Actions

Work Header

gentle hours and your cute little worries.

Summary:

Semakin besar usia kehamilan, Nakula semakin sering terbangun malam dalam keadaan kesal dan seperti ingin menangis. Saat ditanya, Nakula tidak pernah bilang apa-apa. Bagaimana Sadewa bisa membantu atau memperbaiki sesuatu jika perkaranya saja ia tidak tahu?

ㅡ beerlens oneshot fanfiction.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:


Ternyata benar kata orang, bahwasanya kita sebagai manusia tidak boleh terlalu jumawa.

Pada suatu masa, di sebuah malam kala semua orang sudah tenggelam dalam lelapnya tirai hitam gulita, termasuk Sadewa, ia dihadapkan pada suatu kondisi yang membuatnya kebingungan.

Nakula malam itu terbangun, terlihat kesal dan sedikit sensitif, ia bisa melihat air matanya tiba-tiba menggenang namun dihapus dengan cepat. Saat ditanya Sadewa, ia cuma menggeleng dengan cepat dan memilih untuk menutup matanya dengan bantal. Lalu tidur, walau beberapa kali terbangun lagi.

Bingung, sungguh. Pasalnya dari seluruh keanehan Nakula, masa hamilnya adalah masa yang paling anteng dan Sadewa mau tidak mau terbiasa. Sehingga kali ini, ia butuh menggaruk isi kepalanya agar menemukan solusi.

Tapi, bagaimana ia bisa dapat solusi jika Nakula enggan bercerita apa yang membebaninya? Bagaimana Sadewa bisa membantu atau memperbaiki sesuatu jika perkaranya saja ia tidak tahu?

“Na, kamu marah? Ngambek?”

Sadewa bertanya hati-hati pagi itu, mengambilkan segelas air dingin saat Nakula baru bangun tidur. Si cantik itu pelan-pelan bangkit dari posisinya, lumayan kesusahan dan harus dibantu Sadewa.

Nakula hanya menatapnya, lurus, tatapan itu membuat Sadewa menelan ludah gugup. Namun suaminya itu hanya menarik napas panjang kemudian menggeleng. Ia tidak bilang apa-apa dan parahnya, justru itu membuat Sadewa semakin gugup saja.

“Dew, aku mau buah,”

“Buah apa?”

Nakula terdiam sejenak, sepertinya ia tengah berpikir, tapi akhirnya menggeleng lagi. “Apa yang ada saja, tapi aku malas mengunyah. Aku juga nggak mau yang cuma diminum itu loh, Dew. Mau yang masih ada serat-seratnya.”

“Nanti dibikin jus,” Sadewa mengecup kening Nakula, mendapati suami hamilnya yang cantik ini tidak menghindar membuat Sadewa berkesimpulan ketidakenakan mood Nakula akhir-akhir ini bukan karena dirinya. “Jangan terserah dong, Na. Kamu mikir tadi pasti ada kepingin. Bilang aja.”

Nakula menatap Sadewa yang berlutut di depannya sambil memiringkan kepala. Lagi-lagi terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada agak pelan. “Pir, kiwi, sama apel dicampur jadi jus aneh, nggak?”

“Menurutku nggak aneh. Kamu mau?”

“Mau.”

“Mau tambah es?”

Nakula terkekeh pelan. “Iya.”

“Great. Aku beliin dulu.”

Kening Nakula berkerut cepat. “Yang ada aja kataku, Dew. Kalau ada yang nggak ada gausah. Keluar lagi buat beliin kan repot.”

“Aduh, gimana ya? Passion-ku kan direpotin kamu, sayang.” Sadewa berdiri, tangannya meraih jemari Nakula untuk diciumi. “Nanti aku pesen lewat delivery. Kamu mau mandi sekarang atau nanti?”

“Tadinya mau mandi bareng kamu,” Nakula mendongak, membiarkan Sadewa mencubit–cubit lembut pipinya, tidak menolak kasih sayang yang diterima sepagi itu, “tapi kamu udah mandi kan habis lari pagi tadi?”

“Kan tinggal mandi ulang, toh?”

“Jangan mandi ulang, ah. Ribet. Aku mandi sendiri aja.”

“Ayo, Na. Sekalian aku pijitin.”

Nakula hanya tertawa setelahnya, menerima ciuman Sadewa di bibirnya sekilas dan membiarkan ujung hidung keduanya bertemu. “Nggak, mau mandi sendiri aja. Suruh siapa kamu mandi duluan? Aku mau quality time dulu sama adek sambil mandi.”

“Ayah beneran nggak boleh ikut?”

“Jangan pasang muka sok sedih begitu, Dew!”

Nakula tetap Nakula, sekali ia menetapkan sesuatu akan sulit diubah lagi karenanya Sadewa hanya menurut. Duduk di pinggiran ranjang setelah memastikan air hangat yang mengalir serta tidak ada yang membahayakan Nakula atau bayi mereka di dalam sana—resiko tergelincir, misalnya.

Mendengar suara air di dalam kamar mandi, Sadewa terpikir lagi. Kejadian tadi malam bukan hanya satu-dua kali terjadi, tapi sudah lumayan sering dan Sadewa tidak mengerti kenapa Nakula tidak mau bilang sesuatu. Sebab tidur Nakula jadi kurang akibat sering terbangun, kantong matanya juga mulai terlihat jelas.

Walaupun Nakula baik-baik saja setelahnya, tidak urung kegelisahan itu merayap muncul juga.

Setelah menerima paket buah yang dipesan dan memblendernya sejenak, Sadewa membawa gelas berisi jus itu kembali ke kamar, dimana Nakula baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh merona merah dan berseri di balik jubah mandi berwarna baby blue.

“Makasih, sayang,” Nakula tersenyum lebar menyambut gelas itu, membawanya ke depan bibirnya untuk diminum perlahan, “hmm, enak!”

“Nggak terlalu asam, kan?” Sadewa meraih Nakula untuk duduk sementara ia memosisikan dirinya di belakang, melepas handuk kecil yang membungkus rambut Nakula yang masih sedikit basah dan bantu mengeringkannya.

“Pas seperti bayangan rasa yang aku mau,” Nakula membalas setelah menghabiskan setengah gelasnya, senyumnya secerah binar di matanya, “mas, tolong ambilin lotion dong.”

“Yang ini?”

“Betul!”

Pagi itu dihabiskan dengan perbincangan ringan, Sadewa sedang tidak ingin merusak pagi Nakula yang menyenangkan dengan pertanyaannya walau lidahnya benar-benar gatal ingin tahu tentang malam-malam itu. Namun, mana tega ia menghilangkan senyum lebar dan binar cerah itu sekarang?

Suami hamilnya sekarang sudah seperti buntalan awan yang lembut, halus dan kenyal. Pipinya merona cantik, bahkan mengizinkan Sadewa untuk mengepang rambutnya yang sudah memanjang melewati bahu. Kulitnya terasa kenyal di bawah ujung jarinya, sehingga Sadewa tidak tahan untuk tidak menciumi sepanjang pundaknya.

“Dew, geli, ih!”

Sadewa hanya tertawa mendengar itu, semakin gencar untuk mengecupi tengkuk dan membiarkan beberapa tandanya terbentuk di sana.

“Nakula,”

“Hmm? Kenapa, mas?”

Sadewa membiarkan wajahnya terbenam di pundak kekasih hatinya itu, menghirup aroma lembutnya yang sudah ia kenal sejak ia bisa mengingat sesuatu. Lengannya mengait di depan perut yang membesar  jelang minggu-minggu hari kelahiran anak mereka, kini diusap penuh kasih sayang sebanyak yang bisa ia tunjukkan.

“Kamu tahu kan kalau kamu ini hebat banget?”

Nakula balas bersandar, menyamankan diri di pelukan suaminya dan menaruh tangannya di atas tangan Sadewa pada perutnya. “Hu-um, tahu. Kamu bilang itu ke aku setiap hari.”

“You’re the greatest gift I’ve ever had.”

“Iya, Dewa. kamu juga hadiah terbaik buat aku.” Nakula menoleh ke samping, mengusakkan hidungnya ke pipi Sadewa. “Kamu kenapa coba tiba-tiba emosional gini? Ada sesuatu, kah?”

Tawa pelan Sadewa teredam di perpotongan antara bahu dan leher Nakula, namun ia hanya menggeleng, menimbulkan kekehan kecil dari Nakula karena kegelian.

“Kalau ada apa-apa ngomong, ya? Sekonyol apapun itu bakal aku dengerin. Mau yang aneh-aneh juga nggak apa. Jangan dipendam sendirian. Aku bersedia banget direpotin sama kamu. Lagi kesel atau apapun juga cerita aja, walaupun mungkin aku ga banyak bantu juga.”

“Ini kenapa kamu yang gelisah, coba? Yang hamil siapa, sih?”

Sadewa mengangkat wajahnya dari tumpuan nyamannya, lagi-lagi menciumi setiap jengkal Nakula yang bisa ia raih, terutama belahan bibir yang celahnya terbuka untuk bisa ia pagut lebih dalam, diikuti hisapan-hisapan kecil yang mengundang erangan manis ini menyapa telinganya.

“Dew,”

“Iya, cantik?”

“Mau nonton film horor.”

Sadewa terbahak pada akhirnya mendengar celetukan itu, ia sibak rambut yang jatuh menutupi kening suaminya dan menempelkan bibirnya di sana agak lama. “Peluk aku ya nanti kalau setannya muncul.”

Nakula tergelak mendengar itu, memeluk leher Sadewa dan membiarkan dirinya digendong menuju ruang tengah. “Nanti aku marahin setannya, beraninya bikin suamiku takut.”

 

.

.

.

“Mau kemana?”

“Peregangan aja,” balas Nakula sekenanya, ia berdiri menarik napas panjang berulang kali kemudian menghembuskannya, keningnya berkerut dalam namun tidak berkomentar apa-apa lagi pada akhirnya.

“Sini, sayang, kupijitin. Bahunya apa punggungnya yang pegal?”

“Bahuku kayak kencang gitu,” Nakula akhirnya pelan-pelan kembali duduk di sofa sembari dituntun Sadewa, “terus kayaknya sore kemarin aku kelamaan jalan kaki jadi lumayan pegal juga.”

Sadewa menahan senyum saat menatap bibir bawah Nakula kini mengerucut tanpa disadari empunya. “Ya sudah, full body aja kalau gitu, ya?”

Nakula menatapnya, untuk pertama kalinya terlihat lelah. “Maaf ya, Dew,”

“Kenapa malah minta maaf?”

“Aku ngerasa nggak enak aja kalau ngeluh,”

Sadewa mencubit pelan ujung hidung Nakula, “Nggak ada ‘gak enak’-’gak enak’, ya. Ngeluh aja kalau itu bikin kamu lega. Mau kamu sampai tantrum juga boleh.”

‘Ih, nggak sampai tantrum juga, ah,” Nakula kembali merubah posisi, keningnya semakin berkerut, tanda tidak nyaman akan sesuatu. Napasnya nampak cepat. “Bentar, Dew.”

“Sakit kah, sayang? Kekencengan?”

Nakula menggeleng. “Nggak, cuma… bentar…” Nakula kembali menarik napas dalam, kemudian diembuskan pelan-pelan, “... agak sesak sedikit aja.”

“Sesak?” bola mata Sadewa melebar cepat, ia meraih pundak Nakula dan mengamatinya dengan seksama, “kita ke rumah sakit sekarang, ya?”

“Nggak perlu, mas, udah sering—”

“Udah sering?!” mendapati pundak Nakula berjengit saat suaranya tiba-tiba naik, Sadewa merutuk rasa khawatirnya yang membuncah tanpa tahanan, “Na, kamu kenapa nggak bilang kalau sering sesak?”

Nakula menggeleng, sedikit meringis—sudah menebak reaksi Sadewa yang menurutnya kadang terlalu berlebihan, namun ia bisa mengerti kenapa Sadewa protektif  itu padanya sejak kejadian itu.

Pada akhirnya, lelaki bernetra biru itu mengusap lengan Sadewa, berusaha menenangkan suaminya yang tiba-tiba pucat. “Mas, bukannya aku nggak mau bilang. Aku udah sempat nanya ke dokter terakhir kita kontrol minggu lalu, sesakku ini cuma karena posisi. Kalau kelamaan telentang memang bisa sesak karena perutku makin besar—bukan sesuatu yang serius. Aku nggak bilang karena aku udah tahu kenapa, makanya aku nggak mau mas khawatir karena hal sepele.”

Sadewa terlihat lebih tenang setelah mendengarkan penjelasan itu, namun tetap tidak bisa menghilangkan kilat khawatirnya secara utuh. “Na, aku nggak suka kamu selalu menyepelekan apa yang terjadi sama kamu, walaupun itu bukan sesuatu yang serius seperti yang kamu bilang.”

Nakula mengangguk, memilih menurut dan tidak membantah omongan Sadewa. Kadang kala ia memang perlu diingatkan untuk tidak selalu menganggap kondisinya baik-baik saja.

“Iya. Maaf, ya, sayang. Lain kali aku bakal bilang.” Nakula mengusap belakang kepala Sadewa saat lelaki itu menundukkan kepala untuk menduselkan wajahnya di perut Nakula.

“Adek, ayah mau cerita. Mamah kamu ini nakal banget. Udah berapa lama coba mamah kamu kayak gini tanpa ngasih tahu ayah? Ayah sedih.”

Thump!

Nakula benar-benar menahan tawa mendengar aduan itu. “Jangan cepu ke adek begitu, dong.”

“Biarin. Adek aja setuju sama ayah.”

“Kan aku udah minta maaf,” Nakula mencubit pipi Sadewa sambil tertawa,  gemas seperti biasa, selalu ampuh untuk menggilas habis pikiran-pikiran buruk Sadewa yang sebelumnya mengumpul tanpa permisi.

“Tapi kamu beneran nggak apa, Na?” Sadewa mendongak, menerima usapan lembut di rahangnya dan menumpu di telapak tangan Nakula, “nggak mau check up aja gitu buat jaga-jaga? It wont hurt to confirm, right? Please?”

“Iya, kita periksa bentar setelah itu kita mampir beli es krim, ya?” 

Nakula tersenyum, tidak ada salahnya untuk memadamkan kecemasan Sadewa walaupun ia tahu bahwa kondisinya memang karena sedang hamil tua saja. Terlebih karena Nakula tahu seberapa sayang Sadewa padanya.

 

.

.

.

“Dewaaaaa! Ada paket!”

Sadewa yang baru saja selesai menjemur selimut di halaman belakang masuk kembali mendengar panggilan Nakula, ia menghampiri suaminya yang berdiri di pintu menyambut kurir ekspedisi untuk mengonfirmasi identitas.

Nakula membiarkan rahangnya jatuh mendapati Sadewa tanpa banyak cingcong mengangkat paket berukuran sangat besar itu ke dalam rumah setelah Nakula bergeser sepeninggal kurir tersebut. Nakula tahu Sadewa memang kuat, bahkan ia bisa menggendong Nakula yang tengah hamil besar ini dengan satu tangannya saja tanpa halangan berarti, namun fakta itu selalu bisa membuatnya terperangah.

Dan, ehem, terpesona.

“Besar banget paketnya.” Nakula berkomentar. “Kamu beli apa, coba? Kulkas? Treadmill?”

“Beli apa ya~ coba tebak~” godanya dengan nadanya yang khas itu, mau tidak mau membuat Nakula greget dan mencubit ujung hidung mancung suaminya.

“Aku beli ini buat kamu, sayang. Ayo buka bareng sini.” Sadewa menatap ke arahnya, masih dengan senyuman lebarnya yang jenaka dan menampilkan deretan gigi, seolah bangga dengan dirinya sendiri.

Nakula menurut, pelan-pelan berpegangan pada Sadewa sampai ia berhasil duduk di atas karpet lembut di ruang tengah, menghadapi paket besar yang masih belum diketahui isinya apa.

Ia menatap Sadewa yang membuka selotip dengan cutter mini, kemudian mengangkat styrofoam yang menutupi bagian atasnya. Barang tersebut sebesar isi paket kardusnya, ditutupi kantong ziplock doff yang menutupi warna biru mudanya.

“Kamu beli bantal?” Nakula terperangah lagi saat Sadewa meraih kantong tersebut dan menyodorkan bagian ziplocknya padanya untuk dibuka. “Kita kan punya banyak bantal? Buat apa beli yang sebesar ini?”

Sadewa mengedikkan bahunya, terkekeh pelan. “Buka aja, pegang ujungnya biar bungkusnya kutarik.”

Nakula kembali menurut, lalu lagi-lagi rahangnya jatuh saat mendapati bentuk bantal besar yang hampir seukuran dirinya itu. Bentuknya seperti huruf U dengan bahan yang sangat lembut di telapak tangannya. Warnanya biru pastel, hampir senada dengan wara bola mata Nakula.

“Ini… bantal apa?” Nakula menatap Sadewa dengan tatapan heran, sebab baru kali ini ia lihat bentuk bantal seperti ini. 

“Bantal hamil,” jawab Sadewa, nadanya begitu riang hingga orang lain bisa berpikir bahwa ia beli itu untuk keuntungannya sendiri alih-alih orang lain, “Aku tahu kamu sering terbangun malam karena tidur nggak nyaman, sering pegal juga karena posisi, setelah aku baca-baca dan minta saran perawat yang kemarin periksa kamu, akhirnya kubeli.” Sadewa menempelkan ciuman di kening Nakula yang masih tertegun. “Dengan ini, kuharap tidurmu sedikit lebih enak dari sebelumnya ya, sayang.”

“Mas Dewaaa…..”

Air mata Nakula menggenang cepat, lalu tumpah ruah tidak tertahankan seiring dengan isakannya yang mendesak keluar. Kebingungan akan perasaannya sendiri. Namun di atas segalanya, ia benar-benar senang dan bersyukur memiliki Sadewa sebagai suaminya. Nakula pikir ia sudah berhasil menutupi ketidaknyamanan yang dirasakannya, namun Sadewa ternyata mampu untuk menyadarinya.

Nakula merasa sangat disayangi, ia tidak kuat dengan rasa haru yang tiba-tiba menderanya tanpa aba-aba. Mungkin memang secara natural, atau bawaan hamil, perasaan Nakula selalu lebih rapuh dan mudah menangis. Hatinya memang selalu selembut orangnya.

“Kok nangis, cah ayu?” Sadewa menerima pelukan tiba-tiba dari Nakula, mengusap punggungnya dengan kelembutan yang hanya ia tujukan pada Nakula sekarang dan sampai tutup usia.

“Aku sayang, sayang, sayang, sayang banget sama mas,” jawaban Nakula terbenam dan sedikit tersendat, “kok bisa kepikiran, sih? Berarti selama ini mas tahu aku rewel sendiri?”

“Tahu, tapi cuma bisa nebak-nebak karena kamu nggak pernah ngeluh,” Sadewa mengusap pipi Nakula yang basah, namun sia-sia saja karena nyatanya bendungan itu bocor lagi, “jadi kenapa kamu nggak mau ngomong? Mas tanya selalu bilang nggak papa. Baru mengeluh pegal sudah minta maaf, padahal dulu sebelum hamil lebih bawel. Heran.”

“Habisnya aku nggak enak,” balas Nakula cepat, membiarkan pipinya dimain-mainkan oleh Sadewa, “maksudku, kesannya aku kayak nyalahin keadaan hamilku dan adek. Kalau aku ngeluh, nanti dikira nggak bersyukur. Sakit pinggang, bahu pegal, kaki kram dan bengkak, nggak bisa tidur telentang kayak biasa karena sesak, semuanya muncul sejak aku hamil. Aku sayang banget adek, jadi aku nahan banget buat nggak ngeluh. Aku nggak mau adek sedih. Lagipula, ini kan konsekuensi hamil.”

“... hah? Kok bisa kamu mikir kesitu?”

Si netra biru hanya menggeleng cepat, kini terlihat kesal sendiri. “Mana aku tahu? Aku aja bingung tiba-tiba kepikiran.”

“Ngeluh kan nggak sama dengan nyalahin keadaan, sayang.”

“Di kepalaku, sih, sama.”

“Nggak, beda banget. Yang ini aku nggak setuju.” Sadewa memerangkap kedua pipi Nakula di antara ibu jari dan telunjuknya, tergelak mendapati bibir Nakula seperti bebek, seperti saat dia sedang manyun dan ngambek. “Sayang sama adek bukan berarti kamu harus abaikan ketidaknyamanan kamu selama mengandung adek. Kamu tetap bisa sayang sambil ngeluh.”

“Bisa, ya?”

“Bisa, dong,” Sadewa mencium bibir manyun itu beberapa kali sebelum melanjutkan, “coba pikir gini, kamu ngeluh tiap kali aku kasih cupang atau gigit di leher—”

Nakula memotong cepat, wajahnya merah dalam hitungan detik saat diingatkan. “Loh, iya! Bekasnya kelihatan banget saat aku ngantor, seharian aku diceng-cengin! Capek banget!”

“Nah, tapi kamu sebenarnya suka, nggak? Masih sayang aku yang ngasih tanda itu, nggak?”

“... masih.”

“Nah?” Sadewa tersenyum simpul, “ngerti kan kalau ngeluh bukan berarti nggak sayang? Kamu cuma capek aja, dan itu manusiawi dan wajar.”

“Kenapa sih kamu tahu dan selalu ngomong apa yang mau aku denger tanpa over validasi perasaanku?—Tapi bisa nggak analoginya nggak usah ke situ!?”

“Nggak,” Sadewa menjulurkan lidahnya, menggodanya dengan jahil, “sengaja begitu biar kamu nggak bisa nangkis balik atau berkutik lagi. Kamu kan paling jago ngeles dan balas omonganku.”

“Dewa, serius, aku sayang banget sama kamu.”

“Hu-um, udah tahu—tapi aku suka banget dengernya. Tolong bilang itu tiap hari.”

Sadewa menatap Nakula lurus, pandangannya melembut mendapati netra langit pagi itu juga menatapnya balik dengan perasaan yang sama. Sadewa mengusap pelan tengkuk Nakula dan mempertemukan kening keduanya, sama-sama pecah dalam tawa seiring lengan Nakula yang mengalung di lehernya.

 

.

.

.

Nakula, setelah dibelikan bantal hamil oleh Sadewa, kualitas tidurnya benar-benar naik dengan signifikan. Tidurnya lebih nyaman dan nyenyak, sesak napasnya berkurang, bahkan pegal pun jarang dirasakannya. Bersamaan dengan itu, mood Nakula kembali ke masa-masa awal kehamilannya. Begitu anteng tanpa keluhan.

“Ini aku buang aja bantalnya atau gimana?”

“Eh! Jangan! Kok gitu!?”

“Apa-apa sama bantal itu! Tidur meluk bantal itu, lagi santai juga nggak lepas. Sejak bantal itu sampai di rumah ini, kamu nggak pernah perhatiin aku lagi! Padahal kamu tahu kalau aku nggak bisa tidur kalau nggak peluk kamu minimal setengah jam! Jahat!”

Nakula kehabisan kata-kata mendengar cerocosan berantai yang dilontarkan Sadewa pada sore hari yang sejuk, tengah baca novel di sofa ditemani susu jahe hangat—tentu dengan bantal hamil yang bantu menopang perutnya.

“... Dew, demi ya, cemburu kok sama bantal?”

“Suruh siapa suaminya nggak pernah dipeluk lagi?!”

“Ya udah, sini peluk,”

“Nggak mau!”

“Lah!?”

“Kamu peluknya cuma karena aku ngomong begini, kan? Padahal aslinya kepikiran aku pun enggak!”

Nakula memijit kepalanya. Seiring dengan kondisinya yang berangsur normal, rupanya Sadewa juga ikut kembali ke setelan awal. Oh, mungkin lebih rewel dari sebelumnya. Begini, tantrumnya aneh sekali untuk ukuran lelaki logis dan serasional Sadewa Sagara.

Aduh, lucu sekali. Seperti bocah besar merajuk.

“Tuh, tuh, tuh!” suara Sadewa kembali membuyarkan isi pikiran Nakula, “malah ketawa! Kamu ngeledek kan!”

“Nggak ngeledek, serius…”

“Bohong!”

“Ini mau dipeluk atau nggak jadinya!?”

Mendengar gertakan Nakula, Sadewa tiba-tiba terdiam. Ingin membalas tapi tidak jadi. “Mau dipeluk,” gumamnya pelan, menemukan tempatnya di dada Nakula dan menempelkan pipinya disana. Benar-benar lebih manja dari sebelumnya. “Jangan marah, Na…”

“Aku nggak marah,” Nakula benar-benar berusaha menahan tawa mendapati reaksi Sadewa sangat mirip anak anjing yang baru pertama kali dibentak oleh majikannya, “gemes aja, greget. Lagian omonganmu juga aneh banget. Suamiku kan kamu, aku sering pakai bantal ini kan karena senang dibeliin dan diperhatiin kamu. Lain kali, kalau mau dipeluk kan tinggal bilang, atau langsung peluk aja. Ngerti, mas?”

Anggukan Sadewa terasa di dada Nakula, akhirnya pemilik netra pagi yang sedang hamil itu menaruh novelnya, mengeratkan pelukan setelah meletakkan dagu di puncak kepala suaminya.

Sebenarnya, Nakula sedikit menikmati ini—karena mungkin, setelah anak mereka lahir nanti, Sadewa akan jarang semanja ini padanya. [ ]

 

-T A M A T-

Notes:

Aduh, maaf ya, lagi suka banget Nakula hamil huhuhu sangat soft seperti gula kapas with pregnancy glow, semakin cantik cantik cantik cantik sekali. Nakula hamil jaya jaya jaya!

(tolong jangan bilang cuma aku yang kecintaan dgn Nakula hamil).

Series this work belongs to: