Work Text:
Sebelum meninggalkan Kinan yang sudah tertidur pulas, Sakha dan Matteo menyelimuti tubuh Kinan sampai batas leher nya, lalu mereka berdua keluar dari kamar dan menutup pintu nya.
Jaka dan Jendral lebih dulu muncul di ruang tengah, sudah memegang ponsel nya dengan paten. Sementara Sakha dan Matteo mendudukkan diri di lantai yang sama dengan mereka berdua.
“Udah login bang?” tanya Sakha sembari membuka game di ponsel nya sendiri.
“Udah, buruan” Jaka menyandarkan dirinya ke kursi bawah, menatap tajam Sakha. “Katanya lo cari orang? Mana?”
“Lupa bang… Serius” Sakha meringis.
Terjadilah mereka ribut sesaat karena tak segera mendapatkan satu orang.
Keempatnya sudah fokus main, lama-lama suara mereka semakin keras dan kata-kata kasar terus menguar di udara— dari mulut mereka.
“Su asu Sakha indomaret”
“Gak ada yang backup gue bngst”
“Lo cari roam kagak bener, open map aja kagak pernah”
“Halah jmbd exp demek lu noh kagak guna, mukil”
Mereka terus beradu mulut, sampai ada notif whatsapp masuk ke ponsel mereka.
Keempat orang yang bahkan sedang asik-asik nya bermain ML segera meninggalkan game nya dan menghampiri Kinan— kesayangan mereka yang memberitahu nya lewat chat bahwa dirinya merasa tidak enak badan.
Mereka mengira itu hanya sakit seperti biasa nya, namun dugaan mereka salah. Setelah membuka pintu kamar, terlihat Kinan yang berbaring dengan beberapa tumpukan selimut yang ada di atas tubuh nya— sedang meringkuk.
Mereka berempat secara serentak segera menghampiri Kinan ditempat tidur nya, pemandangan Kinan yang sedang menggigil dengan mata setengah terpejam membuat hati mereka seperti tertusuk.
Matteo yang pertama kali mengulurkan tangan nya dan mengecek suhu di jidat nya.
“Ambil kompres sama air anget cepet, panas banget ini Kinan”
Matteo berbicara dengan panik, begitupun mereka bertiga. Dengan cepat mereka berbagi tugas, Sakha mengambil kompres dan Jaka yang mengambil air hangat dan obat penurun panas untuk Kinan minum. Jendral sendiri berjalan ke arah lemari Kinan, mencari baju dan jaket untuk Kinan.
“Pusing banget yaa?? Tunggu sebentar ya, obat nya masih di ambilin”
“Kinan tahan ya, okee??”
Matteo berusaha menenangkan Kinan, tangan nya mengelus lalu mengelap keringat di pelipis dan leher nya dengan lembut. Kinan sendiri setengah sadar untuk menanggapi perkataan Matteo.
Jendral kembali membawa sebuah baju dengan jaket yang tebal, untuk Kinan berganti nanti— Jendral tahu bahwa Kinan nya terus berkeringat.
“Dudukin dulu Mat Kinan nya, habis ini minum obat”
Tak lama dari itu, Sakha dan Jaka pun tiba secara bersamaan. Raut wajah mereka masih panik dan segera meletakkan kompres dan air hangat nya di meja nakas.
“Ndral bantu dudukin Kinan, lo sebelah sana”
Tangan Matteo menunjuk arah depan, di samping sebelah kiri Kinan.
Jendral sendiri langsung melaksanakannya, ia naik ke atas kasur dan duduk di samping Kinan. Jendral melihat tangan Matteo yang mulai menyelinap di belakang perpotongan leher Kinan, membuat Jendral membawa tangan nya ke punggung belakang dan kepala Kinan.
Kinan meringis— ketika sudah berhasil duduk, mata nya terbuka, lalu menatap mereka dengan sendu.
“D-Dinginn…”
Suara Kinan hampir tidak terdengar, namun Jendral segera menaikkan selimut nya sampai leher Kinan.
“Minum obat dulu ya dek?? Mau kan??”
Suara Jaka bahkan terdengar panik ketika Kinan tetap terdiam, tetapi ia mulai membuka obat nya, dan Sakha sendiri memeras kain kompres nya.
Tugas Jendral dan Matteo menenangkan Kinan, mengelus Kinan dari luar selimut nya. Keadaan sementara menjadi hening, dan Jaka mulai mengambil air hangat di nakas tersebut, lalu memasukkan obat penurun panas nya ke mulut Kinan— segera memberinya minum agar obat nya tertelan.
“Pinternya adek… Cepet sembuh ya..” ujar Jaka setelah menyaksikan Kinan sudah menelan obat itu, bahkan perkataan itu tak di tanggapi Kinan.
“Mau di kompres apa ganti baju dulu??”
Sakha bertanya untuk memastikan— karena pikirnya baju Kinan sudah basah oleh keringat nya. Keempatnya berpikir sejenak, menunggu Kinan menjawab. Namun tak dapat jawaban.
“Ganti baju dulu aja Sak, basah semua pasti kena keringet”
Jendral memberikan usul, yang langsung di angguki oleh mereka Sakha, Matteo dan juga Jaka.
“Selimut nya di buka dulu yaa? Kinan ganti baju dulu..”
Matteo bertanya kepada Kinan seakan sedang meminta izin nya. Kinan sendiri mengangguk pelan, namun entah mengapa Kinan mulai merasa ada yang janggal.
Matteo dan Jendral mulai membuka beberapa tumpukan selimut itu, mendapati Kinan yang mengenakan hoodie tebal milik Matteo. Matteo yang melihat itu tersenyum tipis, merasa bangga karena hoodie nya Kinan pakai.
Jendral memilih untuk menyingkirkan selimut nya sejenak, sedangkan Sakha dan Jaka menunggu Matteo melepas hoodie Kinan. Matteo dengan telaten meraih ujung hoodie nya, lalu menyingkap nya ke atas sampai kepala Kinan— Kinan pun hanya mengangkat kedua tangan nya agar hoodie nya terlepas.
Dan ketika hoodie itu terlepas, alangkah terkejutnya mereka berempat— Jaka, Jendral, Matteo, dan Sakha melihat sesuatu yang terasa seperti tidak nyata. Kinan belum menyadari hal itu, karena dirinya yang masih setengah terpejam.
Sakha langsung memposisikan diri nya tepat di pinggir kasur, berlutut di lantai agar sejajar dengan benda yang dilihatnya— ekor Kinan, Kinan memiliki ekor?? Keempatnya tidak percaya, mereka saling pandang, namun dari tatapan itu mereka tahu agar tidak shock karena Kinan masih sakit.
Ekor yang tadi melilit tubuh Kinan sendiri kini menjuntai keluar dengan lesu, bulu nya bahkan sangat tebal dan terlihat lembut. Warna nya putih dengan sedikit hint pink di ujung ekor nya, persis seperti ekor kucing.
Suasana sangat hening, mereka berempat masih berpikir keras bagaimana ekor itu bisa ada di tubuh Kinan dan terpampang nyata?! Bahkan Jendral yang paling waras pun dalam hati menyangkal, mungkin itu hanya sebuah mainan yang Kinan pakai.
Mereka berempat menatap ekor itu dengan kagum, mereka ingin menyentuh nya. Tapi mereka menahannya, karena takut Kinan terganggu, tahu sendiri bahwa Kinan sangat cengeng.
Namun Kinan yang mendapati keheningan dengan tubuh nya yang semakin mendingin karena tak kunjung ada baju yang di pakaikan ke diri nya, ia memaksakan untuk membuka mata nya. Dan yang pertama kali Kinan lihat adalah empat orang itu yang terdiam, bahkan tidak melihat ke arah Kinan— melainkan fokus ke arah lain.
Kinan belum menyadari nya, ia mengikuti arah mata Matteo melihat. Dan yah, di situlah kesadaran Kinan seperti di renggut paksa. Keempat orang itu melihat ekor Kinan, bahkan ekor nya yang menjuntai lesu itu terlihat semakin mengembang karena rasa takut dan terkejut.
Sakha yang pertama kali menyadari ekor Kinan mengembang, lalu ia menatap ke arah Kinan. Jelas sekali wajah Kinan yang terlihat takut.
Sakha dengan sigap berdiri, membuat Jendral, Jaka dan Matteo melihat ke arah Sakha, lalu ke arah Kinan. Mereka semua sama terkejut nya ketika melihat Kinan seperti orang gelisah dan takut.
Kinan yang ditatap seperti itu merasa gelisah, Kinan takut apa yang ia pikirkan selama ini akan terjadi. Pikiran buruk terus menghantui nya, Kinan takut mereka akan mengusir nya jika sudah tau bahwa Kinan seorang hybrid. Bahkan Kinan takut mereka tidak ingin melihat Kinan lagi.
Tapi entah sejak kapan, pelupuk mata Kinan sudah di penuhi air mata yang siap menetes kapan saja dengan bibir yang melengkung ke bawah. Jendral memajukan tubuh nya lalu berinisiatif untuk menenangkan Kinan, namun yang ada Kinan semakin terisak.
“J-Jangaan…”
Suara Kinan parau, bahkan kepala nya menggeleng kecil dan mulai menunduk karena tak ingin menatap mereka, atau Kinan yang menghindari tatapan mereka.
Mereka semua tersentak melihat Kinan menangis dan menghindari Jendral. Jaka segera mendekati Kinan, membuat Matteo sedikit bergeser memberikan space untuk Jaka.
Jaka yang pertama kali ingin menenangkan Kinan, tangan nya mulai memegang dagu Kinan dan mengangkatnya ke atas untuk menatap wajah nya. Kinan sudah penuh dengan air mata dan terisak, mata yang selalu berbinar ceria itu meredup, tergantikan dengan air mata.
“Kinan ke—”
“Jangan! Hiks j-jangan buang Kinan nya… Maaff, m-maafin Kinan…”
Omongan Jaka terpotong oleh Kinan yang sudah sesegukan, membuat Jaka melepaskan pegangan tangan nya di dagu Kinan. Mereka berempat mengubah posisi duduk nya menjadi mengitari Kinan.
Matteo berpindah duduk di samping Jendral. Sakha yang mendengar cicitan Kinan segera mengelus kepala Kinan yang masih memakai beanie. Mereka berempat hanya terdiam, karena salah kata sedikit saja bisa membuat tangis Kinan semakin keras.
Jendral mulai menaikkan lagi selimut nya walaupun belum di pakaikan nya baju untuk Kinan. Jaka dan Matteo menatap Kinan dengan lembut, namun tetap saja tatapan itu di salah artikan oleh Kinan, membuat nya menutupi wajah penuh air mata itu menggunakan kedua telapak tangan kecil nya.
Tanpa sadar, elusan yang Sakha berikan terasa begitu aneh bagi Sakha sendiri— seperti ada yang mengganjal. Sakha dengan cepat membuka beanie milik Kinan.
Dan… Terlihat lah kedua telinga yang tidak asing di samping atas kepala Kinan, berbentuk segitiga bahkan berbulu putih persis seperti ekor nya.
Ternyata— tak hanya memiliki ekor, Kinan juga memiliki telinga kucing. Tangis Kinan semakin keras merasakan telinga kucing nya di sentuh Sakha, yang berhasil membuat Sakha dapat pelototan dari Jaka.
Kinan benar-benar dirinya merasa terekspos, tanpa berpikir lagi ia menggeser duduk nya dengan gontai dan menenggelamkan wajah nya di dada Jendral bahkan memeluk. Berusaha menyembunyikan wajah nya di sana, tak ingin menatap mereka semua.
Jendral langsung merasakan baju nya yang basah karena tangis milik Kinan. Dirinya langsung mengelus surai Kinan dengan lembut, berusaha menghentikan tangis nya.
“Ssttt… Kenapa nangis Nan? Enggak ada yang mau buang Kinan loh…” ujar Jendral dengan pelan, yang di susul tangan Matteo mengelus punggung Kinan yang terekspos.
“Lu kucing Nan? Bisa miaw miaw dong berarti?” ceplosan Sakha langsung mendapati pukulan telak di belakang kepala nya dari Jaka. Bahkan mendapati tatapan menusuk dari Jaka.
Sakha menyengir dengan tangan yang mulai menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal.
“Udaah jangan nangis lagi Nan…”
Suara Matteo terdengar lembut, namun kaku. Sejatinya mereka berempat adalah pria kaku yang tak pernah tahu cara menenangkan orang.
Mereka tetap berada di posisi itu, sampai akhirnya terdengar dengkuran halus dari Kinan. Mereka berempat memastikan Kinan yang tertidur, mengubah posisi dan memakaikan nya baju dengan sangat hati-hati agar tak terbangun.
Membawa nya menjauh dari pelukan Jendral, menidurkan nya di bantal yang sudah tersusun lebih tinggi. Wajah Kinan dalam tidur nya terlihat sangat memerah, apalagi bagian hidung nya. Bulu mata yang lentik basah karena air mata, telinga kucing nya terlihat turun, benar-benar menggemaskan.
Selama Kinan tidur, mereka berempat fokus pada diri masing-masing dalam menjaga Kinan. Jaka, Matteo dan Jendral fokus mencari tahu tentang hybrid kucing, sementara Sakha duduk di samping Kinan dan menatap Kinan dari dekat. Menatap telinga dan ekor kucing Kinan secara bergantian dengan penuh rasa penasaran, entah mengapa bagi Sakha terlihat sangat pas dan menggemaskan untuk Kinan. Setidaknya Sakha mulai besok akan menjahili Kinan dan mencecar banyak pertanyaan untuk nya.
•
•
•
Matahari mulai menyelinap di balik ufuk timur, semburat jingga dan merah muda merambat pelan di langit yang tadinya gelap— sementara Kinan masih terlelap dengan bekas air mata yang mengering di pelupuk mata, napasnya perlahan, dan tubuhnya yang lelah mulai merasakan hangatnya cahaya yang menerobos celah tirai, menyentuh kulitnya tanpa suara.
Kinan mulai membuka kelopak mata nya secara perlahan, menyesuaikan cahaya matahari yang mengenai nya. Matanya yang sudah terbuka melihat seseorang— Jendral yang berada di depan nya. Hanya Jendral yang berada di samping Kinan, seolah-olah menunggu Kinan bangun dari tidur nya.
Kinan mendudukkan diri nya secara perlahan, memegang dahi nya yang ber tempelkan bye bye fever. Kinan mengernyit, sekelebat pikiran tadi malam menghinggapi nya.
Namun Jendral hanya diam melihat Kinan, takut jika bergerak saja maka Kinan akan kabur detik itu juga. Kinan yang sudah menyadari apa yang terjadi, tangan nya meraba-raba telinga miaw nya yang sudah tidak tertutup beanie, lalu menatap Jendral dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Jendral yang melihat Kinan yang memegang telinga miaw nya dan menatap nya dengan mata yang berkaca-kaca segera mendekat.
“Kinan kenapa, sayaang?? Jangan nangis dong…”
Suara nya yang berat— namun lembut secara bersamaan membuat Kinan semakin meneteskan air mata nya. Ia menghamburkan diri nya ke tubuh Jendral, memaksa tubuh nya menyatu dalam pelukan Jendral.
“Kinan… Punya t-telinga sama ekor kucing” ucap Kinan yang suara nya teredam di dada bidang milik Jendral, mencoba menjelaskan sesuatu.
Jendral yang paham bahwa Kinan akan menjelaskan kondisi nya, membawa kedua tangan nya secara bergantian mengelus lembut punggung dan kepala nya secara bersamaan.
“Kinan hybrid, abaangg… J-Jelek ya Kinan?? Kinan enggak normal ya…” Kinan semakin terisak, rasa takut nya menyeruak memenuhi dada nya— sungguh takut diri nya akan dibuang oleh mereka saat mengetahui dirinya hybrid.
Jendral yang mendengar itu segera memeluk Kinan lebih erat, membubuhkan banyak kecupan kecil di kepala nya.
“Sayangg… Memang abang masalah ya kalo Kinan itu setengah cuking? Kinan tetap Kinan kok, cantik nya sama, cuma ketambahan ekor sama telinga cuking aja kan?”
Jendral meringis mendengar perkataan yang keluar dari mulut nya sendiri, ia sungguh tak bisa menenangkan Kinan dengan kata-kata yang romantis, jadi ia hanya mengutarakan apa yang ada di kepala nya.
“Ekor sama telinga nya cantik, kenapa selama ini di sembunyiin?”
Kinan mengendurkan pelukan nya setelah itu, telinga dan ekor miaw nya menjuntai lesu karena sedih.
“Malu… Takut kalian jauhin Kinan” ucapnya dengan jujur.
Jendral yang mendengar itu segera melepas pelukan nya. Segera meraih kepala Kinan dan membawa nya untuk mendongak, memperlihatkan wajah Kinan yang sudah memerah dan basah karena tangis, mata yang berbinar kini penuh air mata dan menatap Jendral dengan sedih.
“Enggak kok, buktinya kita makin sayang sama Kinan tuh waktu tau Kinan setengah cuking, lucu sayang”
Sembari berucap— jari Jendral mulai bergerak ke wajah nya untuk menghapus jejak air mata nya.
“Semalem kita cari tau tentang hybrid. Kalo abang boleh tau, Kinan itu ras apa? Imut banget soalnya.”
Jendral mencoba mengalihkan pembicaraan nya agar Kinan tak sedih lagi, mencoba menanyakan jati diri Kinan.
“Kinan ras Ragdoll…” Kinan berucap sembari menarik narik kecil ujung baju Jendral tanpa sadar, merasa takut jika respon Jendral tak sesuai harapan nya.
Jendral sendiri terkekeh, merasa senang karena merasa tebakan nya semalam ternyata benar. Merasa ada banyak hal yang harus Jendral cari tau, ia mengubah posisi duduk nya dengan menggeser dirinya menjadi bersandar di headboard kasur tersebut dan menaikkan Kinan diatas pangkuan nya. Kinan menurut saja mengetahui ia di pangku Jendral.
“Yang sensitif itu ya sayang?” Kinan yang mendapat pertanyaan itu hanya mengangguk pelan.
Tanpa sadar ekor milik Kinan melingkar di kaki nya sendiri, sementara telinga nya bergerak-gerak kecil yang menandakan Kinan merasa aman.
“Yang lain kemana?? Kok cuma ada abang?”
Mungkin rasa sedih Kinan mulai berhenti dan mulai mencari ketiga pentol nya. Tapi Kinan belum sadar, cara bicara Jendral yang lembut membuatnya tidak sadar memanggil nya ‘abang' dan menyebut dirinya sendiri ‘Kinan', membuat Jendral merasa gemas. Sepertinya nanti ia harus memberi tahu yang lain agar memperlakukan Kinan seperti ini.
“Lagi di studio. Abang di suruh jagain Kinan, nanti kalo Sakha yang jagain Kinan malah habis kamu nya”
Jendral terkekeh, sementara mulut Kinan membulat mengetahui alasan tersebut. Jendral yang di depan Kinan hanya ingin memakan nya sekarang juga.
“Kinan mau sarapan sekarang?” Jendral mulai bertanya lagi, entahlah Kinan merasa dirinya sangat disayang yang membuatnya ingin bermanja pada Jendral walaupun ada sedikit rasa gengsi.
“Nanti aja, Kinan belum laper… Masih mau di pangku” ucapnya tanpa sadar.
Ekornya lambat laun bergantian melingkari kaki Jendral tanpa sadar, membuat Jendral memejamkan matanya sejenak karena merasa sangat gemas. Tangan nya tanpa sadar sudah berada di pinggul Kinan, membelai nya dengan lembut dan membuat Kinan meletakkan wajah nya di dada Jendral dengan nyaman.
Tak banyak percakapan dari mereka, hanya sentuhan kecil yang saling mereka rasakan.
Tangan Jendral yang lain memegang telinga miaw Kinan perlahan, membuat Kinan terkejut namun kembali rileks karena Jendral mengelus telinga nya dengan lembut.
Jendral merasakan Kinan hanya diam menandakan kenyamanan yang ia dapat. Jendral semakin berani, tangan nya yang semula membelai pinggul Kinan secara perlahan memegang ekor miaw Kinan dengan sangat pelan. Lalu lama kelamaan menjadi belaian lembut yang membuat Kinan mengantuk.
“Elusin terus ekor sama telinga nya, abang…” Kinan berucap dengan sangat pelan, dan perlahan membawa kedua tangan nya melingkar di leher Jendral.
Jendral yang mendengar permintaan Kinan hanya tersenyum kecil, mengelus telinga dan ekor miaw nya secara bergantian— sembari menghujani kecupan kecil di kepala dan telinga miaw Kinan. Bahkan dirasa Kinan sudah tertidur lagi, Jendral tetap membelai ekor dan telinga nya tanpa henti karena terus menerus ingin merasakan lembut nya bulu miaw milik Kinan.
