas Martin setengah berteriak sambil memamerkan gaya sok keren dengan menyisir rambut belakangnya pakai jemarinya.

Seonghyeon cemberut, pura-pura mendengus sebal meski tangannya tetap sigap mengarahkan lensa kamera digital kecil itu tepat ke arah Martin. Jarinya lalu menekan tombol shutter tanpa mengulur waktu.

Cklik.

"Udah tuh. Tapi jangan heran ya kak kalo hasilnya agak ngeblur, tangan gue gemeteran soalnya ga kuat ngeliat kegantengan lo kak," cetus Seonghyeon tengil, mencoba pura-pura sarkas padahal kalimatnya malah kayak gombalan pasrah.

Martin yang tadinya siap melempar godaan jemawa mendadak bungkam. Serangan balik dari Seonghyeon itu telak mengenai ulu hatinya, bikin Martin salah tingkah sendiri sampai komuknya mendadak berantakan.

"Gokil ya lu, sekarang udah berani balik ngegodain gue," gerutu Martin asal sambil berdehem keras, berusaha menata kembali suaranya yang sempat tercekat.

Martin langsung bergeser nyamperin Seonghyeon. Tanpa basa-basi, cowok itu menundukkan badannya rapat-rapat sampai pipinya hampir menempel dan sejajar dengan pipi Seonghyeon demi melihat hasil foto di layar LCD kecil kamera itu.

"Wih, jago juga lu ngambil fotonya. Gue keliatan ganteng banget disini, mirip Ariel Noah," puji Martin narsis sambil memandangi layar kamera digital di genggamannya dengan senyum puas.

"Mulai deh," cibir Seonghyeon sambil memutar bola matanya malas.

"Yaudah gantian, fotoin gue dong kak. Awas aja kalo jelek fotoinnya,"

"Kalo dari sananya udah gemes gini sih, mau difoto merem atau muka bantal juga tetep cakep," goda Martin tengil, menyambar posisi siap membidik dengan cengiran jail yang makin lebar.

Mendengar godaan yang meluncur begitu lancar dari mulut Martin, Seonghyeon mendadak kehilangan kata-kata. Kakinya seolah terpaku di atas tanah. Tatapan mata Martin yang begitu santai tapi tajam bikin benteng pertahanannya kembali runtuh seketika, menyisakan desakan hangat yang merambat cepat membakar kedua pipinya hingga memerah sempurna.

"B-bawel lo kak! Udah buruan fotoin yang bener," sungut Seonghyeon galak buat menutupi salah tingkahnya, meski matanya agak salah fokus memperhatikan jemari Martin yang kini cekatan mengatur fokus kamera.

Seonghyeon kemudian melangkah dan berdiri tepat di dekat ukiran relief candi. Dia mencoba tersenyum formal, badan ditegakkan, bibir ditarik tipis dan mencoba berpose senormal mungkin. Tapi Martin dari balik kamera malah menggeleng pelan sambil nyeletuk, "Jangan kaku gitu dong! Senyumnya kayak pas lu main voli waktu itu napa, yang matanya nyipit lucu itu."

Pipi Seonghyeon langsung memerah mendadak gara-gara dipuji gitu. Pengait di dadanya seolah merosot, membakar rasa malu yang merambat cepat sampai ke ceruk lehernya.

"IIHH KAK! Udah cepet jepret ajaa!" pekiknya gemas, refleks meremas ujung bajunya sendiri.

"Iya iya, yaudah nih satu... dua..."

Tepat pada hitungan kedua, Martin menundukkan kamera sejenak hanya untuk memamerkan cengiran jahilnya yang paling menyebalkan, sengaja memancing emosi Seonghyeon makin membumbung. Seonghyeon yang sudah terlanjur salah tingkah makin tidak tahan ditatap seperti itu. Dia refleks memajukan bibir, alisnya bertaut kesal, dan tangannya mengepal melayang di udara hendak memprotes.

Cklik.

Bunyi shutter berbunyi tepat saat ekspresi spontan Seonghyeon tercipta. Martin tertawa lepas, merapatkan kamera ke dadanya untuk menikmati hasil karyanya, sementara Seonghyeon hanya bisa berdiri terpaku—campur aduk antara sebal, malu, dan debaran jantung yang makin tidak beraturan.

Martin menatap hasil foto Seonghyeon di layar kamera. 

"Sini liat! Sumpah, ini bagus banget," seru Martin bangga, melambaikan tangan mengisyaratkan Seonghyeon untuk mendekat.

Dengan napas tersendat dan pipi yang masih menyisakan rona hangat, Seonghyeon melangkah menghampiri Martin. Rasa penasaran mengalahkan kekesalannya. Ia ikut menunduk, mengintip layar LCD berukuran dua inci di jemari Martin.

Di layar kecil itu, tampak Seonghyeon dengan ekspresi alami, alis bertaut, bibir sedikit bersungut, dan mata berbinar jengkel yang justru terlihat begitu hidup di latar belakangan ukiran batu candi yang megah. Foto itu sama sekali tidak kaku, malah menangkap momen secara sempurna.

"Tuh kan, apa gue bilang. Muka lu tuh bagusnya pas lagi ekspresif kaya gini, bukan yang sok jaim," gumam Martin pelan. Tone suaranya mendadak berubah agak lembut, persis di samping telinga Seonghyeon.

Deg.

Seonghyeon refleks menoleh, dan mendapati jarak wajah Martin hanya berjarak beberapa senti saja darinya. Martin masih menatap layar kamera dengan senyum tipis yang tertahan, tak menyadari kalau Seonghyeon kini sudah menyumpah dalam hati karena detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman drum.

"Ngga ah, biasa aja. Lagian ya, gue mah mau gaya apa aja juga tetep cakep kali kak," celoteh Seonghyeon asal, berusaha keras merebut kamera digitalnya dari genggaman Martin sebelum ia makin hilang kendali.

Martin sengaja mengangkat kameranya tinggi-tinggi, terkekeh pelan melihat Seonghyeon yang berjinjit salah tingkah. Bukannya mendebat atau melempar godaan tengil seperti biasanya, Martin justru mengangguk-angguk pelan dengan binar mata yang mendadak melembut.

"Iya, iya, paham. Emang dasarnya udah cakep dari sananya ya dek?" sahut Martin santai, mengalah begitu saja sambil menurunkan tangannya dan menyerahkan kamera itu kembali ke telapak tangan Seonghyeon.

"Nanti PM aja di FB hasil fotonya, taruh di wall gue juga boleh," lanjut Martin santai sambil menepuk pelan bahu Seonghyeon, seolah permintaan itu adalah hal paling wajar di dunia.

Seonghyeon mendongak, alisnya bertaut heran. "Hah? Buat apa kak?"

"Buat wallpaper HP gue lah. Biar kalo gue pusing pas lagi bimbel, ngeliat muka lu langsung seger lagi buat ngerjain latihan soal," cetus Martin polos tanpa beban, bahkan sempat tersenyum tipis sebelum memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Martin, tanpa sadar kalau efeknya langsung bikin Seonghyeon mendadak bungkam. Seonghyeon cuma bisa berdiri mematung, kepalanya mendadak kosong sementara dadanya berdesir tak karuan. Dia buru-buru memalingkan wajah ke arah lain, berusaha keras menetralkan napas dan menutupi rona merah yang mendadak membakar pipinya.

"Woy! Berduaan terus dari tadi, kagak bosen apa kalian?"

Seruan nyaring Ryul mendadak memecahkan atmosfer manis di antara mereka. Ryul berjalan menghampiri dengan berkacak pinggang, disusul James yang mengekor santai di belakangnya sambil memegang es krim yang mulai meleleh.

"Tau nih, di mana-mana nempel mulu. Udah kena lem aibon kayanya mereka berdua," timpal James dengan cengiran jail. Matanya yang jeli mendadak tertuju pada wajah Seonghyeon yang masih merah padam. James menyipitkan mata penuh selidik. "Lah, Seonghyeon, muka lu kenapa merah gitu? Kena panas apa gimana?"

"H-hah? Ini... ini karna panas aja mataharinya!" sahut Seonghyeon gelagapan, refleks menyentuh pipinya yang terasa hangat dengan telapak tangan yang makin dingin gara-gara gugup.

Ryul yang langsung tangkap basah gelagat aneh itu cuma bisa memutar bola matanya malas, lalu menatap Martin dengan senyum jahil. "Matahari atau gara-gara makhluk tinggi di sebelah lu Seonghyeon? Martin, lu apain lagi nih anak orang sampe mau meledak gitu mukanya?"

Martin cuma terkekeh santai tanpa dosa. "Kagak diapa-apain, elah." sahutnya sambil mengacak rambut Seonghyeon gemas, bikin empunya makin salah tingkah dan buru-buru menepis pelan tangan Martin

"Halah bohong! Yaudah sini, mumpung pemandangannya bagus mending kita foto berempat dulu!" seru James antusias. Tanpa aba-aba, ia merebut kamera digital dari tangan Seonghyeon dan merentangkan lengannya yang panjang ke depan.

Mereka berempat langsung merapat. Ryul memasang muka konyol sambil menempelkan dua jari di atas kepala James, James memamerkan senyum lebar sampai matanya menyipit, Martin merangkul bahu Seonghyeon santai, dan Seonghyeon sendiri cuma bisa tersenyum canggung dengan sisa rona merah yang belum sepenuhnya hilang.

Cklik!

Setelah foto bersama, mereka lanjut foto dengan berbagai pose seru. James sibuk bergaya sok model di dekat relief candi, Ryul berpose seolah-olah sedang menopang candi dengan satu tangan, sementara Martin dan Seonghyeon ikut tertawa melihat kelakuan dua orang tersebut.

Di tengah kehebohan, Ryul diam-diam mengambil alih kamera dari James. Tanpa ada yang menyadari, ia mengarahkan lensa fokus pada Martin yang sedang menunduk, membantu merekatkan kembali tali jam tangan Seonghyeon yang terlepas. Ekspresi Martin kelihatan begitu telaten dan lembut, sementara Seonghyeon menatap cowok itu dari samping dengan binar mata yang tidak bisa berbohong.

Cklik.

Satu foto terambil secara candid. Ryul tersenyum puas melihat hasilnya di layar LCD, lalu mengode James yang berdiri di sebelahnya. James mengintip layar kecil itu sebentar, lalu langsung menutup mulutnya berusaha menahan tawa cekikikan yang hampir meledak demi melihat betapa jelasnya 'aura kasmaran' di antara dua orang itu.

"WOY PASANGAN KEKASIH! Sini liat kamera, gue fotoin kalian berdua di depan candi!" teriak Ryul keras-keras, mendadak membuyarkan fokus mereka secara terang-terangan.

"Eh—" Seonghyeon terperanjat kaget.

Belum sempat Seonghyeon menghindar, Martin sudah lebih dulu menarik pinggang Seonghyeon mendekat dan merangkul lehernya erat. Martin memamerkan cengiran paling menawan ke arah kamera, sementara Seonghyeon yang tertangkap basah hanya bisa membelalakkan mata kaget dengan bibir sedikit terbuka.

Cklik!

Foto terang-terangan itu berhasil diabadikan sempurna. James di belakang Ryul sudah sibuk menahan tawa, cekikikan makin keras melihat muka Seonghyeon yang di foto resmi pasrah total dan memerah sempurna bagai kepiting rebus.

"Mana? gue mau liat hasilnya." seru Martin tanpa rasa dosa, malah melepaskan rangkulannya santai seolah tak baru saja membuat jantung Seonghyeon nyaris melompat keluar.

Seonghyeon lalu mendecak pelan, berusaha menetralkan raut wajahnya agar tidak kelihatan terlalu kepikiran meski tengkuknya masih terasa agak hangat. Mengabaikan tawa Ryul dan James yang makin menjadi-jadi, Seonghyeon malah melangkah maju mendekati Ryul dengan santai.

"Lebay banget ketawanya lo berdua kak," cibir Seonghyeon sambil mengulurkan tangan. "Mana sini liat hasilnya, pasti jelek."

"Bagus kok ini, muka lu dapet banget kagetnya pas dirangkul sama ayang mbeb!" kekeh Ryul sengaja mengeraskan suara, disambut tawa James yang makin pecah di sebelahnya.

"APASIH KAK!!!" semprot Seonghyeon langsung menyambar kamera dari genggaman Ryul. Ia menyipitkan mata meneliti fotonya, di mana ia kelihatan kaget pasrah sementara Martin tersenyum lebar tanpa beban di sampingnya. Seonghyeon menahan napas sejenak, mengabaikan dorongan halus di dadanya sebelum mematikan layar kamera dan menggantungkan kembali tali kameranya ke lehernya sendiri.

Belum sempat James dan Ryul melontarkan godaan susulan, suara lantang guru pendamping mendadak bergema membelah keramaian area candi.

"Anak-anak, ayo kumpul! Masuk ke bus masing-masing sekarang, kita langsung jalan ke penginapan!" seru sang guru sambil melambaikan tangan ke arah rombongan para siswa yang masih asik berfoto-foto.

"Yah, padahal baru mau nyewa sepeda," celetuk James kecewa.

"Udah, buruan naik daripada ditinggal," sahut Martin santai sambil menepuk pundak James, lalu melangkah lebih dulu menuju pintu bus.

Seonghyeon mengekor di belakang, menarik napas dalam-dalam menikmati angin sore yang berembus pelan, berusaha menata kembali fokusnya sebelum melangkah masuk ke dalam kabin bus yang sudah mulai dipenuhi rombongan para siswa.

 


 

Setelah pembagian kamar selesai dan barang-barang diturunkan, rombongan langsung berkumpul di area makan pendopo untuk makan malam bersama. Suasana terasa riuh dengan denting piring dan obrolan seru soal kejadian sepanjang hari di candi. Seonghyeon duduk menikmati makanannya sambil mendengarkan celotehan teman-temannya, hingga perlahan piring-piring mulai kosong dan suasana beralih menjadi lebih santai.

Anak-anak cowok mulai memindahkan kursi dan lesehan di area tengah pendopo untuk melepas penat. Martin duduk santai di atas kursi kayu panjang sambil memangku sebuah gitar akustik. Jarinya yang lihai mulai memetik senar, memainkan intro lagu Hebat dari Tangga. Dalam sekejap, anak-anak cowok di sekelilingnya langsung ikut bernyanyi riuh, menjadikan malam dingin itu terasa hangat dan ramai.

Seonghyeon sendiri memilih duduk agak jauh di area teras dekat kamar, menyender pada pilar kayu sambil mengamati keramaian itu dari jarak aman.

Namun, tiap kali masuk ke bagian Reff, pandangan Martin seperti punya magnet tersendiri. Di tengah riuhnya paduan suara anak-anak cowok yang menyanyi asal-asalan, Martin mendadak menaikkan pandangannya, menatap lurus ke arah Seonghyeon. Dengan cengiran khasnya, Martin menyanyikan liriknya tepat sambil mengunci tatapan mata Seonghyeon.

 

"Betapa sempurna dirimu di mata hatiku~
Tak pernah ku rasakan damai sedamai bersamamu~
Tak ada yang bisa yang mungkin kan mengganti tempatmu~"

 

Martin menyanyikannya dengan nada penuh godaan, lengkap dengan alis yang diangkat sebelah ke arah Seonghyeon.

Sontak saja aksi terang-terangan itu ditangkap basah oleh anak-anak cowok lainnya. Ryul yang duduk di sebelah Martin langsung berteriak paling kencang sambil menunjuk-nunjuk ke arah Seonghyeon.

"EAAAAAKKK! PANDANG-PANDANGAN TERUSSS! Liriknya buat siapa sih emang kakak Martin?!" goda Ryul heboh.

"Cieeee Seonghyeon! Lu ditembak pake lagu Tangga tuh, jangan pura-pura ga liat gitu dong ah," celetuk Keonho ikut-ikutan menyenggol bahu Seonghyeon dari belakang.

Satu pendopo langsung heboh oleh sorakan 'Cieeee!' yang saling bersahutan. Anak-anak kelas dua pada bersiul goda, sementara beberapa anak kelas tiga menyenggol-nyenggol Martin yang malah tertawa puas tanpa rasa dosa sedikit pun.

Seonghyeon yang mendadak jadi pusat perhatian seketika memelotot kaget. Wajahnya langsung memerah padam sampai ke leher. Ia buru-buru melempar bantal kursi kecil di dekatnya ke arah Martin untuk menutupi rasa malu.

Bantal kursi itu melayang mulus dan pas mengenai dada Martin. Bukannya kapok, Martin malah menangkapnya santai dengan satu tangan sambil memetik senar gitar terakhirnya, menimbulkan bunyi jreng penutup yang dramatis. Martin meletakkan gitarnya di atas kursi, lalu melangkah santai mendekati Seonghyeon yang masih sibuk menata napas demi meredam gejolak di dadanya. Tanpa permisi, Martin mendudukkan dirinya tepat di sebelah Seonghyeon, menyandarkan punggungnya ke dinding kayu yang sama.

"Udah ah, kagak usah disembunyiin gitu mukanya," goda Martin pelan sambil menyenggol bahu Seonghyeon dengan bahunya. "Lagian gue nyanyi jujur dari hati, malah dilempar bantal."

Seonghyeon menarik napas dalam-dalam, mengalihkan pandangannya tajam ke arah Martin demi menutupi rasa gugupnya. "Lagunya lebay kak. Orang-orang jadi pada ngaco kan tuh."

Martin bukannya takut, malah terkekeh tipis. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Seonghyeon dari jarak dekat dengan binar mata yang mendadak lebih hangat. "Tapi lu dengerin kan liriknya?"

"Lagian siapa juga yang gak dengerin, suara lo kenceng gitu kak," cetus Seonghyeon cepat, buru-buru memalingkan wajah ke arah halaman tengah untuk menghindari kontak mata yang bikin dadanya makin berdegup kencang.

Martin tak langsung bergeming. Cengiran jail di wajahnya perlahan memudar, berganti menjadi senyuman tipis yang jauh lebih tenang. Ia memiringkan tubuhnya sedikit, mendekatkan posisinya hingga Seonghyeon bisa merasakan kehangatan dari gestur cowok di sebelahnya itu.

"Gue seriusan, Hyeon," bisik Martin lembut, memotong bisingnya suara anak-anak yang masih sibuk mengobrol dan menyanyi di pendopo. "Gue gak cuma sekadar nyanyiin liriknya doang. Maksud dari lagunya... itu murni perasaan gue buat lu."

Seonghyeon mendadak bungkam total. Tenggorokannya terasa kering, dan rona panas yang tadi sempat mereda kini kembali membakar seluruh wajahnya hingga ke ujung telinga. Ia ingin menyanggah atau membalas dengan cibiran tajam seperti biasanya, tapi tatapan mata Martin yang mendadak jujur dan mengunci fokusnya buat Seonghyeon benar-benar kehilangan semua kosakata.

Sebelum Seonghyeon sempat merespons, Martin sudah lebih dulu terkekeh pelan, menepuk bahu Seonghyeon santai lalu berdiri dari duduknya. "Yaudah, gue balik ke anak-anak dulu."

Martin melangkah kembali ke tengah pendopo, meninggalkan Seonghyeon yang masih mematung di teras sambil memegangi dadanya sendiri. Di sana, Martin kembali memangku gitarnya untuk memainkan satu lagu penutup bersama anak-anak kelas satu, dua dan tiga yang masih bersemangat. Seonghyeon hanya bisa mengamati dari jauh, mencoba menata detak jantungnya yang berantakan tiap kali Martin tak sengaja melirik ke arahnya.

Tak lama setelah lagu berakhir, suara lantang guru pembina mendadak membelah riuhnya pendopo. "Anak-anak! Udah jam berapa ini? Besok kita harus bangun pagi-pagi buat agenda berikutnya. Dah cepet bubar, beres-beres terus masuk ke kamar masing-masing!"

"Yaaahhh, masih seru ini pakk!" keluh Ryul heboh, disambut sorakan kecewa dari rombongan anak cowok lainnya.

"Gak ada yah yahh-an, buruan! Yang telat bangun besok gak dapet jatah bakpia dari bapak!" ancam sang guru tegas namun bercanda.

Sorakan kecewa itu bertransformasi jadi grasak-grusuk riuh. Anak-anak mulai membereskan sisa bungkus camilan, mengumpulkan gelas kertas bekas minum, dan memindahkan kembali kursi-kursi kayu ke tempat semula. Martin memasukkan gitarnya ke dalam tas gitarnya dengan telaten, sementara Ryul dan James sudah jalan duluan sambil menguap lebar.

Suasana pendopo yang tadinya ramai dan hangat berangsur-angsur sepi dan menghening. Satu per satu lampu utama pendopo dimatikan oleh petugas penginapan, menyisakan lampu-lampu temaram di sepanjang koridor.

Seonghyeon akhirnya berdiri, mengibaskan bagian belakang celananya sebelum melangkah menuju kamar. Saat hendak membuka pintu kamar, ia menoleh sebentar ke belakang. Di ujung koridor yang remang, Martin sedang berjalan santai ke arah kamarnya sendiri. Begitu menyadari Seonghyeon menatapnya, Martin menghentikan langkah, melempar satu senyuman tipis beserta anggukan kecil seolah mengulangi perkataannya tadi, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar.

 


 

Hari terakhir di Jogja dihabiskan di Malioboro. Suasana sangat ramai oleh lalu lalang delman, pengamen jalanan yang membawakan lagu Sheila on 7, serta deretan pedagang kaos dan gantungan kunci.

Martin dan Seonghyeon jalan agak memisahkan diri dari rombongan besar. Mereka berdua sibuk memilah-milah gantungan kunci kayu bertuliskan I ❤️ Jogja.

"Lu mau beli apa buat abang lu, dek?" tanya Martin sambil memutar-mutar gantungan kunci bentuk gitar.

"Paling gantungan kunci atau kaos sih," sahut Seonghyeon. "Kalau kak Martin?"

"Gue udah beli ini," Martin menunjukkan dua buah gelang tali tenun warna hitam-cokelat yang simpel tapi estetik.

"Beli dua buat siapa? Satu lagi buat cewek lu ya?" tanya Seonghyeon, mencoba terdengar sekasual mungkin padahal ada rasa mencubit aneh di dadanya.

Martin terkekeh pelan. Dia menyambar tangan kanan Seonghyeon, lalu tanpa meminta izin langsung mengikatkan salah satu gelang tali itu ke pergelangan tangan adek kelasnya.

Seonghyeon kaget. "Eh?!"

"Nih, pas kan di tangan lu," ujar Martin sambil memamerkan gelang yang sama yang sudah terikat di pergelangan tangannya sendiri.

"Pokoknya jangan pernah lu lepasin nih gelang," gumam Martin makin pelan, melirik sekejap ke mata Seonghyeon sebelum buru-buru memalingkan wajahnya lagi. "Biar pas balik nanti lu tetep inget sama gue."

Seonghyeon menatap gelang tenun di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap mata Martin yang memancarkan ketulusan di bawah remang lampu jalanan Malioboro.

"Biar tetep inget..." ulang Seonghyeon pelan. Ia menunduk menatap gelang di pergelangan tangannya, lalu beralih melirik gelang yang melingkar persis sama di tangan Martin. Pipinya mendadak terasa hangat. "Gak perlu pake gelang juga... gue emang selalu inget lu, kak."

Martin yang mendengar bisikan itu seketika mematung. Ia mendadak salah tingkah sendiri, mengusap belakang lehernya sambil tertawa pelan demi meredam detak jantungnya yang mendadak bergemuruh.

"Waduh... parah sih ini. Lu kalo ngomong gitu kagak ada aba-abanya banget dek," gumam Martin dengan suara yang agak serak gara-gara menahan salah tingkah. Pipinya ikut menampakkan rona merah yang samar.

Ia tertawa pelan, suara tawa canggung tapi hangat yang samar-samar kalah oleh hiruk-pikuk Malioboro. Seonghyeon yang melihat Martin mendadak gelagapan begitu ikut terkekeh, rasa malunya mendadak menguap berganti geli melihat kakak kelasnya yang biasanya sangat percaya diri kini malah hilang arah.

"Lagian kak Martin duluan sih..." 

"Ya abisnya gue gak nyangka respons lu bakal se-manis itu," sahut Martin sambil terus tertawa kecil, mengusap wajahnya yang masih terasa panas. Mereka berdua akhirnya tertawa bersama di bawah pijaran lampu temaram, meredakan ketegangan manis yang menggantung di antara mereka.

Langit Malioboro perlahan berganti rupa dari jingga temaram menuju keunguan sore menjelang malam. Angin berembus pelan membelai wajah, sementara lampu-lampu jalan bergaya klasik di sepanjang trotoar mulai menyala satu per satu, menciptakan binar keemasan yang hangat.

Anak-anak yang lain sudah melenceng jauh berburu bakpia dan souvenir. Kini, tinggal mereka berdua yang sengaja memperlambat langkah, berjalan beriringan di trotoar yang tak terlalu padat.

"Hyeon, stop bentar deh," tahan Martin sambil menunjuk bapak-bapak tukang foto keliling yang membawa kamera DSLR. "Foto berdua dulu, biar ada kenang-kenangan di Malioboro."

Seonghyeon sempat gelagapan, tapi Martin sudah memanggil bapak tukang foto tersebut. Mereka berdiri berdampingan di dekat plang jalan. Di bawah pijaran lampu Malioboro yang hangat, bapak tukang foto memberi aba-aba.

"Sore pak, permisi! Boleh minta tolong fotoin kita berdua di sini?" panggil Martin sambil melambaikan tangan.

Bapak tukang foto itu tersenyum ramah, membetulkan letak tali kameranya. "Boleh dong mas! Pas banget ini spot-nya di bawah plang Jalan Malioboro, sunset-nya juga keliatan jelas."

Seonghyeon yang masih agak gelagapan berbisik pelan ke arah Martin. "Kak, beneran mau foto disini? Rame banget yang ngeliatin..."

"Udah, biarin aja. Kapan lagi coba kita foto berdua di Malioboro kayak gini?" sahut Martin santai, lalu menoleh lagi ke bapaknya. "Pak, fotoin yang bagus ya!"

"Siap, Mas! Tenang aja, hasil foto saya mah gapernah gagal," balas si Bapak sambil tertawa terkekeh, mulai mengarahkan lensa kameranya. "Ayo Masnya yang agak tinggian rapat dikit ke sebelah kiri... nah, pas! Geser sikit, mas..."

Martin langsung mengikis jarak, menyisakan jarak tipis di antara bahu mereka. Ia sempat melirik Seonghyeon yang masih kaku. "Jangan tegang gitu, dek. Kayak mau foto sama artis aja."

Seonghyeon tak membalas ucapan itu. Ia hanya mendelik tajam ke arah Martin sambil mengerucutkan bibirnya penuh kekesalan. Namun, sorot matanya tak bisa berbohong, rona merah yang merayap di kedua pipinya justru memperjelas betapa salah tingkahnya ia saat ini, membuat bibirnya tanpa sadar menyisakan garis senyum tipis yang berusaha ditahannya setengah mati.

"Oke, siap ya! Satu... dua... tiga!"

Cklik!

Seonghyeon tersenyum tipis nan canggung ke kamera, sementara Martin justru memiringkan kepalanya sedikit, menatap Seonghyeon dari samping dengan binar mata yang begitu tenang dan jernih.

Setelah menyerahkan uang dan menerima cetakan fotonya, Martin mengucapkan terima kasih pada bapak tukang foto. Martin memegang lembaran foto itu sebentar, lalu menatap Seonghyeon yang sibuk membetulkan letak gelang di tangannya demi menutupi rasa gugup.

"Hyeon," panggil Martin pelan. Suaranya terdengar lembut di antara sisa keramaian sore itu.

Seonghyeon mendongak. "Hmm? Kenapa kak?"

Martin menarik napas dalam-dalam, mengusap tengkuknya sekali lagi demi mengumpulkan keberanian. Pandangan matanya mengunci Seonghyeon sepenuhnya, tak lagi ada raut jail yang biasanya ia tunjukkan.

"Soal lagu kemaren di pendopo... sama gelang ini," ucap Martin jujur. "Gue gak pernah main-main. Gue beneran suka sama lu, Hyeon."

Seonghyeon mendadak bungkam. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai serasa melompat ke tenggorokan.

"Inget gak sih, awal ketemu di warnet pas lu download film sampe koneksi PB gue ke-disconnect?" kekeh Martin pelan.

"Terus pas ketemu di Kopaja itu rasanya gue benci dan pengen banget maki-maki lu mulu gara-gara muka lu nyolot abis. Tapi jujur... gak tau sejak kapan, tiap kali gue di deket lu, jantung gue malah berasa mau copot. Gue makin nyaman dan kepikiran lu terus sumpah."

Suasana remang Malioboro terasa makin romantis sewaktu lampu-lampu jalan mulai membias hangat. Tiba-tiba seorang anak kecil penjual bunga menyenggol pinggang Martin sambil menyodorkan setangkai mawar merah.

"Kakak, beli bunganya dong kak. Ganteng-ganteng masa gak romantis sih? malu sama kakak manis yang di sebelahnya?"

Seonghyeon langsung mematung di tempat. Kata 'kakak manis' sukses bikin otaknya korslet seketika. "E-eh... jangan sembarangan ya, gue ini—"

"Nih dua puluh ribu, cil. Kagak usah kembalian, tapi lu bilang dulu sekali lagi ke dia kalo dia manis," potong Martin tengil sambil menyerahkan uang.

Si bocah langsung ngangguk semangat, "Kakak, muka kakak manis banget kayak gulali! Nih bunga mawar buat kakak!" serunya, lalu menyodorkan mawar itu tepat ke genggaman Seonghyeon dan langsung ngacir kabur sambil tertawa geli.

"Martin! Lu ngapain ajarin anak kecil begitu?!" omel Seonghyeon berusaha menutupi rasa malu yang bikin jantungnya mau copot.

Bukannya merasa bersalah, Martin malah terkekeh puas. Ia melangkah satu pijakan lebih dekat hingga mengikis sisa jarak di antara mereka. Tangan kirinya terulur, lalu tanpa ragu menyusupkan jemarinya—mengunci genggaman hangat di tangan Seonghyeon yang masih memegang mawar itu.

"Lagian si anak kecil kagak salah, muka lu emang manis banget kalau lagi salting gini," bisik Martin lembut, menatap lekat mata Seonghyeon yang makin tak berani membalas tatapannya. "Gue gak bercanda, Hyeon. Pas kita balik nanti... gue mau terus pegang tangan lu kayak gini. Gue mau terus ada di samping lu, Hyeon."

Mendengar ucapan itu, Seonghyeon seperti tersengat listrik. Kata-kata Martin barusan sukses menghentikan ritme napasnya sejenak, membuat isi kepalanya yang tadinya bising mendadak hening seketika. Ia terpaku, menatap lekat setangkai mawar merah di tangannya sebelum pelan-pelan memberanikan diri menatap manik mata Martin yang tampak begitu jujur dan hangat.

Ia menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, berusaha keras menyembunyikan rasa salah tingkah yang sudah meluap-luap.

"Lo... aneh banget sih kak," bisik Seonghyeon pelan, suaranya sedikit bergetar gara-gara menahan malu.

Ia memalingkan wajahnya sejenak ke arah jalanan, menyembunyikan ukiran senyum tipis yang akhirnya lolos tanpa bisa ditahan. Seonghyeon lalu mempererat genggamannya pada setangkai mawar itu, sebelum akhirnya menyusupkan jarinya kembali ke sela-sela jemari Martin, meremasnya pelan.

"Gue... gue juga mau kok kak, tetep bareng terus sama lo." gumam Seonghyeon hampir tak terdengar

Martin tertegun sejenak. Mendengar jawaban itu lolos langsung dari bibir Seonghyeon, senyum lega yang memabukkan merekah lebar di wajahnya. Tanpa membuang detik, Martin menarik tubuh Seonghyeon lebih dekat, merengkuh pinggang adek kelasnya itu dalam satu pelukan hangat yang begitu erat di bawah lampu jalanan Malioboro.

Seonghyeon sempat tersentak kecil, tapi kehangatan dada Martin dan aroma khasnya langsung meluluhkan sisa gengsinya. Ia menyembunyikan wajahnya yang makin membara di ceruk leher Martin, membalas pelukan itu dengan menyandarkan kepalanya pelan, membiarkan setangkai mawar merah di tangannya terselip melingkari punggung Martin.

"Makasih ya, Hyeon..." bisik Martin tepat di dekat telinga Seonghyeon, suaranya dalam dan begitu lembut. Martin mengecup sekilas puncak kepala Seonghyeon, membuat Seonghyeon makin salah tingkah parah. "...udah mau terima mawar ini. Udah mau izinin gue buat terus ada di samping lu."

"Ih kak, malu... nanti diliat orang," gumam Seonghyeon lirih, tapi tangannya malah makin erat menahan kemeja Martin, enggan melepas kehangatan itu.

Martin terkekeh pelan, perlahan melepaskan pelukannya tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. Ia menangkup pipi Seonghyeon yang terasa panas, mengusapnya pelan dengan ibu jari sebelum berbisik, "Yaudah, yuk balik ke bis. Tapi pegangan tangannya jangan dilepas sampe kita nyampe parkiran."

Seonghyeon cuma bisa menunduk pasrah, mukanya sudah panas bukan main. Bukannya menolak atau memprotes, cowok itu hanya mengangguk pelan sambil makin merapatkan remasan jemarinya di sela-sela jari Martin, memasrahkan jiwanya jika harus disoraki satu bus lagi nanti.

Martin makin melebarkan cengirannya. Ia meremas balik genggaman tangan mereka dengan hangat, lalu menarik pelan lengan Seonghyeon untuk beriringan menyusuri trotoar Malioboro yang mulai lengang menuju parkiran bus.

Sepanjang jalan menuju parkiran bis rombongan SMA Pelita Jaya, mereka berjalan bersisian dengan genggaman erat yang tak terputus. Seonghyeon tak lagi berusaha menarik tangannya, ia justru menikmati setiap sentakan hangat dari jemari Martin yang menyatu dengan jemarinya.

Sesampainya di dekat area parkiran, kabin bis mereka sudah terlihat penuh dipenuhi anak-anak yang mulai masuk. Saat menyusuri jalan setapak menuju tangga pintu bis, Martin melambatkan langkahnya. Dengan berat hati tapi penuh kelembutan, ia perlahan melonggarkan jemarinya.

Tapi sebelum tangannya benar-benar terlepas, Martin menyempatkan diri mengelus punggung tangan Seonghyeon sekilas dengan ibu jarinya.

Begitu mereka melangkah masuk kembali ke dalam bus, atmosfer kabin sudah jauh berbeda dibanding saat berangkat. Jika sewaktu berangkat anak-anak masih pada jaim dan sibuk dengan urusan masing-masing, perjalanan pulang ini menyisakan stamina yang tinggal separuh. Namun anehnya, meski tubuh sudah pada lelah, kadar kompor dan ceng-cengan dari teman mereka bukannya surut malah mendadak naik dua kali lipat.

Pas Martin dan Seonghyeon jalan beriringan masuk ke lorong bus, Ryul yang duduk di barisan belakang langsung berdiri di atas kursinya sambil memegang botol Aqua kosong sebagai mikrofon dadakan.

"PENGUMUMAN PENGUMUMAN!!! PASANGAN KEKASIH KITA BARU BALIK PACARAN DARI MALIOBORO, KARPET MERAH MANA KARPET MERAHNYA??!!" teriak Ryul menggelegar ke seisi bus.

Mata Ryul tiba-tiba melotot tajam saat melirik ke arah tangan kanan Seonghyeon. "EHH BENTAR BENTAR! ITU APAAN DI TANGAN SEONGHYEON?! HAH SEKUNTUM MAWAR MERAH?! WKWKWK BISA BANGET LU TIN BELI MAWAR MERAH BUAT SI DEDE EMESH!!"

"CIIEEE!!" sorak anak-anak kelas 3 dan kelas 2 serempak.

Keonho yang duduk di tengah ikut-ikutan bersuara. "Seonghyeon! Tangannya kok ada gelang yang sama kaya yang dipake kak Martin?! Beli di mana tuh? Kok kita kagak dibeliin juga?!"

"Tau nih Seonghyeon! Kemaren bilangnya benci banget sama Kak Martin, sekarang malah nempel mulu mana udah couplean gelang!" sahut cewek sekelas Seonghyeon, disusul suitan menggoda yang bikin suasana bus pecah parah.

Wajah Seonghyeon memerah padam semerah kaus pariwisata yang dia pakai. Dia berjalan sambil menunduk dalam-dalam, menutupi mukanya pake kedua telapak tangan saking malunya.

Sementara Martin? Cowok bongsor itu bukannya malu, malah menepuk dadanya bangga sambil memasang tampang sok keren maksimal. "Sirik aja kalian! Makanya cari adek kelas yang imut kayak gue, jangan jomblo mulu!"

"WUUUUU!!" sorak anak-anak bus melempari Martin pake remasan kertas snack.

"Sok ganteng banget lu, Martin! Kagak inget kemaren lu berdua rebutan sendok plastik aja ampe patah di kantin! Sekarang sok-sokan bilang imut!" celtuk Ryul kencang dari kursi tengah, disusul tawa meledak dari anak-anak kelas 3 lainnya.

"Triknya boleh juga lu, Tin!" sahut temen sekelasnya yang lain, menyiuli Martin goda-goda. "Pura-pura benci taunya diembat juga! Kasihan tuh Seonghyeon kena jebakan kakel buaya!"

Keonho yang duduk di barisan anak kelas 2 juga gak mau kalah kompor. "Hyeon! Lu dikasih pelet apa sama kak Martin ampe lu kena gombalan dia???!"

"Diem ah lu semua, iri bilang bos!" potong Martin sambil tertawa lebar, tangannya refleks merangkul bahu Seonghyeon yang makin mengkerut di depannya.

"Yaelah, gausah dikekep mulu itu Seonghyeonnya, gaada yang berani ambil kok!" teriak anak-anak sebus kompak, disambut pelemparan bungkus Chiki kosong yang mendarat tepat di kepala Martin.

Martin terkekeh sambil menepis bungkus Chiki yang menempel di rambutnya, lalu buru-buru menarik Seonghyeon menyusuri lorong bus untuk duduk di kursi mereka. Sejak berangkat dari Jakarta, mereka memang sudah diposisikan duduk berdampingan di barisan tengah, tempat yang awalnya terasa seperti zona perang dingin, namun kini mendadak dipenuhi atmosfer manis yang membikin salah tingkah.

Martin mengambil posisi dekat koridor, membiarkan Seonghyeon duduk di dekat jendela. Begitu mereka mendudukkan diri, Seonghyeon langsung menyandarkan dahi ke kaca jendela yang dingin, berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih memerah pasca disoraki satu bus.

"Bisa-bisanya lo malah ngerangkul gue di depan semua orang, kak... kan jadi dicengin lagi!" bisik Seonghyeon pelan dengan tangannya tetap erat memeluk setangkai mawar merah di pangkuannya.

Martin cuma tertawa pelan tanpa rasa dosa. Di bawah tirai jendela yang menutupi area duduk mereka dari pandangan anak-anak di belakang, tangan kanan Martin bergerak menggerayangi jemari Seonghyeon, lalu menyelipkan jemarinya untuk kembali menggenggam tangan adik kelasnya itu dengan erat.

"Biarin aja. Gue mau pamer biar satu bus pada tau kalo lu tuh udah ada pawangnya."

Seonghyeon sempat bermaksud menepis genggaman itu demi mempertahankan sisa gengsinya. Namun bukannya melepas, jemari Seonghyeon justru perlahan membalas remasan hangat Martin, menyandarkan kepalanya pelan ke bahu tegap sang kakak kelas saat bus mulai melaju membelah malam hari menuju Jakarta.

Seonghyeon mengambil HP Nokia XpressMusic dari sakunya, menyolok headset kabel warna putih. Dia memutar daftar lagu di aplikasi pemutar musiknya. Tapi setelah beberapa saat, Seonghyeon melirik pelan ke samping.

Martin lagi bersandar di kursi, matanya terpejam tapi dadanya naik turun teratur. Kelihatan capek banget abis seharian mendampingi rombongan.

Seonghyeon melepas headset sebelah kirinya, lalu dengan gerakan sangat pelan dan hati-hati, dia mengulurkan tangannya memasangkan kabel headset itu ke telinga kiri Martin.

Martin tidak tidur. Begitu merasakan benda dingin menyenggol telinganya, matanya perlahan terbuka. Dia menengok ke samping, menatap Seonghyeon yang berpura-pura sibuk menatap jalanan gelap di luar jendela.

Dari headset yang mereka bagi berdua, lagu Hanya Kamu Yang Bisa dari Tiket mulai mengalun lembut.

 

"Hanya kamu yang bisa membuat aku jadi tergila-gila~
Membuat aku jatuh cinta~
Karena tak ada yang lain sepertimu~"

 

Martin tidak melepas headset itu. Sebaliknya, dia malah makin memiringkan posisinya, memangkas jarak sampai napas hangatnya menyapu pelipis Seonghyeon. Tangan kanannya yang bebas merayap pelan, meremas lembut genggaman jemari Seonghyeon di bawah lipatan jaket, menyatukan dua gelang tenun kembar yang baru ia beli di Malioboro tadi sore.

Seonghyeon bergeming, matanya masih berpura-pura menatap pekatnya malam di luar jendela bus. Namun, rona merah di pipinya ditambah degupan dadanya yang mendadak berpacu kencang jelas tak bisa berbohong.

"Lagu buat gue, hm?" bisik Martin tepat di telinga Seonghyeon. Suaranya serak dan berat, beradu dengan alunan musik Tiket yang makin dalam merasuki pendengaran mereka berdua.

Seonghyeon menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang nyaris tumpah. "Ng-nggak... kan random," bohongnya pelan.

Martin terkekeh, kekehan halus yang terasa bergetar di bahunya tempat kepala Seonghyeon bersandar. Alih-alih memprotes, Martin justru menyusupkan jemarinya makin dalam, mengunci sela-sela jari Seonghyeon tanpa menyisakan celah sedikit pun. Ia membawa genggaman tangan mereka naik sebentar, mengecup punggung tangan Seonghyeon dengan lembut dan lama, mengabaikan sorakan bisik-bisik dari beberapa anak di bangku seberang yang memergoki aksi mereka.

Martin memiringkan kepalanya sampai pipinya menempel manis di puncak kepala Seonghyeon. "Makasih udah mau terima mawar ini. Makasih udah mau jadi milik gue, Hyeon."

Seonghyeon tertegun. Di balik kegelapan bus yang kini dihiasi dengkur halus anak-anak lain yang mulai tertidur lelap, Seonghyeon tak bisa lagi menahan gengsinya. Ia makin menyamankan posisi kepalanya di bahu tegap Martin, memeluk erat mawar merah di pangkuan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya membalas remasan Martin tak kalah erat.

"Sama-sama, kak..." bisik Seonghyeon lirih, hampir tak terdengar jika bukan karena jarak mereka yang menempel erat. "Awas ya kalo besok kakak genit sama yang lain."

Martin tersenyum lebar di tengah remangnya bus yang melaju membelah jalan tol. "Gak bakal lah. Pawangnya aja manis gini... tapi kalo udah marah serem banget, mana berani gue macem-macem," bisik Martin jahil sambil mencubit pelan pipi Seonghyeon.

Malam itu, perjalanan study tour dari Jogja menuju Jakarta ditutup dengan hembusan angin AC yang dingin, alunan lagu romantis era 2000-an dari Nokia XpressMusic, serta dua jemari yang saling mengunci erat, menandai akhir dari kisah kucing-kucingan mereka, dan awal dari status baru yang resmi mereka genggam berdua.

 


 

bonus:

Begitu sampai di rumah dan selesai mandi, Seonghyeon langsung menyalakan komputer tabung di kamarnya. Dia menyambungkan kabel data digicam abangnya, memindahkan semua foto study tour ke komputer, lalu membuka situs Facebook.

Seonghyeon membuat album foto baru bertajuk "Jogja Story - 2009".

Dia mengunggah puluhan foto, tapi foto pertama yang dia jadikan sampul album adalah foto selfie mereka berdua di Malioboro—foto saat Martin tersenyum narsis dan Seonghyeon tersenyum manis dengan gelang kembar mereka terpampang jelas. Seonghyeon men-tag profil Facebook Martin.

Tidak sampai lima menit, notifikasi Facebook-nya meledak.

Martin Simanjuntak menyukai foto Anda.

Ryul Pratama berkomentar: PJ-NYA M4N4 WOI PJ!! Gk UsH sOk2aN p4m3r t4g2An fO7o dI fB kLo bLuM Tr4kTiR gU3 mI3 4y4m M4k JuM!! xDD Btw g3L4ng2ny4 unch2 bG7 d3c3hh

Martin Simanjuntak berkomentar:@Ryul Pratama ir1 bil4ng bos wkwk23x ;p car1 adkel send1ri son0 PJ gamp44ng, 4sal lu jgn 1kutan nimbrung p4s gue mak4n bar3ng Hyeon! 

Sasha Amanda berkomentar: AAAHHH LUCU BGT GELANGNYA!! >.< ci333 Seonghyeon akhirnya luluh jg sama kakel ganteng wkwk,,, tgl jadiannya taro di bio FB jg dong biar lengkap XDD

Keonho Ali berkomentar: BuS3777 sK4r4nG uD4h t4g24n fO7o m35r4 4j444, pJ-ny4 mI3 4y4m pLu5 73L0r d4d4rrr y4 hY30n!1! :V ~~

 

 

Notes:

Adakah yg kangen aku? hehe

Series this work belongs to: