Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Fatamorgana
Stats:
Published:
2026-09-14
Words:
2,310
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
19
Bookmarks:
2
Hits:
128

Namun sayang semuanya tak nyata, kau hanyalah Fatamorgana

Summary:

Edward bertemu Jenna di taman belakang bangsal, seorang laki-laki cantik yang datang entah dari mana dan perlahan menjadi satu-satunya orang yang membuatnya merasa tidak sendirian.

Mereka berbagi sore, buku, janji, dan mimpi tentang sebuah rumah kecil di tepi laut. Sampai suatu malam, Jenna pergi tanpa meninggalkan apa pun selain perasaan bahwa ada sesuatu yang salah.

Ketika Edward mulai mencari, tidak ada seorang pun yang mengenal Jenna.

Tapi kalau Jenna memang tidak pernah ada, lalu siapa yang selama ini menemaninya?

Notes:

Author's Note:

hi! just a little heads up before you read this.

this story contains themes of schizophrenia, hallucinations, mental illness, and suicide attempt. please read at your own discretion and take care of yourself <3

Aku nulis cerita ini pas lagi denger lagunya rumah sakit and i feel like I should write huhu, so maaf kalo tulisan ku kinda freak hehe

thank you for reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Taman di belakang bangsal masih basah. Air menggenang di sela-sela batu, daun-daun meneteskan sisa hujan, dan udara membawa bau tanah yang membuat Edward teringat pada sesuatu yang tidak bisa ia ingat. Di ujung taman, melewati deretan pohon dan pagar rendah yang mulai ditumbuhi lumut, laut terbentang luas di bawah langit kelabu. Permukaannya masih beriak oleh sisa hujan, sesekali menangkap cahaya pucat dari matahari yang berusaha menembus awan.

Angin dari arah pantai membawa aroma asin yang tipis. Suara ombak terdengar jauh, begitu pelan hingga hampir menyerupai bisikan.

Sore itu, perhatiannya justru tertuju pada ombak di hadapannya. Gelombang-gelombang kecil datang dan pecah di tepian pantai, lalu surut kembali sebelum gelombang berikutnya menyusul. Edward tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di sana ketika seseorang tiba-tiba mengambil tempat di sebelahnya.

“Kalau terus dilihatin, memangnya ombak itu bakal berhenti?”

Edward menoleh.

Seorang laki-laki dengan paras yang begitu indah berdiri beberapa langkah darinya. Rambut coklatnya tertata rapi, jatuh lembut membingkai wajahnya. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang berwarna hitam, kedua tangannya terselip santai di dalam saku.

Ada sesuatu dari wajahnya yang membuat Edward terpana dan menatap sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Bukan hanya karena wajah laki-laki itu tampan. rasanya seperti ada kelembutan pada garis wajahnya, sesuatu yang sulit lumayan sulit untuk dijelaskan dan entah mengapa membuatnya terlihat hampir tidak nyata di bawah cahaya sore yang masih pucat setelah hujan.

Laki-laki itu kemudian duduk di sebelahnya, memandang taman dan laut di hadapan mereka, seolah-olah tempat itu memang sudah menjadi bagian dari dirinya.
Edward menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.

“Ah, eh... oh, iya. Kenapa?” Ujar 


Laki-laki itu tersenyum.


“Berarti kamu lagi cari kegiatan?”


“Bisa dibilang begitu.”


“Kalau gitu, aku boleh duduk di sini?”


Edward menggeser tubuhnya sedikit.


“Boleh.”

Mereka kembali diam. Namun, diam kali ini tidak terasa seperti sesuatu yang harus diisi. Edward justru merasa nyaman, meskipun ia tidak tahu kenapa.

"Nama kamu siapa?" tanyanya.

"Jenna."

Edward mengangguk pelan.

"Aku Edward."

"Aku tahu."

Edward menoleh lagi. "Tahu dari mana?"

Jenna tertawa kecil. "Kamu sering duduk di sini."

"Kamu sering lihat aku?"

"Kadang-kadang."

"Terus kenapa baru sekarang nyapa?"

Jenna mengangkat bahu. "Mungkin baru sekarang aku berani."

Edward tidak tahu kenapa jawaban itu membuatnya tersenyum.

Jenna kemudian menunjuk buku di pangkuan Edward.

"Kamu suka baca?"

"Kadang."

"Buku apa?"

Edward membalik sampulnya. "Novel."

"Boleh lihat?"

Edward menyerahkannya.

Jenna menerima buku itu dengan kedua tangan, lalu membalik beberapa halaman. Ia membaca sebentar, kemudian tersenyum kecil.

"Kamu suka bagian yang sedih ini?"

Edward mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Karena dari tadi kamu cuma baca halaman yang sama."

Edward menatap buku itu.

Halaman yang sama.

Ia tidak sadar.

"Aku cuma suka bagian ini."

Jenna mengangguk, lalu mengembalikan buku itu.

 

"Kalau begitu, jangan dipaksa selesai."

Edward menatapnya.

"Kenapa?"

"Kadang-kadang cerita yang belum selesai justru lebih enak."

Edward tidak tahu kenapa kalimat itu terasa seperti sesuatu yang pernah ia dengar.

Bukan dari Jenna.

Atau mungkin memang dari Jenna.

Ia tidak yakin.

Mereka berbicara sampai langit berubah menjadi warna kelabu kebiruan. Jenna bercerita tentang hal-hal kecil yang tidak penting, tentang bagaimana ia tidak suka hujan tetapi menyukai bau tanah setelahnya, tentang bagaimana ia ingin pergi ke laut suatu hari nanti, dan tentang sebuah rumah kecil yang menurutnya akan terasa lebih hangat jika memiliki jendela besar.

Edward mendengarkan semuanya.

"Jenna, kamu suka laut?" tanyanya.

"Banget."

"Kenapa?"

Jenna memandang ke arah taman.

“Aku suka laut karena dia luas banget. Kalau aku berdiri di depannya, aku selalu ngerasa ada tempat lain yang bisa aku datangi, meskipun aku nggak tahu tempat itu di mana. Dan mungkin itu yang aku suka. Perasaan bahwa aku masih bisa pergi, meskipun sebenarnya aku nggak pernah benar-benar ke mana-mana.”

Edward tidak langsung menjawab.

Lalu ia berkata, "Kayaknya aku ngerti."

Jenna menoleh kepadanya.

"Kamu juga suka laut?"

Edward mengangguk.

"Aku suka tempat yang luas. Tempat yang bikin aku ngerasa bisa pergi ke mana aja."

Jenna tersenyum.

"Kalau begitu, nanti kita pergi bersama."

Edward menatapnya.

"Janji?"

"Janji."

Jenna mengulurkan jari kelingkingnya.

Edward tertawa kecil.

"Serius?"

"Kenapa?"


"gapapa"

Edward mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Jenna.

Dan sejak sore itu, Edward mulai menunggu Jenna.


---


Minggu-minggu berikutnya berjalan seperti rangkaian sore yang saling menyambung. Jenna selalu muncul dengan cara yang sama: tiba-tiba, seperti seseorang yang baru saja keluar dari balik tirai, lalu duduk di sebelahnya seolah-olah mereka memang sudah memiliki janji.

Kadang-kadang Jenna membawa buku.

Kadang-kadang ia membawa bunga yang dipetik dari taman.

Kadang-kadang ia datang dengan tangan kosong dan hanya berkata, "Aku kangen."

Mereka mulai menghabiskan waktu bersama. Jenna akan duduk di samping Edward ketika ia makan, menemaninya berjalan di halaman, atau berbaring di atas rumput sambil memandangi langit. Ia suka bertanya kepada Edward tentang hal-hal kecil yang tidak pernah ditanyakan orang lain.

Apa yang paling ia takutkan.

Apa yang paling ia rindukan.

Apa yang akan ia lakukan jika suatu hari nanti ia bisa pergi dari tempat itu.

Edward selalu menjawab dengan jujur, dan lama-lama ia berhenti menghitung sudah berapa kali mereka bertemu. Rasanya seperti Jenna sudah selalu ada di sana.

"Aku mau punya rumah," katanya suatu sore.

"Rumah yang kecil aja. Ada jendela besar, terus ada taman di depannya. Aku mau bangun pagi dan bisa lihat matahari dari tempat tidur."

"Terus?"

"Terus aku mau ada seseorang di rumah itu."

"Siapa?"

Edward menoleh kepada Jenna.

"Kamu."

Jenna tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Edward.

"Kalau begitu, ayo tinggal di sana."

Edward memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa tidak sendirian.

 

---


Mereka akhirnya menjadi sepasang kekasih.

Setidaknya, begitulah yang Edward percaya.

Ia tidak pernah benar-benar ingat kapan mereka mulai berpacaran. Tidak ada hari khusus, tidak ada percakapan yang bisa ia tunjuk sebagai awal dari semuanya. Yang ia ingat hanyalah semakin sering Jenna menggenggam tangannya ketika mereka berjalan, menyelipkan jari-jarinya di antara jari Edward, lalu berkata bahwa tangan Edward terlalu dingin. Edward akan menjawab bahwa tangan Jenna juga dingin, dan Jenna akan tertawa sambil menggenggamnya lebih erat.

Mereka saling berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain.
Edward percaya pada janji itu dengan seluruh bagian dirinya yang masih mampu percaya.

Namun, semakin lama, ada hal-hal kecil yang mulai mengganggunya.

Jenna tidak pernah mau masuk ke ruangan tertentu.

Ia tidak pernah mau makan bersama Edward di tempat yang sama.

Ia selalu menghilang ketika ada orang lain datang.

"Kenapa kamu selalu pergi kalau ada orang?" tanya Edward suatu hari.

Jenna sedang duduk di tepi tempat tidur, menyisir rambutnya dengan jari.

"Aku enggak suka mereka."

"Siapa?"

"Orang-orang itu."

Edward menoleh ke arah pintu. Tidak ada siapa-siapa di sana.

"Mereka enggak ngapa-ngapain."

"Edward, kamu enggak ngerti."

"Kalau aku enggak ngerti, jelasin."

Jenna terdiam. Untuk pertama kalinya, Edward melihat sesuatu yang aneh di wajahnya. Bukan marah, bukan sedih, melainkan seperti seseorang yang sedang berusaha menahan sesuatu agar tidak pecah.

"Aku cuma mau kamu," katanya.
Edward mendekat.

"Aku juga cuma mau kamu."

Jenna memeluknya, dan untuk sesaat, semua pertanyaan Edward menguap begitu saja.


---


Sampai suatu malam, Jenna pergi.

Malam itu, hujan turun dengan deras. Air mengalir di kaca jendela, dan suara petir terdengar jauh di luar sana. Edward sedang duduk di tempat tidur ketika Jenna datang dan berdiri di hadapannya.

"Aku harus pergi," katanya.

Edward mengangkat kepala.

"Pergi ke mana?"

"Enggak tahu."

"Terus kenapa kamu harus pergi?"

Jenna tidak menjawab.

Edward berdiri.

"Jenna, kamu kenapa?"

"Aku cuma… aku enggak bisa di sini terus."

"Kenapa enggak bisa? Kalau ada yang bikin kamu takut, bilang sama aku. Kalau ada yang nyakitin kamu, aku bisa bantu. Jadi jangan pergi gitu aja."

Jenna menatapnya. Matanya terlihat basah.


"Aku enggak mau kamu ikut."

"Kenapa?"

"Kamu harus tetap di sini."

Edward menggeleng.

"Aku enggak ngerti."

Jenna mendekat, lalu menyentuh wajahnya dengan kedua tangan.

"Edward, kalau suatu hari nanti kamu akan lupa sama aku, jangan salahin diri kamu sendiri."

Edward merasa dadanya tiba-tiba sesak.

"Maksudnya?"

Jenna tersenyum, tetapi senyum itu tidak terlihat seperti biasanya.

"Enggak apa-apa. Aku cuma mau bilang… aku sayang kamu."

"Kalau sayang aku, jangan pergi. Jangan tinggalin aku, jen"

Jenna tidak menjawab.

Ia hanya memeluk Edward, erat sekali, sampai Edward bisa merasakan tubuhnya bergetar. Edward membalas pelukan itu dengan seluruh kekuatannya, seolah-olah jika ia menggenggam Jenna cukup erat, laki-laki itu tidak akan pernah bisa meninggalkannya.

Namun, ketika Edward membuka mata, Jenna sudah tidak ada.

Pintu di hadapannya tertutup.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Edward benar-benar sendirian.


---

 

Ia mencari Jenna ke mana-mana.

Ia memanggil namanya di lorong, di taman, di dekat jendela, bahkan di tempat-tempat yang tidak pernah mereka datangi bersama.

Di ujung lorong, ia menabrak seseorang yang sedang berdiri sambil memandangi dinding kosong — Keonho, pasien dari kamar sebelah, yang sudah dikenal Edward sekilas dari ruang makan.

"Keonho, kamu lihat Jenna, enggak?"

Keonho menoleh perlahan.

"Jenna siapa?"

"cewe yang sering duduk di pojok sana sama aku."

Keonho terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil, senyum yang tidak sepenuhnya masuk akal untuk situasi itu.

"Aku enggak kenal Jenna."

"Dia tadi ada di sini. Dia bilang mau pergi."

"Semua orang di sini juga bilang mau pergi kali ed" kata Keonho, lalu tertawa pelan pada dirinya sendiri, seolah baru saja mengingat sesuatu yang lucu dan sedih di saat bersamaan. Ia kembali menatap dinding kosong itu, seakan Edward sudah tidak ada di sana.
Edward berdiri mematung sebentar, lalu berjalan lagi, memanggil nama Jenna ke lorong-lorong yang semakin sepi.

Tidak ada yang menjawab.

Malam semakin larut. Edward duduk di lantai dekat tempat tidur, memeluk lututnya sendiri. Ia tidak tahu berapa lama ia berada di sana. Ia hanya tahu bahwa Jenna belum kembali, dan tidak ada satu pun orang yang mau membantunya mencari.
Ia memejamkan mata.

Di dalam kepalanya, ia masih bisa mendengar suara Jenna.

Aku sayang kamu.

Edward membuka mata.

"Jenna?"

Tidak ada jawaban.

Edward menundukkan kepala.

"Kalau kamu mau pergi tolong bilang, jangan hilang gitu aja. Aku cuma mau tahu kalo kamu baik-baik aja."


---


Suara langkah kaki terdengar dari lorong.

Edward mengangkat kepala.

Seorang perawat masuk ke dalam ruangan, membawa segelas air dan beberapa obat di tangannya. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya terlihat lelah, seperti seseorang yang sudah terlalu lama bekerja tanpa sempat beristirahat.

"Edward," katanya pelan.

"Belum tidur?"

Edward menatapnya lama sebelum menjawab.

"Kamu siapa?"

"Juhoon."

Edward mengangguk, lalu meminum obatnya tanpa protes seperti biasanya. Juhoon duduk di kursi di samping tempat tidur, menunggu sampai napas Edward mulai teratur, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam.

Sebelum matanya benar-benar terpejam, Edward berkata pelan, hampir tidak terdengar,

"Jena udah janji mau ngajak aku melihat laut dia pasti balik"

Juhoon menatapnya, tidak menjawab apa-apa. Hanya tangannya yang berhenti sejenak di atas gelas kosong di meja, sebelum ia menariknya kembali.

"Aku kangen jenna," gumam Edward, setengah tertidur.

Juhoon memandangi wajah Edward yang perlahan menjadi tenang, lalu mematikan lampu dan berjalan keluar dari ruangan.

Di balik pintu, ia berhenti sebentar.

Ada bayangannya seseorang di kaca jendela lorong yang gelap — rambut yang sama, mata yang sama, senyum yang, jika dilihat dari sudut yang tepat, mungkin memang terlihat seperti milik orang lain.

Juhoon menatap bayangan itu sebentar, lalu berjalan pergi, membiarkan lorong kembali sunyi.

Di dalam kamar, Edward masih tertidur.

Dan di dalam mimpinya, Jenna sedang menunggunya di sebuah taman yang tidak pernah benar-benar ada.

“Edward,” Kata Jenna.

Edward tersenyum.

“Aku kira kamu pergi.”

Jenna menggeleng pelan.

“Aku nggak jadi pergi.”

Edward mendekat, lalu menggenggam tangannya.

“Kenapa?”

Jenna hanya terdiam

“Kalau begitu, kita jadi pergi melihat laut?”

Jenna menatapnya cukup lama, kemudian tersenyum.

“Jadi.”

Edward mengangguk.

Jenna lalu menarik tangannya, mengajaknya berjalan melewati taman. Di kejauhan, suara ombak mulai terdengar. Mula-mula samar, seperti bisikan yang datang dari tempat yang sangat jauh, lalu semakin jelas sampai memenuhi seluruh udara.

Edward memandang ke arah suara itu.

“Kita mau ke mana?”

“Melihat laut.”

“Cuma kita?”

Jenna hanya mengangguk

Taman itu perlahan berubah. Pepohonan menghilang, bangku-bangku kosong lenyap, dan tanah di bawah kaki mereka berubah menjadi pasir basah. Di hadapan mereka terbentang laut yang luas dan gelap. Namun malam itu banyak bintang yang menyinari.

Edward berhenti.

“Indah banget.”

Jenna berdiri di sampingnya.

“Kalau kamu suka, kita bisa tinggal di sini.”

Edward menoleh.

“Di sini?”

Jenna mengangguk.

“Selamanya, kita gak perlu balik ke bangsal itu”

“Nggak perlu pulang. Nggak perlu bangun. Nggak perlu ketemu siapa-siapa lagi.”

Edward menatap laut.

Dari kejauhan, terdengar suara seseorang memanggil.

“Edward!”

Edward mengerutkan kening.

Suara itu terdengar sangat jauh, seperti datang dari balik dinding tebal.

“EDWARD SADAR” Suara itu terdengar makin keras

Jenna menggenggam tangannya lebih erat.

“Jangan di denger.”

Edward menoleh ke belakang, tetapi tidak ada siapa-siapa. Hanya taman yang sudah menghilang dan laut yang terus bergerak di hadapannya.

“Kayaknya ada yang manggil aku.”

“Nggak ada siapa-siapa di sini.”

Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas.

“Edward! Edward, dengar saya!”

Edward mulai menarik tangannya dari genggaman Jenna.

“Jenna, aku dengar sesuatu.”

Jenna menggeleng.

“Itu cuma suara ombak.”

“Bukan.”

Edward menatapnya. Untuk pertama kalinya, wajah Jenna terlihat sedikit berbeda.

Senyumnya masih ada, tetapi matanya tampak kosong.

Dari kejauhan, suara beberapa orang mulai bertumpuk.

“Edward, dengar saya, buka mata kamu!”

“Cepat ambil obatnya!”

“Edward, dengar suara saya!”

Edward memegang kepalanya.

Edward memandang laut yang semakin dekat. Airnya mulai menyentuh pingganya, dingin dan berat.

“Kalau aku ikut kamu, aku bisa benar-benar tenang?”

Jenna tersenyum.

“Kamu nggak akan sendirian.”

“Edward!”

Suara Juhoon terdengar sangat jelas sekarang.

“Edward! Tolong sadar!”

Edward menoleh ke belakang. Di antara suara ombak, ia mendengar napas orang-orang yang panik. Ada suara langkah kaki, suara benda jatuh, dan suara Juhoon yang terus memanggil namanya.

“Edward, kamu dengar saya?”

Jenna menarik tangannya lagi.

“Jangan dengarin mereka.”

Edward menatap Jenna.

“Tapi aku kenal suara itu.”

“Edward…”

Untuk sesaat, Jenna terdiam.

Suara Juhoon semakin dekat.

Edward menggenggam tangan Jenna dengan kedua tangannya, seolah-olah takut laki-laki itu akan menghilang.

“Jangan tinggalin aku.”

“Aku nggak akan pernah ninggalin kamu.”

Jenna menariknya perlahan ke arah laut.

Namun suara Juhoon terus menembus mimpi itu.

Edward memejamkan mata. Ia ingin tetap mendengar suara Jenna, ingin tetap berada di tempat yang tidak memiliki dinding putih, pintu terkunci, atau obat-obatan.
Tetapi suara Juhoon semakin keras.

“Edward!”

Dan sebelum Edward sempat melangkah lebih jauh, suara itu akhirnya memecahkan seluruh mimpinya.

“Buka mata kamu!”

Edward tersentak bangun.

Matanya terbuka dan saat ini ia ada di tengah lautan, dengan air yang sudah menyentuh lehernya.

Notes:

thank you for reading Edward and Jenna's story until the end. this one is a little heavy, but i hope the ending leaves you with something to think about.

maybe some people come into our lives to stay.

maybe some only come to help us survive.

or maybe sometimes, we just need someone to hold our hand while we're trying to find our way back.

Don't forget to Leave some kudos!

Series this work belongs to: