Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of greecyn mundanities
Stats:
Published:
2026-09-12
Words:
2,885
Chapters:
1/1
Kudos:
3
Hits:
32

percik kecil

Summary:

Berlatar menuju dan ketika Pertaruhan Cinta Ladies' Night. Greesel dan Cynthia harus bersikap profesional walaupun ada konflik yang mereka alami. Kebetulan-kebetulan terus membawa mereka semakin dekat (secara fisik) ke satu sama lain, tetapi Greesel masih memiliki ego yang terlalu tinggi untuk meminta maaf atas perbuatannya dulu.

or

grisin asing pas pertaruhan cinta lol

Notes:

jujur, nulisnya agak buru-buru. maafkan typo dan hal semacamnya. nggak ada waktu revisi. semoga tetep enjoyable dan greecyn nation, let's rise (greecyn nation-nya aja yang rise soalnya kapalnya udah downfall dari kapan tau wkwkwk).

Work Text:

Sedari awal latihan “Pertaruhan Cinta”, aku sudah tahu bahwa aku akan berurusan dengan Greesel. Kami ditempatkan di unit song yang sama. Hanya saja, blocking-ku lebih tinggi, tetapi kedudukanku sebagai cadangan. Pemegang asli posisinya merupakan Kak Gita. 

Beberapa hari sebelum pertunjukan khusus bagi para wanita penggemar JKT48, aku sudah harus berlatih bersama anggota lain yang akan tampil. Sebenarnya aku sedikit khawatir tentang Greesel. Ya, kami memang tidak seasing itu karena kebetulan-kebetulan yang terjadi, tetapi masih ada sedikit kecanggungan. 

Pertunjukan akan dilaksanakan dua hari lagi. Hari ini, aku tiba di teater pada pukul lima. Kami memang selalu berlatih di malam hari. Beberapa lagu pertama tidak sulit. Aku sudah hafal dengan posisi-posisiku dan sudah tampil beberapa kali juga. 

Satu hal yang aku sukai dari setlist baru ini adalah kesempatan untuk semakin mengakrabkan diri dengan Kak Oniel. Kami memang sering berada di proyek yang sama. Dari awal vocal queens pun aku sudah dikelompokan bersamanya. Alhasil, kami melakukan “Kesepakatan Gencatan Senjata” bersama. 

Akhirnya tiba juga giliran aku, Kak Oniel, dan Greesel untuk membawakan unit song kami. Awalnya, semua masih tidak apa-apa. Tak ada gerakan yang terlalu susah. “Percik Kecil” merupakan lagu yang berfokus pada vokal—tidak seperti hal itu penting, kami belum pernah bernyanyi secara langsung—sehingga koreografinya tidak terlalu sulit.

Kecanggungan mulai melanda ketika verse kedua sudah sampai. Greesel harus memegang pundakku dan menatap mataku. Ia bahkan tak bisa memegang pundakku, apalagi menatapku. Lagu pun langsung dimatikan. Pelatih tarian kami langsung menghampiri kami bertiga di panggung. 

“Saya nggak ngerti deh sama unit ‘Percik Kecil’ yang ini. Saya udah jelasin ‘kan di awal. Keliatan sedih, liat satu sama lain, emosinya keluarin. Kenapa kamu malah kayak jijik gitu megang Cynthianya, Greesel,” ungkapnya dengan frustrasi. Matanya tertuju pada Greesel. 

“Maaf, Kak.”

“Nggak usah maaf-maaf. Kamu di sini bukan sebulan-dua bulan. Dulu juga pas jaman ‘Aitakatta’ kalian bisa-bisa aja kok. Jangan biarin masalah personal masuk ke performance. Tolong, ya, semuanya. Bukan buat Greesel aja. Kalau lagi perform, mau kalian lagi sangsi atau gimana pun, jangan disalurin emosi negatifnya. Penonton kita tuh cerdas. Mereka bisa ngerasain,” jelasnya lagi panjang lebar. “Sekarang, ulang dari chorus pertama.”

Pelatih kami turun dari panggung. Aku, Oniel, dan Greesel kembali ke posisi semula. Kami pun melakukan koreografi. Kali ini, Greesel benar-benar melihatku. Terasa aneh untuk saling tatap sekarang. Kehangatan yang dulu aku selalu dapatkan darinya sudah hilang. Tatapannya terasa dingin dan asing. 

Sisa dari latihan tidak menarik. Pelatih langsung mengevaluasi penampilan kami. Selama evaluasi itu, aku duduk bersama Desy. Greesel menjauhkan diri, memilih untuk duduk bersama Michelle dan Gracie. Kalau ada Greesel, Michelle dan Gracie sudah disimpannya. Sebelum latihan usai, pelatih menghampiri Greesel lalu menghampiriku. Kami dimintanya untuk pergi ke satu sudut. 

“Saya nggak tau, ya, kalian ada apa. Tapi, please profesional kalau nanti depan fans. Mereka bayar dua ratus ribu buat nonton kalian. Masa kalian nggak bisa all out. Rasain lagunya, salurin perasaannya. Saya kecewa banget sama kalian. Terutama kamu, Greesel,” ungkapnya. 

“Maaf, Kak,” balas Greesel sambil menunduk. 

Aku berusaha membelanya, “Greesel nggak salah, Kak. Aku yang harusnya bisa bikin suasananya nyaman.”

“Greesel punya mulut, nggak usah ngewakilin dia. Saya kasian sebenernya sama kamu, Cyn. Kamu udah berusaha, tapi dia malah ngerusak penampilannya.”

“Aku bakal berusaha lebih keras lagi, Kak,” jawab Greesel.

“Baguslah. Emang sepatutnya kayak gitu,” tutup pelatih kami. 

Saat pelatih itu sudah meninggalkanku berdua dengan Greesel, aku melihat amarah di matanya. Aku juga tak paham. Bukan salahku ia tak mau bersikap profesional. Aku tidak memaksanya untuk terlihat jijik ketika memegang pundakku.  

Thanks for nothing, Ci,” ucapnya ketus. Ia langsung meninggalkanku. 

Kak Oniel sepertinya melihat hal itu. Ia meninggalkan Kak Indah dan menghampiriku. Tangannya mengusap pundakku. Ia berkata, “Greesel lagi kenapa sih?”

“Aku juga nggak tau, Kak. Emang agak sensitif aja dia kayaknya.”

“Gara-gara kapal-kapalan?” tanyanya lagi.

“Mungkin karena hal lain juga. Aku juga nggak ngerti. Walaupun masih sering dicuekin, dia udah agak mendingan belakangan ini.”

“Nanti pas show jangan sampe kebawa, ya, Cyn. Aku juga sebenernya nggak tega liat kamu dimarahin sama Kak [nama coach mereka].”

“Aku yang harusnya minta maaf, Kak. Penampilan Kakak jadi buruk gara-gara masalah personal aku sama Greesel. Maaf, ya, Kak,” balasku. 

Kak Oniel menggeleng. “Bukan salah kamu. Nggak usah minta maaf untuk Greesel. Dia bisa ngomong untuk diri sendiri.”

“Makasih, ya, Kak Oniel udah mau sabar sama aku,” ungkapku dari hatiku yang terdalam—serius, aku memang sangat bersyukur bisa dipertemukan dengannya. 

Kak Oniel tersenyum lebar karena itu. Aku ikut tertular. “Anytime, Cyn.”

Sisa hari itu tidak menarik—lebih seperti awal hari itu, kami pulang dini hari. Greesel sama sekali tidak berbicara padaku setelah sepatah kalimat yang ia sebut. Aku juga bingung harus menanggapinya bagaimana. Aku sadar bahwa mungkin sudah tidak ada lagi ruang di hatinya untukku. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk terus membersamainya.  



Aku menghabiskan banyak waktuku mengalihkan pikiran sebelum hari pertunjukan. Aku bermain dengan teman kuliahku, berbincang dengan Anin, dan mencoba melukis—ya, terdengar agak aneh, sudah lama sekali semenjak aku memegang kuas.

Lukisanku terlihat lebih murung dari biasanya. Setiap goresan cat pun mengandung begitu banyak emosi. Sayang sekali, hanya mataku dan mata-mata orang rumah saja yang akan melihatnya. Aku juga memang tak berniat untuk menunjukkan lukisan ini ke siapa pun.

Hari Jumat itu pun tiba. Aku diantar Papa ke FX beberapa jam sebelum pertunjukan. Seperti biasa, kami memiliki latihan gladi resik terakhir sebelum pertunjukan aslinya. Kalau tidak latihan lagi, bisa-bisa penampilan kami hancur. 

Sama seperti latihan sebelumnya, group song dapat dibawakan dengan sempurna. Dadaku mulai berdebar kencang ketika giliranku tampil semakin dekat. Untungnya, Kak Oniel selalu ada untuk menguatkanku. Ia bahkan tak segan memegang tanganku karena melihatku bergetar. 

Beberapa lagu berlalu, “Onyx” pun selesai. Aku, Greesel, dan Kak Oniel masuk ke area panggung. Semuanya baik-baik saja. Tak ada interaksi antara aku dan Greesel di awal lagu. Verse kedua semakin dekat dan aku pun menjadi semakin gugup. Liurku tertahan di tenggorokan—masuk akal atau tidak sih? Intinya, dadaku mulai terasa sesak dan jantungku pasti berpacu berkali-kali lebih cepat. 

Aku pun mulai suai bibir verse kedua itu. Greesel mendekat sebelum bagiannya. Ia memegang pundakku, tetapi tak mau menatap mataku. Kami melanjutkan penampilan. Tak ada ruang untuk salah ketika pertunjukan sudah di depan mata. Yang pasti, aku dapat melihat pelatih kami membuang mukanya. Aku yakin ia belum puas dengan penghayatan unit kami. 

Sisa latihan berlalu begitu saja. Ketika evaluasi terakhir sebelum acara pun, pelatih kami tak berkata apa-apa tentang Greesel. Mungkin sudah lelah juga. Ia pasti sadar bahwa masalah kami jauh lebih rumit dari perkiraannya. 

Aku sedang duduk sendiri meminum air ketika Kak Oniel menghampiriku. Aku senang bisa selalu berinteraksi dengannya. Ketika aku merasa dikucilkan, ia ada untuk membuatku merasa diterima. Apalagi dengan masalah antara diriku bersama Greesel—yang sampai sekarang pun aku tidak mengerti awal mulanya dari mana.  

“Sendirian aja, Cyn?” tanyanya. 

“Iya, Kak. Desy lagi jajan di basement,” balasku. Kak Oniel hanya ber-oh ria. Aku kembali menenggak airku. 

“Tadi udah bagus kok. Kamu kalau ada apa-apa, kasih tau ke aku aja. Nanti aku yang sampein ke Kak [nama coach mereka]. Siapa tau omonganku diterima lebih baik,” tawarnya. 

“Aku nggak mau ngerepotin Kak Oniel. Lagian aku juga udah biasa kok dimarahin,” jawabku sambil tertawa miris menuju akhir kalimat tersebut. 

“Serius, Cyn. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan kasih tau. Jangan semuanya dipendem sendiri.”

“Iya, Kak,” balasku. 

“Aku ke toilet dulu, ya, Cyn,” tutupnya.

Bersamaan dengan kepergiannya, Desy kembali membawa yogurt dari basemen. Ia menawarkan sesuap padaku, tetapi aku tidak nafsu makan. Kami berbincang sejenak, lebih banyak soal sesi lucky card nanti. Desy juga sudah tahu soal keadaannya dengan Greesel.

Jam-jam berlalu. Kami sudah dirias wajahnya. Kostum pertama pun sudah digunakan. Seperti penampilan-penampilan lainnya, kami melingkar dan berdoa sebelum pertunjukan dimulai. Semangat menggelora pada masing-masing dari kami. 

Kak Oniel melakukan kageana. Setelah itu, “Overture” pun diputar dan suara penonton yang diisi perempuan mulai terdengar. Kami muncul setelah “Overture” selesai. “Go and Fight” pun kami tampilkan. Mendengar chant dari para wanita terasa jauh lebih menyenangkan. Aku sadar bahwa beberapa di antara mereka pasti memiliki ketertarikan romantis kepada kami, tetapi ini jauh lebih baik dibanding ditelanjangi oleh mata laki-laki. 

Empat lagu berlalu, kami semua pun tiba di sesi MC. Seperti biasa, pada setlist “Pertaruhan Cinta”, kami hanya mengatakan jikoshoukai tanpa harus menjawab pertanyaan di LED. Sesi MC awal diganti dengan membaca lucky card. Aku, Desy, dan Greesel terbagi di kloter terakhir. 

Greesel membaca kartu pertama. Pertanyaannya adalah siapa yang harus dipilih jika memilih antara sahabat atau cinta. Ia melempar pertanyaan ke penonton. Aku dan Desy hanya berdiri kikuk di sana. Apa ia tidak menyadari kehadiran kami berdua. 

Perempuan itu pun menjawab dengan jawaban yang sebenarnya tidak relevan. Ia malah berkata bahwa ia memilih untuk membuat sahabatnya cintanya. Terdengar seperti kisah yang pernah aku dengar. Dengan suara yang dibuat-buat anggunnya itu, ia bergurau bahwa apa yang baru dikatakannya terdengar seperti judul sinetron. Aku membeo. Bersamaan dengan itu Desy membalas dengan mengatakan bahwa Greesel harus memainkan peran. Greesel mengiakan tanpa berpikir banyak. 

Seakan lupa akan perjanjian kami, Desy dengan percaya dirinya menambahkan, “Sama Cici.”

Air muka Greesel langsung berubah. Ia tak menanggapi. Aku juga merasa semakin canggung. Beberapa penonton bersorak. Memangnya masih ada yang setia dengan kami? Aku saja sudah lupa apa alasan kami dekat dulu. 

Selanjutnya merupakan giliranku, aku membaca salah satu kartunya. Lalu giliran Desy dan seterusnya. Kami akhirnya selesai setelah membaca sekiranya enam kartu. Waktu mulai sempit. Greesel pun menjembatani sesi lucky card ke sesi unit song

Kami ke balik panggung setelah itu. Aku bisa santai dalam berganti kostum. “Percik Kecil” mendapat giliran paling terakhir. Hanya butuh tiga menit untuk berganti baju. Aku pun memastikan sempat berfoto bersama Kak Oniel dan Greesel. Awalnya, Greesel berada di sebelahku, tetapi ia meminta Kak Oniel untuk pindah ke tengah. Kak Oniel pun bersukarela untuk memegang ponselku. 

Selama menunggu giliran, Greesel sibuk dengan ponselnya. Entah sibuk berbincang dengan siapa. Wajahnya semringah, cahaya terpancar dari sana. Dulu, saat masa pelatihan, ia memberikan pemandangan itu kepadaku. Sekali lagi, itu dulu. Sepertinya ia sudah lupa tentang segala hal yang telah kami lalui bersama. 

Tak terasa, giliran kami untuk tampil pun tiba. Kami bersiap-siap untuk muncul di panggung. Setelah unit “Onyx” dalam proses menyingkir dari tengah panggung, kami bertiga masuk dalam formasi. Kak Oniel pun mulai dengan bagiannya. 

Aku benar-benar merasakan pesan yang ingin disampaikan oleh lagu ini. Aku teringat banyak hal. Termasuk tentang bagaimana lagu ini berparalel dengan kehidupan yang aku jalani. Lagu itu seakan diciptakan untukku dan Greesel. 

Bagian yang ditunggu-tunggu oleh lima—ya, hanya lima karena siapa juga yang masih suka dengan GreeCyn di tengah gempuran GreesElla—penggemar GreeCyn pun datang. Aku memulai verse kedua, Greesel lalu menyahut dan mendekat. Ia memegang pundakku dengan kukuh. Seperti yang sudah aku lakukan dengan yang lain, aku mencoba menatap matanya. Sayangnya, ia memilih untuk tak membalasku. 

Sisa koreografi kami tak spektakuler. Ketika lagu berhenti, kami pun pergi ke belakang panggung. Kami harus berganti baju untuk group song selanjutnya selama unit lain membacakan mention Twitter. 

Berganti baju tidak membutuhkan waktu lama. Setelah sudah mengenakan kostum baru, Kak Oniel menghampiriku. Ia berkata, “Kamu bagus tadi.”

“Makasih, Kak.”

“Soal Greesel nggak usah terlalu dipikirin. Namanya juga anak muda. Masih ada ambis-ambisnya.”

Aku tertawa mendengar itu. “Udah nggak pernah aku pikirin sih, Kak. Lagian buat apa juga? Emang semakin dipikirin, dia bakal ngerti?” balasku. Greesel sebenarnya ada di dekat kami. Ia pasti dapat mendengar. Aku melihat ke arahnya dan ia sedang menatapku balik. Wajahnya langsung dibuang ketika sadar. 

Segmen selanjutnya merupakan “Raja Hati”, “Beginner’s Gamble”, dan “Ada Aku!”, aku tahu mereka pasti berteriak ketika melihat bagian kami hampir berciuman. Kak Oniel pun sudah berlatih denganku. Aku tak bisa berjanji takkan salah tingkah di panggung nanti. 

Sesi pembacaan Twitter selesai. Kami bersiap di posisi masing-masing. Lagu pertama diputar. “Raja Hati” tak begitu menarik bagiku. Tak ada bagian yang terlalu sulit. 

Lagu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Masing-masing dari kami melakukan koreografi yang sesuai. Bagian lampu dimatikan sampai juga. Setelah tarian ala kabaret kami selesaikan, aku berada di depan Kak Oniel. Ia memelukku dari belakang sebagai bagian dari koreografi dan aku menengok. Mendengar sorakan dari penonton membuatku tak kuasa menahan senyum. Aku yakin penonton dapat merasakan perasaan salah tingkahku. 

Blocking-ku membuatku terpaksa harus dekat-dekat dengan Greesel. Kami pun melakukannya dengan profesional. Ia masih pada pendiriannya. Tak mau menatapku.

Lagu selanjutnya juga sama menantangnya. Ada bagian di mana aku harus menghadap Greesel dan berpura-pura saling menyemangati. Aku merasa seperti dunia bercanda denganku. Di saat aku berusaha untuk melupakannya, selalu saja ada alasan agar ia terus berdekatan denganku. 

Sesi MC selanjutnya merupakan giliranku. Lagi-lagi, aku harus terus bersama Greesel. Untungnya, Ci Lia disuruh memutar rodanya lebih dulu. Ia disuruh berlakon sebagai perempuan tsundere. Greesel langsung menyambar dan bersedia menjadi laki-lakinya. Mereka pun mulai berakting, terlihat sangat natural. Andai saja waktu bisa diulang. Pasti aku dan Greesel tidak seasing sekarang. 

Sepertinya yang lain ingin kami bermain sesuai usia. Aku pun menjadi orang kedua yang harus memutar roda. Pilihannya jatuh ke akting menjadi putri yang dibangunkan pangeran kodok. Tidak diduga-duga, Greesel malah bersedia menjadi laki-lakinya lagi. Aku merasa aneh. Ia tidak pernah mau melakukan gimik. Boro-boro gimik, pesanku saja jarang dibalas—sekalinya dibalas sudah lewat berhari-hari. Katanya sibuk, tetapi selalu jalan dengan yang lain. 

Satu teater heboh. Aku heran. Berapa di antara mereka yang benar-benar tahu sejarah di antara kami. Menggantikanku saat kuliah jarak jauh, main bersama, obrolan-obrolan kami. Apa yang mereka tahu soal itu. 

Aku langsung pergi ke tengah panggung. Ci Lia dan Michelle berada di antaraku dan Greesel. Desy menyebut nama kapal kami. Penonton semakin heboh. Greesel sepertinya terpancing, ia malah berkata, “Ini yang katanya penerus GreShan, ‘kan?”

Kalimat yang terdengar begitu asing di telingaku. Sebuah opini yang sudah usang ditelan waktu. Penggemar mengatakan itu ketika kami masih setara, masih sama-sama siswi pelatihan. Bagaimana bisa menjadi GreShan jika ia bahkan tak bisa menatap mataku. 

Aku hanya bisa menyembunyikan perasaan maluku, berakting seperti putri tidur. Ci Lia malah makin memanas-manaskan, menyebutkan nama kapal aku dan Greesel kembali. Saking tidak karuannya pikiranku, aku tak sengaja menabrak kepala Ci Lia.

 Michelle tiba-tiba berakting menjadi kodok. Kami semua pun terdistraksi. Setelah hal itu lewat, barulah adegan yang ditunggu-tunggu datang. Aku berpura-pura tertidur, Greesel menepuk pundakku, lalu aku terbangun. Dengan semua kemampuan aktingku, aku berteriak, “Ya, ampun kodok!”

Chemistry kami sudah benar-benar hilang. Ketika harus adu akting, hanya ada kecanggungan yang kami salurkan. Greesel lebih peduli dengan anggota lain atau penontonnya. Bahkan lebih memilih menanggapi penonton yang mengatainya beracun. Untuk segera mengakhirinya, aku pun berkata, “Karena kodoknya cantik, aku makasih, ya, udah bangunin aku.”

Greesel menjawab dengan “sama-sama,” dan beranjak dari jongkoknya. Aku reflek memeluknya, seperti waktu-waktu dulu. Aku teringat masa itu. Sama-sama baru di lingkungan ini, kebingungan, tak tahu apa yang diinginkan. Kami hanya memiliki satu sama lain dan tentunya generasi sebelas yang lain.

Sama seperti masa itu, tangannya menelusuri lengan atasku hingga ke tangan. Aku rindu sentuhannya. Rindu pada sebuah masa yang sudah terlewati. Sebuah masa yang tidak bisa aku ulang kembali. 

Sisa dari pertunjukan itu sama seperti pertunjukan lainnya. Hanya saja, penonton yang semuanya perempuan membuat kami merasa lebih nyaman. Setelah 2shot roulette, kami pun mengadakan evaluasi. Pelatih kami mengatakan bahwa pertunjukannya sudah cukup. Kami hanya harus meningkatkan sesi MC kami yang terkadang terasa membosankan. Kami boleh pulang setelah itu. 

Papi akan menjemputku seperti biasa. Aku sebenarnya kasihan, tetapi beliau selalu memaksa. Aku sadar diri. Papi sudah tidak semuda itu lagi. Lagi pula aku bisa memesan taksi sendiri. 

Beberapa waktu berlalu, Michelle dan Grace sudah pulang lebih dulu. Greesel duduk sendirian, memainkan ponselnya. Aku pun menghampirinya. Ia langsung bergeser ketika merasakanku di dekatnya. 

“Kamu tuh kenapa sih, Cel?” tanyaku frustrasi.

“Aku nggak kenapa-kenapa. Aku cuman—aku juga nggak tau. Aku capek.”

“Kamu selalu capek kalau ada aku. Tapi, kalau sama Grace, sama Michelle, selalu full, ya, energinya,” balasku sarkas. 

Greesel yang semula bermain ponsel langsung meletakkannya di meja. Ia menatap wajahku dan berkata dengan marah, “Kamu kenapa lagi sih?”

“Ya, aneh aja. Kamu selalu ngehindar. Tiap aku usaha untuk deketin kamu lagi, kamu selalu perlakuin aku kayak kita nggak pernah deket sama sekali.”

“Ya, emang faktanya kita udah nggak deket. What we had is old news. Move on, Ci.”

“Bilang sama aku kalau yang di stage tadi itu nggak ada artinya buat kamu,” cecarku. 

Ia malah tertawa tepat di depan wajahku. “Emang nggak ada artinya, Ci. Mereka suka gimik lesbi kita, ya, udah, aku kasih aja.”

“Hati kecil kamu tau kalau ini bukan sekedar gimik,” balasku tak mau kalah. 

Greesel tertawa lagi, kali ini lebih kecil. Dengan nada meremehkannya, ia berkata, “Ya, dulu. Mungkin. Kita sekarang cuman rekan kerja, Ci.”

Teleponku berdering, Papi meneleponku. Beliau mengatakan bahwa beliau sudah di parkiran. Aku pun langsung pergi meninggalkan Greesel. Aku tak mau melihat ke arahnya.

Di dalam perjalanan pulang, aku hanya bisa menangis diam-diam. Aku tak mau Papi khawatir. Nanti ia memintaku keluar dari JKT48 lagi. Aku masih tak tahu mengapa Greesel sebegitu teganya kepadaku. Aku tak pernah melakukan kesalahan fatal padanya, jika iya pun, aku pasti sudah meminta maaf.

Dikarenakan kondisiku yang menahan perasaan sedih, aku perjalanan pulangku tidak diisi banyak hal menarik. Papi juga sepertinya mengira bahwa aku sedang tidur. Padahal aku sedang mati-matian menahan rasa sakit di dada dan tanganku. Semuanya terasa ngilu.

Sesampainya di rumah, aku baru bisa melepaskan segala perasaanku: kekesalanku, kekecewaanku, rasa maluku. Aku menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Untung saja air dari shower dapat menyamarkan air mataku. 

Sehabis dari kamar mandi, aku berganti baju. Aku berusaha untuk tidur, tetapi pikiranku tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya, aku hanya bisa melihat langit-langit. Semua kenangan kami pada masa pelatihan menyerangku. Siapa yang menyangka kami akan seasing ini sekarang?

Series this work belongs to: