Work Text:
Anton rasanya ingin mabuk setelah seharian penuh bergulat dengan perkuliahan. Niat hati hanya ingin jauh dari orang tua, malah bawa petaka bagi Anton yang tak suka yang namanya belajar. Tapi, Anton ingat satu hal dari keluarganya yang bisa ia contoh dengan baik. Yaitu dengan belajar tidak pernah berhenti sampai usia berhenti.
Baik ayah atau ibu yang telah membesarkannya setengah hati itu setidaknya ada yang bisa dicontoh sikap baiknya. Anton masa bodoh dengan statusnya sekarang yang punya dua ayah, punya dua ibu. Toh keempatnya tidak ada yang mengurusnya dengan baik.
Anton terbiasa hidup sendirian meskipun ia dari kecil harus tahan telinga dengan nenek dan kakek yang sebenarnya sama aja seperti kedua orang tuanya. Jadi begitu Anton lulus, keputusannya untuk merantau dengan alasan kuliah ini cukup sebagai pelariannya. Lagian ya, Anton kuliah juga pakai uang hasil kerja dia sendiri. Nggak minta sepeserpun dari orang tua atau nenek yang sekarang udah sakit-sakitan.
Anton jahat kah? Tapi bukannya lebih jahat lagi orang tuanya yang gak mau ngurus dia dari lahir ya? Bahkan sekadar belikan satu buku tulis buat Anton aja harus pakai acara berantem dorong kulkas sampai rusak.
Mumpung udah sampai kos, Anton dengan rutinitasnya tiap selesai kuliah. Yups! Packing-packing makalah, skripsi dan printout yang dia jual secara online. Jual jasa lah bahasa kasarnya, jasa joki hehehe. Bener sih Anton nggak suka belajar, tapi nggak suka belajar bukan berarti Anton nih nggak pinter.
Anton juga makasih banyak sama ayahnya yang udah mewariskan otak cerdasnya ke Anton, jadi Anton nggak perlu susah cari duit karena dari kecil udah bisa jual kecerdasan. Semoga Anton nggak diwarisi sifat ayahnya yang pemabuk, kasar, emosian, dan yang doyan selingkuh itu. Anton kalo mau punya pasangan nanti juga jangan sampai pasangannya kayak ibunya yang gak mau ngurus anak, Anton pengen kalo nanti anaknya bisa sehat nggak kurang suatu apapun.
Selain sibuk sama kerjaan yang ternyata ngehasilin duit yang lumayan bisa buat biaya hidup Anton dan UKT-nya itu, Anton juga aktif main twitter. Kan dia jualan juga mulainya dari twitter, otomatis gak sedikitlah followersnya. Gak jarang juga dia tukar pesan sama followersnya, sekadar tanya harga joki atau basa-basi apa aja.
Dan sekarang Anton lagi dm-an sama followersnya yang ternyata adalah penulis cerita fiksi penggemar, atau bahasa gaulnya writer fanfict atau lagi writer alternate universe. Anton sering banget ikut baca karya-karya yang Eunseok unggah di twitter. Walaupun aslinya Anton juga nggak paham, siapa sih idola yang diposting Eunseok ini. Bener! Namanya Eunseok.
Tapi jujur aja, Anton suka sama gaya tulisan Eunseok. Estetikanya tuh ada banget kalo kata Anton. Tulisan Eunseok seolah-olah bisa cerita langsung ke Anton. Seolah-olah Anton bisa denger suara Eunseok lagi ceritain tulisan dia. Padahal buat sekadar telfon aja, mereka gak pernah sama sekali.
Anton udah berulang kali ajak Eunseok buat telfon suara, panggilan video, tapi gak tau kenapa Eunseok selalu nolak. Gak ada alasan pasti, Eunseok cuma selalu bilang kalo dia belum siap aja. Padahal Anton udah terlanjur kepo setengah mati sama follower yang tiap hari dia ajak tukar pesan itu.
Anton juga udah kepo mampus sama suaranya, udah ngebayangin semerdu apa waktu Eunseok ngomong sama dia. Pasti udah kaya di nina bobo, karena suaranya lembut banget. Tapi sekali lagi, itu cuma ada dipikiran Anton. Sebagai orang yang selalu berpikiran positif, dia gak berani mikir aneh-aneh ke Eunseok, padahal bisa aja Eunseok ini faker.
"Si Eunseok rumahnya kan deket sini juga ya, kenapa dia gak mau kalo diajak ketemuan?"
Anton udah kebelet pengen lihat gimana bentukan Eunseok. Tapi entah ide dari mana, Anton minta Eunseok buat kirim pap sore itu. Waktu diturutin, Anton rasanya mau meleleh. Ternyata Eunseok ini manis banget, kayanya Anton bener-bener bisa menggila hanya karena chat sama Eunseok.
Eunseok senyum-senyum sendiri baca reaksi dari Anton yang katanya makin pengen ketemu sama dia. Tapi bersamaan dengan itu, pintu kamarnya digedor kencang banget sampai alat bantu dengar yang Eunseok pakai harus dilepas dulu. Gimana nggak? Eunseok tidak suka harinya diganggu.
"Heh anak cacat! Keluar gak lo?!" Teriak seseorang yang lebih tepatnya ayah Eunseok sendiri.
Kenapa ya, orang tua Eunseok selalu mengucilkan Eunseok? Padahal Eunseok sama berbakatnya kaya orang kebanyakan. Eunseok normal kok, yang gak normal kan cuma pendengarannya doang. Eunseok pun udah nurut, nggak pernah minta aneh-aneh. Disuruh berhenti sekolah dan gak lanjut, Eunseok juga oke aja. Walaupun Eunseok cuma mentok dapet ijazah SMP, dan SMA gak selesai karena orang tuanya gak mau biayain lagi.
Tapi tenang aja, Eunseok kan pinter, otaknya selalu jalan walaupun dia cuma lulusan SMP. Efek suka banget nulis diary dan baca buku, Eunseok sekarang jadi penulis AU. Eunseok diem-diem juga open commis, apa ya bahasa? Jual tulisan? Persis banget kaya Anton ya kan?
Bedanya, Anton jual tulisan formal, Eunseok jual tulisan fiksi.
Eunseok akhirnya buka pintu tanpa pasang alat bantu dengar karena tahu ayahnya pasti bakal ngoceh masalah kerjaan rumah. Bukan hal yang aneh lagi kalo dia bakal kena pukul. Serumah ini isinya 4 orang dewasa, satu kepala keluarga, satu ibu rumah tangga, satu anak sulung yang udah dewasa dan normal semua-muanya tapi gak becus kerja, satu lagi Eunseok si bungsu yang tiap hari disia-sia.
Benar saja, begitu Eunseok buka pintu—bukannya disayang-sayang, Eunseok malah dapat tamparan keras di pipi kirinya. Ayahnya entah ngomel apa, Eunseok nggak tau, dan nggak mau tahu. Yang bisa Eunseok lakukan saat itu hanyalah dorong paksa pintu kamarnya yang bunyinya hampir sama kaya orang marah.
Eunseok kembali ke mejanya, dia nangis, jarang-jarang Eunseok nangis karena ia terlampau kuat tiap harinya. 23 tahun loh dia hidup, nggak mati aja dia udah termasuk beruntung. Tanpa sadar, Eunseom ngetik sesuatu di handphone nya.
"Anton, mau ketemu nggak? sore aku free."
Ngetik kayak begitu bikin Eunseok sendiri kaget, tapi mau gimana lagi? Eunseok kayaknya juga gak terlalu kuat kalau mau bawa beban ini sendirian.
Anton turuti Eunseok yang tiba-tiba ajak dia ketemu di taman deket sama kompleks perumahan Eunseok. Eunseok awalnya nolak dan pengin kalau ketemu sama Anton di tempat yang lebih tertutup, tapi karena Anton pengin hirup udara segar, jadilah ia berakhir disini. Menunggu si penulis cerita penggemar sampai di taman dan bertemu untuk pertama kalinya.
Nggak lama dari jam yang dijanjikan, 16.30 WIB tepat Anton lihat sosok yang tadi kirimkan foto padanya berjalan pelan menuju ke arahnya setelah melambaikan tangan padanya. Paras itu sedikit berubah dalam hitungan menit yang sudah berubah menjadi jam. Ujung bibirnya terlihat sedikit memerah dan mengeluarkan darah. Sedikit, tapi benar-benar menyita fokus Anton.
Senyum yang Anton sunggingkan makin memudar ketika ia lihat alat bantu dengar yang tersumpal di telinga kanan dan kiri Eunseok. Bukan earphone! Anton bukanlah orang bodoh yang tak bisa membedakan mana earphone dan alat bantu dengar. Barulah ketika Eunseok sampai di hadapannya, ia lihat dan absen dengan teliti orang yang usianya lebih tua darinya.
"Hai!" Eunseok menyapa dengan senyuman terlebih dahulu. Anton belum bergerak, matanya malah tertuju pada leher Eunseok yang membiru. Bukan bekas ciuman, sekali lagi Anton tidak bodoh!
"Oh, hai Seok!"
Anton mengulurkan tangan, Eunseok menjabat. Anton makin bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya—apa yang terjadi pada Eunseok? Mengapa tangannya dingin dan bergetar sendiri?
"Seok, sorry banget kalo gue terlalu kepo. Tapi lo oke kah?" Anton bangkit dari duduknya tanpa melepas jabatan tangannya dengan Eunseok.
Eunseok sendiri hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Aku oke kok!" Eunseok coba yakinkan Anton dengan percaya diri. Anton yang udah kebal dibohongi gak mungkin gak tahu kalo Eunseok baru saja bohong sama dia.
"Anton, aku capek, mau sambil duduk aja ya?"
Belum sampai Anton jawab, Eunseok udah langsung duduk di kursi taman sambil meringis kaya orang nahan sakit. Ya Anton lihat semuanya, tapi Anton gak mau paksa Eunseok buat cerita. Biar semuanya berjalan pelan-pelan, Anton gak ada hak buat paksa Eunseok.
"Anton, kamu kaget gak kalo aku tuli?" Belum juga bokongnya terduduk di kursi, Anton udah dibikin kaget sama pertanyaan yang sensitif ini.
"Kaget sih iya, tapi kek—yaudah? emang kenapa?"
Eunseok menggeleng lalu tersenyum, "Kamu masih bakal tetep baik sama aku kan?" Anton sebenarnya nggak paham-paham amat sama yang dimaksud Eunseok, tapi Anton yakin kalau Eunseok lagi gak baik-baik.
"Kita udah kenal dari kapan sih Seok? Gue sampe mimpiin lo, bayangin suara lo. Lo aja baik sama gue, masa gue tiba-tiba jadi jahat ke lo?"
Anton bilang sambil ketawa pelan, coba buat cairin suasana yang menurutnya udah nggak banget. Tapi respon yang Anton dapat malah berbeda dari yang dia banyangkan. Eunseok malah terdiam cukup lama selepas Anton bilang itu. Seolah-olah benar-benar ada yang ditahan. Sesuatu yang berat buat diceritakan.
"Anton," Eunseok menunduk dan mainin jari tangannya. "Aku nggak punya banyak temen tau..." Kalimat itu pelan banget, sampai Anton harus ikut nunduk dan deketin telinganya ke Eunseok.
"Gimana maksudnya?" Tanya Anton.
"Yaaaa... Nggak punya temen." Matanya kemudian terangkat, menatap Anton yang juga sedang menatapnya. "Aku sekolah tuh nggak lama, jarang keluar rumah, terus juga—" Eunseok menunjuk telinganya yang tersumpal alat bantu dengar.
"Aku cacat."
Anton nggak langsung menjawab Eunseok yang kini lagi senyum dihadapan dia. Untuk pertama kalinya sejak bertemu, ia sadar kalau Eunseok ternyata jauh lebih berbeda dibanding versi yang selama ini ia kenal di balik layar ponsel. Di Twitter, Eunseok selalu terdengar ceria dan suka banget jbjb followersnya.
Eunseok juga suka banget pakai emot-emot lucu, suka kirim foto langit senja, suka marah kalo karakter favoritnya dibikin sedih sama author lain.
Tapi sekarang Anton melihat orang yang sama dengan mata kepalanya sendiri. Dan orang itu terlihat sangat kesepian. "Jadi gue orang pertama yang mau temenan sama lo?" Eunseok tersenyum dan mengangguk yakin tanpa keraguan sedikitpun.
Anton ikut tersenyum melihatnya, tapi ada rasa pedih melihatnya. Eunseok seperti punya duka dalam hatinya, Anton bisa rasakan itu. Baru pertama kali bertemu, tapi Anton sepertinya yakin bahwa ia benar-benar ingin melindungi Eunseok.
"Seok, kalo ada apa-apa—bisa kok ceritanya ke gue." Eunseok mengangguk.
Mereka menghabiskan sore itu dengan hal-hal sederhana. Membicarakan pelanggan yang aneh saat open commission, membahas cerita-cerita AU yang menurut Anton terlalu sedih, lalu berdebat hampir lima belas menit soal karakter fiksi yang bahkan Anton sendiri tidak kenal.
Namun ternyata berbincang dengan Eunseok memang buat Anton nyaman, tak hanya lewat chat, namun juga bertemu langsung buat hati Anton puas. Suara yang ia damba, akhirnya terdengar juga ke telinganya.
Malam hari tiba, keduanya kembali bertukar pesan. Kini suasana hati Eunseok sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Ternyata bertemu dengan Anton adalah jalan terbaik untuk meluruskan pikirannya sejenak. Eunseok pikir, Anton adalah orang yang kaku. Namun ternyata tidak juga.
"Anton, makasih banyak ya?"
Anton malah tertawa mendengar voice note yang Eunseok kirimkan. Bukan tertawa karena tidak suka, tapi tertawa karena mungkin Anton rasanya hampir menggila mendengar suara Eunseok. Suara Eunseok sangat manis, Anton ingin terus mendengar suara Eunseok.
"Lucu banget anjir." Namun tawanya sedikit menghilang ketika ia teringat dengan beberapa lebam di area leher dan ujung bibir yang berdarah. "Kenapa lo gak mau langsung jujur aja sama gue, Seok?"
Hari-hari berikutnya berjalan secara perlahan. Anton dan Eunseok mulai terbiasa bertemu seminggu sekali. Kadang bertemu di taman, kadang juga di perpusatakaan kota, namun tak jarang juga mereka duduk di minimarket sambil makan mie cup dan mengobrol sampai malam.
Dari situ, Anton mulai mengenal kebiasaan-kebiasaan kecil Eunseok. Eunseok selalu duduk di sisi tertentu agar bisa membaca gerakan bibir lawan bicaranya lebih mudah. Eunseok tidak suka mendengar suara yang terlalu keras. Dan Eunseok selalu membawa buku diary miliknya kemanapun ia pergi.
Yang paling membuat Anton bingung adalah, Eunseok yang tidak pernah bercerita tentang keluarganya. Kalau Anton bertanya tentang keluarga, Eunseok akan selalu mengalihkan topik. Selalu dan terlampau sering, sampai Anton paham kalau ada yang tidak beres dengan keluarga Eunseok.
Yang paling Anton sebal adalah Eunseok yang tidak mau jujur tentang memar yang ia miliki. Karena memar itu kadang muncul di lengan, di leher, kadang juga tangannya terlihat merah seperti tergores sesuatu. Dan alasan Eunseok pasti selalu, terbentur, lagi, lagi, dan terus terbentur.
Sampai suatu malam Anton tidak sengaja mendengar suara tangisan. Sekitaran pukul satu dini hari karena Anton melakukan panggilan video dengan Eunseok. Bukan panggilan video yang benar-benar memperlihatkan wajah, namun hanya kamera yang menghadap langit-langit kamar masing-masing. Tapi itu cukup bagi Anton untuk tahu kalau di seberang sana Eunseok sedang menangis.
"Seok?" Tidak ada jawaban.
"Seok, lo oke?" Masih diam, namun sesaat kemudian suara Eunseok terdengar.
"Anton, aku capek."
Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat Anton merasa jauh lebih takut dibanding apa pun yang pernah ia dengar sebelumnya.
"Capek kenapa?" tanyanya hati-hati.
Di seberang sana tidak ada jawaban selama beberapa detik. Lalu terdengar suara tarikan napas panjang.
"Aku nggak tahu Anton, capek aja."
Anton menatap langit-langit kamarnya. Jawaban itu justru terdengar paling jujur. Karena terkadang seseorang memang sudah terlalu lelah sampai tidak bisa menjelaskan apa yang membuatnya lelah.
"Kalau nggak tahu, berarti capeknya numpuk."
"Anton..."
"Kenapa Seok?"
Hening beberapa saat, jawaban yang tidak kunjung datang itu kemudian menjadi jawaban sendiri. Anton mulai memejamkan mata, dan mungkin hatinya bergejolak, membenci orang-orang yang bahkan belum pernah ia temui. Contohnya orang tua Eunseok, belum pernah Anton temui tapi bisa Anton benci.
"Bibir lo udah sembuh?" tanya Anton.
"Sembuh? Emang bibir aku—"
"Seok, gue tahu lo bohongin gue ya. Kali ini aja Seok, cerita sama gue, please."
Semuanya kembali hening, Eunseok tidak menyahut, sementara Anton juga kembali diam. Seolah keduanya sama-sama sedang berpura-pura. Terlalu lama mereka memendam dan saling berbohong, mungkin Anton yang harus memulai.
"Gue boleh cerita nggak?" tanya Anton lembut pada Eunseok. Yang ditanya hanya mampu menggangguk begitu saja, walau tak begitu terlihat, tapi Anton yakin kalau Eunseok mengijinkannya cerita.
"Walaupun lo gak cerita, tapi gue yakin kalo keluarga lo gak baik-baik aja."
"Gue juga gak punya tempat pulang yang sesungguhnya, Seok."
"Gue gak pernah dipilih, gak pernah diinginkan, gak pernah tahu rasanya disayang. Lo pasti bertanya-tanya kenapa gue mau temenan sama lo, mau deket sama lo, karena gue rasa ya kita satu nasib. Lo nggak cerita, tapi sebagai orang yang gak pernah disayang—gue yakin kita orang yang lagi sama-sama nanggung luka."
Ada jeda diantara mereka, hingga kemudian terdengar suara isakan dari seberang Anton. Suara yang pilu bahkan tak pernah Anton sangka akan lebih pilu dari sebelumnya. Eunseok gagal menahan air matanya, lagi.
"Sayangnya aku gak sekuat kamu, Anton."
"Loh?" Anton menyerngit, ada rasa tak terima dalam dadanya.
"Aku lebih rapuh dari kamu, Anton."
Ada rasa marah yang terpendam, Anton ingin sekali memberitahu Eunseok segalanya. Bagaimana Anton harus menangis ketika sekolah. Bagaimana Anton juga ingin berhenti hidup karena keluarga sendiri tidak ada yang menyayangi.
"Lo kuat Seok, yakin sama gue. Gue yang bakal temenin lo sampai tua nanti."
"Emang aku bisa hidup sampai tua? Kalo besok aku gak ada gimana?"
Anton rasanya ingin menampar mulut Eunseok sekarang juga. "Lo bisa jalan bareng gue, entah jalannya sambil gue papah kek, gue gendong kek atau gimana. Pokoknya lo sama gue, sampai tua."
Eunseok terlihat tersenyum walaupun mata dan wajahnya terlihat bengkak. Anton sedikit lega bisa menghibur Eunseok. Anton ingin terus mendengar suara Eunseok, bukan hanya membaca tulisannya.
Hari masih terus berjalan, kehidupan Anton juga begitu-begitu saja. Namun yang paling Anton nanti adalah bertemu dengan Eunseok. Sekarang Anton mudah sekali rindu, ingin rasanya setiap hari mendengar suara Eunseok. Tak hanya dari layar kaca yang ada di genggamannya, namun mendengar secara langsung.
Hari sudah berganti menjadi sabtu, mereka berencana untuk pergi piknik hari itu. Menggelar tikar di atas rerumputan dan berbagi makanan dan mungkin juga kisah. Namun Anton yang sudah effort beli buah, bikin sandwich, bawa minuman bersoda, bawa smooties kesukaan Eunseok. Tapi Eunseok tak kunjung datang.
Eunseok tidak mengangkat telfon, tidak membaca pesan, bahkan pesannya hanya centang satu. Anton marah, marah pada diri sendiri karena ia tidak tahu mana rumah Eunseok. Ia hanya tahu kompleks perumahannya, tapi tidak tahu letak rumahnya.
Baru saja ingin melangkahkan kaki untuk pergi dari taman menuju rumah Eunseok dengan bertanya-tanya rumah RT atau siapapun yang bisa ditanya. Eunseok mengirimkan pesan pada Anton yang sudah berkeringat dingin menunggu kabar dari Eunseok.
Eunseok
"Anton, maaf ya gak bisa ikut piknik.
Aku baru gak enak badan, Anton."
Anton tanpa membalasnya langsung mencoba untuk menelfon, tapi di tolak. Mencoba untuk video call, tetapi tetap sama, ditolak.
Anton
"Angkat telfon gue, Seok."
Eunseok
"Nggak bisa Anton, nggak bisa."
Anton
"Angkat Seok, gue bisa bantuin lo."
Eunseok
"Percuma Anton, aku gak bisa denger kamu."
Lagi-lagi Anton harus dibuat berpikir keras. Namun sesaat kemudian, Eunseok mengirimkan foto bahwa alat bantu dengar miliknya yang rusak, patah, salah satu casingnya retak. Anton langsung terdiam begitu melihatnya.
Eunseok
"Aku beneran gak bisa
denger suara kamu kalau telfon."
Anton
"Itu kenapa?"
"Jawab Seok, jujur sama gue."
Eunseok
"Kakak aku yang lempar,
Anton. Kakak marah sama aku."
Anton
"Gue ke rumah lo sekarang
juga. Anjing banget kakak lo."
Eunseok
"Jangan Anton! Nanti kamu malah
dimarahin. Anton please jangan ke rumah."
Entah mengapa, apa yang Eunseok tuliskan dipesan makin membuat hati Anton tersakiti. Lebih sakit daripada melihat alat bantu dengar Eunseok yang telah rusak. Rasanya Anton benar-benar marah besar.
Ditengah kekacauan yang terjadi pada dirinya, Eunseok masih sempat memikirkan orang lain. Eunseok masih sempat khawatir kalau Anton kena marah oleh keluarganya. Padahal dirinya sendiri sedang terluka.
Namun Anton tidak berhenti begitu saja. Malam ia tetap datang ke perumahan Eunseok. Ia bertanya pada orang-orang, dan ketemulah sekarang. Semalaman suntuk Anton mengamati rumah yang dari luar nampak bahagia, namun entah bagaimana dalamnya.
Barulah sekitaran jam 4 pagi, Anton yang sengaja bermalam di pos ronda langsung terbangun begitu mendengar suara sirine ambulans yang tiba-tiba datang. Berhenti tepat di depan rumah Eunseok dan terlihat seorang petugas membopong seseorang dari dalam sana. Eunseok, Eunseoklah yang Anton lihat.
Bersamaan dengan perginya mobil ambulans pergi, satu mobil polisi datang dan segera masuk ke rumah Eunseok. Anton tidak fokus pada polisi, Anton fokus pada Eunseok. Jadilah Anton pergi menyusul kemana arah mobil ambulans tadi pergi.
Anton bahkan tidak sempat berpikir panjang. Ia hanya mengikuti dari belakang dengan motornya yang melaju di tengah suasana pagi buta. Beberapa kali lampu merah hampir membuatnya kehilangan jejak ambulans yang akhirnya berhenti di rumah sakit di umum.
Beberapa kali kepalanya berputar dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Bagaimana jadinya kalau Eunseok tidak sadar? Bagaimana kalau luka yang selama ini disembunyikan ternyata lebih parah dari yang Anton lihat selama ini?
Dan, bagaimana kalau pesan terakhir yang dikirim Eunseok tadi sebenarnya adalah permintaan tolong yang terlambat ia pahami?
Anton menggigit bibirnya sendiri sampai terasa nyeri. Berulangkali Anton merapalkan doa agar Eunseok baik-baik saja. Hanya Eunseok yang Anton punya saat ini. Anton bisa ikut mati hari ini jika Eunseok kenapa-napa.
Begitu sampai, Anton memarkir motor sembarangan dan langsung berlari masuk. Napasnya hampir habis karena berlari menuju UGD. Keringatnya membasahi kausnya dengan cepat. Langkahnya sempat terhenti begitu melihat Eunseok di dorong menggunakan ranjang pasien melewati koridor.
Orang tersebut benar-benar Eunseok, Wajahnya bahkan terlalu pucat. Setelah diteliti, ada luka sobek kecil di pelipis. Sudut bibir yang mulai pecah, salah satu lengannya terlihat lebam keunguan. Dan yang paling membuat dada Anton sesak adalah alat bantu dengar yang telah rusak ada di genggaman tangan Eunseok.
Untuk pertama kalinya Anton benar-benar melihat betapa rentannya Eunseok. Seolah selama ini laki-laki itu hanya berdiri karena memaksa dirinya sendiri untuk tetap berdiri.
"Eunseok!" Anton memanggil tanpa sadar. Tentu saja Eunseok tidak menoleh. Ia tidak sadar dan tidak bisa mendengar.
Petugas segera membawa Eunseok masuk ke ruang penanganan. Sedangkan Anton hanya bisa berdiri di luar. Merasa tidak berguna semenjak ia mengenal Eunseok.
Beberapa jam kemudian, matahari mulai muncul. Tadi Eunseok sudah dipindahkan ke ruang rawat inap setelah luka-lukanya ditangani. Dan Anton masih duduk di kursi tunggu tanpa makan dan tidur. Ia baru mengangkat kepala ketika seorang perempuan berpakaian perawat menghampirinya.
"Kak Anton ya?" Anton langsung berdiri.
"Iya."
"Kak Eunseok mencantumkan nomor Anda di kontak darurat ponselnya."
Bahkan Anton bisa langsung menangis di tempat saat itu juga. Ia bukan keluarga, bukan saudara, bukan juga kekasih Eunseok, tapi ia jadi orang nomor satu yang Eunseok hubungi bila Eunseok dalam keadaan bahaya.
"Tadi pasien sudah sadar sebentar."
"Terus Eunseok gimana ya sus?" Anton langsung menyambar omongan perawat tersebut. Perawat itu menghela napas pelan.
"Kondisinya sudah stabil kak." Anton baru bisa bernapas lagi.
"Tapi tubuhnya mengalami beberapa cedera akibat kekerasan fisik."
Kalimat itu membuat rahang Anton mengeras. Ia sudah tahu dari lama, namun mendengarnya secara langsung tetap berbeda rasanya
"Pasien sudah bisa di temui ya kak, tapi maaf kak sebelumnya, mungkin pakai bahasa isyarat atau tulisan dulu. Karena kak Eunseok tidak pakai alat bantu dengar."
Tidak harus menunggu Perawat tersebut membukakan pintu. Anton dengan mandiri membuka sendiri pintu ruangan tersebut. Saat pintu kamar dibuka, suasana di dalam sangat sunyi. Dan Anton melihat Eunseok sedang menatap jendela.
Tubuhnya tampak jauh lebih kecil dibanding biasanya. Tangannya sekarang dipasang selang infus. Pelipisnya yang tadi mengeluarkan darah sudah ada plesteran perban. Matanya kosong menatap ke depan. Sementara Anton, berdiri di ambang pintu untuk beberapa detik.
Dibanding marah, Anton lebih merasakan takut luar biasa. Sampai akhirnya Eunseok menoleh dan melihat Anton. Keduanya saling menatap dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Dalam hitungan detik, mata Eunseok memerah. Detik selanjutnya Eunseok menangis.
Anton berlari kecil, lalu mendekap Eunseok dengan lembut. Tidak ada pelukan yang erat, namun Anton pastikan pelukan itu tetap hangat untuk Eunseok. Kepala Eunseok terus ia usap dengan lembut, memberikan ketenangan untuknya walaupun hanya sesaat.
Anton melepaskan pelukannya sebentar, menarik kursi yang ada disana. Duduk menghadap Eunseok yang sekarang terlihat bingung dengan apa yang akan dilakukan Anton. Begitu posisinya sudah benar-benar menghadap Eunseok, tangannya kemudian terangkat dan membenyuk sebuah bahasa isyarat yang tak pernah Eunseok sangka akan Anton gunakan untuk berkomunikasi dengannya.
"Kamu jangan—"
"khawatir ya..."
"Kita masih bisa komunikasi—"
"walaupun begini."
Eunseok lalu menutup mulutnya sendiri, air matanya makin mengalir deras sekarang. Sebelumnya tak ada yang pernah se-effort ini untuknya. Apalagi, Eunseok kenal Anton baru berapa bulan. Eunseok bertemu anton baru hampir 2 bulan. Dan Anton sudah sebegitunya mengerahkan segalanya untuk belajar bahasa isyarat.
"Maaf ya, aku gak bisa denger kamu..." Eunseok tersedu-sedu sekarang.
"Aku bisa jadi suara buat kamu sekarang." Apa yang diungkapkan Anton membuat Eunseok tersenyum.
"Kamu gak bisa selamanya jadi suara buat aku, Anton." Eunseok mengusap air matanya. Namun kemudian tangan Eunseok digenggam Anton. Oh bukan! Bukan hanya digenggam, namun kini punggung tangannya dicium.
"Jangankan cuma jadi suara, jadi tangan, kaki, semuanya juga bisa buat lo, Seok." Anton tidak berisyarat, dimata Eunseok ia hanya bergumam. Ia menyerngit kebingungan karena tidak bisa mengerti apa yang Anton katakan.
"Aku nggak denger kamu ngomong apa, tapi aku mau ngomong sama kamu sesuatu." ucap Eunseok.
"Ngomong aja."
"Aku mau hidup sama kamu, boleh?"
"Boleh, besok aku beliin alat bantu dengar kamu dulu. Tapi kamu gak boleh nyerah sama hidup ya?"
Eunseok mengangguk.
"Kamu harus nemenin aku sampai tua ya?"
Eunseok mengangguk.
"Sebagai pasangan maksudku."
Kali ini Eunseok kebingungan, "Maksudnya?"
"Nikah sama aku, mau ya?"
Pertanyaan yang ini tidak ada dalam kalender Eunseok. Ia tidak pernah kepikiran hal ini akan terlintas di benak Anton. Eunseok pikir, mereka berdua hanya akan awet sebagai teman online saja. Eunseok pikir, Anton akan lebih memilih orang normal saja. Namun semuanya lagi-lagi hanya pikiran Eunseok saja.
"Mau nggak?" Tanya Anton terakhir.
Dan keputusan finalnya adalah anggukan kepala dari Eunseok. Yang mungkin juga akan merubah perjalanan mereka kedepannya. Entah itu hidup, entah itu takdir, entah itu segala bentuk keputusan mereka di masa yang akan datang.
"Jadi kamu bawa aku kabur dari orang tua aku ya?" tanya Eunseok.
"Aku rebut kamu dari mereka." Jawaban yang lagi-lagi tidak terduga, yang Eunseok lihat. Kalau Eunseok sudah bisa dengar, Eunseok ingin dengar sendiri Anton melamarnya. Bukan lewat isyarat, bukan lewat tulisan, Eunseok ingin dengar lewat suara.
"Aku sayang kamu, Anton."
"Aku lebih sayang kamu."
Anton bangkit dari duduknya, lalu mengecup bibir Eunseok singkat. Dan kembali memeluk tubuh Eunseok yang mungkin sedang sakit semua. Tangan Anton mengelus punggung Eunseok, membiarkan Eunseok tetap nyaman dalam pelukannya.
"Alasan aku tetap hidup biar terus temenan sama kamu Anton. Alasan aku selalu ngelawan mereka ya karena aku masih pengen lebih lama sama kamu. Alasannya—"
"Alasannya karena aku mulai jatuh cinta sama kamu."
Antom tersenyum mendengarnya, "Gue juga udah jatuh cinta sama lo dari pertama kali baca tulisan lo. Meskipun gue gak pernah tahu paras lo kayak gimana, suara lo kayak apa."
"Gue cinta sama lo, gue cinta sama segala hal yang ada di lo Seok."
Mungkin suatu saat Eunseok bisa mendengar ungkapan singkat Anton itu dengan jelas. Ungkapan yang tidak ada keraguan sedikitpun.
Setelah keluar dari rumah sakit, Eunseok tidak langsung pulang. Sebenarnya pihak rumah sakit sudah menghubungi keluarganya. Ibunya datang sekali. Kakaknya tidak datang sama sekali. Ayahnya datang hanya untuk mengurus administrasi lalu pergi tanpa banyak bicara.
Tidak ada pelukan dan tidak ada pertanyaan apakah Eunseok sakit. Padahal Eunseok sudah baik hati mencabut tuntutan kekerasan yang dilakukan kakak dan ayahnya. Namun tetap saja, tidak ada permintaan maaf yang sampai ke Eunseok.
Seolah-olah yang terbaring di ranjang rumah sakit selama seminggu itu bukan anggota keluarga mereka.
Malam sebelum jadwal pulangnya, Anton datang seperti biasa. Membawakan bubur dan buku yang ingin sekali Eunseok baca.
"Lo nggak harus pulang kalau nggak mau. Pulang ke gue aja ya?" Eunseok bahkan sampai lupa berkedip. Semuanya terlalu tiba-tiba untuk Eunseok yang sedang lahap memakan bubur ayam kesukaannya.
"Apa?"
"Gue bilang—" Anton menarik napas.
"Lo nggak harus balik ke tempat yang bikin lo takut."
Mata Eunseok langsung memanas, Anton benar-benar ingin membawanya pergi. Karena selama dua puluh tiga tahun hidupnya, tidak pernah ada yang memberi pilihan itu. Semua orang selalu menyuruhnya bertahan. Tapi bertahan pada tempat yang salah adalah keputusan yang salah.
"Aku nggak punya siapa-siapa, Ton." Kalimat itu terdengar seperti pengakuan. Seperti ketakutan yang paling besar.
Anton tersenyum kecil. "Lah terus gue apaan?"
"Lo punya hutang seumur hidup sama gue loh." Eunseok langsung bingung mendengarnya.
"Hutang apa coba?"
"Heiii, gue udah beliin ini ya!" ucap Anton sambil menunjuk alat bantu dengar yang sekarang Eunseok pakai.
"Ini hutang seumur hidup aku?" tanya Eunseok menggoda.
"Hutang yang harus dibayar dengan nikah sama gue." Eunseok langsung memerah mendengarnya.
"Gue sampe sewa kontrakan yang layak demi bisa hidup sama lo ya, jangan sampe lo kabur." Eunseok meletakkan buburnya di atas meja, lalu memeluk Anton dengan erat.
Itu bukan hutang seumur hidup, tapi itu keputusan yang Anton ambil agar kedua orang yang aslinya bernasib sama ini memiliki kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang benar-benar ingin mereka jalani bersama tanpa gangguan dari siapapun yang telah menyia-nyiakan mereka.
Dua minggu telah berlalu, dengan bantuan beberapa kenalan Anton dan seorang pekerja sosial yang membantu menghubungkan mereka ke layanan pendampingan, Eunseok akhirnya pindah ke tempat Anton.
Bukan sebuah apartemen mewah, bukan juga sebuah rumah besar. Hanya kontrakan kecil dua kamar yang cukup untuk mereka berbagi kasih sayang. Bangunannya kuat, atapnya aman dari kebocoran, dapurnya tidak cukup luas namun cukup untuk memasak tiap harinya.
Saat pertama kali membuka pintu rumah itu, Eunseok menangis lagi. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak takut pulang.
Awalnya hidup mereka berantakan. Anton masih harus kuliah sambil bekerja. Eunseok masih menjalani terapi dan proses menuju kestabilan mentalnya. Mereka sering kehabisan uang menjelang akhir bulan.
Pernah makan mi instan tiga hari berturut-turut. Pernah juga listrik bunyi karena habis dan tak kunjung diisi. Mereka pernah bertengkar karena hal-hal sepele.
Tapi tidak ada yang melempar barang. Tidak ada yang memukul. Tidak ada yang mengunci seseorang di luar rumah. Tidak ada yang membuat Eunseok gemetar setiap mendengar suara langkah kaki.
Dan ternyata itu sudah lebih dari cukup untuk Eunseok dan Anton.
Dan beberapa tahun kemudian, barulah Anton lulus. Lulus lebih lambat dari yang direncanakan, tapi tetap lulus. Sedangkan Eunseok mulai dikenal sebagai penulis. Awalnya hanya cerita-cerita kecil di twitter dan beberapa platform media sosial. Namun lalu menjadi antologi, lalu menjadi novel, lalu semakin banyak orang yang menyukai tulisannya.
Suatu sore, ketika hujan turun pelan di teras rumah kontrakan mereka yang sekarang sudah jauh lebih layak, atau bisa dibilang apartemen, Anton menemukan Eunseok sedang menulis sesuatu.
"Lagi apa sayang?" Anton memeluk Eunseok dari belakang. Menghidu aroma sabun bayi di leher Eunseok dan menciumnya sebentar.
"Baru nulis lohh, jangan ganggu dulu." ucap Eunseok.
"Pasti cerita sedih lagi." tebak Anton. Sementara Eunseok hanya tersenyum mendengarnya.
"Suaminya pulang, cium dulu dong."
Baru saja hendak menengok ke belakang, Anton sudah langsung menempelkan bibirnya ke bibir Eunseok. Singkat, namun penuh cinta yang dalam. Eunseok sampai memerah setelahnya.
"Kamu lanjutin aja sayang, aku bikinin teh." Eunseok mengangguk saja. Sekarang ia bersyukur atas apa yang ia punya. Ia bersyukur atas pertemuan dan perkenalan tak terduga dengan Anton. Ia bersyukur atas apa yang selama ini terjadi di hidupnya.
Senyum yang kali ini Eunseok sunggingkan benar-benar penuh arti. Karena tidak ada lagi memar yang harus disembunyikan. Tidak ada lagi ketakutan yang menunggu di rumah. Tidak ada lagi pertanyaan apakah dirinya layak dicintai.
"Makasih udah nyari aku waktu itu."
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, ia sadar satu hal. Rumah ternyata bukan tempat. Rumah adalah seseorang yang membuatmu merasa aman untuk tinggal. Dan tanpa Eunseok sadari, sejak lama Anton sudah menjadi rumah itu.
