Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 18 of KookV Oneshots
Stats:
Published:
2026-08-29
Words:
3,331
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
51

Petrichor

Summary:

Taehyung suka petrikor, wangi alami yang muncul kala hujan menyentuh tanah, wangi basah yang menenangkan.

Namun, petrikor kali ini, Taehyung tidak menyukainya.

[KookV oneshot; originally published on 2018]

Work Text:


Aku selalu bingung, kenapa banyak sekali orang ingin menjadi yang paling cerdas? Tidak tahukah mereka bahwa beban yang harus dipikul itu banyak sekali? Tekanan gila yang bisa membuatmu depresi dalam sekejap?

Mereka selalu bilang "kau beruntung terlahir cerdas, Kim Taehyung. Kau itu kesayangan guru. Hidupmu mudah.". Kalian pikir aku senang dengan embel-embel itu?

Jika kau cerdas, orang-orang akan menganggapmu sempurna dan mandiri. Karena itu, jika ada kesalahan sedikit, aku akan dibuang. Dan jika aku jatuh, tidak akan ada yang menolongku.

Tidak bisakah kalian mengerti apa yang kurasakan?


 

"Aku pulang."

Sepatu diletakkan di rak. Rapi, teratur dan bersih. Taehyung berjalan tanpa suara, tidak ada keributan. Ibu pembenci sesuatu yang gaduh, Taehyung tentu tidak ingin mengerjakan sesuatu yang memancing emosinya.

"Taehyung, kami sudah menunggumu. Kemarilah." Ibunya tersenyum saat Taehyung melewati meja makan, senyum yang membuat tengkuk Taehyung terasa dingin. Taehyung membalik badannya, kaku. Ayahnya bahkan sama sekali tidak menoleh kearahnya. Taehyung meringis dalam hati.

"Iya, eomma."

Dengan patuh Taehyung mendekat, berdoa dalam hati agar tidak salah bicara. Tangan wanita itu terulur, Taehyung memejamkan matanya kemudian menarik nafas panjang, tahu betul apa yang dimaksud ibunya. Pemuda berambut cokelat madu itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya, berupa lembaran-lembaran kertas berisi hasil ujian semester yang baru saja dibagikan.

"Kim Taehyung." Nada ibunya sedikit berbahaya, Taehyung bisa merasakannya. "Kenapa nilai sejarah hanya 97? Apa yang harus kita lakukan, sayang?"

Taehyung hanya menunduk, ini sudah terlalu sering terjadi. Hanya melihat kekurangan, tanpa menganggap apa yang telah ia raih.

"Kembali ke kamarmu, Kim Taehyung." Sang ayah angkat bicara, penuh tekanan dan nada arogan yang tidak bisa dibantah. "Jika kau punya waktu untuk makan malam, lebih baik kau gunakan itu untuk belajar."

"Baik, appa."

Dengan itu, Taehyung kembali ke kamarnya dengan dada yang tersengat nyeri. Taehyung menghempaskan tubuhnya diatas ranjang setelah melepaskan tasnya begitu saja. Kepalanya terasa pening sementara itu dia masih harus belajar keras lagi. Setelah meminum tiga tablet obat pereda nyeri, Taehyung merasa agak tenang.

Kembali, jilidan kertas berisi sederet tulisan kembali ditekuninya. Matanya tidak berkedip sesering biasanya sementara itu tangannya sibuk menulis dengan otak yang terus bekerja, fokusnya bahkan tidak pecah walaupun hidungnya meneteskan darah sementara tangannya terulur menggapai-gapai tisu.

Ting. Ting. Ting.

Taehyung menoleh sejenak, memperhatikan benda persegi yang tengah berderit ribut diatas ranjang. Berusaha untuk tidak peduli walaupun sebenarnya penasaran setengah mati. Namun kepalanya terasa pecah sehingga Taehyung menutup bukunya dan beranjak mengambil ponselnya.

Helaan napas panjang terdengar jelas di kamarnya yang sunyi, Taehyung melihat sekilas notifikasi di ponselnya. Kebanyakan dari mereka ribut soal ulangan yang sepertinya akan diadakan besok, juga soal pekerjaan rumah yang menurut mereka terlalu banyak padahal hanya lima soal dengan waktu seminggu untuk mengerjakan, sampai perbincangan tidak penting soal guru tampan yang ternyata sudah menikah dengan pengusaha kaya di grup kelasnya.

Taehyung mengernyit, merasa perutnya seperti dililit. Dengan segera dia melempar ponsel di tangannya lalu berjalan ke kamar mandi yang tersedia di kamarnya, kakinya terasa lemas. Dia mencengkeram pinggiran kloset lalu memuntahkan isi perutnya didalam sana. Sepertinya bukan isi perut, karena Taehyung sama sekali tidak memakan apapun sejak bangun dari tidurnya kecuali satu permen rasa tamarin.

Keringat dinginnya menetes, Taehyung menyekanya dengan punggung tangan. Membasuh wajahnya kemudian menatap pantulan wajahnya di kaca. Mengerikan. Mata berkantung, wajah luar biasa pucat dengan rambut berantakan. Sejak kapan pipinya setirus itu?

Taehyung menyeret langkahnya lemas setelah menutup pintu kamar mandi. Perhatiannya teralihkan oleh getaran di ponselnya lagi. Awalnya Taehyung tidak tertarik, namun nama sahabatnya muncul di layar membuatnya mau tidak mau meraih benda persegi itu.

Park Jimin
[Kau pasti tidak makan seharian kecuali permen yang kuberi tadi siang kan, Tae? Aku juga berani bertaruh begitu juga malam ini, haha. Buka tasmu, itu dariku dan Yoongi-hyung. Tidak perlu membalas pesan ini, kau harus cepat istirahat, oke? Bye, see u tmrrw :p]

Taehyung menggapai tasnya, menerka apa yang diberikan Jimin dan pacarnya. Matanya membulat saat menemukan bungkusan di dalam tasnya, kenapa dirinya tidak menyadari ini? Isinya ada satu bungkus sandwich, satu bungkus berisi tiga nasi kepal, dua roti rasa cokelat dan keju, satu kotak susu rasa stroberi dan sebotol air mineral. Taehyung terkekeh dalam hati.

"Thanks, Jim."

 

.

.

.


Taehyung menghirup napas dalam-dalam, menikmati aroma sehabis hujan yang menjadi favoritnya. Tidak peduli hawa dingin yang terasa, Taehyung tetap bersikeras berada diluar hanya dengan seragam sekolah yang membalut tubuh kurusnya, tanpa apapun yang bisa menghangatkannya.

Pemuda itu membiarkan matanya tertutup sementara rambutnya bergerak ditiup angin.asanya begitu tenang dan damai, rasanya seperti tidak nyata. Seakan dirinya hanyalah angin yang berhembus dan mengamati sekitar. Penonton, pengamat, atau entah apa itu sebutannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya berjalan normal sebagaimana mestinya. Tanpa paksaan.

Matanya kembali terbuka, memperlihatkan iris cokelat gelap yang teduh pada dunia. Menarik senyum getir. Semua yang dirasakannya semu, ketenangan yang diimpikannya hanya sekejap lalu lenyap tak berbekas. Dipaksa kembali meniti roda takdir dan dihempaskan ka bawah, tanpa diberi kesempatan untuk sekedar mencoba bangkit.

Taehyung duduk bersandar di sebuah bangku batu dengan cat warna hitam yang sudah mulai mengelupas. Bangku itu dingin, sangat dingin. Taehyung memperbaiki kacamatanya yang agak melorot kemudian menatap lurus ke depan.

"Hei, manis."

Taehyung menoleh cepat, terbatuk saat mencium bau tembakau berwujud asap yang dikeluarkan oleh pemuda di sampingnya. Rambutnya cokelat, namun satu tingkat lebih terang diatas Taehyung. Telinganya ditindik dengan garis rahang yang tegas. Serta mata itu, sangat pekat, gelap, dan hitam. Benar-benar hitam sempurna. Tajam.

"Something weird about ma face, cutie?" pemuda itu mendekatkan wajahnya kearah Taehyung, menarik sebelah sudut bibirnya jenaka, kemudian menghembuskan asap di mulutnya tepat ke wajah Taehyung.

Taehyung mengerang tidak suka, beringsut menjauh. Melepaskan kacamatanya sejenak lalu mengelapnya karena kacanya berembun. Mengeluh dalam hati merutuki betapa tidak sopannya pemuda itu. Saat Taehyung ingin memasang kacamatanya kembali, pemuda itu menahannya.

"Don't hide your face." Suaranya jatuh satu oktaf. Tangannya naik, mengelus rahang halus Taehyung dengan tatapan matanya yang intens. "Kau sebenarnya tidak memiliki masalah tentang penglihatanmu, bukan? Kau hanya ingin bersembunyi dibalik lensa kaca itu."

"Apa urusannya denganmu?" Taehyung mengeluarkan suaranya, membuat si pemuda bersiul kagum.

"Cobalah sering-sering bicara, suaramu terdengar menyenangkan." Pemuda itu tertawa kecil, mematikan rokoknya kemudian melemparnya ke sembarang arah. Dia berdiri sambil meraih lengan Taehyung. "C'mon."

"Kemana?" Taehyung menaikkan sebelah alisnya.

"Gotta show you an awesome place." Pemuda itu tersenyum lebar dan memperlihatkan gigi kelincinya.

Taehyung mengangguk, membiarkan langkahnya mengikuti pemuda asing itu. Ia menuntun Taehyung pada sebuah motor sport berwarna merah menyala, kemudian menyampirkan jaket kulit yang dipakainya pada bahu Taehyung.

"Pakai." katanya seraya memasang helm, "Ini akan dingin."

Taehyung mengerutkan keningnya melihat tubuh pemuda itu yang ternyata berbalut seragam yang sama sepertinya, "Kau masih sekolah menengah atas sepertiku."

"Yeah, ada masalah dengan itu?" tanyanya.

"Kau merokok."

"Sometimes, but not always."

"Tapi tetap tidak bagus untuk kesehatanmu."

"Nah, that is for you." Pemuda itu menunjuk dada Taehyung, "Menyembunyikan dan memendam semuanya di sini juga tidak bagus untuk kesehatanmu."

Taehyung membiarkan bibirnya mengulas senyum ringan, "Kau orang yang menarik."

"Yes I am."

 

.

.

.


"Whoah."

Taehyung mengerjap saat dirinya berada diantara rumput-rumput yang setinggi pinggangnya. Disini, aroma sehabis hujan tercium lebih khas. Ada harum manis samar yang menelisik lembut. Di bagian lain juga terhampar sebuah danau kecil. Taehyung tanpa sadar tertawa lebar, melepaskan semua apa yang dirasakannya.

"Kau suka? This is my favorite place, after all. No one knew this place." Pemuda itu bersandar di motornya dengan tangan menyilang didepan dadanya. Tersenyum kecil memperhatikan Taehyung.

"Bagaimana bisa tempat seperti ini masih ada di Seoul?" Taehyung berseru dengan nada sarat akan kekaguman. Ia melompat dan berputar dengan tawanya yang jernih.

Pemuda itu tersenyum, memasukkan sebelah tangannya di kantong celana kemudian berjalan mendekati Taehyung yang tengah bermain dengan bunga rumput.

"Boleh aku tahu siapa kau?" tanya Taehyung saat menyadari pemuda itu ada di dekatnya.

"Hanya siswa dari kelas sebelah." Jawaban penuh nada humor, Taehyung tergelak.

"Namamu?"

"Jeon Jungkook. Kita pernah sekelas sewaktu kelas satu."

Taehyung tersenyum canggung, "Maaf, aku tidak mengingatnya."

"No prob, I don't mind. Kau diikat rantai sehingga tidak bisa mengepakkan sayap diluar jangkauan." Jungkook tersenyum lebar, mengulurkan jari kelingkingnya pada Taehyung, "Hanya saja, jadikan tempat ini rahasia kita berdua. Oke?"

"Oke." Taehyung menyambut uluran jari kelingking itu, menautkannya dengan miliknya. Dadanya sejenak menghangat.

Kurang dari dua detik, Jungkook melepaskan tautan kelingking mereka, ganti menggenggam kedua telapak tangan Taehyung. "Tanganmu dingin sekali," gumam Jungkook.

"Bisa kita bertemu lagi?" tanya Taehyung.

Jungkook menaikkan sebelah alisnya, "Apa warna langit sekarang?"

Taehyung mengerutkan kening lalu mendongakkan kepala. Menatap langit, kemudian menatap Jungkook lagi. "Kenapa menanyakan hal itu?"

Jungkook hanya tersenyum penuh makna. "Apa warna langit sekarang?"

Taehyung mengerucutkan bibirnya sejenak, berpikir. "Biru."

"Kurasa aku tidak perlu menjawab karena kau sudah tahu jawabannya, bukan?" Jungkook merangkul pundak Taehyung, terasa sangat hangat dan nyaman. "Ayo pulang, akan kuantar."

"Lebih baik sampai halte bis saja."

Jungkook mengangguk, "Oke."

"Jungkook." Taehyung terhenti, mengundang tatapan bingung dari Jungkook. "Bisa aku percaya padamu?"

"Apa warna langit--"

"Shush. Baiklah." Taehyung menekap mulut Jungkook, keduanya pecah dalam tawa.

 

.

.

.

Basah.

Aroma basah yang sangat disukai Taehyung. Pemuda itu duduk dibawah pohon dengan kaki berselonjor, menikmati bagaimana dingin memeluknya erat. Kali ini Taehyung tidak bisa santai, ada empatpuluh lima lembar materi untuk ujian nanti atau dirinya tidak bisa makan.

"Perutmu sakit?"

"Sedikit, sepertinya asam lambungku naik." Taehyung membalas, tidak berminat menoleh pada seseorang yang duduk di sampingnya karena dia sudah tahu siapa. "Aku tidak suka rokok dan aku benci orang merokok, jadi tolong pergi jika ingin menghisap tembakau."

Jeon Jungkook mendengus, kemudian terkekeh lucu. "Tidak jadi."

Taehyung tidak menanggapi, hanya tersentak saat merasa Jungkook melilitkan syal ke lehernya dan meletakkan jaket yang dipakainya pada pangkuan Taehyung. "Ada apa?"

"Pakai. Kau ini suka sekali berada di luar dengan hanya memakai seragam tipis itu." balas Jungkook tenang. Kemudian menatap Taehyung dalam. "Kau ini kurus sekali sih."

Taehyung mengangkat bahu, tidak ingin menjawab.

"Ayo makan." Ajak pemuda itu.

"Aku tidak punya waktu."

Jungkook membuka sebungkus biskuit, lalu menyodorkannya di depan bibir Taehyung, "Buka mulutmu."

Taehyung menatap Jungkook terganggu, heran kenapa pemuda itu sangat keras kepala. "Sudah kubilang aku--" terpotong.

Jeon Jungkook tertawa saat berhasil mendorong sepotong biskuit masuk ke dalam mulut Taehyung. "Kau fokus saja dengan bukumu sana, aku yang akan menyuapimu."

"Tapi," Taehyung menelan kunyahan biskuitnya, "aku--" terpotong lagi dengan biskuit kedua yang masuk dalam mulutnya. Bibir Taehyung mengerucut lucu, mau tidak mau menelannya. "Keras kepala."

"Begitulah aku." Ia tertawa, membuat Taehyung mau tidak mau ikut tersenyum.

Lama mereka terdiam, tidak ingin memecah keheningan diantara mereka. Bahkan Taehyung menikmati saja Jungkook yang mendadak meletakkan kepalanya di pangkuan Taehyung. Hari itu sebenarnya dingin, tapi pemuda ini begitu hangat sehingga Taehyung sama sekali tidak merasakannya.

"Tae?"

Taehyung menutup bukunya, menundukkan kepalanya untuk menatap Jungkook. "Apa?"

"Apa kau suka hujan?"

Tertegun sejenak, ada jeda lama sebelum Taehyung membalas, namun tidak menjawab. "Kenapa mendadak kau menanyakan hal seperti itu?"

"Hei, aku kan hanya bertanya." Tangan Jungkook terulur naik, mencubit gemas pipi Taehyung yang agak tirus. "Jadi jawab, ini kan tidak sesulit menjawab soal fisika."

"Aw, iya, baiklah." Taehyung meringis, kemudian terkekeh pelan. "Aku tidak suka hujan," Taehyung mendongak, menatap langit yang masih berawan diatas sana, "aku lebih suka setelah hujan. Aromanya menenangkan dan menyegarkan. Seakan tidak ada yang harus dipikirkan. Ringan, tapi sayangnya itu hanya bertahan sebentar."

Jungkook menghembuskan napas pelan, "Petrichor, eh?"

"Kau benar. Petrichor."

Jungkook bangkit duduk kemudian menatap Taehyung, mengusap surai cokelat gelap itu lembut. "Kalau begitu, aku yang akan menjadi Petrichor untukmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun saat bersamaku."

Taehyung tertawa kecil, "Terima kasih, Jeon."

"Ayo ikut aku, kita jalan-jalan."

"Tapi aku harus belajar."

"Pernah dengar kalau otak akan bekerja lebih optimal setelah rekreasi?"

 

.

.

.


Taehyung membuka pintu dengan penuh rasa cemas juga gelisah. Sekarang sudah lewat jam sebelas malam dan dirinya baru saja pulang. Jungkook mengajaknya berputar-putar seharian ini, menyenangkan memang, namun tetap membuatnya lupa waktu.

Pemuda itu berjalan pelan, kemudian menyalakan lampu ruang tengah. Kosong. Keadaan rumah sangat sunyi. Taehyung kemudian berjalan ke dapur, menemukan secarik kertas post it berwarna hijau neon yang ditempel di pintu lemari es.

[Appa dan eomma akan pergi selama dua hari di Ilsan. Jaga diri baik-baik, Taehyung.]

Taehyung menarik napas panjang, "Lebih tepatnya, jaga nilaimu baik-baik, Taehyung. Hah."

Pemuda kurus itu berjalan masuk ke kamarnya dengan langkah diseret, tidak takut akan merasa lapar karena Jungkook sudah mengajaknya makan sangat banyak tadi, bahkan Taehyung yakin berat badannya kini naik.

Tas dilemparkan diatas ranjang, Taehyung menarik kursi meja belajarnya kemudian duduk setelah menggan. Kembali memulai kegiatan rutinnya yang biasa, belajar sampai matanya tidak sanggup terbuka. Harus diakui, apa yang dikatakan Jungkook benar. Kadang dia harus istirahat dari ekspektasi yang selalu menekannya.

Beberapa soal dijawab Taehyung dengan lancar, bahkan pemuda kurus itu telah menyelesaikan tugas untuk dua minggu kedepan. Ponsel berderit di dekat tangannya, Taehyung menaikkan sebelah alisnya saat menenukan nama Jungkook tertera di layar.

"Hai?" sapa Taehyung canggung.

"Hai? Apa-apaan itu?" Jungkook tertawa di seberang sana.

"Aku jarang menelpon, kau tahu." Taehyung mendengus, bangkit dari meja belajarnya kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang.

"Kau pasti sedang belajar atau mengerjakan tugas dan bukannya istirahat."

Taehyung terkekeh, "Apa kau ini cenayang?"

"Bukan cenayang tapi memang sudah bisa kuduga."

"Lalu, jika aku sudah menyelesaikan semua soal di buku, kau ingin meminta jawaban dariku, hm?"

"Haha, aku peduli dengan nilaiku, itu tidak penting."

"Hmm, wow. Aku kagum kau bisa mengatakannya dengan begitu ringan dan mudah, juga iri." Taehyung bergumam pelan. "Ada apa menelpon?"

"Hanya ingin mendengar suaramu saja."

"Alasanmu aneh, besok kau bisa mendengar suaraku sepuasmu kan?"

"Tapi kau jarang bicara, padahal aku suka suaramu."

Taehyung tertawa. "Kau ingin mendengarku bicara, tapi apa yang harus kukatakan? Ey, bodoh. Aku ini hanya bisa mendengarkan."

"Karena itu kau harus sering bicara. Kali ini aku yang akan mendengarkanmu."

Ada sesuatu yang membuat Taehyung merasa bagian di dalam dadanya menghangat tanpa sebab, rasa sesak aneh yang menyenangkan. "Kenapa tidak kau saja yang bicara, Jeon?" Berusaha membuat suaranya tidak terdengar aneh.

"Karena sudah kubilang aku ingin mendengarkan suaramu, manis."

"Berhenti memanggilku manis, sialan. Bagaimana jika kau saja yang bertanya padaku?"

"Hmmm... baiklah, tapi kau harus menjawabnya sepanjang mungkin. Oke?"

"Oke, tapi tidak janji. Hehe."

"Cih, dasar. Jadi, pertama, bisa ceritakan tentang dirimu?"

"Bagian mana dari diriku yang ingin kau ketahui?"

"Semuanya."

"Tentangku itu membosankan. Aku lahir di Daegu, tanggal 30 Desember. Keluargaku lengkap. Aku anak tunggal. Selesai."

"Ternyata memang membosankan." Dengusan terdengar.

Taehyung tergelak, "Sudah kubilang aku ini membosankan."

"Ceritakan tentang apa kau sukai dan kau benci."

"Aku suka aroma sehabis hujan, kau tentu tahu kan? Aku juga suka es krim dan gelembung sabun. Aku tidak pernah merasa benci secara spesifik, hanya kadang aku pernah merasa tidak menyukai suatu keadaan tanpa sebab. Oh, ya! Aku ingat. Aku benci ulat bulu, tapi aku suka kupu-kupu. Aku suka hujan, tapi tidak terlalu suka dengan pelangi. Aku benci rokok, sangat. Lebih suka pensil daripada pulpen. Tidak bisa memakan sesuatu yang terlalu pedas walaupun ingin. Aku ingin sekali bisa bermain skateboard, tapi tidak punya waktu. Tidak suka orang yang berpura-pura. Aku punya masalah dengan lambung dan perutku, aku jarang makan, aku... ah, maaf. Aku meracau sendiri. Apa ini aneh?"

"Tidak, teruskan saja, aku mengerti."

"Aku kadang ingin terbang bebas, atau tidur seharian tanpa gangguan. Aku merasa seperti ada yang merantaiku dan aku benci itu. Dipaksa berpikir seharian dua puluh empat jam tanpa berhenti, ada hukuman untukku jika tidak sesuai, membuatku merasa gelisah setiap waktu. Aku minum obat pereda nyeri seperti orang kecanduan, dosis tinggi. Diseret untuk terus tetap berlari sampai kakiku lecet dan berdarah. Aku.. aku hanya ingin istirahat."

"Tae, kau menangis?" Suara cemas dari Jungkook membuat tenggorokan Taehyung seakan tercekat.

"Apa? Aku? Tidak." Taehyung mengusap pipinya yang ternyata sudah basah. "Ah, iya. Aku menangis. Aku tidak sadar. Aku..." Taehyung kini merasa tenggorokannya sakit dan pipinya semakin basah. "Jadi begini rasanya menangis? Aku sudah lupa, rasanya sesak tapi kenapa agak ringan? Maaf, Jungkook. Aku ini memang aneh, baru kali ini aku bicara sepanjang ini entah kenapa."

"Aku yang harus minta maaf. Aku tidak bisa berada disana dan memelukmu, Taehyung."

"Bicara apa kau, Jungkook? Aku ini bukan perempuan." Taehyung terkekeh pelan. "Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena kau, aku bisa mengeluarkan apa yang kupendam selama ini, terima kasih telah mendengarkanku."

"Kenapa berterima kasih? Memang aku yang memintamu bicara kan?"

"Karena kau memintaku bicara maka aku bisa mengeluarkannya, sebelum ini tidak ada yang bisa menjadi tempatku bicara, atau aku yang tidak bisa bicara."

"Hei, Tae. Sebenarnya aku senang kau menangis, selama ini kau terlihat membangun tembok dan mengunci semua emosimu. Dengan ini, setidaknya kau menjadi sedikit lebih tenang. Menahan dalam diam itu membunuhmu perlahan."

"Kau yang menghancurkan temboknya, Jungkook."

"Wah, aku tersanjung." Tawa pelan. "Tidurlah, Taehyung. Setelah kau tidur, akan kututup."

"Tutup saja sekarang."

"Tidur."

"Iya, baiklah."

"Have a nice dream, Kim Taehyung."

Taehyung mengangkat bahu, mematikan lampu lalu kemudian menutup matanya kemudian berbiaik pelan. "Have nice dream too, Jungkook."

Pemuda berambut cokelat itu terlelap dalam hitungan detik. Tubuhnya yang lelah membuatnya cepat tidur, atau memang ia sudah merasa agak rileks.

Mendengar dengkur halus Taehyung yang tenang dan damai, sambungan telepon itu ditutup.

 

.

.

.

Lengan Jungkook melingkar di pundak Taehyung yang tengah membaca sebuah buku di pangkuannya, melihat beberapa rumus dan angka yang tertera saja sudah membuat kepala Jungkook pusing bukan main.

"Hai, Tae."

Kecupan ringan membuat Taehyung mengusap pipinya dengan iris melebar dari balik kacamatanya, membuat Jungkook terkekeh pelan. Taehyung baru akan melayangkan protes sebelum memperhatikan lengan Jungkook yang sedikit tersingkap. Ada bekas membiru dan plester luka seperti bekas infus ataupun suntikan.

"Ada apa denganmu?" tanya Taehyung, melepaskan rangkulan Jungkook untuk melihat lengan pemuda itu lebih jelas, namun Jungkook menepisnya, tidak membiarkan Taehyung melihat lebih jauh. "Jeon Jungkook?" tuntut Taehyung.

"Tidak ada apa-apa, sungguh," Jungkook terkekeh pelan, hampir membuat Taehyung tertipu, "Bukan sesuatu yang penting untuk diketahui, Tae. Bagaimana kalau kita ke kantin sekarang? Kau mau menemaniku makan kan? Tentu saja, ayo."

Taehyung tidak membalas, hanya mengikuti langkah Jungkook. Mendadak menyadari sesuatu yang membuat dadanya sedikit sesak.

Ia bahkan tidak tahu apa-apa tentang Jungkook.

"Taehyung." Taehyung menatap kearah pemuda berambut cokelat terang yang telah memanggilnya. Menemukan senyum menenangkan terulas di bibirnya. "Jangan pikirkan apapun, karena yang penting aku masih disini bersamamu kan?"

"Apa itu berati kau akan pergi?" Pertanyaan itu mendadak terlontar dari Taehyung tanpa sadar.

Tawa pelan dari Jungkook. "Tidak ada petrichor yang bertahan lama, mereka hanya menenangkan untuk sesaat sebelum lenyap tidak berbekas, kemudian perlahan terlupakan."

Taehyung bukan orang yang bodoh, ia sangat menyadari apa yang Jungkook katakan. Ia tahu bahwa itu bukan kata-kata kosong belaka, ataupun frasa yang terlontar asal. Taehyung tahu suatu saat nanti Jungkook akan meninggalkannya, entah kapan. Taehyung sudah terbiasa, orang-orang pergi dan datang dalam siklus tanpa henti, tapi kali ini dirinya dijalari ketakutan yang amat sangat.

Kemana Jungkook akan meninggalkannya?

"Taehyung?"

"Jangan pergi." Suara Taehyung hancur, retak seiring dengan nafasnya yang agak memburu. Sesak. Taehyung tahu ini bukan dongeng yang akan berakhir bahagia, bukan pula fiksi yang plotnya bisa dikendalikan sesuka hati, tapi sifat naifnya itu masih bersarang di hati kecilnya. "Aku tidak minta banyak, aku hanya ingin kau disini."

Jungkook mendekat, mengusap pelan rambut halus Taehyung. Mengirim ciuman di wajahnya dan melumat bibirnya lembut seringan kapas, kemudian berbisik pelan di depan bibir Taehyung dalam nada lirih yang mengiris.

"Nah, sorry. But I won't promise ya. The time almost up. Take care, dear."

 

.

.

.

Basah.

Taehyung berdiri sendirian, dengan alam di sekitarnya sudah basah dihujam langit. Aromanya menenangkan seperti biasa, namun kali ini meninggalkan luka tidak terlihat di dadanya. Taehyung hanya bisa menyimpan rasa sakitnya, menandakan bahwa ada Jungkook disana.

Hanya satu bulan, dia mengenal Jungkook hanya selama sebulan namun pemuda itu menorehkan terlalu banyak hal di hidupnya. Tidak ada kata cinta, tidak ada rayuan ataupun omongan kosong tidak berguna. Taehyung baru kali ini menemukan seseorang yang menerima dan mengerti dirinya, bahkan memahaminya tanpa perlu bertanya.

"Bagaimana bisa kau menyembunyikan semuanya dariku? Kau tahu seluruh hal tentangku tapi tidak mengijinkanku untuk tahu satu hal tentang dirimu. Bukankah itu tidak adil? Bagaimana bisa kau membuatku tetap tertawa sementara sebenarnya kau sendiri merintih menahan rasa sakit yang menggerogotimu hingga sekarat? Bagaimana bisa kau tetap menopang, menjaga, dan melindungiku sedangkan kau sendiri perlahan-lahan hancur?"

Keheningan yang pedih menyelimutinya, Taehyung menghembuskan napasnya.

"Di dalam tanah sana pasti sangat dingin, kan, Jungkook? Kau pasti tidak akan merasa sakit lagi karena Leukemia sialan itu kan?"

Iris matanya terpejam, membiarkan air matanya mengalir dari sudut matanya dan menuruni pipinya. Sebelum kemudian kelopaknya kembali terbuka, menatap gundukan tanah basah dihadapannya.

"Selamat jalan, Petrichor-ku. Kuharap kau menungguku disana." [ ]

 

Series this work belongs to: