Chapter Text
Pagi di ruang kelas SMA selalu memiliki aroma yang spesifik—campuran antara debu kapur yang mengendap semalaman, dinginnya embun yang menempel di kaca jendela, dan antisipasi akan hari yang panjang. Bagi Seonghyeon, rutinitas adalah segalanya. Ia datang dengan setumpuk buku tebal di dekapan dada, segelas minuman hangat, dan daftar panjang tugas yang sudah tercetak rapi di kepalanya. Namun, kedamaian pagi itu menguap seketika saat matanya menangkap deretan nama yang tertulis acak di papan tulis ujung kelas.
Jadwal Piket Harian: Eom Seonghyeon & Ahn Keonho.
Ada kelelahan preskriptif yang langsung menjalar di sekujur bahu Seonghyeon, mendahului pekerjaan itu sendiri. Ia sudah bisa menebak ritmenya. Ia bisa merasakan absennya sosok itu di udara, bahkan sebelum ruang kelas ini benar-benar terisi. Seonghyeon meletakkan barang-barangnya dengan embusan napas kasar, tahu pasti siapa yang akan tiba-tiba menghilang ditelan bumi saat kelas butuh dibersihkan.
Lima belas menit berlalu dalam sunyi yang sibuk, dan tepat ketika Seonghyeon baru saja menyusun kursi-kursi terakhir ke atas meja, suara tawa berat memecah ketenangan lorong.
Keonho melangkah masuk. Ia selalu membawa sisa-sisa angin luar bersamanya, seragam yang seolah didesain untuk tidak pernah pas dengan benar—dasinya melonggar di kerah yang sengaja tak dikancingkan, dan tas ransel yang hanya menggantung malas di satu bahu. Ia melangkah ringan ke dalam kelas, menoleh ke belakang untuk membalas candaan Martin tanpa beban, ekspresinya selalu santai, cukup damai untuk seseorang yang nyaris terlambat. Seolah waktu di dunia ini memang berputar hanya untuk menunggunya.
Seonghyeon berdiri di tengah kelas, memegang sapu layaknya sebuah senjata.
"Ambil sapu. Sekarang," desis Seonghyeon. Ujung suaranya tajam, tidak repot-repot menyembunyikan kekesalan yang sudah menumpuk sejak lima belas menit lalu.
Keonho berhenti melangkah. Tatapannya turun perlahan, menelusuri postur kaku Seonghyeon dan wajahnya yang sudah berkerut di pagi hari, sebelum seulas senyum miring—senyum paling menyebalkan yang pernah diciptakan alam semesta—muncul di sudut bibirnya.
"Ya elah, Hyeon. Pagi-pagi muka lo udah tegang aja," ujar Keonho, suaranya berat dan mengalun santai. "Ngapain sih ngegas mulu? Matahari aja belum bener-bener melek."
"Gue gak butuh ceramah pagi dari orang yang jadwal piket aja pura-pura lupa," balas Seonghyeon tajam. Ia menyorongkan gagang sapu kayu itu tepat ke dada Keonho, memaksanya menerima benda tersebut. "Setengah kelas bagian lo. Yang bersih."
Keonho menghela napas panjang yang kelewat dramatis. Ia memutar bola matanya, tapi jemarinya tetap meraih gagang sapu itu. Alih-alih membersihkan, gerakannya menyapu lantai benar-benar asal-asalan, lebih mirip orang yang sedang mengusir lalat imajiner daripada mengumpulkan kotoran. Debu-debu malah berterbangan, menari-nari mengejek di bawah cahaya keemasan yang menembus jendela. Seonghyeon memperhatikan dengan rahang mengeras. Ia tahu Keonho sedang mempermainkannya. Keonho selalu tahu persis tombol mana yang harus ditekan untuk membuat Seonghyeon bereaksi.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, Keonho menyandarkan sapu itu ke pinggiran meja terdekat dengan bunyi tuk yang ringan.
"Eh, gue baru inget. Ada barang gue yang ketinggalan di loker," ucap Keonho tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia menepuk bahu Seonghyeon pelan sambil melenggang melewatinya. "Nitip sapu bentar yak."
"Heh! Keonho! Jangan kabur lo—"
Seonghyeon langsung memutar tubuh, mengejar langkah lebar Keonho sampai ke ambang pintu. Tapi punggung anak itu sudah menjauh di belokan lorong, menyisakan lambaian tangan santai di udara. Seonghyeon mencengkeram kusen pintu, buku-buku jarinya memutih, sementara napasnya memburu karena marah.
Di bangku deretan belakang, Martin hanya menggelengkan kepala sambil tertawa pelan, mengeluarkan buku catatannya. Ia sudah terlalu terbiasa menjadi penonton VIP dari sandiwara harian ini.
Seonghyeon mendengus keras, mengumpat pelan di bawah napasnya, dan berbalik kembali ke dalam. Ia meraih sapu yang ditinggalkan Keonho dan mulai membersihkan lantai yang kotor sendirian. Gerakannya kini jauh lebih bertenaga, setengah menggerutu dalam hati, menyalurkan setiap ons rasa frustrasinya pada debu-debu di sudut ruangan.
Keonho sebenarnya bisa mengerjakannya. Seonghyeon sangat tahu itu. Anak itu tidak bodoh, hanya saja ia jauh lebih menikmati percikan amarah di mata Seonghyeon daripada lantai kelas yang bersih.
Dan ketika bel tanda masuk akhirnya melengking tajam merobek udara sekolah, Seonghyeon baru saja mengembalikan sapu ke tempatnya. Sedetik kemudian, Keonho menyelinap masuk ke dalam kelas, mengekor tepat di belakang guru yang melangkah melewati pintu. Ia menjatuhkan diri di bangkunya, menatap ke depan seolah ia sama sekali tidak baru saja membuat darah Seonghyeon mendidih.
Mereka kembali duduk di kursi masing-masing, dikelilingi jarak yang kasat mata, terbungkus dalam keheningan yang menipu. Orang lain mungkin akan melihat mereka layaknya dua murid biasa, seolah tidak pernah ada pertengkaran sebelumnya, seolah semuanya baik-baik saja. Namun, di balik seragam Seonghyeon yang rapi, tarikan napasnya masih sedikit lebih cepat—sebuah antisipasi sunyi akan perang kecil berikutnya yang pasti datang, yang selalu datang, kapan pun Keonho ada di dekatnya.
Matahari siang membakar aspal lapangan basket di luar sana, membiaskan hawa panas yang merayap perlahan ke dalam ruang kelas. Jam istirahat selalu memiliki melodi yang sama—suara langkah kaki yang terburu-buru menuju kantin, gesekan kursi, dan obrolan tumpang tindih. Di bangkunya, Seonghyeon masih merapikan isi tasnya dengan gerakan kasar, menggerutu tertahan sambil menjejalkan sebuah buku catatan.
"Lo kalau masukin buku sambil emosi gitu, ntar halamannya pada sobek, Hyeon."
Sebuah suara memecah konsentrasinya. Juhoon sudah duduk menyamping di kursi depan meja Seonghyeon, lengannya bersedekap santai di atas sandaran kursi. Sebagai seseorang yang sudah berbagi bekal makan siang dengan Seonghyeon sejak mereka masih belajar bersepeda roda dua, Juhoon tak pernah butuh permisi atau basa-basi untuk masuk ke dalam gelembung kehidupan sahabatnya.
"Biarin aja. Daripada muka orang yang gue sobek," sahut Seonghyeon ketus. Ia menarik sebuah map plastik bening dari dalam laci, berniat menyortir kertas-kertas tugas lama yang sudah menumpuk.
Juhoon tertawa kecil, suara baritonnya renyah. "Keonho lagi? Ya ampun, ini udah siang, energi lo gak habis apa buat ngedumelin dia dari pagi?"
Seonghyeon mendengus, tangannya menarik setumpuk kertas dari dalam map. Namun, gerakannya mendadak terhenti. Ujung jarinya menahan selembar kertas yang menguning di bagian tepinya—sebuah draf proposal tugas kelompok dari akhir masa SMP, yang entah bagaimana bisa terselip dan bertahan hidup di dasar map plastiknya. Di sudut kanan atas kertas itu, tinta hitam yang sudah mulai pudar mengeja dua nama secara berdampingan: Eom Seonghyeon & Ahn Keonho.
Melihat dua nama itu bersanding dalam satu ruang kecil sudah cukup untuk memicu letupan tak kasat mata di dada Seonghyeon. Udara di sekitarnya mendadak terasa lebih berat.
Juhoon mengikuti arah pandang Seonghyeon dan menghela napas pelan. "Lo tahu gak sih, dendam lo ke dia dari jaman SMP tuh udah kayak penyakit kronis. Gak sembuh-sembuh."
Kata-kata Juhoon adalah pelatuknya. Seonghyeon tidak membalas, karena pikirannya ditarik mundur dengan paksa, terseret kembali ke lorong SMP yang lengang di suatu sore tiga tahun lalu.
Ingatan itu adalah tentang Olimpiade Sains Tingkat Nasional. Bagi Seonghyeon, kompetisi itu bukan sekadar piala atau sertifikat, melainkan tiket emasnya. Ia telah menukar jam tidurnya, mengorbankan akhir pekannya, dan menenggelamkan dirinya dalam lautan rumus demi mendapatkan rekomendasi masuk ke SMA impiannya. Lalu, Keonho datang. Anak itu mendaftar hanya karena iseng—karena, menurut pengakuannya sambil tertawa saat itu, ‘kayaknya bolos kelas reguler buat karantina olimpiade lumayan seru’.
Awalnya, Seonghyeon tidak peduli. Ia tahu porsi usahanya. Namun, semesta memang memiliki selera humor yang kejam. Saat pengumuman seleksi akhir keluar, nama Keonho bertengger angkuh di posisi pertama, menggeser Seonghyeon yang terlempar ke posisi kedua dan kehilangan kuota untuk maju ke tingkat selanjutnya.
Di lorong sepi itulah Seonghyeon membuang harga dirinya. Ia menemui Keonho. Dengan suara yang berusaha ia jaga agar tidak bergetar, Seonghyeon meminta—memohon secara baik-baik—agar Keonho mundur. Ia menjelaskan betapa ia sangat membutuhkan posisi itu demi sekolahnya, demi masa depannya, sementara bagi Keonho itu hanyalah lelucon pengisi waktu.
Seandainya Keonho menolak dengan sederhana. Seandainya Keonho hanya berkata 'Maaf, gue gak mau', Seonghyeon mungkin akan menelan kekalahannya dengan lapang dada.
Namun, Keonho tidak melakukan itu.
Anak laki-laki yang saat itu berdiri di depannya menatap Seonghyeon dari atas ke bawah, sudut bibirnya melengkung membentuk seringai yang terasa seperti sayatan belati.
“Lo menyedihkan banget, tau gak?” Suara Keonho saat itu terdengar ringan, namun kata-katanya penuh bisa. “Kalau lo emang pantes menang, lo gak bakal ada di sini ngemis-ngemis posisi yang udah jelas punya gue. Gak terima banget ada yang bisa ngalahin lo? Kalau lo gak capable, ya terima aja. Jangan malah ngide bikin gue kasihan sama lo.”
Kalimat itu merobek sesuatu yang esensial di dalam diri Seonghyeon. Ia tidak sekadar kalah, ia dihinakan. Kata-kata itu mengendap di dasar kepalanya, membusuk menjadi kemarahan yang dipeliharanya dengan hati-hati hingga detik ini.
"Seonghyeon. Woi."
Panggilan Juhoon menarik kesadaran Seonghyeon kembali ke ruang kelas yang bising. Seonghyeon mengerjap, menyadari tangannya meremas ujung kertas itu terlalu erat hingga kusut.
"Dia itu brengsek, Ju. Sampai kapan pun," gumam Seonghyeon, suaranya rendah, terselip kepahitan yang belum juga reda. Ia melempar kertas itu kembali ke dalam laci mejanya seolah benda itu beracun.
Juhoon memiringkan kepalanya, menatap sahabatnya dengan tatapan lembut namun rasional. "Gue tahu omongan dia waktu itu emang kebangetan. Tapi dia kan udah nyoba minta maaf ke lu setelah kejadian itu, Hyeon. Berkali-kali, malah."
"Minta maaf apanya?" Seonghyeon menatap Juhoon tajam, rahangnya kembali mengeras. Emosi yang tadi mengendap kini kembali mendidih ke permukaan. "Lo nyebut kelakuan dia setelah itu sebagai permintaan maaf? Minta maaf itu artinya lo sadar lo salah dan berhenti. Bukan malah makin gencar gangguin gue tiap hari, ngerusak mood gue tiap ada kesempatan, dan bertingkah seolah-olah obrolan kita di lorong itu gak pernah terjadi! Permintaan maaf dia itu kosong. Gak tulus."
Juhoon menatap mata Seonghyeon yang berkilat penuh perlawanan. Sebagai orang yang mengenal Seonghyeon lebih baik dari siapa pun, Juhoon tahu kapan harus menekan dan kapan harus mundur. Ketegangan di bahu Seonghyeon adalah bukti nyata bahwa luka masa lalu itu masih berdarah segar di kepalanya.
Maka, Juhoon hanya menghela napas panjang, membiarkan topik itu menguap terbawa angin panas siang hari. Ia menepuk pelan meja Seonghyeon, tersenyum kecil.
"Ya udah, ya udah. Jangan ditekuk terus tuh muka, entar tambah tua sebelum waktunya," goda Juhoon, sengaja mengubah nada suaranya menjadi lebih ringan. "Kantin, yuk? Cacing di perut gue udah demo minta mie ayam."
Seonghyeon menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara mendinginkan rongga dadanya yang sempat terbakar. Ia mengangguk samar, berdiri dari kursinya. Meski percakapan itu berakhir, bayangan seringai Keonho di masa lalu masih tertinggal, meracuni sudut pikirannya, membuktikan bahwa beberapa sejarah memang terlalu pahit untuk sekadar dihapus oleh waktu.
Waktu merangkak perlahan setelah obrolan siang itu. Sisa pelajaran dihabiskan Seonghyeon dengan mencatat setengah mati, berusaha menenggelamkan kepalanya ke dalam deretan rumus agar tidak kembali memikirkan masa lalu. Ketika bel pulang akhirnya berbunyi, bunyinya terasa seperti nyanyian pembebasan. Matahari mulai condong ke barat, mengubah pendar cahayanya dari putih menyilaukan menjadi jingga keemasan yang hangat. Saat sebagian besar murid berebut keluar gerbang, kehidupan lain justru baru dimulai di lapangan rumput belakang sekolah.
Suara pantulan bola dan teriakan bersahut-sahutan menggema di udara sore yang mulai mendingin. Di tengah lapangan, Juhoon sedang berlari menggiring bola, tertawa lepas saat ia berhasil mengecoh James.
James bukanlah murid. Ia adalah guru olahraga magang yang masih berstatus mahasiswa tingkat akhir. Usianya yang belum terpaut terlalu jauh membuat batas antara 'guru' dan 'teman' menjadi kabur, terutama bagi Juhoon yang selalu menghabiskan jam kosong di lapangan. Dari Juhoon dan James jugalah, lingkaran pertemanan itu meluas tanpa bisa dicegah, menarik dua nama yang sudah bersahabat sejak SMP untuk ikut bergabung: Martin dan Keonho.
Seonghyeon berdiri di pinggir lapangan, bersedekap dengan tas ransel Juhoon tersampir di satu bahunya. Ia hanya ingin mengantarkan tas itu sebelum pulang—atau mungkin menunggu Juhoon selesai agar mereka bisa pulang bersama seperti biasa. Angin sore meniup pelan anak rambutnya, sementara matanya tanpa sadar terpaku pada sosok yang tengah berlari melintasi lapangan dengan peluh membasahi pelipis.
Keonho.
Anak itu tampak sepenuhnya berada di elemennya. Di bawah cahaya keemasan matahari sore, segala aura menyebalkan yang ia bawa di dalam kelas seolah memudar, digantikan oleh kelincahan yang nyaris memesona. Namun, ilusi itu hancur berantakan detik berikutnya.
Keonho yang baru saja mengoper bola tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam menangkap siluet Seonghyeon di pinggir lapangan. Seringai familier itu langsung terbit di wajahnya.
"Woi, Seonghyeon!" seru Keonho dari tengah lapangan, suaranya membelah jarak di antara mereka. Ia menyeka keringat di dagunya dengan punggung tangan, menatap lurus ke arah Seonghyeon. "Ngapain lo berdiri di situ kayak patung satpam? Turun sini, main lah!"
Seonghyeon mendengus pelan, suaranya sedingin es. "Gak, makasih. Gue lebih sayang seragam gue daripada harus lari-lari gak jelas sama lo."
Keonho tertawa, tawa yang berat dan meremehkan. Ia melangkah perlahan mendekati pinggir lapangan, sengaja membiarkan permainan berlanjut tanpanya. "Elah, gak asik lo. Sibuk banget ngurusin hidup orang di kelas sampai lupa caranya napas, ya? Sesekali seneng-seneng napa, gak bakal bikin nilai lu turun juga."
Buku-buku jari Seonghyeon memutih di tali tas Juhoon. Urat nadinya berdenyut pelan di leher. "Seenggaknya gue tahu caranya ngerjain tanggung jawab. Gak kayak lo yang bisanya cuma modal lari di lapangan, tapi urusan nyapu kelas aja lagaknya kayak orang lumpuh."
Di belakang Keonho, Martin yang mendengar percakapan itu tak bisa menahan diri. Ia tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. "Buset, kena mental lo, tuh!" seru Martin.
Keonho tidak memalingkan pandangannya dari Seonghyeon. Alih-alih marah, senyumnya justru melebar—seolah tolakan dan kalimat pedas Seonghyeon adalah bahan bakar favoritnya. Ia baru saja membuka mulut untuk membalas, bersiap melontarkan kalimat provokatif lainnya, ketika sebuah peluit ditiup nyaring.
Priiit!
James berjalan menghampiri mereka sambil memutar peluit di jarinya. "Udah, udah, bubar. Muka lo berdua udah kayak mau baku hantam beneran. Keonho, balik ke posisi. Seonghyeon, ini anak kalau mau lo bawa pulang, bawa aja sekarang sebelum lapangan gue ubah jadi ring tinju."
Juhoon berlari kecil menghampiri pinggir lapangan dengan napas tersengal. Ia mengambil tasnya dari bahu Seonghyeon sambil tersenyum meminta maaf. "Gue balik duluan, Bang James, Tin, No! Sorry ya, majikan gue udah ngamuk nih."
"Sialan lo, Ju," desis Seonghyeon. Ia menatap tajam Keonho satu kali lagi—sebuah peringatan bisu—sebelum berbalik dan berjalan menjauh, menyusuri koridor yang menuju gerbang sekolah.
Malam harinya, udara kamar Seonghyeon terasa sejuk. Hanya ada pendar kebiruan dari lampu tidur dan layar ponsel yang menyala di tangannya. Bunyi notifikasi terus berdenting memecah keheningan.
Juhoon: Gila capek banget gue hari ini.
Juhoon: Eh Hyeon, bentar lagi lu ultah yang ke-18 kan? Dua minggu lagi?
Jari Seonghyeon mengetik balasan dengan cepat.
Seonghyeon: Iya. Kenapa? Lo mau beliin gue motor?
Juhoon: Ngimpi. Gue cuma kepikiran aja... lo udah siap belum? Maksud gue, umur 18. Tanda soulmate.
Jari Seonghyeon berhenti di atas keyboard virtualnya. Napasnya tiba-tiba terasa tertahan.
Di dunia ini, ulang tahun kedelapan belas bukanlah sekadar perayaan bertambahnya usia. Melainkan sebuah vonis. Pada malam pergantian usia ke-18, sebuah tanda—soulmate mark—akan mekar di kulit seseorang, membawa inisial atau simbol dari belahan jiwa yang telah ditakdirkan semesta untuk mereka.
Seonghyeon: Gue gak tau sih, Ju. Ah susah jelasinnya kalau chat, banyak yang gue pikirin.
Juhoon: Yaudah Video call aja, lo ceritain apapun yang ada di kepala kecil lo itu sekarang.
Malam beranjak semakin larut, menyisakan derik serangga yang sayup-sayup terdengar dari balik jendela kamar Seonghyeon. Kegelisahan yang sempat bergemuruh di dadanya perlahan menyublim menjadi sesuatu yang lain—sebuah antisipasi yang mendebarkan, sebuah harapan yang rapuh. Bagaimanapun juga, di balik lapisan luar Seonghyeon yang gila kendali dan rasional, ia menyembunyikan sebuah keyakinan yang hampir suci tentang takdir.
Layar ponselnya yang menyala menampilkan wajah Juhoon yang sedang bersandar di bantal, tampak setengah mengantuk namun masih setia menemani Seonghyeon terjaga.
"Jadi," Juhoon memulai, suaranya sedikit teredam oleh koneksi internet, "udah kepikiran pengen inisial atau nama siapa yang muncul di kulit lo?"
Seonghyeon memeluk lututnya di atas kasur, membiarkan pendar biru dari layar menerangi wajahnya. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang jarang ia tunjukkan di sekolah. "Gak tahu. Siapa aja. Siapa pun yang emang disiapin semesta buat gue."
"Buset, pasrah amat bos," goda Juhoon, tawa kecil lolos dari bibirnya. "Kalau ternyata soulmate lu orangnya nyebeliiin banget gimana? Yang tipenya bikin darah tinggi tiap hari?"
"Gak mungkin," bantah Seonghyeon cepat, nada suaranya mengeras oleh keyakinan absolut. "Semesta itu selalu tahu apa yang kita butuhin, Ju. Kalau dia emang belahan jiwa gue, orang yang udah ditakdirin ada di hidup gue, ya pasti cocok. Sesederhana itu. Lagian, masa semesta ngasih gue beban hidup?"
Juhoon menopang dagu dengan satu tangan, menatap sahabatnya dari balik layar. "Lo tuh kadang rasionalnya kelewatan, tapi giliran bahas soulmate, malah religius banget dah sumpah."
"Karena emang masuk akal, Ju," ucap Seonghyeon, kali ini nadanya melembut, meluruhkan segala pertahanan yang biasa ia bangun di siang hari. Pandangannya menerawang ke arah langit-langit kamar yang gelap. "Bayangin aja, dunia ini tuh luas banget, miliaran orang. Semuanya sibuk sendiri, semuanya saling nyakitin atau sekadar lewat. Tapi ada satu orang... satu orang yang emang diciptain untuk kenal gue. Untuk paham gue, tanpa gue harus capek-capek cari sendiri. Ada sesuatu yang menenangkan dari gagasan itu, tahu gak? Kalau in the end of the day, gue gak akan pernah sendirian."
Hening sejenak merajai sambungan video itu. Di seberang sana, Juhoon menampilkan ekspresi yang netral, tidak sama sekali tertawa. Ia tidak melempar lelucon sarkas seperti yang biasa dilakukannya. Pemuda itu hanya menatap Seonghyeon dengan pandangan hangat yang dipenuhi pengertian.
"Gue harap lo bener, ya," kata Juhoon lembut. "Gue harap lo dapet orang yang bisa bikin lo bahagia. You deserve it."
Hati Seonghyeon terasa penuh. Ia tersenyum, senyum yang mencapai kedua matanya, lalu mengangguk. "Makasih, Ju. Udah ah, lo tidur sana, mata lo udah kayak panda."
Setelah panggilan video itu berakhir, kamar Seonghyeon kembali direngkuh kesunyian. Ia beranjak dari kasur, melangkah menuju lemari untuk menyiapkan seragam yang akan dipakainya di hari ulang tahunnya nanti, merapikannya dengan sangat presisi. Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas, tepat di samping tempat tidur. Sembari memejamkan mata malam itu, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam bayangan manis tentang nama siapa yang sebentar lagi akan terukir di kulitnya.
Namun, segala ketenangan yang dibangun Seonghyeon di malam-malam sebelumnya hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan detik.
Hari itu, beberapa hari sebelum ulang tahunnya, ruang kelas terasa seperti medan perang yang pengap. Udara bercampur dengan bau keringat, kepanikan pagi hari, dan tensi yang siap meledak kapan saja. Semuanya bermula dari sebuah tugas kelompok sejarah, dan tentu saja keterlambatan Ahn Keonho.
Seonghyeon sedang berdiri di depan mejanya, mati-matian merevisi lembar jawaban yang baru saja diserahkan Keonho dengan format yang berantakan, ketika tiba-tiba sebuah bahu menabraknya dengan keras dari belakang.
Bruk!
Seonghyeon kehilangan keseimbangan. Lututnya menghantam lantai dengan bunyi berdebum, menumpahkan kertas-kertas tugas itu berserakan ke mana-mana. Rasa kebas menjalar dari bahunya, namun panas yang mendidih di kepalanya jauh lebih menyakitkan.
Ia mendongak, dan menemukan Keonho berdiri di sana. Anak itu baru saja masuk, tas di satu bahu, menatap Seonghyeon dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Sori, gue gak liat," gumam Keonho, meski nada suaranya tidak terdengar menyesal sama sekali.
Seonghyeon memungut kertas-kertasnya dengan tangan gemetar. Ia berdiri, menepis debu dari celananya, dan menatap Keonho dengan sorot mata yang bisa membunuh. "Gak liat? Atau emang lo buta?! Kerjaan lo yang dikasih ke gue formatnya hancur lebur, lo dateng telat, dan sekarang lo nyenggol gue sampai jatoh?!"
"Gue bilang sori," balas Keonho, kali ini rahangnya mulai mengeras. Seringai menyebalkan yang biasa ia pakai lenyap tak berbekas. "Soal tugas, gue tadi malem ada urusan. Makanya gue kerjain seadanya dulu. Lo kan bisa—"
"Bisa apa? Benerin kerjaan lo kayak biasa?" potong Seonghyeon tajam, suaranya naik satu oktaf, membelah kebisingan kelas. Beberapa murid di sekitar mereka mulai menghentikan obrolan, menoleh ke arah sumber keributan. "Gue bukan babu lo, Keonho! Lo pikir karena lo jago di lapangan lo bisa seenaknya lepas tanggung jawab di sini?!"
"Lo tuh selalu gini ya, Hyeon," sahut Keonho, melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma citrus tajam dari parfumnya menyeruak masuk ke indra penciuman Seonghyeon. "Lo selalu bertingkah seolah-olah cuma lo doang yang paling peduli di dunia ini. Cuma lo yang paling bener, cuma lo yang paling kerja keras! Lo gila hormat apa gimana?!"
"Karena emang lo gak pernah peduli sama apa pun!" Seonghyeon akhirnya meledak. Dadanya naik turun dengan cepat, emosi merobek setiap pertahanan rasionya. Di depan puluhan pasang mata teman-teman sekelasnya, Seonghyeon menudingkan telunjuknya tepat di depan dada Keonho.
"Gue sumpahin lo, Ahn Keonho!" desis Seonghyeon, suaranya bergetar karena amarah murni. "Gue sumpahin, pas mark lo muncul nanti, lo dapet soulmate yang paling nyebelin di muka bumi! Orang yang bakal gangguin lo, yang bikin hidup lo hancur, yang bikin hari-hari lo gak pernah tenang! Biar lo tahu rasanya jadi gue!"
Hening seketika mencekik ruangan itu.
Keonho menatap Seonghyeon. Selama beberapa detik yang terasa sangat lambat dan menyiksa, tidak ada reaksi. Namun perlahan, sesuatu di balik sepasang mata gelap itu berubah. Bukan sekadar amarah biasa tetapi terasa seperti sesuatu yang lebih dalam, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Udara di sekitar Keonho seolah membeku.
"Simpen sumpah lo, Seonghyeon," suara Keonho terdengar luar biasa pelan, namun bergetar dengan kebencian yang mendalam. "Gue gak butuh omong kosong soal takdir. Gue gak percaya sama yang namanya soulmate. Semesta cuma suka bikin takhayul murahan, dan bodohnya, orang serasional kayak lo percaya."
Seonghyeon mengatupkan rahangnya begitu kuat hingga giginya bergemeretak. Tangannya yang memegang buku sejarah terangkat sedikit—sebuah impuls liar untuk melemparkan benda tebal itu tepat ke wajah Keonho.
Namun sebelum ia sempat melakukannya, sebuah tangan besar meraih kerah seragam Keonho dari belakang. Martin menyentak sahabatnya itu mundur secara paksa.
"Udah, woi! Lo berdua mau masuk BK pagi-pagi?!" teriak Martin, menyeret Keonho menjauh ke arah meja belakang. Keonho tidak meronta, namun matanya tak lepas sedetik pun dari Seonghyeon, membakar lawannya dengan tatapan permusuhan.
Tepat pada saat itu, Juhoon muncul di ambang pintu kelas. Ia membawa sekotak susu stroberi untuk Seonghyeon, namun langkahnya terhenti saat melihat kekacauan kertas di lantai dan napas sahabatnya yang memburu. Menyadari apa yang baru saja terjadi, Juhoon hanya bisa memejamkan mata perlahan, memijat pangkal hidungnya dengan sebelah tangan, pasrah pada siklus yang entah kapan akan berakhir ini.
Ketegangan hari itu meninggalkan residu tak kasat mata yang terus menempel di udara kelas. Seonghyeon dan Keonho tidak saling bicara setelahnya, menghindari satu sama lain layaknya dua kutub magnet yang sama.
Hari-hari merangkak berlalu, menyeret waktu dengan lambat menuju satu titik yang paling ditunggu. Sampai akhirnya, tanpa bisa dicegah oleh siapa pun, malam itu pun tiba. Ulang tahun Seonghyeon yang kedelapan belas.
Pagi di hari ulang tahunnya yang kedelapan belas terasa berbeda. Ada sesuatu yang ringan, nyaris magis, berhembus di udara ketika Seonghyeon membuka mata. Cahaya matahari pagi menerobos celah tirainya, seolah ikut merayakan kelahirannya kembali sebagai seseorang yang kini memiliki separuh jiwa di dunia.
Seonghyeon melangkah ke kamar mandi dengan degup jantung yang tidak beraturan. Antisipasi merayap di bawah kulitnya, membuat napasnya terasa lebih pendek. Ia menghidupkan shower, membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya, membersihkan segala kecemasan yang sempat singgah di malam-malam sebelumnya. Hari ini adalah harinya. Hari di mana semesta akan membuktikan padanya bahwa ia tidak pernah sendirian. Bahwa keyakinannya selama ini tidak sia-sia.
Setelah mematikan air, ia melilitkan handuk di pinggangnya dan menyeka cermin yang mengembun dengan telapak tangan. Pantulan dirinya muncul—basah, berantakan, tapi matanya bersinar penuh harap.
Seonghyeon mulai memeriksa tubuhnya. Ia mengecek pergelangan tangan, punggung tangan, tengkuk, hingga dada. Tidak ada apa-apa. Kulitnya masih sama bersihnya seperti kemarin. Sedikit rasa panik mulai menggerogoti ujung hatinya. Apakah mark-nya ada di punggung? Di tempat yang tidak bisa ia lihat sendiri?
Ia memutar tubuhnya sedikit ke samping, mengangkat lengan kanannya untuk memeriksa area yang tersembunyi.
Dan saat itulah, ia melihatnya.
Di sisi kiri tubuhnya, tepat di atas tulang rusuk yang melindungi jantungnya, terdapat deretan huruf yang tercetak dengan tinta hitam legam. Bentuknya tidak samar. Tidak abstrak. Huruf-huruf itu terukir dengan kejam dan sangat jelas, mencolok di atas kulitnya yang pucat.
Seonghyeon mematung.
Dunia di sekitarnya mendadak berhenti berputar. Suara tetesan air dari kran yang bocor terdengar seperti dentuman meriam di telinganya. Oksigen tiba-tiba terasa seperti ditarik paksa dari paru-parunya.
Ia mengerjap sekali. Dua kali. Berharap matanya hanya salah menangkap bayangan atau kepalanya sedang mempermainkannya. Tapi deretan huruf itu tidak berubah.
Ahn Keonho.
Telinga Seonghyeon berdenging keras. Ada rasa dingin yang menyengat, menjalar dari ujung kaki hingga merayap naik ke tengkuknya. Tidak.
Itu pasti sebuah kesalahan. Itu pasti coretan spidol dari seseorang yang masuk ke kamarnya semalam. Itu pasti halusinasi. Seonghyeon menyambar sabun cair dengan tangan gemetar, menumpahkannya ke telapak tangan, dan mulai menggosok tulang rusuknya.
Tinta itu tidak luntur.
Napas Seonghyeon mulai memburu, pendek dan putus-putus. Ia mengambil spons mandi, menekannya kuat-kuat ke atas nama itu, dan menggosoknya dengan tenaga yang hampir brutal. Busa sabun menetes ke lantai, tapi huruf-huruf itu seolah mengejeknya dari balik kulit. Sempurna. Tak tersentuh.
"Hilang... hilang, bangsat," bisiknya parau, suaranya pecah di udara kamar mandi yang sempit.
Ia menggosoknya lebih keras. Semakin keras, sampai buku-buku jarinya memutih, sampai kulit di sekitar tulang rusuknya memerah cerah, lecet, dan terasa perih yang menyayat. Namun nama itu tetap berada di sana, menancap permanen, membakar setiap keyakinannya hingga menjadi abu.
Tangan Seonghyeon akhirnya jatuh terkulai. Spons mandi itu terlepas dari genggamannya, menghantam lantai keramik dengan bunyi basah yang memuakkan.
Lututnya melemas, tak lagi mampu menopang berat badannya. Seonghyeon merosot turun hingga duduk di lantai kamar mandi yang dingin. Ia memeluk lututnya, mencengkeram erat ujung handuknya, sementara matanya menatap kosong ke arah genangan air sabun di dekat kakinya.
Semesta mengkhianatinya.
Pemikiran itu menghantam dadanya seperti godam. Selama ini, ia berpegang teguh pada gagasan bahwa takdir selalu tahu apa yang terbaik. Bahwa soulmate adalah hadiah terindah, rumah tempatnya pulang, seseorang yang akan mengerti dirinya bahkan tanpa ia harus bicara. Tapi apa ini? Semesta justru melemparinya dengan kotoran paling menjijikkan. Semesta memilih musuh bebuyutannya—orang yang menghancurkan harinya, yang meremehkannya, yang paling ia benci hingga ke sumsum tulang—untuk menjadi takdirnya.
Ini bukan lelucon. Ini adalah eksekusi mati.
Perasaan Seonghyeon campur aduk hingga rasanya kepalanya akan meledak. Kecewa yang begitu masif menelan harapannya bulat-bulat, digantikan oleh amarah yang membakar rongga dadanya, lalu melebur menjadi kesedihan yang luar biasa mencekik. Ia merasa kotor. Ia merasa dirampok. Semua fantasi indahnya tentang hari ini direnggut dengan paksa, disisakan hanya dengan nama seseorang yang bahkan tidak percaya pada takdir.
Biar lo tahu rasanya jadi gue. Sumpah serapahnya sendiri tempo hari di kelas terngiang kembali, menggema sebagai ironi yang paling kejam. Bukan Keonho yang mendapatkan kutukan itu. Tapi dirinya sendiri.
Di atas wastafel, ponselnya tiba-tiba bergetar panjang. Cahaya layarnya menerangi sebagian ubin dinding.
Juhoon: HAPPY SWEET 18, BRO! Jangan pelit, fotoin mark lo cepet, gue mau liat takdir lo siapa wkwk.
Mata Seonghyeon menatap layar itu dengan nanar. Ia tertawa—tawa yang kosong, kering, dan sama sekali tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Ia menarik napas panjang, berusaha menahan air mata frustrasi yang mendesak keluar dari pelupuk matanya.
Dengan sisa tenaga yang ia punya, Seonghyeon berdiri perlahan. Tubuhnya terasa seringkih ranting kering. Ia meraih ponselnya, membuka kamera, dan mengarahkannya ke cermin. Ia mengambil satu foto tepat di bagian tulang rusuknya.
Ia memperbesar hasil foto itu di layar. Deretan huruf kapital hitam itu terpampang nyata, mengejeknya dengan realita yang tak bisa ia hindari. Ahn Keonho. Ia menatap gambar itu cukup lama, memastikan rasa sakit dan kebencian ini terpatri kuat di dalam ingatannya, sebelum akhirnya menekan tombol kunci ponsel. Layar menjadi gelap.
Di detik itu juga, segala fase penolakan dan duka cita yang baru saja ia lewati mengeras menjadi satu keputusan final yang absolut.
Keonho tidak percaya pada soulmate. Dan Keonho tidak akan pernah tahu soal ini. Sampai mati, rahasia ini akan ikut terkubur bersamanya. Seonghyeon lebih rela mati membusuk sendirian daripada harus menelan harga dirinya dan mengaku bahwa musuh yang paling ia benci adalah separuh jiwanya.
Seonghyeon mengangkat kepalanya lambat-lambat. Ia kembali menatap cermin. Di balik embun yang mulai menipis, pantulan dirinya menatap balik. Kulitnya memerah dan lecet di atas tulang rusuk, membingkai nama yang menjadi luka permanennya.
Matanya yang tadi pagi bersinar, kini hanya menyisakan kegelapan yang dingin dan hampa. Rahangnya mengeras.
"Gue benci banget sama lo, anjing," gumamnya parau.
