Actions

Work Header

dan bandung

Summary:

Greesel dan Marsha pergi ke Bandung, tetapi di tengah kemenangan para shipper GreeSha, ada dua orang yang saling rindu. Sayangnya, kangen nggak cukup untuk memperbaiki hubungan mereka.

or

grisa berlayar, tapi grisin gamon.

Notes:

third time making an rl fic. still feels weird. i have more scenarios, but i’ll start off tame. wrote half of this on a laptop and the other half on my phone. didn’t proofread. i hope the story is readable though. #grisin_angst_lovers_solid_solid_solid

Work Text:

Pada hari Sabtu di awal bulan September ini, Greesel harus pergi bersama Marsha ke Bandung. Mereka terpilih untuk mengisi acara milik sponsor JKT48. Para penggemar banyak yang heboh karena adanya kehadiran Zee di sana. Tentu saja, semua peristiwa seperti ini harus dilaksanakan di Bandung. 

Hubungan kedua perempuan itu belakangan semakin dekat. Sejak masa-masa pelatihan, Greesel sudah dekat dengan Ashel. Ketika Greesel terpilih untuk melakukan Oshibe bersama Marsha, mereka pun semakin dekat. Tak ada lagi perantara di antara keduanya. Tak berhenti di situ, mereka juga terpilih menjadi anggota senbatsu “Andai ‘Ku Bukan Idola”. 

Lama-lama kedekatan itu berubah menjadi sebuah—sesuatu yang bahkan kedua orang tersebut tidak bisa namakan. Semua tentang mereka terasa lucu. Kedekatan yang awalnya kreasi agensi berubah menjadi satu hal yang asli. Tidak ada juga yang menyangka hal semacam itu akan terjadi. 

Di balik semua itu, terdapat satu orang yang menonton dengan penuh ketidakpercayaan. Hanya beberapa bulan sebelumnya, Greesel memohon-mohon, meminta agar semua kesalahannya dimaafkan. Kesalahan-kesalahan seperti ketidakmauannya untuk membicarakan apa yang ada di pikirannya. 

Keadaan sekarang masih terasa lucu untuknya. Dekat selama setahun, menjadi tempat keluh-kesah masing-masing, tetapi semua itu tidak cukup untuk membuat Greesel tetap tinggal. Cynthia nama perempuan itu. 

Greesel memang beruntung. Ia mendapatkan jalur mudah. Dipromosikan lebih awal, masuk dalam peringkat undergirls, mendapatkan kesempatan-kesempatan untuk meramaikan beberapa proyek vokal. Sedangkan, Cynthia bahkan mulai kesulitan untuk menghabiskan kuota meet and greet serta video call-nya. Entah apa yang terjadi kepada generasi kesebelas. Yang pasti, generasi kedua belas benar-benar membuat mereka tenggelam.

 Sehabis promosi, Greesel dan Cynthia berubah menjadi orang asing untuk satu sama lain. Kalau mengobrol tidak pernah menyambung, kalau berdekatan malah canggung, bahkan Greesel mengaku selalu bingung. Semua orang pun sadar akan kecocokan yang hilang itu. 

Satu hal yang disayangkan oleh Cynthia adalah fakta bahwa mereka dipisahkan ketika sudah mulai dekat. “Kesepakatan Gencatan Senjata”, “Oh My Pumpkin”, latihan untuk “Percik Kecil”: semua itu membuat Greesel dan Cynthia mulai menghangat lagi. Sayang sekali semuanya malah dirusak oleh pembagian tim. Tak ada lagi alasan bagi mereka berdua untuk berdekatan. Ya, kecuali untuk latihan lagu ketika ada anggota dari generasi mereka yang memutuskan lulus. 

Cukup tentang latar Greesel dan Cynthia. Cerita ini bukan tentang apa yang menyebabkan mereka untuk menjauh dari satu sama lain. Cerita ini tentang rasa bersalah yang mulai muncul pada benak Greesel. 

Pada pagi Sabtu ini, Greesel dan Marsha menaiki Whoosh dari Halim. Manajemen sengaja menggunakan mode transportasi ini karena waktu tempuhnya yang sangat efisien. Sepasang sejoli—memangnya bisa disebut sejoli?—itu pun duduk bersebelahan. Selama perjalanan, Greesel menyender di pundak Marsha, memainkan tangan perempuan yang sehari lebih tua darinya. 

Pikirannya sebenarnya tidak ada di sana. Ia malah memikirkan perempuan lain, perempuan yang bernama Cynthia. Matanya, hidungnya, tahi lalat di dadanya. Semuanya menghantui Greesel. Apalagi malam itu di akhir bulan November 2023. Ketika mereka pergi ke luar kota dan tidur sekamar. Greesel masih ingat betul kedekatan yang pernah ada. 

Lamunan Greesel terhenti ketika Marsha bertanya, “Kamu kenapa sih?”

“Nggak apa-apa. Agak capek aja. Besok juga aku ada jadwal show di last show Alya.”

“Kamu nggak kepikiran soal Zee, ‘kan?” tanyanya lagi. Greesel hanya terdiam saja. Pikirannya masih mengawang. “Kamu juga tau kalau itu gimik doang. Dia ‘kan pacarnya Emir.”

“Aku ngerti. Nggak ada hubungannya sama itu.”

Perjalanan berlanjut. Tak terasa, mereka sudah sampai di Bandung. Greesel dan Marsha naik shuttle dari Padalarang. Tujuan mereka langsung ke tempat acara diselenggarakan. 

Greesel berusaha mengalihkan pikirannya, namun sesuatu membuatnya terpaku. Ia tiba-tiba teringat tentang wacana-wacananya bersama Cynthia. Mereka pernah berbincang tentang kehidupan lambat di Bandung. Sehabis sukses dan pensiun, Greesel menyarankan membeli tanah di Dago Pakar lalu menghabiskan sisa waktu di sana. Pemandangan Kota Bandung dan udara dingin akan menghiasi sisa hari mereka. Ternyata, semua itu tak membuahkan hasil apa-apa. Diam sebagai wacana. 

Selama Greesel dan Marsha melakukan pekerjaan mereka, Cynthia sibuk menghabiskan waktu dengan anggota tim Love lainnya. Pertunjukan terakhir Alya akan dilaksanakan besok. Sudah semestinya, mereka menghabiskan sisa waktu terakhir sebelum Alya resmi keluar dari JKT48. 

Cynthia sama gundahnya. Sedari kemarin, ia sudah melihat banyak sekali konten tentang Marsha dan Greesel ke Bandung. Candaan-candaan tentang status Greesel sebagai orang baru dan hal semacam itu. 

Ketika sedang duduk bersama yang lain pun, ia seperti hanya berada di sana secara fisik. Obrolan yang terjadi hanyalah angin lalu. Ia sibuk memikirkan yang lain. Ingin sekali memutar balik waktu dan memaksa agar mereka berdua menghabiskan lebih banyak waktu. Ya, walaupun itu juga tidak akan mengubah apa-apa. Greesel telah membuat pendiriannya ketika menjadi anggota inti secara resmi. Ia ingin menjadi anggota terbaik yang pernah ada. Dalam mimpi itu, sudah tidak ada lagi ruang bagi Cynthia untuk singgah di sana. 

Cynthia juga paham betul tentang pemikiran Greesel. JKT48 bagi Greesel bukan hanya hobi untuk mengisi waktu luang. Greesel menaruh harapan pada kelompok itu, berharap bahwa nama itulah yang akan menjadi batu loncatan untuknya. Melihat kesuksesan Zara dan beberapa anggota lain menginspirasinya. Ia juga tak selamanya bisa menari dan menyanyi di depan kelompok orang yang itu-itu saja, bukan?

Ketika yang lain sibuk berbicara, Anin menyadari bahwa Cynthia hanya terdiam. Perempuan itu pun bertanya, “Cici nggak apa-apa?”

“Iya, nggak apa-apa kok.”

“Kepikiran Greesel, ya?” tanyanya lagi. 

Cynthia tertawa—tertawa miris. “Buat apa mikirin dia. Dia juga udah happy sama Kak Marsha.”

“Nggak usah ditutup-tutupin gitu, Ci. Kita temenan udah lumayan lama. Aku juga tau ceritanya kayak gimana,” balas Anin.

“Nggak tau juga. Aku sama Greesel udah nggak—nggak pernah ada apa-apa. Kenapa harus Bandung sih, Nin?” ungkap Cynthia. Kali ini, ia terlihat begitu putus asa.

“Aku nggak tau harus ngomong apa, Ci. Yang sabar aja, ya. Besok kita profesional aja,” tuturnya. 

Alya sepertinya melihat obrolan privat itu. Ia pun langsung mengalihkan perhatiannya. Ia bertanya, “Kenapa, Ci?”

“Nggak apa-apa, Al. Lanjut aja. Nggak penting. Aku paling mau foto-foto dulu bentar buat di-post di IG.”

Alya mengangguk dan lanjut mengobrol dengan anggota tim Love lainnya. Anin terlihat bingung karena Cynthia tidak memberitahunya tentang rencananya yang itu. Meski begitu, mereka tetap berpisah dari kelompok besar dan mulai memilih tempat berfoto. 

Agenda itu tidak berlangsung lama. Cynthia berubah pikiran, ia akan mengunggah foto dari pertemuannya dengan Alya tempo hari. Saat kembali, mereka sudah selesai dengan obrolannya. Cynthia pun mengajak Alya dan Anin berfoto bersama dengannya. 

Pikirannya sudah lebih lega sekarang. Obrolannya pun mengalir dengan lebih lancar. Layaknya pertemuan lain, pertemuan ini juga ada akhirnya. Semuanya pun berpisah ketika sore akhirnya tiba. 

Cynthia kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan balik, ia merasa dihantui. Melihat video yang mulai bertebaran, ia hanya bisa menahan nafas. Bibirnya digigit, air matanya ia coba untuk atur. Ia juga tak tahu mengapa rasanya sesakit ini. 

Sesampainya di rumah, ibunya terlihat khawatir. Cynthia tak menggubrisnya, memilih langsung pergi ke kamar. Ia tahu ia harus siap-siap untuk besok, tetapi apa salahnya melakukan hal bodoh?

Hal pertama yang ia lakukan adalah mandi dan berganti baju. Setelah sudah selesai, ia berbaring di kasurnya, membuka-buka aplikasi media sosial. Greesel membuat story di akun Instagram privatnya. Ia sudah berada di jalan pulang. Ia pasti ingin segera beristirahat sebelum tampil besok. Belum lagi latihan bersama timnya. 

Cynthia membuka Whatsapp, mencari ruang obrolannya dengan Greesel yang telah usang dan tenggelam. Dapat dihitung jari, berapa kali mereka berkomunikasi belakangan ini. Yang pasti, Cynthia tak tahu mengapa ia sangat tergoda untuk menelepon perempuan Bogor itu.

Sebelum menelepon, Cynthia sempat mengirim pesan. Berbeda dari biasanya, Greesel langsung menjawab. Ia akan sampai dalam tiga puluh menit. Cynthia pun mengiakan. 

Ia menghabiskan tiga puluh menit itu berputar-putar di kamarnya. Ia bahkan tak bisa bermain ponsel. Jantungnya berpacu kencang dan nafasnya sedikit terengah. Ia pun bingung mengapa ia merasa seperti ini. 

Tiga puluh menit itu pun berlalu. Ponselnya akhirnya berdering. Suatu suara dan pemandangan yang Cynthia sudah jarang rasakan. Tanpa berpikir panjang, ia menjawab panggilan itu. 

Suara pertama yang ia dengar adalah, “Hi, Ci.”

Ia memegang bibirnya sendiri. Ia tahu ia yang menginginkan hal ini, tetapi suaranya di ujung lain panggilan masih terasa aneh. Greesel yang bingung pun berkata sekali lagi, “Ci, halo? Kenapa pengen nelepon?”

Cynthia mengambil nafas panjang. Dadanya berdegup semakin kencang. Pada akhirnya, ia membalas, “Aku cuman mau nanya kabar kamu.”

“Aku baik, Ci. Cici gimana? Baru ketemuan sama Alya, Anin gitu-gitu, ya?”

“Aku baik juga, Cel,” balasnya singkat. Ada sedikit kecanggungan di antara mereka. Entah karena sejarah bersama atau perasaan yang tak terungkap. “Kamu seneng sama Kak Marsha?”

“Seneng-seneng aja kok. Aku selalu bawa enjoy kalau lagi kerja. Tapi, tumben deh Cici pengen ngomong sama aku,” jawab Greesel. 

Cynthia tak bisa menjawab. Ia hanya dapat mengatur nafasnya dan berusaha tak menangis. Ia tak mau terdengar cengeng—apalagi karena lawan bicaranya yang tak berpendirian itu. 

I miss us,” ungkap Cynthia pada akhirnya. Kalimat itu sulit sekali untuk dikeluarkan. Lidahnya terasa kaku, kata-katanya tercekat di tenggorokan. 

Greesel tersenyum tanpa Cynthia ketahui. Dadanya juga seperti ditusuk ketika mendengar pengakuan itu. Ia pun berkata, “I miss us too. Kita bakal ketemu besok, Ci. Kenapa dramatis banget?”

“Aku kadang mikir, Cel. Aku salah apa, ya, sampe kita sejauh ini… Apa karena aku kurang berjuang, jadi kita nggak setara? Apa kamu malu sama aku?” ujar Cynthia panjang lebar. 

Jantung Greesel merosot ke perut. Ia sadar bahwa ia sudah jahat belakangan ini. Di sisi yang lain, ia juga tak mau mengakui kesalahannya. 

Tak kunjung mendengar jawaban Greesel, Cynthia pun melanjutkan, “Aku bingung sama kamu yang tarik ulur mulu. Aku nggak tau mau kamu apa. Aku selalu seneng liat kamu sukses, tapi aku juga tersiksa kalau kita gini-gini terus.”

“Kamu mau aku gimana, Ci?” balas Greesel lemah. 

“Aku cuman pengen kita kayak dulu lagi—”

“Kamu juga tau itu nggak mungkin,” potong Greesel dengan putus asa. 

Cynthia terdiam. Bibir Greesel mulai bergetar. Mereka berdua tahu bahwa yang diinginkan hanyalah sebuah cara untuk memutar waktu. Coba saja jarak itu tidak pernah ada sedari awal. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. 

Pada akhirnya, tak ada yang bisa dilakukan. Sisa panggilan itu hanya diisi oleh upaya untuk tidak menangis dari dua orang. Greesel dan Cynthia tak kuasa melawan ego dan gengsi masing-masing. 

Bagi Greesel, Cynthia hanyalah rumah singgah. Ketika ia belum tahu banyak, Cynthia memang menjadi perlindungan yang dibutuhkannya. Kedewasaan dan ketenangan menjadi hal yang ia cari pada saat itu. Sekarang, semuanya sudah berubah. Greesel memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Ruang kecil yang dulu ia simpan untuk Cynthia sudah tidak ada. 

Hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk Cynthia. Greesel adalah segalanya untuknya. Kenangan singkat namun indah itulah yang membuatnya terus melaju. Sayangnya, Greesel tak memilihnya untuk menjadi pelabuhan terakhir. 

Setelah panggilan dengan Greesel, Cynthia membuka Instagram dan menggunggah kumpulan foto yang ia ambil empat hari yang lalu. Ia pergi bersama Alya waktu itu. Tak lupa, ia juga memilih lagu. Beberapa waktu mencari, pilihannya pun jatuh kepada “La La Lost You” dari NIKI. Sebuah lagu yang cocok untuk mendeskripsikan hubungan mereka. 

Beberapa jam setelah itu, Marsha menggunggah foto-foto dari pelesirannya ke Bandung. Banyak dari foto yang ia unggah mengandung Greesel. Perempuan itu terlihat begitu bahagia di dekat Marsha. Tanpa disadari, luka di hati Cynthia semakin menganga. 

Semenjak promosinya ke anggota inti, Greesel tak pernah terlihat nyaman dalam foto-fotonya bersama Cynthia. Hal itu disadari oleh Cynthia. Melihat foto Greesel bersama Marsha menambahkan garam pada luka Cynthia. Ya, tapi namanya juga hidup. Orang-orang berubah, lingkungan berubah, semua berubah. Cynthia hanya bisa tersenyum pada takdirnya. 

Series this work belongs to: