Actions

Work Header

Colorful: you light up my day.

Summary:

Jeon Jungkook sangat membenci anak-anak. Namun, saat sang ayah menikah lagi dan membawa ibu baru untuknya dengan seorang anak bernama Taehyung, adik tirinya.

Jungkook rasa ia dapat memberikan pengecualian untuk Taehyung.

[KookV half-sibling AU oneshot; published on 2018]

Work Text:

Jeon Jungkook tidak pernah menyukai anak-anak, itu adalah rahasia umum yang semua orang telah ketahui. Rasa enggan tehadap anak-anak masih terlihat jelas bahkan walaupun usianya telah menginjak kepala dua. Jungkook tidak pernah mau memberitahu apa alasannya bersikap seperti membenci anak-anak.

Sebulan yang lalu, ayah Jungkook menikah lagi dengan seorang wanita yang memiliki anak yang usianya setengah usia Jungkook. Jungkook tidak habis pikir kenapa sang ayah masih bisa memikirkan menikah di saat ia seharusnya mempersiapkan diri untuk upacara pemakaman. Usianya tidak muda lagi jika bisa dibilang. Namun, Jungkook sendiri tidak terlalu peduli. Sejak dulu ia tidak pernah dekat sekali dengan kedua orangtuanya seperti anak-anak lain, walaupun ibunya telah meninggal.

Jeon Jungkook pada masa anak-anak maupun remaja, dapat dibilang sebagai batu. Monoton. Kaku. Lurus dan teratur. Abu-abu. Ia pikir untuk apa merasa sedih akan kematian? Toh yang meninggal hanya berpindah alam, bukan menghilang selamanya, bedanya hanya tidak bisa ditemui lagi.

"Kami akan pergi besok untuk sebulan, Taehyung sedang menuju ke rumahmu."

Jungkook tersedak kopi panasnya pagi itu mendengar pernyataan sepihak darik ayahnya. Ia meringis saat cairan panas membuat bibirnya serasa terbakar. "Whoa.... tunggu sebentar." Jungkook mengambil serbet dan tisu untuk mengelap tumpahan kopi di wajah, meja, dan sedikit mengenai pakaiannya. "Kau tahu aku tidak suka anak-anak, kan? Lagipula apa susahnya membawa bocah itu bersamamu dan wanita itu? Dan ini sebulan, astaga!"

Helaan napas terdengar jelas. "Dia itu ibumu sekarang."

Jungkook memutar matanya jengah, "secara hukum, yeah."

"Lagipula Taehyung bukan anak-anak! Sepuluh tahun itu hampir menuju remaja!" ayahnya berseru dengan semangat. Pria itu benar-benar kebalikan sempurna dari Jungkook. "Lagipula kau harus terbiasa dengan anak-anak, Jeon. Umurmu sudah duapuluh. Kau bisa menikah kapan saja."

"Aku tidak akan menikah kalau begitu, minta saja cucu pada Taehyung kalau dia dewasa nanti."

"Ya Tuhan, Jeon Jungkook. Jika kau masih begini, aku tidak akan menyerahkan perusahaan padamu."

"Aku tidak berminat menjadi direktur mendadak, sudah kubilang aku akan mulai dari pekerja biasa, dari nol."

"Oh, omong-omong soal Taehyung, sepertinya dia sudah hampir sampai."

"Kenapa tidak beritahu aku dulu?!"

"Nanti kau kabur, jagoan. Dengan bermacam-macam alasan. Aku tahu sekali watakmu itu. Harus bersiap-siap untuk honeymoon. Taehyung anak yang baik kok."

Sambungan ditutup secara sepihak. Lagi-lagi, Jungkook mendesah berat. Ayahnya itu suka sekali memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang. Lagipula, bagaimana bisa ia tinggal dengan Taehyung sementara ia hanya pernah menyapa dan melihat Taehyung sekali, itu pun hanya pada saat acara pernikahan ayahnya dengan wanita bermarga Kim itu karena ia memang tinggal terpisah sejak usianya menginjak tujuh belas tahun sampai sekarang. Ia tidak tahu sama sekali bagaimana mengurus anak-anak.

Ujung jarinya menyentuh permukaan cangkir, sedikit tersentak saat mendengar suara bel. Ia menghampiri layar interkom, menemukan seseorang (jika itu bisa disebut seseorang karena ia dibungkus mantel bertumpuk dan terlihat seperti gumpalan kain besar yang berjalan) berdiri dengan kepala menunduk.

"Siapa?" Jungkook menyilangkan tangan di depan dada.

Ia terlihat seperti terkejut, buru-buru mengangkat wajahnya yang memerah, kedinginan.

"Aku Taehyung!" ia berseru dengan suara serak, "Kim---maksudku, Jeon Taehyung! Apa ini kediaman Jeon Jungkook-ssi?"

 



Taehyung bergumam senang, ia bersenandung pelan saat merasakan kehangatan mulai merayapinya secara perlahan. Di luar benar-benar dingin, Taehyung pikir ia akan mati beku. Ia membuka satu persatu mantel yang membungkusnya, beserta topi kupluk dan masker karakter bebek, hingga hanya tersisa celana jins dengan sweater. Sungguh lega karena tidak perlu bercengkrama dengan suhu luar biasa dingin di luar, bahkan walaupun sekarang baru pertengahan musim gugur.

"A-ada apa?" Taehyung bertanya canggung saat merasakan tatapan tajam Jungkook, kakak tirinya. Ia telah diberitahu bahwa Jungkook itu tidak suka anak-anak, Taehyung baru menyadari bahwa rupanya peringatan itu bukan main-main.

"Kau ini kurus sekali." Jungkook berkomentar, membawa seluruh tas Taehyung menuju satu kamar kosong di depan kamarnya. Taehyung hanya menatapnya bingung saat kemudian Jungkook melemparkan mantel ke arahnya.

"Apa?"

"Ayo makan. Diluar."

Bocah itu sedikit mengernyit, "Tapi aku baru sampai..."

Jungkook memutar matanya kemudian berlalu melewati Taehyung, "Kalau begitu kau yang jaga rumah."

"Jangaaaaannn!" Taehyung berseru, buru-buru mengikuti Jungkook dan meraih ujung kaosnya, "aku tidak suka sendirian, hyung!"

"Hyung?" Jungkook berhenti tiba-tiba, menyebabkan Taehyung menabraknya. Taehyung meringis. Rasanya seperti menabrak dinding, keras sekali. Begitu pikirnya. "Kenapa kau memanggilku begitu?" Jungkook menolehkan kepala sedikit ke belakang, hanya untuk melihat puncak kepala Taehyung yang jauh di bawah pundaknya.

"Kau sekarang kakakku, kan?" Taehyung mendongakkan kepalanya untuk menatap Jungkook.

"Ah, benar juga."

.
.
.

"Aku ini tidak suka anak-anak jadi aku tidak tahu bagaimana mengurusmu selama satu bulan ke depan," Jungkook berujar sembari mencengkeram setir kemudi. Ia mematikan pendingin dan menyalakan penghangat, "aku harap kau tidak keberatan."

Taehyung menatapnya dengan bola mata yang besar dan berwarna cokelat jernih dengan senyuman lebar. "Aku tahu," Taehyung tertawa, begitu murni dan kekanakan, "appa sudah cerita semuanya."

"Semuanya? Apa saja yang kakek-kakek itu bicarakan?"

"Appa bukan kakek! Dia bahkan tidak punya uban!" Taehyung semakin keras tertawa, "dia bilang aku hanya harus hati-hati. Karena hyung tidak suka anak-anak."

"Dia benar." Jungkook berdecih.

"Tapi kan aku bukan anak-anak lagi."

"Kata siapa?"

"Sepuluh tahun bukan anak-anak, hyung."

"Sudah mimpi basah atau belum?"

Taehyung mengerutkan kening. Ia menaikkan kedua kaki kurusnya dan bersila (jika itu orang lain, Jungkook akan menendangnya keluar mobil) sambil menatap Jungkook dengan raut penuh tanya. "... mimpi basah itu apa?"

"Mimpi basah itu--" Jungkook buru-buru menghentikan kalimatnya, "--tidak, nanti kau akan tahu sendiri dan belum waktunya."

"Hyuuuuungg~" Taehyung mengerucutkan bibirnya kesal, "beritahu aku~ ayolaaahhh~"

Jungkook tetap menolak memberitahu. "Itu rahasia. Jika kau tahu lebih dulu, selamanya kau akan jadi anak-anak. Dan juga," Jungkook mengambil jeda sejenak untuk mengamati ekspresi yang ditampilkan Taehyung, "aku paling benci anak-anak yang rewel dan merengek. Mau kuturunkan di jalan?"

Taehyung yang ingin membuka mulut untuk membalas segera bungkam. Ia mencebik dan menyilangkan tangannya di depan dada. Bergumam penuh kekeraskepalaan tentang "aku bukan anak-anak".

"Hyung..." Taehyung memanggilnya. Jungkook hanya merespon dengan dehaman pendek, pertanda mendengarkan. "Aku akan membuat hyung suka padaku!"

Jungkook hampir menginjak rem tiba-tiba akibat pernyataan yang terlampau mendadak dari Taehyung. Kaget. Bukan karena Taehyung yang berseru mendadak, namun murni karena heran.

Bagaimana bisa omongan bocah berusia sepuluh tahun membuatnya berdebar?

.
.
.

Channel televisi dipindah secara acak oleh Jungkook, seluruh tayangan sama saja baginya, tidak menarik. Mungkin ia hanya membuka televisi untuk melihat perkembangan dunia. Ia hampir mengganti channel yang menayangkan beberapa orang gadis yang usianya sepertinya sepantaran Jungkook tengah menari dengan enerjik sebelum suara pekikan nyaring terdengar.

"Jangan digantiiiiiiiii!" Taehyung berseru, ia buru-buru melompat di samping Jungkook, mengabaikan raut wajah yang lebih tua terlihat begitu kaget.

"I want you pick me up!" Taehyung mendadak melompat dari sofa dan mulai menari-nari mengikuti gerakan para gadis di layar televisi. Lengkap dengan gerakan pinggul dan jarinya yang membentuk segitiga.

Jungkook hampir tertawa melihat Taehyung begitu semangat meniru gerakan para gadis itu. Ia meraih-raih smartphone-nya, membuka aplikasi kamera dan mengubahnya dalam mode video. Bocah itu sepertinya terlalu larut dalam euforianya.

Lagu tadi telah berakhir, Jungkook hampir saja menyetop tindakannya merekam Taehyung, namun urung karena Taehyung seakan mematung. Bahkan walau girlgroup tadi telah memasuki intro untuk lagu kedua mereka. Benda metal persegi itu hampir meluncur jatuh dari genggamannya kala Taehyung memosisikan tangannya di depan dada dengan tangan terkepal.

"Ne neomu neomu neomu! Neomu neomu neomu neomu neomu neomu!" Taehyung kembali bergerak penuh semangat. Jungkook sempat mau terjungkal karena suara Taehyung masih terlampau cempreng, namun jernih dan nyaring. Apalagi dia hapal betul lirik lagu dari awal sampai akhir.

Jungkook sibuk menduga-menduga, berapa lagu lagi yang akan dibawakan girlgroup itu. Ia merasa dapat hiburan tersendiri melihat Taehyung begitu aktif. Apalagi ini dance girlgroup, apa pinggul Taehyung tidak sakit bergerak terus-menerus seperti tadi.

"... you know you get me singin', whatta man whatta man whatta man..."

Jungkook bersandar sambil tetap merekam Taehyung, tidak dapat menahan senyum lebar dan kekehan pelannya melihat Taehyung saat ia kembali menyanyikan lagu berikutnya.

"... neotteme eojireowo, eonjeongil ni saenggak ppun. Dareun nal mothage dwae, oh!" Taehyung bernyanyi dengan sepenuh hati, wajahnya nampak begitu menghayati. Jungkook tidak dapat menahan tawa gelinya saat Taehyung mulai menggerakkan badannya dengan aktif. "... Oh my god, jigeum nae simjangeun crush, boy!"

Ia masih merekam Taehyung yang telah berhenti menari. Bocah itu menarik napas pendek-pendek kemudian menoleh ke arah Jungkook, tepat ke arah kamera. Ia kemudian berseru dengan wajah semerah delima lalu setengah berlari ke arah Jungkook.

"Jangan direkam, hyuuung~" rengeknya, meremat kaus yang dikenakan Jungkook kemudian menarik-nariknya pelan, "tolong hapuuuusss."

Jungkook menggeleng sembari menaikkan sebelah alis menggoda, ia berdiri sambil menaikkan lengannya yang memegang ponsel ke atas agar Taehyung tidak dapat menjangkaunya. "Tidak mau, ini akan menjadi simpanan berhargaku, Tae."

"A-a-aku malu, hyung!" Taehyung dengan kekeraskepalaannya yang tidak bisa diganggu gugat. Ia naik ke atas sofa dan sedikit melompat, berhasil meraih bisep Jungkook dan sedikit menariknya. Namun Jungkook memindahkan ponsel ke lengan satunya, menyebabkan erangan kesal lolos dari bibir Taehyung.

Bocah itu rupanya masih belum ingin menyerah. Ia sedikit berjingkat ke arah Jungkook sehingga ia berjinjit di pinggiran sofa, sialnya belum bisa menjangkau ujung tangan pria itu. Taehyung menggigit bibirnya dan semakin berjingkat. Jungkook diam-diam terhibur melihat bagaimana Taehyung begitu gigih ingin menghapus video yang barusan direkamnya.

"Tae," ucap Jungkook penuh risau melihat posisi Taehyung yang cukup membahayakan, jika Taehyung tergelincir, minimal bocah itu akan terbentur meja dengan keras, "hati-ha--"

"Hyu--waaahh!!" Taehyung mengeluarkan pekikan pelan dengan nada tertahan saat jinjitan kakinya luput menjejak pinggiran sofa.

Jungkook sigap menangkap pinggang Taehyung, namun rupanya Taehyung tidak seringan yang ia kira. Ia sedikit limbung dan akhirnya jatuh terduduk sambil berpegangan dengan sisi meja, beserta berat badan Taehyung di atasnya. "Apa kubilang tadi," Jungkook tidak bisa menahan kekehan pelannya melihat Taehyung menunduk dengan wajah merah.

"Ma-maaf," Taehyung menggigit bibir bawahnya pelan, terlihat agak ketakutan. Ia bahkan tidak berani menatap Jungkook.

"Tidak kumaafkan."

Kalimat mutlak Jungkook membuat Taehyung merinding. Ia tidak berani menatap ke arah manapun, hanya menunduk. Mungkin Jungkook akan marah padanya, kemudian menyuruhnya keluar, juga membiarkannya tidur di luar seperti apa yang sering ia lihat di televisi. Ia ingin beringsut bangkit namun Jungkook menahan lengannya dengan cengkeraman yang terlampau kuat, Taehyung meringis dalam hati, tidak punya nyali untuk bersuara sedikitpun.

"Mau apa, hm? Tatap aku."

Taehyung mendapati dirinya sedikit menggigil, padahal suhu ruangan ini terlampau hangat. Ia memberanikan diri untuk memandang Jungkook, hanya untuk mendapati tatapannya bersirobok dengan netra sekelam gagak. Taehyung berdebar tidak karuan melihat ekspresi Jungkook yang tak terbaca.

"Kau takut padaku?"

"Eng..." Taehyung kesusahan untuk menjawab. Ia ingin membuang pandangan namun seluruh sendi di badannya seperti terkunci, "... ti-ti-tidak."

"Oh," Jungkook menaikkan sebelah alisnya, menolak untuk percaya. "Kau tahu, Tae," telapak tangan Jungkook yang semula berada di pinggang Taehyung merambat naik ke punggung, kemudian memberi remasan ringan di tengkuk bocah itu. Jungkook merunduk untuk berbisik pelan, "aku paling tidak suka anak yang berbohong."

"Ma-ma-maaf." Taehyung gelagapan, tanpa sadar ia menutup matanya. Takut. Jungkook memoles senyum samar mendapati reaksi Taehyung, rupanya menarik juga bermain-main dengan bocah yang satu ini.

"Kubilang aku tidak menerima permintaan maaf." Kalimat yang dilontarkan Jungkook membuat sepasang mata berkelopak runcing milik Taehyung yang tadinya terkatup rapat kini terbuka sempurna.

"Lalu... a-aku harus apa supaya hyung me-memaafkanku?" Taehyung tidak bisa menahan diri lagi, suaranya pecah dan serak. Ia tidak tahu kenapa ia benar-benar takut pada Jungkook sekarang. Jemari kecilnya yang kurus sedikit mencengkeram bagian depan kaus yang dikenakan Jungkook dengan tangan gemetar. Tidak bisa menahan isakan pelan dan matanya yang mulai panas.

"Astaga, apa aku menakutimu?" Jungkook berujar khawatir, buru-buru membawa telapak tangannya menangkup wajah kecil Taehyung. Berusaha melihat wajah Taehyung yang menunduk.

"Aku... mi-minta maaf..." Taehyung mengusap matanya berulangkali, namun air matanya belum berhenti. Ia sesenggukan dengan pundak bergetar. "Aku... a-aku tidak akan mengulanginya..." ucap Taehyung di sela isakan pelannya, "to-tolong maafkan aku..."

Benci. Biasanya Jungkook benci sekali melihat anak-anak menangis seperti Taehyung. Ia akan meninggalkan anak itu tanpa berpikir dua kali. Namun, ini Taehyung. Yang tengah menangis ini Kim Taehyung, atau sekarang telah menjadi Jeon Taehyung, adik tirinya. Ia tidak dapat menahan rasa perih yang menyengat dadanya melihat bocah manis dan sedikit terisak itu kini berusaha menahan tangisnya. Jantungnya seperti diremas kuat. Jeon Jungkook sangat membenci ini.

Koreksi, tepatnya Jungkook benci melihat Taehyung menangis.

"Shush, sudahlah. Aku benci melihatmu menangis." Jungkook mencubit pipi Taehyung. Kedua telapak tangannya menangkup wajah Taehyung, mengusap aliran air mata di pipi Taehyung dengan jempolnya. "Aku memaafkanmu, oke? Aku hanya bercanda tadi." Jungkook tersenyum sembari menjawil ujung hidung Taehyung.

Taehyung membersit hidungnya yang memerah dengan gerakan lucu, menatap Jungkook dengan matanya yang jernih dan cokelat. "Benarkah?"

"Tidak,"

"Hyuuung,"

"Tapi cium dulu."

"Eh?" Taehyung mengerjap, "cium? Apa tidak apa-apa?"

"Tentu." Bahkan, Jungkook sendiri tidak tahu kenapa ia berkata seperti itu. Semacam mekanisme otomatis yang langsung terlontar keluar tanpa peringatan. "Tunggu, kau sudah sering dicium?"

"Eomma sering menciumku," Taehyung tersenyum polos. Jungkook kali ini ingin membenturkan kepalanya pada pinggiran mejanya. Bodoh sekali ia sempat berpikir yang tidak-tidak terhadap bocah yang bahkan hanya berusia sepuluh tahun. Tangan Taehyung terulur, menangkup sedikit garis rahang Jungkook.

Tunggu, bocah ini serius akan menciumnya?

Jungkook dapat melihat kedua kelopak Taehyung menutup, bulu matanya yang panjang menyapu lembut pipinya yang agak sedikit tirus. Ia sedikit terkesiap saat Taehyung menempelkan bibirnya di pipi Jungkook. Ia dapat merasakan tengkuknya meremang tanpa sebab hingga terpaksa meloloskan ringisan pelan.

"Hyung tidak apa-apa? A-aku berat ya?" Taehyung mengernyit khawatir.

"Tidak, tidak apa, hanya sedikit--" Jungkook kehilangan kalimatnya saat menangkap raut wajah Taehyung. Dengan kening berkerut khawatir, kelopak mata yang hanya terbuka setengah dan agak sembab, juga bibirnya yang sedikit terbuka. Jungkook menggeritkan giginya kesal, "--sial."

"Hyung, ada ap---"

Taehyung berjengit saat ia merasa bibir Jungkook meraup bibirnya gemas, kesepuluh jarinya mencari pegangan pada bisep Jungkook. Taehyung sedikit terkejut saat sesuatu yang asing menerobos di sela giginya. Ia tidak tahu kenapa ia merasakan semacam dorongan untuk menutup matanya dan keinginan untuk menangis. Aneh, bagi Taehyung rasanya sangat aneh, namun menyenangkan.

"--astaga!" Jungkook buru-buru menarik dirinya, dijalari rasa panik dan cemas, "Maaf, Taehyung. Aku, kurasa aku sedikit aneh saat mengantuk," dustanya, digerogoti rasa bersalah melihat bibir Taehyung sedikit bengkak, ia menyapu dagu Taehyung yang basah dengan jempolnya, "... lebih baik kita tidur sekarang."

Taehyung mengangguk, ia buru-buru bangkit dan berjalan ke kamarnya. Jungkook menduga Taehyung masih agak syok dan mungkin akan takut padanya setelah ini. Namun asumsi itu buyar saat Taehyung meraih ujung kaos Jungkook dan tersenyum lebar.

"Kau tidak apa-apa?" Jungkook tidak tahan untuk tidak melontarkan pertanyaan.

Jungkook mendapat kerjapan polos dari yang bersangkutan. "Apanya?" Taehyung memiringkan kepalanya ke samping, "memangnya apa yang terjadi?"

"Lupakan," Jungkook mengusak surai cokelat halus Taehyung sekilas, "G'nite."

Soal kebenciannya terhadap anak-anak, mungkin ia dapat memberi pengecualian pada Jeon Taehyung.

.
.
.

"Apa? Tidak mau! Tolong, hyung! Kumohon!" Taehyung berusaha mengambil remote dari tangan Jungkook yang sialnya terlalu tinggi untuk Taehyung yang terlampau pendek. Taehyung menggigit bibirnya kesal, "apa saja asal jangan film horor, hyung. Please?"

"Kita taruhan untuk memilih film untuk ditonton malam ini, dan aku menang," Jungkook masih telampau keras kepala dan kekanakan walau umurnya sebenarnya dua kali lipat usia Taehyung, "jadi kita nonton film ini, oke?"

"Iya, tapi--"

"Laki-laki sejati tidak akan pernah menarik kalimatnya. Apa aku benar, Jeon Taehyung?"

"Eung... terserah..." Taehyung menyerah, ia berjalan lunglai ke sofa, bersila kemudian memeluk bantal karakter singa ukuran besar. Membenamkan wajahnya di sana dan menggumam tidak jelas.

Jungkook tertawa puas, ia duduk di sebelah Taehyung dan segera memutar film yang sudah ditentukan Jungkook. Ia menatap datar layar televisi, tidak terlalu memahami inti cerita karena ia sibuk melirik Taehyung yang nampak begitu kalut. Hampir tidak mengeluarkan suaranya sejak film dimulai, bahkan tidak menyentuh snack yang Jungkook tahu adalah favorit Taehyung.

Bocah itu memeluk bantalnya begitu erat, membenamkan wajahnya hingga hanya terlihat matanya yang bulat dan nampak terguncang. Jungkook didera rasa khawatir yang luar biasa saat mendapati pundak Taehyung mulai bergetar.

"Tae, kau oke?"

Rasanya persis seperti disengat listrik saat Jungkook menyentuhnya. Taehyung mendapati napasnya tersengal tidak karuan, putus-putus dan sesak. Ia sedikit gemetar saat mengalami kontak fisik langsung dengan Jungkook.

"Ma-maaf," lirihnya pelan, begitu pelan. Taehyung memberikan senyum lebar yang amat tidak meyakinkan. "Aku tidak apa-apa, hyung. Sungguh."

"Film-nya masih ingin dilanjutkan?"

"Lanjutkan saja, aku tahu hyung masih ingin menonton."

"Tapi kau terlihat sangat ketakutan, Tae."

"Jangan hiraukan aku! Aku baik-baik saja, hyung. Hehehehe..." Taehyung tertawa kecil, "tapi setelah ini aku langsung tidur ya."

"Kau belum makan malam."

"Tidak apa-apa."

"Kau harus makan."

"Aku akan makan sarapan dobel besok pagi."

"Aku pegang kata-katamu, Taehyung. Jangan coba berkelit besok pagi."

"Yup!"

Seharusnya Jungkook tidak percaya begitu saja saat Taehyung bilang tidak ada apa-apa dan semuanya baik-baik saja.

.
.
.

Jungkook melirik jam di atas nakas. Tepat jam dua lewat lima belas menit. Mendadak merasa tenggorokannya begitu kering. Ia berusaha bangkit untuk duduk, mengabaikan godaan untuk mengabaikan saja rasa hausnya dan kembali tidur.

Ia berjalan pelan dalam remang saat malam telah bergeser ke dinihari. Jungkook sudah hapal diluar kepala tentang seluk-beluk rumahnya sendiri, sehingga ia masih bisa menemukan tujuannya walaupun pandangannya masih buram.

Samar ia mendengar suara tangisan, benar-benar samar hingga Jungkook pikir ia hanya salah dengar, namun sesuatu dalam dirinya mendorong untuk segera mencari tahu. Jungkook bukan penakut, terkadang itulah manfaat memiliki otak kiri yang jauh lebih dominan dibanding otak kanan.

Jungkook meneguk setengah botol air mineral dingin sebelum menyeret langkahnya menuju ruang tengah, tepatnya di sofa. Ia menemukan surai kecoklatan yang begitu familiar tengah meringkuk sambil memeluk lututnya erat. Terdengar suara tangisan yang sepertinya sekuat tenaga ditahan hingga pundaknya bergetar.

"Tae?"

Sekali lagi, Taehyung mengeluarkan reaksi cepat. Ia terkesiap sambil menatap Jungkook lurus, napasnya begitu berantakan dan bibirnya sedikit sobek. Jungkook berani bertaruh itu disebabkan perilaku buruk Taehyung yang suka menggigit bibirnya sendiri saat benar-benar gelisah ataupun ketakutan, namun tidak hingga sobek dan berdarah seperti ini.

"Maafkan aku, hyung!" lirihnya dengan napas tercekat dan bersitan hidung yang membuat Jungkook ingin sekali menyalahkan dirinya sendiri, "aku tidak bermaksud membangunkanmu. Maafkan aku. Maaf."

Jungkook tidak peduli, ia lebih cemas dengan keadaan Taehyung yang kacau. "Kenapa belum tidur? Diluar sini dingin, cepatlah kembali ke kamarmu."

Taehyung menggeleng kuat, berusaha mengatakan sesuatu dengan susah payah, "aku... a-aku takut."

"Kenapa? Dengan film tadi? Apa..." Jungkook mengitari sofa dan menumpukan lututnya di lantai di hadapan Taehyung, menatapnya lekat dengan rasa khawatir yang enggan menghilang, "... kau setakut ini?"

Taehyung menggeleng, menggigit bibirnya keras. Menolak untuk menjawab. Jungkook membawa sebelah tangannya menangkup pipi Taehyung yang basah dengan penuh kehati-hatian. "Jangan gigit bibirmu sendiri, Tae. Ceritalah. Menangis saja. Jangan ditahan."

"Hyung bilang hyung benci melihat orang menangis."

Jantung Jungkook seperti dijatuhi beban berat dan dingin. Ia mencelos. Tidak menduga Taehyung akan memperhatikan hal remeh semacam itu. Ia bangkit dari posisinya, menarik Taehyung dalam kedua lengannya. Merengkuh bocah itu hingga menempel erat padanya dan tenggelam dalam dekapannya.

"Dasar bodoh," geritnya tertahan, ia mengusakkan ujung hidungnya di puncak kepala Taehyung, "itu tidak berlaku untukmu, Tae. Kau boleh menangis sesukamu."

"Boleh aku menangis, hyung?"

Pelukan Jungkook semakin erat, ia hanya mengangguk samar sebagai jawaban. Isakan pelan Taehyung mulai terdengar jelas bersamaan dengan cengkeraman kuat di bagian belakang kaosnya, juga dengan kaos bagian depannya yang basah.

Jeon Jungkook benar-benar merasa bodoh sekarang. Bagaimana jika Taehyung memiliki trauma yang berkaitan dengan film itu? Jungkook tidak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri. Ia tidak bisa. Entah sejak kapan, air mata Taehyung benar-benar kelemahan terbesarnya. Sudah tidak terhitung berapa kali ia mengusap punggung Taehyung malam itu, juga entah berapa ribu kalimat penenang ia bisikkan di telinga Taehyung.

Pelan-pelan, tubuh Taehyung yang sedari tadi tegang mulai rileks. Namun bocah ini masih berada dalam posisinya dan Jungkook tidak ingin melepaskan pelukannya. Ia hanya melonggarkan lengannya sedikit untuk melihat kondisi Taehyung, namun diurungkan saat melipat kelopak mata Taehyung kini menutup erat. Ia bersandar dengan pipinya ke dada Jungkook. Napasnya tenang dan teratur walaupun ujung mata dan hidungnya sedikit merah.

"Maaf." Lirihnya sembari memberi kecupan-kecupan pelan di puncak kepala Taehyung.

Menyadari bahwa ruang tamu tidak bisa dipakai untuk tidur karena suhu yang terlampau rendah walaupun sudah menyalakan penghangat ruangan, Jungkook pelan-pelan merubah posisinya dan mengangkat Taehyung dengan kedua lengannya dalam sekali sentak. Sempat khawatir Taehyung akan terbangun namun untungnya tidak.

Ia membuka pintu dengan gerakan pelan, tak mau mengganggu tidur Taehyung yang nampak sangat pulas. Jungkook meletakkan tubuh Taehyung ke atas ranjangnya dengan begitu hati-hati. Ia tidak bisa membiarkan Taehyung tidur sendiri dan Jungkook tidak keberatan. Ia membuka lengannya saat Taehyung secara instingtif beringsut mendekat ke arahnya, mendekapnya erat dan gestur protektif.

"Maaf, Tae. Seharusnya aku mendengarkanmu."

.
.
.

"Jeon Taehyung, kau bilang apa tadi malam?"

Taehyung menelan ludah, kesepuluh jarinya mengetuk gelisah permukaan meja kaca. Menatap kemana saja asal tidak ke arah Jungkook. Ia sudah memakan roti, bacon, dan telur hari ini (abaikan tomat dan selada yang tergeletak di tempat sampah), namun Jungkook masih memaksanya untuk memakan dua lapis panekuk.

"Aku kenyang..." lirih Taehyung takut-takut, mencoba menatap Jungkook dengan kerutan kecil bibirnya, berharap bisa melunakkan Jungkook kali ini.

Jungkook mengusap wajahnya kesal, ia tidak boleh luluh sekarang. Taehyung sudah berjanji untuk memakan sarapan dobel pagi ini setelah tadi malam bocah itu melewatkan makan malamnya. Jungkook tidak suka melihat Taehyung begitu kurus.

"Tidak, Tae. Makan."

"Kalau aku makan, ini akan cukup sampai makan malam!"

"Ya Tuhan, Jeon Taehyung! Makanlah lebih banyak!"

Taehyung tertawa kecil melihat ekspresi Jungkook yang begitu frustasi. Jungkook menumpukan sikunya di sebelah Taehyung, menatapnya tajam. "Kalau begitu pilih," ucapnya dengan nada rendah, Taehyung merinding mendengarnya, "habiskan panekuk ini atau kau cerita seluruhnya tentang tadi malam."

"A-akan kuhabiskan!" Taehyung menyalak gugup, sendoknya sempat terlepas selagi ia meraih piring semakin mendekat ke arahnya dan menyuap hingga mulutnya penuh.

"Good boy." Jungkook mengacak pelan rambut Taehyung. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah Taehyung, memperhatikan bocah itu makan dengan sedikit belepotan. Ia menyeka krim dan saus karamel di dagu Taehyung dan sedikit mencoreng pipinya, "pelan-pelan, Tae."

Jungkook segera menyodorkan segelas air pada Taehyung yang tersedak, ia mengusap pelan punggung Taehyung dan sedikit menepuknya. "Apa kubilang," gerutu Jungkook.

"Maaf," Taehyung terkekeh pelan.

"Ada apa dengan tadi malam? Kenapa kau menangis?"

Untuk kedua kalinya Taehyung tersedak, Jungkook memutar matanya heran. "Kunyah dulu baru ditelan, dan telan dulu baru bernapas," ucapnya.

"Habisnya hyung terlalu tiba-tiba."

"Jadi kau mau cerita atau tidak?"

"... apa harus?"

"Harus, aku ini kakakmu sekarang, aku tidak mau ada kesalahan lagi," Jungkook mencubit pelan ujung hidung Taehyung, "--astaga, apa kau tidak bisa makan dengan benar?"

"Bisa!"

"Tapi kenapa makanmu berantakan?"

"Itu karena..." Taehyung berpikir keras untuk mencari alasan, "... setiap aku menyuap, mulutku selalu dalam keadaan tertutup?"

"Karena itu buka mulutmu dulu, sayang," Jungkook tertawa keras.

"Kalau aku cerita, hyung janji tidak akan tertawa?"

"Tidak," Jungkook menikmati waktunya bermain dengn surai halus Taehyung, "aku tidak akan tertawa."

"Dulu aku punya teman, seisi kelas tidak mau berteman dengannya karena dia iseng sekali. Tapi tiba-tiba saja kami berteman. Sewaktu kami sedang tidak belajar, dia bilang ingin menunjukkan sesuatu lewat ponsel ibunya." Taehyung mulai berceloteh, "ibunya itu guru di sekolahku. Jadi aku ikut dengannya dan dia menunjukkan video hantu yang benar-benar seram. Hantu itu melotot dan seperti benar-benar menatap kearahku. Aku berteriak kemudian gelap. Dan saat aku bangun, tahu-tahu aku berada di rumah sakit. Sejak saat itu aku tidak pernah berani menonton televisi ataupun tidur sendirian di ruangan gelap."

"Karena itu kau selalu menyalakan lampu kembali setiap aku mematikannya saat kau tidur?"

Taehyung mengangguk, menelan suapan terakhir panekuknya. "Itu konyol kan? Hyung tidak tertawa?"

"Itu tidak lucu, Tae. Seharusnya kau pukul saja temanmu itu."

Taehyung mengerut lucu, "Bagaimana bisa aku memukulnya, aku lebih dulu tidur saat itu?"

"Bukan tidur, Tae, tapi pingsan."

"Apa bedanya tidur dan pingsan?"

"Beda, tentu saja. Tidur itu punya mimpi, tapi pingsan tidak punya."

"Ehm, tapi..." Tae mengulurkan tangannya untuk mengambil tisu basah dan menyeka mulutnya, "... aku pernah tidur tanpa mimpi."

"Benar juga. Mungkin kau bisa tanya gurumu nanti."

"Hyung tidak tahu apa bedanya?"

Jungkook menggeleng, "Tidak tahu."

.
.
.

"Hyung!"

Jungkook buru-buru menangkap tubuh Taehyung yang mendadak melompat ke arahnya, sedikit kesal karena Taehyung selalu tiba-tiba namun ia tidak pernah keberatan. "Pelan-pelan, Taehyung. Ada apa?"

"Aku mendapat telpon dari appa, mereka bilang akan menjemputku lusa nanti."

"Apa?" Jungkook mengernyit, "lusa? Cepat sekali. Rasanya kau baru seminggu disini."

"Apa aku setidakpenting itu sampai hyung menganggap sebulan hanya seminggu. Jahatnyaaaa," Taehyung menggerung kesal, menggelayuti lengan Jungkook dan mengikutinya ke sofa, "lagipula liburanku juga hampir berakhir, hyung!"

"Kenapa kau tidak pindah kesini saja?" Jungkook melonggarkan dasinya, Taehyung menatapnya lekat dan penuh pertanyaan. "Maksudku begini," Jungkook memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan, "kau pindah kemari, tinggal bersamaku."

"Lalu bagaimana dengan sekolahku?"

"Kau akan sekolah disini. Aku bisa mengantar ataupun menjemputmu, lalu kau bisa tanya hal apapun yang sulit tentang sekolahmu padaku."

"Teman?"

Jungkook tertawa, "Kau bisa mencari teman dengan mudah disini."

Taehyung memberikan senyum cerahnya yang begitu lebar, hingga bibirnya membentuk persegi dan menampilkan barisan giginya yang berderet rapi. "Benarkah?"

"Kapan aku bohong?"

Taehyung melonjak senang. "Aku akan hubungi appa."

Jungkook mengangguk, ia beranjak ke kamar untuk mengganti kemejanya. Namun baru ia melempar kemejanya, meninggalkan dirinya topless, Taehyung muncul dengan raut sedih dan ponsel di tangannya.

"Ada apa?" Jungkook menaikkan sebelah alisnya heran.

"Appa ingin bicara," Taehyung mengulurkan ponsel pada Jungkook, kemudian berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya. Kedua lengannya di antara paha, wajahnya masih menampilkan sedikit ekspresi gelisah dan khawatir.

"Ada ap--" ucapan Jungkook dipotong secara mengejutkan.

"JEON JUNGKOOK SIALAN!"

Kening Jungkook berkerut dalam atas teriakan dan bukannya sapaan yang diterima. "TAEHYUNG MENDENGARNYA, KAKEK TUA! DIA MASIH KECIL, JANGAN MENGUMPAT!"

"Taehyung baru saja bilang padaku dia ingin tinggal denganmu, Kook. Kau apakan dia? Apa kau mencuci otaknya? Dia bilang suka padamu. Apa yang kau lakukan pada bocah itu?"

"Aku tidak berbuat apa-apa, astaga!" Jungkook mengusak rambutnya, merasa sedikit kesal, "bukan salahku dia suka padaku! Siapa yang mengirimnya kesini di tempat pertama?!"

"Tapi kau bilang kau benci anak-anak!"

"Mana bisa aku membenci adikku sendiri, hah?"

Jeda sejenak. Ada sunyi yang benar-benar mencekam sebelum terdengar suara dari seberang ponsel. "Kau yakin bisa menjaganya?"

"Seratus persen yakin."

"Kau yakin bisa mengurusnya?"

"Seperti katamu, dia anak baik."

Kemudian terdengar tawa keras. "Seharusnya sejak awal saja Taehyung tinggal denganmu. Semua keperluan dan barang-barangnya akan dikirim besok. Terjadi sesuatu padanya, aku akan datang memenggal lehermu, Jeon Jungkook."

"Kakek tua sialan."

"AKU BELUM TUA, BOCAH BENGAL."

"AKU BUKAN BOCAH."

Sambungan terputus pada detik berikutnya, ia menoleh ke arah Taehyung. "Kau dengar itu?" Jungkook mengembalikan ponsel itu.

"Aku dengar!" Taehyung kembali melompat ceria dan memeluk leher Jungkook kelewat bersemangat.

"Ow, ow. Pelan-pelan."

-T A M A T-

 


[Cerita tambahan]

"Hai, Taetae!"

Taehyung menoleh sambil mencengkeram tali tas sekolahnya, sedikit terkejut. "Uh, hai... Jimin?" balas Taehyung dengan senyum lebar.

"Kau mengingatku!" bocah yang memiliki surai cokelat seperti Taehyung itu membalas senyum lebar Taehyung hingga matanya menyipit, melengkung menyerupai bulan sabit. "Kenapa belum pulang?"

"Aku menunggu hyung-ku."

"Kau dijemput?"

Taehyung mengangguk, "kau tidak?"

"Tidak, rumahku dekat sini. Mampirlah nanti." Jimin terkekeh pelan.

"Aku akan mampir nanti!"

"Mau makan es krim dulu?"

"Aku mau tapi--" Taehyung menunjuk pada sebuah mobil yang baru saja datang, "--hyung sudah menjemputku."

"Baiklah, lain kali saja. Aku duluan, Taetae. Sampai besok!" Jimin melambai semangat.

"Sampai besok!" Taehyung membalas tidak kalah semangat. Sekolah baru rupanya tidak seseram yang ia duga. Semuanya cukup ramah dan menyenangkan. Kemudian ia menoleh pada Jungkook yang berjalan sambil melempar senyum mendekatinya.

Ia seketika mengerucutkan bibirnya kesal melihat beberapa wanita mengajak Jungkook bicara. Ia menyilangkan lengannya di depan dada sambil menghentak kesal. Ia menunggu namun sepertinya para wanita itu tidak akan melepaskan Jungkook dalam waktu dekat.

"Hyung!" Taehyung berseru nyaring, ia setengah berlari ke arah Jungkook dan memeluk lengannya, "aku lapar sekaliiiii, ayo pulaaaaang."

"Oke, oke. Kita pulang," Jungkook mengacak surai cokelat Taehyung gemas dengan tangannya yang bebas, ia membungkuk sopan pada para wanita tadi, "Permisi."

Taehyung duduk diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun semenjak Jungkook mulai menjalankan mobilnya menjauhi area sekolah. "Apa Jeon Taehyung sedang merajuk?"

"Iya!" Taehyung membalas dengan nada tidak suka.

"Kenapa?"

"Aku tidak suka hyung dikerumuni seperti tadi, aku tidak suka hyung tersenyum pada mereka tadi, aku--" ucapan Taehyung terhenti saat mendapat kecupan sekilas di pipinya. Ia merengut sambil mengusap pipinya, "Hyung itu milikku."

"Iya, Tae. Maaf." Jungkook tersenyum sambil kembali mengalihkan pandangannya ke depan, "Bagaimana di sekolah?"

"Menyenangkan." Raut kesal Taehyung hilang, digantikan senyuman lebar dan sumringah, "Banyak sekali teman baru, nanti bolehkah aku mampir ke rumah Jimin?"

Kali ini ganti kening Jungkook yang berkerut dalam. "Siapa itu Jimin?"

"Teman sebangkuku, boleh kan? Boleh ya? Ya? Ya?"

Jungkook sedikit enggan menjawab, namun ia tidak bisa menolak harapan yang terpantul jelas dalam iris hazel hangat milik Taehyung. Tidak tega. "Hanya jika kau menjadi anak baik."

"Yeaay! Hyung, aku mau crepes dan es krim!"

"Cium dulu."

Jungkook sengaja melambatkan laju mobilnya saat Taehyung mendekat ke arahnya. Tersenyum saat menerima kecupan Taehyung di pipinya. "Hyung," panggilan Taehyung membuatnya menoleh, ia mendapati wajah Taehyung memerah secara tidak wajar. "Tae, kau sakit?" tanyanya cemas.

Taehyung menggeleng, "Boleh aku minta sesuatu?"

"Apa?"

"Bisa... bisa..." Taehyung memainkan jarinya gugup, "bisakahhyungmenciumku?"

"Tunggu, apa? Pelan-pelan saja, aku tidak bisa mendengarmu." Jungkook berdusta, ia bisa mendengar apa yang dikatakan Taehyung dengan jelas, namun menggoda bocah ini bukanlah ide yang buruk.

"Aish, hyung!" Taehyung menutup wajahnya dengan telapak tangan, merasa luar biasa malu, "bisakah hyung menciumku? Please?"

"Kenapa? Bukankah aku sudah sering menciummu?"

"Bukan cium seperti itu, maksudku... disini," Taehyung menunjuk bibirnya ragu, "... seperti malam itu."

Jungkook tersenyum lebar, ia menghentikan mobilnya tepat di pinggir sungai. Melonggarkan seatbelt kemudian menarik Taehyung mendekat ke arahnya. Meniup pelan bibir Taehyung, "Kau ingat pernah bilang akan membuatku suka padamu, Tae?"

Taehyung mengangguk tertawa kecil, "Kenapa?"

"Bocah licik, aku jadi benar-benar suka padamu." [ ]

Series this work belongs to: