Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 4 of Kinan miaw
Stats:
Published:
2026-10-15
Words:
1,099
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
36
Bookmarks:
3
Hits:
711

Pencuri

Summary:

Kecil-kecil sudah pinter mencuri.

Notes:

HAAAAIIII AU NYA YANG INI :3
https://vt.tiktok.com/ZSgdHm4Fg/

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

James as Jaka
Juhoon as Jendral

 

Di tatap nya sesaat tubuh Kinan yang sedang berjongkok di depan pintu kulkas, dari belakang terlihat pipi nya yang sedang mengunyah dan menggembung penuh makanan. Jaka memberi gestur agar Jendral berhenti sebentar, membiarkan Jaka yang berjalan lebih dekat.

Bayangan tubuh Jaka mulai membuat Kinan sadar, menutupi tubuh Kinan sendiri. Hybrid tersebut tersadar akan hadir nya seseorang di belakang tubuh nya, dengan segara ia mendongak ke atas.

Yang Kinan lihat pertama kali adalah Jaka dengan kedua tangan yang berada di depan dada nya, menatap Kinan penuh intimidasi. Kinan yang di tatap seperti itu memelankan kunyahan di mulutnya, serta tangan yang tadi memegang tuna bowl milik Jaka kembali ia letakkan sejenak.

Jaka tak bergeming, menatap tajam ke arah Kinan yang susah payah menelan sisa makanannya. Hawa dingin bahkan menyergap tubuh Kinan, menatap Jaka dengan tatapan mata yang penuh rasa bersalah— penuh air mata.

“Aba—”

“Jadi lo yang makanin tuna gua, Nan?” ucap Jaka yang segera memotong perkataan Kinan.

Tubuh Kinan menegang yang membuat ekornya perlahan bergerak dan mengembang membesar seperti mencoba untuk melindungi dirinya sendiri.

“Engg—”

“Diajarin siapa?” lagi, Jaka memotong omongan Kinan. Jendral yang di belakang sana hanya bisa terdiam, sedikit menahan gelak tawa nya melihat Kinan dimarahi oleh Jaka.

“Ap—”

“Diajarin siapa, Kinan?” suara Jaka benar-benar rendah.

Kinan yang melihat Jaka benar-benar marah dan selalu memotong perkataan berhasil membuat Kinan langsung terisak. Bibir nya melengkung ke bawah dengan rasa bersalah dan sedih. Kedua telinga nya mulai layu, bahkan ekor nya berhenti bergerak dan menjuntai lesu.

Jaka masih terdiam, sementara kedua paw kecil Kinan mulai menutupi wajahnya yang sudah penuh air mata, isak tangis yang ia tahan percuma saja.

“Kinann mintaa… h-hiks mmaaf” Kinan terisak kecil, Jaka sendiri langsung membawa kedua tangan nya ke bawah tubuh Kinan. Jaka mengangkat tubuh Kinan dengan mudah, bahkan tubuh Kinan kini sudah berada di atas pundak Jaka— digendong seperti karung beras.

Lengan dan kaki milik Kinan dibiarkan menjuntai, membiarkan Jaka membawa nya ke meja makan yang berada di tengah-tengah ruang dapur tersebut.

Jaka tak segera menurunkan Kinan. Ia justru menatap Jendral dengan senyum penuh makna, yang di balas anggukan oleh Jendral. Jaka melanjutkan langkah nya menuju ruang tengah, lalu mendaratkan pantat nya ke sofa. Di susul Jendral yang duduk di samping Jaka.

“Turun, terus duduk” ucapan Jaka masih terdengar marah, membuat Kinan seger turun dari gendongan nya.

Kinan ingin menatap Jaka penuh tanda tanya harus dimana ia duduk, namun mata elang milik Jaka yang sudah menajam membuat Kinan duduk di lantai, tepat di bawah Jaka. Kedua lutut nya menekuk, tangan nya sendiri Kinan letakkan di atas paha nya.

“Tau kan salah nya dimana?” yang lebih tua bertanya, penuh intimidasi sampai Kinan menundukkan kepalanya dan menautkan jari-jarinya tanpa sadar— takut.

“Tau…” cicit Kinan, tak sama sekali berani mendongak untuk menatap Jaka.

“Terus kenapa masih bohong? Kemarin abang tanyain gamau ngaku”

“Tuh kemarin malah nuduh Sakha kamu Nan” tambah Jendral dengan sengaja, membuat tubuh Kinan mulai gemetar kecil.

Air mata nya luruh— namun Kinan tak bisa membela diri, karena tau ia salah.

Jendral menyenggol lengan Jaka, memberinya kode sudah cukup sampai sini saja KASIH PAHAM untuk Kinan.

Jaka mendesah pelan, jemarinya turun kebawah dan mengusap lembut ubun-ubun Kinan. Rambut hybrid itu sangat tebal di sela jari Jaka, tapi hangat— sama hangatnya dengan tubuh Kinan yang masih bergetar karena tangis nya.

"Iya adek, udah ya jangan nangis" gumam Jaka. “Tadi abang cuma bercanda” ucapnya sambil terkekeh pelan.

Kinan yang sadar karena di kerjai seperi itu langsung mendengus seperti anak kucing yang baru sadar ada tangan hangat di kepalanya.

Tapi tangisnya belum berhenti, matanya yang basah mulai menyipit. Kepalanya tanpa sadar mendorong ke atas, menggeser ke telapak tangan Jaka, mencari— meminta lebih usapan lembut yang Jaka berikan.

Jaka mengikuti yang Kinan mau. Ibu jarinya meluncur ke pelipis, lalu ke pipi bulat Kinan yang basah dan mengusapnya dengan lembut. Di situ, Kinan berhenti menangis.

“Jahat… Serem abang… Jendral juga kompor!”

Mata Kinan terpejam setelah protes seperti itu. Napasnya perlahan mengalir lebih halus. Dan dengan gerakan yang sangat lambat, Kinan memiringkan wajahnya, menempelkan pipinya ke telapak tangan Jaka, menggelengkan wajah nya pelan merasakan tangan hangat Jaka di pipi nya, lalu mulai menggeser ke bawah ke pergelangan tangan— sampai dagunya nyaris menyentuh ujung jari Jaka.

Seperti anak kucing yang menuntut seluruh wajahnya dibelai.

Jaka terkekeh pelan. “Lagian kamu gemes kalo nangis, nangis terus aja ya???”

Kinan hanya mendengus lagi, kali ini lebih nyaring. Pipinya tetap menempel. Mata dan hidung nya masih memerah, tapi sudut bibirnya mulai naik— hanya sedikit, seperti kitten yang puas setelah lama menangis.

“Yah pajangan doang nih gue” ucap Jendral dengan malas.

“Yaelah jatah gua ini, kemarin lo kan udah” kata Jaka, tanpa menoleh ke arah Jendral.

Lama kelamaan Kinan menggeser posisi duduk nya berada di bawah Jendral. Kinan langsung menelungkupkan wajah nya ke paha Jendral, mengusak usak nya dengan pelan.

“Tuhkan kucing pasti tau mana yang lebih enak” kekeh Jendral dan langsung mengelus kepala hingga telinga milik Kinan.

Jaka yang tak terima segera mengangkat tubuh Kinan dan mendudukkan nya diatas paha nya, lalu memundurkan tubuh Kinan hingga punggung Kinan menempel dengan Jaka.

“Kenapa ke Jendral sih? Bau gitu belum mandi dia”

“Abang yang belum mandi!” liat, Kinan membela Jendral. Masih sedikit kesal karena dimarahi Jaka tadi, padahal Jaka mah cuma bercanda. Mau Kinan minta seratus tuna bowl, minta seribu candi juga bakalan Jaka kabulin.

“Masih wangi gini nih, enggak kecium emang?” hidung tajam milik Jaka dengan sengaja mengusak leher belakang Kinan sampai membuat Kinan kegelian.

Jendral yang melihat itu jelas iri, gantian ia turun ke lantai dan duduk disana. Kedua tangan nya mulai memeluk pinggang Kinan, menenggelamkan wajahnya di perut Kinan yang empuk.

“Ahh gelii!!” tangan Kinan mencoba mendorong wajah Jendral menjauh, tapi Jaka menambahi dengan mengecupi pundak hingga tulang selangka Kinan.

Membuat tubuh Kinan menegang, kedua paw kecil nya bingung harus mengusir yang mana dahulu. Namun paw kecil nya bergerak tak sesuai keinginannya— malah memegang erat-erat rambut Jendral dan semakin menekankan wajah Jendral sampai tenggelam di perut nya.

Kalimat yang tidak koheren terus Kinan lontarkan, bahkan disebut kalimat pun rasanya aneh karena Kinan sibuk merengek dan mengerang seperti anak kucing.

Bahkan saat ekor nya mulai dimainkan oleh Jendral dan telinga miaw nya dimainkan oleh Jaka, Kinan hanya bisa membuka kecil bibir nya sambil terus berkata “udah”, yang tentu saja tidak didengar dua lelaki yang lebih tua.

Ekor nya terus-menerus di belai lembut sampai membuat tubuh Kinan gemetar, sementara telinganya di usap usap seakan akan bisa menenangkan Kinan.

Kepala Kinan mulai mendongak dan bersandar di pundak Jaka, tanpa sadar memberikan Jaka akses lebih. Bibir nya mulai meracau perkataan yang tidak jelas dengan tubuh yang melemas. Mungkin sampai pagi Kinan dibuat lemas.

Notes:

MAAF KALAU SPAM TERUSSSS :]]]

Series this work belongs to: