Actions

Work Header

Kitten

Summary:

Taehyung sangat menyukai kucing, dan Jeongguk yang selalu kewalahan menjaga Taehyung. 

[KookV oneshot; originally published in 2018]

Work Text:


Suar bel berdering ribut di seluruh penjuru rumah. Namun hanya sepi dan senyap yang menyapa. Jeongguk menarik napas resah. Taehyung tidak pernah lambat membukakan pintu untuknya, pacarnya yang secerah mentari itu akan sigap berlari kecil hanya untuk mendapatkan pelukan koala yang tak pernah berhasil ditolak Jeongguk.

Kenop pintu diputar perlahan, berderak begitu nyaring membelah keheningan. Rumah sewaan yang sudah mereka tinggali bersama sejak tiga tahun terakhir itu nihil presensi Kim Taehyung. Kerisauan merayapi Jeongguk dengan kecepatan mengerikan. Ia meraih ponsel di sakunya gesit, menekan panggilan penting nomor satu yang sudah ia khususkan untuk kekasih manisnya itu.

Nada sambung menyapa telinga Jeongguk begitu menyebalkan, detik setelahnya, ponsel terempas di atas sofa terdekat kala mendengar nada dering ponsel Taehyung menggema dari dalam kamar. Ini sudah terlalu sering terjadi, namun Jeongguk tidak pernah terbiasa akan hal seperti ini.

Jeongguk menyugar rambutnya ke belakang dengan gerakan lincah, mematikan. Meneriakkan 'gaaahhh' dengan begitu frustasi. Sepertinya ia harus bicara serius dengan Taehyung tentang bagaimana pentingnya untuk tetap membawa ponsel saat bepergian. Umurnya bisa terpangkas cepat karena kekhawatiran dengan begitu mudah.

Segesit kancing kerah kemeja biru muda yang dilepas kasar oleh Jeongguk, secepat itu pula atensinya beralih pada pintu yang kini terbuka dengan suara cklek nyaring. Berdiri Kim Taehyung dengan sebelah tangan menenteng kantong plastik, sebelah lagi mendekap seekor kucing yang nampak begitu nyaman di tangan kekasihnya. Taehyung tertawa pelan saat kucing tersebut mengeong pelan, agaknya belum menyadari Jeongguk yang tengah menunggu dengan kedua tangan menyilang di depan dada begitu angkuh.

"Kemana saja kau?" Jeongguk menekan habis seluruh keinginannya untuk merengkuh Taehyung begitu erat, berbisik pelan di telinga Taehyung betapa ia khawatir pada pemuda manis itu. Tidak, egonya yang menjulang setinggi langit tak akan mengijinkannya.

"Uh, Jeonggukie! Kau mengejutkanku!" Kini tawa Taehyung bertambah lebar, ia meletakkan kantong plastik yang ditentengnya di atas sofa. Dengan mantap memeluk kucing tadi kemudian berjalan mendekat kearah Jeongguk. Sedikit berjingkat dan menanamkan kecupan lembut sekilas di bibir Jeongguk. "Selamat datang kembali. Kapan pulang?"

"Baru saja." Jeongguk menjawab begitu datar. Egonya masih sekeras karang walau dadanya sesak atas perlakuan manis Taehyung. "Kau tidak menjawab."

"Hm? Menjawab apa?" Taehyung memiringkan kepalanya sedikit, kelopak mata yang sebenarnya sipit itu kini membesar dengan rasa ingin tahu. Kemarahan dan kekesalan yang mendera Jeongguk kini lenyap tak berbekas, musnah diempas habis oleh binar gugusan bintang di iris kekasihnya.

"Kau darimana saja? Rumah kosong saat aku datang dan ponselmu tertinggal, Tae. Sudah berapa kali aku bilang tentang membawa ponsel saat pergi keluar rumah?" Jeongguk membiarkan rentetan kalimat yang ditahannya meluncur keluar, lepas landas tak tertahankan. Matanya memincing tajam, namun tetap tidak menghilangkan kerlip kekhawatiran yang amat kentara.

Ia hanya terlalu khawatir pada Taehyung, selalu khawatir. Taehyung tak ubah layaknya bocah kecil yang suka melompat kemana saja, yang mengejar kupu-kupu tanpa tahu kemana kakinya menuju. Ia terlampau polos hingga Jeongguk takut untuk melepaskan pandangan dan mengalihkan perhatian sedikit saja.

Jeongguk itu posesif, kenyataan mutlak yang tak dapat dipungkiri, bahkan oleh Jeongguk sendiri.

Namun seluruh perasaan negatif yang merasuki pikiran Jeongguk tanpa permisi selalu menguap tak berbekas kala Taehyung memberinya kecupan lembut yang begitu manis. Meluruh, terinjak telak oleh bayang-bayang kelembutan bibir Taehyung yang manis. Mengosongkan isi kepalanya dengan begitu licik. Sehingga ia lupa, kehilangan alasan, pijakannya goyah tanpa sebab yang pasti.

"Aku hanya ke minimarket sebentar, susu cokelat bubuk kesukaanku habis." Taehyung berujar ringan, ia melewati Jeongguk dan membawa kakinya cepat menuju kamar mandi.

Jeongguk mengikuti Taehyung, seolah tidak terima alasan yang diberikan Taehyung. "Kau bisa menelponku, aku akan membelikannya saat pulang. Jangan tiba-tiba menghilang begini."

"Aku tidak menghilang tiba-tiba, Jeon." Taehyung menoleh sedikit pada Jeongguk, memberikan pout manis. Menghilangkan kewarasan Jeongguk dalam hitungan detik. "Kau sendiri yang terlalu khawatir, aku baik-baik saja. Tidak akan ada yang terjadi padaku."

"Aku selalu khawatir jika itu kau, Kim Taehyung. Selalu." Ego yang semula mencakar langit itu kini runtuh, meluruh dalam satuan pasti. Jeongguk mengulurkan tangan, meraih bagian tengkuk Taehyung dalam satu gerakan pasti. Meraup bibir pemuda bersurai cokelat madu itu, mengambil pelan-pelan napas Taehyung dengan gerakan bibirnya yang nakal.

Taehyung berjengit, ia terkejut namun tidak dapat berbuat apa-apa. Taehyung tidak pernah terbiasa dengan setiap tindakan Jeongguk yang tiba-tiba, ia tidak akan pernah siap. Namun Taehyung sangat suka. Ia menyukai bagaimana Jeongguk menciumnya begitu tergesa, seolah itu adalah hal terakhir yang dapat ia lakukan. Ia menyukai bagaimana Jeongguk selalu menyelipkan tangannya di sekitar pinggang Taehyung, membawanya merapat dengan gestur yang teramat protektif. Taehyung menikmati setiap bentuk kekhawatiran yang dilampiaskan Jeongguk padanya.

Pasokan oksigen di paru-paru Taehyung kian menipis saat lidah Jeongguk membelai bibir bawahnya kemudian melesak masuk terlampau mengejutkan. Dadanya seolah ditindih sesuatu yang tak kasat mata, menyuarakan rasa sakit yang menyesakkan. Bahkan kala otaknya memberikan perintah untuk bernapas melalui hidung, Taehyung tidak mampu merespon. Kucing di tangan Taehyung tanpa sengaja terlepas saat ia mencengkeram bisep Jeongguk terlampau keras. Mengeong begitu keras, menyadarkan keduanya yang telah terlalu tenggelam dalam eksistensi masing-masing.

Jeongguk buru-buru menarik diri, secara instingtif membawa jempolnya. Mengusap basah di bibir Taehyung yang kini merah dan bengkak. Seperti ceri merah yang berkilau. "Maaf, aku terlalu terbawa." Lirihnya penuh penyesalan.

"Bukan kau jika tidak seperti itu." Taehyung tertawa, matanya menyipit dalam lengkungan sabit. Begitu manis dan mendebarkan dada. Suara rendahnya amat lembut, menerbangkan nalar Jeongguk dan terpojok hingga ujung. "Permintaan maafmu diterima jika kau menyeduh susu cokelat untukku."

Jeongguk mengusak surai Taehyung gemas. Jarinya menyibak poni yang mengumpul di dahi Taehyung. Sedikit mencondongkan badannya kemudian merunduk, menempelkan bibirnya di sana sesaat sebelum kening keduanya bertemu. "Apapun, Taehyung. Apapun."

Kekehan renyah Taehyung memecahkan hening, membawa Jeongguk pada derai tawa yang sama. Menyenangkan. Melegakan. Adiktif. Sesaat melupakan waktu yang terus berputar tanpa suara.

.
.
.

Jeongguk bergabung dengan Taehyung di atas sofa, membawa dua mug susu cokelat hangat dalam cengkeraman jarinya. Ia mendengar sorakan kekanakan Taehyung, mengulurkan tangan untuk menerima salah satu mug tersebut sembari menggumam 'terima kasih' dengan sepenuh hati. Menghangatkan hati Jeongguk, meluapkan afeksi yang ia rasakan terhadap Taehyung.

Kerutan keningnya muncul saat ia melihat seekor kucing bergelung di pangkuan Taehyung, begitu nyaman di tempat yang seharusnya menjadi milik Jeongguk. Insting bocah Jeongguk masih tertinggal lekat biarpun usianya telah menginjak seperempat abad. Seharusnya ialah yang berbaring di sana, seharusnya itu tempatnya. Jeongguk berdecak dalam hati. Ia tahu cemburu pada binatang itu tidak ada gunanya. Tetap saja, Jeongguk tidak suka.

Jeongguk benci haknya diambil. Jeongguk benci teritorinya digusur. Jeongguk benci tempatnya digantikan. Biarpun pelakunya hanyalah seekor kucing kecil yang sebenarnya tidak memiliki salah apapun.

"Aku memandikannya." Jeongguk mengangkat kepalanya sedikit agar dapat menatap Taehyung dengan pas. Menaruh seluruh perhatiannya pada iris Taehyung yang berkedip penuh rasa gembira. Ia mendapati bagian tulang pipi Taehyung merona, menyimpan baik-baik dalam ingatannya. "Kucing ini tadi terlihat begitu kotor, sekarang dia teramat manis. Biarpun sedikit susah saat memandikannya."

"Tapi tidak semanis dirimu." Jeongguk menyahut dengan nada santai, menyesap susu cokelatnya. Egonya memang sekeras batu cadas, namun tidak menghalanginya untuk berterus terang. "Tunggu," mug diletakkan di atas meja. Ia bergerak mendekati Taehyung. Menangkap gesit lengan kanan Taehyung yang mengenakan kaos lengan panjang milik Jeongguk. Ia menarik ujungnya hingga ke batas siku Taehyung. Menemukan garis-garis merah di beberapa tempat. Jeongguk tidak lupa memeriksa yang kiri, kondisinya tak berbeda jauh dengan yang satunya. "Kau dicakar kucing liar ini?"

"Kucing ini tidak liar," Taehyung mencoba menarik tangannya, namun tidak kuasa melepas cengkeraman Jeongguk, "itu hanya kodrat alamiah mereka yang membenci air."

"Tapi tetap saja kucing ini menyakitimu."

"Itu hanya bentuk perlindungan diri, Jeonggukie."

"Taeㅡah sudahlah, kau tidak akan mendengarkanku. Terus saja bela kucingmu itu." Jeongguk menyerah, ia melepaskan tangan Taehyung. Kembali bersandar dan menatap malas pada acara televisi.

"Jeongguk-ah, kau marah padaku?"

"Tidak, hyung."

Taehyung menggigit bibirnya pelan, agak sedikit khawatir biarpun dalam hati ia ingin berteriak gemas karena Jeongguk terlihat begitu lucu. Jeongguk sudah lama sekali meninggalkan honorifiknya untuk Taehyung, hanya langsung memanggil nama. Taehyung tidak keberatan sama sekali. Ia suka mendengar nada Jeongguk mengucapkan namanya dengan logat Busan yang masih terdengar cukup jelas. Namun kali ini ia kembali menggunakannya.

"Jangan bohong," Taehyung melarikan jarinya di sepanjang bisep Jeongguk yang kokoh, membelainya perlahan. Teramat pelan hingga Jeongguk merinding. Kucing tadi mengeong lemah, seolah tahu ada batas privasi yang ingin dibangun sehingga ia melompat turun dari pangkuan Taehyung, berjalan entah kemana di penjuru rumah. "Apapun itu, maafkan aku, Guk-ah." Bisikan Taehyung terlampau lembut, mengalun bagai lenyap dibawa angin.

"Tidak perlu minta maaf, itu memang kebiasaanmu." Jeongguk menyerah. Ia selalu lemah pada Taehyung, selalu tunduk akan kelembutannya yang membakar nalaritas dan menggerus akal sehat. "Menyukai kucing teramat sangat hingga melupakan dirimu sendiri. Kau tahu sudah berapa banyak kucing yang keluar masuk rumah ini dan dipungut olehmu? Meninggalkan banyak luka cakaran di tubuhmu yang kujaga baik-baik? Aku tidak mengerti, Taehyung. Aku tidak paham."

Taehyung tidak menjawab racauan Jeongguk. Ia menyamankan diri dalam posisinya kala Jeongguk meraih badannya mendekat, tanpa ragu menghirup dalam-dalam aroma Jeongguk yang menenangkan. Kepalanya tersandar malas di dada Jeongguk yang naik turun dengan konstan. Mengerang pelan penuh rasa nyaman kala lengan Jeongguk melingkar badannya.

Taehyung sedikit berjengit saat dekapan Jeongguk mengerat, membuatnya semakin menempel pada yang lebih muda. Menahan napas saat Jeongguk mengecupi puncak kepalanya teramat frustasi. Kepala Taehyung mendadak pusing. Taehyung mengulurkan tangan, mengalung di leher Jeongguk. Meminta ciuman yang disambut Jeongguk dengan senang hati.

Erangan Taehyung terdengar begitu basah dan mendamba. Mengikis habis kendali Jeongguk tak tertahankan. Menggigit bibir bawah Taehyung, menarik dengan giginya. Membawa Taehyung tenggelam, dihujam pusaran ektasi yang bergulung di bawah kulit.

"Jeongguk-ah." Taehyung membelai rahang Jeongguk kala yang lebih muda menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Taehyung. Tersentak saat gigi tajam Jeongguk menghujam kulit, menggesek hingga menimbulkan ruam kemerahan nyalang. Jeongguk tersenyum sembari mendaratkan ciuman-ciuman kecil di leher Taehyung, begitu menyenangkan melihat tanda-tanda yang sudah dibuatnya. Miliknya, hanya miliknya, tak tergoyahkan. Mutlak.

"Kau cemburu aku lebih memperhatikan kucing-kucing itu?" ia memancing pelan dengan kekehan manis. Menggambar abstrak dengan jari di tengkuk Jeongguk.

"Sangat." Jeongguk tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab pasti.

"Dasar bayi, bayi besarku yang tampan." Taehyung tersenyum, menikmati dadanya yang berdebar diluar ambang batas normal. Seolah mencekiknya begitu menyenangkan. Ia senang ditandai. Senang menunjukkan bahwa ia dimiliki. Ia senang Jeongguk yang kacau saat dirinya tidak ada. Taehyung merasa dibutuhkan. "Aku akan membawanya ke pet shop."

"Apanya?"

"Kucing itu."

Jeongguk mengubah posisi Taehyung begitu mudah hingga kekasihnya itu duduk di pangkuannya, berhadapan dengan Jeongguk. Taehyung menyimpan telapak tangannya di pundak Jeongguk. "Benar baik-baik saja?"

"Hmm, kurasa baik-baik saja," Taehyung bersenandung pelan, memainkan rambut Jeongguk hingga berantakan, "lagipula, jika aku tidak mau kau meninggalkanku. Kau tidak suka kucing kan?"

Jeongguk ingin tertawa mendengar penjelasan Taehyung. "Aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena hal itu."

"Tapi tetap saja, aku tidak mau bayi besarku merajuk."

"Kau ini," Jeongguk berdecak, menggelitik pinggang Taehyung iseng hingga pemuda itu menjerit, "lihat siapa yang lebih bayi disini. Kau bahkan tidak mau lepas saat aku bersamamu."

"Kau memancingku, kau menarikku lebih dulu, aku kan jadi seperti ini." Terkadang sangat menyebalkan saat pelukan Jeongguk mengalahkan seluruh yang diinginkan Taehyung. Sangat menyebalkan betapa nyamannya pelukan hangat Jeongguk menenangkannya. Sangat menyebalkan betapa eratnya dekapan protektif Jeongguk. Menjaganya dengan pasti. Juga sangat menyebalkan betapa Taehyung akan terlihat begitu rapuh dan kecil, tenggelam di dada Jeongguk. Namun pada saat yang sama, begitu terlindungi, begitu disayangi.

"Bagaimana harimu? Menyenangkan?" Jeongguk tidak dapat menghentikan dirinya untuk mengusak rambut halus Taehyung, menyukai bagaimana jarinya tenggelam di sela-sela helaian lembut itu.

"Membosankan, Jeongguk. Membosankan." Taehyung mengadu, "Tidak ada hal menarik. Semuanya sama. Ke kampus, mendengarkan dosen, kemudian pulang dengan setumpuk tugas."

"Fokus dengan kuliahmu, sayang. Aku bahkan lulus lebih dulu darimu."

Taehyung memukul pelan dada Jeongguk sedikit kesal. "Menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan." Gerutuan Taehyung begitu menggemaskan, memanjakan telinga Jeongguk dengan manis. "Kau sendiri? Bagaimana di Enigma?"

Jeongguk memutar matanya, "Kau tahu sendiri, Tae. Sepupumu itu tidak pernah memberikan keringanan sedikitpun padaku. Aku curiga dia bahkan bersikap jauh lebih keras padaku."

"Itu artinya Yoongi-hyung menaruh perhatian lebih padamu. Kau tahu sendiri dia sudah melahirkan chef-chef luar biasa lewat didikan tangan besinya itu." Taehyung menusuk-nusuk pelan pipi Jeongguk yang sudah lebih tirus dari beberapa bulan terakhir, ia nampak semakin tampan. Taehyung tidak pernah bosan menatap wajah Jeongguk. Terpahat rupawan bak dewa. Namun ia masih merindukan pipi Jeongguk yang gembil saat pertama kali bertemu dengannya. "Mungkin Yoongi-hyung ingin menekanmu hingga batas karena melihat potensimu."

"Tapi gaya sparta-nya itu mengerikan, Taehyung. Sungguh."

"Namun lihat dirimu sekarang, berkembang begitu cepat, bukan?" Taehyung menangkup kedua sisi wajah Jeongguk, mengelus rahang tajam yang lebih muda dengan gerakan menyesatkan sebelum mengecup ujung hidung Jeongguk. Sedikit menggigit gemas. "Kau hanya harus bersabar, Jeonggukie. Oke?"

"Kau satu-satunya alasanku bertahan, tahu." Jeongguk kembali meraih pinggang Taehyung. "Aku butuh kau setelah dimaki Yoongi-hyung seharian."

"Iya, iya." Taehyung tertawa keras sembari menyimpan kepala Jeongguk di dadanya. "Merasa lebih baik?"

"Tidak."

"Eiy kenapaaaa?"

"Jika aku bilang 'ya', kau akan melepaskan pelukanmu." Jeongguk berdiri dengan Taehyung dalam gendongannya. Taehyung secara refleks melingkarkan kaki langsingnya di pinggang Jeongguk. "Ada yang ingin kau makan sekarang?"

"Pasta!" Taehyung bersorak kekanakan, sempat limbung namun Jeongguk menjaganya tetap stabil di tangannya.

Jeongguk tertawa. "Lalu kapan kau pergi ke pet shop?"

"Setelah makan? Bersamamu."

"Lalu kapan aku istirahat?"

"Oh... benar juga..." Taehyung tertegun sejenak. Matanya sedikit meredup. Jeongguk menarik senyuman asimetris, terhibur melihat reaksi Taehyung.

"Aku bercanda, sayang. Aku akan menemanimu kapanpun."

"Tapi kau baru pulang, mungkin aku akan pergi sendiri saja,"

"Tidak." Jeongguk menyela tidak sabar. "Jika kau pergi sendirian, entah kucing mana lagi yang kau pungut. Aku tidak mau mati khawatir karena kau hilang lagi. Tidak, terima kasih. Aku bekerja untukmu, tahu. Bukan menghidupi kucing-kucing itu."

"Aku akan cari kerja kalau begitu."

"Selesaikan kuliahmu dulu."

Taehyung mengerang, menyerah. Ia tahu ia tidak bisa melawan Jeongguk, bagaimanapun caranya. Yang lebih muda selalu dapat menemukan beragam cara licik tak terbantahkan untuk membuatnya bertekuk lutut.

"Sebegitu tidak sukanya pada kucing, Jeongguk-ah?"
Jeongguk menaruh Taehyung di pinggiran meja, namun Taehyung masih tidak mau melepas kakinya yang mengait pinggang Jeongguk. Ia mengerucutkan bibirnya, memberikan pout kecil yang lagi-lagi mengacaukan pikiran Jeongguk.

"Bukannya aku tidak suka kucing, tapi aku sudah punya anak singa manis yang harus kuurus. Aku tidak butuh kucing-kucing lain."

"Siapa yang kau sebut anak singa?" Taehyung mencubit keras bisep padat Jeongguk hingga yang lebih muda mengaduh sakit.

"Kau tahu sendiri, Taehyung," Jeongguk meringis pelan. "Nah, sekarang maukah kau melepaskan kaki ini agar bisa memasak untukmu?"

Taehyung tidak menjawab, hanya melepaskan kakinya. Ia masih merengut hingga Jeongguk tidak sanggup untuk tidak meraih tengkuk Taehyung dan mendaratkan kecupan dalam di sana.

"Mana senyumnya, sayang?"

"Sudah, sana!" Taehyung menjerit pelan dengan rona merah hebat merayap di pipinya. Derai tawa geli Jeongguk terdengar bersamaan dengan seruan malu setengah kesal Taehyung.

.
.
.

Embusan napas panjang lolos dari belah bibir Jeongguk saat mendapati rumah kembali kosong. Dan lagi-lagi, Taehyung meninggalkan ponselnya. Tetes hujan menimpa jendela kaca begitu deras, memekakkan telinga. Jeongguk mendongakkan kepalanya, menatap waswas pada langit kelabu yang bergulung-gulung.

Ia mengambil payung di dekat rak sepatu. Mengunci pintu rumah dengan teliti kemudian kembali masuk ke dalam mobil. Mengemudikannya dengan lihai menyusuri jalanan sepi. Taehyung tidak akan jauh. Jeongguk hanya berharap hujan deras kali ini tidak ada petir yang menyertai. Taehyung-nya takut petir, lebih dari apapun.

Mungkin memang sudah takdir, atau ikatan mereka yang amat kuat sehingga tidak butuh waktu lebih dari tiga puluh menit bagi Jeongguk untuk menemukan Taehyung berjongkok di bawah emperan toko. Dengan baju setengah basah dan rambut yang menempel lekat di dahinya. Biarpun hanya melalui jendela mobil, ia dapat melihat wajah Taehyung pucat.

Jeongguk buru-buru menghentikan mobilnya. Mengambil payung dengan tergesa. Tidak sabaran untuk segera menghampiri Taehyung. Ia setengah berlari menuju kekasih manisnya itu. Menghiraukan genangan air yang terinjak tanpa belas kasihan dan menciprat tanpa peringatan.

"Taehyung!"

"Jeonggukie!" Ia tidak akan lupa bagaimana kelopak Taehyung melengkung membentuk sabit indah, disertai barisan gigi putih yang tampil kala Taehyung memberinya senyuman kotak yang khas. Namun Jeongguk tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya yang meluap kala mendapati bibir Taehyung sedikit membiru dan gemetar.

Jeongguk melepaskan mantel yang dikenakannya, ganti membungkus badan kurus Taehyung. Ia meraih pundak sempit pemuda bersurai cokelat madu tersebut, merangkulnya. Mengalirkan kehangatan sebanyak yang Jeongguk bisa.

"Meow."

Atensi Jeongguk teralih pada kucing berbulu oranye yang menyembul lucu di dekapan Taehyung. Matanya yang bulat dan tajam, heterokromia hijau dan biru, balas menatap Jeongguk.

"Kucing lagi?" Jeongguk menuntun Taehyung masuk ke dalam mobil, memayunginya dengan pasti, melindungi Taehyung agar tidak terkena tetesan hujan biarpun hanya sekadar tempias.

"Dia kedinginan." Taehyung menjawab sekenanya. "Nanti sakit. Untunglah dia tetap kering."

"Kau yang akan sakit, Taehyung. Kau itu lemah sekali dengan air hujan." Jeongguk menggerutu pelan. Hela napasnya berat. "Sungguh, aku tidak mengerti kenapa kau mau saja mengambil risiko hanya untuk seekor kucing."

"Aku tidak tahu, aku hanya tidak bisa meninggalkan mereka." Taehyung membiarkan kepalanya yang agak basah bersadar di pundak kokoh Jeongguk. "Apa kau marah lagi?"

"Tidak marah, lebih seperti kesal." Jeongguk menjawab dengan nada gusar. "Kau ini selalu saja tidak bisa menjaga diri. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu, Taehyung? Hanya karena kucing-kucing itu?"

"Aku punya kau untuk menjagaku."

"Aku tidak duapuluh empat jam berada di sampingmu."

Taehyung tertawa kecil. "Aku suka kau khawatir seperti ini."

"Kau ingin membuatku mati lebih cepat, huh?" Jeongguk melempar pandangan ke luar jendela mobil, jarinya mengetuk setir kemudi lelah. "Kesukaanmu pada kucing memang sudah tidak bisa dikurang lagi ya, tidak tertolong."

"Ey." Taehyung menarik pelan pipi Jeongguk gemas. "Tenang saja, aku tetap lebih menyukaimu. Yang menjagaku setiap waktu. Yang tetap berada di sampingku walaupun aku agak aneh. Yang tetap memelukku tanpa kenal lelah. Hanya kau, Jeonggukie. Bukan kucing-kucing ini. Yang kubutuhkan itu kau. Jeon Jeongguk yang terlampau khawatir pada setiap bagian kecil diriku."

"Taehyung,"

"Hmm?"

"Kau mau bertanggung jawab atas apa yang kau katakan?"

Taehyung bersenandung pelan, jarinya menggaruk gemas telinga kucing berukuran sedang di pangkuannya. "Dengan senang hati."

.
.
.

"Jeonggukieeeeeee."

Taehyung memanggil, menusuk-nusuk pipi Jeongguk tidak sabaran. Ia menindih dada bidang Jeongguk yang telanjang, sisa-sisa aktivitas malam mereka yang panas. Taehyung selalu bangun terlebih dulu walau setiap gerakan mendesiskan rasa sakit. Berapa kalipun melakukannya dengam Jeongguk, selalu seolah mereka baru pertama kali.

"Nggghh," Jeongguk mengerang, namun matanya masih terkatup rapat. Ia meraih pinggang ramping Taehyung dan memeluknya erat. "Diamlah atau kucium." Desisnya dengan nada berat.

"Kau bisa cium aku sepuasmu, tapi hari ini aku harus mengantar kucing kemarin ke pet shop. Ayolaaaaahh." Taehyung merengek, berusaha menyingkirkan lengan kekar Jeongguk di badannya. "Bangun, Gukkie. Banguuunnn."

"Argh, kucing sialan." Jeongguk tanpa sadar mengumpat. "Argh!" Tanpa sengaja berteriak kala Taehyung menggigit bisepnya tanpa belas kasihan. Ia yakin akan ada bekas gigi Taehyung tertancap disana. Taehyung tidak pernah segan jika ia merasa kesal.

"Jangan menyalahkan kucing itu setelah kau mendapatkan jatahmu semalaman." Taehyung menggerutu pelan, memaksa tubuhnya dalam posisi duduk. Membenahi kaos Jeongguk yang ia kenakan, melorot dan menampilkan bekas gigitan dan isapan Jeongguk di beberapa tempat. Jeongguk tidak segan meninggalkan ruam merah ataupun kebiruan atas gesekan gigi tajamnya yang brutal. "Ayo bangun dan temani aku pet shop."

"Aku bahkan belum mendapatkan morning kiss."

"Astaga, kau ini menyebalkan sekali sih." Taehyung merunduk, menabrakkan bibirnya pada bibir penuh Jeongguk. Saling menyelipkan belah lembut itu pada celah yang tepat. Taehyung mengerang kala Jeongguk menahan tengkuknya, berusaha mencapai lebih dalam. Ia menyimpan telapak tangannya di dada Jeongguk, sedikit gemetar. Bibir Jeongguk selalu membuatnya kepayahan, tak dapat melawan dan pada akhirnya terbawa.

"Aku tahu kau menyukainya." Jeongguk bertumpu pada sikunya kemudian bangkit duduk. Ia meraih pundak Taehyung, menyelipkan tangan satunya di lipatan lutut. Mengangkat Taehyung teramat mudah dengan satu sentakan pasti. Taehyung menjerit, ia terpekik dan berpegangan pada bahu Jeongguk.

"Apa yang ingin kau lakukan?"

"Mandi denganmu."

"Kau ini! Ini baru pagi dan otak mesummu itu tidak bisa padam juga!" Taehyung memukul pelan dada Jeongguk. Sedikit kesal. Jeongguk seolah tidak punya rasa lelah sedikitpun jika menyangkut Taehyung.

"Kau bilang ingin ke pet shop cepat-cepat, kita berdua bahkan belum mandi. Ini satu-satunya cara paling efisien, sayang. Untuk menghemat waktu."

Taehyung sering sekali merasa heran, bagaimana bisa Jeongguk tersenyum lebar dengan begitu polos sementara di dalam kepalanya dipenuhi hal-hal mesum dengan Taehyung sebagai objek utama.

"Lagipula," Taehyung berjengit saat bibir Jeongguk menempel pada daun telinganya teramat intim, "ini bisa dibilang sebagai bayaran rasa sabarku melihatmu lebih menaruh perhatian pada kucing itu." [ ]

 

Series this work belongs to: