Work Text:
Kalau Nakula ditanya bagaimana kehamilannya atau apakah ada kendala? Nakula hanya tertawa mendengar pertanyaan itu, lantas menggeleng manis.
Keseharian Nakula sejauh ini sangat sehat, makannya lahap dan tidak punya pantangan, berat badannya naik sesuai target setiap bulan, bahkan semakin cantik dan berseri. Suplemen dan susu hamil juga diminum tanpa ada keluhan berarti. Tidak ada ngidam aneh-aneh juga. Mual muntah seperti kehamilan pada umumnya juga tidak dirasakannya. Dia malah rajin olahraga ringan seperti jalan kaki 30 menit dan bahkan ikut program yoga hamil juga.
Kehamilan Nakula benar-benar lancar tanpa kendala, bahkan dokter kandungan pun senang mendengarnya. Kehamilan adalah suatu kondisi yang selalu diikuti dengan lonjakan hormon fluktuatif, namun Nakula stabil sepanjang prosesnya. Ia masih Nakula yang biasanya, yang berbeda hanyalah perutnya yang membesar dan pipinya yang menggembul lucu.
Yang rewel justru Sadewa.
Sadewa yang tiba-tiba morning sickness, kepingin makanan random di jam-jam tidak wajar, bahkan panik jika Nakula tidak ada bersamanya. Nakula pengin tertawa karena kondisi mereka seolah tertukar dan lucu, tapi ia kasihan karena Sadewa terlihat menderita. Saat pertengahan trimester kedua, ia menurut dengan permintaan Sadewa untuk mengambil cuti. Sadewa sendiri, setiap ada waktu, selalu mencuri waktu untuk menduselkan wajahnya di leher jenjang Nakula. Bahkan, Nakula mau mengambil es krim ke dapur pun ditempeli Sadewa. Kadang ia kesal dan kelepasan meninggikan suaranya, tapi berakhir tidak tega karena tampang Sadewa persis anak anjing yang dibuang dengan semena-mena.
"Kau itu kenapa sih? Kan aku yang hamil kok kau yang rewel?”
Nakula bertanya di suatu pagi, saat ia mencukurkan rambut-rambut halus yang mulai muncul di dagu Sadewa. Nakula kapok pernah lecet di pipi gara-gara Sadewa menduselnya kelebihan agresif sehingga Nakula pada akhirnya mengeluarkan ultimatum yang membuat Sadewa berasa ada petir menyambarnya kala siang bolong. Yaitu: tidak ada cium-cium sebelum Sadewa cukuran. Akhirnya Sadewa rajin untuk bercukur, setiap dua atau tiga hari sekali demi Nakula tidak menolak cuteness agression-nya yang acap kali memuncak.
Bagaimana tidak? Suami hamilnya ini benar-benar cantik dan menggemaskan. Seiring perutnya yang membesar dan berat badannya yang naik, pipi Nakula pun ikut bulat, seperti pao putih yang baru diangkat dari kukusan, begitu kenyal dan lembut. Hangat sekali.
Tangan Sadewa mengait di belakang pinggang Nakula, matanya melirik perut yang menyembul di piyama yang dikenakan Nakula, ia usap lembut suatu kehidupan yang terbentuk di sana. "Berat kan?"
"Apanya?"
"Bawa adek."
"Biasa aja kok,"
"Tapi sering pegel kan?"
"Ah pegel aja kok, biasa."
"Aku bisa cium bau freshcare ya," Sadewa menahan tawa, menyenangi sensasi lembut perut bulat Nakula di ujung jarinya. Piyama Nakula sudah tidak bisa muat lagi untuk mengakomodasi perutnya yang membesar, hanya mampu tertutup di kancing kedua dan ketiga. Nakula seringkali mengeluhkan hal itu namun Sadewa diam-diam menyukai pemandangannya; menggemaskan, seksi dan seduktif.
Nakula mengusap dagu Sadewa dengan handuk basah hangat, mengagumi hasil kerjanya yang rapi dan cepat. Si netra biru itu akhirnya meraih wajah Sadewa mendekat dan memberinya kecupan di sepanjang pipi dan dagu, lalu menitipkan kepakan kupu-kupu di bibir sebagai penutup. Ia terkikik pelan setelahnya saat Sadewa membalas dengan ciuman tipis di bibirnya, seolah tidak rela rangkaian afeksi itu berakhir begitu saja.
"Keluhanku kan pegel aja, sayang. Lebih parah kamu kali. Sampai demam juga kan kamu kemarin? Lihat, kamu sampai kurusan begini. Aku sedih."
"Yang sekarang lebih penting kan kamu. Kamu udah berkorban besar, Nakula. Hamil kan nggak gampang. If i can bear all of those symptoms for you, then let me. Aku nggak mau kamu nanggung semuanya. Apapun kondisinya, aku mau usahakan kamu sehat dan bahagia. That's my priority for now, jagain kamu sama adek. Rasanya berterima kasih juga kurang untuk hadiah terbaik ini. I have everything I asked for in my embrace. Nakula, as always, thank you for choosing me."
"Ih, nggak suka ah mellow tanpa warning begini."
Sadewa terkekeh pelan melihat bibir Nakula mengerucut dan bergetar, namun pada akhirnya bendungan di sudut mata Nakula bocor juga. Manik sewarna langit itu retak dalam aliran sungai pelan, yang dengan lembut diusap Sadewa.
"Kan, aku jadi nangis.”
“Loh, nggak papa. Aku kan nggak pernah melarang kamu.”
“Nggak suka, jadi jelek."
"Nonsense, jelek darimana?” Sadewa mengecup ujung hidung Nakula yang memerah, sedikit geli melihat Nakula bahkan masih begitu menggemaskan di saat ia emosional, “kamu langit paling cantik, cantik sekali."
Nakula mendengus pelan mendengar gombalan tiba-tiba itu. "Kalau mendung masih tetap cantik?"
"Aku cinta langitmu, mau itu mendung, berpetir, hujan, atau kelam tanpa bintang. Aku peluk semuanya tanpa kecuali."
"Walaupun petirnya bisa nyakitin kamu juga? Masih terima?"
Sadewa menangkup wajah Nakula, jempolnya mengusap pipi yang bersangkutan. Pandangannya teramat lembut, seakan seluruh kasih sayang yang ia punya bisa diraba oleh Nakula dan ia tidak malu untuk menampilkannya. “Aku cinta kamu, Nakula Nalendra, mau itu cahayanya atau retakannya. Aku cinta kamu secara utuh.”
Nakula menarik napas, suaranya terdengar lucu karena tiba-tiba menangis. Efek hormonal yang jelas ada pada Nakula sekarang adalah ia sangat gampang untuk terharu. Air matanya kini mengalir deras lagi. “Kamu sudah terjebak denganku sampai tutup usia dan kehidupan selanjutnya ya, Sadewa Sagara. Awas saja kalau tiba-tiba mau refund.”
"Gladly. Mau garansi uang kembali 100% juga nggak bakal refund."
Nakula tergelak pada akhirnya, meninju pelan pundak lebar Sadewa yang kokoh, terkekeh pelan kala bibir Sadewa menempeli setiap jengkal wajahnya, menghujaninya dengan kasih sayang yang tak sanggup ia ukur lagi, tumpah ruah dan menyesakkan dada. Seperti soda dan permen kapas, melebur dalam kejutan lembut.
Tangan Sadewa kini kembali menempel pada perut Nakula selagi ia menelan suara lembutnya yang bagai melodi, memanjakan telinganya dengan sopan. Napas Nakula terasa seperti es krim vanilla yang sebelumnya ia makan dengan hint melati tipis dari pengharum pakaiannya.
Oh, jika bisa, Sadewa ingin memuja Nakula di setiap detik yang tersedia.
Thump!
Sesuatu membuat Sadewa tertegun tiba-tiba, ia menatap Nakula dengan antusiasme juga keterkejutan kekanakan yang manis. "T-tadi, adeknya gerak ya?"
Nakula tertawa lagi, mencium Sadewa dengan senyuman lebar, kemudian mengangguk dan menaruh telapak tangannya di atas telapak tangan Sadewa. Ia tahu Sadewa menyadari apa yang baru saja terjadi, namun konfirmasi ringan tidak akan pernah salah.
"Iya, ayah.” Nakula kini memutuskan untuk menggunakan panggilan yang ia siapkan sejak lama untuk Sadewa, reaksi suaminya sangat sesuai prediksinya. Matanya sewarna senja itu membulat, antara senang dan tidak meyangka, rasa harunya membuncah dan mencapai Nakula juga. “Tadi adek barusan nendang. Tahu nggak, adek selalu aktif gerak tiap kali ayahnya ada? Tapi kali ini entah kenapa nendangnya kencang banget, kaget aku.”
“Eh? Kencang gimana? Sakit, kah? Kamu nggak papa, Na? Mau duduk aja?”
Lagi-lagi Nakula terkekeh geli mendapati kekhawatiran Sadewa, “Nggak sakit sama sekali, kok. Tapi adeknya mau dinotis sama ayah, mau cepat-cepat main sama ayah kayaknya.”
Kini ganti Sadewa yang berkaca-kaca, ia akhirnya berlutut dan menciumi perut Nakula yang terekspos dari balik piyamanya yang tidak terkancing. Wangi Nakula selalu lembut seperti sprei yang baru dicuci dan baby oil varian almond. Menyenangkan dan menenangkan di saat yang sama.
"Astaga, maaf a-ayah nggak peka ya, adek," kecanggungan Sadewa membuat Nakula gemas, ia mengusap lembut puncak kepala Sadewa dan mengangguk, mengizinkan Sadewa untuk melanjutkan, "nanti kita bakal banyak main sama ayah ya, sama... mamah juga?"
Nakula mengangguk, senyumnya masih terpatri nyata, bahkan netra birunya yang sewarna langit itu seolah ikut tersenyum menyambut janji manis itu. "Iya, sama mamah juga. Kita bakal main terus sampai nanti saatnya adek lahir ya?"
"Jadi adek sekarang jangan bikin mamah capek ya? Janji sama ayah, dalam perut pun harus jagain mamah. Oke? Gerak lagi artinya setuju."
Seolah merespon, gerakan kembali terlihat di permukaan perut Nakula. Setuju dengan ucapan Sadewa yang memintanya berjanji, seakan menyanggup perjanjian di antara keduanya. Sadewa dan Nakula lagi-lagi bertatapan, sama-sama terperangah akan balasan yang tidak disangka.
"Adeknya gerak lagi! Wow!" Sadewa berseru, kagum. Rasa senang dan kebahagiannya terasa tumpah ruah dan meletup-letup. Masih berlutut, ia menempelkan pipinya di perut Nakula. “Aduh, ayah tidak sabar ketemu adek. Nanti kita main seharian, ya? Tapi adek jadi anak baik dulu dan jangan repotin mamah, oke?”
Thump!
Gerakan kembali terasa tepat di bagian Sadewa menempelkan pipinya ke perut Nakula.
“Aduh, anak kita pintar banget, Na,” air mata Sadewa kembali bercucuran, kembali mendusel sehingga membuat perut Nakula ikut basah, “apa kita ubah aja halaman rumah jadi kolam renang atau taruh ring basket mini? Ada bakat atlet sepertinya anak kita, Na.”
Nakula tergelak melihat kelakuan Sadewa, menyeka pipi suaminya itu setelah ia tarik supaya kembali berdiri dari posisinya. "Terserah kalian lah, aku bagian iya-iya aja!”
Sadewa kembali tertawa, diikuti Nakula. Ia kemudian beranjak dari posisinya dan menggendong si cantik yang sedang hamil tua ini di tangannya dengan gampang.
“Na,”
“... hm?”
"Thank you for giving me the best title in the world, Nakula."
"Titel apa?"
"Your man and father of our son." [ ]
-T A M A T-
