Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of Kinan miaw
Stats:
Published:
2026-10-14
Words:
532
Chapters:
1/1
Kudos:
18
Hits:
617

Hampir ketahuan!

Summary:

Masih dimana Kinan nyembunyiin identitas nya dari teman-teman nya!

Notes:

Versi au nya ada disinii:0
https://vt.tiktok.com/ZSgeQLyPW/

Work Text:

Setelah mendapat pap dari kesayangan nya, Sakha segera berjalan ke dapur untuk menyusul Kinan. Langkah nya terburu-buru, membuat Kinan yang di dapur mendengar suara langkah kaki Sakha.

Kinan merasa jantung nya merosot saat itu juga, karena ekornya yang sedari tadi ia keluarkan. Kinan menegang, dengan cepat mematikan lampu dapur, lalu tubuh nya sengaja berdempetan dengan pintu kulkas.

Terlihat Sakha yang sudah sampai menghampiri nya, bahkan kedua tangan nya sudah mendahului tubuh nya. Sakha mencubit kedua pipi Kinan dengan keras.

“SAKHAA! LEPASSS….!”

Teriakan Kinan melengking keras di dalam apartemen itu, kedua tangan nya mencoba menyingkirkan tangan Sakha yang masih mencubit pipi nya.

“Gemes banget lu Nan, gue makan ya?”

“Sakha taik! Lepas!!!”

Dengan rasa tak ikhlas, Sakha melepas cubitan nya dan menggantikan nya dengan elusan pelan di kedua pipi nya. Bahkan dengan keadaan gelap pun, cahaya rembulan yang tembus tetap menyinari wajah Kinan yang memerah.

“Lampu nya kenapa di matiin Nan?”

Sakha mulai bertanya, pertanyaan yang berhasil membuat jantung Kinan merosot kembali.

“Kan… Udah pada tidur, makanya gw matiin”

“Tadi lu pap ke gue masih hidup kok lampu nya Nan”

“Apasih Sak… Udahlah tidur aja yuk”

Kecurigaan Sakha semakin bertambah, ia tidak segera menuruti Kinan dan bertanya kembali.

“Kenapa pake ciput mulu?”

“Ini beanie ya norak!”

“Iya beanie, kenapa di pake setiap hari? Tidur pun dipake gitu Nan”

Kinan terdiam— cukup lama karena tidak tahu harus beralasan apalagi. Wajah Sakha mendekat, menatap Kinan dengan raut wajah serius yang membuat Kinan merasa diintimidasi.

“Ya…Yakan rambut kaku gue nusuk nusuk mata gue terus Sak”, suara Kinan memelan dengan ucapan yang terbata-bata.

“Kan bisa potong rambut, udah panjang rambut lu kenapa kagak di potong?”

Lagi-lagi Kinan terdiam. Mata nya tidak lagi berani menatap wajah Sakha yang kini mulai mendekat, seakan-akan sedang menjelajahi yang Kinan sembunyikan dari nya.

Kinan menundukkan wajah nya, bahkan air mata mulai menggenangi pelupuk mata nya karena ia merasa Sakha sedang memarahi dirinya.

Bahu nya sedikit bergetar menahan isak tangis yang keluar. Kinan sama sekali tak mau jika ada orang yang mengetahui identitas nya yang setengah hewan, dengan mempunyai telinga dan ekor kucing, bahkan cakar yang kadang-kadang muncul.

Kinan tak mau jika mereka semua menjauh dari Kinan karena alasan ini. Sebisa mungkin selama ini ia sembunyikan.

Sakha yang menyadari Kinan mulai menangis, menghentikan pertanyaan yang mencecar Kinan. Perasaan bersalah mulai menyebar di dada nya, ia segera memeluk Kinan. Namun lagi-lagi Kinan mendorong pelan Sakha sebelum Sakha memeluk nya.

Namun Sakha paham, ia tak boleh membuat Kinan merasa takut atau tidak nyaman pada nya. Dengan cepat ia mengecup kedua pipi Kinan Secara bergantian.

“Maaaff yaa Nan..”

“Udaahh jangan nangis… Gue enggak marahin lu kok Nann”

Kedua tangan Sakha bergerak kembali, menyusuri wajah Kinan yang sedikit basah karena air mata nya. Ibu jarinya ia gunakan untuk menghapus sisa air mata Kinan.

“Iyaa… Jangan di marahin gue nya ya Sak..”

Suara Kinan sangat pelan, namun cukup untuk di dengar oleh Sakha. Sakha yang mendengar itu hanya tersenyum gemas. Bibir Kinan sendiri sudah melengkung ke bawah, entahlah mungkin hybrid kucing ras Ragdoll seperti dia memang sangat sensitif.

Merasa air mata Kinan sudah berenti, kedua telapak tangan Sakha tetap di wajah Kinan— tetap mengelus nya dengan lembut. Lalu terakhir, ia bubuhkan kecupan kecil di pelipis milik Kinan.

Series this work belongs to: