Work Text:
Kim Taehyung menyeret langkahnya sambil mengunyah muffin cokelat di tangannya menuju kamar Kim Taeyeon yang terus menimbulkan suara berisik dan benda jatuh. Padahal baru limabelas menit yang lalu ibunya sampai di rumah.
"Eomma, ada apa?" Taehyung mengintip di balik pintu kamar. Sedikit heran melihat wanita yang telah melahirkannya itu kini sedang mengosongi lemari pakaiannya dan memasukkan semua barangnya ke dalam tiga koper besar.
Taeyeon menoleh sembari tersenyum lembut, "Taehyungie. Kau sudah siap, sayang?"
Sepasang iris hazel gelap itu mengerjap penuh tanya. "Siap apa?"
"Tunggu, apa kau tidak mengecek ponselmu?" Taeyeon bergerak ke arah Taehyung, "Eomma sudah mengirim pesan padamu setengah jam yang lalu untuk segera mengepak semua barangmu. Kita akan pindah ke Seoul."
"Ponselku mati." Taehyung mengusap tengkuknya. "Untuk apa kita ke Seoul, eomma?"
"Hmm... ceritanya panjang. Sekarang lebih baik kau segera mengemasi barangmu karena kita akan menetap disana." Taeyeon tertawa pelan sambil mendorong Taehyung dengan hati-hati. "Nah, bergegaslah. Jangan sampai terbentur sesuatu, oke?"
Taehyung hanya bisa mengangguk sambil berjalan ke arah kamarnya dan mulai memasukkan apa yang ia perlukan ke dalam tasnya, sekaligus berhati-hati agar tubuhnya tidak mendapat benturan yang menyebabkan kulitnya memar. Ia mengambil beberapa pakaian, semuanya satu tipe, karena toh ia tidak akan pergi keluar rumah. Faktanya ia memang jarang sekali keluar rumah. Mungkin dalam enam bulan bisa dihitung jari.
Tak lama kemudian, Taeyeon datang dan membantunya mengepak dengan gesit. Wanita itu masih cantik, kuat dan lincah saja. Taehyung tersenyum dalam hati, diam-diam bangga dengan ibunya itu.
"Eomma."
"Iya, sayang?" Taeyeon telah selesai mengepak buku-buku Taehyung. Hanya buku yang diperlukan seperti buku pelajaran, karena sisanya nanti bisa menyusul. Ia terkekeh saat Taehyung melipat celananya agak berantakan.
"Apa kita akan bertemu appa?"
Taeyeon tertawa, "Iya. Tentu saja. Kita akan tinggal dengan ayahmu."
"Sebenarnya ada apa, eomma? Kenapa mendadak begini?" Taehyung mengambil ketiga boneka singa miliknya, ia kemudian memasukkan dua bonekanya ke dalam tas dan yang satu dibiarkannya berada di atas ranjang, Taehyung ingin memeluknya saat pulang nanti.
"Hummm..." Taeyeon bersenandung lembut, Taehyung selalu suka saat ibunya bernyanyi walau hanya dengungan nada pelan. "Usiamu sudah tujuhbelas kan sayang?"
Taehyung mengangguk, duduk di atas ranjang sambil memeluk boneka singanya yang berukuran setengah tubuhnya. Menatap Taeyeon yang membereskan beberapa pakaiannya. "Aku dan ayahmu akan semakin sibuk, karena itu aku ingin Jungkook menjagamu. Lagipula kalian juga sudah tujuhbelas."
Jungkook? Taehyung mengerutkan kening samar. "Siapa dia, eomma?"
"Kamu lupa? Dia adik kembarmu." Taeyeon menoleh, kemudian mengangguk pelan seakan telah memperoleh kesimpulan. "Ah, tentu saja, kalian berpisah saat usia kalian lima tahun."
"Eomma tidak pernah cerita!" Taehyung berseru kesal.
Taeyeon terkekeh gemas, "Kau tidak pernah menanyakannya, sayangku."
"Tapi, eomma. Kenapa kami dipisah? Kalau kami saudara, kenapa tidak tinggal bersama dari dulu saja? Kenapa harus dipisah?" Taeyeon meringis dalam hati, sudah menduga bahwa Taehyung akan mencecarnya dengan pertanyaan beruntun.
"Ini karena wasiat nenekmu, sayang. Menurut nenekmu, saudara kembar harus dipisah saat tumbuh besar dan baru bisa dipertemukan kembali saat mereka telah dewasa." Taeyeon tersenyum saat melihat kerutan di kening Taehyung mulai menghilang.
"Kenapa harus begitu?"
Taeyeon memiringkan kepalanya sambil menatap ke arah lain, berpikir. "Mungkin agar masing-masingnya mandiri." Taeyeon kembali menatap kearah Taehyung. "Saudara itu, apalagi saudara kembar akan saling bergantung satu sama lain. Nenekmu tidak ingin salah satu dari kalian terlalu bergantung dan manja."
Taehyung mengangguk-angguk, paham.
"Nah, sebentar ayahmu akan menjemput kita." Taeyeon beranjak berdiri, "Ayo kita bereskan yang lain."
Taehyung mengangguk kemudian berjalan mengikuti Taeyeon. "Tapi bagaimana dengan Seokjin-hyung dan Jisoo-hyung, eomma?" tanya Taehyung lagi.
"Hmm. Kita akan menemukan dokter dan mentor pribadi yang baru."
"Tapi aku ingin Seokjin-hyung dan Jisoo-hyung."
"Mereka akan berkunjung jika mereka punya waktu, sayang."
"Heung..." Taehyung memajukan bibir bawahnya, merengut.
"Oh iya." Taeyeon tiba-tiba berbalik, membuat Taehyung hampir menabrak tubuh kurus Taeyeon yang hampir sama dengannya. Taehyung menaikkan sebelah alisnya penuh tanya. "Marga Kim yang kita gunakan akan berganti. Mulai sekarang namamu bukan Kim Taehyung, tapi Jeon Taehyung."
Taehyung memiringkan kepalanya. "Jeon Taehyung?"
.
.
.
"Mau mampir, Park?"
Jimin mengibaskan tangannya, "Tidak perlu, Jeon, aku harus segera pulang. Nanti kapan-kapan aku datang."
Jungkook menarik seringai. "Untuk mengalahkanku di game NBA Play 2026?"
"Tentu saja, aku harus mengembalikan harga diriku, man." Jimin tertawa, menyembunyikan matanya melengkung manis berbentuk bulan sabit saat tertawa di dalam helm.
"Nah, baik game ataupun sebenarnya, kau tidak akan bisa mengalahkanmu. Terima kenyataan."
"Akan kubuat kau menjilat sepatuku, bocah tengik."
"Coba saja, pendek."
Jimin berdecak, namun masih tersenyum lebar. Ia meninggalkan Jungkook dengan motor besarnya yang berwarna putih mengilat. Jungkook mengangkat bahu, melajukan motor merah menyala yang dikendarainya masuk ke dalam pekarangan rumah besarnya.
Ia sudah tinggal di rumah ini, di Seoul, selama setahun setelah sebelumnya menetap di Busan bersama ayahnya. Ia bertemu dengan Park Jimin, yang ternyata juga berasal dari Busan, namun logatnya tidak sejelas Jungkook. Mereka akrab dengan cepat, Jungkook dan Jimin punya banyak kesamaan yang menyenangkan.
Jungkook jarang bertemu ibunya, ayahnya juga lebih sering bekerja. Ia hanya sesekali bertemu ibunya yang kata ayahnya tinggal di Daegu. Ibu yang menurutnya sangat cantik. Jungkook masih belum mendapat kejelasan tentang kenapa ibunya tinggal di Daegu sementara ia dan ayahnya sama sekali tidak memiliki masalah apapun. Ia hanya tahu bahwa ibunya bersama dengan saudaranya, entah kakaknya atau adiknya, Jungkook tidak terlalu ingat dan sama sekali tidak berminat untuk mencari tahu.
Jungkook melepas blazer cokelat tua yang membalut tubuh tegapnya. Bahkan juru masak dan pelayan di rumahnya tidak percaya bahwa Jungkook hanya berusia tujuhbelas tahun dan tengah duduk di bangku sekolah menengah atas. Ia tampak seperti pria dewasa yang matang dan tenang, sekaligus angkuh juga dingin.
Jungkook melirik ke arah jam dinding saat dirinya berjalan ke arah dapur untuk mencari air mineral dingin, sudah jam tujuh lewat. Sebenarnya ia tidak ingin pulang cepat hari ini, namun ayahnya mengirimi pesan agar ia harus berada di rumah sebelum jam delapan. Mau tidak mau Jungkook harus menepatinya dan membiarkan keempat temannya bermain di arena street basketball tanpa dirinya.
Likuid hambar dan dingin perlahan menelusuri tenggorokannya, memberikan sensasi segar yang membuatnya meloloskan desahan pelan penuh kepuasan dalam suaranya yang rendah. Ia beranjak menuju kamarnya. Badannya cukup berkeringat sehabis bermain skateboard dan berlatih kickboxing di gym sekolah dan pikiran akan guyuran air dingin di sekujur tubuhnya benar-benar menggoda untuk segera dilakukan.
Jungkook keluar dari kamarnya setelah mengenakan kaus putih dan celana hitam longgar selutut, ia menggasak rambutnya yang masih setengah basah dengan handuk kecil. Sekarang sudah jam delapan lewat dan ayahnya belum datang juga.
Pintu ruang tengah mendadak menjeblak terbuka tepat saat Jungkook berpikir lebih baik ia keluar malam ini daripada tidak ada yang bisa dilakukannya dirumah selain tidur. Ia menoleh, menemukan sosok ayahnya, Jeon Jaebum. Diiringi oleh seorang wanita bertubuh mungil dan kurus, terlihat begitu cantik dan bercahaya.
"Jungkookie!" Wanita itu terpekik saat melihatnya, ia berjalan cepat dan berakhir memeluk Jungkook erat. "Lama tidak bertemu, Jungkookie. Kau sudah besar sekali, sayang." Tawa wanita itu begitu manis dan menyenangkan, membuat Jungkook menarik senyum.
"Terima kasih, eomma."
"Taehyungie, ayo kemari. Ini adik kembarmu, Jungkook." Jungkook melihat Jaebum tengah merangkul seorang pemuda yang hampir sama kurusnya dengan ibunya, Taeyeon, hanya sedikit lebih tinggi. Jaebum merangkul pemuda itu dengan begitu hati-hati, membuat Jungkook menaikkan sebelah alisnya heran.
"Selamat malam, Jungkook-ssi... aku Ki--ah, maksudku Jeon Taehyung." Pemuda itu membungkuk di hadapan Jungkook, rambutnya yang halus dan berwarna cokelat gelap mengumpul di depan keningnya saat ia membungkuk.
"Jangan terlalu formal." Jungkook tersenyum dalam hati melihat Taehyung yang tengah menatap canggung kearahnya. "Kau kakak kembarku, bukan? Jadi jangan membungkuk di depanku."
Taehyung mengangguk sambil mengusap tengkuknya, kebiasannya jika sedang gelisah. Ia hampir tidak percaya bahwa seseorang bertubuh tegap dan lebih tinggi ini adalah adik kembarnya. Matanya hitam sempurna dan tajam dengan rahang yang begitu kuat dan tegas. Lengannya jauh lebih besar dari Taehyung, sosoknya tampak sangat kuat, jauh lebih kuat dibanding Taehyung sendiri. Jeon Jungkook dalam definisi Taehyung... terlihat begitu tidak nyata. Seperti ilusi.
"Taehyung? Ada apa?" Lamunan Taehyung sejenak buyar oleh panggilan Jungkook.
Taehyung menggeleng cepat. "Tidak ada apa-apa."
"Jungkook, antar Taehyung ke kamar sebelah kamarmu." Perintah Jaebum. Jungkook mengangguk, namun sebelum ia berjalan, Jaebum kembali bersuara. "Ah, tolong awasi Taehyung agar tidak terbentur atau menabrak apapun, juga jangan biarkan ia membawa sesuatu yang berat."
Jungkook menaikkan sebelah alisnya heran. Kenapa sepertinya Taehyung begitu dilindungi? Ada apa sebenarnya?
"Appa, aku bisa sendiri. Aku sudah kuat." Taehyung terkekeh pelan sambil mengangkat ransel berwarna hitam yang dibawanya. Tidak melihat tali tas lain yang ada di hadapannya.
"TAEHYUNG!" Taeyeon dan Jaebum serempak terpekik melihat tubuh Taehyung limbung. Beruntung Jungkook tepat berada di hadapan Taehyung sehingga ia bisa menyambut kakak kembarnya itu sebelum membentur lantai keramik.
"Kau ikuti aku saja, Taehyung." Jungkook menepis segala rasa penasarannya untuk malam ini, ia kemudian mengambil seluruh barang Taehyung dan membawanya naik ke atas dengan pemuda itu mengikutinya. Satu-satunya yang dibawa Taehyung hanyalah boneka singa yang sedari tadi dipeluknya.
.
.
.
"Kau ingat Kim Namjoon, Taeyeon? Adik kelasmu itu. Dia dokter yang hebat. Aku kenal dua mentor yang gaya mengajarnya mungkin cocok untuk Taehyung."
Jungkook yang turun ke bawah untuk mengambil minum seketika terhenti saat mendengar pertanyaan dari Jaebum. Ia memutuskan untuk menguping sebentar. Taehyung masih di kamarnya, mungkin sedang membereskan barangnya, mandi, atau beristirahat, mengingat perjalanan dari Daegu ke Seoul tidak bisa dibilang singkat.
"Sebenarnya aku tidak peduli apakah mereka hebat atau tidak. Aku hanya ingin memastikan apakah mereka bisa membuat Taehyung nyaman."
Mentor? Apa Taehyung akan menjalani home schooling? Kenapa tidak sekolah biasa saja sepertiku? Jungkook mengernyitkan keningnya. Ia tidak pernah menyukai ide tentang home schooling. Terikat. Membosankan. Kaku.
"Aku bisa memastikannya. Kita coba kenalkan mereka pada Taehyung dan lihat perkembangannya. Jika tidak cocok, aku bersedia membawa mentor dan dokter terdahulunya."
Taeyeon tertawa pelan, "Tidak perlu sampai seperti itu, Jae."
Jungkook melihat ayahnya tersenyum lembut, Jungkook hampir lupa bagaimana ayahnya jika tersenyum. Ia jarang sekali bertatap muka dengan Jaebum yang super sibuk itu.
"Tentu saja aku harus sampai seperti ini, Yeon. Aku tahu bagaimana takutnya kau kehilangan Taehyung seperti kehilangan ibumu. Kau tenang saja. Dari pagi sampai siang ia akan bersama mentor dan dokternya, kemudian Jungkook akan mengawasinya. Taehyung akan baik-baik saja."
Jungkook mengurungkan niatnya untuk mengambil softdrink, ia kembali naik ke kamarnya. Ya, benar, neneknya telah meninggal. Jungkook tahu itu. Beliau meninggal saat dirinya masih sangat kecil, namun Taeyeon bilang bahwa neneknya itu hanya sedang sakit. Apakah Taehyung punya penyakit yang sama seperti neneknya?
Pemuda itu tidak tahu kenapa ia sekarang berada di depan kamar kakak kembarnya, namun tangannya sudah mengetuk pintu kamar Taehyung. Jungkook tidak tahu, ia hanya merasa bingung dan harus mencari seseorang untuk bicara.
"Tunggu." Suara serak terdengar dari dalam sana. Jungkook menahan napas sejenak saat pintu terbuka, memperlihatkan sosok Taehyung yang hanya memakai kaos biasa dan celana panjang, dengan ponsel di genggaman tangan kanannya. Kaos itu benar-benar besar, menanpilkan kulit pundaknya. "Jungkook? Ada apa?"
"Aku ingin bicara. Boleh aku masuk?"
Taehyung mengangguk, memberi jalan bagi Jungkook dengan menggeser tubuhnya ke samping. "Aku akan menutup telponnya, hyung. Iya, aku pasti minum obatnya dengan teratur." Taehyung memasukkan ponsel ke dalam sakunya, Jungkook duduk diatas ranjang Taehyung, sementara kakaknya itu menutup pintu kemudian duduk disebelah Jungkook.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Kudengar..." Jungkook terpana sejenak melihat iris teduh berwarna hazel gelap itu.
"Kau mendengar apa?" Suara Taehyung renyah dan menyenangkan, Jungkook sepertinya harus sering-sering mengajak Taehyung bicara.
"Apa kau akan home schooling ?"
Taehyung tersenyum, "Iya."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau membuat eomma khawatir." Taehyung membaringkan tubuhnya, Jungkook menaikkan kakinya kemudian bersila diatas ranjang. Memutar sedikit posisinya agar bisa menatap wajah Taehyung.
"Bisa ceritakan padaku?"
Taehyung mengeluarkan tawa pelan. "Saat aku masuk sekolah dasar, aku pernah jatuh, kemudian mendapat luka di kakiku. Kepalaku pusing dan mataku berkunang-kunang. Kemudian yang kuingat hanyalah aku terbangun di rumah sakit, eomma menangisiku terus menerus dan tidak mau melepas pelukannya dariku. Eomma terlihat sangat ketakutan dan aku tidak ingin melihatnya seperti itu lagi."
Jungkook mengangguk. "Apa saat itu luka di kakimu parah?"
Taehyung menggeleng, "Sebenarnya bagi orang biasa, itu bukan hal serius. Hanya saja aku yang terlalu lemah."
"Apa kau senang dengan home schooling, Tae?"
Taehyung mengalihkan pandangan dari langit-langit kamarnya kearah Jungkook yang ternyata juga tengah menatapnya lekat. "Menyenangkan. Jisoo-hyung dan Seokjin-hyung orang yang baik. Atas alasan apa aku harus tidak senang?"
"Kau tidak ingin keluar? Bermain dan berbaur dengan banyak orang? Tidak bosan dengan hal yang sama setiap hari?"
"Aku ingin. Aku sangat ingin." Taehyung memejamkan matanya, tertawa dengan nada pahit. "Tapi aku tidak bisa. Aku hanya tidak bisa."
Jungkook menarik napas panjang. "Aku akan membawamu keluar nanti."
Mata Taehyung yang tadi terpejam kini terbuka penuh harap. "Apa? Kau serius?"
"Tentu." Jungkook tanpa sadar tersenyum, "Aku hanya perlu menjagamu, kan? Tidak ada yang melarangmu untuk pergi bersamaku."
Taehyung bangkit duduk dengan antusias, ia mengulurkan jari kelingkingnya pada Jungkook. "Janji? Pinky swear? "
Jungkook tidak bisa menahan tawa melihat tingkah menggemaskan Taehyung. Tidak percaya bahwa pemuda di hadapannya ada di usia yang sama dengannya dan adalah kakak kembarnya. Namun, ia mengaitkan jari kelingkingnya, menautkan miliknya pada Taehyung. "Janji."
.
.
.
Jaebum memperkenalkan Taehyung pada Min Yoongi dan Jung Hoseok, kedua mentornya. Taehyung membungkuk dalam untuk memberikan salam dan memperkenalkan dirinya sendiri. Awalnya canggung, namun Hoseok pada dasarnya adalah orang yang ceria, mudah berbaur dan bersahabat, sehingga ia bisa cepat mengakrabkan diri pada Taehyung. Yoongi yang lebih pendiam, tidak banyak bicara dan hanya tersenyum samar itu secara mengejutkan dapat membuat Taehyung merasa tenang, aman dan nyaman.
"Apa yang ingin kau pelajari lebih dulu, Taehyung-ah? Pelajaran eksak ada di tangan Yoongi, bagianku hanya non-eksak." Hoseok tersenyum lebar.
"Menurutku yang mana saja tidak masalah, songsaenim." Taehyung membalas sopan.
"Aish, jangan memanggilku seperti itu. Panggil saja aku dan Yoongi-hyung dengan 'hyung'. Apa aku terlihat setua itu?" Raut merajuk Hoseok membuat Taehyung menyemburkan tawanya. Hoseok menoleh kearah Yoongi yang tengah melihat laporan home schooling Taehyung yang dulu. "Bagaimana, Yoongi-hyung?"
"Kau cerdas sekali, Taehyung. Kau bisa menerima pelajaran eksak dan sosial sekaligus dengan baik. Pemahamanmu akan numerik juga luar biasa. Wow." Yoongi seakan berguman pada dirinya sendiri. "Bagaimana dengan satu jam pertama untuk Fisika, kemudian dilanjutkan dengan Kebudayaan, setelahnya Sejarah dan yang terakhir adalah Bahasa Inggris? Jaebum bilang kau akan bertemu dengan seorang dokter sekitar pukul sepuluh."
"Whoa, terdengar bagus." Hoseok mengangguk. "Apa kau sudah siap, Taehyung? Jika sudah, mari kita mulai sekarang."
Taehyung mengangguk, membuka-buka buku tulisnya untuk mendengarkan pelajaran pertama dari Yoongi. Cara Yoongi mengajarinya benar-benar tipe kesukaan Taehyung. Langsung dan simpel. Jika benang kusut adalah soal, maka Yoongi mengajari Taehyung untuk mengambil benang utamanya dan mengurainya dengan cepat serta menggunting bagian yang tidak perlu. Taehyung mulai meragukan apakah pelajaran di sekolah biasa memang sesulit ini? Ia sering membaca bahwa setiap pelajar selalu mengeluh kesulitan dalam pelajaran.
"Aw." Taehyung merintih pelan saat lututnya tebentur pinggiran meja di pelajaran Bahasa Inggris. Sama sekali tidak keras, namun memunculkan memar di lututnya yang sedikit tersingkap karena ia memakai celana pendek longgar.
"Ada apa, Tae--ya tuhan, bagaimana bisa lututmu sememar itu?" Hoseok nyaris menahan napasnya.
Taehyung terkekeh pelan. "Yahh... tubuhku sedikit sensitif, hyung. Tidak apa-apa."
Yoongi bergumam pelan saat memeriksa lutut Taehyung, "Jika benturan sepelan tadi bisa membuatmu memar sampai seperti ini, berarti kau tidak boleh mengalami luka. Benar kan, Taehyung?"
Taehyung mengangguk. "Apa Yoongi-hyung dokter?"
Yoongi terkekeh, ia menggeleng. "Bukan, tapi isi kepalaku memang mungkin bisa setara dengan dokter, jika boleh berbangga."
Bel rumah Taehyung mendadak berbunyi. Seorang pelayan beranjak membuka pintu. "Mungkin itu dokternya." Yoongi melirik ke jam dinding. "Sudah jam sepuluh."
"Kurasa aku harus menyambutnya." Taehyung berdiri pelan-pelan, selain menahan sakit juga agar ia tidak mendapat benturan lain.
"Yoongi-hyung..." Hoseok berbisik pelan pada Yoongi saat Taehyung menjauh. "Apa Taehyung benar-benar mengidap penyakit itu?"
Yoongi mengangguk. "Persis seperti yang dikatakan Jaebum. Keadaannya semakin parah entah kenapa."
.
.
.
"Jungkook-ah, bagaimana sekolahmu?"
Jungkook yang sedang melepaskan sepatunya itu menatap Taehyung. Ia mengerutkan kening melihat Taehyung berjalan dengan aneh. "Sekolahku biasa saja." Jungkook memakai sandal rumah dan berjalan mendekat kearah Taehyung, meraih lengan Taehyung selembut mungkin dan membawanya agar duduk di sofa (Jaebum bilang kulit Taehyung sangat sensitif terhadap tekanan).
"Ada apa?" Taehyung heran saat Jungkook tahu-tahu sudah berjongkok di hadapannya. Kemudian ia terkesiap saat Jungkook seperti akan menyingkap lututnya dibalik celana panjang yang dikenakannya. "Jangan." Bisiknya, mencoba melepaskan lengan Jungkook.
"Ada apa dengan kakimu, Taehyung? Biar aku lihat."
"Tidak ada apa-apa." Taehyung menelan ludah melihat Jungkook menatapnya lekat dan begitu intens. "Sungguh."
"Kalau begitu perlihatkan lututmu."
"Sungguh tidak ada apa-apa."
"Jeon Taehyung." Penekanan Jungkook membuat sesuatu yang dingin seakan merambati tengkuk Taehyung. "Perlihatkan lututmu atau aku akan menelanjangimu sekarang."
"A-apa?" Taehyung melotot dengan semu merah hebat di pipinya.
Jungkook tidak membuang waktu untuk sekedar berbicara, ia segera merobek celana panjang longgar yang dikenakan Taehyung, membuat kakak kembarnya itu berteriak kaget. "YAH! APA YANG KAU LAKUKAN?"
"Memar." Jungkook bergumam melihat jejak ungu kebiruan tersebut, membungkam Taehyung dalam keheningan berat. Taehyung merasa dadanya sedikit sesak melihat raut sedih Jungkook, biarpun samar tapi tetap saja. Padahal Taehyung sudah mengganti celana pendeknya untuk menutupi memar itu, tapi sepertinya tidak berguna. Walaupun baru tinggal sehari dengan Jungkook, Taehyung tahu bahwa adik kembarnya itu punya pengamatan yang tajam.
"Ini tidak apa-apa, aku hanya terbentur meja, Jungkook."
Jungkook bangkit berdiri, Taehyung mendongak menatapnya. "Berhati-hatilah, Taehyung. Jangan begini lagi."
Taehyung mengangguk, tersenyum lebar. "Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
"Aku harap begitu. Kau bisa berjalan?"
"Aku hanya memar, bukan patah tulang."
"Tapi pasti sakit untukmu. Aku tidak mau kau terguling di tangga, Tae." Jungkook merunduk di hadapan Taehyung. "Mau kugendong?"
"Boleh?"
Jungkook terkekeh melihat binar ceria di mata Taehyung, ia mengangguk. "Mau kugendong di punggung atau di tanganku?"
"Punggung. Memangnya aku ini wanita?" Taehyung tertawa. Memeluk leher Jungkook yang berlutut membelakanginya, tertawa saat Jungkook berdiri dengan sangat mudah seakan tidak ada Taehyung di punggungnya.
"Wah, kau kuat sekali, Jungkookie." Taehyung mengeratkan pelukannya, menempelkan pipinya di pundak Jungkook saat pemuda itu memantapkan pegangannya di belakang lutut Taehyung.
"Bukan aku yang kuat, tapi kau terlalu ringan." Jungkook menaiki tangga dengan perlahan, ia dapat mendengar jelas hembusan napas Taehyung, begitu juga dengan detak jantung Taehyung yang teratur. "Apa kau ini benar-benar kakakku, Taehyung? Karena sepertinya aku yang harus melindungimu."
.
.
.
Jungkook mengalihkan perhatian dari buku di depannya ke jam di kamarnya sebelum menatap ke pintu. Sekarang sudah jam setengah sebelas malam. Siapa yang mengetuk pintu saat hampir larut malam begini?
"Jungkook-ah? Kau masih bangun?"
Itu suara Taehyung.
"Belum, hyung. Buka saja pintunya, tidak dikunci."
Pintunya terbuka, Taehyung muncul. Lagi-lagi dengan pakaian yang selalu terlihat kebesaran. Setiap kali ditanya, Taehyung hanya menjawab kalau itu nyaman untuk dipakai.
"Belum tidur?"
Taehyung berjalan mendekat kearah Jungkook sambil menggeleng. "Tugasmu susah?"
"Tidak, tapi aku malas berpikir. Lagipula besok aku libur."
"Humm... pantas saja Yoongi-hyung dan Hoseok-hyung bilang besok mereka libur mengajar dulu." Taehyung mengangguk-angguk. Ia melingkarkan lengannya di leher Jungkook dari belakang, sejak ia digendong beberapa hari yang lalu, Taehyung sadar saat berada di dekat Jungkook membuatnya nyaman.
"Ada apa, hyung?"
"Tidak ada, aku hanya ingin memelukmu." Taehyung bergumam tidak jelas.
"Lebih baik kau tidur."
"Aku ingin tidur denganmu. Boleh?"
"Aku tidak keberatan. Ayo, kita tidur saja sekarang." Jungkook melepaskan pelukan Taehyung, membuat yang lebih tua mengerang tidak rela.
Jungkook terkekeh melihat Taehyung merengut. Telapak tangannya berada di punggung Taehyung sementara tangan yang satunya menyelinap ke bawah lutut. Taehyung menahan napasnya saat Jungkook mengangkatnya dengan kedua tangannya, membuat Taehyung mengeluarkan nada tercekik samar.
Mereka berdua terjatuh diatas ranjang Jungkook, pemuda berambut hitam itu menahan tubuhnya dengan siku agar tidak jatuh menindih Taehyung. Kakak kembarnya itu tersenyum lebar sambil menangkup wajah Jungkook, dan detik berikutnya Jungkook dibuat terpaku sesaat karena bibir Taehyung menempel padanya.
"Tae?"
"Apa?" Taehyung masih tersenyum, mengeluarkan tawa kecil saat ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Jungkook.
"Tidak ada." Jungkook berguling ke samping dan menekan saklar lampu. Menahan detak jantungnya yang menggila tanpa sebab. Mungkin karena ia masih sedikit canggung dengan kakaknya ini, atau karena baru pertama kali ini dia mendapat ciuman yang membuat kepalanya seakan meledak bahkan hanya dengan menempel saja. "Kenapa kau menciumku, Taehyung-ah?" gumam Jungkook, sedikit terkesiap saat Taehyung mendekat dan memeluknya erat.
"Katanya laki-laki itu suka dicium di bibir."
"Itu jika kau adalah perempuan, hyung. Lagipula apa kau akan mencium setiap laki-laki yang kautemui? Appa?"
"Hmm... benar juga, aku tidak mungkin begitu." Taehyung bergumam pelan. "Kau tidak suka?"
"Tidak juga."
"Apa aku tidak boleh menciummu lagi?"
Jungkook sedikit menarik dirinya, menaikkan dagu Taehyung untuk menatap wajah polos dengan kening berkerut ingin tahu yang menggemaskan itu.
"Kau boleh cium aku sesukamu, hyung."
.
.
.
Jeon Jungkook ingat, ia tidak pernah merasa sepanik ini selama ia hidup.
Saat itu Jungkook hanya ingin memotong buah, menolak pertolongan dari juru masak rumahnya. Lagipula ini hanya buah dan Jungkook rasa ia tidak harus merepotkan orang lain dengan pekerjaan mudah seperti itu. Semuanya bermula saat Taehyung mencoba memegang pisau karena ingin memotong buah juga.
Jungkook tahu dari Taeyeon, bahwa ia tidak pernah mengijinkan Taehyung untuk masuk ke dapur ataupun memegang benda tajam terutama pisau. Bisa ditebak bagaimana khawatirnya ia saat mendengar suara teriakan Taehyung dan suara yang bisa dipastikan dari pisau yang membentur lantai keramik dapur.
Lengan Taehyung menitikkan darah, menarik garis horizontal yang seakan menertawakan Jungkook karena ia mengalihkan perhatiannya sedikit saja dari kakak kembarnya itu.
Jungkook tidak akan panik jika ia tidak melihat raut wajah Taehyung yang terduduk sambil berusaha menekan lukanya. "Sebentar, akan aku ambilkan kapas."
Taehyung menggeleng, sedikit menggigit bibirnya pelan. Ia ingin mengatakan sesuatu namun kepalanya terasa nyeri. Jungkook tidak membuang waktu, segera saja ia menghampiri salah satu lemari di bagian atas, dekat kulkas. Kapas, perban, alkohol, antiseptik dan plester luka.
"Jangan." Bisik Taehyung lirih. "Ambilkan obatku di kamar, kemudian telpon dokterku. Ini tidak ada gunanya."
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Taehyung?" suara Jungkook berubah serak dan bergetar, matanya terasa panas. Taehyung semakin pucat dan sial, kenapa darahnya tidak berhenti? Padahal hanya tergores namun pendarahannya tidak berhenti sejak tadi. Jungkook segera menepis segala firasat buruknya yang meraung tepat di kepalanya. Ia hanya menurut, beranjak berdiri sambil menelpon dokter kemudian setengah berlari naik ke lantai atas, ke kamar Taehyung dan meraih sebuah botol berisi tablet obat berwarna putih yang jumlahnya sudah kurang dari setengah.
Ia menyerahkannya pada Taehyung. Kakak kembarnya itu segea mengambil tiga butir sekaligus dan menelannya tanpa air, Jungkook ganti menekan luka Taehyung dimana darahnya masih mengalir segar. Taehyung menangkup pipi Jungkook dengan sebelah lengannya, Jungkook dapat merasa tangan Taehyung gemetar, entah merasa sakit atau karena ia kehilangan banyak darah. Dan sial, kapan ini berhenti?
"Aku tidak apa-apa, Jungkook." Taehyung bergumam menenangkan. "Setelah minum obat dan ditangani oleh dokter, aku akan baik-baik saja."
"Tapi, hyung, bagaimana bisa darahmu tidak membeku juga selama lebih dari limabelas menit? Kau tidak baik-baik saja." Suara Jungkook meninggi, menatap nyalang kearah Taehyung yang mengulas senyum di bibirnya yang mulai memucat.
"Aku baik-baik saja, bodoh. Aku hanya sedikit berbeda."
"Kau berbohong padaku, Tae. Kau--"
Bibir Taehyung basah dan lembut seperti biasa, namun kali ini tidak bisa menghapus kegelisahannya. Taehyung tidak pernah berbicara apa-apa tentang dirinya sejak pertama kali bertemu kembali dengan Jungkook, ia terlalu pintar untuk menutupi sesuatu.
"Aku baik-baik saja, Jungkook-ah. Sung--guh..." dengan itu Taehyung menumpukan kepalanya ke pundak kokoh Jungkook, kehilangan kesadarannya dalam hitungan detik.
Bahkan saat kedua orangtuanya sudah datang beserta dokter yang memperkenalkan dirinya sebagai Kim Namjoon, dan mulai mengurus Taehyung yang tengah tidak sadar, Jungkook tetap tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya. Dadanya berdetak keras, jantungnya seperti diremas kuat dan akan meledak. Kepalanya terasa kosong dan semua yang ada di matanya hanya berupa gerak tanpa suara maupun warna. Abu-abu.
"Jangan khawatir, Jungkook-ah."
Jungkook menatap kedua tangannya yang kini dilumuri satu-satunya warna yang dapat dilihatnya. Merah. Pekat. Gelap.
Darah dari seseorang yang kini terbaring tidak sadarkan diri bernama Jeon Taehyung, kakaknya.
.
.
.
Ini kesekian kalinya Taehyung menyelinap ke kamar Jungkook, merangkak diatas ranjangnya dan menelusup diantara kedua lengan Jungkook. Terdengar erangan pelan dari Jungkook, memastikan apakah benar-benar Taehyung yang kini mengusakkan pipinya ke dada Jungkook. Setelah mendapat konfirmasi samar dari tawa kecil Taehyung yang menyenangkan, Jungkook berakhir memeluk Taehyung begitu erat namun juga hati-hati sampai pagi menjelang.
Kadang, ada beberapa malam dimana Jungkook dan Taehyung sepakat untuk saling terjaga semalaman. Hanya saling menatap dalam beberama menit, saling menggenggam eksistensi masing-masing dari deru napas hangat yang menyatu. Diwarnai beberapa canda dan obrolan ringan dari hal yang penting atau bahkan sama sekali tidak jelas dan kecupan penuh kasih sayang yang sarat akan kelembutan.
Taehyung memejamkan matanya saat ia merasakan sentuhan bibir Jungkook mengirim ciuman lembut di wajahnya, terkekeh pelan saat adik kembarnya itu menjilat lembut bibirnya. Tersenyum lebar saat Jungkook menyatukan kening mereka dengan hidung yang saling bersentuhan.
"Aku mencintaimu, Jungkookie. Selamanya."
Kalimat itu selalu dibisikkan Taehyung, dengan suaranya yang rendah menyesatkan namun juga begitu ringan dan melegakan. Jungkook hanya membalas dengan senyuman, mengucapkan kalimat balasannya yang selalu mengundang tawa dan rona merah samar dari Taehyung saat pemuda itu menyerukkan kepalanya pada dada Jungkook.
"Aku juga mencintaimu, Tae. Selamanya."
Jungkook memejamkan matanya, kembali meletakkan dagunya diatas puncak kepala Taehyung yang semanis karamel. Posisi nyamannya yang baru. Sebelah tangannya mengelus punggung Taehyung pelan-pelan.
"Aku tidak bermaksud untuk mengecilkan harapan kalian, tapi... jika Taehyung mendapat luka lagi, besar kemungkinan saat itu ia tidak akan bertahan..."
"Benar, Jungkook-ah. Taehyung mengidap penyakit kelainan darah, seperti kakek dan pamanmu. Kami juga tidak mengerti bagaimana penurunannya karena kamu tidak memiliki penyakit yang sama. Sebab kondisinya itu, ia tidak boleh terluka atau mendapat benturan dalam bentuk apapun, ia akan mudah berdarah dan sulit untuk menghentikannya."
"Tolong... tolong jaga dan cintai Taehyung, aku tidak sanggup melihatnya menderita..."
Masih diingat Jungkook bagaimana penjelasan Dokter Kim, Jaebum dan Taeyeon beberapa waktu lalu. Bagaimana senyuman lemah dokter itu membuat dadanya ngilu, bagaimana raut putus asa Jaebum meruntuhkannya dan tangis Taeyeon yang begitu terluka.
"Jungkook, ada apa? Kenapa kau menangis?"
Jungkook mengusap pipinya yang basah, masih memeluk Taehyung, tidak mengijinkan kakak kembarnya itu untuk menatap wajahnya. "Tidak apa-apa, aku hanya takut kehilanganmu. Itu saja."
"Kalau begitu mintalah." Namun Taehyung bersikeras melonggarkan pelukan Jungkook, ibu jarinya mengusap pipi Jungkook. Taehyung tersenyum lebar, menenangkan kerisauan Jungkook. "Jika kau yang meminta aku tetap bersamamu, aku akan tinggal. Jika kau ingin mendorongku menjauh, aku akan pergi."
"Tetap disini, Jeon Taehyung, bersamaku, di mana aku masih bisa menggenggam tanganmu dan melihatmu tersenyum. Memeluk hangat tubuhmu dan menciummu kapanpun aku mau."
Taehyung tertawa kecil. "Tentu, Jeon Jungkook."
Jika Taehyung adalah bintang, maka biarkan Jungkook menjadi langitnya. Mendekap bintangnya yang begitu terang dan begitu rapuh. Merekam setiap cerita yang dilaluinya. Menghitung setiap detik yang berharga dan menorehkan kisah dari segenap napas yang tersisa.
.
.
.
Kim Taehyung sangat menyukai tumbuhan semanggi, ia akan berada di halaman belakang sepanjang sore hanya untuk melihat rumpun tipis dan rapuh berwarna kehijauan itu. Setengah berharap mendapatkan yang berhelai empat.
Jika kebetulan lewat, Jungkook akan merangkul Taehyung dari belakang, menyampirkan mantel atau hanya menatap punggung Taehyung dalam diam.
"Jungkookieee."
Taehyung menoleh ke belakang saat merasakan kehadiran Jungkook dibelakangnya. Ia bersorak sambil melompat dalam pelukan Jungkook yang menyambutnya dengan sigap. "Pelan-pelan, Tae." Jungkook dapat mendengar tawa kecil dari kakak kembarnya itu. Kekanakan, memang kakaknya itu masih kekanakan.
"Jungkook-ah, kau tahu?" Selalu seperti ini, Taehyung selalu memancing Jungkook dengan beberapa ucapannya yang sederhana namun dalam. Jungkook menaikkan sebelah alisnya. "Clover."
"Semanggi berdaun empat yang bisa mengabulkan permohonan semustahil apapun itu." Jungkook tersenyum. "Lalu?"
"Jika kau mendapatkannya, apa yang akan kau minta?"
"Aku..." Jungkook terdiam sejenak. Selama ini ia tidak pernah memikirkan apa yang diinginkannya secara seksama. Jungkook hanya melakukan apa yang harus dilakukan, sisanya ia tidak pernah peduli. "Entahlah, hyung. Aku belum tahu."
Taehyung meraih tangan Jungkook, meletakkan telapaknya diatas milik Jungkook yang lebih lebar. "Nanti, jika Jungkookie tahu, bisikkan permohonanmu disini. Oke?"
Tangannya ditarik, Jungkook tercengang sesaat nelihat apa yang diletakkan Taehyung diatas telapaknya. Itu daun semanggi. Berhelai empat. "Taehyung? Ini... bagaimana kau bisa mendapatkannya?"
"Itu karena aku beruntung. Hehe."
Jungkook tersenyum, sedikit merunduk dan mengecup bibir tebal Taehyung sekilas. Menggumamkan terima kasih pelan yang membuat Taehyung terkekeh geli.
"Hei, Jungkookie."
"Hmm?"
"Bagaimana nanti jika aku menyerah dan tidak bisa menepati janjiku?"
"Kalau begitu jangan menyerah." Jungkook menarik Taehyung dalam dekapannya.
"Waktuku bukan milikku lagi, Jungkook. Aku sudah tidak punya kuasa lagi. Janji padaku untuk tetap hidup dengan baik, oke?" Taehyung mencengkeram kaos di punggung Jungkook dengan tangannya yang gemetar. "Kau janji untuk membawaku jalan-jalan keluar, bukan? Ayo!"
Jungkook membiarkan tangannya ditarik oleh Taehyung. Selama ini ia berpikir bahwa seluruh dongeng yang ia dengar itu mustahil. Jungkook tidak percaya mitos daun semanggi. Ia tidak pernah percaya. Menurutnya, memohon tentang sesuatu itu tidak ada gunanya. Jungkook lebih memilih langsung bertindak.
Namun, untuk pertama kalinya, Jungkook berharap. Ia memohon dengan secercah harapan yang masih tersisa. Ia mencoba mempercayainya.
Ia memohon, agar Taehyung tetap berada di sisinya dan tidak akan pernah pergi.
Genggaman Jungkook yang berisi daun semanggi berhelai empat itu menguat.
.
.
.
Sungai Han menjadi pilihan Jungkook. Duduk di sebelah Taehyung yang mengemut es krimnya dan tengah memandangi orang yang berlalu lalang dengan antusias. Jungkook tanpa sadar tersenyum melihat bagaimana tingkah laku menggemaskan Taehyung saat menyeka bekas es krim di sekitar bibirnya dengan ujung sweater.
"Kita yang bergerak atau awan yang bergerak?"
Itu adalah salah satu dari sekian pertanyaan konyol yang dilontarkan Taehyung. Jungkook tidak menjawab dan hanya tersenyum, membiarkan Taehyung berbicara tanpa henti dan dengan senang hati menjadi pendengar.
Jungkook suka melihat bagaimana ekspresi Taehyung yang transparan, bagaimana iris matanya memandang jenaka namun juga begitu tertutup, bagaimana gerakan tubuhnya yang begitu sederhana namun penuh makna, suaranya yang rendah namun renyah menggemaskan, juga bagaimana bibir itu tersenyum lebar dan tertawa lepas. Jungkook berusaha menyimpannya, menghargai setiap detik yang tersisa. Jungkook sadar tidak selamanya ia bisa menggenggam Taehyung.
"Jungkookie..."
Jungkook mendongak, menatap Taehyung yang kini berdiri di hadapannya. Ia menangkup wajah Jungkook dengan jemarinya yang kurus. "Simpan air matamu untuk nanti." Bisiknya, mengusap lembut pipi basah Jungkook dengan ibu jarinya.
Lihatlah betapa sempurnanya Taehyung. Ia tersenyum membelakangi matahari terbenam dengan langit yang menampilkan semburat jingga. Selain terlihat sempurna, juga sangat tidak nyata. Seperti ilusi yang bisa hilang kapan saja namun membekas selamanya. Eksistensi yang mustahil.
"Kenapa kau harus datang di hidupku jika kau hanya akan pergi pada akhirnya, Taehyung?"
"Nah. Untuk itu aku juga tidak tahu kenapa aku datang padamu jika pada akhirnya meninggalkanmu." Ia tertawa. "Tapi aku masih disini, bukan?"
"Kalau begitu tetap bertahan."
"Aku sedang berusaha. Dan apa kau pernah mendengar kalimat ini, Jungkook?" Taehyung mengecup kening Jungkook lama, membuat adik kembarnya itu mendekap pinggangnya dan menyandarkan kepalanya di dada Taehyung. "Setiap orang punya batas. Cepat atau lambat, aku pasti akan menemui batasku."
"Kemari kau, hyung sialan." Rintih Jungkook, menarik lengan Taehyung agar duduk di pangkuannya dan kini tengah berhadapan dengannya. Taehyung tersentak, menatap khawatir kearah Jungkook. Ini masih di depan publik, bagaimana jika--
--Jungkook menempelkan bibirnya pada Taehyung, membungkam yang lebih tua untuk sesaat. Taehyung meringis dalam hati saat merasa pergerakan bibir Jungkook yang penuh dengan kehati-hatian, seakan ia adalah benda pecah belah yang begitu rapuh. Taehyung bisa merasakan nyeri yang dirasakan Jungkook.
Tidak hanya Jungkook yang terluka, Taehyung juga belum merasa belum siap untuk pergi. Namun, tidak ada diantara mereka berdua yang berhak memiliki waktu yang dengan kejamnya masih berputar dalam kecepatan normal dimana seharusnya ia melambat.
.
.
.
Taehyung tidak takut mati, ia hanya takut meninggalkan Jungkook.
Saat jemari kurusnya meraih kaus belakang Jungkook, membenamkan wajahnya di bahu adik kembarnya itu dan merapal kalimat 'semua akan baik-baik saja' berulang kali di dalam hati, Taehyung masih tidak bisa tenang, ia sadar ia tidak sanggup melepas Jungkook.
Hari itu, daun semanggi miliknya layu. Helai hijaunya berubah menjadi kecokelatan dan mengerut.
Ada banyak hal yang ingin ia lakukan di dunia ini bersama Jungkook. Ia ingin sekolah secara umum, berteman dengan banyak orang, memakan es krim, juga bermain skateboard tanpa takut jatuh ataupun mengalami luka. Taehyung selalu iri bagaimana Jungkook kadang bercerita tentang penatnya tugas sekolah dan betapa banyak keringat di tubuh adik kembarnya itu setiap dia pulang ke rumah.
Namun Taehyung sadar, ia tidak akan pernah bisa mengalami semua itu. Impiannya kosong. Itu hanya angan-angan, sejak awal apa yang diinginkannya mustahil
Hari itu, saat daun semanggi miliknya layu. Taehyung tahu tidak ada yang abadi. Taehyung ingin menangis, dan dia benar-benar menangis malam itu. Menyusup ke pelukan Jungkook dan menangis semalaman, tanpa mau menjawab satupun pertanyaan penuh nada khawatir dari Jungkook.
Taehyung tidak tahu kenapa dia menangis, dadanya terasa sesak begitu saja dan matanya memanas. Ia sebelumnya memeluk Jaebum, menggumamkan puluhan terima kasih dan permintaan maaf pada ayahnya itu. Taeyeon ikut menitikkan air matanya saat melihat Taehyung, ia mengusap punggung Taehyung dan mengecupi wajah anaknya itu berulangkali. Menggenggam tangan Taehyung dengan lembut dan tidak terlalu kuat, seakan Taeyeon tidak rela melepas anaknya seincipun.
Detik itu Taehyung sadar, mantra 'semua akan baik-baik saja' yang selalu dipercayainya kini tidak ada artinya dan Taehyung berhenti meminum semua obatnya.
Hari itu, saat daun semanggi miliknya layu, salju turun untuk pertama kalinya. Taehyung dapat melihat kepulan uap berwarna putih yang keluar dari mulutnya, menulis acak dengan jarinya di kaca yang berembun maupun merasakan kehangatan telapak tangan Jungkook yang melingkupi tangannya. Taehyung menghargai detik demi detik yang masih bisa dilewatinya, detik dimana ia masih bernapas dan membuka mata untuk melihat dunia.
Jungkook pernah bertanya, "Apa rasanya sakit?" Saat mereka duduk di teras belakang dengan mug berisi cokelat panas, memperhatikan butiran gula kapas berwarna putih yang turun dengan anggun dari langit kelabu.
Taehyung hanya menggangguk saat itu, menyembunyikan senyumnya saat bibirnya menyentuh pinggiran mug dan menyesap cairan hangat itu. Merapatkan sweater biru muda milik Jungkook yang dikenakannya. Taehyung bersyukur ia merasakan rasa sakit, setidaknya dengan itu Taehyung dapat memastikan bahwa ia masih hidup.
Setelahnya ganti Taehyung yang bertanya apakah Jungkook pernah menyesali sesuatu. "Aku menyesal tidak mencarimu lebih awal." Adalah jawaban singkat dari Jungkook.
Mereka berdua sudah pasrah, lagipula mereka tidak bisa melakukan apapun untuk sekarang. Baik Jungkook maupun Taehyung hanya bisa menghitung waktu dan menghargainya, menggenggam eksistensi masing-masing dan menggurat sebanyak mungkin senyuman dan tawa.
Taehyung berharap dengan segenap hatinya pada daun semanggi itu sebelum layu. Ia minta Jaebum dan Taeyeon tetap rukun dan tersenyum, ia berharap Jungkook sanggup berdiri di atas kedua kakinya, Taehyung yakin Jungkook bisa karena ia tahu adik kembarnya itu kuat.
Tetap saja, Taehyung mengkhawatirkan adiknya itu. Ia bisa mendengar Jungkook meracau dalam tidurnya ; meminta Taehyung untuk tidak pergi meninggalkannya. Taehyung sadar ia sudah menorehkan begitu banyak luka tak kasat mata pada Jungkook, sementara ia sendiri tidak yakin ia bisa menyembuhkan luka itu satu persatu.
Jungkook tidak pernah meminta apapun sebelumnya, namun saat ia meminta Taehyung tetap berada di sampingnya, waktu tidak mengizinkannya.
Jungkook, pernah berharap pada daun semanggi pemberian Taehyung tempo waktu. Ia tidak meminta sesuatu yang aneh kala itu, ia hanya meminta agar Taehyung berhenti merasakan rasa sakit. Jungkook tidak bisa melihat wajah Taehyung yang pias, ia hanya meminta agar Taehyung dibebaskan dari semua yang membelenggunya.
Hari ini, daun semanggi miliknya layu.
Bukan milik Taehyung, namun milik Jungkook.
.
.
.
Taehyung terluka.
Jungkook tidak pernah melihat Taehyung sepucat itu sebelumnya. Ia tidak pernah ingin melihat bagaimana darah itu dengan indahnya menyelimuti sekujur tubuhnya. Bibirnya memucat dengan wajah yang pias.
Jungkook tidak pernah melihat orangtuanya sepanik itu. Tangis Taeyeon, wajah gelisah Jaebum, juga Dokter Kim Namjoon yang meraung memanggil seluruh dokter lain di rumah sakit kala itu.
Dunianya seakan berhenti berputar detik itu juga. Jungkook merasa seluruhnya, terutama di dalam dirinya, berubah dingin dan sesak. Rasanya ada sesuatu yang disedot paksa darinya. Jungkook mendadak merasa begitu kosong. Hanya berdiri mematung di lorong rumah sakit tanpa pergerakan berarti.
Orang bilang, kembar itu adalah satu jiwa yang terpisah. Mereka saling bisa merasakan, mereka saling bisa menggenggam walau tidak bertatap muka. Maka jika salah satu akan pergi, bagaimanapun tidak ada yang bisa menolak dan satu-satunya pilihan yang tersisa adalah melepaskan.
Jungkook membawa langkahnya yang kian membuat dadanya dilanda rasa nyeri yang membuncah kuat menuju pintu dimana para dokter berusaha menyelamatkan Taehyung yang tidak sadarkan diri sejak tabrakan hebat yang dialaminya.
Ada hawa hangat yang menyelimuti punggung Jungkook, seakan bermaksud untuk mengenyahkan gelisah yang merambati hatinya. Hawa hangat itu memeluknya, membuat dada Jungkook terasa sesak. Ia menyentuh kaca dingin di pintu, tenggorokannya terasa tercekat dan pipinya panas.
Daun semanggi miliknya telah layu, namun Jungkook tidak pernah berhenti berharap untuk Taehyung. Tapi, jika harapannya ini, keinginannya untuk menahan Taehyung berada di sisinya malah membuat Taehyung berada di situasi seperti ini, Jungkook akan melepaskannya. Hal pertama yang dihindarinya adalah Taehyung yang merasa sakit.
"Taehyung, Jeon Taehyung..." Jungkook berbisik samar, melupakan pipinya yang basah oleh air mata entah keberapa kalinya hanya karena Taehyung. Lirihannya kini serupa gumaman samar, suaranya sepenuhnya pecah. "Jika ini menyakitimu, berhentilah. Kau boleh menyerah. Jangan pikirkan aku. Kau tahu aku selalu mencintaimu. Tolong jangan merasa sakit lagi, aku tidak sanggup melihatmu begini. Pergilah dengan tenang, Jeon Taehyung."
Dengan itu Jungkook ambruk, meraung pilu sekeras yang ia bisa. Membiarkan darah mengaliri patahan hatinya yang usang, perih yang menyelimuti layaknya debu tebal, dan tawa Taehyung yang begitu ringan menggema di benaknya.
Kurang dari setengah tahun mereka bersama, mungkin jika dihitung hanya tiga bulan penuh. Jungkook ingin berteriak, marah pada semuanya, marah kepada waktu yang begitu kejam mengambil Jeon Taehyung dengan cara yang menyakitkan. Kenapa? Jungkook bertanya dalam racauannya. Kenapa ia baru bertemu Taehyung? Kenapa mereka tidak bersama saja sejak awal?
Kenapa? Kenapa harus Taehyung? Jungkook merintih dalam hati. Kenapa bukan dirinya saja? Kenapa Taehyung yang menderita selama ini?
Jungkook pernah bertanya kepada Taehyung, apakah ia pernah merasa marah karena ia terlahir berbeda. Taehyung menjawabnya dengan senyuman, kemudian berkata dengan nada yang menenangkan. "Mungkin ini salah satu cara Tuhan menyayangiku. Kau tahu? Orang baik waktunya hanya sedikit. Kira-kira seperti itu."
Saat itu Jungkook tidak mampu membalas. Ia menarik tubuh Taehyung dan mendekapnya lembut juga penuh hati-hati. Membayangkan bagaimana kehangatan yang dirasakannya ini akan menghilang secara tiba-tiba suatu saat nanti. Dan saat itu terjadi, apa yang harus dilakukannya?
Jungkook akan baik-baik saja, ia harap begitu.
Perlahan namun pasti, kehangatan yang melingkupi Jungkook memudar. Jungkook merasa dirinya menggigil pelan, ia berusaha kembali berdiri dengan kedua kakinya, secara literal. Mengintip lewat kaca yang telah kabur karena napasnya.
Jungkook seketika memalingkan wajah, juga menghindari melihat kedua orangtuanya.
Ia merasa kosong, benar-benar kosong.
Jungkook tidak pernah mengira jika kehilangan akan sesakit ini.
Ia pergi tanpa pamit.
.
.
.
"Ini hari terakhirmu bertemu dengan Taehyung sebelum dia pindah ke Daegu."
Jungkook menyapu remahan biskuit cokelat di sekitar bibirnya, tidak begitu mendengar ucapan neneknya. Ia hanya sedikit melompat dari kursi yang sedikit lebih tinggi, menurunkan tudung hoodie dan bergegas menuju pintu.
"Kookieeee." Suara itu terdengar. Jungkook mundur selangkah untuk mempertahankan keseimbangan saat bocah berambut cokelat yang sepantaran dengannya menubruknya dan memeluk lehernya dengan erat.
"Tae, jangan begitu. Nanti jatuh." Jungkook mengusap pelan rambut halus Taehyung, kemudian mengelus pipi gembilnya. "Kenapa?"
Taehyung meraih lengan Jungkook, mencari kelima jari bocah berambut hitam kemudian menelusupkan jarinya disana dan menggenggamnya erat. "Ayo! Ada sesuatu yang mau Tae tunjukkan pada Kookie!"
Jungkook memiringkan kepalanya heran, namun mengikuti langkah Taehyung yang bersemangat. Kehangatan menjalar dari tangannya, membuat Jungkook mau tidak mau tersenyum. Mereka sampai di halaman belakang, Taehyung segera berjongkok dan mengusak rumput semanggi di dekat kakinya.
"Tae cari apa?"
"Tae cari... ini!" Taehyung terpekik senang, ia tersenyum begitu lebar. Ia segera berdiri dan menghampiri Jungkook. "Tae menemukan dua daun semanggi, helai daunnya ada empat. Kookie tahu apa itu daun semanggi berhelai empat?"
Jungkook menggeleng. Taehyung memang beberapa langkah di depan Jungkook, bocah itu bahkan sudah bisa berhitung di saat Jungkook masih mehapalkan alfabet.
"Daun semanggi yang helainya empat itu namanya clover." Taehyung mulai bercerita. Jungkook tersenyum, ia selalu senang mendengar Taehyung berbicara, suaranya benar-benar enak didengar. "Katanya bisa mengabulkan permintaan sehebat apapun. Kookie percaya?"
Mata Jungkook terbuka lebar tidak percaya. Apakah daun hijau di tangan Taehyung benar-benar sehebat itu? Daun itu terlihat seperti daun biasa bagi Jungkook, mungkin yang berbeda hanyalah bentuk dan ukurannya.
"Kalau Tae, sangat percaya." Taehyung tampaknya tidak menunggu Jungkook untuk membalas. Ia mengangkat tangannya, sampai ia harus mendongak menatap daun semanggi tersebut. "Biarpun di buku bilang itu hanya mitos. Tae ingin percaya."
Jungkook hanya diam saat Taehyung berbalik dan sekarang berada di hadapannya, masih tersenyum lebar. Taehyung menyerahkan salah satu dari dua daun itu pada Jungkook.
"Kookie, apa permintaanmu?"
"Em..." Jungkook berusaha berpikir, namun sama sekali tidak ada sesuatu yang terlintas dalam benaknya. Jungkook adalah anak yang terlalu datar, ia sama sekali tidak peduli apapun kecuali Taehyung dan hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Memohon seperti ini hampir tidak pernah Jungkook lakukan. "Aku..." Jungkook benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan, ia memutar pikirannya agar tidak mengecewakan Taehyung.
"Apa permintaan Kookie terlalu banyak sampai Kookie bingung mau memilih yang mana?" Taehyung terkekeh pelan, "Kookie boleh ambil keduanya."
"Tidak, satu saja." Jungkook menarik napas dalam, berharap agar kalimatnya tidak mengecewakan Taehyung. "Aku berharap... apa yang diharapkan Tae terkabul."
Taehyung tertegun sesaat, merasa matanya sedikit panas. Taehyung menyembunyikannya dengan tawa pelan. "Kalau begitu Tae akan berharap juga." Taehyung memejamkan matanya. "Tae harap setelah ini kita bisa bertemu lagi, biarpun sudah lupa."
Jungkook hanya tersenyum, penuh kelegaan saat ia tahu ia tidak salah berucap, ia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan Taehyung. Jungkook hampir tidak punya ide kenapa Taehyung berkata seperti itu.
"Kookie."
"Ya?"
"Kookie sayang Tae?"
Jungkook kembali dibuat bingung. Kenapa Taehyung menanyakan hal yang sudah jelas begitu? Namun ia tidak tega jika tidak menjawabnya.
"Aku sayang Tae, selalu."
"Biarpun Tae nanti pergi tanpa pamit pada Kookie?"
"Tae kena--"
"Tae takut." Taehyung menunduk dalam, bahunya bergetar. "Bagaimana nanti jika Tae tidak bertemu Kookie lagi?"
"Tae akan selalu bertemu aku. Jangan takut. Aku kan disini." Jungkook memegang bahu Taehyung. Melihat bibir bawah Taehyung yang digigit, Jungkook mendadak cemas jika bibir Taehyung berdarah. Ia menangkup wajah Taehyung dan menempelkan bibirnya pada Taehyung.
Jungkook tidak tahu sama sekali apa yang terjadi saat itu. Ia hanya tahu bahwa esok hari, ia tidak mendapati Taehyung dan ibunya dimanapun. Neneknya tidak mau menjawab saat Jungkook bertanya. Ayahnya juga jadi sangat jarang berada di rumah. Jaebum hanya pulang setelah Jungkook tertidur dan pergi lagi sebelum Jungkook terbangun.
Selama ini Jungkook mengira bahwa ia adalah anak broken home, namun baik Jaebum maupun Taeyeon masih berhubungan baik. Taeyeon bahkan seringkali berkunjung, namun Jungkook selalu tidak memiliki kesempatan untuk bertanya dimana Taehyung.
Ia tumbuh, menyimpan tanda tanya akan keberadaan Taehyung dalam diam. Jungkook perlahan-lahan melupakan Taehyung, ia melupakan sepenuhnya bahwa ia memiliki saudara sampai sekarang, ia kini kembali bertemu Taehyung.
.
.
.
"Taehyung."
Jungkook kali ini kembali menemukan daun semanggi berhelai empat, tumbuhan yang selalu mengingatkan dirinya tentang Taehyung. Begitu langka, namun begitu mudah terlupakan. Jungkook mendongak, menatap langit biru yang sedikit berawan, kemudian menghembuskan napas panjang.
"Aku akan menikah." Jungkook memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana hitam yang dikenakannya bersama setelan jas lengkap. Kemudian Jungkook terkekeh, merasa konyol. "Aku bercanda. Aku bahkan tidak pernah memikirkan kehidupan cintaku."
Angin semilir berhembus tenang. Begitu dingin dan menyejukkan, tapi dada Jungkook berdesir hangat. Dari balik sakunya, ia mengeluarkan sebuah kepingan kaca bersegi empat yang di dalamnya terdapat daun semanggi berhelai empat, selamanya berwarna hijau.
"Bagaimana kabarmu, Taehyung? Kau sudah tidak merasakan sakit lagi kan? Kau baik-baik saja sekarang kan?"
Jungkook meletakkan sebuket bunga berwarna merah menyala, warna kesukaan Taehyung. Senyumnya berubah jadi getir saat jarinya mengusap pelan nisan berwarna kelabu bertuliskan hangeul "전태형" tersebut.
"Tujuh tahun sejak kepergianmu, Taehyung. Aku seperti mayat hidup, Jimin bilang padaku. Kau tahu Jimin kan? Ya, si pendek sipit menyebalkan itu, aku baru saja menghadiri pernikahannya. Ia menikahi seseorang yang cantik. Namanya Min Yoongi, tentu saja sudah berubah menjadi Park Yoongi sekarang. Eomma dan Appa baik-baik saja, walau aku sering mendapati mereka menatap fotomu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Kau pergi begitu saja, Taehyung. Kami baik-baik saja, tapi luka itu belum sembuh sampai sekarang. Kami bahkan masih berharap melihatmu keluar dari kamarmu dengan rambut berantakan, serta makan dengan wajah belepotan selai karena masih mengantuk."
Hening. Jungkook tahu orang-orang akan menganggapnya gila karena tengah berbicara sendirian, tapi ia tidak peduli.
"Tae, kau sudah pergi dan aku masih hidup sekarang. Apa yang harus kulakukan? Sejak kau meninggalkanku, meninggalkan kami, pasca tabrakan saat itu, aku kehilangan jiwaku, seluruhnya. Aku bernapas, tapi tidak hidup. Aku melihat, namun seluruhnya abu-abu. Aku bergerak, tapi tidak berdasarkan keinginanku sendiri. Aku mati, Taehyung. Apa kau akan marah padaku jika aku menyusulmu?"
Jungkook menatap kepingan kaca berisi daun semanggi berhelai empat di genggamannya. Memejamkan matanya dan kembali merasakan kehangatan samar memeluknya begitu erat namun juga begitu lembut.
"Aku mencintaimu, Jeon Taehyung. Selalu." [ ]
