Chapter Text
Perjalanan dari wilayah Qishan ke wilayah Qinghe terasa seperti mimpi buruk yang panjang bagi Wei Wuxian. Sepanjang perjalanan, ia semakin menunduk, tidak berani menatap panji matahari yang perlahan mulai menjauh, apalagi menatap panji ungu yang kini telah terasa begitu asing baginya.
Saat benteng batu raksasa Alam Najis mulai terlihat, Wei Wuxian berhenti melangkah. Dadanya terasa sesak. Bangunannya terlihat begitu kokoh, keras, dan mengintimidasi—sangat berbeda dengan Dermaga Teratai yang terbuka dan dikelilingi oleh udara.
“Kenapa berhenti, Wei-xiong?” Nie Huaisang menoleh, kipasnya terbuka sedikit untuk menutupi wajahnya yang cemas.
"Huaisang... aku..." Wei Wuxian meremas ujung lengan bajunya yang sudah diganti dengan kain abu-abu gelap khas murid Nie. "Apakah tidak apa-apa jika aku benar-benar masuk ke sana? Aku tidak punya identitas. Aku bukan siapa-siapa."
Sebelum Nie Huaisang sempat menjawab, langkah sepatu bot yang berat mendekat.
Nie Mingjue berhenti tepat di depan Wei Wuxian. Bayangan tubuhnya yang besar menutupi Wei Wuxian dari sinar matahari.
"Di Qinghe, kami tidak peduli kau anak siapa atau dari mana asalmu," suara Nie Mingjue menggelegar, namun anehnya, kali ini tidak membuat Wei Wuxian ingin lari bersembunyi. "Selama kau memegang pedang dengan benar dan tidak berkhianat, kau adalah muridku. Masuklah."
Wei Wuxian menelan ludah, lalu perlahan melangkah melewati gerbang batu yang dingin itu.
--
Malam itu, Wei Wuxian duduk di tepi tempat tidur di kamar yang baru. Kamarnya luas, rapi, dan tidak ada satupun benda berwarna ungu di sana. Sunyi. Ia teringat biasanya saat jam segini, ia akan berpura-pura keluar untuk mencari arak atau menjahili Jiang Cheng.
Tapi sekarang? Jiang Cheng mungkin sedang sibuk mengurus silsilah keluarga yang baru saja menghapus namanya.
Tok, tok.
Pintu bergeser, dan Nie Huaisang muncul dengan dua botol keramik di tangannya. Senyumnya lebar sekali.
"Wei-xiong! Aku tahu kamu pasti belum tidur," Huaisang duduk tanpa diundang di lantai, meletakkan botol-botol itu. "Ini bukan Senyuman Kaisar, tapi arak keras khas Qinghe. Katanya bisa membakar kesedihan di tenggorokan. Mau coba?"
Wei Wuxian tersenyum tipis—senyum pertama sejak kejadian di Qishan. "Kau ini... selalu tahu cara membujuk orang."
Mereka minum dalam diam selama beberapa saat. Wei Wuxian merasakan kehangatan arak yang menjalar ke dadanya, sedikit demi sedikit mencairkan kebekuan di sana.
"Huaisang," panggil Wei Wuxian pelan. "Kenapa Da-ge-mu mau menerimaku? Dia sangat benci kekacauan, dan aku... aku adalah sumber kekacauan."
"Karena Da-ge tahu," Nie Huaisang meletakkan cawannya, matanya menatap Wei Wuxian dengan serius. "Bahwa kau bukan kacau karena jahat, tapi karena kau terlalu peduli. Di Yunmeng, kau selalu menyalahkan atas hal yang bukan salahmu. Di sini? Jika kau berbuat salah, Da-ge akan menghukummu dengan adil. Tapi jika kau benar, dia akan melindungimu sampai mati. Kau aman di sini, Wei-gongzi."
Kata-kata "Kau aman di sini" terasa lebih memabukkan daripada arak manapun. Wei Wuxian menatap langit-langit kamar, merasa seolah beban berat yang selama ini ia pikul di pundaknya perlahan-lahan mulai diangkat oleh tangan-tangan orang Qinghe yang kasar namun jujur.
