Chapter Text

.
Nun, nun jauh di sana, di sebuah tanah yang tersembunyi di antara dedaunan, di suatu waktu yang tak terdokumentasi, tersebutlah suatu kerajaan peri yang penuh dengan keajaiban. Kerajaan ini penuh dengan peri yang memiliki kemampuan berbeda-beda. Satu peri mampu memindahkan air untuk mengaliri sumber-sumber minum kerajaan, sementara peri lain merekonstruksi hunian-hunian di antara cabang pohon. Begitu banyak peri, yang dengan kebanggaan masing-masing, membangun kerajaan peri untuk terus makmur selama waktu yang dokumentasinya memenuhi bangunan-bangunan perpustakaan kerajaan.
Inilah tanah air Steve.
Di tengah hujan yang mengguyur wilayah kerajaan, seorang bayi peri terlahir dari rahim Sarah dari Klan Rogers, sebuah klan kecil yang hampir seluruhnya mengabdi sebagai prajurit kebanggaan kerajaan. Steve bertubuh begitu mungil, sangat mungil hingga keluarga Rogers sedikit khawatir akan langkahnya di masa depan.
"Mungkin karena istrimu yang sering batuk-batuk itu, Joseph."
Joseph akan melotot, sementara Sarah menyentuh lembut kepalan tangannya dan berusaha untuk menahan batuknya kali ini. Steve tumbuh dengan melihat hal ini terjadi berulang kali di depan matanya. Peri kecil berambut pirang itu akan pura-pura tidak mendengar lalu lanjut tersenyum saat ditanya Sarah mau makan apa di malam hari.
Pada usia Steve yang ketujuh, Joseph ikut dengan pasukan ekspedisi kerajaan. Pasukan itu membawa tujuan mulia, yakni menjalin hubungan baik dengan kerajaan manusia di perbukitan.
Pasukan ekspedisi kerajaan peri tidak pernah kembali, tidak pula Joseph selaku komandan.
Kerajaan bahkan tidak sempat mengadakan pemakaman. Semua peri sibuk membangun tembok tak kasat mata, pelindung yang melingkupi seluruh kerajaan dan membuat tanah peri hanya tampak seperti hutan biasa dari mata manusia.
Seminggu berselang tegaknya tembok di segala penjuru, James dari Klan Barnes, klan yang berperan besar dalam konstruksi pelindung, menjadi tetangga Steve.
"Panggil aku Bucky," ujar James. Steve mendongak, berhenti membersihkan ujung sayapnya. Keningnya berkerut.
"Bukankah namamu James?" tanya Steve.
James, yang meminta dipanggil Bucky, tersenyum. "Memang," jawabnya. Alis Steve semakin terangkat naik. "Tapi aku ingin dipanggil Bucky," tambah Bucky.
"Kenapa?"
Bucky terlihat menimbang jawabannya. Ia tak serta merta memenuhi rasa ingin tahu Steve. Barangkali, Bucky terlalu lama berpikir, hingga Steve harus memanggilnya lagi.
"Kenapa, Bucky?"
Bucky memamerkan deretan rapi giginya. Senyumnya bertambah lebar saat nama yang ia mau diutarakan oleh Steve.
"Ketika kita bertambah dewasa, akan kuberi tahu, Steve," jawab Bucky akhirnya. Ia melingkarkan lengannya pada pundak Steve. Bucky dan Steve berada pada rentang umur yang sama, tapi perbedaan bangun tubuh mereka begitu kentara. Bahu Steve terasa tenggelam di samping Bucky.
"Baiklah," kata Steve.
***
Bucky berencana untuk memberi tahu Steve mengenai kemampuan khususnya begitu mereka menginjak usia sepuluh. Kaum peri pada umumnya mulai menunjukkan kemampuan spesial mereka di usia sepuluh. Bucky sedikit berbeda dengan peri-peri lainnya. Sejak umurnya lima tahun, kemampuannya sudah muncul.
Bucky dapat melihat dunia paralel.
Kaum peri sedari dulu mempercayai keberadaan berbagai dunia yang tumpang-tindih dengan dunia yang mereka tempati. Mungkin di salah satu dunia itu, peri adalah populasi yang jumlahnya melebihi manusia. Kemampuan Bucky adalah bukti dari kepercayaan tersebut.
Di salah satu dunia yang Bucky lihat, ia menemukan seorang pemuda yang wajahnya seperti versi dewasa Steve dan dirinya sendiri. Bucky yakin, pemuda berambut cokelat yang sedang tertawa dengan Steve di dalam besi berongga yang dapat berjalan itu adalah dirinya, sekalipun warna rambut pemuda itu tidak pirang seperti dirinya. Bucky melihat mereka saling tertawa, bicara satu sama lain, dan Steve memanggilnya "Bucky".
Bucky merasa sebutan itu lebih cocok untuknya ketimbang "James".
Maka, di ulang tahun Steve yang kesepuluh, Bucky menunggu bersama Steve. Mereka duduk bersisian di atas daun yang cukup lebar. Pandangan keduanya terarah pada purnama di langit, sambil menunggu hari berganti. Bucky sudah bersiap-siap menyelamati Steve untuk kekuatan spesial yang akan muncul. Setelah mereka menari untuk merayakannya, Bucky berencana untuk memberi tahu Steve mengenai kemampuannya dan apa yang ia lihat menggunakan itu.
Waktu yang mereka tunggu tak kunjung tiba.
Sampai hari berganti, Steve tidak merasakan perubahan apapun pada dirinya. Senyum Steve yang sedari pagi siap menyambut kemampuan barunya perlahan luntur. Steve menunduk, memandangi kedua tangannya, mengamati sekujur tubuhnya. Ia tetaplah peri yang paling mungil di antara teman-teman sepantarannya. Semua sama saja.
"… Tunggulah setahun lagi, Steve. Banyak kasus peri yang baru mendapatkan kemampuan mereka, bahkan saat mereka berusia lima belas," ujar Bucky. Kedua tangannya memegang pundak Steve. Bucky menatap Steve lurus. Ekspresi tegas ada di wajahnya.
"Entahlah, Buck," Steve bersuara pelan, "mungkin saja kemampuanku tak akan pernah datang selamanya."
Ucapan Steve sarat dengan ketidakpercayaan, meski sepasang mata birunya masih memancarkan secercah harap setelah mendengar perkataan Bucky.
Bucky mengeratkan cengkeramannya pada pundak Steve. "Kita tunggu sebentar lagi," katanya lagi.
Maka, Bucky dan Steve menunggu. Sampai ulang tahun Steve yang kesebelas, kedua belas, ketiga belas, keempat belas, dan kelima belas, mereka masih menunggu.
Di usia yang keenam belas, harapan sudah lenyap dari sinar mata Steve. Dada Bucky terasa diremas oleh kekuatan yang tidak ia ketahui. Yang Bucky tahu, ia tidak mau lagi melihat ekspresi Steve yang sekarang berdiri di hadapannya. Sambil sedikit membungkuk (Bucky terus bertambah tinggi, sementara Steve tidak mengalami perubahan lagi sejak usianya empat belas, dan Bucky tidak menyukai hal ini), Bucky menangkup wajah Steve.
"Satu tahun lagi. Kita beri kesempatan untuk kemampuanmu menampakkan diri," ucap Bucky.
Mata biru Steve bertemu dengan mata Bucky. Tidak ada setitik pun cahaya harapan di kedua iris biru itu, tapi Steve mengangguk jua.
"Setelah itu, kita melanjutkan hidup," ujar Steve tegas.
Melanjutkan hidup, menganggap kemampuan khusus peri tidak ada dan tidak Steve perlukan sama sekali, itulah yang sobat Bucky maksud.
Maka, Bucky dan Steve kembali menunggu.
Ketika hari berganti dan usia Steve sudah tujuh belas lebih satu hari, tidak ada kekecewaan yang muncul di wajah Steve, sebab ia memang sudah tak lagi berharap. Mereka berdua tahu kalau mereka menunggu karena Bucky-lah yang masih berharap.
Hari itu, Bucky dan Steve melanjutkan hidup tanpa melihat ke belakang.
***
Steve mengaduk sup dengan sendok kayu. Bucky bertandang ke rumahnya untuk makan malam hari ini.
Sejak Sarah tiada, Steve mengurus dirinya sendiri. Bertahun-tahun memasak sendiri membuat masakan Steve menjadi favorit Bucky karena kelezatannya.
Begitu sup matang, Steve membawa mangkuk kayu besar ke meja makan. Harumnya masakan Steve membuat Bucky yang sudah kelaparan sedari tadi menjadi semakin tidak sabar menikmati santap malamnya. Ketika Bucky sudah siap menyendok porsi supnya, pertanyaan Steve memecah konsentrasinya—
"Bucky, aku ingin tahu kemampuanmu."
Sendok Bucky jatuh ke lantai.
"Ah! Sendokku jatuh. Sebentar, Steve," ujar Bucky cepat-cepat. Ia membungkuk untuk mengambil sendok dari lantai.
(Steve tidak tahu ini, tapi Bucky mendadak berdebar-debar. Dadanya bergemuruh sejak Steve bertanya.)
Bucky mengingat di dalam kepalanya untuk mengganti sendoknya dengan sendok bersih. Ia akan melakukan ini nanti karena sekarang, ia khawatir akan kembali menjatuhkan alat makan.
"Bucky?" panggil Steve dengan sedikit penekanan.
Sang peri yang bertubuh lebih besar berdeham. "Um, soal itu—"
"Tak apa, Buck," potong Steve. "Beri tahu saja. Tidak perlu kausembunyikan lagi. Aku tidak masalah. Aku sendiri yang bilang padamu berkali-kali kalau aku sudah meninggalkan semua itu di belakang. Aku masih bisa hidup dan bekerja tanpa harus memiliki kemampuan khusus. Tidak perlu merasa sungkan atau semacamnya. Aku tidak akan merasa iri padamu. Kau sudah mengenalku lama, kan."
"Ya, aku memang sudah mengenalmu lama, Steve. Dari sejak kau masih belum berani mencari herbarium sendiri, sampai-sampai kau meninggalkan bekas di pergelangan tanganku saking kuatnya cengkeraman dan tarikanmu—"
"Sudah, sudah, jangan bahas cerita itu lagi, Bucky," kata Steve cepat-cepat. Bucky dapat melihat rona merah di kedua pipi temannya. Mau sampai kapanpun, Bucky rasa, ingatan akan peristiwa yang itu akan selalu membuat Steve malu.
Bucky tertawa pelan. Ia teringat akan keterkejutannya mendapati kekuatan Steve tidak berbanding lurus dengan ukuran tubuhnya. Sahabatnya seperti punya kekuatan super kalau memang sedang kepepet.
Setelah tawanya reda, Bucky mengulas senyum kecil di wajahnya. Steve masih menunggu tanpa suara. Mungkin, kalau Bucky kelamaan berdiam diri, sup mereka akan keburu dingin.
Bucky bertemu mata dengan Steve. Pandangannya tenang walaupun isi kepalanya sedang berputar dengan sangat cepat.
Ia sangat berharap, keputusannya kali ini tepat.
"… Aku tidak punya kemampuan apa-apa, Steve. Alasan mengapa aku selama ini tidak berkata apapun adalah karena aku tidak punya apa-apa untuk dibahas."
Bucky dapat melihat kedua mata biru Steve membulat. Kata-kata yang meluncur dari lidahnya kemudian jadi terasa lebih mudah.
"Aku sama sepertimu, Steve."
Steve mengerjapkan matanya berkali-kali, seolah tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Oleh karena itu, Bucky kembali mengulangi kata-katanya, kali ini dengan suara yang lebih lantang.
"Aku sama sepertimu, Steve."
Semua yang terjadi kemudian berlangsung begitu cepat. Satu detik Steve masih duduk di depan Bucky, detik berikutnya ia sudah memeluk Bucky erat-erat. Sup di mangkuk Steve tumpah sedikit ke meja karena gerakan tiba-tiba Steve.
Pelukan Steve berlangsung singkat, tapi rasa hangat yang tertinggal di tubuh Bucky tak kunjung hilang sampai mereka selesai makan.
Ketika Bucky pamit pulang, Steve menahan tangannya sejenak. Ada senyum kecil di wajahnya.
"Terima kasih karena terus ada bersamaku, Buck. Kurasa, kita memang sudah ditakdirkan jadi tetangga."
Bucky berkedip lalu tertawa singkat.
"Tenang saja, sobat," katanya, "kita akan terus bersama sampai akhir. Tidak mudah mengusir tetanggamu ini."
Tawa renyah Steve mengantar Bucky kembali ke dalam rumahnya.
Sesaat sebelum Bucky naik ke tempat tidurnya, ia melihat Steve dengan postur tubuh yang lebih gagah. Senyum sosok berambut pirang itu cemerlang dan brilian. Dengan cangkir di tangan, ia melambai pada Bucky yang berada di balik suatu pembatas. Rambut Bucky berwarna cokelat dan diikat karena tampaknya akan mengganggu pekerjaannya. Bucky yang ia lihat kemudian melambai balik pada Steve.
Secepat datangnya penglihatan itu, secepat itu juga penglihatan Bucky selesai. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya.
Ia berharap, keputusannya menyembunyikan kemampuannya dari Steve bukanlah suatu kesalahan.
***
Kira-kira di pertengahan usia 20 (Steve dan Bucky berhenti menghitung sejak mereka memutuskan bahwa kemampuan khusus tidaklah penting), raja di tanah peri mangkat. Seluruh negeri berduka selama satu minggu. Usai masa berkabung, kerajaan segera disibukkan dengan pencarian raja atau ratu yang baru. Sesuai tradisi yang sudah-sudah, mereka yang berminat boleh berkumpul di halaman luas istana.
Dari generasi ke generasi, peri yang dinyatakan paling berani di antara seluruh peserta akan diangkat menjadi raja atau ratu hingga akhir hayat mereka.
"Hei, Steve, kau benar-benar tidak mau mencobanya?"
Steve berhenti sejenak dari kegiatannya. Sejak tadi, ia tengah membenarkan kuali di dapur Bucky.
"Untuk apa? Aku tidak akan keluar sebagai pemenang, Bucky. Kita berdua tahu itu," jawab Steve. Ia langsung kembali pada kesibukannya tadi.
Bucky melipat tangannya di depan dada. "Tidak, aku tidak tahu itu, Steve. Kalau kau tidak mencoba, kau tidak akan pernah tahu. Lagipula, itu sayembara untuk mengetahui tingkat keberanian, bukan tingkat kekuatan."
"Lalu, kalau tesnya 'siapa yang paling berani meruntuhkan tembok istana', bagaimana? Punya keberanian saja tidak cukup. Aku tidak akan mampu meruntuhkan tembok istana hanya dengan keberanian." Kali ini, Steve tidak berhenti mengerjakan pekerjaannya. Ia tetap berjuang memperbaiki kuali milik Bucky.
Helaan napas panjang dikeluarkan Bucky. Steve benar-benar keras kepala.
"Dengar, Steve," Bucky mencoba lagi, "bagiku, kau adalah orang terberani yang pernah kutemui—"
"Itu hanya pendapatmu pribadi, pendapat yang sangat bias karena kau sudah berteman begitu lama denganku, Buck," potong Steve. Helai-helai poni pirangnya menempel di dahi karena keringat. Membenarkan kuali Bucky benar-benar menguras tenaga Steve.
"—karena tanpa kekuatan spesial pun, kau terus melanjutkan hidup dengan kepala tegak. Peri yang mengolokmu tanpa takut kaupandang tepat di mata. Kau berkali-kali menantang mereka melakukan pekerjaan yang lebih baik darimu, Steve. Kalau bukan keberanian, apalagi namanya?"
"Itu namanya pembelaan diri, Bucky." Steve menghela napas. Berdebat dengan Bucky membuat konsentrasinya agak pecah, sehingga membetulkan kuali jadi terasa lebih sulit.
"Lagipula," Steve meletakkan dulu kuali Bucky, "kenapa kau begitu bersikeras memintaku ikut sayembara itu?" Peri yang bertubuh lebih kecil itu mau menyelesaikan adu argumennya dulu dengan Bucky agar fokusnya tidak terbagi dua.
"Karena kalau kau memenangkan sayembara itu, aku selaku sahabatmu bisa ikut makan enak! Raja bisa makan enak, bukan?" jawab Bucky sambil menyeringai. "Kita tidak perlu susah-susah memikirkan besok mau makan apa lagi," tambahnya.
"Kalau begitu, kau saja yang ikut. Sama saja, kan, akhirnya?"
Bucky menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Rambut pirangnya ikut mengayun di udara. "Aku tidak cocok menjadi raja," ucapnya. "Selain itu, kau mau punya raja yang hobinya makan melulu?"
Steve terkekeh. "Astaga, Bucky, kita membicarakan ini seolah-olah kita sudah pasti menang saja."
"Aku tidak akan menang, Steve. Kau yang akan menang," sahut Bucky. Mata birunya beradu dengan mata biru Steve. Bucky berharap, keseriusan kalimatnya dapat Steve tangkap.
Steve adalah yang pertama kali memutuskan kontak mata. Ia kembali pada kuali Bucky di tangannya.
"Kau adalah peri paling berani yang pernah kutemui, Steve. Sungguh."
Usai Bucky berbicara, Steve tidak mengatakan apa-apa lagi.
.
Di hari sayembara, Steve memutuskan untuk datang.
Ia tidak tahu apa yang menyambarnya pagi-pagi, tapi di sinilah ia, di tengah-tengah halaman istana, bersama kerumunan peri lainnya. Steve menunggu datangnya perwakilan istana yang akan menjelaskan alur sayembara, tapi hingga waktu yang telah ditentukan lewat, tak seorang pun muncul di podium. Beberapa peri sudah mulai kasak-kusuk karena kejanggalan ini. Steve sendiri merasa ada yang tidak beres, tapi ia tetap diam di tempatnya.
Tiba-tiba, dari ujung kerumunan peserta sayembara, ada teriakan kencang—
"ADA PELEDAK!"
Situasi di sekitar Steve seketika begitu kacau. Peri-peri banyak yang terbang, lari menyelamatkan diri masing-masing. Persetan dengan sayembara, mungkin begitu pikir mereka. Beberapa kali Steve ditabrak peri yang terbang ke berbagai arah, berusaha keluar dari aula.
Dada Steve bergemuruh. Ia seperti tertular kepanikan peri-peri lain. Namun, bagaimana pun juga, Steve merasa tidak akan ada cukup waktu untuk lari. Dampak dari ledakan akan mengenai begitu banyak peri—
Alih-alih terbang ke arah luar, Steve melawan arus dan mendekati sumber yang membuat kericuhan ini. Dengan mendekap peledak di dadanya, Steve terbang sejauh mungkin dari area yang padat peri yang melarikan diri. Steve terbang, terbang, terus terbang sampai mendekati tembok yang melingkupi seluruh tanah kerajaan peri—
Peledak di dekapannya tak kunjung aktif.
Kening Steve berkerut. Apa maksud semua ini? Steve kembali ke tanah sambil masih memegangi peledak, antisipasi peledak tiba-tiba menyala. Tak lama setelah kakinya kembali menyentuh rerumputan, beberapa penjaga istana menghampirinya.
"Mohon ke arah podium bersama kami, Tuan," ujar salah satu dari penjaga yang menghampiri Steve. Peledak di tangan Steve diambil oleh penjaga yang lain.
Dengan perasaan berkecamuk, Steve menghampiri podium. Ketika ia tiba di samping podium, mendadak salah satu peri yang ia ketahui sebagai pejabat tinggi istana menghampirinya.
"Yang Mulia," katanya.
Tidak lama kemudian, pengawal istana berlutut satu kaki di sekitar Steve. Kening Steve berkerut dalam. "Tunggu, ini pasti sebuah kesalahan," ujar Steve cepat.
Peri yang pertama menyebut Steve dengan gelar "Yang Mulia" (Abraham dari Klan Erskine, kalau Steve tidak salah ingat) tersenyum pada Steve. "Ini bukanlah sebuah kesalahan, Steve dari Klan Rogers. Sayembara yang Istana adakan adalah untuk menemukan yang terberani dari antara para peri. Dengan membawa peledak tadi, kau menunjukkan keberanianmu, meski dihadapkan pada maut sekalipun. Engkau, Steve dari Klan Rogers, akan menjadi pemimpin dari tanah peri," jelas Abraham. Peri yang jauh lebih tua dari Steve itu berdiri sejenak, lalu memegangi kedua pundak Steve.
"Masa depan tanah peri ada di tanganmu, Nak Steve. Jangan ragu karena kekuranganmu. Kau telah menunjukkan keberanian yang tidak semua orang punya, atau bahkan tidak ada yang memiiki sama sekali kecuali dirimu."
Abraham melepaskan pundak Steve. Bersama dengan pengawal dan pegawai istana lain, ia kembali berlutut satu kaki. Satu tangannya disilangkan di depan dada.
"Yang Mulia Steve dari Klan Rogers," sahut Abraham lagi.
"Yang Mulia Steve dari Klan Rogers!" seru beberapa prajurit di sekitarnya.
"Yang Mulia Steve dari Klan Rogers!" Semakin banyak peri yang mengulangi, bahkan kini mereka yang tadinya mengikuti sayembara pun ikut bergabung.
"Yang Mulia Steve dari Klan Rogers!" ulang mereka yang berkerumun berlutut mengelilingi Steve. Semakin lama semakin keras seruan itu
Steve mengerjap berulang kali, memastikan apa yang ia lihat di depannya sekarang adalah nyata. Berulang kali ia mengusap matanya, pemandangan di hadapannya tetap sama. Begitu banyak peri, mulai dari kalangan istana sampai ke rakyat yang mengikuti sayembara, semua bersama-sama menyerukan gelar barunya.
"Yang Mulia Steve dari Klan Rogers!"
Senyum perlahan merekah di wajah Steve. Ia menyeka sudut air matanya yang sudah tergenangi oleh air mata. Steve membungkuk hormat berkali-kali ke segala arah, sambil berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Steve tidak pernah merasa sebahagia ini dalam hidupnya.
Ia tidak sabar untuk memberi tahu Bucky.
.
Steve mengetuk pintu rumah Bucky berulang kali. Di ketukan kelima, Bucky membuka pintu—dan langsung berlutut satu kaki sambil menyilangkan satu tangannya di depan dada.
"Yang Mulia Steve dari Klan Rogers," ucapnya dengan nada yang begitu sopan dan sangat tidak Bucky.
Steve langsung meninju lengan Bucky. "Bangun, Buck. Nadamu itu sangat tidak kau, tahu. Ayo, bangun." Steve menarik Bucky untuk bangkit berdiri. Bucky mengikuti kemauan sahabatnya kali ini dan berdiri. Steve menghela napas panjang kemudian.
"Kabar cepat sekali tersiar, huh."
Bucky mengangkat bahunya. Ia mempersilakan Steve masuk ke dalam rumahnya lalu menutup pintu depan. "Kabar sebesar ini tidak mungkin sampai dengan lambat. Apalagi, raja berikutnya adalah Steve dari Klan Rogers yang selama ini banyak diolok masyarakat karena kekurangannya," sahut Bucky. Seringai lebar mengakhiri kalimatnya.
"Padahal aku ingin jadi yang pertama kali memberitahumu, Bucky," keluh Steve. Kekecewaan terpancar dari raut mukanya.
"Apa boleh buat. Lagipula, aku sudah senang menerima kunjungan dari Raja," kata Bucky sambil terkekeh.
Steve tersenyum tipis. "Aku masih tetap sahabatmu, Bucky dari Klan Barnes," ucapnya pelan.
Pandangan Steve dan Bucky bertemu. Selama beberapa waktu, tidak ada yang bersuara. Sunyi meliputi pertemuan kedua iris berwarna biru.
Berselang satu menit, tawa pecah di antara keduanya. Bucky memulai dan Steve larut dalam tawa.
Bucky mendekat pada Steve dan melingkarkan lengannya di pundak Steve yang lebih kecil darinya. "Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau sampai berubah, oke, Sobat? Aku tidak mau kau dibutakan kekuasaan dan blablabla itulah." Pundak Steve ditepuk beberapa kali oleh Bucky sebagai bentuk penekanan kata-katanya.
"Tentu, Sobat. Lagipula, aku ingin kau menjadi salah satu penasihat kerajaan nanti."
Kedua alis Bucky terangkat. Ekspresinya berubah menunjukkan suatu ketertarikan. "Oh? Jadi, nanti kita bisa makan enak bersama, Steve?"
Steve segera menyikut Bucky. Peri yang berbadan lebih besar itu seketika mengaduh ketika siku tajam Steve bertemu sisi perutnya.
"Hei, raja tidak boleh kasar pada sahabatnya sendiri!"
Steve tahu Bucky tidak sedang serius. Ia tertawa mendengar ocehan Bucky. Sekali lagi, keduanya kembali tenggelam dalam tawa. Malam ini mereka akan menghabiskan stok bahan makanan mereka dan makan sepuasnya sebagai bentuk perayaan, sebab mulai esok, mereka tidak perlu lagi khawatir memikirkan harus makan apa.
.
Setelah puas makan dan tertawa-tawa karena cerita nostalgia yang saling ditukarkan, Steve dan Bucky duduk bersisian di luar rumah Steve. Mereka memandangi langit malam yang tampak lebih indah dari biasanya. (Keduanya tahu, ini adalah efek dari euforia keberhasilan Steve memenangkan sayembara tadi siang yang tak kunjung surut.)
"… Bucky," ujar Steve memecah keheningan. Bucky menoleh ke samping dan bertemu pandang dengan Steve.
"Ya, Steve?"
"Terima kasih karena waktu itu kau begitu mempercayaiku dan tidak berhenti menyuruhku ikut sayembara."
Bucky diam sejenak. Ia menatap kedua iris biru Steve lekat-lekat. Setelah beberapa lama, senyuman terulas di bibirnya.
"Apakah ini berarti aku tidak perlu memintamu membetulkan kuali dapurku lagi, Sobat?"
Steve tertawa pelan. Bucky masih tetap dengan senyum kecilnya.
"Ya, ya, tentu, Buck." Steve mengalihkan pandangannya. Ia kembali menatap langit malam.
"… Tenang saja, Bucky," ujarnya tiba-tiba, "rajamu ini tidak memiliki kemampuan spesial apa-apa. Tidak ada yang salah dengan kau yang juga tidak memiliki kemampuan khusus."
Bucky kembali terdiam. Kali ini, ia tidak memberikan komentar apapun. Bucky hanya mengangguk mengiyakan perkataan Steve.
Sampai sekarang, tak ada satu pun penglihatan Bucky yang dibagi dengan Steve. Bucky tidak mau merusak imejnya di mata Steve. Tidak memberi tahu kemampuannya tidak akan membuat keduanya mengalami kesulitan dalam hidup. Apalagi, mulai esok, Steve adalah raja dari tanah peri. Tidak ada hal yang perlu mereka khawatirkan lagi perihal bertahan hidup.
Lagipula, Bucky merasa belum siap untuk memberi tahu apa yang ia lihat pagi tadi. Bucky merasa belum waktunya memberi tahu Steve bahwa di dunia yang lain, ia adalah seorang manusia perempuan yang berciuman dengan Steve setelah menerima lamaran sobat kecilnya itu.
***
Masa-masa transisi Steve adalah saat-saat yang sulit. Banyak peri yang meragukan kepemimpinan Steve, mulai dari penduduk sampai pejabat pemerintahan. Bahkan, Steve dan Bucky yang sudah terbiasa dengan kehidupan yang tidak mulus pun merasa kelelahan.
"… Menurutmu, sampai kapan kita harus menghadapi ini, Steve?" tanya Bucky di salah satu akhir pekan mereka. Meski dibilang "akhir pekan", masih banyak yang harus dikerjakan Steve dan Bucky. Ini hanya satu dari sangat sedikit waktu istirahat mereka. Bucky bisa melihat kantung mata yang mulai terbentuk di wajah Steve. Padahal, kantung mata pada kaum peri seharusnya tidak semudah itu muncul seperti pada kaum manusia.
"Kalau lelah, istirahatlah sebentar, Bucky." Steve meletakkan perkamen yang baru selesai ia amati. Ia memijat pelan pelipisnya. Membaca terlalu lama ternyata bukan hal yang baik.
"Kalau kau tidak berhenti, aku pun tidak akan berhenti, Sobatku," sahut Bucky. Ia meregangkan badannya sebentar, lalu kembali menggores sesuatu di atas perkamen.
Steve tersenyum tipis. "Keras kepala," katanya.
Bucky tertawa pelan. "Bercerminlah dulu, Yang Mulia," balas Bucky.
Keheningan menyelinap untuk beberapa waktu. Ketika sudah tidak sanggup menahan rasa pegal di lehernya, Steve berhenti membaca. Ia menghela napas panjang dan bersandar sepenuhnya dulu di kursinya. Bucky menyusul tak berapa lama kemudian.
"Hei, Steve," ujar Bucky, "haus?"
Steve mengangguk. Bucky mengulas senyum kecil dan tidak membuang waktu untuk terbang membawakan dua gelas air ke area meja yang bebas dari perkamen, tinta, dan pena bulu.
Sang raja peri mengambil gelas yang diberikan oleh penasihatnya. Steve memegangi dan memutar-mutar gelas tersebut. Alih-alih langsung meminum isinya, Steve malah berlama-lama memandangi air di dalam gelas. Hal ini sukses membuat kedua alis Bucky terangkat ke atas.
"Tidak ada alkohol di situ, Yang Mulia," kekehan terselip di antara kata-kata Bucky, "sungguh."
Steve menarik sudut bibirnya ke atas. "Bukan itu, Buck," tanggapnya. "Aku hanya merasa seperti kembali ke masa-masa saat peri di sekitar kita terus mencemooh kita."
Bucky membawa mulut gelas ke bibirnya. Ia meneguk airnya sambil melihat ke langit-langit ruangan.
"Yah, ada yang bilang kalau sejarah itu sering terulang kembali," komentar Bucky sambil mengangkat santai bahunya.
Steve berdeham pelan. Bucky melirik dari sudut matanya. Tampaknya, Steve masih belum "puas" dengan kata-kata Bucky. Maka, Bucky putuskan untuk menambah jelas maksudnya.
"Kita sudah pernah melewati hal semacam ini. Kita akan melewatinya lagi, Steve. Lagipula, aku akan terus bersamamu, apapun yang terjadi nanti."
Steve masih belum mengangkat wajahnya. Ia tetap menatap intens air di dalam gelas, seolah air itu mampu memberikan jawaban dari segala kegundahannya, jawaban yang bahkan tak dapat Bucky berikan.
Kesadaran akan hal ini membuat nyeri mendadak menyerang dada Bucky.
Sang penasihat menarik napas panjang, lalu mengembuskan pelan-pelan. Ia menghabiskan air di gelasnya. Bucky merasa haus lagi, jadi ia berdiri sambil membawa gelasnya untuk kembali diisi. Sebelum terbang dan beranjak, Bucky sempat melirik Steve.
Air di gelas Steve masih terisi penuh.
Bucky memejamkan matanya sejenak. Setelah menimbang beberapa lama, akhirnya ia menghampiri sisi Steve.
"Sobat," mulainya, "berhentilah sebentar. Tarik napas dalam-dalam. Behentilah melangkah barang semenit dan lihat ke sekitarmu. Kau bisa melangkah sampai di sini, sampai sejauh ini. Semua itu berarti sesuatu."
Bucky meletakkan tangannya yang bebas di pundak Steve. Bila pegangannya lebih erat dari biasanya, ia memilih untuk mengesampingkan itu saat ini.
"Ingatlah, aku akan terus di sisimu, apapun yang terjadi. Sampai akhir, aku adalah sahabatmu. Sampai akhir, aku bersamamu, Steve," tegas Bucky. Kali ini, ia mendapat perhatian dari Steve. Kedua mata biru Steve bertemu dengan miliknya cukup lama.
Bucky adalah yang duluan memutus kontak mata.
"Aku masih haus. Aku mau mengambil air dulu dan jalan-jalan di kebun istana sebentar. Tak apa, kan, kutinggal sebentar?"
Steve mengangguk. "Segarkan matamu sana," katanya dengan senyum kecil.
Bucky balas tersenyum singkat dan segera terbang meninggalkan ruangan.
Ia tahu ia memang butuh udara segar setelah penat seharian mengurus perkamen, bukan karena sedang melarikan diri dari sesuatu yang terasa menggerogoti dadanya dari dalam.
.
Sejujurnya (tapi mungkin Bucky memang bias karena ini adalah Steve, sahabat karibnya sejak ia masih berusia lima tahun), Steve sudah membawa banyak perubahan di tanah peri. Yang paling menonjol adalah usahanya menghapus diskriminasi bagi mereka yang tidak lahir dengan kemampuan khusus. Selain itu, Steve juga terus mengusahakan agar tidak terjadi perseteruan antara berbagai klan peri. Di masa kepemimpinan Steve, tidak boleh ada yang saling merendahkan karena merasa kemampuan khususnya lebih superior.
Setidaknya, seiring berjalannya waktu, keraguan banyak pihak akan kepemimpinan Steve terus berkurang. Tidak berarti semua sudah sepenuhnya mendukung Steve, tapi Bucky menganggap ini sebagai sebuah perkembangan yang baik.
Steve tidak semuram hari-hari pertamanya menjabat. Itu adalah hal yang baik di mata Bucky.
Sambil terbang di dekat tembok pelindung negeri, Bucky berharap keadaan akan terus menuju ke arah yang lebih baik.
***
.
Wadah tinta yang Bucky pegang mendadak jatuh ke lantai. Seisi istana sedang dalam situasi kacau. Para peri bolak-balik di koridor tempat Bucky berada sekarang. Rasanya, ia baru saja mau mengisi tinta pena bulunya, tapi situasi berubah dengan cepat. Tak memedulikan wadah yang jatuh, Bucky terbang mengikuti arus peri yang lain.
Steve. Bucky harus mencari Steve dan mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Sambil terus terbang bersama rombongan peri lain, Bucky melihat begitu banyak pasukan peri yang sudah bersiap. Keningnya berkerut karena ini bukan hal yang biasa terjadi. Pasukan sangat jarang keluar sebab tanah peri relatif damai. Jadi, hal ini benar-benar bukan sesuatu yang lumrah terjadi.
Pergerakan rombongan dari dalam istana baru berhenti di depan tembok yang melindungi seantero negeri—
Tembok itu sekarang sudah berlubang di satu sisi. Mata Bucky kontan membulat. Namun, yang membuat panik istana bukan itu.
Seorang manusia terbujur di tanah peri. Jelas terlihat bahwa tembok yang berlubang adalah jalannya masuk. Sepertinya, pasukan peri sudah berhasil melumpuhkannya dengan debu peri, sehingga manusia itu sekarang sedang tak sadarkan diri.
Di antara kasak-kusuk, bisik-bisik panik, dan ekspresi khawatir, Bucky melihat Steve terbang di dekat manusia yang berhasil menerobos itu. Reaksi pertama Bucky begitu menemukan Steve adalah menghampirinya, tapi penglihatan yang ia terima membuatnya beku di tempat.
Bucky melihat seorang manusia perempuan yang mengarahkan sebuah benda yang mampu mengeluarkan sesuatu yang membuat bunyi nyaring ketika benturan dengan perisai. Perisai itu dipegang oleh Steve yang berwujud manusia. Senyuman wanita di penglihatannya menunjukkan kepuasan. Ketika Bucky melihat ke arah Steve, ia menemukan pancaran kekaguman di mata Steve dan—
"Bucky!"
Sang penasihat kerajaan peri tersadar seketika. Ia terbang ke arah Steve yang baru saja memanggilnya.
"Sepertinya ini akan jadi masalah besar, huh?" tanya Bucky. Pikirannya masih terbagi dua antara kini dan apa yang ia lihat tadi.
Namun, bukannya menyetujuinya, Steve malah mengulas senyum di wajahnya.
"Malah sebaliknya. Kita bisa memperbaiki hubungan kita dengan ras manusia melalui peristiwa ini, Buck."
"Aku tidak tahu, Sobat. Kita sebaiknya hati-hati."
Perkataan Bucky sepertinya hanya masuk telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri Steve. Sang raja peri masih tetap dengan senyum dan tatapan optimisnya pada sosok manusia yang baru saja menerobos tembok.
Bucky memang sudah bilang ia akan bersama Steve, apapun yang terjadi. Itu berarti, keputusan Steve akan selalu ia dukung. Meski demikian, tetap saja, kali ini Bucky merasa tidak nyaman entah mengapa.
***
Sang manusia yang menerobos tembok diperlakukan layaknya tamu. Manusia itu disusutkan bentuknya dengan kemampuan khusus salah satu klan peri. Selama manusia tersebut tak sadarkan diri, Bucky seringkali melihat Steve bolak-balik menjenguknya.
"Pelayan akan memanggilmu kalau manusia perempuan itu bangun, Steve," ujar Bucky ketika mereka berpapasan.
"Aku ingin menjadi tuan rumah yang baik, Bucky."
Bucky menghela napas pelan. "Steve, kenapa kau begitu berbaik hati? Padahal, mereka, para manusia sudah membuat ayahmu—"
Steve berhenti melangkah. Untuk sejenak, Bucky tak bisa membaca ekspresinya.
"Ini sudah lewat hampir dua puluh tahun, Bucky. Dua puluh lima tahun di tahun peri berarti sekitar tujuh puluh lima tahun di dunia manusia. Aku percaya, pemerintahan mereka telah berganti. Kita harus memberikan mereka kesempatan."
"Tapi, Steve—"
"Aku tidak mau memperlakukan mereka seperti mereka memperlakukan kaum kita, Bucky. Kau pasti mengerti. Kau sudah mengenalku selama dua dekade," potong Steve. Tatapannya meminta Bucky untuk memahami tindakannya.
Bucky menghela napas panjang. Sepasang mata biru Steve telah menjadi kelemahannya tanpa ia sadari.
"Baiklah. Kalau ada apa-apa, langsung panggil aku, Steve."
Setelah melihat senyum di wajah Steve, Bucky kembali terbang ke arah yang berlawanan dengan Steve.
Sambil terbang, Bucky mengepalkan tangan kanannya. Ia berharap kuku yang melukai telapaknya bisa mengalihkan rasa nyeri di dadanya.
.
Manusia perempuan yang berhasil menerobos tembok negeri peri itu bernama Margaret Carter. Margaret, yang mengaku lebih senang dipanggil Peggy, adalah satu dari kesatria dari kerajaan manusia di perbukitan. Peggy ditugaskan untuk patroli, tapi ia bergerak terlalu jauh, sampai-sampai terpisah dari rombongan dan menabrak tembok negeri peri karena mengira itu hanya bagian dari hutan, seperti kamuflase yang kaum peri ciptakan.
Sejujurnya, tak satu pun perkataan Peggy dapat Bucky percayai.
Mungkin karena ia masih ingat betapa sedihnya Steve di hari-hari pertama sejak ayahnya wafat, mungkin karena ia tidak sepemaaf Steve.
Mungkin juga karena Bucky melihat Steve dan Peggy tertawa bahagia di suatu ruangan putih di penglihatannya.
Bucky menarik napas panjang.
Untuk ketiga kalinya, ia mengurungkan niatnya untuk menaruh perkamen di ruangan kerja Steve karena dari luar, ia bisa mendengar jelas suara antusias Steve dan tawa yang mengikuti setelahnya.
***
Peggy kembali ke kerajaannya setelah tiga hari memulihkan diri di dunia peri. Steve berharap dengan kembalinya Peggy, kali ini, kaum manusia dapat menjalin hubungan yang baik dengan kaum peri.
Harapan Steve terkabul satu minggu kemudian.
Utusan dari kerajaan manusia datang ke tanah peri. Perjanjian perdamaian dibuat di antara keduanya. Kaum manusia tidak akan pernah mengganggu kaum peri dan sebaliknya. Seluruh penduduk tanah peri bersorak. Mereka yang dahulu meragukan kepemimpinan Steve kini berbalik berterima kasih atas keamanan yang Steve bantu wujudkan. Tembok yang mengelilingi tanah peri kini hanya berfungsi sebagai perbatasan, bukan simbol ketakutan kaum peri pada kaum manusia.
Kekuasaan Steve sebagai raja semakin kukuh. Bucky lebih sering melihat ekspresi lega di wajah Steve dan kobaran semangat di sepasang mata biru Steve.
Kendati demikian, rasa sakit di dadanya semakin menyesakkan karena Bucky tahu apa alasan kegembiraan Steve sebenarnya.
Sejak perjanjian perdamaian ditandatangani, Peggy dapat lebih mudah datang menemui Steve. Mereka sering berbincang di taman istana. Setiap kali Bucky terbang melintas, ia melihat Steve berbincang dengan serius bersama Peggy, tersenyum lebar, atau tertawa karena entah apa yang ia bicarakan dengan kesatria wanita itu.
Setiap kali itu pula, kuku-kuku Bucky melukai kulit telapaknya.
.
"Kurasa aku jatuh cinta pada Peggy, Buck."
Gelas air yang Bucky genggam jatuh dan pecah berkeping-keping.
Steve mengerutkan kening. "Ada apa, Bucky?" tanyanya dengan nada khawatir.
Bucky cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya kaget saja, Steve."
Steve tertawa kecil. "Kukira malah kau yang akan sadar pertama kali, Buck. Kau, kan, sahabat karibku, satu-satunya yang paling mengenalku dari dulu hingga sekarang," kata Steve sambil tersenyum di akhir.
Bucky (berusaha sekuat tenaga untuk) mengulas senyum di wajahnya. "Apa boleh buat. Penasihatmu ini belakangan sibuk sekali, Yang Mulia."
Senyum lebar Steve membuat deretan gigi rapinya tampak. "Benar juga. Terima kasih untuk kerja kerasmu kalau begitu."
Bucky mengangguk singkat. "Ah, aku mau membereskan—"
"Tidak usah, Buck. Nanti aku saja. Sepertinya kau sedang buru-buru."
Tanpa membuang waktu, Bucky mengambil kesempatan untuk pergi sejauh-jauhnya dari hadapan Steve untuk saat ini.
***
Di satu pagi setelah Bucky terbangun dari tidurnya, ada penglihatan yang mampir di hadapannya lagi. Bucky dan Steve adalah manusia laki-laki. Mereka menikah dan berbahagia berdua. Senyum penuh kebanggaan terpatri di wajah mereka. Bersama-sama dengan kerumunan manusia, mereka meneriakkan hal yang sama bersama-sama.
"Cintalah yang menang! Cintalah yang menang!"
***
"Bucky, aku ingin menikah dengan Peggy."
Tangan Bucky tidak berhenti menulis di atas perkamen.
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di sini, sementara Peggy masih memiliki keluarganya. Jadi, kupikir, sepertinya lebih baik kalau aku yang menjadi manusia dan pergi ke sana."
Bucky mencelupkan pena bulu ke tinta dan kembali mengisi perkamen dengan goresan huruf peri.
"Tapi tentunya, aku tidak bisa meninggalkan kerajaan begitu saja. Pada akhirnya, itu hanyalah angan-anganku saja."
Steve tertawa, tapi di telinga Bucky, suaranya terdengar hampa. Bucky berhenti menulis. Ia mendongak melihat wajah Steve lekat-lekat.
Di ingatannya, tiap kali Steve berbicara dengan Peggy, wajahnya cerah dan berseri-seri. Sekarang, Steve tampak seperti peri yang tak punya lagi pengharapan hidup.
Bucky menarik napas dalam-dalam. Ia meletakkan pena dan terbang ke hadapan Steve. Sambil menunduk, mata birunya memandang Steve dengan serius.
"Steve," mulainya, "kerajaan sekarang sudah dalam keadaan stabil. Rasa aman dirasakan oleh penduduk dan persoalan diskriminasi kini telah tertangani. Pemilihan raja baru bisa dilakukan tanpa kau merasa buruk meninggalkan kursi takhta. Tidak akan ada masalah, aku yakin." Bucky memegang kedua pundak Steve. "Kau harus mengejar kebahagiaanmu, Sobat. Aku—"
Perkataan Bucky disela oleh pelukan erat dari Steve. Sekalipun badan sahabatnya jauh lebih kecil darinya, Bucky tetap merasakan tekanan dari pelukan Steve, mungkin saking kuatnya.
Perlahan, Bucky membalas pelukan Steve.
Ia menarik napas lagi dan melanjutkan, "Aku bersamamu sampai akhir, ingat? Apapun ayng terjadi, keputusan apapun itu, aku akan selalu mendukungmu. Apalagi, ini menyangkut kebahagiaanmu, Steve."
Suara Steve hanya berupa bisikan, tapi dalam jarak sedekat ini, bahkan napas Steve pun dapat Bucky dengar.
"Terima kasih. Terima kasih, Bucky…."
Bucky memejamkan mata dan mempertahankan pelukannya, sambil berandai-andai pelukan ini berlangsung sampai akhir hayatnya.
.
Steve tidak tahu, tidak akan pernah tahu, dan tidak perlu tahu kalau Bucky mati-matian menahan diri untuk tidak mengutarakan "kita melanjutkan hidup" begitu Steve mengatakan bahwa menikahi Peggy hanyalah angan-angannya belaka. Steve di dunia ini perlu bahagia, seperti halnya Steve di dunia lain yang Bucky saksikan selama ini, sekalipun bukanlah Bucky yang dapat membuatnya bahagia di sini.
Jejak air mata yang Bucky temukan ketika ia bangun tidur diasosiasikannya dengan mimpi yang indah mengenai dirinya dan Steve yang bahagia di dunia lain.
***
Begitu Steve turun takhta, Bucky menjadi pengganti sementaranya sampai tanah peri menemukan penerus raja melalui sayembara baru nanti. Pernikahan Steve dan Peggy berlangsung di wilayah kerajaan manusia. Beberapa peri diundang ke pernikahan tersebut, termasuk Bucky selaku sahabat Steve.
Untuk dapat hidup di dunia manusia, Steve menggunakan satu kemampuan khusus yang dimiliki oleh raja peri, yakni mengubah diri menjadi manusia.
Kemampuan ini bagaikan pedang bermata dua. Steve memang dapat menjadi manusia, tapi ia tidak dapat berumur panjang. Itulah harga yang harus dibayarnya untuk menggunakan kekuatan ini secara permanen.
Steve dan Peggy tahu waktu mereka tidak banyak, tapi sepanjang yang Bucky lihat, mereka tampak bahagia. Keduanya dikaruniai seorang putra yang sangat mirip dengan Steve secara fisik, namun memiliki warna mata cokelat seperti ibunya. Tiap musim semi, Steve dan Peggy akan berkunjung ke tanah peri bersama putra yang mereka beri nama James.
(Bucky tidak menyesal sama sekali meminta Steve dulu memanggilnya "Bucky" alih-alih James. Ia tidak perlu berbagi nama sekarang.)
Pernikahan Steve dan Peggy berumur sebelas tahun (sebelas tahun di dunia manusia sama dengan kira-kira hampir empat tahun di dunia peri). Steve wafat dua hari setelah perayaan ulang tahun pernikahannya. Peggy dan James berkabung dengan beberapa kali didampingi Bucky. Bagaimanapun, Steve telah meminta Bucky untuk menjaga keduanya setelah kepergiannya.
(Perihal wafatnya Steve bagi Bucky pribadi—ia tidak dapat merasakan apa-apa. Semuanya terasa biasa saja atau mungkin, luka hatinya begitu Steve jatuh cinta dengan Peggy telah membuat hatinya mati rasa. Mungkin juga karena Bucky semakin sering melihat Steve dari dunia lain di penglihatannya, sehingga Steve rasanya tidak pernah benar-benar pergi.)
.
Bucky bukannya tidak suka apalagi benci pada James. Apa daya, setiap kali ia melihat James, ia merasakan lukanya seperti dikorek kembali sampai dalam-dalam. James mengingatkannya pada Steve dan Peggy, pada kebahagiaan Steve yang bukan bersamanya di dunia ini.
Namun demikian, Bucky tidak melupakan janjinya. Dari kejauhan, ia mengamati Peggy dan James. Ketika Peggy telah tiada, Bucky tetap mengawasi James dari jauh. Awalnya, James merasa kebingungan karena tidak lagi dapat menemukan Bucky, teman mainnya, yang tadinya ia temui tiap musim semi bersama ayah dan ibunya. Akan tetapi, seperti pepatah lama, waktu memang akan mengubah. Setelah bertahun-tahun tak bertemu, James akhirnya lupa akan sosok Bucky dan menganggap semua yang terjadi ketika ia masih kecil hanyalah khayalan anak kecil belaka.
Bagi Bucky, memang itulah yang terbaik.
.
Di malam hari, Bucky berharap melihat dirinya dan Steve yang bahagia di dunia lain setiap kali ia memejamkan mata. Jikalau malam ini penglihatannya belum tiba, ia tetap sabar menunggu malam-malam berikutnya. Bucky masih punya banyak waktu.
Bagaimana pun, panjang usia peri adalah tiga kali lipatnya panjang usia manusia.
***
Nun, nun jauh di sana, di sebuah tanah yang tersembunyi di antara dedaunan, di suatu waktu yang tak terdokumentasi, tersebutlah suatu kerajaan peri yang penuh dengan keajaiban. Kerajaan ini penuh dengan peri yang memiliki kemampuan berbeda-beda. Suatu hari, lahirlah seorang peri yang tidak memiliki kemampuan apapun. Peri ini akan menjadi raja di kemudian hari, membuktikan bahwa tanpa kemampuan pun, peri dapat melangkah maju. Sang peri akan memperbaiki hubungan kaum peri dan kaum manusia, menikahi seorang kesatria manusia, dan wafat setelah sebelas tahun hidup sebagai manusia.
(Peri ini memiliki seorang sahabat yang sangat mencintainya, dari sejak ia masih kecil hingga akhir hayatnya, tapi untuk kisah kali ini, sang sahabat bukanlah pemeran utama yang akan hidup bahagia bersama pemeran utama lainnya.)
.
.
.
.
╚ the very first time i remember you, you are blond, and you don't love me back. ╗
