Actions

Work Header

Downpour

Summary:

Basah. Lapangan Quidditch itu basah dan lengket, tanah basah memercik saat semua pemain telah turun dari udara dengan sorak-sorai gempita bahkan dalam badai sekalipun. Lautan berwarna hijau dan merah saling berteriak, biarpun salah satu kalah, mereka akan menang lain kali.

Bulatan bersayap berwarna keemasan itu digenggam pemuda berjubah merah dengan jahitan singa yang mengaum, lengan langsingnya mencengkeram erat dengan senyuman lebar. Tidak henti dielu-elukan teman satu timnya.

Ia bertukar pandang dengan pemuda berjubah hijau, netra hazel dan kelamnya gagak bersirobok dalam satu garis lurus, pipi kemerahan karena dingin dan uap putih yang mengepul di depan bibir pucat keduanya. Jarak antara mereka hampir terbilang kira-kira seratus meter.
Kalimat selamat samar diucap tanpa suara.

Kim Taehyung bersumpah, Slytherin yang satu ini menyunggingkan senyum sebelum berbalik dan pergi bersama timnya.

[KookV oneshot; hogwarts au; slytherin x gryffindor; oiginally published in 2018]

Work Text:


"Kita hanya punya lima menit, Taehyung! Cepat habiskan makananmu! Professor akan membunuh kita!" seruan Jaehwan membuat Taehyung tersedak, "bahkan walau kita berhasil memenangkan pertandingan Quidditch kemarin!"

Taehyung menggigit ayamnya gusar, sebelah tangannya mengemasi gulungan perkamen dan dua buku tebal Transfigurasi dalam pelukannya. Masih setengah mengunyah sebelum mengikuti pemuda dengan tawa psikopat itu. "Professor tidak akan membunuh kita!" Taehyung berseru, mengimbangi langkah Jaehwan.

"Kepastian darimana itu?" Jaehwan mendelik, jelas penasaran.

"Professor mungkin hanya akan mengubah kita jadi binatang dalam sehari."

"AKU TIDAK MAU!" seruan Jaehwan membelah keheningan koridor Hogwarts yang sunyi. Hampir ingin mengumpat melihat senyuman manis Taehyung, melupakan fakta bahwa ia adalah Seeker yang diam-diam berbahaya jika sudah turun ke lapangan.

Pintu besar ruang kelas mereka terbuka lebar, dan segera menggerutu risau kala mendapati seekor kucing hitam duduk di atas podium depan, menatap lurus ke arah mereka bersama kira-kira tigapuluh siswa lain. Mereka dapat melihat Jisung melambai, hanya ada satu kursi kosong dan Taehyung sudah yakin itu akan diambil Jaehwan.

"Harusnya kita melakukan Apparate saja." Taehyung menggigit kuku ibu jarinya, tenggorokannya terasa kering melihat kucing hitam tersebut melompat anggun dan berubah menjadi sosok Minerva yang masih nampak amat sangat berwibawa.

Jaehwan membalas dengan bisikan. "Apparate kita bahkan belum sempurna, bodoh. Kau mau raga kita saja yang berpindah sementara organ tubuhmu tertinggal di koridor?"

Taehyung menelan ludah. "Oke, itu mengerikan."

"Mr. dan Mr. Kim," suara Minerva membuat keduanya mematung saat wanita itu kini tepat berada di depan mereka, keduanya patah-patah mengangkat wajah dan menemukan raut Minerva yang tidak dapat ditebak, "walaupun rumah kita memenangkan pertandingan Quidditch tadi malam, aku tetap tidak bisa mentolerir keterlambatan."

Bisik-bisik tawa mengganggu terdengar bersahutan di tiap sudut ruangan.

"Maaf, Madam."

"Esai limaribu kata, ditulis tangan, jelaskan padaku tentang Pasal Sihir ; Jika Muggle Melihat Penyihir Melakukan Mantra Transfigurasi. Dikumpul lusa nanti." Satu telunjuk Minerva terangkat. "Tidak menerima satupun coretan. Apa itu sudah jelas?"

"Madaaaaammm," Taehyung merengek pelan, membuat kening Minerva berkerut dalam, "kami ada latihan lusa, saya bahkan tidak yakin bisa menyelesaikan esai itu. Berikan perpanjangan waktu? Ya?" Ditutup dengan kedua tangan yang menangkap snitch penuh kebanggaan itu mengatup dengan kepala menunduk.

Minerva menepuk pelan puncak kepala Taehyung dan Jaehwan. "Siapa yang suruh kalian terlambat dalam pelajaranku kali ini. Cepat duduk."

Terdengar sahutan aneh di kelas itu sekarang, seolah takjub namun keduanya hanya menelengkan kepala heran. Berpencar mencari tempat duduk sementara Minerva kembali ke depan podium. Jaehwan, seperti yang telah diduga Taehyung, segera menuju kursi kosong di sebelah Jisung.

"Apa tidak ada kursi lagi?" geritnya pelan, gelisah saat melewati kursi Daniel.

"Disana, Tae," pemuda baik hati dari rumahnya menunjuk ke arah sudut, Kim Donghyun, pada pemuda berdasi hijau yang duduk sendirian dengan ekspresi datar.

Seeker dari Slytherin, Jeon Jeongguk.

"Kau serius? Aku harus duduk dengan ular itu?" Taehyung menggumam terganggu.

Donghyun tertawa kecil, "Dia tidak akan menggigitmu."

"Tapiㅡ"

"Mr. Kim Taehyung, anda ingin mengikuti pelajaran saya atau keluar?"

Taehyung berdecak parah, memeluk gulungan perkamen dan buku tebalnya, berjalan cepat pada kursi kosong yang masih tersisa dan mengempaskan dirinya di sebelah pemuda yang menjadi lawannya kemarin malam.

"Telinga yang bagus, Taehyung-ssi."

Sikut Taehyung hampir tergelincir mendengar suara lembut (yang dalam pada saat yang sama, amat rendah) itu. "Terima kasihㅡ " katanya pelan, kemudian mengerjapkan mata, "ㅡtunggu, telinga?"

Masih dengan raut datar yang sama, Jeongguk menyentuh sesuatu yang mencuat di sela helai rambutnya. Taehyung seketika merinding atas sentuhan pemuda Slytherin itu, merasa dorongan untuk mengeran pelan dan sensasi aneh bahwa dia menikmati sentuhan kecil itu.

"Singa yang mengaum tadi malam ternyata berubah jadi kucing kecil yang manis, eh?"

Seluruh kesadaran Taehyung kembali terempas balik, ia menepis tangan Jeongguk, menjentikkan jari dan memunculkan kaca tipis. Menampilkan bayangan dirinya dengan rambut keperakan lembut dengan dua telinga kucing bertengger manis di atas kepalanya, menggantikan telinga asli.

"Madaaaaamm!" Taehyung berseru nyaring, menarik seluruh atensi kembali padanya.

"Ada yang ingin kau tanyakan, Mr. Kim Taehyung?" Minerva terdengar tenang, namun masih terdengar geli pada saat yang sama.

"Kembalikan telingaku!"

"Itu hukuman." Minerva tersenyum. "Sekarang duduk dan kerjakan soal laman seratus tujuhpuluh sembilan. Partnermu hari ini adalah Mr. Jeon Jeongguk."

Taehyung menghempaskan tubuhnya kembali sambil menutup wajahnya dengam kedua tangan, merasa malu luar biasa. Mungkin Minerva mengubah telinganya pada saat wanita itu menyentuh kepalanya tadi. Kemudian merasa lega karena bukan hanya dia, Jaehwan juga tertawa pelan sambil memegang telinga rakunnya.

"Fuh."

Taehyung berjengit merasakan sesuatu yang panas meniup telinganya, tangannya gemetar. Ia baru tahu bahwa telinga kucing ternyata teramat sensitif. Berdesis kesal mengetahui siapa pelakunya. "Apa yang kau lakukan, sialan?"

"Wajahmu merah." Jeongguk tersenyum mengejek. "Kau lebih bagus dengan telinga itu, kucing kecil."

"Berhenti memanggilku kucing kecil, ular sialan."

"Aww, kucing manis ini baru saja mengeong pada tuannya."

"Tuan apㅡbangsat." Taehyung menggerit tertahan, merasa kesal luar biasa saat Jeongguk meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.

"Soal laman seratus tujuhpuluh sembilan, kucing kecilku."

Taehyung mendelik gusar. Setelah ini masih ada pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib dan Ramuan bersama rombongan Slytherin dan Jeon Jeongguk, mungkin ia bisa membuat salah satu naga menyemburkan api atau meracuni pemuda di sebelahnya ini.

Namun sebelum itu, Taehyung harus mencari cara untuk menulikan diri dari siulan dan godaan orang-orang. Karena ia tahu, hukuman Minerva tidak akan berakhir setelah jam pelajarannya usai.

Alih-alih mengerjakan apa yang diperintahkan, Taehyung menelungkupkan kepalanya di meja. Mendadak merasa luar biasa lelah.

.
.
.

"Kau ini usil sekali, astaga."

Jeongguk tertawa melihat Taehyung tersandung, tidak mengindahkan ucapan Hyunbin (yang merupakan Batter dalam posisi tim Slytherin). Tersenyum amat sangat tipis mendengar dengusan marah anggota Gryffindor tersebut. Ia segera menyimpan tongkat sihirnya di balik jubah saat Hagrid berjalan, berusaha untuk tidak terlihat telah melakukan sesuatu yang mencurigakan.

"Semua kelompok sudah mendapatkan Ravenleash masing-masing?" Suara Hagrid terdengar menggelegar di tengah Hutan Terlarang. Koor kompak terdengar bersahutan. Jeongguk hanya mengedikkan bahu.

Ravenleash adalah persilangan aneh antara naga, singa, dan phoenix. Mampu menyemburkan api dalam jarak hampir satu kilometer pada masa dewasanya, dan untuk sekarang, mungkin tidak seganas itu karena Hagrid memberi mereka bayi Ravenleash. Namun cukup berbahaya sebab bisa membakar satu manusia. Sangat sensitif. Bahkan suara tawa saja dapat membuatnya marah.

"Aku sengaja memberikan Ravenleash untuk pelajaran hari ini, karena ia reptil sihir yang mampu mengeluarkan api. Biasanya hanya takluk di tangan Gryffindor dan Slytherin." Hagrid berkacak pinggang bangga. "Aku minta hari ini ; Slytherin, cari partner Gryffidor. Gryffindor juga lakukan hal yang sama. Hitung berapa jumlah gigi dan gambar sketsa Ravenleash untukku. Ayo, ayo!"

Kegaduhan terjadi dengan cepat sementara Ravenleash diberi mantra penenang oleh Hagrid. "Mantra penenang hanya bekerja tiga menit! Jangan jadi orang yang pemilih!"

"Sial, aku benci hal seperti ini. Yah, Kang Daniel!" Jeongguk mendengar gerutuan Seongwoo, lencana Slytherin di jubahnya berkilap. Dengan asal menjambak salah satu pemuda tegap berdasi merah emas, Batter di Tim Quidditch Gryffindor, lawan Hyunbin, Daniel.

Kini Jeongguk mencari ke segala arah, ia dapat melihat beberapa gadis Gryffindor menatapnya dengan senyum menggelikan. Ia meringis dalam hati. Sebelum kemudian ia merasa seseorang meraih pergelangan tangannya.

"Jisung-ssi?"

Jisung tertawa, "Kau sendirian kan? Ah, begini. Taehyung belum mendapat partner karena kakinya terkilir saat jatuh tadi. Kau mau membantunya, kan?"

"Tidak masalah," Jeongguk mengangguk pelan, dengan cepat menemukan sosok Taehyung yang terduduk di salah satu bangku kayu, "hyung sendiri sudah punya? Mantra penenang tinggal satu menit kurang."

"Wah sial! Aku harus pergi!" Jisung segera berlalu dari hadapan Jeongguk.

Jeongguk mengangkat bahu, menerobos kerumuman dengan cepat untuk menghampiri Taehyung yang duduk dengan bibir mengerucut. Agaknya sedang kesal. Raut wajahnya semakin keruh melihat kemunculan Jeongguk.

"Mau apa kau? Menertawakanku?" Tuduhnya langsung saat mendapati senyum geli di bibir Jeongguk.

"Ah, aku tidak sejahat itu."

"Lihat! Kau benar-benar menertawakanku! Kau pasti dendam padaku!"

"Siapa suruh ceroboh sekali hari ini?" Jeongguk setengah berlutut di hadapan Taehyung, mengeluarkan tongkat sihirnya.

"Salahkan kunyuk-entah-siapa yang memunculkan batang pohon tiba-tiba di jalankuㅡtunggu, kau mau apa?!" Kedua kelopak mata Taehyung membuka lebar, amat lebar hingga nyaris bulat.

Jeongguk memutar matanya. Menggumamkan reparo dan beberapa mantra lain yang tidak terdengar lalu menyentuhkan ujung tongkat sihirnya ke pergelangan kaki Taehyung.

"AH!" Taehyung menutup mulutnya cepat, merasakan rasa sakit menghantamnya bagai kilat. Hanya sekejap sampai kemudian pergelangan kakinya kini bisa digerakkan secara bebas. "Bagaimana bisa?" Taehyung membiarkan rahangnya jatuh, setengah takjub dan tidak percaya.

Jeongguk berdiri, ia menyimpan tongkatnya kembali sambil menarik lengan Taehyung. "Tinggal duapuluh detik lagi. Cepat ambil satu Ravenleash dari Hagrid."

"O-oke."

Keduanya kembali ke bangku batu, Ravenleash itu nampak tenang di tangan Taehyung. "Kau pegang dia, aku yang menggambar. Lalu kau bantu aku menghitung giginya."

"Menghitung gigi, cih." Taehyung mendengus geli. "Tugas konyol."

Jeongguk mengangkat bahu, mengambil perkamen dan mulai menggambar dengan tenang. Hampir semua siswa tidak mengeluarkan suara kecuali bisik-bisik pelan, gesekan pena, dan suara perkamen yang entah dirobek atau diremas gusar.

"Aku masih penasaran." Ucapan Taehyung membuat kepala Jeongguk terangkat dari perkamen yang digambarnya, garis-garis yang tertarik terlihat begitu apik. "Bagaimana bisa kau menyembuhkanku begitu cepat? Dan kenapa?"

"Pertama, penjelasan para Professor tidak masuk telinga kanan keluar telinga kiri sepertimu. Buku tebal itu juga bukan dipajang hanya untuk dilihat saja." Jeongguk menarik salah satu dudut bibirnya membentuk senyum asimetris yang mendukung sarkasmenya. "Aku juga bukan orang yang tidak bertanggung jawab setelah membuat orang lain tersandung."

"Astaga ㅡJADI KAU YANG MEMBUATKU TERSANDUNG?!"

Jeongguk hanya tertawa. Menghindari beberapa pukulan Taehyung dengan mudah. Melupakan Ravenleash yang mulai bergerak tidak nyaman dan gelisah. Jeongguk tersadar saat tidak sengaja melihat Ravenleash itu membuka mulut, siap untuk menyemburkan api.

Raungan keras yang memekakkan telinga membelah keheningan Hutan Terlarang, bertepatan saat Jeongguk menarik Taehyung untuk tiarap dan mengaktifkan mantra pelindung. Kobarannya tidak jauh, namun mampu membakar mereka berdua jika saja Jeongguk terlambat satu detik saja.

"Oh sial, dia terbang." Taehyung mengeluh saat kobaran apinya lenyap, ia bangkit dari posisinya. Menatap sendu pada Hagrid yang kini membantu mereka berdua berdiri.

"Kalian berdua sial sekali, yeah?" Hagrid berkomentar, dengan mudah menarik Jeongguk dan Taehyung agar berdiri tengah tegap. Ia menepuk-nepuk pundak Jeongguk dan mengambil daun kering yang menempel di rambut Taehyung. "Kaliam tahu, baru kalian yang membuat Ravenleash kabur selama hampir dua dekade."

Gelak tawa samar terdengar sebelum suara shush pelan dari Hagrid memadamkannya. Ravenleash amat sensitif terhadap suara tawa, yang kecil sekalipun. Hagrid tidak mau mengambil resiko.

"Jadi, amat sangat disayangkan. Kalian harus membantuku memberi makan Griffin sore ini. Oke?"

Taehyung meringis dalam hati. Lagi-lagi hukuman.

.
.
.

"Kau tahu, aku harus mengerjakan ini. Belum lagi latihan mantra. Setelah itu esai menyebalkan dari Professor. Lalu terjebak seharian denganmu." Taehyung melempar kesal bongkaham daging amis yang segera dikerubungi sekawanan Griffin. Beruntung tangannya dilapisi sarung tangan sihir, sehingga ia tidak perlu memikirkan tentang bau yang menempel di tangannya. "My perfect day. Oke, untukmu, dudes!" Taehyung menambahkan dengan sarkas sambil melemparkan satu daging lagi.

"Lalu apa hubungannya denganku?"

"Tidak ada!" Taehyung menyergah, masih terdengar kesal.

Jeongguk terkekeh pelan melihat Taehyung, terlihat lucu dan membuatnya gemas. Menahan punggung Taehyung saat ia tergelincir lendir bergerak. Taehyung melepas jubah dan meninggalkannya di asrama saat jeda makan siang dengan alasan kepanasan.

"Kau tahu kalau kucing itu terlihat sangat manis saat marah?"

"Tidak mau tahu."

"Kau salah satunya."

Taehyung menegakkan punggungnya yang terasa penat. Ia baru tersadar bahwa Jeongguk sudah menghabiskan bagiannya lebih cepat. "Kau ingin aku mengucapkan kutukan Cruciatus padamu?"

Ia hanya mendapati cengiran dari Jeongguk sebagai balasan dan Taehyung tidak sudi memeperpanjang obrolan. "Kita harus cepat," Taehyung mendongak, mendapati langit mulai berarak mendung, bahkan masih agak gerimis, "hujan lebat akan turunㅡ"

"Artinya kami akan latihan dalam badai malam ini." Dengusan pelan Jeongguk terdengar kesal.

Taehyung berusaha untuk tidak menertawakan Jeongguk. Ia terpekik pelan saat dalam detik berikutnya, gerimis lenyap dan diganti dengan hujan deras. Bagai air dilimpahkan langsung dari langit. Griffin beterbangan menjauh. Jeongguk melepas gesit jubahnya dan segera menarik Taehyung untuk berteduh.

Taehyung tersentak saat Jeongguk meraihnya agar tetap dekat dengannya, sambil menutupi kedua kepala dengan jubah milik Jeongguk. Bagian luar merupakan beludru tahan air dan tidak bisa basah, jadi mereka akan tetap aman kecuali dari tempias yang mengenai wajah.

Tanpa peduli, mereka berlari menembus hujan, menginjak genangan air tanpa ragu. Seruan-seruan kesal berubah jadi tawa lebar. Keduanya melompat dalam hitungan ketiga masuk ke dalam koridor yang lebih hangat dan kering, Jeongguk menangkap tubuh Taehyung yang hampir tergelincir, mendekapnya erat. Rambut keduanya basah walaupun keseluruhan tubuh mereka kering.

"Woah, itu seru." Jeongguk berkomentar, menggasak rambutnya yang basah ke belakang.

"Sangat." Taehyung menimpali.

Masih memeluk Taehyung, Jeongguk bertanya. "Apa pelajaranmu setelah ini?"

"Ramalan."

"Sial sekali."

Taehyung mendongak, menatap Jeongguk dengan raut penasaran. "Kau sendiri?"

"Ramuan."

"Astaga, lebih sial."

"Berikan semangat untuk itu."

"Cih, untuk apa." Taehyung mendengus pelan, ia mendorong pelan tubuh Jeongguk yang hangat. Menyapu bekas air yang masih ada di wajahnya dan terkejut saat Jeongguk memasangkan jubahnya di tubuh Taehyung. Merasa sedikit gemetar karena kehujanan.

"Pergilah ke kelas dengat selamat, kucing kecil."

Kecupan kilat dari Jeongguk di pipi membuat wajah Taehyung memanas secara tiba-tiba. Bersamaan dengan itu, Jeongguk sudah berbalik dan meninggalkannya. Jari langsing Taehyung mencengkeram erat jubah Slytherin milik Jeongguk di pundaknya, berusaha keras mengulum senyum.

Ular usil itu benar-benar mengejutkannya.

.
.
.

Taehyung bersin dengan nyaring, lentera yang dipegangnya bergetar parah. Ia masih harus menyelesaikan esainya agar tidak bentrok dengan jadwal latihannya. Ia sudah bertekad akan menyelesaikannya malam ini juga, mungkin di perpustakaan agar ia bisa mengerjakannya dengan tenang. Ia sudah pinjam kunci pada Seokjin, Prefek kesayangan asrama Gryffindor, dan jikapun ia tertangkap karena keluar malam, ia punya alasan.

Seperti dugaannya, malam ini badai berembus kencang namun ia dapat melihat cahaya-cahaya kecil beterbangan dengan cepat di lapangan. Taehyung memicingkan mata, menyadari bahwa itu hanyalah penanda agar pemain Quidditch yang sedang latihan tidak berakhir menabrak satu sama lain.

Lampu-lampu itu berkelip seperti kunang-kunang dengan warna kehijauan yang menyejukkan, warna utama Slytherin. Taehyung merapatkan mantel yang dikenakannya, teringat jubah Jeongguk masih ada padanya. Ia berjalan dengan kepala masih menoleh ke jendela, cahaya menyerupai kunang-kunang tadi ia lihat sudah lenyap.

Taehyung mengangkat bahunya, mengeratkan kembali mantel dan berjalan cepat menuju perpustakaan. Ia bergumam alohmora pelan, menyentuhkan ujung tongkat sihirnya pada gembok besar hingga terdengar bunyi klik pelan. Taehyung sudah tidak bisa dibuat terpukau lagi oleh betapa luarbiasanya perpustakaan Hogwarts, ia sudah terlalu sering melihatnya.

Ia masuk pelan-pelan, bergumam sesuatu tentang hukum sihir. Menggerutu pelan. Seharusnya ia bawa siapapun yang hapal tentang seluk-beluk perpustakaan karena Taehyung adalah pengahapal yang payah. Ia akan melupakan sesuatu hanya dalam hitungan menit.

Lega menemukan apa yang dicari, Taehyung segera meletakkan lentera di salah satu meja kemudian segera duduk di atas bangku yang dingin. Membuka-buka buku kemudian segera menulis apa yang diperlukan untuk esainya, sesekali gerakan tangannya terhenti untuk memikirkan kalimat yang tepat, lalu berjalan-jalan sejenak atau segera mencari referensi buku lain.

Ketika pintu perpustakaan terbuka lebar, Taehyung membelalakkan mata, terkejut. Ia segera memadamkan lentera kemudian bersembunyi di balik meja. Dadanya berdetak begitu kencang mendengar langkah kaki yang kian mendekat.

"Kupikir tadi disini ada seseorang."

Suara itu membuat Taehyung tersentak, ia bermaksud untuk segera berdiri namun kepalanya membentur meja dengan keras. Ia meraung pilu sambil memegangi kepalanya. Langkah kaki itu kini mendekat kearahnya, lebih cepat dari tadi.

"Siapa disana?!" Cahaya lentera terlihat samar terlihat. Taehyung merasa sudut matanya kini berair dan kepalanya terasa begitu pusing.

"Aku!" Taehyung berseru dengan nada parau.

"Taehyung?" Jeongguk terdengar cemas, suara langkah kaki semakin mendekat bersamaan dengan cahaya lentera yang kian terang. Tidak butuh waktu lama bagi Jeongguk untuk menemukan Taehyung di bawah meja. "Kau baik-baik saja, kucing kecil?"

"Sama sekali tidak." Taehyung mengeluh, ia bangkit berdiri dengan tangan Jeongguk yang menariknya mantap. "Kau membuatku terkejut dan sekarang cahaya lenteraku padam. Kepalaku tadi terantuk meja."

"Maaf," Jeongguk terkikik, ia mengembalikan cahaya api di lentera Taehyung dalam hitungan detik kemudian mengusap-usap puncak kepala Taehyung, "masih sakit, hm?"

"Sangat sangat sangat sangat sakit." Taehyung masih menggerutu, membalikkan badannya dan melanjutkan esai Transfigurasi yang bahkan belum tertulis satu paragraf pun. "Kau mau apa kemari?"

"Aku tertidur saat pelajaran ramuan. Esai tentang khasiat Batu Bulan dan Dampaknya. Lima ribu kata. Tulis tangan. Tanpa coretan." Jeongguk mendengus geli kemudian berdiri. "Aku akan ambil buku, segera kembali."

"Cepat kembali."

Jeongguk benar-benar cepat kembali dengan setumpuk buku. Ia sepertinya sudah sering kemari sehingga tidak kesulitan menemukan sesuatu yang diperlukan, sementara Taehyung butuh waktu tiga kali lipat lebih banyak. Ia duduk di tepat sebelah Taehyung dengan kedua bahu menempel.

"Kenapa baru mengerjakannya sekarang?" Jeongguk bertanya saat Taehyung meremas perkamennya.

"Quidditch dan waktu siangku penuh kegiatan. Asrama terlalu berisik. Kau tahu sendiri, Gryffindor benar-benar kelebihan energi. Itu sesuatu yang bagus, tapi kadang menyebalkan." Taehyung kembali menulis di perkamen baru. "Konsentrasiku mudah sekali pecah, banyak di asrama yang membuatku tertarik. Jadi pilihanku adalah mengerjakannya sampai tuntas disini."

"Pilihan yang bijak." Jeongguk berkomentar pendek, Taehyung mengerling dan menemukan Jeongguk sudah menulis hampir enam paragraf. "Bagaimana kau bisa menulis secepat itu?" Taehyung melepas penanya, dagu diletakkan di atas pundak Jeongguk, tertarik melihat bagaimana Jeongguk menulis.

"Jangan pikirkan tulisanmu harus bagus. Yang penting bisa dibaca dan tidak ada coretan." Jeongguk mengembuskan napas panjang. "Tapi bagaimana jika aku tinggal menulis satu paragraf lagi, ternyata aku membuat kesalahan."

"Itu menyakitkan." Taehyung terkekeh pelan, merasa nyaman dengan pundak Jeongguk. "Ah, rambutmu basah."

"Benarkah?" Jeongguk menyentuh rambutnya, lalu mengacak-acaknya, "hampir kering, kok. Tadi latihan di tengah badai. Hyunbin hampir memukulku."

"Pasti susah sekali latihan di tengah badai."

Jeongguk mengangkat bahu. "Cuaca tidak bisa diprediksi, siapa tahu kita bermain Quidditch dalam cuaca serupa."

Taehyung mengulum senyum, mengecup pipi Jeongguk. Cukup lama sebelum akhirnya ia lepaskan. "Pipimu dingin." Adalah yang diucapkan Taehyung sebelum ia menarik dirinya dan melanjutkan menulis esainya.

Jeongguk berdecak, ingin tertawa. "Kau ini bisa usil juga."

Taehyung tersenyum dan hanya memberikan kedipan sekilas. Keduanya segera sibuk dan tenggelam dalam tugas masing-masing, hanya sesekali terdengar suara kuapan atau pertanyaan Taehyung tentang letak buku yang diperlukannya. Jam bergerak begitu lambat dan cepat pada saat yang bersamaan, diiringi suara gesekan ujung pena bulu dan lembaran perkamen yang dibalik.

"Aku selesai." Jeongguk mengerang pelan, meregangkan leher dan otot lengannya yang agak kaku. "Bermain Quidditch tidak semelelahkan ini, kurasa. Masih banyak, Tae?"

"Kira-kira baru setengah. Kau tidak kembali ke asramamu?" Taehyung bertanya, dengan tatapan masih fokus pada lembaran perkamennya. Ia banyak membuat kesalahan hingga banyak mengulang.

"Aku akan menunggumu."

"Masih lama."

"Tidak masalah, mungkin kau butuh teman."

Taehyung terkekeh pelan. "Ayolah, jangan buat konsentrasiku pecah."

Jeongguk tersenyum tipis, menikmati waktunya mengamati tampak samping wajah Taehyung. Kulitnya benar-benar lembut dan bersinar, seperti kulit bayi. Bulu mata yang panjang dan menyapu pipinya. Kelopak tajam dan runcing, berbentuk memanjang, persis menyerupai kucing, membingkai iris hazel jernih yang nampak lembut dan murni. Serta bibir tebal yang terlihat penuh dan kenyal, baik bagian atas maupun bagian bawah. Jika melihat sekilas, mungkin Taehyung lebih cocok masuk Hufflepuff dibanding Gryffindor.

"Jangan memandangiku begitu, nanti kau bisa suka."

Jeongguk kembali tertawa, melihat dengan jelas telinga Taehyung yang sudah memerah. "Kalau kubilang aku sudah suka, bagaimana?"

Taehyung mendengus, meletakkan penanyandengan desahan puas. "Lelucon yang lucu dan aku selesai, akhirnya."

"Kerja bagus." Lengan Jeongguk terulur, meraih wajah Taehyung mendekat. "Kau ini kenapa cantik sekali, Kim Taehyung?"

"Menurutmu kenapa, Jeon Jeongguk?" Taehyung tersenyum, merasakan dorongan untuk memprovokasi Jeongguk.

Jeongguk tertawa gelap, mengambil ciuman di bibir Taehyung yang seolah mengundangnya untuk menggigit kedua belah daging ranum tersebut. Bertukar ciuman yang semakin intim dengan napas memburu.

"Turnamen Quidditch akhir musim," Taehyung berujar dengan napas habis juga tersengal, terbilang iri dengan napas Jeongguk yang masih begitu stabil tanpa ada jejak kelelahan berarti, "Mari bertemu di Final."

"Slytherin melawan Ravenclaw dan Gryffindor melawan Hufflepuff, yeah?" Jeongguk berbisik di depan bibir Taehyung, napasnya panas, berkebalikan dengan bibirnya yang dingin. "Aku tidak akan bermain lembut, Taehyung. Aku bisa saja menjatuhkanmu dari sapumu,"

"Berlaku juga untukmu, mungkin aku yang membuatmu terlempar keluar dari arena." Taehyung menerima serangan Jeongguk setelahnya, mencengkeram erat punggung tegap Seeker dari Slytherin tersebut. Taehyung merasa napasnya tercekik saat bibir dingin Jeongguk menyusuri lehernya. "Akhㅡsialan, kenapa digigit?"

"Kulitmu lembut sekali."

"Sudah jam setengah tiga, Jeongguk-ssi. Aku harus kembali ke asrama sebelum jam tiga."

Dengan tidak rela, Jeongguk melepaskan Taehyung yang segera membereskan beberapa bukunya. Sebelum keluar dari perpustakaan dan berjalan ke arah yang berbeda, Jeongguk menahan tangan Taehyung dan mengecup bibirnya sekali lagi.

"Ingat, hanya aku yang boleh mencium bibir ini." Jeongguk menyapu bibir bawah Taehyung lembut. Mengusakkan hidungnya di puncak kepala Taehyung yang selembut aroma cokelat hangat dan semanis karamel kemudian segera berlalu.

Taehyung hanya berdecak geli, "Astaga, apa-apaan dia itu."

Namun, Taehyung mengingatnya dengan jelas.

.
.
.

Frekuensi pertemuan Taehyung dan Jeongguk sama sekali tidak berubah, bahkan mungkin semakin berkurang karena asrama mereka berjauhan, tugas yang semakin bertumpuk dan ujian-ujian yang menunggu, serta latihan Quidditch yang semakin ketat.

Pertemuan mereka hanya sebatas di beberapa pelajaran, jika kebetulan mereka satu kelas. Bertukar kecupan kilat atau tangan yang saling mengenggam erat. Taehyung sudah mengembalikan jubah milik Jeongguk, hanya bisa tertawa saat teman satu kamarnya menyinggung tentang Seeker Slytherin.

"Kau yakin tidak terlibat hubungan apa-apa dengan Jeongguk?"

Seisi ruang tengah Gryffindor langsung senyap mendengar pertanyaan dari Seokjin, Taehyung menggerung pelan sambil memeluk bantalnya. Ia sudah sering mendengar pertanyaan serupa dan ia tidak paham kenapa banyak sekali orang yang ingin tahu.

"Lagipula apa pentingnya bagi kalian jika memang ada hubungan?" Taehyung menggerus gusar potongan marshmallow di cokelat hangatnya. "Toh aku tidak akan mengalah di pertandingan, dia pun begitu. Lebih baik pikirkan strategi untuk menang besok dari Huffy karena Slytherin sudah membabat habis Ravenclaw."

Topik malam itu terputar habis oleh Quidditch dan nilai harian yang akan dibagikan setelah turnamen akhir musim, serta beberapa toko untuk dikunjungi saat akhir pekan dan perkembangan berita dunia sihir yang membosankan. Taehyung membenahi posisi selimut di pundaknya, menatap lurus pada nyala api di perapian.

Apa hubungan itu perlu? Taehyung mengaduk cokelat hangatnya sendu, kedua kakinya dipeluk erat dengan dagu menempel di atas lutut. Begini saja sudah menyenangkan, Taehyung tidak suka perubahan secara besar-besaran. Jeongguk agaknya juga begitu, tidak menganggap hubungan sebagai sesuatu yang penting.

Walaupun ia sudah tahu bahwa Jeongguk menyukainya, sepenuhnya. Jeongguk pernah mengatakannya langsung. Lagipula, bukankah semuanya sudah terlalu jelas? Bagaimana pemuda Slytherin itu menatapnya, caranya bersikap bahkan mengusilinya setiap ada kesempatan, bagaimana pemuda itu menjaga dan memastikan Taehyung tetap baik-baik saja dengan caranya sendiri.

Taehyung melirik keluar jendela, menatap titik-titik kecil air menerpa kaca. Kecil dan tipis, suaranya serupa lemparan pasir. Hanya gerimis. Penuh ketidakpastian. Apakah akan reda atau hanya pertanda sebelum badai menerjang.

.
.
.

Pertandingan itu dimenangkan oleh Gryffindor, Taehyung nekat melompat dari sapunya untuk menangkap bola keemasan bersayap tersebut. Ia berguling di lapangan, mengalami luka lecet di siku dan rambutnya berantakan, namun ia tetap mengacungkan snitch dengan bangga, mengundang sorak sorai dari lautan merah emas di bagian tribun.

Seeker dari Hufflepuff, Park Jimin, hanya tertawa cerah dan merangkul Taehyung erat. "Selamat, kawan." Serunya sambil menepuk-nepuk punggung Taehyung yang memakai jubah dengan jahitan singa berwarna emas. "Bersiaplah menghadapi para ular, Taehyung."

Taehyung tersenyum, "Aku sudah pernah menghadapi mereka musim lalu. Kuat, aku bahkan tidak yakin bisa menang lagi. Tapi siapa tahu mungkin snitch berputar menggoda dan aku tinggal menjangkaunyaㅡow!"

Pemuda manis yang menggenggam snitch itu tersandung jubahnya sendiri, hampir jatuh dengan konyol jika saja Jimin tidak memegang erat pundaknya.

"Ack, kepalaku pusing. Hari ini panas sekali." Taehyung mengeluh dalam.

"Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat."

Pertanyaan Jimin tenggelam oleh anggota-anggota tim Gryffindor lain yang telah turun dan segera memeluk Taehyung erat, mengelu-elukannya lagi. Namun lututnya lemas, tubuhnya yang semula tegap berdiri meluruh lunglai saat Daniel merangkul bahunya.

Apa yang Taehyung lihat berubah jadi temaram dan mengabur, sorak-sorai gempita kian pelan dalam telinganya, ia bisa melihat sosok tegap dengan dasi kehijauan menyeruak antar keramaian, mengulurkan tangan seolah ingin meraihnya.

Namun Taehyung sudah terlalu lemah untuk tetap membuka mata.

.
.
.

"Pertahanan tubuhnya menurun sekali akhir-akhir ini." Suster bangsal kesehatan menggerutu pelan, mengusap keringat di wajah Taehyung yang tertidur. "Dia terlalu banyak berpikir, atau banyak kegiatan mendadak, kurasa. Kalau bangun nanti, suruh dia minum dua termos jus labu."

Seokjin mengangguk patuh, tersenyum. "Akan kupastikan, terima kasih."

"Kembali." Suster itu mengecek sekali lagi kondisi badan Taehyung, memperhatikan dengan seksama luka lecet akibat jatuh yang sudah dibaluri salep berwarna biru kristal sebelum kembali dan mengecek beberapa pasien lain yang terbaring disana.

Jeongguk adalah salah satu yang berada di sana, tepatnya yang menggendong Taehyung, menatap Taehyung lurus dengan senyum kecil. Merutuki betapa cerobohnya pemuda manis yang satu itu, hampir membuatnya mati kaget saat tiba-tiba nekat melompat, dan nyaris membuat jantungnya lepas dari tempatnya kala tubuh langsing itu ambruk.

Satu-persatu, sekian banyak orang yang menjenguk Taehyung perlahan bubar, memberikan waktu untuk pemuda itu agar beristirahat lebih tenang. "Kapan finalnya, Jeongguk-ssi?" Jimin, salah satu dari lima orang yang masih ada di bangsal bertanya.

"Masih dua minggu setengah terhitung mulai besok." Jeongguk menjawab pendek, cenderung dengan intonasi yang begitu datar dan dingin.

"Taehyung punya banyak waktu untuk sembuh. Mungkin besok dia sudah bangun dan menertawakan kita yang setengah mati cemas." Hoseok, Keeper tim Hufflepuff, mendecak geli, ia bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Jimin. Keduanya mengangguk pada Seokjin dan Jeongguk, kemudian pamit keluar dari bangsal. Mereka perlu beristirahat karena selain matahari yang terlalu terik, Quidditch terlampau melelahkan.

"Aku harus pergi sekarang, akan kembali jika tugasku sudah selesai."

Jeongguk melemparkan senyum yang teramat tipis. "Melelahkan jadi Prefek?"

"Sangat. Karena itu akan akan jadi penentang pertama jika Taehyung menjadi delegasi yang akan menggantikanku. Bisa kupercayakan Taehyung padamu, Jeongguk-ssi?"

"Sure. Take your time."

Seokjin meninggalkan bangsal rumah sakit dengan begitu anggun, kibasan jubahnya berkibar cepat meninggalkan wangi kayumanis yang samar. Jeongguk kembali menoleh, melirik Taehyung yang masih tertidur tenang. Wajahnya masih pucat, amat kontras dengan bibirnya yang sewarna ceri.

Salah satu sifat dari Gryffindor yang tidak disukai Jeongguk, mereka lebih dari nekat memaksakan diri hanya untuk membuat asramanya bangga, lebih mementingkan orang dibanding dirinya sendiri.

Jeongguk meraih tangan Taehyung, mengusap jarinya yang panjang dan langsing, mendapati beberapa luka gores kemerahan. Mungkin tergesek tanah berpasir saat ia terguling jatuh dari sapu. Menggumam tentang betapa kurusnya pemuda Gryffindor yang satu ini sementara ia sangat banyak makan.

"Cepat sembuh," Jeongguk berbisik dengan kelembutan yang hampir tidak dipercayai telinganya sendiri, mengusap halus punggung tangan Taehyung dengan jempolnya, "menyebalkan melihatmu lemah begini, tahu."

Karena ia benci melihat Taehyung begitu rapuh dan bercelah begini, seolah sama sekali tidak berdaya dan mudah hancur, amat rawan. Ia lebih suka Taehyung yang berseru kesal, mengumpatnya dengan sepenuh hati, menendang tungkai kaki bahkan tidak segan untuk memukulnya dengan gulungan perkamen. Kim Taehyung yang ia suka seperti itu. Yang tertawa lebar dan bersenda gurau, candaan payahnya yang dibarengi senyum persegi mempesona yang sulit dilupakan.

Juga mungkin karena ia merasa sakit hati melihat Taehyung terbaring lemah seperti ini walau itu bukan salahnya, atau salah siapapun.

.
.
.

Jeongguk terbangun saat malam tiba, melewatkan seluruh jadwal latihan Quidditch Slytherin juga melupakan tugas-tugas yang menunggunya. Ia lupa kembali ke asrama bahkan untuk berganti baju. Ia terbangun saat rambutnya diusak gemas.

"Ah, akhirnya ular raksasa ini bangun juga."

Yang ia lihat, Taehyung bersandar dengan bantal-bantal menyusun di belakangnya. Sibuk mengunyah cokelat kodok dengan botol berisi jus labu di tangannya. Terkikik melihat tampang Jeongguk saat bangun tidur.

"Kapan kau bangun?" Jeongguk mengusap wajah, suaranya jatuh beberapa tingkat lebih rendah.

"Setengah jam yang lalu, kurasa?" Taehyung mengangkat bahu, mencubit gemas pipi Jeongguk lalu sedikit merunduk untuk mengecup bibirnya, "menungguku? Astaga, manis sekali."

"Sesekali kau harus berhenti untuk bertindak ceroboh dan membahayakan diri sendiri. Apa semua Gryffindor memang begitu?"

Taehyung mendelik kesal, "Kukembalikan. Apa Slytherin semuanya memang seperti ini? Kau baru bangun dan bahkan belum sempat lima menit, kau sudah mengatai asramaku."

"Eiy, maaf, oke?" Jeongguk membalas kecupan Taehyung sedikit lebih lama. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Luar biasa dan baik sekali." Taehyung kembali secerah matahari pagi, tawanya lembut dan enak didengar. "Memangnya bagaimana perasaan seorang Seeker yang membawa kemenangan lagi untuk timnya?"

"Jangan lupa kau jatuh dari sapumu kurang dari enam jam yang lalu, dalam ketinggian lebih dari tigaratus meter. Mungkin jika Professor tidak segera melemparkan mantra untuk meminimalisir benturan, kau sudah patah dimana-mana." Kening Jeongguk terlipat, agak sedikit merasa kesal karena reaksi Taehyung terlalu ringan sementara ia sudah khawatir parah dengan kondisi pemuda manis yang tiba-tiba ambruk di rangkulan Daniel.

Taehyung bergidik mendengar kalimat Jeongguk. "Berhenti, 'kay? Aku merasa ngilu."

"Kau ini selalu saja membuat semua orang khawatir."

"Termasuk kau?" Sebelah alis Taehyung terangkat menggoda.

"Termasuk aku."

Taehyung tertawa geli, menyukai bagaimana kejujuran Jeongguk membuatnya terpukau dengan sensasi aneh bergejolak manis dalam perutnya. Ia meraih lengan Jeongguk, menampilkan wajah yang teramat menggemaskan. "Hug me, please?"

"What if I say no?"

Bibir bawah Taehyung mengerucut, "Nah, you would never say such a word to me."

"How did you know?"

"Because you do like me?"

"Sort of, but not the answer."

"I know I'm irressistable!"

"No."

"Ow, come on. I beg you." Taehyung menarik-narik lemah lengan Jeongguk. "Phweaseee~ its really cold hereeee."

"Hidungmuㅡtunggu, jangan mendongak," Jeongguk berujar panik dengan nada setenang mungkin, menyuruh Taehyung mengelap darah yang mengalir dari hidungnya dengan sapu tangan yang terletak di atas nakas. Ia menumpahkan sebotol air dan bergumam frois dengan cepat hingga air itu membeku dalam bentuk bongkahan dan melapisinya dengan sapu tangan yang lain, menempelkannya tepat di dahi Taehyung, diantara kedua alisnya. "Tahan sebentar."

"Kau ini hebat, tahu." Taehyung berujar sengau, masih bisa tertawa geli. "Kau jelas-jelas panik tapi masih bisa terkendali begini. Aku kagum."

"Aku tahu aku hebat, terima kasih." Jeongguk terpaksa duduk di sisi ranjang Taehyung, ranjang sedikit berderit karena beban yang bertambah. "Masih berdarah?"

"Masih."

"Kepalamu pusing?"

"Sedikit. Ow, finally!" Taehyung menyandarkan kepalanya di pundak lebar Jeongguk, mengerang nyaman saat pemuda Slytherin itu menyerah dan melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Taehyung, mendekapnya lebih dekat.

"Bilang padaku jika mimisannya sudah berhenti."

"I will not!" Taehyung berseru ceria, menenggelamkan dirinya dalam pelukan Jeongguk. "Kau pasti akan berhenti memelukku."

"Tidak akan."

"Serius?"

"I swear yes."

"Barusan berhenti." Taehyung berujar polos, menyapu darah yang tersisa. Merasa tubuh Jeongguk sedikit bergerak, ia segera memeluknya erat. "Eii, you have promised me."

"Aku ingat, tapi sapu tangan ini harus disingkirkan dulu."

"Can we cuddle, please?"

"You asked too much, lion cub." Jeongguk mendengus geli melihat tangan Taehyung sudah terentang dengan raut manis yang sulit ditolak. "Alrite, c'mere."

"Ayey!"

Taehyung menghamburkan dirinya dalam pelukan Jeongguk, dalam kungkungan lengannya yang kuat dan erat. Begitu terjaga dan terlindungi. Mendengarkan detak jantung konstan pemuda Slytherin itu. Sudah bukan rahasia lagi tentang Taehyung yang selalu menyukai pelukan.

"Final nanti, jangan mengalah."

Jeongguk mencium lembut puncak kepala Taehyung yang masih semanis karamel. "Kau pikir aku orang yang bermain mudah seperti itu?" Ia membiarkan bibirnya menempel lama di kening Taehyung.

"Aku tahu." Taehyung tertawa pelan, begitu manis juga adiktif.

.
.
.

Lagi. Tribun Quidditch dipenuhi lautan siswa diiringi sorak sorai memekakkan telinga. Bahkan anggota asrama Hufflepuff dan Ravenclaw memakai topi, bendera, juga syal tim yang mereka dukung. Beberapa orang bahkan menggelar taruhan untuk pemenang hari ini. Tribun benar-benar didominasi warna hijau dan merah.

Bahkan Yoongi dan Namjoon mengangkat tongkat mereka ke udara, menembakkan selaras cahaya terang berwarna hijau dan merah. Yang kemudian berubah menyerupai replika singa yang mengaum dan ular besar, sebelum akhirnya pecah menjadi kembang api. Hoseok berseru ribut di kursi komentator.

Cuaca benar-benar mendung dengan rintik tipis yang mulai menetes, namun tidak dapat memadamkan kobaran ambisi kedua tim yang kini tengah bersiap di ruang tunggu. Mendengar lagi strategi dan intruksi dari Kapten tim masing-masing bahkan meneriakkan seruan penyemangat gegap gempita, senyaring mungkin seolah tidak peduli bahwa itu berpotensi merusak pita suara mereka di kemudian hari,

Taehyung melempar lirikannya pada kumpulan tim Slytherin, mendapati Jeongguk kini tengah menatap lurus ke arahnya dengan senyuman yang membuat dadanya berdebar ribut. Entah oleh pertandingan atau wajah tampan Jeongguk yang membuatnya gugup, tidak fokus.

Kini, Jeongguk sudah membawa langkah ke arahnya. Obsidian kelamnya berkilat. "Sudah siap melawanku?"

Taehyung tersenyum, antisipasinya berkobar kuat. "Selalu siap."

Masing-masing tim memanggil Seeker yang sempat memisah. Jeongguk melemparkan seringai yang disambut Taehyung dengan senyum menantang. Tidak ada yang berniat mengalah atau bermain mudah. Ini pertandingan, harga diri rumah mereka dipertaruhkan dalam turnamen ini.

"Jeongguk-ssi, sebentar."

Jeongguk terhenti saat Taehyung menarik jubahnya dan membuatnya berbalik. Ia tersentak kala lengan Taehyung sudah melingkar di leher dan bibir pemuda itu memagut manis bibirnya. Dengan gerakan cepat, lengan Jeongguk menyelinap di belakang pinggang Taehyung. Memiringkan kepalanya sedikit dan membalas pagutan yang dimulai Taehyung lebih dalam.

"Coba rebut snitch sebelum aku."

Jeongguk menekan keningnya yang menyatu dengan Taehyung, senyumnya bertambah lebar. "Aku terima tantanganmu." [ ]

Series this work belongs to: