Work Text:
Sejak kapan rasanya Kyungmin tidak bisa bertatapan lama dengan hyung-nya? Bukan. Bukan dengan hyung tertua sekaligus leader. Bukan dengan hyung yang terlihat lebih childish darinya. Bukan dengan hyung yang paling sabar ditempeli olehnya. Bukan juga hyung yang sekamar dengannya. Namun, Jihoon, hyung yang menjadi partner duo performance-nya di tour konser pertama mereka.
Kyungmin sampai tidak sanggup menyebut namanya. Bukan karena ia tiba-tiba gagap bicara, tetapi karena menyebut namanya saja sudah membuat perutnya geli.
Di minggu pertama latihan tarian untuk duo performance mereka, Kyungmin sampai tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya sibuk terbayang-bayang wajah keren hyung-nya. Seharusnya, pemandangan Jihoon berlatih, menari, menyanyi dan tampil di atas panggung sudah menjadi hal biasa. Apalagi grup mereka sudah melewati dua tahun sejak debut. Namun kali ini mereka berlatih berdua tanpa member lain, dan intensitas itu mendukung perasaan Kyungmin.
Hanjin, hyung yang sekamar dengannya, menyadari keanehan Kyungmin. Namun Hanjin tidak mau cepat-cepat mengkonfrontasi hal itu kepada Kyungmin. Ia perlu memberikan pertanyaan ringan, seperti menanyakan kabar yang biasa ia lakukan sebelum masuk ke pertanyaan inti.
Malam itu, setelah mereka mandi dan bersiap tidur, Kyungmin dan Hanjin menyempatkan mengobrol sebentar untuk menyampaikan concern mereka soal konser sampai muncul satu pertanyaan tentang latihan masing-masing duo secara terpisah. Kyungmin secara gamblang menceritakan bahwa sedikit ada perbedaan pendapat dengan Jihoon namun cepat menemukan solusi jalan tengahnya.
Seharusnya momen berbeda pendapat, saling memberi masukan dan saling mengajari sesuatu menjadi makanan sehari-hari Kyungmin sebagai member satu grup. Namun entah mengapa, peristiwa yang baru-baru ini terjadi antara Kyungmin dan Jihoon malah membuat Kyungmin senyum-senyum sendiri. Dalam hatinya, Kyungmin berpikir ganteng banget ya kak Jihoon habis marah terus cepat minta maafnya. Cara Jihoon mengatasi situasi yang kurang nyaman malah membuat Kyungmin merasa aman di dekatnya.
“Kyungmin,” panggil Hanjin memutus lamunan Kyungmin.
Kyungmin cepat-cepat tersadar. Pipinya terasa panas. Sepertinya selama ini dirinya terlihat bodoh di hadapan Hanjin, seperti orang yang sedang ketahuan jatuh cinta. Malu dengan kelakuannya sendiri, ia memilih kabur.
“Aku keluar dulu ya, ambil cemilan,” ucap Kyungmin sebelum keluar kamar.
Sementara Hanjin hanya tersenyum geli. Dugaannya benar, latihan berdua dengan Jihoon selama seminggu menjadi alasan utama keanehan Kyungmin.
Setelah menutup pintu kamar mereka, Kyungmin cepat-cepat menutup muka dengan kedua tangannya karena merasa malu. Di hadapan hyung yang sekamar dengannya Kyungmin tidak bisa menyembunyikan rasa sukanya kepada Jihoon.
Kyungmin beranjak menuju dapur setelah menenangkan dirinya. Ia membuka kulkas dan melihat-lihat ada cemilan apa yang bisa ia makan. Ia terlalu sibuk melihat isi dalam kulkas sampai tidak menyadari ada member lain di belakangnya.
“Kalau kamu laper, makan snack bar coklat punyaku aja, di samping boks kimchi,” ucap member tersebut.
“Hahhhh?” seru Kyungmin, terkejut. Ia membalikkan badannya untuk melihat siapa sosok di belakangnya.
“Eh…” Napas Kyungmin tertahan beberapa saat karena semakin terkejut ternyata sosok di belakangnya adalah Jihoon.
“Kyungmin,” panggil Jihoon sambil menepuk bahu Kyungmin pelan untuk menyadarkan dari keterkejutan.
“Masih ada yang mau dicari nggak?” tambah Jihoon.
“Eh, nggak ada Kak. Nggak jadi laper. Balik duluan ya,” jawab Kyungmin cepat sambil menyingkir dari depan kulkas. Namun sebelum sempat melangkah, Jihoon yang posisinya masih berada di belakang Kyungmin menahan tangannya lebih dulu.
“Kyungmin, boleh ngobrol bentar nggak?” tanya Jihoon.
“Boleh Kak,” jawab Kyungmin.
Dalam hati Kyungmin sebenarnya saat ini ia ingin menghindar dari Jihoon karena berdua saja dengan hyung-nya satu ini membuat jantungnya berdetak tidak karuan namun ia tidak mungkin menolak maka Kyungmin duduk menunggu di meja makan sementara Jihoon membuat mi instan.
“Mau nggak?” tawar Jihoon sambil menaruh mangkuk mi instan ke atas meja dan duduk di kursi seberang Kyungmin.
“Nggak Kak. Makan aja, aku nggak laper,” jawab Kyungmin.
“Bener nggak laper? Tapi tadi nyariin cemilan di kulkas sampai serius banget,” ucap Jihoon sambil membawa gulungan mi di sumpit mendekat ke arah Kyungmin.
“Nggak, Kak. Makasih,” jawab Kyungmin mendorong pelan lengan Jihoon untuk menolak halus suapan mi darinya.
Jihoon tidak ambil pusing, memakan gulungan mi tersebut dengan khidmat.
“Kak, mau ngobrol apa ya?” tanya Kyungmin memutuskan bertanya lebih dulu karena melihat Jihoon terlalu asik menyeruput mi.
“Oh ya. Sampai lupa mau ngobrol. Maaf ya,” cengir Jihoon. Ia sebenarnya sengaja mengulur waktu supaya Kyungmin nggak buru-buru balik ke kamar.
Kyungmin hanya menghela napas dan memutar malas bola matanya hafal kelakuan random hyung-nya yang satu ini.
Ekspresi jengah Kyungmin disadari Jihoon. Ia hanya tertawa saja melihatnya. Sebenarnya sejak kejadian mereka beda pendapat soal koreografi, ia merasa Kyungmin sering menghindari tatapannya. Ia ingin memastikan semuanya baik-baik saja, jadi ia memilih untuk mencairkan suasana terlebih dahulu.
“Kalau misal bilang beneran nggak ada yang mau diomongin, cuma mau ditemenin makan gimana? Kesel nggak?” tanya Jihoon dengan nada jahil.
”Isshh…” keluh Kyungmin hendak bangkit dari duduknya.
“Bercanda. Mau ngobrol soal besok aja sih. Soalnya besok kan pertama kalinya kita kasih lihat yang lain performance kita dan bakal dievaluasi. Jadi perlu nyiapin mental dan siap nambahin bahan evaluasi mereka taruh di performance kita,” ucap Jihoon.
“Tapi ya udah deh, bisa dibahas besok aja. Santai dulu,” tambah Jihoon.
Setelah itu obrolan mereka justru lebih banyak membahas hal lain dan saling melempar candaan. Tanpa sadar mereka mengobrol cukup lama, mi di mangkuk Jihoon pun sudah tandas sedari tadi. Baru berhenti ngobrol saat Kyungmin menguap tanpa sadar.
“Kayaknya kita ngobrol udah cukup lama ya,” ucap Jihoon.
“Mata kamu juga udah ngantuk banget. Ya udah yuk tidur. Oh ya kamu duluan aja ke kamar. Aku masih mau cuci mangkok dulu,” tambah Jihoon sambil berdiri membawa mangkuk menuju dapur.
“Oke Kak,” ujar Kyungmin.
“Selamat malam Kyungmin,” ucap Jihoon sambil mengusak rambut Kyungmin pelan sebelum melangkah ke wastafel.
“Selamat malam Kak Jihoon,” ucap Kyungmin cepat, tak mau lama-lama di sana karena tidak baik untuk jantungnya.
Setelah Kyungmin masuk kamar, ia buru-buru menutup pintu lalu menuju kasurnya dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Menenangkan diri dan merilekskan badan. Ia berusaha untuk tidur cepat karena tidak mau tidak bisa tidur nyenyak lagi akibat peristiwa barusan.
Latihan hari ini bukan hanya khusus duo performance namun latihan sebagian setlist konser. Member sama-sama baru pertama kali melihat apa yang akan dibawakan oleh duo Jihoon-Kyungmin, duo Shinyu-Dohoon, dan duo Youngjae-Hanjin.
Mereka saling memantau dan mengevaluasi. Karena banyak yang dikejar harus dilatih hari ini maka duo performance ditampilkan dua kali, dievaluasi lalu sisa waktu seharian ini melatih performance lain. Di sela-sela jeda latihan, Jihoon mencatat evaluasi member di notes tab-nya.
Di hari berikutnya sebelum memulai latihan dengan seluruh member, Jihoon mengajak Kyungmin ke ruang latihan sebelah untuk berdiskusi perihal evaluasi dari member di hari kemarin. Mereka berdua memilih untuk duduk bersila di dekat pintu.
“Kyungmin, menurut kamu evaluasi dari member harus kita apain ya? Agak pusing nih. Karena mereka kan punya POV penonton ya jadi evaluasi kemarin tuh penting buat performance kita. Cuma di part mana yang masuk,” ucap Jihoon sambil membuka notes tab-nya yang mencatat evaluasi kemarin, ia sengaja mencondongkan badannya mendekat ke arah Kyungmin.
Dari satu pertanyaan pembuka dari Jihoon, menghasilkan diskusi yang cukup lancar dari mereka berdua. Sudah banyak titik terang untuk kerampungan performance mereka agar sempurna.
“Okelah, cukup sekian. Nanti malam kalau masih ada waktu kita coba rundingin lagi ya?” ajak Jihoon.
“Oke Kak. Sekarang udah waktunya balik ke sebelah nggak sih? Member lain pasti udah pada ngumpul juga?” ujar Kyungmin sambil berdiri.
“Tolong bangunin,” ucap Jihoon mengulurkan tangannya.
Kyungmin mengambil tangan Jihoon untuk membantunya berdiri. Setelah Jihoon berdiri, Jihoon membukakan pintu ruangan, menunggu Kyungmin lewat dan mendekatkan dirinya kepada Kyungmin.
“Makasih Kyungmin,” ucap Jihoon sambil merangkul bahu Kyungmin.
“Eh, makasih Kak,” gagap Kyungmin.
Rangkulan itu baru terlepas setelah mereka masuk ke ruangan sebelah.
Hari itu mereka melanjutkan latihan tanpa kendala berarti. Latihan demi latihan mereka jalani hingga hari H konser dan tanpa terasa beberapa stop tour konser mereka sudah terlewati.
Di setiap stop, member bisa meminta gaya rambut tertentu. Kyungmin yang merasa punya sedikit waktu untuk kembali mengagumi hyung-nya memakai waktu saat mereka dipoles wajahnya dan ditata rambutnya. Biasanya ia menunggu giliran atau tidur kalau gilirannya sudah selesai. Namun di tour konser, Kyungmin tidak mau melewatkan kesempatan hanya tidur. Ia duduk di pojok ruangan yang mudah melihat member saat ditata rambutnya.
Di stop kali ini sebenarnya Jihoon tidak meminta gaya rambut tertentu, namun saat melihat Jihoon selesai dipoles tanpa sadar Kyungmin mengeluarkan keterpanaan. Untungnya saat itu di sekitarnya tidak ada orang yang sadar akan sikapnya.
Ritual Kyungmin sebelum konser bertambah. Bukan hanya latihan pernapasan dan koreografi, ia juga harus menenangkan detak jantungnya yang berdebar tidak karuan apalagi nanti saat duo performance bersama Jihoon.
Di lagu lain, Kyungmin sukses menguasai dirinya. Ia cukup percaya diri di performance duo nanti. Rupanya efek deg-degannya terlambat datang. Sebelum mereka naik ke stage untuk duo performance, Jihoon menyadari raut wajah nervous Kyungmin, maka dari itu Jihoon mengibas-ngibaskan tangan ke depan wajah Kyungmin dan memberi instruksi agar Kyungmin menarik napas dan membuangnya perlahan supaya Kyungmin lebih tenang. Namun perlakuan Jihoon justru membuat Kyungmin saat duo performance, part mereka di mana harus bertatapan, Kyungmin tidak fokus menatap Jihoon malah melihat ke arah lain, yang mana ini disadari oleh Jihoon.
Saat di tengah konser, ada jeda waktu mengobrol dengan fans, Jihoon dengan bercanda menyampaikan momen duo performance tadi.
“Guys, di performance minihuni biasanya kan ada tatapan tuh ya di awal, masa Kyungmin nggak fokus ke aku, fokus ke lain,” ucap Jihoon kepada fans yang datang.
Kyungmin yang mendengar ucapan Jihoon merasa malu dan cepat-cepat membantah.
“Nggak guys, nggak gitu. Kak Jihoon ganteng banget hari ini jadi nggak fokus tatapannya,” ucap Kyungmin cepat sambil mengibaskan tangan.
“Nggak gitu gimana, Kyungmin. Aku loh yang ngerasain,” ujar Jihoon menahan senyum akibat tidak menyangka akan dipuji begitu.
“Oke-oke. Maaf. Lain kali aku akan tatapan lebih proper,” ujar Kyungmin mengaku kalah. Jihoon yang mendengar jawaban Kyungmin merasa puas dan bertepuk tangan.
Konser di stop itu berakhir. Ada jeda dua minggu sebelum ke stop selanjutnya. Di stop kali ini, saat waktu jeda mengobrol dengan fans, Kyungmin mengungkap akan menuntaskan janji di stop yang lalu untuk tidak lagi menghindari tatapan dengan Jihoon.
Mereka pun mengulang adegan part performance mereka. Kali ini Kyungmin menatap Jihoon lurus-lurus, tidak menghindar. Setelahnya, ia mengungkapkan bahwa ia benar-benar tidak berniat menghindar tatapan, itu hanya karena Jihoon hari itu begitu tampan. Tentu saja, Jihoon yang dipuji segamblang itu merasa malu dan menyangkal mengatakan bahwa Kyungmin hanya berbohong.
“Aku merasa kak Jihoon ganteng banget guys,” puji Kyungmin lagi, kali ini diucapkan lebih tegas dari sebelumnya.
“Ah, bohong dia guys,” ujar Jihoon dengan senyum lebarnya, menyangkal pujian Kyungmin yang mana sebenarnya ia hanya salah tingkah. Dalam hati Jihoon, ia merasa senang dipuji dan mengagumi kegamblangan Kyungmin dalam perasaannya.
Konser di stop kali ini selesai. Member beres-beres dan membersihkan diri sebelum harus kembali ke negara asal di hari yang sama.
Semua member dan para kru tiba di negara asal dengan selamat. Sesampainya di dorm, semua member berhamburan ke kamar masing-masing, mengganti baju mereka lalu tidur. Mereka bahkan tidak memikirkan membereskan barang atau membersihkan diri terlebih dahulu. Kecuali leader mereka yang masih punya jadwal di hari itu menjadi MC music show.
“Kak Shinyu, semangat,” ucap Kyungmin kepada hyung tertua sekaligus leader mereka sesaat Shinyu hendak keluar dorm.
Setelahnya Kyungmin berjalan lemas menuju kamarnya.
“Selamat beristirahat, kakak-kakak,” ucap Kyungmin lagi sebelum menutup pintu kamarnya.
Kyungmin tertidur cukup lama tetapi tidak terlalu nyenyak karena perutnya meronta butuh makan. Kyungmin terpaksa bangun dan beranjak menuju dapur. Ia menuju kulkas untuk mengecek isi kulkas sebelum kembali menutupnya karena merasa tidak ada makanan yang bisa ia cepat konsumsi saat ini.
Kyungmin beralih menuju ruang makan untuk duduk dan mengambil ponselnya. Sepertinya ia memutuskan untuk memesan layanan pesan antar. Sibuk menggulir mencari makanan yang ingin ia pesan sampai tidak mendengar member lain yang juga bangun dan melangkah ke dapur. Ketika member tersebut berdiri di belakangnya, Kyungmin pun terkejut.
“Aku mau yang bumbu keju dong ayamnya,” ucap member tersebut.
“Haahhh?” seru Kyungmin, terkejut. Sebentar, mengapa situasi sekarang ini terasa familiar? Sepertinya ia pernah mengalami hal demikian.
“Kakkk! Ngagetin mulu. Ngomong dong kalau lagi di belakang aku. Tiba-tiba banget bumbu keju,” omel Kyungmin.
Ekspresi mengomel Kyungmin di mata Jihoon sangat menggemaskan. Ia tidak bisa menahan tawanya.
“Hahahahahah… maaf-maaf,” ucap Jihoon.
“Kamu tuh kalau lagi mode serius kayak tadi gemes banget, nggak tahan kalau aku nggak godain,” tambahnya dengan enteng.
Tanpa tahu akibat ucapan Jihoon berdampak sebesar apa untuk Kyungmin. Mukanya perlahan memerah karena malu, tidak sempat ia sembunyikan.
“Apaan sih? Nggak jelas. Gemes dari mana?” ujar Kyungmin berkilah.
“Dari sini,” jawab Jihoon menusuk pelan pipi Kyungmin dengan telunjuknya.
“Ihhhh… males banget isengin terus, nggak jadi masukkin pesanan kakak ya?” ancam Kyungmin main-main menutupi bahwa ia salah tingkah.
“Eh jangan dong. Lagian ya Kyungmin kamu coba nutupin salting percuma. Muka kamu tuh merah banget sampe ke telinga-telinga kayak tomat,” goda Jihoon jahil.
“Aaaaaaa!” rengek Kyungmin sambil menundukkan kepalanya ke atas meja.
“Maaf-maaf. Nggak aku ledek lagi deh,” ujar Jihoon akhirnya karena tidak tega Kyungmin sudah begitu malu akibat ulah Jihoon.
“Nggak boleh bohong loh ya. Males banget dari tadi aku diledek terus,” ucap Kyungmin yang masih menundukkan kepalanya sehingga suaranya sedikit teredam.
“Iya, nggak kok. Udah sini angkat kepala, kasian itu tadi jidatnya kebentur meja sedikit,” ucap Jihoon lembut.
Kyungmin akhirnya mengangkat kepalanya. Jihoon berpindah posisi dari berdiri di belakang Kyungmin menjadi duduk di sebelahnya. Setelah keadaan mulai tenang, Jihoon kembali membuka suara.
“Kyungmin masih ada satu stop lagi nih tour kita. Nanti pas duo performance bakal susah fokus lagi nggak karena terpana lihat aku ganteng?” ucap Jihoon sambil menaikkan alisnya.
“Ihh pede banget. Nyebelin. Kenapa harus diledek terus sih, emang salah kah ngakuin kak Jihoon ganteng? Kalau emang ganteng ya ganteng,” balas Kyungmin.
“Nggak kok, kamu juga kalau emang gemes ya gemes,” ujar Jihoon.
Tak lama senyum Jihoon perlahan memudar, mengubah nada suaranya menjadi lebih serius.
“Udah berapa lama ya aku tahan nggak ungkapin ini,” ucap Jihoon, sengaja menggantung ucapannya.
“Hah? Ungkapin apa deh?” tanya Kyungmin bingung.
Jihoon tidak langsung menjawab. Ia menggeser posisinya menyerongkan duduknya agar ia bisa menatap Kyungmin. Kyungmin yang ditatap begitu sebenarnya sedikit salah tingkah tapi ia menahan dirinya karena sepertinya ucapan Jihoon selanjutnya jauh lebih serius.
“Nggak tahu sih, perasaan kamu gimana? Tapi kalau yang aku rasain, dari awal debut hingga sekarang, aku nggak habis-habis dibuat kagum sama kamu dari kamu nunjukkin banyak sisi kamu, bukan cuma jadi adik yang gemesin tapi kamu juga nunjukkin sisi kamu yang lebih mature. Apalagi ditambah adanya sesi latihan intens kita yang cuma berdua, perasaan aku ke kamu semakin tumbuh,” ujar Jihoon. Ia sengaja menjeda omongannya untuk melihat reaksi Kyungmin. Setelah itu kembali melanjutkan kembali karena melihat Kyungmin nampaknya belum ingin membuka suara.
“Pujian yang kamu lontarin terutama saat konser di sela-sela kita ada waktu ngobrol sama fans, bikin hati aku penuh. Sebenarnya aku kurang tahu pasti kapan secara konstan ngerasain ini tapi semua tingkah kamu bikin aku kadang gelisah saat tidur karena kebayang-kebayang terus,” lanjut Jihoon.
“Kak, kamu serius nggak sih?” tanya Kyungmin akhirnya. Ia seperti tidak percaya selama ini perhatian dari Jihoon dirinya kira hanya sebatas perhatian sesama member ternyata Jihoon juga menyimpan keresahan yang sama.
“Aku nggak pernah nggak serius soal kamu. Maaf sebelumnya aku terlalu cupu, nggak seberani kamu terang-terangan ekspresiin perasaan ke kamu, aku banyak belajar dari kamu dan memberanikan diri mulai saat ini,” jawab Jihoon tegas sambil berusaha menyentuh jemari Kyungmin di atas meja.
Kyungmin merasakan dadanya penuh mendengar ungkapan perasaan jujur dari Jihoon sehingga ia terlebih dahulu mengambil jemari Jihoon untuk digenggamnya.
“Kak, jujur aku bingung harus nanggepin perasaan kamu gimana. Tapi semoga tindakan dan perhatian aku selama ini cukup bisa dipahami bahwa aku bukan sekadar kagum ke kamu sebagai member…” ujar Kyungmin menjeda ucapannya karena ia nggak sanggup lanjutin saking merasa perutnya geli akibat rasa sukanya kepada Jihoon.
“Tuh kan gemes,” ucap Jihoon sambil mengelus jemari Kyungmin karena melihat tingkah Kyungmin yang lagi-lagi mukanya memerah karena malu.
