Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of The secret they are hiding
Stats:
Published:
2026-09-20
Words:
3,987
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
21
Bookmarks:
1
Hits:
281

More than fever

Summary:

Salahkan Martin yang teledor.
Salahkan Martin yang membuat Keonho demam.
Salahkan Martin apabila kembali memicu 'itu'

 

Kecerobohan Martin membuat Keonho harus kembali menyapa masa lalunya.

Notes:

Terima kasih banyak yang sudah meminta untuk menjadikan ini series, so you guys diserve this

Maaf yaaa buat lama menunggu.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:





Waktu telah menunjukan pukul 16.43

ketika langit menunjukkan Mega mendungnya yang telah bersemayam di atas sana, yang bahkan tidak Martin sadari sejak kapan hujan telah membasahi bumi.


Agaknya pemuda itu terlalu sibuk berkutat dengan suatu hal hingga tak menyadari jika atmosfer dalam rumah tidak terasa seperti biasanya, terlalu sunyi untuk dibilang tenang, pun terlampau sepi seperti dia hanya hidup seorang diri.


Namun lagi-lagi pemuda itu tak menyadari, ia tetap duduk dengan tenang ditemani laptop di pangkuannya, pun secangkir kopi dingin yang belum juga tandas isinya meskipun beberapa waktu telah berlalu.


Martin mengehentikan sejenak tarian jemarinya di atas keyboard begitu secuil perasaan gundah menyelinap di dada, ia berusaha mengingat apa yang sepertinya telah dia lupakan. Mengetuk telunjuknya pelan, berusaha mengumpulkan keping keping ingatan.


Nihil, 

tak ada yang muncul di otak nya.


"Apa ya? Kok rasanya gue kayak ngelupain sesuatu, gitu?"


Martin bergidik, merasakan hawa dingin sesekali menyapa tubuhnya. Membuatnya menatap keluar rumah melalui jendela yang ternyata telah dipenuhi oleh tetesan tetesan air di permukaannya, membuat pemuda itu membulatkan matanya.


"Lho? Sejak kapan hujan? Perasaan tadi masih cerah, deh."


Mengingat hujan, Martin jadi kepikiran "Lha iya, Adek kemana, ya?"


Satu detik..


Dua detik...


Tiga detik....


.

.

.


"ASTAGA, YA TUHAN! gue kan ada bilang mau jemput adek pulang sekolah!!"


Dengan terburu Martin meletakkan laptopnya serampangan, bahkan sempat menyenggol secangkir kopi yang untungnya tidak sampai tumpah. Tapi biarlah, yang Martin pedulikan kini hanya sang adik.


Ia bangkitkan dirinya dari sofa yang tanpa dia sadari sudah terlalu membentuk lekuk tubuh, menandakan jika ia sudah lama mendudukkan diri di sana.


Ia tolehkan kepalanya ke arah salah satu dinding untuk melihat, sudah pukul berapa sekarang.


16.55 


Anjing, umpat Martin.


Sedangkan yang seperti dia ketahui jika jadwal pulang sekolah sang adik, tepat berada di pukul 15.00


Maka sudah hampir 2 jam Keonho tidak juga menampakkan kaki di rumah.


Dengan gerakan tergesa Martin menyambar kunci mobilnya dan terus menghujami dirinya dengan segala sumpah serapah atas keteledorannya.


Semoga adek masih di sekolah, rapalnya.


Namun, orang bodoh mana yang masih akan menetap di sekolah dalam kurun waktu 2 jam, ditambah cuaca sedang tidak bersahabat?


Pikiran Martin terlalu kalut, sampai ia baru menyadari jika pintu rumah sudah terbuka dan menampilkan figure seseorang yang masih di balut apik oleh seragam sekolah, namun tentu saja dibersamai oleh tetesan air yang luruh turun dari segenap sisi kainnya.

menciptakan genangan kecil di bawahnya.


Keonho berdiri di sana dengan seragam basah nya, di sertai tatapan datar yang tak menunjukkan emosi apa apa, untuk sementara.


Rambut lepeknya jatuh pasrah di wajah paripurna nya, beberapa menghalangi pandangan Keonho pula.


Dari tempat Martin berdiri, pemuda jangkung itu dapat mendengar deru napas yang tak beraturan, seolah berusah meredam gejolak di baliknya. Pun Martin juga merasakan jika perlahan tatapan Keonho berangsur angsur berubah tajam.


Dengan segala reflek cekatan yang dimiliki nya, ia segera menghampiri Keonho dengan raut penuh bersalah yang murni berasal dari lubuk hatinya.


Martin tahu jika Keonho benci menunggu.


Martin tahu jika Keonho benci hujan.


Martin pun tahu jika Keonho benci tidak ditepati nya suatu ucapan.


Dan di sore hari ini, Martin tanpa sadar membalut Keonho dengan hal hal yang di benci oleh bungsu.


"Adek."


Keonho menunjukkan gestur penolakan ketika dirinya mengambil langkah mundur untuk membuat jarak dengan sang kakak yang berjalan mendekat, mungkin terhitung dua langkah diantara mereka. Mulutnya pun tetap bungkam.


Mengesampingkan egonya, Martin dengan lembut berkata "Adek, mandi dulu, ya? Then we'll talking about this,"


Keonho menggeleng pelan, ucapannya pun nyaris terdengar seperti bisikan "Abang...." lantas tak ada lagi kata yang keluar dari mulutnya.


Martin jelas tahu jika akan ada banyak hal yang akan Keonho sampaikan tapi untuk saat ini ada yang lebih penting, Keonho harus segera membersihkan diri sebelum takutnya demam akan menyerang.


"Iya, Abang tau, kamu pasti banyak yang mau di omongin. Tapi bebersih dulu, ya? Please, nanti kita—"


"Abang tau nggak sih seberapa lama aku nunggu Abang jemput?"


Yang tua mengangguk pelan "Iya, Abang salah." 

Ia kembali mencoba untuk mendekat dan meraih lengan Keonho sebelum si bungsu dengan gesit menghindar, Kembali menolak.


"Padahal tadi Abang sendiri yang ngajuin diri buat gantiin Papa jemput aku."


"Iya,Adek, ini salah Abang. Tapi ayo ganti baju dulu,ya? Sebelum kamu makin kedinginan." bujuk si sulung, sekali lagi.


Napas Keonho kian memberat "Kalau emang nggak bisa itu minimal kabarin! Jangan buat aku nunggu lama kayak orang bego, Abang!"


Sungguh keinginan Martin saat ini hanyalah ia mau Keonho segera mandi atau paling tidak menggunakan pakaian yang pastinya lebih hangat "Adek, dengerin Abang—"


Keonho menggeleng keras "Abang yang harusnya dengerin aku!" sela nya diiringi nada yang ikut meninggi.


"Aku dari tadi nunggu Abang yang nggak dateng dateng, aku chat nggak di bales, aku telpon nggak di angkat, mau Abang tuh apa sih??!! Aku sendirian di sekolah sampe hujan Abang! Aku nggak bisa pesen ojek online karna hp aku keburu lowbat."


Mata Keonho memerah, tak luput juga air mata terlihat mengenang di pelupuk mata, seolah siap untuk meluncur kapan saja.


"Aku nggak pernah suka nunggu, dan Abang jelas tahu itu! Tapi apa? Abang biarin aku nunggu 2 jam sendirian! Tau apa Abang tentang aku yang takut waktu hujan?!  Tau apa Abang tentang aku yang kuatin diri buat jalan pulang waktu hujan?! Abang jahat tau, nggak?!"


Bahkan jika dilihat dengan seksama, kedua tangan yang menggantung di kedua sisi tubuh Keonho nampak bergetar, menahan amarah yang kian membuncang di dada, namun sebisa mungkin dia pendam.


Yang lebih tua semakin memancarkan riak bersalah di kedua netra nya kala indra rungu nya mendengar isi hati si bungsu.


Demi apapun, dia juga tidak pernah berniat untuk membiarkan bungsu untuk menunggu selama itu.


"Abang nggak ngelak, semua emang salah Abang. But please Adek, ganti baju dulu, ya? Abang nggak mau kalau kamu sampe demam."


Keonho tetap menatap Martin dengan rasa marah yang belum menyurut, dan tanpa mengatakan sepatah katapun lagi ia berjalan melewati tubuh jangkung kakaknya, membawa tungkai kakinya menuju kamarnya sendiri.


Martin yang tertinggal seorang diri di ruang tengah hanya mampu mengusap wajahnya kasar.



Dari dulu polanya tetap sama, jika Keonho kehujanan maka ia akan demam, jika Keonho sudah demam maka Keonho akan.... Ah, sudahlah, semoga hanya demam biasa.



______________




Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, tangan kiri Martin terangkat guna mengetuk pintu yang berdiri kokoh di samping kamarnya sendiri di lantai dua, sementara tangan kanannya membawa sebuah nampan yang telah dia taruh seporsi makan pun tak lupa segelas susu hangat yang baru saja dia buat.


Sebenarnya ini sudah lewat dari jam makan malam, namun agaknya si bungsu belum juga menampakkan diri di ruang makan. Maka dari itu Martin dengan penuh kesedian diri membawakan makan untuk sang adik.


"Adek? Makan dulu, yuk?"


Hening,

Tak ada sahutan dari sang empu kamar.


"Abang udah bawain makanan buat Adek."


Masih tidak ada suara yang berasal dari dalam kamar, maka dari itu Martin pun mengambil tindakan sepihak yaitu membuka pintu tersebut yang ternyata dibiarkan tidak dikunci.


Begitu memasuki kamar yang lebih muda, ia disuguhkan oleh seonggok makhluk yang telah membalut tubuhnya sendiri dengan selimut di atas kasur. Martin meletakkan nampan yang dibawanya untuk diletakkan di atas nakas yang berada di samping kasur.


Kasur berderit pelan ketika Martin memutuskan untuk mendudukkan diri di tepi ranjang, dengan lembut ia membelai punggung Keonho yang menghadap kearahnya.


"Adek, bangun. Makan dulu, yuk?"


Terdengar lenguhan pelan dari Keonho begitu tidurnya sedikit terusik oleh gerakan dari Martin, meskipun begitu dia tidak memilih untuk menghadapkan diri kepada kakaknya.


"Ayo makan dulu," Martin kembali berujar.


Dengan suara sumbang juga serak khas orang bangun tidur, Keonho menimpali "Gamau, aku mau tidur aja, capek."


"Iya, makan dulu biar perut kamu nggak kosong, habis itu lanjut tidur lagi, ya?"


Lenguhan kembali keluar dari mulut Keonho, kali terdengar lebih jelas juga panjang, sebelum akhirnya pemuda itu mengerakkan badannya menuju posisi terlentang. Keonho melirik Martin sekilas "Abang keluar aja, aku makan sendiri habis ini."


Ah, sepertinya si bungsu masih marah.


Martin menggeleng, menolak permintaan tersebut "Nggak, Abang mau di sini sampe lihat sendiri kalau kamu beneran makan."


Keonho berdecak, sepenuhnya melihat kearah Martin "Ck, aku bukan anak kecil lagi."


"Nggak ada yang bilang kamu anak kecil, takutnya kamu tidur lagi dan nggak makan."


Si bungsu pun akhirnya mendudukkan diri dan dengan segera Martin menata bantal agar lebih nyaman ketika ia memilih menyandarkan punggungnya di headboard.


Dengan telaten Martin mengambil piring dan mulai mengarahkan suapan makanan ke arah bungsu.


Yang lebih muda mengernyit heran "Aku bisa makan sendiri," ujarnya, tangannya pun bergerak ingin mengambil alih piring tersebut.


"Udah, kamu tinggal mangap aja. Abang suapin."


Tak ingin berdebat lebih panjang, Keonho pun menuruti kemauan yang lebih tua. Karna jujur saja tenaga Keonho serasa terkuras entah kemana.


Makanan masih tersisa setengahnya ketika Keonho mengatakan bahwa ia sudah kenyang. Tidak ingin memaksa, Martin pun menukar piring yang dipegang nya untuk diganti dengan segelas susu.


"Pelan-pelan minumnya," dengan hati-hati Martin membantu Keonho untuk meneguk susu tersebut. 


Setelah menyelesaikan sesi makan malamnya yang terbilang telat, Keonho tetap bersandar dengan tenang, sesekali kelopak matanya berkedip lambat.


Dan Martin tentu saja memperhatikan detail kecil itu "Kenapa? Kepalanya pusing?"


"Heem..."


Tangan Martin bergerak menuju pelipis Keonho dan memijatnya dengan teratur, berharap bisa membantu mengurangi pening yang di dera si adik, Keonho pun turut memejamkan matanya menikmati sentuhan di pelipisnya. Di heningnya suasana, Martin kembali membuka suara "Abang beneran minta maaf."


Meskipun tidak ada tanggapan, Martin yakin jika Keonho pasti mendengarkannya "Abang beneran nggak bermaksud buat nggak jemput kamu, Abang beneran lupa karna deadline tugas yang mepet."


Sebelum Keonho berpikir yang tidak-tidak, Martin dengan cepat kembali menyambung kalimat "Tapi tentu aja Abang nggak bakal pakai alasan itu buat pembelaan, emang Abang yang salah karna ngajuin diri gantiin Papa buat jemput Adek, tapi malah Abang sendiri yang lupain."


Tetap tidak ada sahutan dari yang muda, mungkin masih mencerna.


"Adek kalau masih marah sama Abang nggak apa-apa, Abang nggak keberatan."


Keonho membuka matanya dan menatap lurus kearah Martin "Aku udah nggak marah sama Abang..... tapi ya gitu, aku masih kesel kalau inget lagi."


Pemuda jangkung itu mengangguk paham "Wajar, Abang kalau jadi kamu juga bakal kesel, kok."


Setelah itu tidak ada suara lagi dari keduanya, Martin pun memutuskan untuk menyudahi pijatannya karna di rasa malam semakin larut "Kamu mau Abang tidur bareng kamu, atau kamu mau tidur sendiri?"


"Aku tidur sendiri aja."


Martin pun membantu Keonho untuk berbaring, merapikan selimut agar sempurna membungkus tubuh yang lebih muda, dan tak lupa ia tinggalkan pula sekecup kasih sayang pada pucuk kepala sang adik.


"Sleep tight, kalau kamu ngerasa badan kamu makin nggak enak panggil Abang, ya?"


Keonho hanya mengangguk sebagai jawaban. 



______________




Pagi menjelang siang di akhir pekan menunjukan keadaan rumah yang lenggang, ketika Martin menapakkan kakinya di lantai bawah. Ia pun menyiapkan secangkir kopi untuk dirinya sendiri untuk kemudian dia nikmati di kitchen island.


"Abang baru bangun?" Pertanyaan terlontar dari arah belakang Martin, tanpa menoleh pun Martin tau siapa gerangan sang penanya.


"Iya, Ma. Semalem begadang buat nyelesain tugas," alis Martin terangkat begitu figure sang ibu terpampang jelas di hadapan, sudah bersiap dengan setelan rapinya "Mama mau kemana? Udah rapi aja."


"Mama ada arisan, kalau Mama tinggal nggak apa-apa, kan?"


Martin mengangguk ringan.


Sang ibu tersenyum simpul "kamu kalau mau makan tinggal panasin lagi aja. Oh iya, sekalian bangunin adek buat sarapan dulu."


"Adek belum bangun?"


"Belum," wanita itu menggeleng "Tadi Mama mau bangunin tapi kayaknya masih kepagian apalagi ini weekend, kan? Adek juga kelihatannya capek banget."


"Yaudah, nanti Martin bangunin."







Martin menyibak tirai yang sedari tadi menghalangi cahaya mentari di kamar Keonho, membuka jendela sedikit membiarkan udara bertukar dengan baik.


Aneh, biasanya jika siapapun sudah membuka tirai kamarnya, Keonho akan dengan spontan mengeluarkan respon, paling tidak sekedar lenguhan, mempertandakan bahwa ia telah bangun. Namun kini ia masih sibuk bergumul di bawah selimut.


"Adek?"


Dengan sigap pemuda jangkung itu menghampiri ranjang, tangannya menyingkirkan bagian selimut yang menutupi wajah sang adik, dan benar saja terpampanglah wajah Keonho yang memerah juga bibirnya yang terlihat mengering, pun sedikitnya ada keringat yang turut menghiasi area dahi.


"Adek," Martin mengguncang pelan tubuh Keonho, membuat yang lebih muda mengernyit kan dahinya sebelum akhirnya berusaha membuka kelopak mata yang terasa amat berat untuk menangkap cahaya.


"Adek, kamu demam?" ketimbang pertanyaan, kalimat itu lebih seperti pernyataan. Jelas Martin tahu tanpa harus mempertanyakan hal tersebut terlebih dahulu.


Dengan suara teramat serak yang dipaksakan keluar, bahkan agaknya Martin tidak akan paham akan maksudnya jika tidak mendengarkan nya dengan seksama "Abang....kepala Adek pusinggg....berat banget."


'Adek' katanya? Tapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk memperhatikan hal tersebut "Bentar, Abang ambilin makan dulu, ya? Habis itu baru minum obat."


Keonho menggeleng "Nggak mau makan, nggak mau minum obat. Pusingggg..."


"Ya, makanya, minum obat biar nggak makin pusing," tanpa mendengar respon lagi dari Keonho, Martin bergegas ke lantai bawah untuk mengambil makan. Ia sengaja untuk melebihkan porsinya, sekalian saja mereka makan berdua, toh dirinya juga belum makan.


Begitu Martin kembali ke kamar, dia menghela napas pelan melihat Keonho masih dalam posisi yang sama "Ayo, makan dulu"


"Nggak mauuu, Abang..."


Martin pun meletakkan piring yang di bawanya di atas nakas, kemudian dengan mudahnya dia mengangkat tubuh Keonho untuk duduk dan dia sandarkan di headboard, membuat yang muda terpekik terkejut akan tindakan Martin yang tiada aba-aba.


"Adek gamau makann, mual," Keonho memalingkan wajahnya, menghindar dari tatapan Martin. Namun ketika netra ya mencuri pandang ke piring yang di bawa oleh martin, ia di buat terkejut melihat porsi yang diambil oleh Martin, jujur itu TERLAMPAU BANYAK.


"Abang! Itu banyak banget!" berusaha menyuarakan protes sekalipun suaranya benar-benar serak.


"Lha? Ada Abang bilang kamu makan sendiri?" tanya Martin sembari mendudukkan diri di tepi ranjang.


"Terus?" sang kakak alih-alih menjawab, ia malah menyodorkan segelas air putih yang tidak pernah absen dari nakas Keonho. Membuat si bungsu menerimanya dengan muka yang teramat nampak terpaksa, selesai Keonho membasahi tenggorokannya, kemudian dilanjut dengan Martin menyuapi si adik, begitu sesuap makanan telah di terima Keonho barulah Martin menyuapi dirinya sendiri, dengan satu sendok yang sama.


"Sekalian ambil banyak, soalnya Abang belum makan."


Bukankah seharusnya Keonho senang? Karna ia dan Martin berbagi sendok yang sama, namun jika kondisinya Keonho tidak sakit. Tapi sekarang Keonho sedang terkena demam, bagaimana jika nanti justru Martin ikut demam pula?


"Jangan pake bekas Adek! Nanti kalau Abang ikut demam, gimana??!"


Dan sepertinya sampai sejauh ini Keonho belum menyadari jika ia memanggil dirinya sendiri 'Adek'


"Ya nggak lah, sendok doang, nggak bakal langsung sakit."


Martin lanjut menyuapi Keonho lalu dirinya lagi, begitu terus sampai tiba suapan kelima bagi Keonho, pemuda itu langsung menghentikan suapan Martin begitu ia merasakan gejolak pada perutnya, seolah menyuarakan untuk mengeluarkan kembali apa yang barusan ia makan.


"Udah, Adek mual," Keonho menutup mulutnya dengan satu tangan, menahan apa yang akan di keluarkan dari lambungnya yang baru saja terisi. Pun dia memejamkan matanya kala pusing yang di deranya semakin terasa nyata.


Martin juga tak memaksa, maka ia sudahi saja sesi sarapan ini. Dia bangkit dari duduknya hendak menaruh bekas makannya di dapur, namun Keonho dengan gesit meskipun gerakannya lemah mencoba meraih ujung baju Martin.


"Mau kemana? jangan pergi," nah, kan. Muncul juga sikap rewel Keonho ketika demam telah mendera


"Ini loh, Abang cuma mau naruh piring."


"Nggak usah, taruh aja di nakas."


Martin menatap Keonho dengan mata yang memancarkan binar geli "Ya jangan lah, jorok. Abang ke bawah bentar terus ke sini lagi, beneran."


Alis tebal Keonho menukik sedikit, mata merahnya menatap langsung ke netra Martin "Jangan ditinggal nongkrong."


Pemuda jangkung itu terbahak mendengar pernyataan Keonho, konyol, siapa pula yang ingin pergi ketika adiknya justru sakit seperti ini "Astaga, enggak, Abang nggak nongkrong. Cuma naruh piring, nggak ada lima menit."


Dengan berat hati Keonho melepas pegangannya pada baju sang kakak, membiarkannya untuk melakukan seperti apa yang dia ucapkan.


Benar saja, tak sampai lima menit Martin telah kembali dengan obat penurun demam yang berada di genggamannya "Nah, sekarang ayo minum obat dulu."


Keonho menggeleng keras yang kemudian sedikit disesali nya karna membuat kepalanya bertambah pening "Nggak mau!"


Di hadapan Keonho, Martin tampak berkacak pinggang "Oh, jadi Adek mau sakit terus?"


"Ya nggak lah! Orang aneh mana yang mau sakit—"


"Nah! Maka dari itu kamu harus minum obat." dalam sekejap mata Martin sudah menyodorkan obat tersebut disertai segelas air.


"Obatnya gede banget, nggak muat. Udahlah gausah minum obat, nanti juga sembuh sendiri," kilah Keonho begitu melihat ukuran obat yang disodorkan oleh Martin dan tentu saja pasti rasanya pahit.


"Nggak, Abang nggak nerima protes. Kamu harus minum obat ini."


"Yaudah, iya! Tapi di hapusin dulu."


Martin menggeleng menolak "Langsung gini aja minumnya, 


Keonho menatap Martin tidak percaya, selama ini Keonho pasti akan meminum obat jika sudah dihaluskan terlebih dahulu, biarlah dikata apa, toh memang dirinya tidak bisa minum secara utuh.


"Adek nggak bisa nelennya!"


Martin mencibir "Gitu gamau dibilang anak kecil, tapi kalau minum obat harus dihalusin dulu. Malu tuh sama motor kamu."


Ugh, ego Keonho tersentil. Namun, peduli apaa???


"Yaudah, nih gelasnya kamu pegang dulu," tanpa menaruh rasa curiga Keonho menuruti ucapan Martin untuk memegang gelas yang disodorkan kepadanya. Diam-diam tanpa diketahui Keonho, Martin tersenyum miring sebelum melancarkan aksinya.


Tangan kiri Martin mencengkram rahang Keonho erat namun tidak sampai menyakiti agar tidak berpindah posisi, Keonho menatap Martin bingung hingga akhirnya kedua mata si kecil membulat sempurna ketika Martin dengan cekatan membuka mulut Keonho dan menaruh sebutir obat tadi dengan paksa di pangkal tenggorokan kannya, bahkan Keonho sampai sedikit tersedak akibat tindakan yang lebih tua. Tanpa babibu Martin segera mengarahkan gelas tadi untuk segera ditegak oleh Keonho, setelah Keonho bisa memastikan jika obat tersebut telah tertelan, si bungsu langsung memukul Martin sekuat yang ia bisa disusul air mata yang keluar dari kedua maniknya.


"Jahattt.... Hiks— Abang mau buat Adek matiiiii," Keonho terisak dengan tangan yang masih belum berhenti memukuli Martin. 


Melihat itu Martin timbul sedikit rasa bersalah, ia mengambil alih gelas yang masih dipegang Keonho untuk ia pindahkan keatas nakas. Dengan perlahan ia menarik Keonho untuk direngkuh, menyembunyikan kepala yang lebih muda di perutnya "Biar Adek terbiasa," tak luput Martin elus juga belakang kepala Keonho.


"Ta—tapi nggak...gitu jugaaa."


Martin terkekeh pelan "Iya-iya, maaf. Udah sekarang kamu tidur lagi biar cepet turun demamnya."


Sebelum melepas pelukannya, Keonho sempatkan diri untuk mencubit pinggang Martin, yang sontak undang ringisan dari sang kakak "Aduh! Kok dicubit sih?? Sakit."


"Biarin! Abang ngeselin!!"


Dan lagi-lagi Martin terkekeh, dengan telaten ia menghapus jejak-jejak air mata di pipi mulus Keonho. Setelahnya ia membantu Keonho untuk berbaring dengan nyaman.


"Dah, tidur ya, Adek."


"Tapi, Abang jangan pergi."


"Iya, enggak. Habis ini Abang mau ambil laptop, biar nugas disini." Martin mengusap kepala Keonho lembut sebelum ia bubuhkan kecupan manis di sana.


Semoga cuma demam biasa, harap Martin.




'Keonho mau ke sana...'


riuh pikuk bergema pelan di bawah pendar lampu jalanan yang hampir mati bengkok tubuhnya.


'...ma sayang banget sama kamu...'


Keonho bergerak gelisah dalam tidurnya, ketika potongan-potongan adegan tampil secara acak.


genangan darah ada di mana-mana, membaur menjadi satu dengan tetesan air hujan.


'maaf, korban tidak dapat di selamatkan.'


Tangisan pecah begitu saja, suara teriakan ada di mana-mana.


Keonho terbangun dari mimpinya begitu guncangan yang cukup keras dia dapatkan dari Martin yang kini menatapnya dengan sorot cemas, Keonho segera beranjak duduk dengan napas memburu bak dikejar sesuatu.


"Adek mimpi itu lagi?" 


Kan, inilah yang paling di benci oleh Martin dalam setiap episode demamnya Keonho.


Tak ada tanggapan dari Keonho karna otaknya masih tertinggal di penggalan-penggalan mimpi yang selalu saja terasa seolah dia baru saja mengalaminya barusan, semuanya terasa terlalu nyata. Dentuman keras, decitan ban, teriakan dari segala arah, darah yang memenuhi rongga-rongga pernapasannya, derasnya rintik hujan, semua membaur menjadi satu, masih sama seperti 12 tahun yang lalu.


Keonho berusaha untuk memenuhi paru-paru nya dengan segenap udara sebelum dadanya terasa menyempit seolah dihimpat oleh batu di setiap sisinya, dia kembali berusaha menarik napas lagi, udara memang masuk namun terasa tidak cukup untuk sampai ke paru-paru, hanya setengah, ia coba lagi, dan kini malah tidak masuk sama sekali.


"—hah —hah —" dadanya terasa semakin kencang menyiksa, jantung yang tadinya lemah karna demam sekarang berdetak kencang seolah-olah menghantam tepat di rusuknya, tidak beraturan.


Panas. Dingin. Panas. Dingin.



Tangan dan kakinya perlahan kesemutan, kebas. Ujung jarinya mati rasa.


Martin yang melihat Keonho mulai menunjukan reaksi itu, memejamkan mata sejenak berusaha untuk mengontrol diri sebelum akhirnya berujar tenang "Adek, Adek aman di sini, di kamar ini. Adek nggak ada di jalanan, nggak ada di mobil. Sekarang Adek udah umur 18 tahun, bukan 6 tahun."


Martin berusaha untuk mengembalikan kesadaran Keonho untuk berada di masa kini, agar berhenti melayang-layang di masa lalu, di 12 tahun yang lalu. Tentu saja Martin tidak akan dengan bodohnya segera mendekap Keonho supaya si bungsu tidak merasa adanya ancaman fisik. Namun, Keonho benar-benar tidak berada di sini, pikirannya melalang buana.


"Adek ada di sini, di kamar yang bersih, nggak ada darah. Adek aman sama Abang."  dengan hati-hati Martin manarik satu tangan Keonho untuk ia tempelkan di dadanya, merasakan denyut jantungnya "See? Ada Abang di sini. Pelan-pelan tarik napas kayak Abang, ya? Tarik, tahan, buang."


Keonho berusaha mengikuti arahan Martin, namun nihil, seolah udara tidak berkenan untuk masuk ke paru-paru nya. Kepalanya terasa sangat pusing, tubuhnya gemetar hebat seiring jantung yang berdetak liar hingga terasa menggetarkan pangkal tenggorokan kannya sendiri "Ng—nggak....bisaa, se— sek."

"Ayo, coba lagi sama Abang. Tarik... Tahan....buang... Pelan-pelan aja, oke?"


Keonho mencoba sekali lagi, Tarik, buang. Tarik, buang. Ia mencoba untuk rasakan detak jantung Martin di bawah telapak tangannya yang teratur, ia coba untuk ikuti ritme itu. Perlahan namun pasti udara mulai sedikit demi sedikit memasuki rongga paru-paru nya.



"Iya pinter kayak gitu."


Ruang kamar yang tadinya menyempit, dinding bergerak maju, cahaya yang amat sangat terasa begitu menusuk mata, perlahan mulai kembali seperti semula.


Dan akhirnya Keonho bisa meraup udara untuk memenuhi dadanya. Sisa-sisa gemetar tentu masih ada. Air matanya baru bisa keluar sekarang, pelan-pelan. Dengan napas yang masih terengah dia menjatuhkan dahinya kedepan, tepat pada bahu lebar Martin, tangannya mencengkram erat kaos Martin seolah mencari pegangan agar ia tak lagi jatuh pada lubang itu. Sang kakak balik memeluk Keonho dengan erat, mengusap punggungnya dengan teratur, berusaha menyampaikan jika Martin ada di sini dan Keonho telah aman.


"Hiks— tadi mimpinya jelas banget, Abang. Hujan deres. Bau anyir darah. A...ada yang meluk Adek." Martin senantiasa mendengarkan sekalipun dia tahu detail bagaimana kecelakaan itu terjadi.


"Tangan Adek patah, kejepit kursi. Tapi Adek tetep— hiks... Nggak bisa lihat siapa yang...yang peluk Adek."


"Iya,iya, nggak apa-apa."


"Adek capek mimpi itu terus, Adek pengen lupainnn... Tapi nggak bisa.... Adek gamau sakit lagi."


Martin terus mengusap punggung Keonho sambil sesekali mengecup ubun-ubun nya "Adek udah sembuh, Adek nggak sakit lagi, Adek cuma panic attack."



Ya, Keonho baru saja mengalami panic attack untuk yang kesekian kalinya.


Itulah mengapa Martin begitu menghindari segala hal yang bisa menyebabkan Keonho demam, namun justru ia sendiri yang picu faktor tersebut sore kemarin. Dari dulu polanya tetap sama, jika Keonho kehujanan maka ia akan demam, jika Keonho sudah demam maka Keonho akan mengalami panic attack. Jika hanya panic attack saja sebenarnya tak mengapa— bukan bermaksud menyepelekan, panic attack Keonho disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang sempat dialami olehnya 12 tahun yang lalu, ketika ia masih berumur 6 tahun, meninggalkan luka yang ia bawa sampai umur 18 tahun.


Kecelakaan itu terjadi tepat pada pertengahan bulan November ketika hujan deras tengah mengguyur satu kota, membuat beberapa pengendara kehilangan titik fokus pandangnya, dan yah kecelakaan besar pun tak dapat terhindar kan. Di ingatan Keonho, yang pasti tak akan ia lupakan adalah ketika mobil yang di tumpanginnnya ringsek parah pada bagian depan juga belakang, dentuman besar terdengar entah dari arah mana, seseorang yang duduk di sebelahnya dengan cekatan merengkuh Keonho menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng , berusaha melindungi bocah cilik itu dari berbagai hantaman benda.


Tak banyak yang selamat dari kecelakaan itu, dan Keonho adalah salah satunya yang beruntung namun juga malang, dia harus melewati serangkaian operasi agar tetap bisa melanjutkan hidupnya dengan normal. Efek dari kecelakaan tersebut adalah Keonho tidak dapat mengingat dengan pasti tentang kenangan masa kecilnya sebelum kecelakaan itu terjadi—amnesia disosiatif. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika Keonho harus di diagnosa mengalami PTSD—Post-Traumatic Stress Disorder, akibat kecelakaan itu.



"Abang....Abang jangan tinggalin Adek"



Dan sebagai jawaban, Martin semakin mengeratkan pelukannya.






•°•°•




Amnesia disosiatif adalah kondisi saat seseorang kehilangan ingatan tentang informasi pribadi atau peristiwa penting akibat trauma psikologis atau stres berat, bukan karena cedera fisik pada otak

Notes:

Huhuhu, jujur aku nggak tega kalau harus nyiksa karakter aku sendiri.
Maaf ya kalau buat adegan panic attacknya yang dirasa kurang sesuai dengan kejadian sebenarnya, hasil riset² yg yah beginilah jadinya. Atau kalau ada yang nggak tepat mohon koreksiii, terima kasih.

Sehat selalu guysss.

Series this work belongs to: