Work Text:
ㅡi
"Gukㅡastaga! Ada apa dengan wajahmu?"
Taehyung menyambut badan Jeongguk yang lebih besar dengannya, sedikit limbung dan sempoyongan. Jika saja Taehyung tidak segera berpegangan pada rak sepatu yang ada di dekat sana, mungkin ia sudah jatuh ditindih sahabat masa kecilnya ini.
"Ouch, kepalaku pusing..." Jeongguk mengeluh di leher Taehyung, menurut saja saat yang lebih tua menyeretnya masuk ke dalam apartemen dan menghempaskan tubuhnya di sofa.
Jeongguk terlihat kacau, luka lebam terlihat di dekat mata dan rahang, ada goresan kecil di pelipis serta bibir yang sobek. "Diam disana, akan kuambilkan obat." Taehyung berdecak, mendadak merasa begitu kesal. Namun ia lebih memilih menahannya. Jeongguk butuh diobati terlebih dulu.
Taehyung kembali tidak lama, mengobati Jungkook dengan cepat karena terbiasa. Jeongguk sering sekali pulang padanya dengan keadaan babak belur begini, seringkali hanya karena masalah sepele. "Kali ini kenapa lagi?" Taehyung duduk di sebelah Jeongguk, namun pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu hanya bungkam.
"Aku tidak pernah suka ide tentang berkelahi begini, Gukkie. Orang tuamu menitipkanmu padaku bukan agar kau menjadi sok jagoan." Taehyung melipat lengannya di depan dada, keningnya berkerut sementara Jeongguk tetap berada dalam diamnya. Walaupun kini pandangannya telah teralih pada Taehyung. "Sudah berapa kali aku bilang untuk tidak berkelahi lagi? Kau benar-benar ingin aku menjaga jarak denganㅡ"
"Hyung!" Akhirnya, kelinci yang satu ini bersuara juga. Menggemaskan melihat bagaimana kening Jeongguk berkerut tidak setuju dan tatapan tidak rela itu terlihat begitu manis. "Aku tidak bisa menahan diri, oke? Rasanya aku akan menyesal jika tidak meninjunya tadi."
Taehyung menaikkan sebelah alisnya. "Karena apa?"
"Hyunbin." Jeongguk bicara dengan nada sangat pelan, namun karena hanya ada mereka berdua disana, Taehyung dapat mendengarnya dengan jelas.
"Hyunbin? Bukankah dia temanmu?"
Jeongguk berdecih, agaknya dia sangat kesal hingga menyebut namanya saja membuat raut wajahnya mengeruh. Jeongguk dengan cepat berdiri. "Terima kasih, hyung. Aku akan kembali ke apartemenku."
"Tidak, tidak! Tidak sebelum kau jujur padaku dulu!" Taehyung meraih lengan Jeongguk dan kembali mendorongnya agar terduduk. Tidak sulit mengendalikan Jeongguk, karena sudah menjadi rahasia besar bahwa Jeongguk amat sangat penurut pada Taehyung. "Bilang padaku!"
Embusan napas Jeongguk terdengar kasar, ia seperti akan menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya, namun Taehyung yakin Jeongguk tidak akan melakukan apa-apa. Jeongguk itu lemah, terutama pada Taehyung. Lihat, ia bahkan tidak melawan saat Taehyung menahan lengan Jeongguk dan memeluknya erat.
Tanpa diduga, Jeongguk melepaskan lengan Taehyung yang melingkar padanya. Kala yang lebih tua akan protes, Jeongguk menarik tubuh Taehyung yang lebih kurus mendekat dan mendekapnya erat-erat. Menenggelamkan Taehyung dalam pelukannya. "Sial, aku kesal sekali!" Jeongguk mengumpat tertahan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Taehyung.
"Hei, hei, ada apa?" suara Taehyung melembut, ia menepuk-nepuk pelan lengan Jeongguk yang kasih melingkari tubuhnya.
"Dia banyak mengatakan hal buruk tentangmu, hyung. Tepat di depanku. Aku bahkan tidak pernah menyebut apa-apa tentang Minhyun-hyung."
"Itu cuma kata-kata, Jeongguk-a. Kenapa kau semarah itu, hm?"
"Entahlah, aku benci jika ada yang mengatakan hal buruk tentangmu."
"Mungkin Hyunbin cuma bercanda." Taehyung mengusak lembut surai cokelat gelap milik Jeongguk yang agak berantakan. Ingin tertawa mendengar alasan Jeongguk yang menurutnya cukup kekanakan. "Tapi tidak perlu sampai berkelahi juga. Dia temanmu, kan?"
"Tapi dia kelewatan, hyung! Mana ada teman yang begitu?" Taehyung merasakan pelukan Jeongguk semakin erat. "Harusnya kukirim dia di rumah sakit saja."
Jitakan Taehyung mendarat di kening Jeongguk dengan suara ctak keras. Jeongguk refleks melepas sebelah lengannya dan mengusap dahinya yang sekarang terasa begitu nyeri. "Astaga, hyung!" ia meringis.
"Aku tetap tidak suka kau berkelahi, ingat itu." Taehyung berucap serius. Ia menyingkirkan jari Jeongguk dan ganti mengusap kening pemuda itu sembari meniupinya pelan.
"Lalu aku harus bagaimana?" Jeongguk mengernyitkan keningnya. Menyukai bagaimana jari langsing Taehyung menyentuhnya begitu lembut, mengalirkan kehangatan yang menjalar pelan-pelan dan membuatnya berdebar.
"Bilang padaku, akan kulaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik." Taehyung mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah ia benar-benar serius untuk melakukan apa yang ia ucapkan.
Jeongguk menyemburkan tawanya, kembali memeluk erat Taehyung dan menumpukan dahinya di pundak yang lebih tua. "Kau yang terbaik, hyung!" Jeongguk masih tertawa, lupa sepenuhnya tentang rasa perih di bibirnya setiap kali dia bicara.
"Jeonggukie..."
"Hm?" Jeongguk berdeham, meniup napasnya di daerah tulang selangka Taehyung dan sedikit membuat yang lebih tua merasa geli. Ia mendorong pelan kepala Jeongguk untuk menjauh dari lehernya.
"Kau juga harus menahan diri dan tidak langsung melayangkan tinjumu itu, sekesal apapun, belajarlah untuk berpikir jernih dan dingin. Paham?" Taehyung kembali memainkan rambut cokelat Jeongguk, ada sedikit bau keringat juga bau obat merah dan alkohol yang digunakan Taehyung tadi. "Jangan mudah tersulut hanya karena namaku dikait-kaitkan."
"Aku tidak mudah tersulut, hyungie." Jeongguk melayangkan protes samar. Kedua alisnya bertautan. "Hanya saja kalau itu kau, aku sulit menahan diri."
"Ei, aku tahu kau sangat sayang padaku." Taehyung tertawa kecil. "Tapi kau harus janji padaku untuk tidak berkelahi lagiㅡ "
Jeongguk lekas melepaskan diri dari Taehyung, menghentikan ucapan Taehyung yang belum selesai. "Aku harus puㅡ"
"Kau menginap disini!" Taehyung memotong telak, menahan Jeongguk dengan memeluk lehernya dari samping. Sengaja menempelkan pipinya pada Jeongguk, ia tahu jika sudah begini, pemuda itu tidak akan menolak apapun yang diminta Taehyung. Apapun. "Mana mungkin aku membiarkanmu sendirian dengan keadaan kacau begini, eoh? Janji padaku kau tidak akan berkelahi lagi?"
Jeongguk bungkam, ia tidak menatap Taehyung namun decakan lidahnya terdengar samar. Taehyung tahu Jeongguk tengah amat sangat kesal, namun ia tidak bisa membiarkan Jeongguk begini lagi. Pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu perlu mengendalikan emosinya, ia harus lebih menahan diri, terlebih dia gampang sekali tersulut jika ada yang menyematkan nama Taehyung.
Taehyung tahu itu dan tidak perlu menyebutkan sudah berapa ratus kali perkelahian yang dialami Jeongguk karena masalah serupa.
"Jeongguk..." Taehyung mulai tidak sabar, sedari tadi Jeongguk terus saja diam dan tidak mau memberi jawaban. Bahkan enggan hanya untuk mengiyakan.
Jeongguk berdiri, melompat ke belakang sofa hingga Taehyung tidak sempat menjulurkan tangan untuk menarik kaus putihnya yang agak kotor dengan beberapa bercak darah. Ia berjalan ke dapur dan mengabaikan teriakan 'Jeongguk-a!!!' yang diteriakkan Taehyung dengan nada tidak kalah kesal. Ia sedikit limbung saat yang lebih tua memeluknya dari belakang, erat dan begitu lekat.
"Aku haus, kenapa tidak membuatkanku minum?" Jeongguk bergumam pelan, merasakan kepala Taehyung bertumpu pada bahunya.
"Biasanya kau membuatnya sendiri," Taehyung mendengus pelan, mencubit gemas pipi Jeongguk dan menariknya, "lalu jangan mengelak!"
"Aku tidak mengelak," Jeongguk menarik napas panjang, berbalik dan melingkarkan lengannya di pinggang ramping Taehyung dengan mudah, membaui aroma Taehyung yang semanis karamel dan selembut bayi, "aku tidak bisa berjanji untuk itu, hyung. Maafkan aku."
"Tapi, Gukkie..."
"Apa lagi?"
Taehyung meraih wajah Jungkook dan mengecup ujung hidung yang lebih muda sekilas. "Jangan membahayakan dirimu sendiri, oke?"
Jeongguk menarik senyum tipis. "Oke."
Taehyung mendengus dalam hati merasa beban di dadanya kini membuncah ringan dan meluruh manis mendengar tawa kekanakan dari Jeongguk. Tawa yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang. Ia tersenyum dan mengusap-usap pelan rambut Jeongguk. "Aigu, bayi besarku ini." Gumamnya gemas. "Terima kasih sudah menjagaku selama ini, Jeongguk-a."
Jeongguk memiringkan kepalanya, tertawa. "Harusnya aku yang bilang terima kasih, karena sudah bersedia mengurusku sementara kedua orangtuaku sudah menyerah."
"Minggu depan aku dapat cuti kuliah, bagaimana kalau kita pulang ke kampung halaman?"
"Hm... ide bagus. Ujian akhir semesterku juga sudah selesai." Jeongguk menganggukkan kepalanya patuh. "Jadi bisa tolong buatkan aku cokelat hangat?"
Taehyung menendang main-main tungkai kaki Jeongguk, mengabaikan ringisan perih dari yang lebih muda. Ia menepuk lengan Jeongguk di pinggangnya, menyuruh pemuda itu untuk melepaskan dan minggir. Sedikit berjingkat untuk meraih bubuk cokelat di lemari paling atas.
"Hyung..."
"Apa?" Taehyung tengah sibuk menuangkan air panas ke dalam dua gelas bergagang, sementara Jeongguk sudah duduk patuh di atas meja makan, menunggu dengan kedua tangan terlipat, bertumpu di atas meja.
"Kenapa kau cantik sekali?"
Taehyung menyemburkan tawa, terlampau sering mendengarnya terlontar langsung dari bibir Jeongguk. "Kau sudah bertanya itu padaku ratusan kali. Tidak punya pertanyaan selain itu?
"Pertanyaan lain? Hm..." Jeongguk meletakkan dagunya di atas permukaan meja kaca yang dingin. "Kapan putus dengan pacarmu?"
"AW!"
"Hyung!" Jeongguk segera berdiri dari duduknya, cemas melihat lengan Taehyung agak memerah. Ia tahu sejak dulu bahwa kulit Taehyung sangat sensitif. "Kau baik-baik saja?"
"Hanya terciprat air panas sedikit," Taehyung membalas dengan nada menenangkan, ia mengguyur lengannya di bawah keran wastafel yang menyala, "pertanyaanmu benar-benar luar biasa, Jeon Jeongguk-ssi. Kau benar-benar membuatku terkejut."
"Hyung, maaf."
"Astaga, aku tidak apa-apa," Taehyung mencubit pelan pipi Jeongguk, entah keberapa kalinya hari itu. Ia selalu gemas melihat Jeongguk yang khawatir, tapi tidak tega melihat raut bersalah di wajah pemuda itu, "sudah sana, duduklah."
.
.
.
ㅡii
"Taehyung-a, kau mendengarku?"
Taehyung tersentak dari ponselnya dan menatap Seojoon, yang kini nampak agak terganggu. "Maaf, kau bilang apa tadi?"
Seojoom menarik napas panjang, mencoba memaklumi tingkah Taehyung yang agak aneh. Pemuda itu biasanya secerah mentari dan begitu bersemangat, namun kali ini cahayanya agak redup dan berulangkali mengecek ponselnya, bahkan kedapatan mengetik pesan beberapa kali. "Aku tanya apa kau punya waktu lusa nanti?" ulangnya lembut.
"Hm? Untuk apa?" Taehyung memiringkan kepalanya, gestur manis yang membuat siapapun jatuh hati, tidak terkecuali Seojoon. Ia menyendok sedikit es krim stroberi favoritnya, sedikit kehilangan minat.
"Untuk bertemu ibuku."
"Entahlah, minggu-minggu ini aku sedang sibuk." Taehyung menjawab gamang, pikirannya kembali berkelana pada Jeongguk. Pemuda itu menelponnya jam tujuh pagi kala Taehyung bersiap untuk pergi kuliah, meminta dengan suara serak untuk membuatkan surat izin tidak masuk sekolah dan mengantarkannya pada wali kelas Jeongguk di sekolah menengah atas. Saat Taehyung bertanya, Jeongguk hanya membalas bahwa ia sedikit demam.
Itu sanggup membuat Taehyung uring-uringan, tidak dapat konsentrasi pada materi kuliahnya hari itu, bahkan tidak merespon Seojoon, kekasihnya, dengan semangat seperti biasa. Ia begitu khawatir. Jeongguk tidak pernah absen sekolah jika ia hanya sedikit tidak enak badan. Ditambah lagi, jika pemuda itu tengah sakit, ia tidak akan bergerak dari tempat tidurnya dan tidur seharian. Melewatkan makan ataupun minum obat.
"Jeongguk lagi?" kali ini suara Seojoon terselip nada tidak suka. Ia dan Jeongguk tidak pernah akur, karena setiap kali mereka bertiga bersama, waktu Taehyung akan habis dengan Jeongguk. Biarpun terlihat sering kesal dan memarahi Jeongguk, nampak begitu jelas bahwa Taehyung amat sangat menyayangi Jeongguk. Kekanakan atau tidak, Seojoon tetap cemburu, tidak suka bahwa ia tetap kalah dari Jeongguk, bahkan walaupun ia telah memacari Taehyung.
"Aku khawatir dia melewatkan makan siang." Taehyung menjawab jujur, meletakkan ponselnya setelah mengetik pesan panjang dan beruntun pesan lagi yang tidak kunjung dibuka Jeongguk. Tidak menyadari nada Seojoon yang mulai berubah.
"Dia sudah besar, lagipula apa hubungannya dia melewatkan makan siang atau tidak denganmu?"
Taehyung mengernyitkan kening, tidak suka mendengar kalimat Seojoon. "Jangan begitu, Seojoon-hyung. Jeongguk sedang sakit."
"Lalu kenapa tidak kau susul saja dia jika kau secemas itu?"
"Hyung!" Taehyung berseru, tangannya terkepal agak gemetar, "kenapa marah padaku? Aku tidak suka jika kau bicara seperti itu tentang Jeongguk. Kau tahu sendiri aku sudah bersamanya sejak kecil sekali. Bagaimana aku tidak khawatir?"
"Taehyung, maaf. Aku hanya cemburu karena kau lebih memeperhatikan bocah itu, bahkan hingga mengacuhkanku begini." Seojoon meraih tangan Taehyung, menggenggannya erat. Tersenyum, berusaha mengenyahkan binar marah yang muncul di iris hazel Taehyung.
Taehyung menarik napas panjang, kemudian membalas senyuman Seojoon, biarpun pikirannya masih berkecamuk. "Aku juga minta maaf sudah mengacuhkanmu, hyung. Aku hanya terlalu khawatir padanya." Taehyung menarik lepas tangannya dari genggaman Seojoon, tiba-tiba kehilangan rasa berdebar-debar yang biasa ia rasakan ketika tangannya digenggam.
Taehyung sudah berkali-kali pacaran, dan seluruh pacarnya selalu mempermasalahkan Jeongguk, buruknya tidak ada yang tahu bahwa itu adalah salah satu dari sekian hal yang dibenci Taehyung. Banyak yang bilang Jeongguk terlalu bergantung, membawa pengaruh buruk, bahkan ada yang terang-terangan bilang bahwa ia harus berhenti menemui Jeongguk jika ingin hubungan mereka bertahan ( ini membuat Taehyung langsung mengakhiri hubungan detik itu juga). Padahal tahu apa mereka yang baru kenal Jeongguk sebulan, dua minggu, bahkan sehari?
Karena itu, bagi Taehyung, tidak masuk akal sama sekali jika ada yang menyuruhnya menjauhkan diri dari Jeongguk. Benar, Jeongguk anak yang cukup berandal. Dia terkadang bolos sekolah, jarang mengumpulkan tugas, dan suka terlibat perkelahian. Namun poin baiknya, dia cerdas, tidak pernah merokok ataupun obat-obatan terlarang, dan selalu sopan pada orang yang lebih tua. Lagipula Jeongguk justru lebih baik dari kebanyakan mantan pacar Taehyung sebelumnya. Saat Taehyung sakit, mereka rata-rata sibuk menghubungi Taehyung untuk menanyakan keadaan, Jeongguk adalah orang pertama yang langsung muncul si hadapan Taehyung.
"Hyung, kau bilang ingin serius denganku, kan?" Taehyung mengetukkan jarinya di atas meja kafe, menatap lurus ke arah Seojoon dengan bibir bawah yang digigit.
"Tentu, karena itu kuharap kau bersedia bertemu dengan ibuku." Seojoon menyambut topik yang diucapkan Taehyung tiba-tiba kelewat ceria dan antusias, tidak menyadari raut sendu Taehyung. "Aku banyak bercerita tentangmu, kata ibuku, kau anak yang baik dan sepertinya beliau menyukaimu. Jadi, Taehyungㅡ "
"Hyung," Taehyung memotong ucapan Seojoon, ia memejamkan matanya sejenak dan menarik napas panjang, "ayo berakhir."
Seojoon tertegun. Ia menatap Taehyung tidak percaya. Barusan Taehyung tersenyum begitu manis, namun ia tiba-tiba meminta untuk berakhir? Seojoon tidak paham, jalan pikiran Taehyung begitu berbelit-belit dan sangat sulit untuk ditebak. "Aku tidak mengerti apa maksudmu, Taehyung." Seojoon menatap Taehyung lurus. "Apa kau masih marah soal Jeongguk tadi?"
Taehyung menggeleng. "Jika hyung mencari seseorang yang serius, ada banyak sekali yang lebih baik dariku."
"Apa kau belum siap, Taehyung? Aku bisa memberikanmu waktu."
"Bukan," Taehyung terkekeh pelan, "aku hanya tidak ingin serius pada siapapun dulu. Aku tidak bisa serius untuk siapapun sekarang."
"Lalu maksudmu dengan berakhir?"
"Kita berakhir, hyung. Aku yakin kau akan menemukan seseorang yang cocok untukmu, lebih cocok dibanding aku." Taehyung berdiri, membenahi posisi tas di bahunya dan mengambil ponsel yang ditelungkupkan di atas meja.
"Taehyung, tunggu." Seojoon menahan lengan Taehyung saat pemuda itu akan beranjak pergi. "Aku mencintaimu, sungguh. Tapi jika itu yang kau mau, aku tidak akan memaksa. Apa ini baik-baik saja?"
Taehyung tertawa pelan, kagum akan kedewasaan Seojoon. Harusnya ia menarik kembali ucapannya, namun Taehyung telah memantapkan hati. "Aku akan jadi orang terdepan yang mengucapkan selamat saat kau mengucapkan ikrar suci di depan altar, hyung."
.
.
.
ㅡiii
Tepat seperti dugaannya, apartemen Jeongguk sunyi. Isinya cukup rapi, mengingat Jeongguk tidak suka sesuatu yang berantakan walaupun pemalas luar biasa. Beruntung Jeongguk tidak punya banyak barang sehingga tidak sulit menjaganya tetap rapi.
Taehyung meletakkan belanjaannya di atas meja dapur, sebelum melangkahkan kakinya ke kamar Jeongguk. Ia membukanya sepelan mungkin, menemukan buntalan selimut besar meringkuk di atas ranjangnya. Menahan senyum, ia masuk ke dalam kamar Jeongguk. Mengambil remote pendingin ruangan yang tergeletak, kemudian mematikannya.
Jeongguk dan kebiasaan buruknya, ia hanya bisa tertidur jika mendengar dengungan pendingin ruangan, sedingin apapun atau bagaimanapun kondisinya.
Pendingin ruangan mati dengan suara yang cukup nyaring mengingat apartemen Jeongguk teramat sunyi, hanya terdengar dengkur samar dari Jeongguk yang bergulung di dalam selimutnya.
"Hyung?"
Taehyung menoleh, menemukan wajah Jungkook menyembul dari selimutnya, wajahnya pucat, rambutnya berantakan dan terlihat lepek karena keringat yang bercucuran tak terkendali di keningnya. Samar-samar, ia terlihat menyedihkan. Taehyung terbiasa dengan Jeongguk yang banyak bicara, selalu mendebatnya, meledeknya seharian, dan setumpuk kegiatan yang membuat pemuda itu bergerak aktif kemana saja. Namun Jeongguk yang sedang sakit akan sangat diam dan jarang sekali bersuara.
"Kau terbangun?" Taehyung mendatangi Jeongguk, duduk di pinggir ranjangnya dan mengusap lembut keringat dingin di dahi yang lebih muda. "Berapa suhumu?"
Mendapati gelengan samar dari Jeongguk, Taehyung paham bahwa Jeongguk sama sekali tidak berbuat apa-apa untuk menurunkan demamnya. "Jangan bergulung dalam selimut, Gukkie-ya," bujuk Taehyung, menarik selimut yang masih membungkus erat tubuh Jeongguk, "mandilah dengan air hangat, jika kau sanggup untuk berdiri. Akan kubuatkan sesuatu yang hangat untukmu."
Jeongguk membuka selimut yang membungkusnya, perlahan-lahan bangkit duduk dibantu oleh Taehyung. Kepalanya masih sangat pusing namun ia lebih memilih untuk menuruti Taehyung. Ia merasakan jari langsing Taehyung berada di kepalanya, memijit kulit kepalanya pelan, membuat fokus Jeongguk perlahan-lahan kembali.
"Jika tidak sanggup tidak usah mandi, aku tidak bisa mengangkatmu kalau kau tiba-tiba jatuh." Taehyung mengusap rambut Jeongguk ke belakang dengan jari, agar bisa memijat dahi Jeongguk lebih leluasa. "Kau ini besar sekali, tahu. Bahkan lebih besar dariku."
Jeongguk hanya tersenyum, menikmati pijatan Taehyung dan memejamkan matanya sejenak. Jeongguk selalu menyukai Taehyung yang khawatir dan mengurusnya, menyenangi kekhawatiran Taehyung yang manis.
"Merasa lebih baik?"
Yang lebih muda mengangguk, ia bangkit berdiri dan menyambut handuk yang diambilkan Taehyung dari lemari. Keduanya sering sekali bergantian menginap, hingga Jeongguk terbiasa dengam apartemen Taehyung dan begitu juga sebaliknya. Taehyung duduk sebentar kala Jeongguk masuk ke kamar mandi dan menutupnya, ia membereskan tempat tidur Jeongguk yang agak berantakan lalu keluar dan melipat lengan kemejanya hingga siku.
Taehyung sudah berencana akan membuat sup, mungkin ditambah dengan krim, karena demam Jeongguk selalu disertai radang tenggorokan. Taehyung pernah mengalaminya dan paham bagaimana susahnya menelan makanan padat saat itu. Selagi menunggu sup matang, Taehyung mengambil kantong belanjaannya tadi dan meraih obat penurun panas dan pereda nyeri, juga antibiotik untuk radang menyebalkan itu.
Jeongguk muncul tidak lama kemudian, ia berjalan agak sempoyongan namun masih tetap stabil untuk ukuran orang sakit. Pemuda itu duduk di kursi meja makan, menatap Taehyung dalam diam. Taehyung menoleh, dikejutkan dengan Jeongguk dan keberadaan tisu berdarah yang menempel di hidungnya. Taehyung mematikan kompor, bergegas mendekati Jeongguk.
"Darahnya masih belum berhenti?" Taehyung bertanya khawatir, namun hanya dibalas senyum Jeongguk dan gelengan pelannya.
Taehyung mengambil handuk kecil di leher Jeongguk dan mengeringkan rambut basahnya, kembali memijat kepalanya lembut. Suhu tubuh Jeongguk sudah agak menurun, tidak sepanas tadi. Jika boleh kejam, Taehyung akan mengaku bahwa masa sakit Jeongguk adalah favoritnya. Karena hanya pada waktu itu, Jeongguk bertingkah seperti anak penurut dan begitu manis, terlepas dari badannya yang besar dengan otot yang terbentuk sempurna. "Makan ya," Taehyung membiarkan Jeongguk menyandarkan kepala di dadanya. Ia dapat merasakan anggukan pelan Jeongguk, "ya ampun aku seperti ibumu saja."
Jeongguk menghabiskan supnya dengan cepat, bahkan hingga tiga mangkuk karena Taehyung memaksanya. Meminum obat yang dibelikan Taehyung dalam satu tegukan. Mimisannya juga telah berhenti. "Berbaringlah di kamarmu jika masih merasa pusing," Taehyung meletakkan mangkuk kotor di wastafel, juga beberapa peralatan yang ia gunakan, "aku akan menyusulmu dan mengompres dahimu setelah mencuci ini."
Taehyung terkejut kala Jeongguk malah berada di belakangnya, ia tergagap kala bibir Jeongguk yang masih terasa hangat mengecup pipinya. Taehyung bersumpah bahwa raut yang Jeongguk tampilkan saat itu adalah raut paling lembut yang pernah ia lihat.
"Terima kasih sudah datang, hyung." Jeongguk berbisik serak, kemudian ia berbalik dengan berpegangan di kursi dan bertumpu pada dinding, berjalan dengan langkah tersaruk masuk ke kamarnya.
Ia mengembalikan perhatiannya pada mangkuk kotor yang harus dicuci, berusaha agar mangkuk licin itu tidak tergelincir dari jarinya. Ia dan Jeongguk berteman sudah sejak lama sekali, sehingga kecupan singkat seperti itu sudah merupakan hal yang biasa. Ia bahkan sering menciumi gemas pipi Jeongguk, namun tidak ada apapun yang aneh. Sekarang, baru saja, mungkin kurang dari tiga menit yang lalu, Jeongguk barusan menciumnya. Hal kecil seperti itu mampu membuat Taehyung merasa amat berdebar, diluar ambang batas normal.
"Apa mungkin aku tertular demam juga?" Taehyung bergumam sendiri sembari mengeringkan tangannya. Mengambil air hangat, wadah dan sebuah handuk kecil.
"Jeonggukkie," Taehyung menyapa saat masuk ke dalam kamar Jeongguk. Pemuda itu duduk dan bersandar, sambil menonton televisi. Rona wajah Jeongguk sudah kembali, masih agak pucat namun tidak seperti sebelumnya. "Kau mau kompresan atau plester demam saja?"
"Hyung sibuk?" Jeongguk sudah mulai bersuara, mungkin itu tandanya ia sudah jauh lebih baik, walaupun suaranya masih serak dan parau. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Taehyung saat yang lebih tua mendekat. Aroma Taehyung selalu selembut bayi dan Jeongguk menyukainya.
Taehyung ikut bersandar di sebelah Jeongguk, menyimpan kepala yang lebih muda di dadanya mengusap rambutnya pelan dan penuh kasih sayang. "Tidak, kenapa?" Taehyeng menyentuh tengkuk Jeongguk, suhunya masih sama seperti sebelumnya, "aku berencana menginap disini sampai kau sembuh."
Jeongguk tanpa sadar tersenyum, menyamankan posisinya dan mendengarkan jantung Taehyung yang berdetak konstan. "Kompres saja."
"Bajuku mungkin basah jika aku mengompresmu begini."
"Hyung pakai saja bajuku."
Taehyung tertawa, meraih wadah yang tadi ia bawa dan meletakkan kompresan di atas dahi Jeongguk yang mengerang pelan. "Tidur saja, biar demammu cepat turun, Gukkie."
Jeongguk berdeham pelan, memejamkan matanya yang terasa agak panas karena suhu badannya yanh diatas normal. Lengannya melingkar semakin erat pada Taehyung yang kini memijat kepala Jeongguk, mengenyahkan rasa pusing dan sakit yang dialami pemuda itu.
.
.
.
ㅡiv
Jeongguk dan Taehyung sampai sekitar lima jam yang lalu, setelah berkendara hampir enam jam, mungkin sampai tujuh jam karena mereka berhenti di berbagai tempat untuk membelikan oleh-oleh, juga Taehyung yang tidak tahan untuk tidak mencoba setiap tempat makan yang menarik perhatian.
Awalnya hanya ada mereka berdua, namun rupanya Jimin, sahabat Taehyung juga kenalan Jeongguk, juga ikut pulang ke Busan bersama Yoongi yang sedang tidak ada pekerjaan untuk mengisi luang kuliahnya. Namjoon, sepupu Taehyung, terlebih dahulu ada di sana bersama kekasihnya. Hoseok pun diundang ke rumah Taehyung oleh Jeongguk, karena pemuda itu juga tengah bosan dengan liburannya.
Ketujuhnya berkumpul di halaman belakang, saling melempar candaan, bahkan saling menyikut dan mengadakan taruhan untuk membangunkan Yoongi yang tertidur di kursi belakang. Tidak bergeming walaupun Hoseok memukul-mukulkan kayu dengan ribut.
"Pacarmu tidak diajak, Tae?" Jimin sibuk mengunyah daging, menulikan telinga dari Seokjin yang menceramahinya soal pentingnya memakan sayuran bersama daging.
Taehyung meminum sodanya sambil berdesis, tepat di sebelahnya Yoongi (akhirnya terbangun tatkala mendengar ancaman laptopnya akan dibakar) tengah berdecap dengan saus menempel di bibirnya. "Seojoon-hyung? Aku putus dengannya beberapa hari yang lalu." Kalimat Taehyung membuat semua mata menoleh padanya, kecuali Jeongguk yang tidak mendengar apa-apa, karena gilirannya untuk memanggang daging menggantikan Namjoon. Ia menatap was-was, mengamati Jeongguk. "Gukkie, pakai sarung tanganmu. Kau bisa terbakar, lalu terluka."
Jeongguk menurut, menyambut sarung tangan yang dilempar Namjoon dan segera mengenakannya.
"Ohㅡwow, bagaimana bisa?" Seokjin menatap Taehyung kagum, juga heran, "bagaimana bisa? Setahuku kau tidak pernah bermasalah apapun denganmu?"
Namjoon menandaskan bir kalengan di tangannya, kemudian tertawa keras. "Cemburu pada Jeongguk, pasti." Lalu pria itu beradu kepalan tangannya dengan Hoseok. Yoongi berjalan ke arah Jeongguk, meminta daging lagi dengan raut setengah mengantuk.
"Itu salah satu alasannya, tapi tidak cemburu yang keterlaluan. Lalu dia juga mengajakku untuk serius, aku hanya belum merasa siap untuk itu." Taehyung mendengus pelan. "Bagaimana bisa mereka cemburu pada Jeongguk? Aku tidak paham. Sudah kujelaskan kalau aku selalu bersama Jeongguk sejak kecil sekali, tapi mereka tetap tidak mengerti."
"Pertama, Jeongguk itu tampan." Yoongi menceletuk ; mendapatkan tatapan tertarik dari Seokjin, kernyitan di dahi oleh Taehyung, dan tatapan sengit dari Jimin. Min Yoongi tidak pernah membuang waktu untuk memuji orang lain. "Kedua, dia sangat dekat denganmu. Ketiga, kau selalu mendahulukan bocah itu apapun yang terjadi. Keempat, hanya preferensiku, badannya bagus sekali. Mungkin mantan-mantan pacarmu merasa seperti... apa itu namanya? Terancam?"
"Hanya itu? Hanya karena itu mereka cemburu? Pada Jeongguk? Astaga, Jeongguk bahkan baru akan menjejak bangku kuliah pada tahun ajaran depan!" Taehyung tertawa, hampir saja tersedak sawi yang digerusnya. Yoongi mengangkat bahu, melanjutkan makannya.
"Harga diri laki-laki, Taehyung," Hoseok memainkan sumpitnya, mengangguk khidmat seolah ia tengah mengantarkan pidato resmi, "siapapun akan merasa cemburu dan terancam jika orang yang disayangi dekat dengan orang yang lebih baik."
"Sama saja mereka tidak memercayaiku, kalau begitu." Taehyung mendengus, menghalau sumpit Jimin yang ingin mengambil potongan daging di piringnya, "jangan diambil, Jim. Kau sudah makan banyak!"
"Kau juga sudah makan banyak!" Jimin menyergah tidak terima.
"Ini untuk Jeongguk, dia baru makan dua potong," Taehyung segera mengamankan piringnya dari jangkauan Jimin. Memicing tajam.
Yoongi memutar napasnya, menggeser piringnya pada Jimin. "Kau ambil punyaku saja, aku sudah kenyang."
"Tidak, tidak, Yoongi-hyungie." Jimin menolak tegas, menggeser kembali piring Yoongi ke tempat semula. "Kau harus makan sebanyak mungkin."
"Aku ketinggalan apa?" Jeongguk muncul, membuka mulutnya saat sumpit Taehyung yang mengapit daging mampir di depan bibirnya.
"Kau sudah tahu Seojoon putus dengan Taehyung?" Jimin bertanya, akhirnya menyerah dengan perdebatannya bersama Yoongi. Pemuda berkulit pucat itu setengah tertidur dengan kepalanya di atas pundak Jimin.
Jeongguk menoleh cepat ke arah Taehyung hingga lehernya agak berderak. "Hyung kauㅡapa? Putus? Lagi?"
"Yeah, begitulah. Kurasa aku tidak dapat mengimbangi ritmenya yang lebih dewasa dengan komitmen." Taehyung mengedikkan kepalanya sambil tertawa, menyodorkan daging lagi di depan bibir Jeongguk. "Jangan pedulikan itu. Makan saja banyak-banyak."
"Akhirnya kau putus juga!" Jeongguk tertawa kencang, menghalau cubitan yang beritensi mampir ke pipinya lagi. Ia menangkap kedua lengan Taehyung, tepat di pergelangan tangan. Tidak mencengkeram erat namun Taehyung tetap tidak dapat melepasnya. "Jadi sekarang aku punya kesempatan, hyungie?"
Taehyung memajukan bibir bawahnya, kesal karena tidak dilepaskan oleh Jeongguk. Akhirnya ia membenturkan keningnya pada Jeongguk, terlampau keras hingga cengekraman Jeongguk melonggar. Segera menyesal karena merasa sakit menyerang dahinya.
Jeongguk masih tertawa, mengusap-usap kening Taehyung yang agak memerah dan meniupnya pelan. Mengirimkan kecupan lembut yang membuat sorak sorai membahana di sekitar mereka. Taehyung mematung, merasa panas mulai merayap lagi di wajahnya tatkala mendapati Jungkook yang terpaut dekat dengannya.
"Aku dapat videonya!" Hoseok berseru ribut.
"Yah, Taehyung! Mukamu merah! You hit him, Jeongguk-ssi!" Namjoon tidak kalah ribut, sibuk bertepuk tangan kacau.
Seokjin menyemburkan tawanya saat ia membenahi jaket Jimin di pundak Yoongi. "Kau harus berkaca, Taehyung. Kau manis sekali dengan wajah merah itu."
"A-apa-apaan!" Taehyung mendengus kesal, mencoba menjangkau Hoseok yang menghindarinya dengan mudah. "Hoseok-hyungㅡjebal, ack! JEBAAAAL."
Jimin meninju pundak Jeongguk yang hanya menarik senyuman, memperhatikan Taehyung yang berkejaran seru dengan Hoseok untuk memgambil ponsel yang lebih tua dibarengi tawa kecil. Jeongguk menoleh pada Jimin yang kini tersenyum padanya.
"Kau. Mendapatkan. Taehyung. Bro. Akhirnya." Jimin bersuara pelan, tidak mau mengganggu tidur Yoongi yang lelap di bahunya.
Itu cukup untuk membuat senyuman Jeongguk semakin lebar.
.
.
.
ㅡv
Taehyung berlari tergesa keluar dari ruang kuliah, wajahnya memucat parah dan tangan yang gemetar. Kakinya terasa lemas namun tetap ia paksa untuk berlari. Ia bahkan meninggalkan tasnya, namun tidak begitu peduli.
Ia mendapat kabar bahwa Jeongguk kecelakaan, astaga. Bocah itu tidak pernah berhenti membuatnya khawatir, bahkan walaupun Taehyung sudah mengijinkan Jeongguk untuk menjadi pacarnya satu bulan yang lalu. Ia tidak tahu harus menyesal atau tidak.
Kuku ibujari digigit begitu gelisah, Taehyung melayangkan pandangannya ke luar jendela mobil taksi yang ia naiki. Doa tidak kunjung berhenti dirapalkan Taehyung sepenuh hati. Ujung matanya bahkan mulai basah.
Taehyung melangkah keluar dari taksi dengan tergesa. Hampir lupa untuk membayar dan hampir terjungkal saat kakinya menapak tanah. Ia menatap bangunan besar rumah sakit dengan risau, tidak pernah sedikitpun sosok Jeongguk dan harapan agar pemuda itu baik-baik saja lepas dari benaknya.
Ia bertanya kacau pada resepsionis manis yang dengan baik hati menenangkannya, bahkan bersedia mengantarnya pada ruang pasien karena Jeongguk sudah keluar dari instalasi gawat darurat dan mungkin hanya perlu rawat jalan. Resepsionis itu menyapa Jeongguk dengan ceria lalu mempersilakan Taehyung untuk masuk, setelahnya permisi untuk kembali.
Jeongguk terduduk dengan infus, plester luka menempel di pelipis dan rahang kirinya, lengan kirinya diberi gips, juga mungkin ada beberapa luka lagi di tempat yang tidak terlihat. Ia nampak terkejut melihat Taehyung. "Hyung! Kenapa kemari?" Ia bertanya, mulai mengkhawatirkan Taehyung yang diam saja. "Kemari, hyung. Duduk di dekatku."
Taehyung menarik napas panjang. Semua perasaannya berkecamuk hingga Taehyung sendiri bingung ingin menamainya apa, namun ia menurut dan duduk di pinggir ranjang yang ditempati Jeongguk, tidak menepis lengan pemuda itu yang meraih lengannya lembut dan menggenggamnya demikian erat.
"Taehyung, lihat aku." Jeongguk menatap Taehyung begitu hangat dan manis, membuatnya tak kuasa menahan air matanya yang merebak begitu saja. Taehyung benar-benar kacau jika menyangkut emosi, apalagi jika Jeongguk sudah memanggil namanya alih-alih hyung seperti biasa. "Kau marah padaku, benar?"
Tangan Jeongguk yang tidak digips dan meremat jemari Taehyung kini naik, menyapu basah di pipi Taehyung yang ingin dihapus kasar oleh pemiliknya. "Sudah berapa kali kubilang tentang membahayakan dirimu sendiri?" Taehyung memukul dada Jeongguk dengan telapak tangannya berulangkali, menggigit bibirnya gusar kala Jeongguk hanya menerima pukulan itu dengan senyum damai. "Kau tidak pernah berhenti membuatku khawatir, Jeongguk."
"Maaf, oke? Aku benar-benar minta maaf, tapi ini murni kecelakaan." Jeongguk meraih tengkuk Taehyung, mempertemukan kening keduanya dengan ketukan pelan begitu manis. Iris sekelam malam itu menghujam lurus pada netra hazel yang berkaca-kaca. "Tenang saja, aku akan segera sembuh. Jangan khawatir."
"Bagaimana bisa kau bilang padaku untuk tidak khawatir?" Taehyung bergumam parau, mengecup bekas gesekan kemerahan dan luka di wajah Jeongguk, juga mengecup lembut gips yang membalut lengannya. "Memangnya khawatir itu bisa dikendalikan?"
"Taehyung, sungguh, aku baik-baik saja." Jeongguk mengusap belakang kepala Taehyung, kebiasannya untuk menenangkan yang lebih tua dan selalu berhasil. Ia memajukan wajahnya dan meraih bibir Taehyung yang semerah ceri, merekah begitu manis dan terasa lembut di antara giginya.
"Apa lenganmu patah?" Taehyung berbisik lirih pada jeda lumatan Jeongguk pada bibirnya, mencengkeram erat piama biru muda milik rumah sakit yang pemuda itu kenakan.
"Tidak, hanya sedikit retak. Akan sembuh dalam dua minggu, tergantung daya tahanku." Jeongguk memiringkan kepalanya, mencari sudut untuk bisa meraup bibir Taehyung, juga napasnya. Jeongguk selalu memuja kelakuan manis Taehyung. Yang selalu berjengit setiap kali bibir saling menempel seolah baru pertama kali, namun setelahnya membalas seakan ia sudah melakukannya ratusan kali.
Jeongguk sudah mengenal Taehyung lama sekali, mungkin sejak ia pertama kali membuka mata pada dunia, namun Taehyung selalu berhasil mengejutkannya. Membuatnya jatuh semakin dalam pada pemuda manis yang hanya lebih dua tahun di atasnya itu. Tidak bosan menatap raut rupawan yang lebih tua tanpa pernah merasa puas. Kemudian menyecap bibir semerah ceri yang begitu adiktif. Ia menyukai rona merah yang menyala di ujung telinga Taehyung dan bersemu di tulang pipinya. Bulu matanya yang panjang akan bergerak, seiring dengan matanya yang mengintip malu.
"Hyung benar-benar mencemaskanku?" Jeongguk melingkarkan lengan kanannya yang bebas di pinggang Taehyung, membawanya semakin merapat.
Taehyung berdecak kesal, apalagi melihat cengiran kekanakan di wajah Jeongguk dengan gigi kelincinya yang menyembul lucu. Taehyung ingin sekali memukulnya namun berakhir memeluk Jeongguk begitu erat. "Kau benar-benar ingin mati muda?"
"Tidak, terima kasih." Jeongguk meniup poni Taehyung yang jatuh bebas di dahinya. Taehyung mengecat rambutnya dengan warna abu keperakan dan sudah agak sedikit panjang, secara tidak sadar membuat garis wajahnya bertambah feminim. "Aku kecelakaan saja kau sudah sekacau ini, bagaimana jika aku benar-benar mati, hm?"
"Aku akan menyusul lalu memakimu selama mungkin." Taehyung berujar dengan nada yang begitu serius. "Aku bahkan kabur di tengah kuliah, meninggalkan tasku di kelas. Mungkin aku harus memaksa Jimin mengambilkannya untukku."
"Kau benar-benar terbaik, Taehyung-a." Jeongguk tertawa, menumpukan keningnya di ceruk leher Taehyung, merasa terhibur. "Kau tidak menghubungi ibuku kan?
Taehyung menggeleng malas. "Tidak, kau mau aku menghubungi bibi?"
"Tidak, tidak. Kau tahu sendiri ibuku akan seheboh apa jika cemas. Rahasiakan kecelakaanku ini untuk kita berdua saja."
Taehyung tersenyum tipis. "Apa untungnya?"
"Kau telah membantu banyak pada pacarmu."
"Lalu untukku?"
"Pacarmu akan sangat mencintaimu, Taehyungie."
Taehyung terkikik geli. "Lalu siapa pacarku itu?"
Jeongguk kembali tertawa, menggigit ujung hidung Taehyung terlampau gemas. "Yang membuat Kim Taehyung rela kabur dari kuliah, meninggalkan tas malang begitu saja, saking cemasnya bahkan tergagap saat bicara dengan resepsionis." Jeongguk menggesekkan ujung hidungnya pada Taehyung. "Apa aku benar?"
"Benar sekali."Taehyung meniup sekilas bibir Jeongguk. "Nama orang itu adalah Jeon Jeongguk. Kenal dengannya?"
"Tentu, itu orang yang sering kulihat di depan cermin, Kim Taehyung-ssi." Jeongguk menarik senyum menggoda. "Kemari, hyung. Aku ingin memelukmu erat-erat."
"Tapi kau harus janji untuk tidak membuatku khawatir lebih dari ini."
Jeongguk terkekeh pelan, mencium pergelangan tangan Taehyung sebelum menarik pemuda manis itu dalam dekapan eratnya. "Aku berjanji atau tidak, apapun yang kulakukan, kau akan selalu cemas, Taehyung." Jeongguk membenamkan hidungnya di helaian rambut Taehyung, menghirup napas dalam-dalam. Menikmati aroma semanis karamel yang menguar lembut dari figur Taehyung.
Taehyung menarik napas dan memejamkan matanya, membenarkan apa yang diucapkan Jeongguk. Ia cemas tentang segala hal yang berkaitan dengan Jeongguk, namun di saat yang sama juga begitu percaya dan yakin. Rasanya aneh, namun Taehyung memunculkan senyum tipis yang terukir lembut di bibirnya. Ia dapat merasakan kecupan manis Jeongguk di puncak kepalanya, sembari bisikan yang berembus di telinga.
"Terima kasih dan maaf sudah membuatmu cemas, Kim Taehyung."
Namun, Taehyung sendiri tidak keberatan. [ ]
