Work Text:
"Tu-tunggu... Namjoon-hyung? Seokjin-hyung? Hoseok-hyung?"
Kim Taehyung berdiri sendirian di tengah sekian banyak antrian untuk masuk ke rumah hantu. Seharusnya tadi dia tidak langsung percaya saat Hoseok mengatakan dia sudah berani dan akan masuk rumah hantu bersama Taehyung.
Tapi apa?
Sejak melihat seorang gadis dan pria yang muntah hebat sejak keluar dari rumah hantu, Hoseok lari meninggalkannya. Dan Taehyung tidak bisa berkutik ditengah antrian seperti ini. Dasar mental teri! Taehyung merutuk dalam hati.
Oke. Sekarang bagaimana nasib Taehyung?
Taehyung tidak munafik, dia tidak takut film hantu tapi kalau harus sendirian memasuki rumah hantu itu lain lagi ceritanya. Bagaimana jika nanti dia pingsan di tengah jalan? Bagaimana jika benar-benar ada hantu menyelinap diantara hantu palsu lainnya? Bagaimanaㅡ
Bruk.
Taehyung terdorong karena antrian didepannya melebar, hampir saja jatuh jika seseorang tidak menahan sikunya. Taehyung menoleh, menganggukkan kepala sambil bergumam "maaf" dan "terima kasih" yang pelan. Pemuda dibelakangnya hanya tersenyum dan membalas anggukan Taehyung.
"Tuan, anda ingin masuk sendirian atau berdua?" tawar seorang penjaga.
Mati aku! Taehyung menelan ludah gugup. Taehyung terlalu takut untuk masuk sendirian tapi siapa yang bisa diajaknya untuk masuk bersama? Taehyung rasanya ingin menguliti seseorang bernama Jung Hoseok. Lain kali dia tidak ingin jalan-jalan bersama Seokjin, Namjoon, terutama Hoseok lagi.
Mungkin ini saatnya Taehyung harus memberanikan diri. Siapa tahu dia bisa menjambak hantu-hantu yang muncul untuk melampiaskan kekesalannya--jika Taehyung tidak gemetar lebih dulu, tentunya.
"Aku--"
"Aku akan masuk bersamanya."
Taehyung kembali menoleh ke belakang, kearah pemuda yang tadi menolongnya. Mengerjap berkali-kali dengan wajah bodoh.
Pemuda itu tertawa, lalu mendorong punggung kurus Taehyung masuk ke dalam rumah hantu itu. Sang penjaga hanya tersenyum dan memberikan satu senter pada mereka berdua.
.
.
.
"Rumah hantu? TIDAK."
"Ayolah, Jungkookie?" cengir Mingyu, "Ini olahraga jantung yang bagus untuk orang tampan yang lajang seperti kita."
"Atau jangan-jangan kau takut?" goda Yugyeom.
"Bukan begitu, tapi astaga... umur kalian berapa?" keluh Jungkook, "Roller coaster aku oke, tapi rumah han--"
"Banyak bacot," Eunwoo yang sedari tadi diam memutar matanya lalu menyeret Jungkook menuju antrian rumah hantu. Mingyu dan Yugyeom membantu mendorong Jungkook sementara Bambam sibuk tertawa di belakangnya.
Mereka kemudian mengantri. Dengan ururutan Jungkook di depan, lalu Mingyu, Eunwoo, Yugyeom, dan Bambam. "Masuknya bisa berdua," celetuk Mingyu, "Aku bersamamu, Kim."
"Oke," Eunwoo nyengir.
"Kau bersamaku," Bambam memegang bahu Yugyeom.
"Jadi ceritanya aku masuk sendirian?" Jungkook terlihat kesal, "Ah sudah, terserah kalian saja. Toh cuma rumah hantu."
Jungkook menghembuskan nafas panjang. Seharusnya tadi dia paksa Dokyeom saja untuk ikut. Jungkook menatap ke depan, mengacuhkan keempat temannya yang ribut entah membicarakan apa di belakangnya.
"Wah, waahh!!" seruan dari keempat temannya dan pergerakan mendadak membuat Jungkook terdorong ke depan, hampir membuat pemuda berambut cokelat di hadapannya terjatuh. Untung Jungkook sempat menahan sikunya.
Pemuda itu menoleh kearah Jungkook sambil menganggukkan kepalanya, bergumam pelan tentang "maaf" dan "terima kasih". Jungkook hanya balas mengangguk dan tersenyum.
Dia manis. Jungkook membatin dalam hati. Kemudian dia memasang tampang terganggu dan menoleh pada keempat temannya, "Kalian mau apa?"
"Bukan salahku, ataupun salah kami," Mingyu mengangkat tangannya defensif, "Di belakang sibuk mendorong karena di depan antrian mulai melonggar, dan Yugyeom tadi sempat jatuh, tahu."
"Pantas dorongannya kuat sekali," komentar Jungkook.
"Hei!" salak Yugyeom.
Jungkook kembali ke posisi berdirinya, sesekali berjalan ke depan sekaligus mengerling waspada kearah punggung kurus di depannya, takut-takut kalau terdorong dan jatuh lagi.
"Tuan, anda ingin masuk sendirian atau berdua?"
Jungkook tertarik melihat reaksi gugup dan diam dari pemuda di depannya. Apa dia sendirian? Kenapa dia cari mati masuk rumah hantu sendirian padahal dia terlihat takut?
"Aku--"
"Aku akan masuk bersamanya."
Penjaga itu menatapnya tertarik sementara pemuda di depannya kini mengerjap lucu. Menggemaskan. Jungkook tertawa, setelah mendapatkan senter, dia mendorong pemuda itu masuk ke dalam rumah hantu.
Sambil menyempatkan diri menjulurkan lidah pada keempat temannya--mengabaikan siulan dari duo jahil Mingyu dan Eunwoo.
.
.
.
"Namaku Jungkook," Jungkook menyalakan senternya saat masuk ke dalam rumah hantu, "Jeon Jungkook."
"Kim Taehyung," balas pemuda yang bersamanya, "Terima kasih."
"Untuk?"
"Aku tidak tahu harus melakukan apa kalau masuk sendirian," balas Taehyung jujur, "Aku takut masuk kesini sendirian."
"Lalu kenapa kau ikut mengantri?" Jungkook tertawa geli saat Taehyung merapat kearahnya sewaktu melihat kursi roda yang berjalan sendiri.
"Aku ditinggalkan temanku saat tengah mengantri," Taehyung meremas kaus Jungkook tanpa sadar, matanya terbuka lebar, "Seharusnya aku tidak percaya begitu saja, dia itu sangat penakut. Dan aku baru sadar kalau ditinggalkan saat sudah mengantri cukup lama. Bagaimana bisa aku keluar--AH! GILA KEPALANYA COPOT!"
Jungkook tertawa lagi. Ekspresi Taehyung benar-benar lucu. "Itu hanya manekin, Taehyung-ssi," Jungkook mengarahkan senternya kearah kepala manekin yang bergulir di dekat sepatunya, "Lihat."
"Tapi disa--TANGANNYA BERGELANTUNGAN! YA TUHAN! JANTUNGKU!" pekik Taehyung, tanpa sadar melompat memeluk Jungkook erat-erat.
"Itu hanya tangan boneka," Jungkook tersenyum geli sambil menepuk-nepuk lengan Taehyung yang melingkar erat di lehernya.
"Maaf," Taehyung pelan-pelan melepaskan pelukannya, "Aku tidak akan pernah masuk kesini lagi, sungguh. Aku bersumpah."
Jungkook mengulurkan tangannya, disambut tatapan bertanya dari Taehyung. "Tanganku," kata Jungkook.
"Iya, aku tahu itu tanganmu," balas Taehyung.
Jungkook kembali terkekeh geli. Taehyung benar-benar lucu dan polos, Jungkook meragukan Taehyung sepantaran dengannya. Jangan-jangan dia anak-anak yang terjebak di tubuh orang dewasa.
"Mau menggenggamnya?" tanya Jungkook.
"Boleh?"
Jungkook mengangguk dan Taehyung menyambut telapak tangan Jungkook. Besar, juga nyaman. Jungkook sempat terkejut, jemari Taehyung panjang, kurus, juga lentik. Seperti tangan perempuan. Tangannya juga halus. Terasa pas di genggamannya.
"HUWAH HUWAH HUWAH!!" Taehyung melonjak saat kepala manekin menjulur ke hadapannya. Reflek dengan tangannya yang bebas, Taehyung menjambak rambut manekin itu lalu segera menarik Jungkook untuk lari.
"Hahah, sepertinya kita merusak properti orang," Jungkook mengikuti langkah Taehyung sambil tertawa lagi.
"Kau terlalu banyak tertawa, Jungkook-ssi," gerutu Taehyung, "Ini menyeramkan."
"Bagiku lucu," balas Jungkook, "Ayo, sebentar lagi kita keluar. Tinggal lewati kamar dan lorong menuju ke belakang. Omong-omong, kenapa kau menjambak manekin itu?"
"Dia seperti Hoseok-hyung, sepupuku. Orang yang meninggalkanku diantrian. Kuharap aku bisa menjambaknya sekuat tadi. Tidak, lebih kuat!" seru Taehyung berapi-api.
Jungkook mengeluarkan tawanya lagi sambil mengeratkan genggamannya. Mereka melewati kamar, ada boneka bermata merah dan suara-suara aneh. Taehyung kembali merapat kearahnya. Sementara Jungkook, alih-alih takut, rasanya dia ingin menendang boneka itu lalu menyeret Taehyung keatas ranjang itu kemudian menindihnya. Haha, bahkan Jungkook baru melihat Taehyung kurang dari satu jam dan dia sudah punya pikiran kotor seperti itu.
"Bagaimana kalau bonekanya bangun dan melompat kesini??" tanya Taehyung dengan suara gemetar.
"Boneka itu tidak akan bangun, boneka--"
"DIA BERGERAK, JUNGKOOK!! DIA BERGERAK!!"
"--itu bergerak karena ada tali tipis mengikatnya, karena remang-remang makanya tidak terlihat--"
"ASTAGA DIA BAHKAN BICARA!!"
"--itu hanya speaker di mulutnya--"
"TAPI NYARING SEKALI!!"
"--di sudut atas sana ada speaker lagi dan kabel-kabel lainnya."
"Ah, kepalaku jadi sakit."
"Makanya jangan terlalu berteriak," Jungkook mencubit pipi Taehyung gemas, "Nah, disana lorongnya, ayo kita keluar."
"Tidak ada apa-apa kan?" tanya Taehyung lagi, waspada.
Sepertinya..." Jungkook melihat pergerakan samar di sekelilingnya, ada bayangan beberapa orang berkumpul. Jungkook nyengir lucu, "... kita harus lari."
Tepat setelah kata Jungkook, suara raungan terdengar. Taehyung menjerit lalu segera berlari diiringi Jungkook yang tertawa. Ayolah, Jungkook tidak takut rumah hantu dan tingkah Taehyung terlalu menggemaskan. Jungkook terlalu banyak tertawa saat masuk rumah hantu tadi.
"Hah... hah... hah..." Taehyung keluar dengan nafas memburu, "Tidak terlalu buruk. Kupikir minimal aku akan muntah."
"Itu pengalaman masuk rumah hantu paling menyenangkan untukku," Jungkook terkekeh, "Lucu sekali."
"Kau terlalu banyak tertawa," Taehyung tersenyum, "Sepertinya aku juga harus berterima kasih pada Hoseok-hyung. Jika dia tidak meninggalkanku, aku tidak akan bertemu denganmu. Kau orang yang menyenangkan."
"Well, terima kasih," Jungkook balas tersenyum, "Kau manis."
Taehyung tertawa, pipinya bersemu merah alami.
"Boleh aku minta kontakmu? Siapa tahu kita bertemu lagi?" Jungkook mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Taehyung ikut mengeluarkan ponselnya dengan ekspresi antusias, "Boleh! Kuharap kita bertemu lagi!"
"Kau kosong minggu depan?"
"Iya."
"Kalau begitu... jam sembilan pagi, di Starbucks. Oke?"
"Sangat oke!"
.
.
.
"Seokjin-hyuuuuuuunggg~"
Seokjin limbung saat merasakan Taehyung menghambur lalu memeluknya erat sekali. Seokjin tertawa, "Ada apa, Tae?"
"Mana Hoseok-hyung?" seketika wajah Taehyung cemberut.
"Kenapa mencari Hoseok?" tanya Namjoon.
"Ada apa denganku?" Hoseok muncul dengan soda di tangannya, nyengir tidak bersalah dibalik bahu Namjoon.
"Aku ingin memukulmu karena kau meninggalkanku di antrian rumah hantu," wajah Taehyung yang semula merengut menatap Hoseok, kemudian berubah cerah, "Juga ingin memelukmu~"
"Hah?"
"Seokjin-hyung, mungkin dalam waktu dekat ini aku akan punya kekasih," cengir Taehyung, "Dan terima kasih banyak karena Hoseok-hyung meninggalkanku. Ugh, dia tampan."
Seokjin melotot, "Kau berhutang cerita pada kakakmu ini, Kim Taehyung!"
.
.
.
"Aku heran kenapa kau juga Mingyu dan Eunwoo bisa keluar rumah hantu dengan tertawa," keluh Bambam, menekan perutnya yang agak mual sementara Yugyeom memijit keningnya.
"Bagaimana tidak? Mingyu bahkan merayu boneka dan mengajak hantu di kursi roda menari dan rap!" Eunwoo tertawa lagi.
"Kau juga merayu hantu saat di lorong! Pfftt! Ahahahah!" Mingyu menepuk pundak Eunwoo. Mereka berdua kembali meledakkan tawa.
"Kau sendiri melakukan apa, Kook?" tanya Bambam, "Kau masuk dengan orang asing kan?"
Jungkook menyimpan ponselnya ke saku dengan senyuman lebar, "Ha-ha, sebentar lagi aku akan punya pacar."
"HECK!" Yugyeom mengumpat, lalu tertawa sambil memukul-mukul punggung Jungkook. "Kau mendahuluiku!" Bambam berseru, melupakan mual yang dirasakannya.
"Traktirannya, Jungkookie~" ledek Mingyu, Eunwoo hanya bersiul.
Jungkook hanya nyengir. [ ]
