Actions

Work Header

A Hidden Secret

Summary:

Ahn Keonho tidak tahu secara pasti kapan perasaan ini tumbuh dalam sanubari

Orang bilang cinta itu suci, cinta itu tidak salah maupun berdosa.
Namun ketika rasa suci itu justru tumbuh diantara ikatan persaudaraan, apakah masih bisa di sebut tidak berdosa?

Ahn Keonho dengan perasaan tidak mengertinya

Notes:

maaf ketika menemukan ketidak nyamanan dalam membaca.

read the tag carefully.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Adek,udahan dulu renangnya. kamu nggak capek apa udah 3 jam renang terus?"

Suara yang berasal dari tepian kolam seolah menginterupsi Keonho yang hendak kembali menyelam, dan membalikkan badannya untuk melihat kearah sumber suara. Di sana telah berdiri seorang pemuda jangkung dengan posisi berkacak pinggang dan mendecak pelan.

"sekarang udah jam setengah 6, Adek."

Sedangkan Keonho yang menjadi sasaran percakapan itu hanya mampu memberikan senyum kecil yang dapat menampilkan deretan gigi nya, dengan pelan ia pun mulai berenang ke arah tepian.

"Ya aku mana tau kalau udah setengah 6, orang di sini nggak ada jam."

 

Keonho keluar dari kolam dan langsung di sambut oleh handuk bersih dari pemuda jangkung itu untuk membungkus badannya.

Tanpa aba-aba pemuda tersebut menjentik dahi Keonho,pelan.

"Tapi kamu juga punya mata yang bisa lihat kalau langitnya udah mulai gelap, Adek."

"Bang Martin bawel!"

Martin hanya menanggapi dengan dengusan pelan, lantas membalikkan tubuhnya untuk memasuki rumah.

Keonho pun secara otomatis mengikuti langkah Martin  sambil sesekali mengusap rambut basahnya dengan handuk.

"Abang habis ini mau keluar,"

"Kemana?"

"Ambil gitar di rumah Juhoon, kemaren ketinggalan."

Baru saja Keonho hendak membuka mulut, dengan cepat Martin menambah kalimat.

"Kamu gausah ikut, Abang cuma sebentar."

Si kecil mengerucutkan bibir "ihh, aku mau ikut Abangggg, gamau di rumah sendiri."

"Nggak! tadi pulang sekolah kamu langsung renang, selesainya barusan. mending kamu istirahat aja, lagian Abang cuma sebentar, ambil gitar doang. Nanti Abang beliin makanan kalau pulang."

Keonho pun hanya mengangguk pasrah

 

______________

 

 

Keonho menghela nafas kasar, seraya mengusap wajahnya. Ia pejamkan mata berharap semilir angin di balkon dapat membawa beberapa hal yang terus mengitari otaknya, mencoba mengatur nafas nya agar lebih normal.

Banyak orang bilang jika umur 17 adalah rata rata umum seseorang menemukan cinta pertama yang sebenarnya, dan juga mereka bilang jika cinta pertama tak selamanya indah.

Dan sialnya Keonho kini mengalami kedua nya.

Keonho tidak mengerti kapan awal mula ini semua terjadi, namun yang pasti dia tak dapat menyangkal perasaan ini.

Yang dia tahu, Keonho selalu merasa nyaman di sekitarnya, mendapat aman ketika dalam rengkuhannya, selalu ingin melihat senyum maupun tawa yang berasal dari wajah eloknya, juga perasaan membuncang yang tak Keonho ketahui penyebabnya hanya karna ia dapat memastikan dirinya selalu melihat eksitensinya.

Namun, semua hal tersebut justru bermuara kepada satu orang, Martin Edwards, saudaranya.

Awalnya Keonho selalu berusaha menepis perasaan tersebut, pikirnya bukan kah usia 17 memang masa labil labilnya seseorang?

namun lama kelamaan pikiran itu semakin diruntuhkan ketika satu tahun telah berjalan semenjak Keonho dengan ragu mendefinisikan rasa tersebut. Rasa yang bahkan sepertinya hadir lebih dulu sebelum Keonho mampu untuk mendefinisikan nya.

"Kalo lo lupa, dia Abang lo sendiri, btw."

Kata kata yang menghantam telak berasal dari teman seperjuangan nya setelah ia berani membicarakan hal yang menurutnya agak sensitif itu, kalimat yang berusaha untuk mengembalikan kewarasan Keonho yang mulai sedikit terkikis.

"Makanya, gue juga berusaha buat ngilangin perasaan ini, Sean. Ya tapi gimana caranya anjir?! ibarat lo gamau kotor tapi lo masih tetep main di got."

Sang lawan bicara berdecak "Nggak nyambung!"

"Lha emang gitu kok! gue mau ngilangin perasaan ini tapi di sisi lain gue tiap hari masih aja ketemu orang itu."

Sean melirik Keonho sekilas sebelum kembali menghisap inhaler nya "Resiko suka sama Abang sendiri, ya lagian kayak nggak ada orang lain aja."

"Heh monyet! andai bisa ngatur gue mau suka sama siapa, nggak bakal mau gue suka sama dia."

 

Pembicaraan yang amat sangat tidak membantu sebenarnya, namun lebih dari itu Keonho benar-benar butuh seseorang yang bisa ia bagi keluh kesahnya.

 

Maka dari itu Keonho selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap kejadian untuk memberi makan ego nya.

tolol, katanya gamau suka. tapi kok selalu minta perhatian?

Dan Martin tentu saja melakukan hal hal yang justru tanpa ia sadari memuaskan ego dalam diri si bungsu, paling tidak ia hanya berpikir Keonho layak mendapatkannya hal tersebut karna ia hanyalah seorang bungsu.

"Abang mau gendong."

"Abang nggak sayang aku lagi, ya?"

"Adek cuma mau Abang...."

"Abang kalau main gitar jadi makin ganteng, deh."

Ya, anggap saja Keonho pengecut karna selalu bersembunyi di balik topeng Si Bungsu, dan Keonho tidak munafik jika ia pun menikmati itu. Setidaknya biarkan dia menikmatinya sampai tiba saatnya dimana Martin akan mengetahui hal yang berusaha Keonho sembunyikan dan entah reaksi seperti apa yang akan Martin tunjukan, entah tatapan heran, aneh, biasa atau kemungkinan paling buruknya, jijik.

 

 

_______________

 

 

"Abanggg..... kok bawain ini sih??"si bungsu merengek ketika melihat apa yang dibawa Martin sebagai makan malam mereka.

"tuhkan, kamu gampang ngerengek kalau masalah makanan,"

Keonho menatap Martin sinis bercampur heran juga kesal "Ya gimana enggak? Abang sering banget lho bawain pulang pizza kalau nggak burger."

Martin mengedikan bahu sambil menata makanan di meja "kamu juga tadi nggak request mau dibawain apa."

Namun tak ayal, meskipun ia menggerutu, Keonho tetap memakan apa yang telah dibeli oleh Martin, itung itung sebagai bentuk respect "Bayangin ya,Bang, semisal Mama tau kalau Abang sering beli beginian,"

"Yang penting kita nggak kelaparan." Martin terkekeh, kemudian ia berdehem kecil seolah ingin meminta atensi Keonho "ehm... ngomong-ngomong, kamu tadi kenapa?"

Keonho menoleh dengan kerutan di dahinya "hah? kenapa?" bukannya menjawab, dia justru balik bertanya, tak paham dengan konteks yang Martin tanyakan.

"Ya tadi, kamu nggak biasanya pulang sekolah langsung berenang kalau nggak ada apa-apa. So, what's going on, Adek?"

Dengusan kasar Martin dapatkan sebagai jawaban pertama dari pertanyaannya.

"Aku kesel,Abang. Abang sendiri tau kan kalau ulangan kimia aku yang minggu kemaren dapet nilai 9?"

Martin mengangguk ringan "Terus?"

Dalam sekejap raut Keonho menampilkan mimik yang amat jengkel ketika otaknya memutar ulang ingatan di sekolah siang tadi

"Ada yang nggak terima kalau nilai aku 9, terus dia bilang ke anak-anak lainnya kalau aku nyuri kunci jawaban! kayak, emangnya aku se-kurang kerjaan itu kah sampe nyuri kunci jawaban ulangan?!! Anjing emang!"

Martin mendelik begitu mendengar umpatan yang Keonho keluarkan di akhir kalimat "Adek! watch your mouth!"

"Ck, kelepasan."

"Tapi gausah ngumpat gitu, dong. jelek banget mulutnya. terus akhirnya gimana? Adek nggak berantem, kan?"

Keonho menggeleng sembari membersihkan jemarinya dengan tisu, pertanda ia telah menyelesaikan makannya

"Nggak lah, ngapain sampe berantem segala? Cuma ya gitu masih kesel aja, dikira aku buat dapet nilai 9 nggak belajar apa??! that's why, pulang sekolah tadi aku langsung renang buat dinginin kepala."

Yang lebih tua mengangguk paham dengan tangannya yang mulai membereskan sisa makan mereka, Keonho yang melihatnya pun turut membantu.

"Tapi besok-besok jangan gitu lagi, Adek. Bahkan kata Mbak, tadi kamu juga belum sempet makan. Minimal kalau kamu mau berenang, at least pastiin perut kamu nggak kosong, jangan biasain skip makan siang!"

"Iya-iya, ini yang terakhir, nggak janji tapi."

"Terserah kamu aja lah, udah sana cepetan ke kamar mandi, terus tidur."

Mendengar itu Keonho seketika menyengir kearah Martin, sedangkan Martin yang di beri ekspresi seperti itu oleh Keonho langsung menatap curiga.

"Apa? Ngapain kamu lihatin Abang kayak gitu?"

Si bungsu terlihat memilin ujung bajunya sebelum mengajukan permintaan "Aku tidur di kamar Abang, ya?"

Terlihat kedua alis Martin menyatu mendengar permintaan Keonho yang satu ini, memang sih si bungsu sering menumpang tidur di kamarnya, namun... ketika malam tengah dilanda oleh hujan. Dan sepertinya malam ini langit tetap menunjukan bulan dan bintangnya alih-alih gumpalan awan mendung yang siap mencurahkan air nya, toh musim hujan juga masih lama.

"Ngapain? kayak nggak punya kamar sendiri aja,"

Namun, sepertinya alam tengah berada di pihak Keonho. langit yang tadinya dilihat Martin masih dalam keadaan cerah sebelum memasuki rumah, mulai terdengar rintikan air yang perlahan mulai mengetuk barang-barang yang di jatuhinnya, tak terkecuali jendela rumah.

"Hujan, Abang. tadi juga aku sempet lihat di ramalan cuaca kalau hujannya bakal deres sama ada petirnya."

Martin menghela nafas pelan dan mengangguk mengiyakan permintaan bungsu "Yaudah kamu naik dulu, habis itu Abang nyusul."

"Oke, jangan lama-lama, yaa"

 

 

Begitu Keonho memasuki kamar Martin, aroma khas pemuda jangkung tersebut langsung menyeruak dan memenuhi ruang ruang di paru-paru Keonho, menghantarkan sensasi hangat di dadannya. Aroma yang akan sampai kapan pun menjadi hal favorit nya terlebih jika ia mampu mencium aroma tersebut langsung dari sang pemiliknya.

Kamar Martin akan selalu tertata rapi dengan dominan warna monokrom nya. Keonho pun melangkahkan kakinya menuju ranjang di tengah ruang, ranjang yang akan selalu merengkuh Martin setelah pemuda itu melewati hari panjangnya, entah dengan suasana hati yang senang maupun susah. Ia merebahkan tubuh yang tak lama setelah itu pintu kembali terbuka dan menampilkan pemuda dengan proporsi tubuh tingginya juga rambut pirangnya.

Omong-omong tentang rambut pirang Martin, Keonho jadi merindukan masa-masa dimana rambut pemuda itu masih berwarna hitam dan juga tampilan wajahnya pun tidak setegas sekarang. Tapi apapun itu, Keonho akan tetap selalu menyukai Martin meskipun dalam berbagai bentuk versi.

 

Martin pun segera menyusul Keonho yang telah berbaring terlebih dahulu. Lantas kasur sedikit bergoyang pelan begitu menerima tambahan beban. Setelah melihat Martin telah nyaman dalam dalam posisinya, keonho secara naluri merapatkan tubuhnya kearah yang lebih tua. Tak ayal Martin pun justru menyelipkan lengannya di bawah kepala Keonho, membiarkan lengannya menjadi bantal bagi kepala si bungsu. Dan di balas oleh Keonho berupa rengkuhan di pinggangnya.

 

Sesekali tubuh kecil itu tersentak pelan disertai lengan yang semakin mencengkram ketika petir terdengar kembali menggelar. Tak tinggal diam, pemuda pirang itu pun turut mengusap punggung yang lebih muda dengan tenang seolah ingin menegaskan jika ia tak sendirian.

Di tengah riuhnya suasana di luar, sebuah pertanyaan terceletuk keluar dari mulut yang lebih muda.

"Abang sayang sama Adek, nggak?"

 

pertanyaan sederhana

 

disertai jawaban yang juga sederhana

 

 

"Sayang lah, kamu Adek Abang satu satunya."

 

Sayang lah, kamu Adek Abang satu satunya.

 

Keonho pun yang mendengar nya semakin mengeratkan rengkuhannya juga membenamkan wajahnya di dada yang lebih tua, diam-diam ia tersenyum miris. Memangnya berharap apa yang akan di jawab oleh yang lebih tua?  Mau bertanya seribu kalipun, seharusnya Keonho tau apa jawaban yang akan di keluarkan oleh sang saudara.

'dasar, cari penyakit aja.' umpat Keonho dalam hati.

 

Beberapa saat kemudian, tak terdengar suara pun dari keduanya, hening menyelimuti kamar. Keonho juga merasa jika napas kakaknya mulai terasa lebih pelan, lebih teratur.

Pertanda jika ia sudah tertidur. Dengan perlahan Keonho sedikit menjauhkan wajahnya untuk bisa menatap paras elok dari sang saudara, paras yang membuat Keonho tidak pernah berpikir dua kali untuk menjatuhkan hati. Bodoh, memang sudah menjadi tabiat manusia jika sudah menyangkut hati.

Pada tiap detiknya waktu, Keonho menikmati momen dimana ia bisa dengan puas memandang keindahan ciptaan Tuhan di depan matanya, tanpa harus takut mendapat tatapan apapun dari sang pemilik rupa, biarkan ia panjatkan syukur tentang betapa menawannya satu dari banyaknya cipta Tuhan di alam semesta.

Agaknya Tuhan tengah dalam keadaan yang berbahagia ketika menciptakan makhlukNya yang satu ini. Dan di sinilah Keonho berada, untuk menikmatinya.

Dan andai ia bisa memiliki satu kekuatan super, Keonho hanya ingin memberhentikan waktu agar bisa memandang wajah yang lebih tua dari dekat, tanpa harus menyiapkan berbagai alasan untuk tetap terlihat tidak mencurigakan.

Namun terlepas dari itu, biarlah Keonho menikmati waktu yang ada. Sebelum kembali bersembunyi di balik topeng adik manis yang selalu membutuhkan kakaknya, dan berperan apik di dalamnya.

 

 

"Adek sayang banget sama Abang."

 

 

 

Notes:

terima kasih sudah membaca.

should i to make a series?
yay or nay

Series this work belongs to: