Actions

Work Header

완벽한 (Perfect)

Summary:

No matter what, we're already perfect.

[KookV oneshot; reversed age au; originally published in 2018]

Work Text:


"Berhenti mengecek ponselmu setiap waktu, Jeon. Aku ada disini."

Taehyung merengut sambil menangkup wajah Jungkook yang melirik ponselnya entah kesekian kalinya hari ini, mencoba membuat atensi pria itu tertuju ke arahnya dan bukannya benda metal berbentuk persegi itu.

"Sebentar, Tae. Sekretarisku--"

"Aish, menyebalkan." Taehyung memotong. Menatap Jungkook kesal saat pria itu menggumamkan berbagai perintah dalam nada datar pada sekretaris-entah-siapa. Ini hari libur dan Taehyung hanya ingin menghabiskan waktu bersama Jungkook yang lebih tua dua tahun darinya. Namun sepertinya pria itu lebih memikirkan pekerjaannya.

"Taehyung, tunggu. Kau mau kemana?" Jungkook terperangah saat tahu-tahu Taehyung sudah keluar dari antrian untuk menonton bioskop. Jungkook menarik napas panjang, mencoba memaklumi kelakuan Taehyung dan menyusulnya. "Taehyung, dengarkan aku, hei. Sayang."

Berhenti. Langkah Taehyung mematung tepat sedetik saat Jungkook memanggilnya dengan sebutan itu. Ia menoleh dengan tatapan tajam dan dengusan yang menurut Jungkook sangat menggemaskan. "Berhenti memanggilku seperti itu. Menjijikkan."

Jungkook tersenyum samar, merangkul Taehyung sehingga mendekat kearahnya dan mengusap rambut halus Taehyung pelan.

"Apa kau memang sesibuk itu?"

"Apanya?"

"Pekerjaanmu." Taehyung menelan kembang gula yang dibelikan Jungkook. Sebagai permintaan maaf, katanya. "Kau terlihat sibuk setiap waktu, saat libur pun masih harus melihat laptop, apalagi saat bersamaku. Seharusnya kau, kita, tidak perlu pacaran saja."

"Jangan bilang begitu." Jungkook mencubit ujung hidung Taehyung. "Maaf."

"Hmm..." Taehyung bergumam tidak jelas, Jungkook tahu kalau Taehyung masih merajuk tapi tidak ditunjukkannya. "Jangan minta maaf padaku, bodoh. Buktikan saja bahwa aku pacaran dengan manusia, bukan mesin kerja--"

Jungkook menyambar bibir Taehyung yang selembut arum manis, melumatnya pelan kemudian melepasnya dengan tatapan jenaka. "Tidak ada mesin kerja yang bisa mencium, Kim Taehyung. Kau tahu sendiri aku sibuk karena urusan apa."

"--sial, Jeon. Ini tempat umum."

Pria yang lebih tinggi berdecak. "Bahasamu, dear. Jangan sembarang mengumpat."

Taehyung terkekeh pelan, meninju bahu Jungkook yang sekeras beton dengan main-main. "Asal kau tidak selingkuh dengan dokumen mengerikan itu."

"Tidak mungkin." Ekspresi Jungkook membuat Taehyung menyemburkan tawanya. "Aku lebih suka bercinta dengan manusia daripada dengan benda mati."

"Aish. Leluconmu tidak lucu."

"Oh iya, Tae..."

"Apa?"

Jungkook tersenyum lebar, "Tigapuluh Desember? Konser SNSD?"

Mata Taehyung membukat sempurna. "Se-serius, Jeon?"

"Yeah. Asal lusa nanti kau sudah menyelesaikan fitting baju."

"Kau tidak melamarku dulu?"

"Untuk apa? Aku sudah menemui orangtuamu."

Taehyung mendengus, namun kemudian wajahnya kembali cerah. "Apapun asal aku bisa melihat Taeyeon-nuna!"

Kali ini ganti Jungkook yang berdecak. Seharusnya ia tidak menyebutkan girlgroup favorit Taehyung, ia tahu Taehyung adalan fans berat leader SNSD tersebut.

"Tae--"

"Iya, iya, Jungkook-hyung sayang. Aku lebih menyukaimu dari Taeyeon-nuna. Kau puas?" Taehyung mengecup pipi Jungkook dan menarik lengan yang lebih tua masuk ke salah satu cafe dekat sana.

"Tidak. Apa sesulit itu meraih bibirku sampai kau hanya menciumku di pipi?"

 

.

.

.


Taehyung melirik jam tangannya, berjalan sembari mendekap tubuhnya yang kedinginan. Seharusnya dia menuruti Jungkook untuk tidak mengambil jam kuliah saat malam, namun bagaimanapun ia sangat memerlukan mata pelajaran ini dan hanya bisa saat malam.

"Oh ya ampun." Taehyung mengumpat dalam hati saat mengecek ponselnya dan menemukan dayanya habis.

Hari dingin, kepala yang sakit dan badan yang lelah benar-benar menjadi kombinasi yang buruk untuk Kim Taehyung. Pemuda itu mempercepat langkahnya menuju halte bus, ingin sesegeranya masuk ke rumah dan masuk ke dalam selimut--jika bisa, masuk ke pelukan Jungkook.

"Yeahh... huk..."

Taehyung mematung seketika mendengar suara batuk dan tawa aneh dari salah satu gang, samar-samar tercium bau alkohol murahan yang membuatnya mual. Jangan pulang terlalu malam, jika terpaksa jangan pulang sendirian, itu nasihat Jungkook, diamini oleh kedua orangtuanya.

Bagus, sekarang hari berangsur gerimis. Taehyung mendadak mengharapkan Jungkook seperti pangeran atau pemeran utama dalam film yang datang tepat saat dibutuhkan.

Memantapkan hati, Taehyung berjalan sembari merapalkan doa agar pemuda-pemuda mabuk itu tidak menyadari keberadaannya. Bisa gawat nanti, Taehyung tidak bisa menebak apa yang akan terjadi.

"Yah! Kau! Si baju merah! Berhenti!"

'Sial'. Taehyung mengumpat lagi, ia memutuskan untuk berlari namun cekalan di pergelangan tangan kirinya membuat niat Taehyung menciut. Hampir muntah mencium aroma busuk yang mendadak menyerangnya. Taehyung mencoba menarik tangannya namun cekalan orang mabuk ini lebih kuat dari Jungkook--setidaknya, Taehyung yakin begitu.

"Hei, berikan uangmu pada kami, bocah."

Dahi Taehyung berkerut dalam. 'Bocah?!'

"Yah, yah, tunggu," Taehyung merinding saat merasa tangan salah satu dari mereka bergerak mengangkat dagunya. "Lihat, dia cukup manis. Wah. Mau bermain dengan hyuuungg...?"

Ew. Taehyung berjengit, berusaha menepis tangan orang itu dari dagunya. "Lepaskan." Pintanya dengan nada pelan. 'Siapapun cepatlah datang sebelum hal buruk terjadi', Taehyung mengeluh dalam hati.

Ketika tangan seseorang yang memegang pinggangnya, Taehyung tidak tahan lagi. Melupakan segala larangan Jungkook tentang menahan diri dan pura-pura tidak melihat (lagipula apa Taehyung bisa melakukan itu sekarang?). Ia menepis lengan itu, menyentak tangannya dan melancarkan tendangan memutar dan menuju ke leher, menimbulkan suara krek yang memilukan.

Taehyung memajukan bibir bawahnya, "Maaf. Tapi jika terjadi sesuatu padaku, Jungkook-hyung tidak akan membawaku ke konser SNSD dan aku tidak bisa bertemu Taeyeon-nuna."

Taehyung menghitung dalam hati, ada enam orang, dikurang satu karena sudah tumbang sehingga tinggal lima orang dan ukuran mereka dua kali badan Taehyung. Ia menggigit bibir sejenak, untuk menyelamatkan diri tidak apa-apa untuk menargetkan titik vital bukan?

"YAH KIM TAEHYUNG!"

Tendangan Taehyung berhenti di udara, ia menelan ludah mendengar suara itu. Ia menoleh patah-patah. "Jungkook-hyung?" Gumamnya dengan suara tercekik.

"Pulang malam, tidak memberi kabar dan ponselmu mati." Jungkook, dengan rambut yang sedikit berantakan, dasi longgar, lengan kemeja yang digulung sampai siku, juga wajah yang menahan kesal berhasil membuat Taehyung merinding. Jungkook menendang seseorang yang hampir memukulkan kayu dari belakang Taehyung. "Jangan pakai kayu, seharusnya kau pakai besi." Jungkook bergumam dengan nada penuh racun.

"Si-siapa kau sebenarnya?" Yang tadi memegang kayu merintih pelan.

"Jika maksudmu bocah ini," Jungkook menarik lengan Taehyung agar berada dalam jangkauannya, "dia adalah juara satu Taekwondo Nasional, sabuk hitam tentu saja. Juga dia ini tunanganku, menyentuhnya berarti tulangmu patah."

Taehyung mendadak memberi cengiran. Bagaimana reaksi Jungkook jika pria itu tahu ia disentuh tiga kali, apa berarti ada tiga tulang yang patah? Apa memang Jungkook serius atau hanya membual? Tapi, melihat raut Jungkook, Taehyung tidak mau cari mati. Jeon Jungkook dalam kondisi buruk itu sangat berbahaya.

"Aku akan menganggap ini tidak pernah terjadi." Jungkook menarik lengan Taehyung, ia berbisik dengan nada rendah di telinga Taehyung. "Kau berhutang penjelasan padaku, sayang."

"Hyuungg~" Taehyung merengek saat ia sudah duduk di mobil Jungkook, menampilkan wajah imut untuk mengurangi kekesalan Jungkook, yang sepertinya tidak terlalu berhasil, "Itu pembelaan diri, oke? Aku sudah menahannya tapi tidak berhasil. Ponselku dayanya habis dan aku lupa membawa powerbank, juga berapa kali aku harus menjelaskan bahwa aku butuh mata pelajaran ini. Jangan marah ya? Ya? Ya?"

"Aku tidak marah."

"Ya, kau marah."

Jungkook menarik napas panjang, meremas pelan pinggang Taehyung sembari berbisik rendah. "Mereka menyentuhmu, aku tidak suka."

Taehyung tersenyum, membawa lengannya memeluk leher Jungkook. "Hehe, hyung cemburu?"

"Lebih dari cemburu, bodoh. Harusnya kau memintaku untuk mengantar atau menjemputmu."

"Aku bukan cewek, please. Aku bisa jaga diriku sendiri. Lagipula kau punya banyak sekali pekerjaan untuk diurus disamping mengantarku."

"Bukannya begitu, kau bisa kelepasan lagi nanti dan aku tidak bisa melindungimu dari seluruh hukum. Kau sendiri bilang bahwa kau hanya akan bertarung di arena saja--"

"Yah! Tadi itu kan membela diri!"

"--dan soal pekerjaan, itu bisa dikerjakan lain waktu dan bisa ditunda."

"Katakan itu pada pria yang masih mengurus pekerjaannya saat antrian bioskop."

"Tutup mulutmu sebelum aku merobek bajumu."

"Aku jalan kaki ke rumah! Turunkan aku!"

Jungkook hanya tertawa melihat raut wajah Taehyung yang menggemaskan. Ia menekan tengkuk Taehyung dan menciumnya lembut. Kekesalannya hilang saat Taehyung membuka mulutnya, mengijinkan Jungkook untuk menciumnya lebih dalam.

"Aaa--aku lapar." Keluh Taehyung sambil menepuk perutnya sembari memberi cengiran pelan tidak tahu malu saat perutnya berbunyi, sempat mengagetkan Jungkook.

"Dasar." Jungkook mengacak-acak pelan rambut Taehyung, mendengus geli. "Mau makan dimana, dear?"

"Burger King!"

"Jangan makan junk food, Jeon Taehyung."

"Burger King atau bulan depan kita batal menikah."

"Aku tidak peduli, bagaimanapun kau akan tetap jadi milikku. Kita akan makan sushi."

"AKU TIDAK SUKA IKAN MENTAH, JEON JUNGKOOK!"

"Baik, baik, kemana saja asal jangan Burger King atau junk food, oke? Perutmu itu sedang kosong, nanti kau sakit."

"Jungkook-hyungie..."

Jungkook mengusap wajahnya pasrah, Taehyung benar-benar tahu bahwa ia tidak bisa menolak jika sudah seperti ini. Matanya yang berbinar menggemaskan dengan senyum lebar serta tarikan pelan di lengannya adalah kelemahan Jungkook atas Taehyung.

"Oke, Tae. Kita ke Burger King. Tapi untuk sekali ini saja."

Taehyung segera melepas pelukannya di lengan Jungkook seraya bersorak senang. Mengabaikan desisan pelan Jungkook saat ia menghidupkan mobilnya.

Iblis yang satu ini. Jungkook membatin, menyerah.

 

.

.

.

"Pergilah sendirian, Tae, atau ajak temanmu. Aku benar-benar tidak bisa ikut."

Euforia yang dirasakan Taehyung hilang dalam sekejap, ia merasa kekhawatiran menyelubunginya saat mendengar nada serak Jungkook yang tidak biasa. "Kau dimana, hyung?"

"Aku? Di rumah, tentu saja. Cepat pergi, konsernya tigapuluh menit lagi, nanti kau terlambat."

"Oke. Bye."

"Bye. Have a nice day, Tae."

Taehyung memasukkan ponselnya ke saku celana, ia meraih jaket dan segera keluar rumah dengan perasaan campur aduk. Ia buru-buru naik bus yang datang bertepatan saat dirinya santai. Ia tidak dapat berhenti memikirkan Jungkook.

Taehyung turun limabelas menit kemudian. Ia berjalan tergesa memasuki toserba dekat sana. Tanpa berpikir meraih snack, vitamin, buah, juga beberapa sayuran dan daging. Membayarnya di kasir dengan gerakan gesit lalu keluar dengan setengah berlari.

Sekarang disinilah ia. Di depan rumah luas dengan gaya minimalis dicat abu-abu, putih, dan biru muda. Taehyung tidak repot menekan bel karena ia sudah hapal password sang pemilik rumah diluar kepala.

"Jungkook!" Taehyung berseru, melempar sepatu yang dikenakannya ke sembarang arah dan buru-buru menutup pintu. Ia melihat Jungkook berbaring di sofa dengan paper berhamburan serta mac yang menyala di hadapannya.

"Kenapa kau kesini, bocah bodoh?" Lirih Jungkook saat berusaha duduk. Rambutnya berantakan dan sedikit lepek karena berkeringat dingin, wajahnya memucat dengan rona merah yang tidak normal, juga ditambah napasnya yang tersengal. "Konsernya sepuluh menit lagi. Kau akan kehilangan kesempatan ini."

"Aku bisa mencari kesempatan lagi jika kesempatan nonton konser hari ini hilang. Tapi jika aku kehilangan kau, aku tidak tahu harus mencari kemana." Taehyung mengusap keringat di kening Jungkook dengan punggung tangannya, berdesia pelan merasa suhu tinggi menyapa kulitnya. "Kau harusnya tidur dan bukannya bekerja. Sudah minum obat?"

"Obat penurun panas, yeah."

"Sudah makan."

"Tidak ada nafsu."

"Kalau makan aku?"

"Buka bajumu."

"Sialan." Taehyung beranjak berdiri.

"Mau kemana?" Jungkook memanggilnya saat Taehyung berjalan menuju dapur.

"Buat sesuatu untuk dimakan." Balas Taehyung, setengah berseru. "Dan diam disana, Jeon Jungkook. Istirahat."

Jungkook mengernyitkan keningnya. "Memangnya Taehyung bisa memasak?"

"Aku mendengarnya, hei! Jangan remehkan aku!"

Jungkook tidak bisa menahan senyumnya. Ia seratus persen mengira Taehyung akan tetap pergi ke konser dan bukannya mengurusnya, mengingat Taehyung benar-benar fan sejati Kim Taeyeon.

Taehyung selalu penuh kejutan.

 

.

.

.

Segelas mug berisi cokelat panas, hujan, dan sofa yang nyaman.

Jungkook yang semula membaringkan kepalanya di paha Taehyung beranjak duduk, meraih Taehyung ke pangkuannya dan memeluknya erat sampai yang lebih muda tenggelam dalam dekapannya dan hanya rambut cokelat madunya yang terlihat.

"Tae?"

"Hmmm...?"

"Satu. Empat. Tiga."

Taehyung tersenyum, menduselkan wajahnya pada dada bidang Jungkook. "Clichè, cheesy pick up line."

Jungkook terkekeh, mengecup puncak kepala Taehyung yang bergelung nyaman padanya.

"You're perfect, dear"

"Not me, but us."

Dengan itu, Taehyung mengangkat kepalanya dengan dua tangannya memegang bahu Jungkook. Meraih bibir pria berambut hitam itu dan mengecupnya lembut. Membiarkan kehangatan merayap perlahan-lahan. [ ]

 

Series this work belongs to: