Work Text:
Yudistira mempunyai insomnia. Kebiasaan susah tidurnya itu tercipta karena ketakutan akan diburu seperti keluarganya dulu membuatnya selalu terjaga dan was-was akan gerakan dan suara sekecil apapun itu, hingga jam tidurnya menjadi kacau. Namun ia tidak terlalu memikirkan, apalagi dengan pekerjaannya saat ini sebagai pengamen sekaligus informan yang kadang kala pekerjaan keduanya tidak mengenal waktu tidur, yang Yudistira manfaatkan sebaik mungkin kebiasaannya itu.
Nakula, salah satu rekan se-grupnya menyadari kebiasaan pria yang paling muda itu. Saat mereka berdua terjebak dalam menganalisa suatu kasus dengan informasi yang didapat Yudistira, pria manis itu akan terus terjaga bahkan disaat Nakula tumbang dalam kelelahan dan rasa kantuk. Dan saat dirinya terbangun, tahu-tahu semua informasi telah dirangkum Yudistira dengan rapi bahkan dirinya masih bisa sibuk memainkan gitarnya. Menunggu Nakula bangun.
"Kamu gak tidur lagi?"
"Hehe, enggak mas. Gak ngantuk"
"Kasian tubuh kamu Dis"
"Aman aja, mending Mas Nakul kurangin konsumsi kopi tuh"
Selalu seperti itu, Yudistira selalu bisa mengalihkan topik tentang kebiasaannya dengan mulus, membuat Nakula hanya bisa menghela napas panjang.
Itu kebiasaannya dulu, Nakula berasumsi. Karena entah kenapa akhir-akhir ini justru Yudistira seperti menemukan penawar akan insomnianya. Nakula tidak tahu persis apa yang jadi pemicu, hanya satu dia ingat. Selalu ada Arjuna.
Seperti hari ini, mereka tengah berkumpul di apartment Arjuna untuk pertemuan bulanan, membahas perkembangan kasus tentang Q-ravva atau hanya sekedar berkumpul melepas penat.
Baru saja satu jam mereka bermain game konsol mario kart ketika manik biru langit Nakula menangkap sosok Yudistira yang tertidur dengan damai. Kepalanya bersandar pada Arjuna yang masih sibuk berteriak karena dirinya kalah game melawan Sadewa, dengan tangan yang masih memegang controller.
"Aneh banget"
"Apa yang aneh?" Sadewa bertanya sambil netranya tetap fokus pada layar televisi di depannya. Menampilkan sirkuit dari game mario kart yang sedang mereka mainkan.
"Yudis"
"Yudis?"
"Iya. Dia itu punya insomnia yang parah tapi kok bisa-bisanya sekarang tidur damai gitu gak keganggu sama suara berisik kalian"
"Yudis punya insomnia?" Arjuna menyahut, wajahnya terlihat bingung.
"Lah kau gatau Jun? Dia nih susah banget kalau tidur. Sering sama aku tuh pasti kejaga sampe pagi, aku aja nggak sanggup langsung tumbang"
"Ah. Saya ingat pas jaga bar Yudis datang malam sehabis mengamen, dia terus menemani saya tanpa terlihat mengantuk" Sadewa ikut menimpali.
"Iyakah? Tapi kok tiap sama gua dia sering banget bilang 'Juna aku ngantuk', 'Juna mau tidur' bahkan kepala dia suka tiba-tiba nemplok kaya sekarang nih"
Nakula berpikir sebentar, kepalanya menyatukan semua asumsi dia selama ini.
"Berarti gara-gara kau Jun"
"Hah? Kok gua sih"
"Ah sepertinya saya paham"
"Loh Dew kau tahu Yudis kenapa?"
"Ini asumsi saya ya, saya pernah baca satu artikel mengenai chemically bond"
"Chemically bond?"
"Pada dasarnya jika tubuh seseorang akan merasa sangat mengantuk ketika berdekatan dengan pasangannya, berarti mereka mengalami chemically bonded. Di mana tubuh mengeluarkan hormon seperti serotonin dan dopamine tanpa disadari tiap pasangan itu bersama, menghasilkan rasa nyaman dan aman yang akhirnya membuat tubuh menjadi rileks dan rasa kantuk datang dengan sendirinya. Mungkin kamu Arjuna, dianggap sebagai tempat paling aman bagi Yudistira"
"Hee menarik juga" Arjuna mengangguk paham, sorot matanya melirik ke arah Yudistira yang masih tertidur lelap.
"Enak banget ya jadi kau Jun, dipercaya Yudis buat jadi tempat ternyaman. Kadang aku kasian kalau liat dia terus kejaga, badannya pasti cape" Nakula sedikit merajuk.
"Sudah-sudah. Jun mending kau pindahin Yudis ke kamar, kasian lehernya pasti sakit kalau terus tidur posisi begitu"
Arjuna menuruti apa kata Sadewa, dipindahkannya controller yang masih tergenggam lemah di tangan sang kasih, sebelum posisinya diubah selembut mungkin, takut membangunkan Yudistira. Dengan pose bridal style Arjuna kemudian bergerak ke arah kamarnya. Pria berkacamata itu sempat berpapasan dengan Bima di area dapur, sesang sibuk memakan bakwan yang dibawa Sadewa tadi.
"Lha Yudis tidur Mas Juna?"
"Iya ini mau gua pindahin ke kasur biar tidurnya makin nyenyak. Lu bertiga lanjut aja, Eh Bim sisain kocak bakwannya buat gua ama Yudis, belum makan kita jangan diabisin semua"
"Iya, iya nanti gue sisain Mas. Aman aja"
Sesampainya di kamar, Arjuna merebahkan tubuh kasihnya dengan perlahan dan lembut. Jemarinya menyusuri paras cantik itu, menyingkap poni yang menutup serta mengelus pipinya yang sedikit gembul. Aksesoris yang dipakainya Arjuna lepaskan, seperti sumping, anting, serta kalung susunnya agar kekasihnya tidur semakin nyaman.
Netranya fokus pada sosok di depannya dengan pikirannya memahami kata-kata Sadewa barusan. Mungkin memang Arjuna tanpa sadar sudah menjadi tempat, rumah yang nyaman bagi sang nada bernaung dari dunia yang tidak pernah berbaik hati pada isinya, dari mimpi buruk masa lalu yang senantiasa mengikuti jejaknya kemanapun ia pergi.
Dahi Yudistira dikecup lembut oleh sang matahari, menghantarkan kasih sayang yang membuncah, sebelum dirinya keluar dari kamar, kembali berkumpul dengan yang lain. Meninggalkan sang kekasih yang tertidur dengan damai.
"Selamat tidur, kekasihku".
