Work Text:
Arjuna bangun dengan peluh yang membasahi wajahnya, napasnya tersengal-sengal, dadanya masih merasakan sesak seperti kekurangan oksigen, dan jantungnya masih berdetak tak karuan. Lagi dan lagi. Mimpi yang terus berulang-ulang datang menghantui, isinya masih sama dan masih terus menghantui Arjuna dalam lelapnya.
Diusap wajahnya perlahan mencoba menstabilkan kembali detak jantungnya. Dirinya terdiam dalam gelapnya ruang istirahat. Otaknya berpikir, mencari letak cacat memorinya yang terus bertanya, sepuluh tahun berlalu ia kira waktu akan mengikis semua mimpi buruk itu, tapi apa daya, pandangan nyata yang selalu ia dapatkan dalam alam bawah sadarnya terus terputar seperti kaset rusak.
Tubuh yang dingin, adik yang histeris, pandangan kerabat yang prihatin, dan ucapan bela sungkawa yang kosong terus saja mengusik dirinya, yang membuatnya selalu mempertanyakan pada Tuhan 'kenapa harus aku?'.
.
.
"Mimpi buruk lagi?" Sebuah suara memecah pikirannya. Kepalanya ia putar kesamping, manik matanya bertemu dengan hijau ketenangan.
"Ya"
"Hmm…" keheningan tercipta diantara keduanya. Manik hijau kemudian mendekat, jemarinya menyentuh pundak sang mentari yang meredup.
"Ingin cerita?" Hanya sebuah gelengan lemah yang diterima.
"Tak apa"
"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Juna, biarkan tubuh dan pikiranmu beristirahat dari semua beban yang kau tanggung selama ini"
Arjuna hanya terdiam, mencerna untaian kalimat yang masuk dalam indra pendengarannya. Mungkin kekasihnya benar, bebannya memang tidak akan menghilang begitu saja, masa lalunya akan terus menghantuinya. Tapi mungkin dengan membiarkan semua lepas sementara, ia bisa memberikan ruang untuk dirinya bernapas dan beristirahat.
"Tira, bisakah kau memelukku?"
"Tentu saja" Yudistira mendekat ke arah Arjuna. Tubuhnya sang nada rengkuh dengan lembut, jemarinya sibuk mengelus pelan punggung yang telah lama tegar. Sedangkan sang matahari mengeratkan lengannya, melingkar posesif pada pinggang sang kasih seolah mencegah agar takdir tak ikut melenyapkan kembali orang- orang yang dikasihinya, seperti takdir merenggut orang tuanya dahulu.
Dalam kesunyian dan elusan hangat nan lembut, setitik air mata akhirnya mengalir bebas, mencurahkan segala emosi terpendam yang akhirnya bisa dilepaskan sedikit demi sedikit.
Yudistira hanya diam, tak ada pertanyaan, tak ada penghakiman. Hanya sentuhan lembut yang bermakna 'aku selalu di sini'.
