Actions

Work Header

i hate you! (you're so pretty, it hurts...)

Summary:

“Makasih, Gavi. Temenin tidur juga, ya? Gavi mau, kan?” Senyum manis terukir menghiasi wajah Khaled. Cantik jelita, siapa Gavian hingga tega menolak permintaannya yang menggemaskan? Ya Tuhan, Gavian mohon kembalikan Khaled yang pemarah sebelum kewarasannya berangsur-angsur menghilang. 

Notes:

Heyyo, udah lama aku gak nulis di sini, sedikit kangen, this is my first time nulis Markkeon ya karena mereka lucu, imut, gemas, dan peluk-pelukan. Selamat membaca Api ❤️ Ale! Selamat down bad juga untuk Gavian...

Keonho as Alkhaled Amir Habibi
Martin as Gavian Sebastian Gabriel

Cerita lengkap bisa dibaca di X @layingonmars.

Work Text:

I love you.

Khaled ingin sekali memaki Gavian yang seringkali mempermainkannya sesuka hati. Andai lelaki tinggi itu kini memasang wajah tanpa dosa di hadapannya, sudah pasti akan Khaled sumpah serapahi. Karena tiga kata tak berarti yang Khaled pikirkan setengah mati, sekarang ia jadi demam tinggi hingga tak mampu berdiri. Matanya pedih bahkan untuk dikerjapkan sakit sekali. Berengsek kamu, Gavi. Lihat saja nanti akan Khaled jambak rambutnya sampai jadi jabrik lagi.

Dengan susah payah, Khaled menarik laci nakas di samping tempat tidurnya. Mungkin saja tersimpan beberapa obat untuk meredakan demam supaya ia bisa tertidur pulas, tanpa panas yang terus-menerus membuatnya berkeringat. Bunyi gesekan besi berdenging di telinganya, menggema di kamarnya yang sunyi. Tak menghiraukan rasa pusing yang menghampirinya, Khaled mengedarkan pandangnya ke dalam isi laci. Bukan obat yang dilihatnya, melainkan jaket kulit berwarna hitam yang terlipat rapi. Siapa lagi pemiliknya jika bukan Gavian? 

Ah, Khaled baru ingat kalau jaket yang dipinjamkan Gavian kala mereka staycation ke vila daerah Merapi belum ia kembalikan. Kalau saja ia tidak diminta memakai jaket Gavian, tubuhnya pasti akan menggigil mengetahui betapa rentannya Khaled terhadap suhu dingin. Sudahlah, ia sedang tidak ingin memikirkan Gavian dan tingkahnya yang makin hari makin sulit dimengerti. 

Jari-jari Khaled kembali merogoh panik ke dalam laci hingga ia ingat jika obat-obatan yang dia bawa waktu itu tertinggal di tas Gavian. Memang sialan. Katanya, badannya yang kecil tidak akan pernah tinggi kalau membawa barang berat. Jadilah Gavian bersikeras merebut bawaan Khaled atau lebih tepatnya memaksa Khaled untuk menaruh seluruh barang mereka ke tasnya. Tentu Khaled dalam hati berterima kasih, tetapi untuk mengatakannya langsung pada Gavian? Tidak, dia tidak ingin memberi makan ego si jamet tiang.

Menghela napas pasrah, Khaled kembali terbaring di kasur empuknya sambil memandang langit-langit kamar. Tidak mungkin juga nyawanya direnggut keesokan hari karena demam, kan? Dengan senyum lemah, Khaled mengurungkan niatnya untuk mengetikkan pesan di ruang obrolannya dengan Gavian. Lagi pula, Khaled sedang tidak ingin bertemu Gavian, lelaki berambut pirang dengan mulut manis yang punya sejuta gombalan. Sebenarnya daripada benar-benar tidak ingin bertemu, Khaled cenderung tidak tau bagaimana harus bersikap. Namun, diam-diam saja, ya.

Kantuk kembali menyapa mata Khaled yang sekarang mulai sayu. Dipeluknya boneka kelinci merah muda yang kontras dengan nuansa kamar monokrom hitam putih bak judul lagu Tulus. Tubuhnya meringkuk, berbaring menyamping menghadap dinding. Selimut menenggelamkan seluruh tubuh Khaled tanpa tersisa, begitu pun gelap yang ikut meredupkan binar di iris cokelat tuanya. Selamat tinggal dunia. Yah, sepertinya Khaled tak jauh berbeda dengan laki-laki pada umumnya yang mengeluh hidupnya tak akan lama lagi hanya karena demam.

 


 

Ini bukan pertama kalinya Gavian menjejakkan kaki di kos Khaled, sudah seperti kos sendiri Gavian asal memarkirkan motornya sembarangan. Langkahnya tergesa menuju tangga, secepat debaran jantungnya yang tidak sabar ingin bertemu. Bukan apa-apa, Gavian datang hanya untuk mengambil jaket kesayangannya yang ia lupa ternyata ia miliki. Atau sebenarnya dia membuat-membuat alasan hanya untuk melihat Khaled setelah terpisah dua minggu lamanya? Entahlah, Gavian lebih suka yang pertama karena mustahil untuknya meyakini yang kedua meski semburat kemerahan di kulitnya berkata sebaliknya. 

Menggelengkan kepala, Gavian mengalihkan pandangannya ke bubur kacang hijau di jinjingannya. Sudah jelas jika Gavian tidak ingin sekadar mengambil jaketnya yang tertinggal lalu pulang, tetapi menghabiskan waktu bersama dengan sarapan. Gavian tidak terbiasa makan nasi di pagi hari, sedangkan Khaled kerap kali melewatkannya jika tidak ditemani. Jadi, sudah seperti rutinitas Gavian datang secara acak ke kos Khaled hanya untuk mengganggu tidur paginya dengan makanan. Anehnya, Gavian selalu beralibi jika lebih hemat membeli dua, paket pasangan katanya. Memangnya mereka ini couple apa? 

Sampai di depan kamar yang bertuliskan nomor 202, Gavian mengetuk pelan pintu berbahan kayu, tak disangka gerakan kecilnya justru membuka sedikit celah. Rupanya Khaled lagi-lagi lupa mengunci pintu kamarnya dari dalam, tidak sekali dua kali begini. Untung saja yang datang hanya Gavian, bukan penjahat yang berniat menjualnya seharga uang parkir. 

Suara rintihan lirih menyentak lamunan Gavian, buru-buru dibukanya pintu kamar Khaled tanpa permisi. Persetan dengan adab dan kesopanan sepertinya ada yang salah dengan keadaan temannya. Pandangannya langsung jatuh ke gundukan selimut, kantung plastik berisikan makanan yang dibelinya tadi diletakkan ke meja belajar Khaled. Mungkin nanti Khaled akan memarahi Gavian telah membuat laporan praktikum yang telah ditulisnya semalaman menjadi berbau bubur kacang hijau. Jujur saja, Gavian tidak pernah kesal dimarahi Khaled karena menurutnya raut cemberut lelaki beralis tebal itu cukup lucu. 

Belum sempat Gavian menyingkap selimut Khaled, suara mengigau menghentikan niatnya. “Gavian jelek sama Aya mulu… Liat aja kalau ketemu, gua jambak rambut lu,” gumam Khaled dalam tidurnya yang diiringi dengan isak tangis. Tanpa berpikir dua kali, tangan Gavian menyibakkan selimut yang membungkus Khaled. Didapatinya Khaled yang panas dengan wajah memerah dan leher berpeluh berkeringat. Rasa bersalah melingkupi hati Gavian, sepertinya ia telah keterlaluan sampai Khaled meracau di tengah tidurnya dengan mata sembab.

“Hey Khaled, you okay?” Ditepuknya pipi Khaled yang merona karena demam yang tak kunjung mereda. Tangan Gavian bergerak ke bahu Khaled, diguncang perlahan, sekadar memastikan jika Khaled masih siuman. Masih bergeming, Khaled tetap terbaring lemas tanpa ada tanda-tanda pergerakan. Punggung tangan Gavian beralih ke dahi Khaled untuk mengecek suhu badannya, panas sekali sampai-sampai Gavian segera menjauhkan tangannya karena terkesiap dengan perbedaan suhu yang tiba-tiba. Tangannya yang lain sibuk menyeka air mata Khaled, dibelainya pipi Khaled sampai tersisa jejaknya saja. 

“Hiks… Sakit…” Suara erangan Khaled kembali terdengar. Dengan mata yang terpejam, Khaled berusaha memeluk apa saja yang ada di dekatnya sebab boneka kelinci kesayangannya telah terlepas dari dekapan. Gavian yang sedikit menunduk usai mengusap tangisan Khaled menjadi hal yang paling dekat dari Khaled untuk diraih. Masih dengan kesadaran yang kurang dari seperempat, jari-jari Khaled bertaut melingkari leher Gavian. Badan Gavian direngkuh erat Khaled hingga terhuyung lalu terjungkal di ranjang yang sama. Kalau saja Gavian tidak menahan arah jatuhnya, mungkin dia sekarang telah menindih Khaled. 

Dejavu dirasakan Gavian dikala tubuhnya membeku ditemani detak jantung yang tak menentu. Harus ia akui saat ini dia salah tingkah. Terlalu dekat, helaan napas Khaled bahkan menyapu bulu halus di lehernya. Seketika Gavian merinding, tetapi tak mampu juga ia menjauhkan diri ketika Khaled merengkuhnya semakin erat terkesan tidak ingin ditinggalkan.

“Sakit di mananya, Khal?” tanya Gavian dengan suara yang dipaksakan lantaran pasokan udara di sekitarnya terasa menipis. Tak diketahuinya pertanyaan sederhana ini nanti akan mengantarkan Gavian ke penghujung kematian — terjebak pada kebersamaan yang mendebarkan.

“Sakit di sini,” jawab Khaled lemah, masih belum tergugah. Sementara itu, lengan Gavian terkulai canggung di sisi tubuhnya, bimbang ingin membalas pelukan atau diam dalam posisi tidak nyaman. Nyatanya, Khaled lebih tahu bagaimana harus memperlakukan lengan Gavian karena kini jemari lelaki tinggi itu telah digenggam. 

Napas Gavian seketika tercekat, hatinya memang tak pernah dipersiapkan untuk bersentuhan langsung dengan Khaled. Belum selesai penderitaan Gavian karena tangan dan hatinya yang dicuri, kini jari-jarinya telah diarahkan Khaled untuk menangkup pipi. Panas di pipi Khaled perlahan menyebar hingga membentuk semburat merah yang menyala di pipinya sendiri. Dalam batin, Gavian kembali mengingatkan diri jikalau Khaled adalah saingannya, tidak lebih.

“Muka aku panas. Tangan kamu dingin, aku suka.” Telapak tangan Gavian yang menekan pipi Khaled, membuat Khaled terlihat seperti menggerutu dengan bibir yang cemberut.

Aku suka.

Aku. Suka.

Bisa gila, Khaled yang memakai kata ganti aku-kamu ternyata jauh lebih imut dari yang dibayangkan Gavian. Ini pujian semata ya, bukan berarti Gavian suka apalagi jatuh cinta. 

“Begini dulu lima menit.” Gavian tidak keberatan juga sebenarnya kalau harus terjebak lebih dari lima menit. Tak apa berhimpitan di ranjang sempit selama dia bisa menghilangkan sedikit rasa sakit Khaled dengan pelukan. Dari jarak sedekat ini, Gavian luar biasa terpesona — yang mutlak tidak ingin ia akui. Bohong jika Gavian tak pernah menganggap Khaled tampan. Namun, dia tak pernah mengira kalau wajah Khaled jika diperhatikan fitur wajahnya satu per satu akan terlihat cantik jelita. Seribu candi dalam semalam rasanya belum cukup untuk menukar keindahannya.

Bulu matanya panjang lentik, alisnya tebal rapi, matanya bulat berseri, mudah terlihat semburat merah muda di pipi, senyumnya manis, belum lagi bibirnya yang ra — 

Bruk.

Terlalu asyik terpana pada pahatan wajah Khaled yang begitu sempurna, ia tak menyadari jikalau lelaki yang merengkuhnya telah terbangun dari tidur lelapnya. Semulanya Khaled mengerjapkan matanya pelan, berkali-kali ia berkedip sembari mengais secercah kesadaran. Sayang sekali, yang dilihat Khaled tak lain dan tak bukan adalah Gavian, yang dengan kurang ajarnya berbagi kehangatan melalui belaian dan dekapan. 

Khaled yang serta-merta terheran-heran, membelalakkan matanya. Tak lupa mendepak seluruh raga Gavian dari ranjang kesayangannya hingga terjatuh bersentuhan dengan lantai keras. Nyeri  dirasakan Gavian tatkala punggung kepalanya terkena benturan, refleks ia mengaduh kesakitan sembari memejamkan matanya. Menyesal ia sempat memuji lelaki pemarah ini cantik jelita meski hanya disuarakan dalam benaknya. “Sakit gini masih kuat aja tenaga lo ya, Khal. Gak heran preman pasar.”

“Bacot, Kang Modus. Gak sudi gua dipeluk-peluk sama lu,” sahut Khaled menampakkan wajahnya yang cemberut. Pipinya menggembung dan alisnya mengerut. Imut. Tunggu, kata hati siapa itu… 

Menutupi sensasi tercekat di tenggorokannya lantaran salah tingkah yang datangnya dari antah berantah, Gavian berdeham pelan. Tak mau disalahkan Gavian ingin sekali menjelaskan alibinya panjang lebar. Namun, ia sendiri tak sepenuhnya yakin dan berujung menggumamkan rentetan kata pembelaan dengan lemah, “Lo yang meluk gue duluan kalau lo lupa.”

Sedikit sorot kesedihan terdengar sepersekian detik, hilang samar ketika Gavian mendudukkan diri. Ditopangnya badan yang masih linu di pinggang dengan siku tangan sebelum mencoba bangkit. Tak berjalan mulus sebab lemparan bantal guling dari Khaled menghalanginya berdiri.

“Bohong banget, mana mungkin gua kay —” Bersin memotong perkataan Khaled yang penuh sungut, ingus ikut serta keluar dari hidung. Gavian yang kini berpijak dekat dengan nakas, spontan menyambar selembar tisu. Diraihnya wajah Khaled sembari berlutut di samping kasur, membuat Khaled seketika mematung. Masih belum menyadari kedekatan keduanya yang terpaut hanya beberapa senti, Gavian mengusap ingus Khaled — tangan lainnya bertumpu pada dagu.

“Udah diem dulu, ya? Marah-marah ke guenya kapan-kapan lagi.” Entah nyali yang datangnya dari mana, jari tangan Gavian terulur mengusak helai rambut di puncak kepala Khaled. Seakan kejadian barusan tak berarti apa-apa, Gavian hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke meja dan beranjak ke sana. 

Khaled termenung. Tubuhnya kaku tersipu, menambah jejak kemerahan di pipinya yang bersemu. “Gavian jelek. Berantakan, Bego.” Gugup membuat Khaled menyelipkan helaian rambut yang menutupi sisi wajahnya ke daun telinga.  Masih menunduk menghindar tatap mata Gavian dari seberang, Khaled mencoba memecah keheningan sementara. 

“Ngapain lu ke sini?” Pertanyaan yang seharusnya jadi topik pembuka percakapan mereka. Tak berselang lama, gelas berisikan air disodorkan hingga dapat ditangkap jarak pandang Khaled. Kala Khaled menengadahkan kepalanya, Gavian hanya mengangguk sebagai isyarat untuk minum. Khaled kesal, ia benci jika Gavian memberinya perhatian seakan dirinya teman spesial. 

Menelan kepahitan yang perlahan menyeruak dalam dadanya, Khaled meraih gelas dengan tangan yang gemetar. Jemari mereka bersinggungan saat gelas itu berpindah tangan, tanpa sengaja Khaled menyentuh punggung tangan Gavian yang masih menggenggamnya. Hangat menjalar dari ujung jari hingga ke pipi, dengan tergesa Khaled membawa gelas penuh air itu ke bibir. Meneguknya habis berharap haus sekaligus riak perasaannya ikut luruh. 

“Uhuk—khuk!” Khaled membungkuk seraya menutup mulut, air yang diteguknya terlalu cepat membuat dirinya terbatuk-batuk. 

“Pelan-pelan. Batuk, kan.” Telapak tangan Gavian terangkat ragu sesaat sebelum akhirnya mendarat di punggung Khaled, mengusapnya beberapa kali dengan gerakan hati-hati. Bahu Khaled masih berguncang mengikuti dahak yang tak kunjung mereda, maka Gavian beralih menepuk-nepuk leher Khaled. 

Kalau saja Gavian bukanlah lelaki yang tidak pekaan, mungkin dia sedikitnya sadar jika wajah Khaled yang semerah tomat itu tak lagi sepenuhnya disebabkan demam. “Gak usah pegang-pegang,” ujar Khaled ketus, ditepisnya pergelangan tangan Gavian menjauh. 

Gavian yang telah terbiasa dengan perangai Khaled hanya bisa menghela napas. “Gue mau ngambil jaket. Terakhir lo pinjem, kan?” Dialihkan pandangannya ke sekeliling ruangan seakan jaket kulit berwarna hitam itu bisa berkamuflase dengan warna putih dinding kamar Khaled.

“Pinjem-pinjem, lu yang maksa kocak. Ada tuh di laci,” balas Khaled dengan menggerutu, matanya menatap Gavian garang menunjukkan kekesalannya. Namun, jangankan menganggap Khaled galak, Gavian malah harus menahan rasa gemas. Hah? Apa-apaan sih. Gavian dengan panik menggelengkan kepalanya, meski kembali ia tersipu malu dengan tangannya yang mendadak menyentuh tengkuk. 

Tidak tahan dengan suasana canggung yang seketika menghinggapi dirinya, Gavian berniat melarikan diri ke mana saja asalkan tak lagi berduaan dengan Khaled. Tangannya kini sibuk menggeledah isi laci, sedangkan pikirannya sibuk memutar otak mencari alasan yang terdengar masuk akal untuknya kabur dari kekacauan ini. Begitu ditemukan, jaket itu ditepuk-tepuk sekilas sebelum disampirkan di bahu. 

Gavian melangkahkan kakinya cepat menghampiri meja belajar di sudut ruangan, selanjutnya mangkuk bubur yang masih utuh dibawa untuk diletakkan di atas nakas dekat ranjang Khaled. “Khal, nih buburnya dimakan. Gue keluar dulu ya beliin lo obat.”  

Ketika hendak beranjak selangkah menjauh, jari kelingkingnya dicekal oleh genggaman tangan Khaled. “Gak mau.” Tanpa disangka suara yang keluar dari bibir Khaled lebih seperti rengekan, ia menunduk menghindari tatapan Gavian.

Langkah Gavian terhenti, alisnya terangkat, sedikit kaget dengan perubahan tingkah Khaled yang menurutnya terlalu tiba-tiba. “Hah?”

“Gak mau ditinggal sendirian. Temenin makannya.” Khaled memalingkan wajahnya yang terlihat merajuk, pipi bulatnya mengundang Gavian untuk mencubit. Eh? Kacau sudah otak Gavian, segera ia harus pergi dari sini apa pun yang terjadi.

Perlahan jari-jari Khaled yang melingkupi kelingkingnya, Gavian lepaskan. “Iya nanti, ya. Gue beli obat dulu biar habis makan, lo minum obat.” Dianggap pengertiannya sudah cukup, Gavian kembali berjalan menuju pintu. 

Baru saja Gavian ingin memutar gagang pintu, ia dikejutkan kembali dengan suara isakan. Kepalanya menoleh untuk mendapati Khaled terduduk dengan bahu yang bergerak naik turun. Tangan Khaled lekas mengusap air mata, mungkin kata-kata Gavian tadi dianggap sebagai sebuah penolakan. Bodoh sekali dirinya selalu membuat Khaled sedih. “Kok nangis?” tanya Gavian khawatir, berbalik sepenuhnya mendekati ranjang.

“Tangannya juga sakit…” jawab Khaled lirih sambil menunjukkan tangannya yang sedikit memar. Gavian ingin menyentuh tangan Khaled untuk melihat lukanya dengan lebih lekat, tetapi ia teringat perkataan Khaled untuk tidak memegangnya. Jadi, Gavian tarik kembali tangannya yang sempat terulur, membiarkannya menggantung kikuk di sisi tubuhnya.

Gavian bukanlah orang yang pandai meredam kesedihan orang lain sehingga di pikirannya hanya terbersit keinginan meminta maaf. “Sorry Khal, gue serius gak tau. Iya gak jadi pergi, jangan nangis…” Hening sejenak hingga suara Gavian kembali terdengar, “mau disuapin aja makannya?” 

Terkait kalimat yang terakhir, Gavian sendiri bingung kenapa tiba-tiba mengatakannya. Ternyata ia memang lemah, cepat sekali ia goyah pendirian dan berujung luluh pada lelaki yang seharusnya jadi saingannya itu.

Terlampau senang keinginannya diiyakan oleh Gavian, Khaled merentangkan tangannya lalu melingkari leher Gavian dengan pelukan. Panas, begitupula sekujur tubuh Gavian yang seketika ikut merasakan demam. Gila, ia bisa gila. Napas hangat Khaled menyapa ceruk leher Gavian, dahinya bersandar nyaman di sana membuat Gavian meremang.

Perlu waktu setidaknya beberapa menit hingga Gavian tersadar dari lamunannya. Keraguannya telah memudar, tangannya sekarang bergerak membalas pelukan. Direngkuhnya pinggang Khaled dengan telapak tangannya, menepuk pelan dalam tempo konstan sebagaimana menenangkan orang yang sedang menangis.

“Makasih, Gavi. Temenin tidur juga, ya? Gavi mau, kan?” Senyum manis terukir menghiasi wajah Khaled. Cantik jelita, siapa Gavian hingga tega menolak permintaannya yang menggemaskan? Ya Tuhan, Gavian mohon kembalikan Khaled yang pemarah sebelum kewarasannya berangsur-angsur menghilang. 

Begitulah cerita Gavian malih rupa menjadi guling Khaled untuk kedua kalinya. Kalau mengira Gavian keberatan dan melakukannya dengan terpaksa, jawabannya salah mutlak. Ia justru diam-diam tersenyum tipis mengambil setiap kesempatan berdekatan dengan Khaled.

Gavian jadi berandai-andai jikalau benar demam menjadi alasan Khaled bertingkah manja, mungkin esok hari ia akan sering-sering mendatangi kos Khaled untuk makan es krim bersama. Yah, itu bisa Gavian rencanakan nanti. Untuk hari ini, doakan saja tetangga kos Gavian tidak bosan mendengarkan lagu Sssst… oleh Sore yang akan Gavian nyanyikan berulang ketika pulang.

Series this work belongs to: