Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-09-06
Words:
4,362
Chapters:
1/1
Comments:
24
Kudos:
69
Bookmarks:
4
Hits:
449

Into You

Summary:

Tujuh menit di lemari sempit. Apa susahnya, kan?
Susah, kalau kamu adalah Edwards yang harus berdesakan di ruang minim oksigen bersama Juhoon – kakak tingkatnya yang diam-diam kamu taksir sejak masa orientation week. Terjebak berdua dalam gelap, mampukah Edwards bertahan agar jantungnya tidak meledak, atau ini saatnya ia berhenti menjadi pecundang?

 

Content Warning: Fic ini mengandung adegan panjang yang berlatar di dalam ruang sempit dan tertutup, serta dalam kondisi gelap. Untuk teman-teman yang punya klaustrofobia atau sensitif terhadap deskripsi ruang sempit dan gelap, be careful ya atau jangan dibaca deh, please T_T

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:




Angin musim gugur berhembus menembus celah gedung-gedung batu bata Southbank sore itu, membawa serta hawa dingin khas pertengahan bulan Mei yang mulai turun suhunya lebih dingin. Dedaunan yang meranggas telah berubah warna menjadi perpaduan terakota dan emas, berputar-putar tersapu angin di sepanjang Sturt Street.

 

Di pelataran parkir Ian Potter Southbank Centre yang jauh dari hiruk pikuk kampus utama, sebuah SUV hitam terparkir dengan mesin menyala. Di dalamnya, formasi awal perjalanan liburan akhir pekan yang sudah direncanakan matang-matang itu sedang dirombak paksa.

 

 

“Sumpah, I’m going to crash into a truck kalo maksa nyetir sampe Daylesford sekarang,” James mengerang dramatis sambil memijat pelipisnya. Mahasiswa tahun ketiga itu baru saja selesai melakukan all-nighter tiga hari berturut-turut demi mengejar tenggat waktu tugas esainya. “Lo aja yang bawa, Ed. My brain is completely fried.”

 

Edwards merengut, matanya membelalak tidak suka mendengar ide dari teman sepermainannya ini. “Gila lo. Gue baru first year ya. Jalanan CBD aja gue belom hafal, ini disuruh nyetir ke Daylesford?”

 

“Ada teknologi mutakhir yang baru aja ditemuin umat manusia, namanya Maps. Kapan-kapan lo coba deh,” sahut James datar, lalu membuka pintu mobil untuk pindah duduk ke seat tengah bersama Keonho dan Seonghyeon.

 

 

 

Dari kursi belakang, Keonho dan Seonghyon kompak meredam tawa. Keonho sengaja batuk kecil, menutupi senyum jahilnya. “Udah, turutin aja kenapa sih, Ed. It’s a safety hazard kalo Kak James yang nyetir. Lo mau kita masuk jurang di Calder Freeway sebelum nyampe airbnb?”

 

 

Seonhyeon menepuk bahu Edwards dari belakang dengan nada yang dibuat sebijak mungkin. “Just drive, man. Ntar gue bantuin bacain maps-nya. Udah buruan pindah duduknya, bentar lagi Kak Juhoon kelar studio practice-nya tuh.”

 

 

 

Mendengar satu nama itu, Edwards nyalinya langsung menciut. Ia menatap kursi kemudi lalu menatap kursi penumpang yang ia duduki sekarang.. yang sebentar lagi kosong. Sengaja dikosongkan oleh teman-temannya.

 

Telinga Edwards perlahan memanas. Ah, ia tahu persis taktik macam apa ini. Keonho dan Seonghyeon – dua sahabatnya sejak mereka duduk di sekolah dasar di Jakarta—sangat tahu kalau Edwards tidak pernah berani berduaan dengan Juhoon, apalagi berdampingan sejengkal di kursi depan. Sebagai mahasiswa first year yang masih luntang-lantung bimbang ingin mengambil fokus major Creative Writing atau Media and Communications, Edwards selalu merasa ciut dan inferior jika dihadapkan dengan Juhoon. Dan James? Sepupu Juhoon itu adalah satu-satunya orang di dunia yang tahu rahasia terbesar Juhoon, dan sepertinya ia sengaja melibatkan diri di scenario buatan Seonghyeon.

 

 

Tepat saat Edwards menghela napas pasrah dan memindahkan tubuhnya ke balik setir kanan, pintu kaca lobi gedung konservatorium terbuka.

 

 

Sore itu, Juhoon berjalan keluar menembus angin dingin Melbourne yang menusuk. Ia mengenakan sweter rajut oversized berwarna tosca dan celana jeans hitam yang begitu pas di kakinya. Syal kasmir warna abu-abus melilit lehernya longgar. Tangan kirinya memeluk tote bag kanvas berisi partiture-partitur Chopin dan Debussy – materi untuk recital pianonya minggu depan. Angin meniup rambut hitamnya yang sedikit panjang hingga menutupi mata. Ia menyibaknya pelan ke belakang telinga. Dan ... sepersekian detik, Edwards yang dari tadi melihat Juhoon ... lupa cara berkedip dan bernapas.

 

 

Edwards selalu berpikir kalau Juhoon jelas berada di ‘level’ yang berbeda dengannya. Juhoon yang satu tahun lebih tua darinya itu sangatlah tenang, tidak terlalu banyak bicara, bicaranya selalu teratur, dan yang paling krusial – Juhoon itu terlalu cantik untuk ukuran laki-laki. Bahkan saat mereka berlima sedang duduk makan siang santai di taman depan library, Juhoon selalu terlihat seperti pangeran di mata Edwards.

 

 

Pintu penumpang depan ditarik terbuka tanpa ragu. Sesuai kesepatakan di grup chat mereka minggu lalu, kursi di sebelah kemudi memang jatah Juhoon. Rencananya James yang akan menyetir dan Juhoon bertugas menjadi ‘co-pilot’ mengarahkan maps agar sepupunya itu tidak salah jalan.

 

Aroma vanilla langsung memenuhi ruang mobil yang hangat, memotong lamunan Edwards.

 

“Loh?” Juhoon mengerjap pelan, tangannya yang masih bertengger di handle pintu mobil mendadak kaku. Mata bulatnya menatap Edwards yang kini duduk tegang di kursi pengemudi, dengan kedua tangan mencengkeram setir seolah sedang bersiap mengemudikan mobil balap F1. Seingat Juhoon, formasi aslinya mengharuskan Edwards duduk manis di baris tengah. “Where’s Jamie?” tanyanya.

 

Suara Juhoon lembut, sedikit serak mungkin karena kelelahan setelah berjam-jam berkutat dengan tuts piano.

 

“Di belakang,” Edwards berdeham, buru-buru menetralkan suaranya yang nyaris melengking. “Kecapekan katanya abis nugas. So .. I’ll be driving.”

 

Juhoon menoleh ke baris tengah. Ia mendapati sepupunya kini sudah memejamkan mata sambil memeluk bantal leher erat-erat. Di sebelahnya Keonho dan Seonghyeon mendadak sibuk merapatkan jaket sambil pura-pura mendengarkan musik lewat earphone. Juhoon kembali menghadap depan, membuang napas pelan merespons pergantian rencana dadakan ini, lalu tersenyum kecil. Senyum manis yang membuat sudut mata kirinya sedikit berkerut.

 

“Oh, okay. Sorry for the hassle ya, Ed,” kata Juhoon sambil merosot masuk ke kursi penumpang dan menutup pintu. Ia menarik sabuk pengaman melintasi dadanya. Saat bunyi klik terdengar, punggung tangan Juhoon tak sengaja menyerempet lengan kemeja flanel Edwards yang menegang di atas tuas persneling.

 

Edwards buru-buru menarik tangannya sedikit. “N-nggak apa-apa, Kak! All good. Daylesford doang, deket, Kak ...”

 

 

Begitu mobil mulai melaju meninggalkan kawasan Arts Precinct, melewati jembatan Sungai Yarra dan membaur dengan barisan mobil di tol CityLink, Edwards merutuki dirinya sendiri. Daylesford doang, deket, Kak .. padahal butuh setidaknya satu setengah jam perjalanan untuk sampai ke sana!

 

 

Di baris kursi penumpang belakang, tidak butuh waktu lama sampai rencana ketiga orang itu benar-benar dieksekusi. Dengkuran halus James mulai terdengar, yang Juhoon yakini seratus persen dipalsukan, sementara Keonho dan Seonghyeon sepertinya benar-benar terlelap akibat jadwal kuliah padat seharian.

 

 

“Studio practice-nya ... lancar, Kak?” tanya Edwards akhirnya membuka suara setelah hampir tiga puluh menit keheningan yang menyiksa perutnya. Ia tidak menoleh, matanya terpaku fokus pada aspal freeway di depan.

 

“Lancar kok. Dosen performance gue literally a perfectionist, jadi agak lama tadi selesainya,” sahut Juhoon sambil menyandarkan bahunya lebih nyaman ke sandaran kursi.

 

“Tapi pasti bagus deh recital lo minggu depan,” balas Edwards cepat. Terlalu cepat, malah. Ujung telinganya mendadak terasa hangat menyadari betapa antusiasnya nada suaranya barusan.

 

Mendengar itu, Juhoon menoleh ke arah kursi kemudi. Terdengar kekehan renyah yang mengalun halus memenuhi kabin mobil. “Tau dari mana bakal bagus? Emang lo pernah liat gue main piano?” kata Juhoon.

 

Genggaman Edwards pada setir mengerat, pandangannya lurus ke depan seperti orang yang sedang diinterogasi. “Pernah, Kak.”

 

Senyum di bibir Juhoon menghilang samar, digantikan oleh kerutan sama di keningnya. “Kapan? Perasaan, kalian kecuali Jamie, nggak pernah mampir ke ruang latian gue deh.”

 

 

“Waktu Orientation Week kemarin,” jawab Edwards, suaranya sedikit memelan. “Kan ada welcome session buat new students Faculty of Arts. Lo ngisi performance waktu itu, kan Kak?” Edwards mulai memberanikan diri mencuri pandang sekilas ke arah Juhoon sebelum kembali fokus ke jalan. “Keren banget, Kak. Lo main Liebestraum No. 3 kan waktu itu? Punya Liszt?”

 

 

Juhoon sedikit terkejut... Ia ingat betul hari itu. Ia sangat gugup waktu itu sampai tangannya dingin membeku seusai perform. Tapi fakta bahwa Edwards ada di sana – di antara ratusan mahasiswa baru yang biasanya sibuk mengobrol mencari teman – dan bahkan ia hafal judul melodi klasik yang ia mainkan ..? Ia harus apa dengan informasi ini?

 

“Lo .. inget judulnya?” cicit Juhoon tak percaya. Tangannya perlahan turun ke pangkuan, meremas ujung rajutan sweaternya dengan gelisah.

 

“Ingetlah, Kak. Jujur aja, that was the highlight of my O-Week, Kak,” aku Edwards. Ia menghela napas panjang, memutuskan untuk sekalian terjun bebas sebelum sisa keberaniannya menguap habis. “Lagian, itu bukan terakhir kalinya gue liat lo main piano.”

 

Juhoon menahan napas. “What do you mean??”

 

“Di Arts West,” gumam Edwards. Wajahnya kini semerah saos tomat dan ia sangat bersyukur cahaya di dalam kabin SUV kini cukup temaram. “Di level 2, yang ada pianonya. Kalo hari Selasa sama Kamis, pas gue lagi break nunggu kelas tutor, lo sering ke sana terus mainin piano di sana kan? Gue ... ekhem .. ya, gue sering duduk di kursi paling ujung itu kak,” ungkap Edwards. Dengerin lo main piano. Sambil ngeliatin lo dari jauh, cantik banget, Kak..batinnya meneruskan.

 

 

Juhoon lagi-lagi tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Pipinya menghangat dan rasanya perut Juhoon dipenuhi ribuan kupu-kupu yang berterbangan brutal menabrak tulang rusuknya.

 

“Thanks ..?” Juhoon bergumam pelan, memecah hening yang sempat menggantung. Ujung jarinya masih bermain gugup memuntir rumbai syalnya sendiri. Ia menoleh sedikit, menapat wajah Edwards. “Tapi .. kenapa nggak nyamperin aja sih, Edwards?”

 

Ouch! Jakun Edwars naik-turun menelan ludahnya kasar. Skenario di kepalanya tidak pernah sejauh ini. Mengakui kalau ia sering mengamati Juhoon diam-diam dari ujung ruangan saja rasanya sudah menghabiskan seluruh kuota keberaniannya tahun ini. Ditanya kenapa tidak menghampiri? Ya, otak Edwards mendadak error.

 

“EH—” Edwards tiba-tiba memajukan wajahnya ke arah kaca depan, mendadak berlagak sangat fokus menyipitkan mara ke arah kegelapan jalan Calder Freeway. “Itu .. Kak, sorry, ini bener nggak sih kita belok di exit depan? Atau masih depannya lagi, ya? Tolong liatin maps dong, Kak. Layar dashboard-nya agak nge-glitch deh kayaknya di mata gue.”

 

Ah, dasar Edwards. Manuver pengalihan isu yang luar biasa payah!

 

 

 

Juhoon menangkap dengan sangat jelas nada panik yang terselip di kalimat juniornya itu. Ia membiarkan pertanyaan menggantungnya tadi menguap begitu saja.

 

“Masih depannya lagi, Ed,” jawab Juhoon lembut, setelah mengecek navigasi di maps. “Sekitar dua kilometer lagi baru ambil kiri ke arah Woodend ya.”

 

“Oh. Okay! Got it,” balas Edwards cepat, malah lebih terdengar seperti robot. Pandangannya menolak meilirik sedikit pun ke arah kursi penumpang kiri, seolah takut menoleh ke sana akan membuatnya seketika berubah menjadi batu.

 

 

Juhoon kembali bersandar nyaman dan santai. Ia memalingkan wajah ke jendela, diam-diam menggigit bagian dalam pipinya karena gemas luar biasa melihat betapa kakunya postur menyetir Edwards saat ini. Belum lagi, ia sempat melihat ujung telinga Edwards yang merah padam, kontras dengan warna kulitnya.

 

 

 

Sementara itu, di baris belakang .. sebuah teater bisu dengan genre komedi slapstick sedang berlangsung sengit. Kaki James menyenggol tulang kering Keonho. Keonho meringis (sebisa mungkin) tanpa menimbulkan suara, wajahnya mengkerut menahan sakit, lalu membalas dengan injakan pelan di ujung sneakers James. Seonghyeon yang sejak tadi menutupi separuh wajahnya dengan hoodie, kini menggigit tali hoodie-nya kuat-kuat untuk meredam pekikan tawa. Tiga manusia yang katanya terlalu lelah untuk menyetir itu sekarang sibuk saling menyenggol paha dan menendang pelan satu sama lain. Mereka bertiga mati-matian menahan cringe sekaligus gemas dengan percakapan canggung antara Edwards dan Juhoon.  

 

 

 

**

 

 

 

Kayu pinus yang terbakar di dalam perapian berderak pelan, menebarkan hawa hangat ke seluruh penjuru ruang tengah airbnb bergaya rustic itu. Sisa piring kotor bekas makan malam sudah dicuci bersih, dan kelima pemuda itu kini duduk melingkar di atas karpet tebal dengan pakaian tidur masing-masing. Di tengah lingkaran mereka, sebuah botol wine kosong yang sudah dibilas diletakkan secara horizontal oleh Seonghyeon.

 

 

“Okay.. karena Truth or Dare udah terlalu basi buat weekend getaway kita, dan otak kita semua udah terlalu capek buat main UNO, so .. we are playing a classic,” Seongheyon mengumumkan dengan senyum penuh makna terselubung sambil menepuk-nepuk karpet. “... seven minutes in heaven.”

 

Seonghyeon mengetuk leher botol wine kosong itu dengan telunjuk, terdengar sangat antusias seperti promotor tinju. “Botol ini gue putar dua kali. Siapapun yang ditunjuk, kalian berdua harus masuk ke lemari walk-in di main bedroom selama tujuh menit. Ngapain saja di dalam sana? Bebas. Mau ngobrol, tebak-tebakan, debat, adu panco atau apa aja...atau ..mau pelukan? Terserah ya. Bodo amat, bukan urusan gue.”

 

Detik berikutnya senyum usil di wajah Seonghyeon memudar, menjadi raut wajah lebih serius. “Tapi inget aturannya, harus sama-sama consent,” lanjutnya menekan setiap suku kata. “Nggak peduli di dalem lagi sedeket apa, kalo ada yang maksa atau tiba-tiba gerak-geriknya bikin nggak nyaman, bisa langsung teriak ‘STOP’ sekenceng-kencengnya. Deal?”

 

 

 

“Lemari baju? Lo gila, ya? Kita udah bukan bocah SMP ya, nggak muat gue masuk lemari. Sempit banget!” protes Edwards. Kaki panjangnya yang sejak tadi selonjoran kini terlipat kaku. Postur tubuhnya yang menjulang tinggi juga langsung menegak, menolak keras ide Seonghyeon. Jangankan berdesakan berdua, masuk sendirian pun Edwards yakin rambutnya pasti sudah bergesekan dengan papak rak atas.

 

“Ya itu justru poin utamanya, Ed,” sahut Keonho tak acuh, sambil mengunyah kacang almond. “Udah sih, nggak usah banyak protes. Lo kan anak Arts, harusnya lo lebih bisa appreciate the aesthetic of small, confined spaces.”

 

 

“Santai aja kali. Belum tentu juga ujung botolnya nunjuk ke lo, Ed,” celetuk James, “kecuali .. lo emang niat mau volunteer ngajuin diri dari sekarang? Ya nggak apa-apa juga sih kalo sudah se-PENGEN itu.”

 

Aduh, ini sih tiga lawan satu. Edwards jelas kalah suara. Pemuda jangkung itu hanya mendengus kasar, kesal.

 

Sementara itu di seberang lingkaran, Juhoon memilih diam saja, merapatkan pelukannya pada kedua lutut. Ia baru saja bergabung setelah mandi, menyisakan jejak aroma segar shampoo apel yang menguar lembut dari helaian rambutnya yang masih setengah lembab. Balutan kaus lengan panjang putih dan celana training abu-abu mungkin membuatnya tampak lebih santai, namun..kelopak mata Juhoo berkedip sedikit terlalu cepat ketika tangan Seonghyon mulaui memutar botol kaca itu di tengah-tengah mereka.

 

 

Terdengar bunyi gesekan kaca yang beradu dengan karpet tebal. Botol itu berputar cepat, menyebarkan rasa was-was ke setiap pasang mata.

 

Putarannya perlahan melambat. Ujung leher botol itu melewati lutut Keonho, bergeser pelan melewati ujung kaki James yang menahan napas, sebelum akhirnya kehabisa momentum dan berhenti.

 

“AH!”

“Mampus lo, Ed!” seru James dan Seonghyeon.

 

Mulut botol itu menunjuk lurus. Tepat ke arah lutut Edwards.

 

Disusul tawa seru dari tiga orang teman-temannya. “Siap-siap, big guy. Kita liat siapa jodoh lo malam ini,” goda Seonghyeon. Tangannya kembali memuttar botol itu untuk kedua kalinya.

 

Kali ini, putarannya tidak terlalu lama. Botol itu melambat, bergerser ke arah Seonghyeon, melewati Keonho dan .. berhenti tepat mengarah ke Juhoon.

 

“Oh my GOD!”

“YES!”

James dan Keonho saling bersorak.

 

Juhoon meresakan suhu di pipinya melonjak naik. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Duh, ditambah jantungnya yang mendadak berdetak brutal. Tapi, ia masih berusaha keras mempertahankan ekspresi tenangnya. Ia menatap Edwards, yang saat ini lebih mirip dengan rusa yang tertangkap lampu sorot mobil.  

 

 

 

“Buruan masuk,” usir James. Ia berdiri lalu menarik lengan Juhoon pelan. Keonho dan Seonghyeon ikut bangkit dari karpet, lalu menggiring Edwards dan Juhon seperti tahanan yang akan dieksekusi saja.

 

“Awas ya lo berdua kabur,” ancam Seonghyeon sambil memegang kenop pintu main bedroom, mengawal mereka berdua sampai benar-benar berhenti di depan pintu lemari walk-in. “Kita make sure kalian berdua masuk.”

 

 

Dengan langkah kaki yang terasa seperti menginjak jelly, Edwards berjalan mengekor Juhoon yang sejak tadi masih belum bersuara. Lemari pakaian built-in itu memang cukup dalam, namun tetap saja ya itu didesain untuk menyimpan pakaian bukan untuk menampung dua pemuda. Apalagi, salah satunya nyaris setinggi pintu.

 

Juhoon melangkah masuk lebih dulu. Begitu Edwards menyusul dan menarik kakinya ke dalam, ketiga temannya di luar pintu makin kuat menahan tawa.

 

“Tujuh menit, dimulai dari sekarang!” seru Seonghyeon.

 

 

Klik. Terdengar pintu ditutup dan dikunci dari luar, disusul tawa membahana dari ketiga algojo itu yang perlahan menjauh kembali ke ruang tengah.

 

 

 

***

 

 

Gelap gulita. Aroma kapur barus, kayu, dan wangi apel dari rambut Juhoon langsung menyergap indra penciuman Edwards. Ruangannya sangat sempit. Edwards bahkan tidak bisa berdiri tegak. Ia harus menundukkan kepalanya agar tidak menabrak papan rak di atasnya, membuat bahunya melengkung tidak nyaman ke depan.

 

Saking sempitnya, dada Edwards nyaris bersentuhan dengan wajah Juhoon yang berdiri tepat di hadapannya.

 

“Aduh,” rintih Edwards pelan, suata pantulan kayu terdengar berbunyi ‘duk’.

 

“Awas kepala lo, Ed,” bisik Juhoon spontan, sedikit khawatir.

 

“Nggak apa-apa, Kak,” balas Edwards sambil cengegesan, “gue cuma .. nyundul rak, hehe.” Edwards harus menekan dagunya ke dada agar kepalanya muat.

 

 

Satu menit pertama berlalu dalam keheningan. Hanya ada suara hembusan napas mereka yang tertahan, gesekan kain pakaian setiap kali mereka mencoba bergeser untuk mencari posisi yang tidak terlalu menyiksa.

 

 

“Kak?” panggil Edwards, diiringi dehaman kecil di ujung panggilannya untuk mengusir rasa canggung.

 

“Hm?” sahut Juhoon dari balik kegelapan.


“Kak, menurut lo...” Edwards menjeda kalimatnya. “...tujuh menit tuh sebentar atau lama?” tanyanya sambil meraba-raba dinding kayu di belakang Juhoon, menopang berat badanya ke sana agar tubuhnya tidak benar-benar menimpa kakak tingkatnya itu.


“Tergantung.. buat apa,” jawab Juhoon dengan nada mengalun pelan, tenang. Saat berbicara, ia sedikit mendongak, membiarkan embusan napasnya secara tak sengaja menyapu rahang Edwards di atasnya.

 

“Gitu ya, Kak ..” gumam Edwards. Kepalanya menunduk semakin dalam, jarak mereka begitu tipis hingga ujung hidung Edwards nyaris menyetuh helaian rambut Juhoon.

 

Fuck lah, anjir emang akal-akalan si Seonghyeon ini, rutuk Edwards merana dalam hati, meratapi nasibnya sekarang. Mana Kak Juhoon wanginya manis banget lagi, wangi apel begini. Pura-pura pingsan aja kali ya gue sekarang.

 

 

“Ed?” panggil Juhoon tiba-tiba.

 

Tubuh jangkung di hadapan Juhoon itu berjengit pelan. “Eh—ya, Kak?” sahut Edwards gelagapan.

 

Di dalam gulita, Juhoon diam-diam menahan senyum jahil yang mulai mengembang. “Jantung lo,” bisik Juhoon sengaja memelankan suaranya. “..kedengeran kencang banget, Ed.”

 

“Hah? N-nggak kok.” Edwards terkejut dan reflesk menahan napasnya dalam-dalam. “Masa sih, Kak?” Ia memaksakan untuk tertawa gugup, tapi suaranya malah terdengar aneh, sumbang.

 

 

“Iya kedengeran, tau,” Juhoon terkekeh pelan. Sisa-sisa akal sehatnya mungkin sudah sengaja ia tinggalkan di ruang tengah, karena alih-alih menjaga jarak aman, Juhoon justru memgambil satu langkah berani.

 

Di tengah kegelapan yang melucuti semua batasan mereka, Juhoon mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia menyandarkan sisi kepalanya, benar-benar menempelkan daun telinganya tepat di atas dada kiri Edwards.

 

Dug-dug. Dug-dug. Dug-dug. Dug-dug.

 

“Tuh kan, berisik banget. Jelas banget lagi dari sini,” goda Juhoon, sengaja tidak menarik kepalanya menjauh, malah membiarkan helaian rambutnya bergesekan dengan dagu Edwards. “Kayak orang lagi lari maraton.”

 

Edwards membeku sekeras patung lilin. Kakak tingkat yang diam-diam ia puja selama ini – yang wanginya perpaduan shampoo apel dan sesuatu yang luar biasa manis—kini sedang bersandar di dadanya, mendengarkan langsung bukti nyata dari rasa gugupnya.

 

Aduh, mati aja lah gue sekarang, ratap Edwards dalam hati. Gue beneran nggak kuat ini lama-lama begini.

 

 

“Kak ..” panggil Edwards lagi, kali ini suaranya terdengar lebih pasrah.

 

“Hm?” Juhoon menyahut. Ia perlahan mengembalikan postur tubuhnya, menjauhkan telinganya dari dada Edwards.

 

“Fuck it lah,” gerutu Edwards lirih pada dirinya sendiri. “Gue nyerah deh, Kak,” ucapnya sambil mengacak rambut belakangnya sendiri dengann frustasi.

 

“Nyerah kenapa? Mau keluar aja sekarang?” tanya Juhoon, kepalanya mendongak sedikit mencoba mencari mata Edwards.

 

“Bukan. Gue nyerah sama lo, Kak. Udah nggak kuat gue, capek Kak.”

 

“Apa sih? Capek kenapa? Lo sakit, Ed?”

 

“Jantung gue yang capek, Kak,” erang Edwards. “Capek soalnya selalu deg-degan tiap papasan sama lo, tiap lo manggil nama gue. Capek nahan napas tiap kali merhatiin lo ketawa pas kita bareng-bareng lunch di lawn. Lo nggak tahu kan kak seberapa sering gue curi-curi pandang ke arah lo selama ini?”

 

 

Juhoon jelas tidak siap mendengar pengakuan terlalu jujur ini. Jari-jarinya tanpa sadar meremas ujung lengan kausnya sendiri dengan kuat.

 

“Gue merhatiin lo terus, Kak. Diem-diem. Tiap hari. Maaf kalo bikin lo risih, Kak.” Edwards terus meracau dengan kecepatan bicara meningkat drastis seiring dengan telinganya yang kini terasa sepanas oven.

 

“Dan .. lo ..lo cantik banget, Kak. Tiap liat lo, otak gue jadi error, makanya gue mending pura-pura main HP daripada ketauan salah tingkah di depan lo, Kak ...”

 

Menyadari apa yang baru saja meluncur dari mulutnya, Edwards refleks mengerang. “Argh. Aduh. Sumpah, cringe banget gue. Maaf banget, Kak. Lo boleh ketawain gue, atau lo boleh suruh gue diem sekarang juga. Otak gue beneran udah error kak, nggak tau, kak...”

 

 

 

Juhoon justru merasa wajahnya terbakar sempurna hingga ke belakang leher. Ia tidak bisa menahan rasa salah tingkah dan gemas yang bertumpuk jadi satu. Ia mengangkat satu lengannya menutupi separuh wajahnya yang merona, berusaha menyembunyikan senyum lebarnya meski ia tahu Edwars tidak bisa melihatnya di dalam gelap.

 

 

“Ed ...”

 

“Ya, Kak? Mau minta gue berhenti ngomong, kan? Tolong iyain aja, gue udah malu banget ini.”

 

Juhoon menggeleng pelan. Ia menurunkan tangannya dari wajahnya, lalu dengan keberanian yang juga entah datang dari mana, jari-jari tangan kanan Juhoon mencari-cari satu telapak tangan Edwards untuk digenggamnnya.

 

 

“Enggak,” bisik Juhoon. Ujung bibirnya tertarik maksimal membentuk senyuman paling manis malam itu. Untung saja Edwards tidak melihatnya, bisa-bisa si mahasiswa baru itu pingsan di tempat. “Terusin,” lanjutnya berjeda. “...terusin aja ngomongnya. Jantung gue juga belum mau berhenti deg-degan daritadi, Ed..”

 

 

Edwards jelas tidak bereskpektasi Juhoon akan mengeluarkan kalimat ambigu seperti barusan. Namun, jika ia diizinkan untuk sedikit saja berbesar kepala malam ini, kalimat Juhoon tadi adalah lampu hijau untuknya. Tangannya yang menaut jemari Juhoon mengerat.

 

 

 

“Kak, gue ..eum. Gue boleh deketin lo, Kak? Maksudnya ..deketin secara ..romantically? Boleh ...nggak?”

 

Aduh, Edwards sopan sekali, pikir Juhoon.

 

Mendengar permintaan izin yang terbata-bata dan luar biasa sopan itu, Juhoon merapatkan bibirnya kuat-kuat. Di tengah debaran jantung mereka yang saling bersahutan liar dari balik pakaian, Juhoon mengangguk kecil. “Boleh ...” bisiknya malu-malu.

 

 

Tangan kiri Edwards yang sedari tadi menganggur kini terangkat ragu. Ia meraba udara sejenak, membiarkan punggung jarinya menyentuh helaian rambut Juhoon, sebelum akhirnya telapak tangan besar itu mendarat dengan hati-hati di sisi wajah kakak tingkatnya.

 

 

“Kalo ..ini?” bisik Edwards, dengan ibu jarinya bergerak pelan, menekan dan mengusap garis rahang Juhoon dengan lembut, sukses membuat perut Juhoon seperti diaduk-aduk. “..ini boleh cium nggak, Kak?”

 

 

Okay, ralat. Nampaknya Edwards tidak sesopan itu. Tentu saja Juhoon meralat sendiri pikirannya dalam hati.

 

Juhoon menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya memberanikan diri mendongak menatap siluet wajah Edwards.

 

“Boleh.”

 

 

 

Begitu mendapatkan izin, Edwards memiringkan wajahnya. Ia menunduk lebih dalam lagi, dan mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi kanan Juhoon. Benar-benar hanya sebuah kecupan kecil dan hangat. Namun, efeknya menjalar ke seluruh saraf di tubuh Juhoon.

 

Perlahan, bibir Edwards berpindah. Ia mengecup pelan garis rahang Juhoon, lalu bergerak naik pelan dan berhenti di sudut bibir kiri Juhoon. Jika saja Juhoon tidak memegang erat sebelah tangan Edwards, Juhoon sangat yakin ia sudah merosot ke lantai lemari.

 

Sekarang jelas bukan hanya jantung Edwards yang berpacu gila-gilaan, Juhoon pun ikut terbawa suasana. Terbawa euphoria dan sensasi berdebar, Juhoon memberanikan diri. Ia memiringkan kepalanya sedikit, mendongak untuk mencari belahan bibir Edwards. Ia membuka sedikit bibirnya, bersiap memberikan akses penuh. Ujung lidahnya bahkan sudah menyapu pelan bibir bawahnya sendiri, menunggu ciuman Edwards untuk meraupnya.

 

Namun, bukannya meraup bibir yang sudah setengah terbuka itu seperti yang Juhoon perkirakan, pergerakan Edwards justru terhenti. Jarak mereka kini benar-benar hanya tersisa sekian milimeter. Begitu dekat, sampai Juhoon bisa merasakan ritme embusan napas Edwards yang memburu, menyapu hangat permukaan bibirnya dan berbaur dengan napasnya sendiri.

 

 

“Ed ...?” bisik Juhoon bingung.

 

Tanpa sadar, Juhoon memajukan tubuhnya. Dadanya kini bersentuhan penuh dengan tubuh Edwards. Tangan Juhoon yang tadinya hanya bertumpu canggung, kini merambat naik, jemarinya mencengkeram kerah baju Edwards dengan putus asa, menahan tubuh jangkung itu agar tidak mundur  seinci pun.

 

“Gue ..nggak bisa, Kak,” kata Edwards.

 

Juhoon mengerjap lambat, otaknya kesulitan memproses rentetan kejadian ini. “What do you mean??!!”

 

“I’m not going to be a jerk. I’m not letting our first kiss happen in some stranger’s closet just because of a stupid game,” bisik Edwards pelan, mematikan. Telapak tangannya yang menahan tengkuk Juhoon justru bergerak mengusap lembut. “You deserve way better than this, Kak.”

 

Setelahnya, ibu jari Edwards beralih turun. Jarinya menekan lembut bibir bawah Juhoon yang sudah terlanjur terbuka. Edwards terus mengusap belahan bibir bawah Juhoon, menghafal teksturnya dan setiap lekukannya. Dikecupnya sudut kiri bibir Juhoon dan menahan bibirnya di sana sedikit lebih lama.

 

“Sabtu depan,” bisik Edwards tepat di depan bibir Juhoon. Ia memiringkan wajahnya dan mendaratkan satu kecupan yang sangat lama di sudut kanan bibir Juhoon. “After your recital ..” Bibir mereka bergesekan pelan, setiap kali Edwards mengucapkan kata demi kata, membuat Juhoon memejamkan mata lebih erat.

 

“..let me take you on a proper date, Kak.”

 

Ah, Juhoon nyaris tidak bisa bernapas. Kakinya benar-benar terasa seperti agar-agar.

 

Edwards menahan napasnya sejenak, membiarkan ujung hidungnya bergesekan manja dengan hidung Juhoon. “Habis lo selesai piano recital, kita pergi berdua ya, Kak. Berdua aja. And later that night ...” Ia mendaratkan satu kecupan lagi di sudut bibir kiri Juhoon, sengaja membiarkannya semakin berlama-lama di sana.  “..that’s when I’ll really kiss you,” lanjut Edwards. “I promise you, I’ll take my sweet time. Mau ya, Kak?”

 

Sensasi usapan ibu jari Edwards, bisik janji, dan rentetan kecupan di sudut bibirnya membuat dada Juhoon serasa benar-benar mau meledak. Ini terlampau intim dan membuat jantungnya bekerja tiga kali lipa lebih keras daripada ciuman yang sudah pernah ia lakukan dengan mantan-mantan kekasihnya dulu.

 

 

“Ed ...” panggil Juhoon dilanjutkan dengan erangan tertahan. Lututnya benar-benar lemas. Ia akhirnya menyerah pada debaran gila, menjatuhkan dahinya ke dada Edwards dan menenggelamkan wajahnya di sana.

 

Edwards malah terkekeh rendah dan lengan kanannya kini melingkar penuh di pinggang Juhoon. Ia menarik tubuh yang lebih kecil itu hingga tidak ada lagi sisa jarak satu milimeterpun di antara mereka. Edwards memeluk tubuh Juhoon erat-erat, posesif, di dalam lemari yang sempit itu –

 

 

BRAK!

 

 

Pintu lemari ditarik terbuka dengan kasar, membiarkan cahaya lampu kamar yang ternag benderang menusuk masuk tanpa ampun.

 

“TIME IS OUT!” teriak Seonghyeon di ambang pintu, membidikan kamera ponselnya ke arah dalam lemari dengan flash menyala, diikuti kepala James dan Keonho yang menyembul dari belakangnya.

 

Edwards dan Juhoon spontan memicingkan matanya dan menyentak mundur. Pelukan Edwards terlepas sedekit sebelum pintu terbuka sepenuhnya. Ia buru-buru menegakkan tubuhnya karena panik, melupakan rak di atasnya dan berakhir kembali menghantam papan kayu dengan bunyi ‘duk’ yang jauh lebih keras dari sebelumnya.

 

“Ow, Shit!” Edwards mengaduh, kali ini benar-benar memegangi puncak kepalanya sambil melangkah keluar dari lemari. Telinganya merah padam seperti kepiting rebus, napasnya masih sedikit memburu juga.

 

Juhoon menyusul di belakangnya, pura-pura sibuk merapikan lengan kausnya. Wajahnya merunduk, menyembunyikan rona merah yang luar biasa kentara di kedua pipinya.

 

“Hayo loh, ngapain berdua di dalem??” Keonho menuding dengan jari telunjuknya, memicingkan mata curiga. “Muka lo berdua kok merah banget?”

 

“Nggak ada. Panas. Pengap banget di dalem,” kilah Edwards cepat. Ia menghindari tatapan James yang kini sedang menaikkan satu alisnya dengan senyum penuh arti itu.

 

“Panas apa panas, nih?” goda Seonghyeon sambil mematikan kamera ponselnya “Ah, nggak asyik, gue kira bakal ada adegan jambak-jambakan.”

 

Juhoon hanya bersikap tenang seperti biasanya dan berjalan cepat melewati ketiga temannya itu menuju jatah kasurnya sendiri di sudut ruangan. “Udah kelar kan game-nya? Gue mau tidur. Ngantuk banget, capek.”

 

 

James, Seonghyeon, dan Keonho hanya menyoraki mereka berdua dengan godaan receh, tapi tidak memaksa lebih jauh. Edwards ikut merebahkan tubuhnya di kasur seberang, menarik selimut tebal sampai menutupi separuh dada.

 

Suasana kamar perlahan mereda saat Seonghyeon dan Keonho sibuk berdebat soal siapa yang harus mematikan lampu.

 

 

Namun, tepat sebelum akhirnya James menekan sakelar dan menenggelamkan kamar itu dalam gelap, Edwards mencuri pandang ke arah tempat tidur Juhoon.

 

Dari atas bantalnya, Juhoon ternyata juga sedang menatap ke arahnya. Ketika pandangan mereka bertemu, Juhoon menarik satu sudut bibitnya, sebuah senyum kecil dan rahasia yang hanya ia tujukan untuk Edwards.

 

Tangan kanan Juhoon terangkat sedikit, jari telunjuk dan jari tengahnya menyentuh bibirnya sendiri sebelum menunjuk ke arah Edwards – tanda konfirmasi atas janji berkencan hari Sabtu minggu depan.

 

 

Edwards membalas senyum itu, buru-buru membenamkan wajahnya yang memanas di balik bantal. Di tengah debar jantungnya yang masih ugal-ugalan, Edwards membuat satu catatan penting di kepalanya: kalau nanti ia dan Kak Juhoon-nya beneran resmi berpacaran, ia akan mentraktir Seonghyeon makan wagyu. Satu porsi saja.



Fin.


Notes:

hai, I totally forgot I had this draft of the classic 7 minutes in heaven trope. So here it is, 7 minutes in heaven for our marhoon :3

on a more serious note, eternal hell for pejabat (dan antek-anteknya) yang evil, corrupt, and brainless in our country.

please, stay safe and healthy, my Indonesian fellows, wherever you are. sending the warmest virtual hugs from afar <3

and thankyou so much for reading this fic!