Work Text:
"Kau punya adik sekarang, Jeongguk-a. Namanya Taehyung. Ayo, beri salam."
"..."
"Dia manis sekali kan, Jeongguk-a?"
"..."
"Jeongguk?"
"AKU TIDAK MAU PUNYA ADIK! AKU BENCI DIA! AKU BENCI KALIAN! KEMBALIKAN IBUKU!"
Jeon Jeongguk hanya ingin segalanya kembali menjadi seperti semula, seperti sebelum ibunya meninggal. Namun semua terlalu cepat berubah bagi Jeongguk, sejak wanita baru dan seorang batita yang menyertainya itu muncul.
"Hei, kau."
Seseorang menggeplak belakang kepala Jeongguk keras, hingga Jeongguk berdesis marah dan bertekad untuk membalas siapapun yang mengganggunya sekarang. Mendapati surai oranye sekelam senja yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya, Jeongguk rasa tidak perlu berpikir dua kali untuk benar-benar melakukannya.
Jeongguk berdiri dan benar-benar menendang Jung Hoseok, dihindari dengan mudah disertai tawa-tawa kecil yang rasanya ingin Jeongguk kubur dalam-dalam. "Gukkie-yaaaa, menangis lagi?"
"Tidak!" Jeongguk membalas tersendat, menyapu kasar basah yang masih terlihat kentara di pipinya.
"Lalu kenapa matamu merah begitu?"
"A-ada sesuatu masuk ke mataku!"
Hoseok merangkulnya erat sambil mengusak-usak rambut legam yang lebih muda hingga berantakan, tidak lupa mengirim tepukan keras di punggungnya. "Kau benar-benar harus belajar dengan keras jika ingin membohongiku," Hoseok menganggukkan kepalanya, membalas tatapan tidak terima dari Jeongguk, "jadi saengie-ya, mau bercerita pada hyung kesayanganmu ini?"
Jeongguk memukul perut Hoseok main-main. "Jangan terlalu percaya diri, hyung."
"AW! Itu benar! Kau kan sayang padaku!"
"MIMPIMU!" Jeongguk berhasil meloloskan diri dari rangkulan Hoseok dengan mudah, menaiki undakan tangga bebatuan dan duduk di atasnya seolah telah ia lakukan berulangkali diikuti oleh Hoseok. Sorot datarnya memandang lurus ke matahari terbenam.
"Kau tidak akan pergi ke makam ibumu dan menangis cengeng begitu jika tidak terjadi apa-apa, Jeongguk-a." Hoseok bicara lagi, memperhatikan wajah Jeongguk dari samping. Wajah yang dulunya penuh tawa dan seringai iseng itu kini mati sepenuhnya, hilang tak berbekas, layaknya kelam malam berkepanjangan tanpa fajar.
"Ayahku," suara Jeongguk serak, jeda untuk menarik napas terasa begitu lama, "datang dengan seorang wanita, yang bahkan tidak kukenal. Lalu bocah itu, mereka menyuruhku menganggapnya adik. Aku... aku tidak suka, hyung."
"Kau tidak terima," Hoseok mengangguk, patuh mendengarkan racauan Jeongguk, "tapi itu lebih baik daripada tidak punya ibu sama sekali. Ayahmu pasti memikirkan itu. Agar ada yang mengurusmu."
"Aku sama sekali tidak butuh diurus!" Jeongguk membantah keras, sorotnya nyalang penuh amarah. Bibir bawahnya digigit kelu. "Tidak selain ibuku. Aku bahkan belum sempat minta maaf tentang betapa menyusahkannya aku selama ini."
"Walaupun begitu, semuanya sudah terjadi. Cobalah berbaikan saja dengan kenyataan. Ibumu telah meninggal. Ada ibu baru dan adik yang manis untukmu. Kalau merasa bersalah, bersikap baiklah pada mereka. Jangan merajuk parah seperti ini. Memalukan, tahu." Hoseok menjitak dahi Jeongguk lalu berdiri. "Sudah sore, ayo pulang. Kurasa aku ingin bertemu adik barumu."
"Aku tidak mau pulang." Jeongguk menggerit pelan. "Hyung, aku menginap di rumahmuㅡ"
"Tidak." Hoseok memotong cepat. "Kau harus kembali ke rumahmu dan minta maaf sudah membuat mereka khawatir dengan kabur secara tiba-tiba."
"Aku tidak akan minta maaf! Itu bukan salahku!"
Hoseok hanya bisa menarik napas panjang, kekeraskepalaan Jeongguk memang sangat sulit dilunturkan. Egonya masih terlalu tinggi dan emosinya sering meledak-ledak tanpa batas, bahkan sering berbuat nekat seperti kabur ke makam ibunya dan berdiam disana hingga pagi menjelang. Bocah berusia sepuluh tahun itu memang sulit sekali ditebak.
Jika saja ayah Jeongguk tidak menghubunginya untuk menyusul Jeongguk, sudah bisa dipastikan Jeongguk akan tidur di dekat makam ibunya. Anak itu benar-benar tidak punya rasa takut sama sekali, bahkan untuk tidur di makam sementara Hoseok yang melihat makam dari jauh saja sudah merasa lemas.
"Iya, iya, iya. Sekarang ayo pulang. Hawa malam tidak baik untuk bocah masa pertumbuhan sepertimu." Hoseok menyeret Jeongguk untuk segera pergi dari sana karena malam benar-benar hampir menjelang.
"Aku tidak mau pulang!"
"Akan aku belikan es krim, Jeon Jeongguk! Ayolaaahh!"
"Aku bukan anak kecil!"
Namun Jeongguk kini menurut dan tidak berontak lagi saat diseret Hoseok.
.
.
.
"AAAAHHHHhhh! Lucu sekaliiiiiii!"
Jeongguk terpaksa menutup telinga saat pekikan Hoseok melengking bebas kala dipertemukan dengan Taehyung. Pipinya gembil, matanya lebar dan besar, rambut cokelat halus dan lembut, serta bibir kemerahan yang selalu tertawa itu berhasil mencuri perhatian Hoseok dalam sekali pandang.
Dengan hati-hati, Hoseok mengulurkan tangan dan menyambut Taehyung yang berjalan tertatih ke arahnya. Senyumnya mengembang lebar kala Taehyung tertawa dan lengan kecilnya ringkih memeluk Hoseok.
"Kau pasti anak yang benar-benar baik sampai Taehyung menyukaimu, Hoseok-a." Ibu baru Jeongguk tertawa mendapati betapa aktifnya Taehyung di dekat Hoseok, "Taetae itu pemilih sekali."
"Di-dia menyukaiku?" Hoseok menatap Taehyung, mendapati bola mata berwarna hazel jernih itu menatapnya polos. Dan pada detik berikutnya, Taehyung menangkup wajah Hoseok dan menggesekkan pipinya ke pipi remaja berambut senja itu sambil tertawa lagi. "Aku juga menyukaimu, Taehyung-aaaaa~ kau manis sekali astagaa."
Jeongguk hanya berdecih kemudiam masuk ke salam rumahnya, menaiki tangga dengan langkah cepat dan membanting pintu kamarnya.
"Biarkan saja, Jeongguk memang begitu. Dia keras kepala sekali." Hoseok berucap menenangkan saat melihat wajah khawatir dari ibunya dan ayahnya saat mendengar bantingan pintu. "Ah, boleh aku menggendongnya, eommonim?"
"Boleh sekali," wanita itu tersenyum dan membantu Hoseok untuk menyangga Taehyung tetap stabil saat di gendong. Taehyung berteriak senang saat Hoseok mengangkatnya tinggi, tangannya mengayun bebas bahkan mengacak-acak rambut senja Hoseok.
"Hmm, aku jadi ingin punya adik kandung." Hoseok bergumam pelan, kini duduk dengan Taehyung dipangkuannya dan memainkan jarinya dengan raut serius yang lucu.
"Kau tinggal minta pada ibumu. Dia tidak akan menolak permintaan anak baik sepertimu."
Hoseok tertawa saat wanita itu menyajikan kue kering dan teh kamomil hangat. "Aku yatim piatu, eommonim. Hanya tinggal bersama kakek dan nenekku."
"Astaga, maafkan aku, Hoseok-a."
"Tidak apa-apa," Hoseok kembali memainkan rambut Taehyung yang beraroma apel. Hingga kemudian Taehyung berhenti bermain dengan jarinya, kemudian berusaha berdiri di atas paha Hoseok. "Hm? Taetae mau apa?" Hoseok bertanya saat Taehyung memegang bahunya dengan jari-jari kecilnya.
Kemudian Taehyung memeluk leher Hoseok erat sekali, meloloskan kekehan kecil dari bibirnya. "Taetae ingin menghiburku?"
Anggukan kecil lucu terasa di pundak Hoseok, membuatnya tertawa dan mengusap-ngusap punggung kecil Taehyung. "Melihat Taetae saja sudah senang kok. Tapi hyung harus pulang sekarang."
"Sering-seringlah datang kemari. Taehyung juga pasti senang bertemu denganmu."
"Akan kuusahakan, eommonim. Terima kasih tawarannya. Dan untuk Jeongguk, sepertinya dia butuh waktu setelah ibunya meninggal."
.
.
.
Jeongguk berusaha untuk tidak memikirkan apapum dengan menyibukkan diri menjawab soal, namun pikirannya tengah terpecah dan tidak bisa fokus. Beberapa saat melayang pada ibunya yang meninggal, lalu pada ayah, wanita itu, dan Taehyung yang membuatnya merasa ingin menghancurkan sesuatu. Ia melempar kesal beberapa buku pelajarannya.
Pintu terbuka secara tiba-tiba hingga Jeongguk menoleh, kemudian mendengus melihat Taehyung tertatih masuk ke kamarnya. Ia memperhatikan batita itu berpegangan pada pintu, lalu pelan-pelan melangkah. Namun sepertinya ia tidak melihat bagian karpet yang melapisi lantai kamar Jeongguk sedikit tertekuk hingga membuatnya tersandung, jatuh dengan posisi tiarap.
"Ah!" Jeongguk tanpa sadar berseru khawatir, tangannya yang hampir terulur ditarik kembali. Menggaruk tengkuknya canggung namun ekor matanya masih melirik pada Taehyung.
Batita itu susah payah bangkit duduk dengan menunduk, tudung one-piece dengan telinga kelincinya tertekuk hingga menutupi kepalanya. Jeongguk benci mendengar suara tangisan, namun anak ini seperti akan menangis.
Tapi kemudian, batita itu menurunkan tudung yang menutupi kepalanya, mengusap-usap wajahnya lalu menatap Jeongguk. Jeongguk dapat melihat wajahnya merah dan matanya yang berkaca-kaca. Namun Taehyung tersenyum lebar sambil terkekeh pelan.
Ia pelan-pelan berdiri lagi kemudian melangkah ke arah kursi meja belajar yang diduduki Jeongguk. "Pe-pe-pergi sana!" Jeongguk tergagap, melepaskan pegangan Taehyung pada kursi meja belajarnya.
"Tatatatatatata!" Taehyung menggerung kesal saat jarinya dilepas oleh Jeongguk, kemudian terduduk lagi. Taehyung menggembungkan pipinya, menatap Jeongguk marah.
Jeongguk menarik napas panjang, beranjak dari kursinya kemudian mengangkat Taehyung hati-hati. Melihat Taehyung tertawa, Jeongguk berdecak. "Aku tidak akan menggendongmu." Katanya, lalu meletakkan Taehyung diluar kamarnya. "Tetap disana, jangan masuk ke kamarku."
Taehyung terduduk di depan kamar Jeongguk, memiringkan kepalanya heran saat Jeongguk meninggalkannya. Ia ingin mengikuti Jeongguk lagi, namun lagi-lagi tersandung dan tiarap. Dahinya agak memerah karena tergesek karpet.
Dia mengangkat kepala, masih dalam posisi tiarap. Menatap Jeongguk dengan mata besarnya yang lebih berkaca-kaca dari tadi dan bibir yang digigit kuat.
"Hahh..." Jeongguk terpaksa menghampiri Taehyung lagi, mengangkat Taehyung dan mendudukkannya, "jangan masuk ke kamarku lagi, oke? Jangan menangis, cengeng sekali."
"Hehe." Taehyung kembali tertawa, menangkap tangan Jeongguk bersemangat dan mencengkeramnya erat dengan jari tangannya yang mungil.
"Le-lepaskan tanganku!"
Semakin Jeongguk menarik tangannya, semakin erat Taehyung mencengkeram, juga semakin keras pula tawanya. Jeongguk memperhatikan jari Taehyung yang memegang tangannya, kecil sekali, begitu mungil dan rapuh. Bahkan tangan Jeongguk mampu menggenggam kelima jari Taehyung.
"Jangan tertawa."
Taehyung memiringkan kepalanya lagi, kini berusaha berdiri dan menaiki paha Jeongguk yang bersila. "Apa? Kau mau apa?" Jeongguk menggenggam tangan kecil Taehyung, menahan punggungnya agar tidak jatuh.
"Tatatatatatata."
Jeongguk berdecak tidak mengerti. Taehyung menghempaskan badannya secara tiba-tiba di pangkuan Jeongguk. "Kau ini kenapa?" Jeongguk mengeluh saat kepala Taehyung mengusak dadanya, lengan mungilnya tidak sampai melingkar punggung Jeongguk, bahkan tidak sampai setengahnya sehingga hanya mencengkeram kaus Jeongguk. "Jangan tidur disini! Hei! Taehyung!"
Taehyung tiba-tiba bersin, tapi tidak melepaskan pelukannya, malah semakin erat. Jeongguk menarik napas panjang, berusaha berdiri dengan Taehyung yang menempel seperti koala padanya. Mematikan pendingin ruangan kemudian duduk di tepi ranjangnya. Terdengar dengkur halus yang membuat Jeongguk tidak tega mengusir Taehyung keluar dari kamarnya.
"Kau ini benar-benar tidak takut padaku ya." Jeongguk menepuk-nepuk pelan punggung Taehyung yang terlelap sembari memeluknya.
.
.
.
"Kenapa kau ini suka sekali mendekatiku?"
Jeongguk menggerutu saat Taehyung melangkah ke arahnya, susah payah menaiki sofa namun tidak kunjung berhasil. Sebelum akhirnya Jeongguk mengulurkan tangan, mengangkat Taehyung untuk duduk di sebelahnya.
"Tidak, tidak. Jangan ke pangkuanku lagi." Jeongguk menahan Taehyung, beringsut mundur saat Taehyung menggeser tubuhnya pada Jeongguk.
"Tatatatatatatatata!" Taehyung memukul-mukul lutut dan tangan Jeongguk kesal, bibir merahnya mengerucut kesal.
"Tidak, Tae. Tidak."
Taehyung tidak peduli, ia tetap berkeras menaiki paha Jeongguk dan duduk di pangkuannya. Matanya melebar melihat selembar foto yang dipegang Jeongguk. "Tatatatatata?" Ia meraih-raih lengan Jeongguk, ingin melihat foto yang dipegang kakak tirinya itu.
"Apa kau cuma bisa bicara tatatatatata, Taehyung?" Jeongguk mendengus geli, menurunkan tangannya dan membiarkan Taehyung melihat selembar foto yang tadi dipegang apik. Menampilkan foto seorang wanita cantik dengan senyum manis berambut hitam legam, mirip dengan Jeongguk.
Taehyung mendongakkan kepalanya untuk menatap Jeongguk, kelopak mata mengerjap polos membuat Jeongguk tidak bisa menahan diri untuk mencubit gemas ujung hidungnya.
"Dia ibuku," Jeongguk bersandar, diikuti Taehyung yang bersandar pada dadanya, "cantik sekali kan? Kau ingin bertemu dengannya, Taehyung?"
Taehyung mengangguk, binar matanya menunjukkan kekagumam dan terpesona.
"Dia sudah pergi ke surga, kita tidak bisa menemuinya biarpun ingin." Jeongguk mengusap pelan puncak kepala Taehyung. "Sayang sekali kau tidak bisa bertemu dengannya. Ibuku baik sekali, tidak pernah marah senakal apapun aku, selalu tersenyum dan memasak banyak makanan enakㅡTaehyung, kenapa kau menangis?"
Taehyung menggeleng, tangan mungilnya sibuk menggosok mata dan wajahnya. Meracau tidak jelas sampai Jeongguk meraih pipi gembil Taehyung dan menepuk-nepuknya pelan. "Jangan menangis, oke? Kita makan es krim?" tanyanya lembut, "sini kugendong."
Taehyung mengangguk dengan hidung merah, mengulurkan tangan untuk meraih leher Jeongguk dan memeluknya. Mengusakkan pipinya di leher Jeongguk.
Mungkin sebelumnya Jeongguk tidak suka, tapi melihat Taehyung yang menangis bahkan saat Jeongguk hanya bicara sedikit tentang ibunya, membuat Jeongguk berasa lebih lega. Seolah tidak hanya ia yang merasa sakit dan kehilangan, Taehyung seakan mampu merasakannya juga. Jeongguk pikir ia tidak sendirian, dan membuka hatinya untuk Taehyung sepertinya bukan pilihan yang buruk.
Jeongguk rasa ia akan berusaha menerima, seperti yang dikatakan Hoseok padanya tempo hari.
.
.
.
[Lima belas tahun kemudian, Seoul Tower, 04:17 KST]
"Sajangnim, ada seorang remaja sekolah menengah atas berkeras masuk tanpa membuat janji dengan anda." Salah satu staff keamanan melapor tepat saat Jeongguk keluar dari ruang meeting.
Dengan raut kusut yang disembunyikan apik, Jeongguk memberi senyuman tipis. "Dimana dia sekarang?" suaranya tegas berwibawa, dengan nada rendah mencekik yang samar, begitu halus dibawa angin.
"Dia tidak mau keluar dari ruangan anda. Maaf kami tidak bisa mencegahnya, sajangnim."
Jeongguk mengangguk, "Biar kutebak, namanya Taehyung?"
"Benar, sajangnim."
Jeongguk menarik napas panjang, melonggarkan sedikit dasi yang memasung lehernya erat. "Kembali bekerja seperti semula, masalah ini biar aku yang urus."
"Permisi, sajangnim."
Jeongguk hanya tersenyum tipis dan memberi gestur untuk bubar. Menyuruh sekretaris untuk membatalkan janji makan siang dengan salah satu putri petinggi yang bekerja sama dengannya. Meladeni adiknya yang kadang jahil luar biasa lebih menyenangkan dibanding erus memasang topeng pada makan siang formal yang membosankan.
Lift menuju ruangan berdenting lembut, dengan semilir hembusan angin conditioner. Ia mendorong pelan ruangan pribadinya dan menemukan seorang remaja berambut kelabu berbaring di atas sofa.
"Tidak bisakah kau masuk dengan normal ke kantorkuㅡ" Jeongguk melepas jasnya dan menyampirkannya ke kursi terdekat, "ㅡJeon Taehyung?"
"Karena ini aneh sekali! Apa aku harus membuat janji untuk bertemu kakakku sendiri?!" Remaja itu bangkit duduk, bibirnya masih semerah dulu dengan sorot mata tajam menatap gusar, anting panjang di telinga kirinya mengerlip terkena cahaya lampu. Taehyung mendengus parah, mengusak kasar rambutnya yang sekarang dicat kelabu.
Jeongguk pikir Taehyung akan tumbuh jadi remaja yang manis atau mungkin menyabet gelar ketua organisasi siswa di sekolah, namun agaknya pikiran itu harus patah dan hancur begitu saja karena Taehyung sama sekali tidak mendekati ekspektasi tersebut. Taehyung tumbuh bebas.
"Tentu saja aneh jika gayamu urakan begini, rambutmu astaga," Jeongguk berdecak dan mengambil tempat di sebelah Taehyung, "kemarin lilac, lalu merah, lalu pirang, sekarang... abu-abu? Seriously, Taehyung?!"
Taehyung memirinhkan kepalanya sambil tersenyum asimetris, "Bukankah ini cocok untukku? Mereka bilang rambutku cocok warna apa saja."
"Bukan berarti kau harus mengecat rambutmu dengan segala macam warna, aegi."
"Hei, aku bukan bayi!" Taehyung mengeluh kesal, sudah lama sekali ia tidak mendengar panggilan itu dari Jeongguk karena kakaknya itu menjadi super-super-super sibuk setelah menamatkan kuliah.
"Kau tetap aegi, Taehyung."
"Bukan!"
"Apa aegi sedang merajuk?" Jeongguk mendekatkan wajahnya, terlalu dekat hingga Taehyung bisa merasakan napas Jeongguk di permukaan kulitnya. "Kau lupa dulu kau senang sekali menempel padaku?"
Taehyung memutar matanya, lebih dari paham bahwa kakaknya itu senang menggoda. Ia hanya memajukan wajahnya sedikit mengecup kilat bibir Jeongguk. "Ayo pergi, kau lupa hari ini hari apa?"
Jeongguk tersenyum, namun bukan senyum yang sering dilihat Taehyung. Senyumnya lembut dan terkesan sendu. Senyum yang seringkali Jeongguk perlihatkan kala ia mengingat ibunya. "Aku tahu," Jeongguk menumpukan dahinya di pundak Taehyung, "hari peringatan kematian ibuku. Aku kagum kau masih mengingatnya."
"Setiap tahun aku melakukan hal yang sama, bagaimana aku bisa lupa. Kau terlalu sibuk jadi aku mengingatkanmu." Taehyung menepuk-nepuk bahu Jeongguk yang masih dibalut kemeja, "ayolah, ibumu pasti menunggumu."
"Sebentar lagi..." Jeongguk mengerang malas, menahan Taehyung yang hendak beranjak dan membuatnya terduduk kembali.
"Nanti traktir aku makan. Aku lapar sekali."
"Sebanyak yang kau mau."
"Hei, jangan tidur."
"Taehyung-a..."
Taehyung yang tengah mengecek ponsel hanya berdeham mendengar panggilan Jeongguk.
"Terima kasih."
"Untuk apa? Untuk mengingatkanmu tentang hari ini?"
"Untuk segalanya, terima kasih sudah datang padaku."
"A-apa sih, tiba-tiba."
Jeongguk tersenyum kemudian menarik dirinya dari Taehyung, meraih pergelangan kurus itu. "Kita pergi sekarang?"
"Aku menunggu dari tadi, sialan."
.
.
.
"Pelan-pelan makannya."
Taehyung menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak akibat tersedak mendengar penuturan Jeongguk yang tiba-tiba namun begitu lancar. "Apa kau bilang, hyung? Me-menikah??"
Jeongguk mengangguk, mengusap sudut bibir Taehyung. "Memangnya kenapa?"
"Ayah dan ibu sudah tahu?"
Pria itu tertawa kecil, tersenyum melihat reaksi Taehyung, "Aku berencana memberitahu mereka dalam waktu dekat."
Taehyung menarik napas tidak percaya, menatap Jeongguk dengan mata melebar, lupa bagaimana mulutnya berair terhadap makanan di hadapannya. Hanya karena dua hal ; Jeongguk dan menikah.
"Kau gila, hyung! Serius!" Taehyung tidak segan mengacungkan sumpitnya pada Jeongguk yang lagi-lagi hanya tersenyum kecil.
"Aku tidak gila, umurku sudah mencukupi untuk melakukan segala hal yang aku mau. Duapuluh lima tahun. Itu usia yang prima untuk menikah."
"Aku tahu," Taehyung memijit dahinya lelah, "tapi... menikah denganku?! Apa dokumen perusahaanmu itu membuat kewarasanmu hilang?"
"Apa yang salah dari menikahimu?"
"Kita saudaraㅡ"
"Tiri." Jeongguk mengunyah patuh mendengarkan Taehyung.
"ㅡdan aku laki-laki."
"Kau cantik."
"Sialan, umurku masih tujuh belas."
"Kau mau aku menunggumu sampai umurmu duapuluh, Taehyung-a?"
"Bukan itu maksudku!"
Jeongguk tertawa melihat raut frustrasi Taehyung. Bibir bawahnya digigit gemas dengan sorot mata tidak fokus, juga rona merah muda yang perlahan merayap di sekitar tulang pipinya. Begitu manis dan terlihat polos. [ ]
