Work Text:
"Berisik, Tae! Diamlah! Aku ingin istirahat."
Ocehan Taehyung yang tadinya seperti kereta api tanpa akhir terhenti seketika, membuat ruangan putih itu menjadi sunyi senyap. Kim Taehyung mengerjap menatap sosok pemuda tampan berambut hitam yang terbalut piama rumah sakit itu. Orang lain pasti sakit hati mendengarnya. Namun ini bukan orang lain, dia hanyalah Kim Taehyung, pemuda bermental baja yang sanggup berhadapan dengan Jeon Jungkook yang terkenal tajam tanpa perasaan marah atau sakit hati sedikitpun.
"Ah, kukira Jungkookie kesepian tadi, hehe," Taehyung hanya tertawa kecil, "Sudah mau istirahat ya? Obatnya sudah diminum?"
"Kau bukan dokterku," balas Jungkook sarkartis.
"Aku tahu kok, aku juga tidak berminat jadi dokter. Tapi ini kan kewajibanku untuk memastikan kau meminum obatmu sesuai aturan dokter," balas Taehyung, wajahnya masih terlihat ceria, "Lagipula tidak enak melihat Jungkookie hanya terbaring diatas kasur, cepat sembuh ya."
"Aku tidak butuh dikasihani olehmu."
"Aku tidak mengasihanimu, kok. Lagipula sakit itu kan memang tidak enak," balas Taehyung, "Ya sudahlah, tidur saja, Jungkookie. Aku akan pergi setelah kau sudah tidur."
Tidak ada balasan dari sang Jungkook, entah dia sudah tidur atau hanya mengacuhkan Taehyung. Pemuda berambut cokelat kayu itu hanya tersenyum simpul lalu memperbaiki selimut Jungkook. Dia sudah biasa diperlakukan kasar oleh Jungkook, alasannya... karena dia tahu kalau sebenarnya Jungkook tidak benar-benar bermaksud kasar kepadanya. Dia hanya tidak ingin ada orang yang bersedih karena keadaannya.
Tahun pertama di SMA adalah tahun yang menyenangkan bagi Taehyung-dan Taehyung yakin sebenarnya begitu juga dengan Jungkook. Namun perasaan menyenangkan itu harus tersapu habis oleh berita mengejutkan saat mereka telah menjalani tahun kedua di SMA. Jungkook ternyata mengidap kanker hati sejak lama sekali, namun Taehyung sama sekali tidak mengetahuinya.
Alasan Taehyung tetap bertahan di sisi Jungkook bukan karena penyakit Jungkook, melainkan ada alasan lain. Masa lalu Jungkook yang sangat kelam. Masa kecilnya bukanlah masa kecil yang menyenangkan seperti Taehyung atau teman-temannya yang lain.
Jungkook merupakan anak broken home, ayahnya tidak peduli padanya, dan ibunya membencinya. Saking bencinya, saat Jungkook dalam kandungan, ibunya berkali-kali hendak menggugurkannya. Dengan minum pil aborsi, obat-obatan terlarang, bahkan minuman keras. Namun ternyata, Jungkook berhasil lahir dengan selamat ke dunia tanpa kekurangan sesuatu apapun. Tidak kekurangan suatu apapun, iya, namun itu diluar saja. Bahkan sejak lahir, Jungkook tidak pernah diberi kasih sayang dengan layak. Jangankan kasih sayang, bahkan ibunya sama sekali tidak peduli pada Jungkook, tidak pernah menganggap Jungkook ada. Yang sering mengurus Jungkook hanyalah para tetangga yang baik hati.
Efek dari usaha ibunya menggugurkan Jungkook ternyata diterima pemuda berambut hitam itu saat dia menginjak kelas 2 SMP. Akibat dari obat-obatan, pil aborsi, dan minuman keras itu secara tidak langsung merusak organ hati Jungkook dan membuat sel kanker berkembang disana. Karena merasa keberadaannya tidak diinginkan, Jungkook tidak peduli sama sekali dengan kesehatannya sehingga membuat kanker yang dideritanya semakin parah. Tak ada yang tahu ini kecuali para tetangga yang mengurus Jungkook, sampai Taehyung.
Taehyung tahu Jungkook kuat menanggung semua beban masa kecil itu, tapi ada kalanya orang yang kuat pasti lelah, butuh istirahat dan sandaran. Wajah dingin dan angkuh yang selalu diperlihatkan Jungkook itu hanya topeng. Dibaliknya, Jungkook hanyalah seperti remaja biasa yang memiliki batas. Dan saat Jungkook sudah lelah, dengan senang hati Taehyung akan meminjamkan bahunya untuk disandari pemuda berambut hijau itu.
Walaupun Jungkook sering memakinya, mengatakan bahwa Taehyung menjengkelkan, menyusahkan, bahkan mengganggunya sekalipun. Jika Jungkook membutuhkan, Taehyung akan selalu ada disana, bahkan tanpa diminta.
Jungkook punya kesulitan untuk mengungkapkan apa yang diinginkannya secara langsung, pemuda itu lebih memilih menyembunyikan apa yang masih sanggup disembunyikannya.
Taehyung menyayangi Jungkook, melebihi apa yang dia kira. Bahkan apapun akan dilakukan Taehyung untuk Jungkook, apapun.
"Sepertinya Jungkookie sudah tidur," gumam Taehyung pelan, mengelus lembut surai hitam yang sangat lembut itu, menahan perih di hatinya saat melihat rambut hitam itu agak rontok. Bibir Taehyung mengulas senyum getir, bersyukur dalam hati karena wajah Jungkook tidak terlihat menahan rasa sakit yang hebat seperti setengah jam yang lalu. Bahkan terlihat sangat tenang saat tertidur.
Taehyung meninggalkan catatan kecil lalu meletakkannya di dekat nakas sebelum keluar dari ruangan itu.
Jungkookie, aku pulang ya. Besok aku datang lagi. Kalau butuh apa-apa, cepat telpon aku ya. [ Taehyung ]
.
.
.
30 Agustus.
"Kau datang lagi, rupanya."
Taehyung nyengir, duduk di kursi dekat ranjang Jungkook. "Tentu saja. Jungkookie menelponku, tentu saja aku datang," kekehnya.
Jungkook mengerutkan kening, "Aku tidak pernah menelponmu."
"Ah, tapi 7 missed calls dengan nama 'Jungkookie' di ponselku? Jungkookie, apa kau ini dominan tipe tsundere? Pffttt..." kekeh Taehyung, tidak melewatkan bagaimana semburat merah tipis muncul di pipi putih pucat Jungkook sampai ke ujung telinga dengan rahang tegas pemuda itu terkatup rapat. "Kan aku sudah bilang, kalau Jungkookie membutuhkanku, aku akan datang."
Bagi Jeon Jungkook, pemuda berambut cokelat eboni berbentuk mangkuk bernama Kim Taehyung itu sangat menjengkelkan dan mengganggu. Namun Jungkook bersyukur ada Taehyung, atas semua gangguan dari pemuda itu baik sengaja atau tidak. Bisa menarik Jungkook dari zona tenangnya yang menyiksa dan menyakitkan.
"Oh ya, Jungkookie," kata Taehyung bersemangat, membuat Jungkook menoleh, "Tadi aku tidak sengaja melihat kalender, lusa nanti ternyata ulang tahunmu, Jungkookie!"
Wajah Jungkook menggelap, rahangnya mengeras. "Lalu?" tanyanya dingin.
"Jungkookie mau hadiah apa?" tanya Taehyung.
"Entah," balas Jungkook dingin, dan pendek.
Taehyung mengerjap, lalu segera sadar dengan apa yang diucapkannya. "Mi-mian, Jungkookie..." kata pemuda berambut belah tengah itu lirih.
Jungkook membuang pandangan keluar jendela, mengacuhkan pandangan menyesal Taehyung. Taehyung lupa, hari kelahiran Jungkook adalah topik paling sensitif bagi yang bersangkutan. Karena kelahiran Jungkook sama sekali tidak diinginkan oleh ibu kandungnya sendiri. Bahkan Jungkook sendiri merasa lebih baik hari itu tidak pernah ada sehingga dia sendiri juga tidak pernah hadir ke dunia.
Suasana di ruangan itu berangsur canggung dan berat, atau dingin lebih tepatnya. Taehyung masih takut-takut untuk membuka pembicaraan dan Jungkook yang masih tidak ingin menatap Taehyung.
"N-nee, Jungkookie... emm... apa kau punya pacar?" astaga, Taehyung tidak tahu kenapa malah topik itu yang disinggungnya. Ingin rasanya dia menjedukkan kepalanya sendiri ke dinding. Rasanya memalukan.
"Memangnya kenapa kau menanyakan itu?" Taehyung mengerjap mendengar jawaban Jungkook. Tidak disangka ternyata Jungkook membalasnya, padahal selama ini apapun yang dikatakan Taehyung tidak pernah direspon oleh pemuda berambut hitam itu.
"Yahh... aku penasaran saja, soalnya aku tidak pernah melihatmu dekat dengan siapapun."
"Bagaimana kalau aku sudah punya pacar?"
"MWO?!"
Jungkook tersenyum tipis melihat Taehyung tampak panik. Lalu wajahnya mendadak berubah tegang dan pucat, detik berikutnya dia terbatuk, darah mengaliri telapak tangannya. Taehyung yang melihatnya kaget bukan kepalang, dia segera menekan bel darurat untuk memanggil para dokter. Taehyung mengusap-usap punggung Jungkook yang bergetar, mencoba sedikit mengurangi rasa sakit pemuda itu. Jungkook terlihat sangat tersiksa dan kesakitan. Hampir saja air mata Taehyung mengalir turun, melihat Jungkook seperti itu membuatnya merasakan sakitnya juga.
Para dokter berdatangan dan segera melakukan pertolongan pertama pada Jungkook, menyebabkan Taehyung harus keluar jika tidak mau mengganggu kinerja para dokter saat itu.
Taehyung tersandar di lorong koridor, menekap wajahnya, menahan air mata yang hampir mengalir menuruni pipinya. Punggung pemuda itu merosot ke lantai. Bahunya bergetar. Namun Taehyung sudah tidak sanggup lagi, dia tidak tahan melihat Jungkook menderita seperti itu.
"Tuhan..." isak Taehyung pelan, pelan sekali, dan lirih, "Kenapa harus Jungkookie yang mengalami semua ini? Kenapa? Dia orang yang baik, Tuhan... tolong jangan ambil dia secepat ini... dia berhak hidup lebih lama setelah apa yang dia alami. Aku sayang Jungkookie... aku akan lakukan apapun untuk membuatnya tetap hidup."
.
.
.
31 Agustus-keesokan harinya, Taehyung itu kembali mengunjungi rumah sakit untuk membesuk Jungkook yang tengah dirawat disana. Taehyung tampak lemas hari itu, dia kurang tidur seharian. Sebelum pulang dari rumah sakit kemarin, dia menyempatkan diri untuk berbicara dengan dokter yang menangani Jungkook. Katanya, kanker yang diderita Jungkook sudah semakin parah, dia harus segera mendapat transplantasi hati untuk tetap hidup. Namun, donor organ hati sedang kosong, sehingga operasi harus ditunda, dan semakin ditunda, resikonya akan semakin besar.
Taehyung tidak sengaja melihat ke kalender, lalu bergumam pelan, "Ah... besok, ulang tahun Jungkookie. Aku belum memikirkan hadiah apa untuknya. Biarlah nanti dia marah, aku akan menanyakannya."
Tangan Taehyung membuka hendel pintu ruang inap Jungkook, menggesernya. Pemuda itu tengah membaca sesuatu, novel mungkin. Lirikan iris hitam pekat itu menangkap sosok Taehyung yang masuk sambil memasang tampang ceria lagi.
"Berhenti memasang tampang seperti itu, kau jadi semakin terlihat bodoh," celetuk Jungkook, sarkas seperti biasa.
"Hehe, wajahku kan memang seperti ini sejak lahir. Daripada Jungkookie, mukamu kaku sekali, anak-anak pun bakal kabur kalau dipandang begitu olehmu," ledek Taehyung balik, "Oh ya... operasimu akan dilakukan secepatnya ya?"
"Iya, jika donor sudah ada," jawab Jungkook.
Taehyung menarik nafas panjang, lalu melanjutkan, "Jungkookie! Besok kan ulang tahun Jungkookie, Jungkookie mau hadiah apa?"
Wajah Jungkook kembali menggelap seperti sebelumnya, "Kalau kau tahu pun, kau tidak akan bisa memberikan apa yang kuminta."
"Tidak ada salahnya kan? Ayolah, beritahu aku!" pinta Taehyung, "Kalau bisa, aku akan berusaha mengabulkannya! Beritahu aku, Jungkookie!"
"Aku ingin hidup lebih lama lagi dan Kim Taehyung berhenti mengganggu hidupku," jawab Jungkook datar, "Kau bisa mengabulkannya?"
"Hmm..." Taehyung nampak berpikir, lalu tersenyum, "Aku bisa."
"Apa?" Jungkook hampir tidak mempercayai pendengarannya, "Apa kau bilang tadi?"
"Kubilang, aku bisa. Aku akan mewujudkan permintaanmu," Taehyung mengedipkan matanya jenaka, lalu tertawa, "Anggap saja sebagai hadiah dariku, oke? Tunggu saja ya, Jungkookie!"
Kali ini Jungkook yang mengerjap bingung, lalu dia mendengus. "Kau menggelikan, Taehyung," katanya.
Taehyung kembali tersenyum. "Oh ya, aku ingin menemui seseorang dulu ya! Selamat tinggal, Jungkookie!"
Jungkook hanya menatap Taehyung yang keluar dari kamar inapnya dalam diam. Dia menyadari ada yang aneh dengan senyum Taehyung tadi, tapi dia tidak tahu apa. Firasatnya seketika buruk, namun cepat-cepat ditepisnya. "Tunggu..." Jungkook mengerutkan kening, "... 'selamat tinggal'...?"
Pemuda itu kembali menatap nanar pintu yang habis ditutup Taehyung. "Mungkin dia sedang mengerjaiku lagi," gumam Jungkook pelan, mencoba menghibur diri. Namun dia masih merasa tidak enak.
Hati-hati dengan apapun keinginanmu.
.
.
.
01 September.
Jungkook menarik nafas panjang sambil menatap halaman buku didepannya tanpa minat. Dia bukan Namjoon atau Yoongi yang akan melupakan semuanya saat berhadapan dengan buku. Jungkook merasa gelisah, kenapa hari ini Taehyung tidak datang. Berkali-kali kalimat penghiburan dia ucapkan untuk dirinya sendiri, namun itu sama sekali tidak membuat perasaannya jadi lebih baik.
Bukannya Jungkook merasa rindu pada Taehyung-oh yang benar saja, baru 24 jam yang lalu mereka bertemu. Tapi dia hanya ingin memastikan firasatnya. Tadi pagi, dokter mengatakan ada donor hati yang tersedia dan hari itu akan segera dilakukan operasi untuk mentransplantasi organ itu. Setidaknya, Jungkook ingin mengatakan sesuatu pada Taehyung. Dan lagi, kemana pemuda AB yang kelewat hiperaktif itu?
Dan Jungkook ingin memastikan, apakah "selamat tinggal" yang diucapkan Taehyung itu benar-benar "selamat tinggal".
Klek. Pintu kamar inapnya terbuka.
"Taehyung? Kaukah itu?"
Jungkook menghembuskan nafas panjang. Ternyata bukan.
"Jungkook-ssi, operasi lima belas menit lagi dimulai, dimohon bersiap-siap," rupanya itu salah satu perawat yang mengabarkan jadwal operasinya.
"Baik," angguk Jungkook, sementara itu batinnya berteriak. Taehyung... kau dimana?
Jungkook sekarang jengkel bukan main-tidak, dia takut, juga marah. Bukan pada operasi, dia takut karena Taehyung belum muncul juga. Bahkan dihubungi berapa kali pun, nomornya tidak aktif.
"Kau bilang kalau ada apa-apa silahkan telpon, aku memerlukanmu sekarang, kenapa kau tidak datang?" ucap Jungkook tertahan.
Jungkookie...
DEG.
"Taehyung!" kepala Jungkook bergerak liar, mencari sosok Taehyung. Dia bersumpah mendengar suara Taehyung. Betapa ingin sekarang Jungkook melihat sosok Taehyung, bahkan walau hanya cengiran konyol darinya.
Berjuanglah...
Air mata Jungkook tanpa terasa mengalir menuruni pipinya. Dadanya sesak, dia melihat sosok Taehyung, walau samar-samar. Tersenyum padanya.
Klek. Pintu kembali terbuka, kali ini perawat yang satunya lagi. "Jungkook-ssi, jika anda sudah siap," katanya.
Jungkook menarik nafas panjang, menenangkan dirinya lalu mengangguk. "Aku siap," angguk pemuda itu.
Saat hendak keluar dari ruangan, Jungkook sedikit menoleh kebelakang. Melihat ranjang yang selama ini menjadi tempat tidurnya di rumah sakit. Ranjang itu terkena sinar matahari karena dekat dari jendela. Dan entah mata Jungkook kemasukan apa, dia melihat Taehyung duduk diatas ranjangnya, sosoknya tembus pandang cahaya matahari. Tersenyum dan melambai pada Jungkook.
Taehyung...
Tetesan bening yang tadi telah diusap Jungkook kembali menuruni pipi pucatnya itu. Dadanya sesak. Taehyung sudah sangat baik padanya, Jungkook setidaknya ingin bertemu dan mengucapkan maaf serta terima kasih pada pemuda manis itu. Orang yang bersedia selalu setia di sisinya.
Aku ingin sekali bertemu denganmu, Taehyung.
.
.
.
Tiga hari setelah operasi, keadaan Jungkook mulai membaik-jika belum bisa dikatakan sembuh total. Sel kanker itu telah menghilang sepenuhnya. Hari ini Jungkook sudah bisa pulang. Pemuda berambut hitam itu telah kembali ke kamarnya, dia meraba sprei ranjang yang selama ini ditidurinya. Lalu menatap ruangan itu sekeliling.
Ucapan sarkasnya, tawa Taehyung. Semuanya terasa seperti diputar ulang. Membuat dadanya kembali sesak.
Taehyung tidak datang sama sekali, entah ada dimana dia. Jungkook menarik nafas panjang, lalu meraih ponsel miliknya. Taehyung tidak bisa dihubungi sejak Jungkook akan operasi, keberadaannya bagai lenyap tak bersisa. Tanpa jejak. Bahkan temannya yang lain tidak tahu kemana Taehyung.
Jungkook merindukan Taehyung, jujur. Dia rindu melihat tawanya, wajah lucunya, semua tentang Taehyung. Jungkook benar-benar ingin bertemu Taehyung. Ingin berterima kasih atas kesabaran Taehyung saat bersamanya dan ingin minta maaf, karena pasti banyak sekali sikapnya yang membuat Taehyung sakit hati, walau Taehyung sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit hati itu. Taehyung benar-benar baik, terlalu baik malah.
Pemuda itu menarik nafas panjang, "Mungkin aku harus mencari ke apartemennya."
Jungkook menatap kamar inapnya sekali lagi, berusaha menyimpan kenangan dimana Taehyung setia menemaninya di kamar rumah sakit ini. Sebelum tangan itu menutup pintunya. Mengunci semua momen tentangnya bersama Taehyung di kamar inap ini.
.
.
.
Apartemen Taehyung nampak sangat sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran manusia kelewat hiperaktif yang berisik seperti Taehyung. Jungkook menekan bel berkali-kali, sama sekali tidak ada jawaban. Pemuda itu kemudian mencoba mengetuk pintunya. "Taehyung!" panggil Jungkook, " Taehyung!"
Nihil, tidak ada jawaban.
"Ah, kau temannya Taehyungie ya?"
Jungkook menoleh, melihat seorang ibu berusia separuh baya dengan kantong belanjaan di sekitarnya. Pemuda berambut hitam itu hanya mengangguk, "Taehyung dimana ya? Akhir-akhir ini aku tidak melihatnya lagi, ahjumma."
"Oh, kau tidak tahu ya? Taehyung sudah tidak tinggal disini lagi."
"Apa?" Jungkook mengerutkan kening, "Dia dimana?"
"Tidak tahu, tanggal 31 tadi dia meninggalkan apartemen dan hanya mengatakan kalau dia pindah," jawab ahjumma itu, "Mungkin kau harus mencari ke rumah orangtuanya."
"Baik, terima kasih, ahjumma. Aku permisi dulu," Jungkook membungkuk sekilas lalu buru-buru menuju rumah orangtua Taehyung. Jungkook sama sekali tidak pernah berkunjung kerumah Taehyung. Hanya mengingat sekilas tentang alamatnya, Taehyung pernah memberitahukannya pada Jungkook.
Setelah menaiki kereta dan berjalan sekitar 15 menit, Jungkook sampai ke sebuah rumah yang diyakininya rumah Taehyung. Memantapkan diri, pemuda berambut hitam itu menekan tombol rumah Taehyung.
TING TONG.
Klek.
"Permisi, saya sedang mencari Kim Taehyung, apa dia ada?" tanya Jungkook sopan saat bertemu dengan wanita separuh baya yang sangat mirip dengan Taehyung, dugaan kuat dia adalah ibunya Taehyung. Namun anehnya, wajah ibu Taehyung tampak sendu dan-Jungkook benci mengakuinya-sedih.
"Kamu... temannya Tae?" tanya ibu itu lirih, "Jeon Jungkook-ssi?"
Jungkook mengangguk, mendadak merasa tidak nyaman.
"Masuklah," ibu Taehyung tersenyum lemah, "Tae banyak bercerita tentangmu."
"A-ah benarkah? Terima kasih, permisi..." Jungkook melepas sepatunya dan masuk ke dalam rumah Taehyung, lalu duduk di ruang tamu. Suasana rumah itu sebenarnya hangat, namun sesuatu atmosfer yang membuat dada Jungkook kembali sesak dan dia merasakan dorongan ingin menangis, entah kenapa.
Pemuda itu melihat sekeliling, lalu dia tersentak melihat foto orang yang sangat dikenalnya berada dalam pigura hitam besar diatas bufet, dikelilingi rangkaian bunga berwarna putih mengelilingi foto itu. Nafas Jungkook terasa tercekat. Itu kan foto Taehyung, tapi... kenapa diletakkan dalam pigura seperti itu? Itu kan... pigura untuk penghormatan orang yang sudah meninggal.
"Ahjumma, ini... pigura itu... foto Taehyung..." suara Jungkook masih tercekat, sementara ibu Taehyung hanya menatap foto itu sedih.
"Jungkook tidak tahu? Tae..." ibu Taehyung memejamkan matanya, dan Jungkook bersumpah dia ingin tuli saja saat mendengar kalimat selanjutnya, "... sudah meninggal."
Bagai petir menyambar, iris pekat Jungkook membulat. Dia sama sekali tidak percaya. Tidak mungkin Taehyung yang seperti itu sudah meninggal. Apa ini benar-benar Kim Taehyung yang dikenalnya? Kim Taehyung yang selama ini bersamanya? Ini sama sekali tidak lucu bagi Jungkook. Katakan kalau ini hanya bercanda, katakan ini hanya kebohongan, katakan bahwa ini hanya salah satu trik Taehyung untuk mengerjainya dan Taehyung akan datang sambil nyengir ceria dan berkata "kena kau, Jungkookie" seperti biasa.
Atau Jungkook berharap seperti itu.
"Taehyung... jangan bercanda..." suara Jungkook terdengar bergetar, dia menutup wajahnya dengan tangan. Menutupi aliran bening yang entah keberapa kalinya mengalir hari ini dari manik gelap itu, "Kau... tidak mungkin... meninggal..."
Ibu Taehyung menggeleng lemah, "Taehyung meninggal tanggal 31 Agustus, kami baru mengakhiri upacara penghormatan untuknya kemarin, namun pigura itu sama sekali tidak dipindahkan. Jangan menyesali apa yang telah terjadi, Jungkook-ssi."
Jungkook mengangguk, namun tangisnya tetap tidak bisa dihentikan. Dadanya sakit, dia sama sekali tidak bisa menerima kematian Taehyung.
"Jungkook-ssi," tepukan pelan di bahu Jungkook dari ibu Taehyung membuat Jungkook menoleh, "Tae mengatakan kalau dia menitipkan sesuatu untukmu di kamarnya, kau boleh kesana."
Jungkook mengangguk, menyeka air matanya terburu, "Terima kasih, ahjumma."
"Kembali," jawab ibu Taehyung, "Tidak hanya kau, Jungkook-ssi. Kami semua juga kehilangan Taehyungie."
.
.
.
Kamar Taehyung terlihat seperti kamar remaja laki-laki pada umumnya, namun sekarang tampak lebih rapi. Padahal baru ditinggalkan oleh pemiliknya selama beberapa hari, tapi hawa keberadaan Taehyung masih terasa di kamar ini. Jungkook melangkahkan kakinya dan duduk diatas kasur Taehyung, tangannya mengelus permukaan sprei itu. Membayangkan bagaimana Taehyung bangun pagi dengan tampang konyol serta tertidur karena kelelahan begadang untuk bermain game, mau tidak mau membuat Jungkook menerbitkan senyum tipis.
Jungkook mengedarkan pandangan, ada rak buku-Jungkook berani bertaruh bahwa separuh lebih isinya adalah komik dan bukan buku pelajaran, mengingat betapa jebloknya pelajaran anak itu. Dia kemudian menatap meja belajar yang sudah tentu jarang diduduki Taehyung. Dimeja itu ada foto geng mereka sewaktu SMP-Namjoon, Seokjin, Yoongi, Hoseok, Jimin, Taheyung dan dirinya sendiri-dan foto Taehyung bersama Jungkook.
Air mata Jungkook terasa hampir mengalir lagi, namun seketika ditahannya. Jemari Jungkook meraba permukaan foto itu, si pemuda berambut hitam kemudian terkekeh getir, "Aku benar-benar tidak percaya kau sudah meninggal, Taehyung. Berarti setelah kau terakhir mengunjungiku di hari itu adalah hari kau 'pergi'. Kau kejam sekali, Taehyung."
Jari Jungkook kemudian meraba sesuatu yang aneh di dekat pigura foto dirinya dan Taehyung. Sebuah surat? Entahlah, tapi... ada nama Jungkook diatasnya. Jantung Jungkook berdegup tidak karuan, antara takut dan penasaran. Namun akhirnya, dia membacanya juga sambil duduk di kursi meja belajar Taehyung.
Untuk Jeon Jungkook-ssi, atau harus kusebut saja Jungkookie disini? Ahaha, lupakan.
Kalimat pembuka yang bodoh, batin Jungkook, merasakan tetesan bening itu sudah menggenangi pelupuk matanya.
Nee, Jungkookie. Aku ini tidak pandai menulis surat, kau tahu itu kan? Ah tentu saja tahu, kau kan sering menegurku saat aku tertidur waktu kelas bahasa. Aah... aku rindu hari-hari seperti itu.
Aku juga rindu, Taehyung.
Aku menulis surat ini sehabis pulang dari rumah sakit. Aku tidak tahu kapan kau akan membaca surat kacau ini :D tapi, saat kau sedang membaca ini, pasti aku sudah tidak ada di dunia yang sama denganmu, Jungkookie.
Kata dokter, kau harus segera dioperasi, tapi belum ada donor. Operasi jika ditunda, kan jadi makin beresiko. Dan juga... aku pernah bertanya apa yang kau inginkan untuk hadiah untuk ulangtahunmu. Dan kau menjawabnya dengan "Aku ingin hidup lebih lama lagi dan Kim Taehyung berhenti mengganggu hidupku".
Saat itu aku berpikir, ah... aku bisa mewujudkan apa yang Jungkookie inginkan. Kemudian aku memutuskan akan menabrakkan diriku dan membuat surat pernyataan untuk mendonorkan hatiku padamu, Jungkookie.
"Taehyung... aku tidak bermaksud seperti itu," Jungkook kembali merasakan tetesan bening itu untuk yang kesekian kalinya mengaliri pipinya, "Aku sama sekali tidak ingin kau meninggal. Apa artinya aku hidup lebih lama namun kau meninggal? Dasar bodoh, bodoh, bodoh..."
Aku sudah memberikan hadiahku pada Jungkookie, bagaimana? Kau sudah menerima hadiahku bukan? Semoga Jungkookie senang dan sehat selalu, kau harus menjaga kesehatan lho, aku akan menjagamu dari sini. Jaga diri baik-baik ya. Tolong hiduplah lebih lama lagi. Aku memang akan menunggumu disini, tapi awas jika menyusulku cepat-cepat! =3=
Saengil chukkae, Jungkookie! Yah... walaupun sepertinya ucapan selamat dariku datangnya sangat terlambat ya. Hehe...
"Dasar bodoh, hadiahku adalah kematianmu? Kau memang benar-benar bodoh. Kau pergi bahkan sebelum aku mengucapkan terima kasih dan meminta maaf padamu, bagaimana aku bisa hidup dengan baik jika kau tidak ada?" dada Jungkook sekarang sangat sesak, sakit. Kertas berisi tulisan Taehyung itu sekarang ternoda tetesan air mata Jungkook. Pemuda hijau itu tidak kuasa lagi menahan isaknya, "Maafkan aku, Taehyung..."
Hei, Jungkookie. Ini yang terakhir. Aku boleh memohon sesuatu padamu?
Tolong jaga hati itu dan hiduplah lebih lama, ya.
Itu hati dari orang yang mencintaimu.[Kim Taehyung]
"Taehyung, terima kasih," Jungkook tersenyum getir, kali ini membiarkan air matanya mengalir lebih deras, "Aku akan menjaga hati milikmu ini, selamanya."
-T A M A T-
